
...☘️☘️☘️...
Sinar mentari merangkak naik, memberi cahaya kehidupan berselimut semangat, memulai hari yang baru, meninggalkan jejak kenangan di hari sebelumnya, memberikan kisah perjalanan hidup yang berbeda pada setiap manusia, memberi kesan dan pesan bahwa perjalanan hidup akan tetap berjalan.
"Sadha... kamu tidak tidur semalaman?"
Sadha terkesiap, mendapati sang ibu yang datang dari arah kamar, menatapnya lekat seraya mendaratkan tubuhnya di atas sofa. Terlihat cantik dan rapih, siap menuju rumah sakit sesuai pembicaraan tadi malam.
"Tidur kok, Bu. Tapi di sini."
"Kenapa tidak di kamar?"
"Sadha ingin berjaga-jaga saja, Bu."
"Kamu terlihat lelah, Nak!"
"Nanti Sadha akan istirahat, Bu."
"Kapan? Memang kamu tidak ke kantor?"
Sadha bersandar lemas, menghempas kepalanya yang terasa pegal dan lelah.
"Nanti setelah Imam bangun. Kami akan bergantian dan hari ini Sadha libur kerja dulu, Bu. Capek banget soalnya. Hoam..."
Bu Aini menghela nafas panjang, teringat dengan penuturan keduanya tadi malam, membuat mata yang mengantuk seketika terbuka lebar, mendengar cerita dari Sadha dan Imam yang menceritakan semuanya tanpa henti. Membuat Bu Aini dan Pak Aidi tidak pernah menyangka bahwa masa lalu menantunya separah dan se-menyakitkan itu.
Ditambah dengan peristiwa yang terjadi di rel kereta. Peristiwa yang menguras tenaga, peristiwa yang hampir merenggut nyawa sang putra bungsu karena ulah licik Gibran.
Tidak cukup sampai di sana, cerita panjang lebar terus berlanjut, melibatkan anak-anak dengan aksi heroik nya yang penuh drama menegangkan. Kemunculan Aiziel di awal, sebagai penyelamat Mala namun berganti posisi dengan mengancam nyawa Dhana. Disusul dengan aksi heroik Wulan, disusul lagi dengan aksi heroik Aifa'al yang tanpa diduga-duga kemunculan nya, hingga di bagian akhir ditutup oleh aksi heroik sang cucu perempuan yang sangat berbahaya.
Mendengar sang cucu terluka dan dibawa ke rumah sakit sempat membuat Bu Aini meraung, ingin pergi di saat tengah malam masih berjaga, ingin memastikan kondisi cucu dan menantu bungsunya itu baik-baik saja. Namun berkat Sadha, Imam dan Vanny yang teramat sangat sabar, mampu meluluhkan dan meyakinkan Bu Aini bahwa Mala beserta Wulan baik-baik saja di sana.
Sementara kelima jagoan tampan, setelah sampai di rumah mereka semua langsung istirahat. Sempat ada sedikit drama yang terjadi, di saat Damar menyadari di mana Aiziel, Aifa'al, Syahal dan Syahil belum juga sampai di rumah sang oma. Namun semua drama masih bisa dikendalikan dengan baik oleh Aifa'al yang mengambil alih, berbicara seperlunya di saat sang paklik curiga lagi, dan berhasil menyelamatkan yang lainnya.
"Lebih baik kamu pindah ke kamar, Nak. Hari sudah pagi dan kamu bisa istirahat dengan tenang sekarang. Lagi pula orang jahat seperti Gibran itu sudah tertangkap, jadi kamu tidak perlu khawatir lagi, Sadha." tutur Bu Aini yang membujuk sang putra.
"Jangan minta Sadha ke kamar sekarang, Bu. Sadha takut!" jawab Sadha memelas, menyandar kepalanya di sandaran sofa.
"Takut? Takut kenapa?" sungut Bu Aini.
Sadha berdecak lirih, menutupi matanya dengan lengan, membuang nafas berat, seberat sesuatu yang tengah ditahannya. Sepulang dari rumah sakit tengah malam, bukan langsung istirahat dan tertidur pulas, justru membuatnya tidak bisa tidur karena ulah bar-bar dirinya sendiri yang tidak tau situasi dan waktu setempat.
"Sadha... jawab Ibu! Kamu takut kenapa?" timpal Bu Aini yang penasaran dan heran.
"Vanny, Bu. Masa dia menghidupkan AC sampai suhu kamar melebihi kutub utara. Ibu 'kan tau sendiri kalau Sadha tidak kuat kedinginan seperti muda dulu. Tapi Vanny tidak mau mengalah!!! Jadi, Sadha keluar dan tidur di sini saja." jawab Sadha, kesal.
Alih-alih menjawab, Bu Aini justru malah tergelak lepas mendengar jawaban sang putra tengah. Sementara Sadha berdecak, semakin sebal dengan respon sang ibu.
"Mas Sadha bohong besar, Bu!!!"
Sadha terjingkat, beranjak duduk dari rebahannya tatkala telinga menangkap suara sang istri yang datang menghampiri. Sementara Bu Aini masih terkikik, menahan untuk tidak tertawa, tapi semuanya sia-sia.
"Sayang... kamu mau ke mana?" tanya Sadha, memperhatikan penampilan sang istri, memakai pakaian kantor seperti biasa.
"Kenapa kamu bohong sama Ibu, Mas? Bukan kah kamu yang ngambek karena ajakan kamu main ular tangga tadi malam aku tolak, hmmm?" sungut Vanny, jengah.
"Ular tangga?" tanya Bu Aini bingung.
Sadha menepuk jidatnya, seloroh sang istri yang keceplosan membuatnya tersipu malu. Melirik sang istri yang tampak gigit ibu jari, tersenyum, memperlihatkan gigi putihnya.
"Maksud Vanny game ular tangga, Bu. Sadha sempat mengajaknya main tapi dia menolak karena kelelahan." timpal Sadha.
"Itu salah kamu sendiri, Nak. Sudah lelah tapi masih saja mengajak istrimu bermain game. Kalian itu bukan anak-anak lagi!!!" seloroh Bu Aini, menahan geli di perutnya.
Sadha dan Vanny saling pandang cengir bagaikan kuda, bersyukur karena sang ibu tidak terlalu mengerti dengan game ular tangga yang mereka maksud. Membuat Sadha mendengus geli, memberi tatapan tajam penuh makna pada sang istri yang masih terkikik gemas melihat ekspresinya.
"Oh iya Bu, Sadha lupa kalau hari ini ada meeting dengan klien di kantor. Sadha ke atas dulu untuk siap-siap ya, Bu." jawab Sadha, mengalih pembicaraan sang ibu.
Sadha beranjak, menghampiri sang istri yang mengulum senyum, menutupi rasa malu yang menjalar tiba-tiba, membiarkan sang suami menariknya menuju ke kamar, meninggalkan Bu Aini yang geleng kepala.
__ADS_1
"Kamu sudah siap Sayang?"
Bu Aini menoleh, melihat sang suami yang sudah gagah dan siap untuk berangkat ke rumah sakit, sesuai perjanjian tadi malam.
"Sudah, Mas. Ayo kita pergi sekarang!!!" jawab Bu Aini yang memang sudah siap, beranjak seraya meraih tas sandangnya.
"Sadha, Vanny dan Imam bagaimana?" tanya Pak Aidi yang mengedar matanya.
"Biarkan Imam istirahat dulu, Mas. Kalau Sadha dan Vanny, sepertinya mereka ke kantor dulu sebelum ke rumah sakit. Tadi soalnya, Vanny sudah siap akan pergi ke kantor." tutur Bu Aini yang melihat ke arah lantai atas.
"Ya sudah, tadi aku juga sudah berpesan pada Bi Iyah. Untuk menyiapkan sarapan untuk cucu-cucu kita. Untuk sarapan kita, nanti kita beli di luar saja ya." ujar Pak Aidi.
Bu Aini mengangguk patuh, menggandeng tangan sang suami yang mengulas senyum. Mereka pun berangkat menuju rumah sakit, melihat kondisi Dhana, Mala dan Wulan.
***
"Pak Gibran... ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda sekarang!!!"
Kepala yang semula bersembunyi di balik lutut, terangkat. Seruan suara bariton Polisi penjaga lapas menarik perhatian sosok di dalam sell tahanan dengan nomor tahanan dua puluh lima itu. Gibran mengeryit heran, siapa gerangan yang kini mengunjunginya.
Perlahan Gibran beranjak, berjalan keluar sesuai tuntunan Polisi penjaga, membawa dirinya menuju ruang kunjungan, di mana sosok pengunjung menunggunya.
"Silahkan! Bicaralah seperlunya! Waktu kalian hanya sepuluh menit!" seru Polisi.
Gibran mendengus samar, menatap tajam Polisi penjaga itu seakan ingin menghabisi musuhnya, namun Gibran yang masih ada kesadaran membuatnya diam. Lalu duduk tepat di depan sosok berpakaian aneh itu.
"Siapa kamu?"
"Ini saya, Tuan."
Gibran mengeryit, melihat gerak-gerik si pengunjung misterius itu yang membuka perlahan topi beserta kaca mata palsunya. Membuat Gibran terperangah hebat, tidak percaya kalau sang asisten masih terbebas.
"Bram... sedang apa kamu ke sini?"
"Saya punya sesuatu untuk Tuan."
Bram mengulurkan sebuah kertas yang terlipat, memberikan pada Gibran yang masih tidak mengerti dengan maksud sang asisten, bertindak nekat datang ke kantor Polisi hanya untuk memberikan kertas itu.
"Baca dan pahami lah, Tuan!!! Saya akan menunggu anda di lokasi yang sudah saya tuliskan di dalam kertas itu!!! Kalau begitu, saya permisi sebelum Polisi curiga dengan gerak-gerik saya." seru Bram yang tampak waspada, mengenakan alat penyamaran.
Gibran bergeming, meraih kertas terlipat pemberian Bram yang hendak beranjak, membuat matanya terbelalak sempurna dalam sedetik tatkala mata melihat jelas sebuah sketsa yang diyakini bahwa sketsa itu merupakan sketsa rahasia. Membuat seringai tajam yang licik terukir, menatap penuh takjub dengan hasil karya tangan Bram di dalam selembar kertas terlipat itu.
"Tunggu Bram!!!"
Bram yang hendak berlalu pun berbalik, menoleh cepat ke arah majikannya itu.
"Apakah Kinan dan Zivana tau?"
"Belum, Tuan. Tapi sepertinya akan."
Gibran beranjak, mendekati Bram yang berdiri tegap seraya menundukan kepala.
"Bawa mereka ke Singapore, sebelum keberadaan saya di tempat ini diketahui! Katakan bahwa saya menunggu mereka di sana!!! Buat cerita seolah-olah saya akan mengajak mereka liburan. Namun di saat mereka di sana dan saya tidak ada, katakan kalau saya sedang ke negeri lain, bertemu klien dalam waktu yang tidak ditentukan!!! Minta mereka untuk menetap di selama saya belum meminta mereka untuk pulang! Kinan dan Zivana tidak boleh tau semua ini." titah Gibran, berjalan mengitari sang asisten.
"Baiklah Tuan!!! Percaya kan mereka pada saya!!! Saya akan memastikan, kalau Non Zivana dan Nyonya Kinan tidak mengetahui masalah ini." jawab Bram penuh kepatuhan.
"Bagus!!! Saya percayakan semua ini sama kamu, Bram!!!" ujar Gibran, tersenyum licik.
Bram mengangguk patuh, akan melakukan apapun yang diperintahkan sang majikan.
"Bagaimana dengan Bima?" tanya Gibran.
"Dia masih aman, Tuan." jawab Bram.
"Kamu tau apa yang harus kamu lakukan?" tanya Gibran, melirik Bram penuh makna.
"Sangat tau, Tuan." jawab Bram.
"Bagus!!! Lakukan rencana, setelah kamu berhasil mengirim Kinan dan Zivana." titah Gibran, menoleh lagi dengan seringai licik.
__ADS_1
"Baik Tuan." jawab Bram patuh.
Gibran menyeringai, tidak sabar menunggu malam tiba, di mana akan terjadi sesuatu di tempat ini yang akan membuatnya terlepas.
"Waktu kalian habis! Silakan keluar!"
Bram mengangguk, beranjak pergi dari ruangan kunjungan, meninggalkan sang majikan yang menatap punggungnya dari dalam dengan seringai penuh rasa bangga. Sementara Polisi penjaga membawa Gibran kembali masuk ke dalam sell tahanan.
Tunggu aku, Mala. Aku akan kembali. Mengambil sesuatu yang pastinya akan menghancurkan hidupmu untuk selamanya. Kamu harus merasakan kehilangan, seperti yang pernah aku rasakan di masa lalu. Gumam Gibran dalam hati yang tertawa.
***
"Pak Bram..."
Kinan terkesiap, mendapati asisten sang suami berdiri di depan pagar rumah elite milik suaminya, tiba-tiba muncul di depan tanpa terdengar suara mesin mobilnya dan salamnya. Membuatnya hampir jantungan.
"Ada apa Pak Bram? Bukannya anda ikut suami saya ke Singapore untuk menemui klien? Kenapa Pak Bram bisa ada di sini?" tanya Kinan yang bertubi-tubi, penasaran.
"Saya datang ke sini karena disuruh Tuan Gibran untuk menjemput Nyonya dan Non Zivana. Tuan meminta kalian untuk datang dan menyusulnya ke Singapore." ujar Bram.
Kinan mengeryit bingung, tidak mengerti dengan maksud asisten sang suami yang mendadak ingin membawanya dan sang putri ke Singapore atas permintaan Gibran.
"Untuk apa Pak Bram? Saya saja belum mendapatkan kabar apapun tentang hal ini dari suami saya." jawab Kinan, heran.
"Tuan Gibran ingin membuat kejutan untuk anda dan Nona Zivana, Nyonya. Jadi Tuan masih menutupinya dari Nyonya dan Nona." ujar Bram, meyakinkan istri sang majikan.
"Tapi Pak Bram..."
"Liburan? Papa mengajak liburan?"
Perkataan Kinan sukses terpangkas oleh suara cempreng nan nyaring yang keluar dari rumah tatkala mendengar kata liburan. Sosok pemilik suara cempreng itu beranjak, berlari mendekati sang bunda dan Bram. Membuat Kinan menghela berat, memijat pelipisnya yang tiba-tiba didera rasa nyeri.
"Benarkah Papa mengajak liburan?" tanya Zivana dengan penuh binar kebahagiaan.
"Benar, Nona. Tuan Gibran saat ini sudah menunggu Nona dan Nyonya. Tuan juga sudah memesan dua tiket dan berangkat hari ini juga. Masih tersisa waktu satu jam lagi untuk Nyonya dan Nona bersiap-siap. Jadi, saya akan menunggu kalian di sini." tutur Bram, mengambil kesempatan saat kemunculan Zivana di tengah pembicaraan.
Dengan antusias Zivana merebut kedua lembar tiket pesawat dari tangan asisten sang papa, terlonjak senang di kala rasa jenuh datang mendera efek dikurung oleh sang bunda di dalam rumah terus-terusan.
"Kita tidak akan menyusul Papa ke sana!"
Zivana tercengang, melihat kedua tiket itu direbut paksa oleh sang bunda, membuat mood nya kembali buruk setelah kejadian tadi malam. Di mana sang bunda kembali marah saat melihatnya pulang diantar oleh Bima tengah malam, mengusir kekasihnya secara halus dengan sindirian super tajam. Membuat Bima malu namun masih tetap menghormati Kinan sebagai ibu dari sang kekasih, lalu pergi setelah mengantarnya.
"Kenapa sih Bunda? Zivana ingin ke sana!" jawab Zivana, menoleh kesal pada Kinan.
"Tidak!!! Kamu ingat apa hukuman yang Bunda tetapkan semalam karena kamu diam-diam keluar bersama Bima? Dan yang paling membuat Bunda kecewa hingga kini adalah, kamu pulang di saat malam sudah larut dan itu bersama Bima!!! Kamu sangat keterlaluan, Zivana!!!" cercah Kinan, marah.
"Bunda jahat! Zivana ingin menyusul Papa ke Singapore! Titik!" tandas Zivana, geram.
"Kalau Bunda bilang tidak, artinya kita tidak akan pergi Zivana!!!" tandas Kinan, marah.
Kinan berlenggang masuk, meninggalkan Zivana dan Bram yang masih terperangah. Membuat Bram frustasi seketika, merasa kalau istri sang majikan benar-benar tidak akan mau pergi ke Singapore. Sementara Zivana yang melihat Bram panik, berjalan. Mendekati asisten sang papa yang gelisah.
"Benarkah Papa ada di penjara, Pak?"
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
Part awal sedikit intermezzo buat yang masih tegang karena part sebelumnya, maaf kalau intermezzo nya memperlihatkan ke bar-bar an Sadha dan Vanny 😂🧡✌️
Terima kasih untuk semua para sahabat yang sudah meluangkan waktu membaca kisah Wulan yang receh ini 😂✌️
__ADS_1