
...πππ...
"Kalian masuk saja. Mas dan Syahil akan menunggu kalian di kantin sekolah sampai kalian pulang."
Damar dan Wulan saling pandang, terperangah mendengar penuturan Syahal yang benar-benar mengikuti perintah sang opa untuk menunggu mereka sampai pulang sekolah. Sementara itu, Syahal dan Syahil hanya mengulas senyumnya, menandakan bahwa mereka benar-benar serius.
"Tidak usah, Mas. Opa kita itu hanya bercanda, jangan diambil hati. Masa iya, Mas kembar mau menunggu kami sampai pulang. Lama loh Mas!"
Wulan mengangguk cepat, membenarkan penuturan Damar, tidak ingin merepotkan kedua mas kembarnya lebih banyak lagi.
"Ck! Tidak apa-apa. Mas dan Syahil juga tidak ada kesibukan kok hari ini. Jadi kalian tenang saja." ujar Syahal, berdecak.
"Sudah sana! Kalian masuk kelas sebelum bel masuk berbunyi! Jangan banyak tingkah lagi!" seru Syahil, menyuruh kedua adiknya masuk.
"Ck! Damar sama Adek berasa balik TK lagi kalau seperti ini! Masa harus ditunggui sampai pulang!" sungut Damar, menyalami kedua masnya dengan malas.
"Ini perintah! Jangan banyak bicara!" seru Syahal, mengacak rambut adiknya bergantian.
Damar mendengus samar, mendapatkan perlakuan manis dari kedua masnya yang membuatnya jengkel, merasa seperti anak TK yang harus diasuh dan ditemani ketika sekolah. Berbeda dengan Wulan yang terkikik, gemas melihat kasih sayang kedua mas kembarnya itu pada dirinya dan Damar, membuat mereka rela membuang waktu hanya untuk menungguinya.
"Ya sudah... Damar sama Adek masuk dulu!"
"Yang semangat dong, Dik!" seloroh Syahal.
"Ck! Iya, Mas. Dasar bawel!" sungut Damar.
Damar beranjak bersama Wulan yang masih mengulum senyumnya ke arah Syahal-Syahil. Sementara si kembar yang ketampanannya menurun dari Sadha itu justru menjadi pusat perhatian anak-anak seusia Wulan, bergumam kagum melihat ketampanan mereka yang sama dan unik.
"Ckckck! Ada mas kembar yang lagi tebar pesona di sekolah anak SMP nih!"
Syahal-Syahil menoleh ke sumber suara yang mencibir, mendapati seseorang yang sangat mereka kenal, membuat keduanya berdecak lirih seraya memberikan tatapan jengah.
"Masuk sana! Jangan mengurusi urusan orang dewasa!" sungut Syahal.
"Yang tebar pesona hanya Mas Syahal! Bukan Mas, Rainar!" timpal Syahil.
Rainar mengulum senyum, terkikik dalam hati melihat tingkah keduanya yang aneh. Akhirnya putra bungsu Dokter Ronald itu menampakan batang hidungnya kembali.
"Mas kembar sedang apa di sini?"
"Mengantar Damar dan Wulan!"
"Ck! Ketus banget sih, Mas Syahal! Nanti kangen sama Rainar baru tau rasa."
"Sudah sana masuk! Damar Wulan sudah masuk sejak tadi. Lebih baik kamu berlari menyusul mereka."
"Siap Mas Syahil. Rainar masuk ya."
Syahil mengangguk, membiarkan Rainar masuk ke dalam sekolah menyusul kedua adik kembarnya yang sudah masuk duluan.
"Sekarang kita ke mana Mas?"
"Kantin saja yuk! Mas haus nih!"
"Ya sudah, tapi traktir Syahil ya."
"Ck! Memang maunya kamu itu mah!"
Tawa Syahil pecah, melihat ekspresi sang kembaran yang membuat perutnya geli. Kemudian mereka beranjak, mengendarai motor ke sisi lain gerbang yang bisa membawa mereka ke kantin sekolah tanpa harus masuk ke sana terlebih dahulu, istilah lainnya adalah jalan pintas. Ya, jalan pintas.
***
"Damar...! Wulan...!"
Kedua anak kembar berbeda gender itu menoleh serentak, mendengar kerasnya suara itu memanggil nama mereka. Hingga membentuk senyum manis di wajah Wulan, melihat keberadaan sahabatnya yang baru datang juga dan setelah lama menghilang.
"Ck! Anak curut ini lagi!" sungut Damar.
"Apa tidak ada panggilan sayang yang lebih bagus lagi selain sebutan anak curut, Mar? Tega sekali sama sahabat sendiri. Aku baru datang, seharusnya disambut pake tarian!!!" sungut Rainar, merangkul bahu keduanya.
"Ada sih. Kamu mau pilih yang mana? Sebutan anak tikus got atau tikus rawa?" jawab Damar seraya memainkan alisnya.
"Ck! Memang apa bedanya tikus dengan curut! Dasar sahabat tidak punya akhlak!" umpat Rainar, melepas bahu Damar tapi tidak dengan bahu Wulan di sisi kirinya.
__ADS_1
"Hahahaha... ternyata walaupun sudah liburan ke luar kota, selera humor kamu masih kalah dari Mas Syahal. Apa kabar Nar? Mana oleh-oleh Surabaya untukku?" ujar Damar, tergelak melihat wajah Rainar.
"Oleh-oleh Surabaya dariku hanya untuk princess yang ada di sampingku ini, Mar! Sorry ya." jawab Rainar, menoleh ke arah Wulan yang hanya menggeleng gemas.
"Enak sekali ya, tanganmu yang besar itu bertengger di bahu adikku! Lepas! Bukan muhrim!" seru Damar, menengahi posisi nyaman untuk Rainar, entah untuk Wulan.
Rainar mendengus lirih, menatap jengah Damar yang mengganggu kesenangan, memisahkan dirinya dari gadis kecilnya.
"Ayo kita masuk, Dek! Biarkan saja anak curut ini sendirian!" ujar Damar, menarik tangan sang adik menjauhi sahabatnya.
"Hei Damaruddin...! Kamu punya utang sama aku! Kamu pasti lupa!" seru Rainar, melangkah cepat menyusul keduanya.
"Utang apa?" sahut Damar, mengeryit.
"Utang cerita! Katamu, aku sudah terlalu banyak melewati peristiwa di sini selama liburan. Memang ada peristiwa apa sih?" tanya Rainar, terlihat penasaran sekali.
"Oh yang itu, nanti saja lah!!! Aku sama Wulan bakalan cerita. Ada Mas Syahal dan Mas Syahil juga nanti di kantin." ujar Damar.
"Loh, kenapa mereka..."
"Sudah! Nanti saja, Nar." potong Damar.
"Ya sudah deh...!" jawab Rainar, lesu.
Wulan menggeleng kepala, geli melihat tingkah keduanya, yang satu penasaran namun yang satunya beda lagi ceritanya, membuat Wulan terkekeh dalam bathin.
***
"Bagaimana kondisi Mala, Dok?"
Dhana masih tampak resah kendati kondisi Mala sudah memperlihatkan kemajuan yang sangat significant, berubah dalam kurun waktu yang cukup singkat setelah melakukan psikoterapi sebanyak dua kali, dibarengi dengan obat-obatan yang Mala konsumsi secara rutin beberapa minggu ini.
Membuat Dokter Ali yang baru saja keluar dari kamar Mala bersama asistennya pun mengulas senyum lebar, tangan Dokter Ali menyentuh bahu Dhana dan memberikan tepukan kecil beberapa kali di sana dengan tujuan untuk menenangkan hati yang resah.
"Anda sangat beruntung, Pak Dhana. Istri anda juga sangat kuat hingga perubahan yang terjadi di dalam dirinya sangat pesat. Saya juga sempat terkejut, di saat saya dan Suster masuk menemui beliau. Istri anda menyapa kami dengan ramah, dan tidak seperti di saat terapi-terapi sebelumnya." tutur Dokter Ali, tersenyum pada Dhana.
"Jadi maksud Dokter, istri saya baik-baik saja 'kan? Tidak ada hal atau penyakit lain yang serius?" cercah Dhana, memastikan kalau kondisi Mala benar-benar telah pulih.
"Tidak hanya baik, Pak Dhana. Kondisi Bu Mala sudah 100% sembuh total dan hal ini merupakan suatu keajaiban yang pernah saya alami. Pasalnya, banyak sekali kasus yang sama seperti Bu Mala, tapi banyak pula yang gagal dalam mengikuti proses psikoterapi, dan membuat mereka yang gagal itu harus berakhir di rumah sakit jiwa karena mereka tidak bisa mengontrol diri. Namun Bu Mala hebat! Saya akui, kondisi mentalnya pertama kali waktu itu sangat buruk. Apalagi mengingat masa lalu beliau yang sangat kelam. Awalnya saya mengira proses terapi Bu Mala akan berjalan lama, tapi perkiraan saya salah. Bu Mala berhasil melewati masa-masa sulitnya dengan baik, Pak Dhana." terang Dokter Ali, memuji Mala.
"J-jadi maksud Dokter?" tanya Dhana lagi, bibirnya bergetar hebat, tak kuasa menahan hati yang terlonjak bahagia akan kabar ini.
"Selamat Pak Dhana...! Saya nyatakan, bahwa kondisi Bu Mala sekarang sudah pulih kembali seperti sedia kala! Selamat!" jawab Dokter Ali dengan suara lantangnya, mengulurkan tangan tanda kemenangan.
Dhana termangu, menatap lekat dokter sang istri dan asistennya yang mengukir senyum tak kalah bahagia dan bersyukur. Diangkatnya tangan yang terasa kelu itu, menyambut tangan Dokter Ali yang telah terulur dengan suka cita, menanti tangan kekarnya untuk menyatakan keberhasilan.
"Saya tidak salah dengar 'kan Dok?"
"Tidak, Pak Dhana. Saya jamin itu!"
"Selamat Pak Dhana. Kami turut bersyukur dan lega dengan kondisi Bu Mala saat ini." timpal Suster asisten Dokter Ali nan ramah.
"Terima kasih, Dokter. Terima kasih sekali. Saya benar-benar tidak menyangka akan secepat ini. Terima kasih atas bantuannya." tutur Dhana, tersenyum dan berkaca-kaca.
"Sama-sama, Pak Dhana. Semoga kabar baik ini akan menjadi awal yang baik bagi Bu Mala dan keluarga anda. Pesan saya hanya satu, tetap kontrol emosi istri anda dan jangan biarkan dia sendirian dalam menghadapi masalah, serumit apapun itu. Dukungan dan kasih sayang anda beserta keluarga adalah yang utama. Dan perihal obat, saya sarankan agar Bu Mala tetap meminumnya sampai habis." terang Dokter Ali, meyakinkan dan memperingati Dhana.
"Baik Dokter...! Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak, Dokter." ujar Dhana.
"Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya dan Suster izin undur diri terlebih dahulu karena kami harus kembali ke rumah sakit pagi ini." jawab Dokter Ali, menepuk bahu Dhana.
"Iya Dokter. Sekali lagi terima kasih...!"
"Permisi Pak Dhana. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam..."
Dokter Ali dan asistennya pun melangkah pergi, meninggalkan Dhana yang tak henti mengucap syukur dalam kesendiriannya, berdiri di depan pintu kamar. Membuatnya tidak sabar ingin masuk, menghampiri sang istri yang sudah dinyatakan sembuh total.
Ceklek!
Handle pintu bekerja ketika tangan kekar Dhana menekannya dengan kuat, hingga mengejutkan sang penghuni kamar yang tengah duduk bersandar pada headboard tempat tidurnya dengan raut bahagianya.
"Mas... Dokter Ali sudah pulang?"
__ADS_1
Dengan tatapan teduhnya yang cantik, tanpa menghiraukan tatapan lekat yang didaratkan Dhana padanya, Mala bertanya. Membuat yang ditanya semakin mengulas senyumnya lebar, selebar dunia dan isinya. Berjalan masuk, membawa tubuh duduk di tepi tempat tidurnya bersama sang istri.
"Mas... kenapa kamu menatapku seperti itu?"
Dhana bergeming, tatapan lekatnya tak teralihkan satu inci pun dari manik indah yang berbinar terang itu. Membuat Mala mengeryit, heran melihat sikap suaminya. Dan dengan polosnya Mala menunduk, mencari sesuatu yang mungkin terlihat aneh di mata sang suami, hingga membuat sang suami tidak berkedip menatapnya dalam. Namun saat kepalanya tertunduk, mencari sesuatu yang salah justru diraih cepat oleh Dhana dagunya, hingga kepala itu kembali pada posisi awal, ikut menatapnya dalam.
"Mas... kamu kenapa? Ada yang..."
Bibir Mala terkatup ketika jari telunjuk sang suami menyentuhnya. Tak sampai di sana, kini telunjuk Dhana bermain ria dengan dua benda yang saling terkatup berwarna merah muda, tipis dan sangat menggoda jiwa itu.
"Jangan bersuara dulu, Sayang!"
Dengan lembutnya, telunjuk Dhana masih bermain leluasa pada benda ranum istrinya, membuat Mala tertegun namun menikmati, hingga tubuhnya meremang dalam sekejap, merasakan sesuatu yang tiba-tiba muncul.
"Memang kenapa Mas?" lirih Mala.
"Aku ingin menikmati masa indah seperti ini, masa-masa yang sama seperti awal kita menikah. Jadi, tolong diamlah sebentar!"
Suara bariton Dhana terdengar berat, menandakan bahwa ada sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba di dalam dirinya ketika telunjuknya bermain pada bibir sang istri yang menggoda itu. Membuat Dhana menatap benda ranum itu sangat dalam, wajahnya pun bergerak mendekat, hingga memangkas jarak yang ada di antaranya.
Cup!
Mala terbelalak sempurna, ketika bibirnya dilahap cepat oleh sang suami setelah mengeluarkan titah yang tak bisa dibantah, menyuruhnya diam namun dibalas seperti ini, membuatnya terhanyut dalam hitungan detik. Permainan Dhana di pelabuhan bibir ranumnya kian larut, dalam dan menuntut. Menuntun tangan Mala yang semula kelu terletak di atas tempat tidur kini terangkat, mengalungkan erat tangannya pada leher Dhana. Membuat Dhana semakin gencar, menyalurkan hasrat berbingkai rasa syukur dan bahagia yang tak terkira di hati saat ini.
Sepersekian menit bermain di bibir Mala membuat keduanya terhenti efek kehabisan pasokan oksigen segar yang tersedia di dalam paru-paru, tanpa sadar jika posisi mereka saat ini sangat lah intim dan dekat, tapi tak apa karena mereka pun sudah sah dan halal untuk melakukan apapun saat ini.
Dhana menatap Mala dalam, mengusap lembut bibir ranum sang istri yang sudah basah karena ulah hasratnya. Membuat Mala tersipu malu, hingga wajahnya kini memerah bak tomat yang sangat masak. Bersama dengan permainan tangan sang suami yang mengelus lembut wajahnya.
Cup!
Kecupan hangat penuh cinta dan sayang mendarat mulus tanpa hambatan di dahi Mala, memancing senyum indah di wajah cantik berseri terang bak mentari hari ini.
"Apa yang sudah membuat kamu jadi seperti ini Mas?"
"Karena kamu, Sayang!"
"Dokter Ali sudah memberitahu Mas?"
"Lebih dari itu dan aku sangat bahagia."
"Aku jauh lebih bahagia dan jauh lebih baik dari sebelumnya, Mas."
"Bahkan aku lebih dari pada itu, Sayang."
"Seperti inikah caramu bersyukur?"
Dhana tersenyum simpul, didaratkan lagi kecupan cinta pada kening sang istri yang sudah berada di bawah kungkungan tangan kekarnya. Menatap manik Mala lekat lagi, hingga hasrat yang telah memuncak saat melihat betapa indahnya bibir ranum sang istri kini semakin menuntutnya cepat.
"Boleh?"
Mala pun tersenyum malu, mendapatkan pertanyaan sang suami yang seharusnya tidak terlontar di saat posisi intim mereka sudah tak dapat dipangkas lagi, membuat kepala Mala mengangguk pelan sehingga senyum licik Dhana terlukis, tak sabar lagi ingin melakukan sesuatu yang lebih dari pada posisi ini dengan sang istri tercinta.
"Aku mencintaimu, Sayang."
"Aku juga mencintaimu, Mas."
Kecupan penuh cinta itu mendarat lagi di kening Mala dan lama. Sebelum sesuatu yang memang seharusnya terjadi itu, terjadi!
.
.
.
.
.
Happy Reading All πππ
Part kali ini agak beda ya wkwkwk π€ maafkan dina yang masih polos ini dan kurang pandai dalam hal-hal seperti ituβοΈ jangan sampai Damar-Wulan punya adik kembar bin sama lagi wkwkwkwk π€£βοΈπ€ karna part nya agak beda jadi dina up utk hari minggu ya, semoga kakak2 sukaπ
Terima kasih kakak-kakakku semuanya di mana pun kalian berada yang masih setia menemani dina merangkai kisah Wulan semoga kalian sehatπ dan sehat selaluβ€οΈ
__ADS_1