Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 104 ~ Psikoterapi


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Adek..."


Disentuhnya bahu yang naik turun tak beraturan itu dari belakang, membuat sang empunya bahu tersentak, menoleh cepat ke belakang seraya mengusap wajahnya yang basah karena air mata. Mengulas senyum walaupun hatinya meraung ingin berteriak.


Damar mendaratkan tubuhnya di depan sang adik yang sejak keluar dari kamar memilih duduk di pojok lorong, menangis tergugu menahan perih di dalam hati, meratapi nasib yang semakin hari semakin tak nampak hilal pencerah dari sikap sang mami, kendati ia sudah tau penyebabnya.


"Jangan sedih lagi ya." ujar Damar, mengusap lembut pipi sang adik yang basah dengan bulir kristal.


"Aaaaai..." ucap Wulan, lirih.


Damar menghela, membawa tubuh sang adik ke dalam dekapan hangat, memberi kekuatan yang semakin terkikis tiap saat. Membuat tangis Wulan kembali pecah, dipeluknya erat tubuh nan kekar tinggi semampai itu, menumpahkan segala isi hati yang terlanjur merindukan kehangatan sang mami setelah beberapa hari tidak bertemu. Bak kata pepatah, maksud hati memeluk gunung, namun apalah daya tangan tak sampai, seperti itulah Wulan sekarang ini.


"Adek sudah mendengar cerita Papi 'kan? Sikap Mami seperti itu karena penyakitnya, bukan karena kemauan Mami. Adek harus lebih sabar ya, Sayang. Tidak lama lagi, Mami kita akan kembali seperti dulu. Adek harus kuat!!! Buktikan kalau Adek akan selalu ada untuk Mami, baik di saat Mami sedang marah atau pun tidak. Dan yang harus Adek ingat, bahwa Mas akan selalu ada di samping Adek. Seperti yang selalu Mas janjikan!!! Kita akan selalu bersama!!! Oke?"


Wulan terhenyak, sikap sang mami yang terlalu acuh membuatnya lupa sesuatu di dalam diri sang mami. Isak tangis yang mengugu pun terhenti seketika, wajah yang basah diajaknya mendongak, sesekali suara tarikan di hidungnya pun terdengar, melihat Damar yang mengulas senyum padanya.


"Maaf Mas..." ucap Wulan dengan isyarat.


"Tidak apa-apa. Jika dengan menangis bisa membuat hati Adek lebih tenang, maka menangis lah. Mas akan selalu siap siaga, meminjamkan bahu ini sebagai sandaran." tutur Damar, menangkup wajah sang adik lalu menepuk salah satu bahunya sendiri.


Wulan mengangguk, mengulas senyum yang terukir spontan mendengar penuturan sang mas kembar yang menghangatkan.


"Adek kembali ke kamar ya? Adek masih harus istirahat!!!" ujar Damar, mengusap bahu kiri sang adik yang terkena tembak.


Wulan hanya mengangguk, patuh dengan perkataan sang mas yang memang benar. Damar pun beranjak, merangkul sang adik untuk dibawa kembali ke kamar rawatnya.


"Damar..."


Kaki yang baru saja melangkah terhenti, membawa mata untuk melihat ke asal suara bariton yang menggelegar di ujung lorong.


"Mas kembar..."


Siapa lagi kalau bukan Syahal-Syahil. Si kembar Sadha dan Vanny itu bergegas lari, mendekati kedua adik kembarnya.


"Adek..."


Wulan melukis senyum senang, berbinar karena masih bisa melihat mas kembarnya lagi setelah terakhir sebelum peristiwa penculikan dan penyekapan itu terjadi.


Grep!


Syahil bergerak cepat, menarik tubuh Wulan masuk ke dalam dekapannya, membuat sang mas kembar mendengus gemas, melihat Syahil yang memang sudah berubah namun sudah berani mendahuluinya.


"Jadi hanya Syahil yang dipeluk?" umpat Syahal, memutar bola mata efek jengah.


"Mulai lagi deh..." ujar Damar, terkikik.


"Ck!!! Budayakan sistem mengantri dong, Mas! Siapa yang datang duluan, dia yang berada di depan!" seloroh Syahil, enggan melepas Wulan dari dekapan tangannya.


"Cih!!! Sudah seperti mengambil jatah sembako bulanan saja harus mengantri!" sungut Syahal seraya membuang muka.


Wulan berdecak lirih, menahan tawa yang hendak meledak melihat tingkah cemburu Syahal. Lalu melerai pelukannya dari Syahil hingga berakhir di dalam pelukan Syahal.


"Masa adikku yang cantik ini disamakan dengan sembako!!! Menyebalkan sekali!" sungut Syahal, mencibir sang kembaran.


"Sudahlah, Mas! Mas kembar kalau sedang akur, pasti selalu seperti ini." ujar Damar, menahan geli yang menggelitik perutnya.


Syahil berdecak lirih, memutar bola mata karena dibuat kesal sejak tadi oleh Syahal.


"Mas kembar kenapa bisa ada di sini?" tanya Damar, mengakhiri rasa herannya.


Mendengar itu, Syahal pun melepaskan Wulan dari dekapannya, lalu menoleh ke arah Syahil.


"Ada berita heboh, Damar." jawab Syahal.


"Berita heboh? Apa Mas?" tanya Damar.


Syahal dan Syahil saling pandang, terlihat guratan serius yang mengubah kekonyolan di wajah mereka seketika, membuat Damar dan Wulan merasa heran plus penasaran.


"Ikut Mas sebentar! Mas juga harus memberitahu papi kalian!" titah Syahal.


Damar dan Wulan mengangguk patuh, mengikuti langkah lebar Syahal-Syahil yang bergerak melewati kamar rawat.


"Kita mau ke mana sih Mas? Kamar rawat Adek dan Mami sudah lewat!!!" sahut Damar, menunjuk ke arah kamar rawat.


"Kita harus menyusul papi kamu, Damar. Tadi Mas dan Syahil sempat berpapasan saat papimu hendak membawa Anty Mala ke ruang kerja Dokter Ali. Katanya Anty Mala akan melakukan psikoterapi hari ini." jawab Syahal, berjalan dengan cepatnya.

__ADS_1


"Lalu apa hubungannya dengan berita heboh yang Mas maksud?" tanya Damar.


"Uncle Dhana juga harus tau, Damar!!!" jawab Syahil, menepuk bahu sang adik.


Dahi Damar semakin mengerut, menoleh sesaat ke arah sang adik yang menggeleng, terlihat juga guratan kebingungan di wajah pucatnya, membuat Damar hanya bergidik. Melangkah terus mengikuti Syahal-Syahil.


***


"Ayo cepat Mas!!!"


Kecemasan kian menyelimuti, memenuhi pikiran Aifa'al yang duduk di belakang, memangku kepala sang paman. Usia yang tak lagi muda, membuat wajah pria yang sejak dulu mendapatkan gelar sholeh itu terlihat pucat, membuat Aifa'al tidak bisa tenang.


"Macet Al!!!" seru Aiziel, tak kalah panik apalagi di depan ruas jalan sangat padat.


"Terobos saja Mas!!! Tangan Paman Imam sudah sangat dingin!!!" seru Aifa'al, kalut.


"Mas akan menerobos semua mobil tanpa kamu suruh, Al!!! Tapi kamu lihat sendiri, semua jalan sudah tertutup kendaraan!!!" jawab Aiziel yang membunyikan klakson.


"Tapi Paman..." ujar Al, tercekat.


"Kamu harus tenang, Al! Paman akan baik-baik saja!" potong Aiziel tanpa menoleh.


Aifa'al menghela berat, mengontrol hati yang terus berkecamuk kalut, menatap kondisi sang paman di depan mata yang belum diketahui penyebabnya.


"Paman harus bertahan!" ujar Aifa'al, lirih.


***


"Uncle..."


Dhana yang baru keluar dari ruangan Dokter Ali menoleh, mendapati suara sang keponakan yang tengah berlari kecil ke arahnya bersama kedua anaknya. Terukir senyum lega sesaat, ketika melihat Wulan yang terlihat lebih tenang namun berganti dengan raut wajah yang penuh pertanyaan.


"Di mana kalian bertemu Damar dan Wulan?" tanya Dhana, berjalan mendekati.


"Tadi Adek menyendiri di pojok lorong, Pi. Lalu Damar menyusulnya dan di saat kami hendak kembali, Mas kembar datang." ujar Damar, masih memasang tampang bingung.


"Papi sudah bertemu mereka tadi. Kata mereka ada hal penting yang harus kita dengar." jawab Dhana, menelisik kedua keponakan kembarnya itu.


"Memang ada berita apa sih Mas? Jangan membuat kami menahan penasaran seperti ini dong!!!" umpat Damar, menahan kesal.


"Syahal, Syahil... ada apa? Kalian baik-baik saja?" tanya Dhana, meraih bahu keduanya yang masih diam.


"Eeee... itu Uncle. Ada... eee... ada... ada" ujar Syahal, mendadak gugup tak mampu berkata.


"Ada berita he..."


"Dhana, anak-anak..." sahut seseorang.


Syahil memicing gemas, belum sempat memberitahu sang uncle tiba-tiba saja ada yang memanggil. Menuntun kepala mereka semua untuk segera menoleh, menangkap sosok yang sangat mereka kenal.


"Mas Ammar, Kak Ibel..." ucap Dhana.


"Pakde, Bude..." ucap dua pasang anak kembar.


Ammar dan Ibel melangkah, menghampiri sang adik dan kedua pasang keponakan kembarnya yang terlihat sangat terkejut.


"Wulan... kamu sudah sadar Nak?" pekik Ibel, mendekati Wulan dan mendekapnya.


Dhana ternganga, melihat sang kakak ipar yang langsung memeluk Wulan. Lalu matanya menelisik Ammar yang hanya mengulas senyum seraya mengangguk.


"Mas sudah memberitahu Ibel semuanya." ujar Ammar seraya menepuk bahu sang adik.


"Bagaimana kondisi Wulan, Dhana?" tanya Ibel, masih betah mendekap Wulan dengan nyaman.


"Wulan dan Mala sudah sadar, Kak." ujar Dhana.


"Lalu di mana Mala? Kenapa kalian di sini?" tanya Ammar, mengedar mata mencari adik iparnya.


"Mala sedang diterapi oleh Dokter Ali, Mas. Dia ada di dalam saat ini." jawab Dhana, menunjuk ke arah ruang kerja Dokter Ali yang tertutup.


"Jadi psikoterapi Mala sekarang?" timpal Ibel, melerai pelukannya dari sang gadis kecil.


"Iya Kak. Kata Dokter, lebih cepat lebih baik." jawab Dhana, mengangguk dengan senyuman.


"Lalu Syahal-Syahil, kenapa kalian bisa ada di sini juga?" tanya Ammar, melihat ke arah si kembar tampan yang masih terbungkam.


Syahal-Syahil menghela berat serentak, menata hati yang sudah geram ingin memberitahu kabar berita heboh yang meraka maksud sejak tadi pada sang uncle. Namun karena kedatangan kakak dari sang papa membuat keduanya terhentikan lagi.

__ADS_1


"Sejak tadi mereka sudah di sini, Mas. Katanya ingin memberitahu sesuatu, tapi sampai detik ini tidak ada satupun di antara mereka yang bicara." jawab Dhana, menoleh ke arah Syahal-Syahil.


"Ck!!! Bagaimana mau bicara, Pakde dan Bude datang di waktu yang kurang tepat!" umpat Syahal, menyilangkan tangannya.


"Kamu menyalahkan Pakde dan Bude?" tukas Ammar, memberi tatapan andalan.


"Bukan Pakde, tapi waktunya!!!" jawab Syahal, mendadak pias melihat tatapan andalan sang pakde.


Suara kekehan Ammar keluar begitu saja, mendapati sikap keponakan kembarnya yang absurd, menuruni sifat sang adik ipar, namun mendadak berubah, menjadi pias ketika ia memberikan tatapan andalannya.


"Ayolah Mas Syahal! Langsung saja!!! Telinga Damar sudah gatal karena menahan penasaran sejak tadi!" sungut Damar seraya melirik kesal ke arah Syahal.


"Itu artinya, telinga kamu sudah banyak kotorannya! Jorok sekali!!!" sungut Syahal balik.


Damar mendengus sebal, memutar bola matanya yang ke sekian kali karena tingkah Syahal. Sementara Ammar, Ibel, Dhana, Syahil, dan Wulan hanya menggelengkan kepala dibuatnya seraya mengulum senyum.


"Gibran kabur dari penjara, Uncle!!!"


Bibir yang mengulum senyum sejak tadi karena melihat tingkah humor Syahal, seketika terbuka. Ternganga tak percaya dengan perkataan Syahil.


"Kamu itu tau situasi dan kondisi, tidak? Main langsung bilang saja! Lihat tuh, pada kaget!!!" celetuk Syahal yang berbisik pada kembarannya.


"Ck!!! Kalau menunggu Mas Syahal, terlalu lama!!! Pembaca bisa keburu kabur karena tingkah absurd Mas Syahal yang unfaedah!" seloroh Syahil, ikut berbisik tanpa beban.


Syahal mendengus, menyikut kesal pinggang sang kembaran, lalu melihat semuanya yang masih dalam mode terperangah tanpa mengeluarkan kata.


"Kamu serius Syahil?" tanya Dhana.


"Sangat serius, Uncle! Beritanya sudah viral!" ujar Syahil, mengambil ponsel lalu mencari berita itu dan memberikannya pada Dhana.


Dengan cepat Dhana mengambil ponsel di tangan Syahil, membuka mata selebar mungkin untuk memastikan bahwa berita yang dimaksud benar. Sementara Ammar, Ibel, Damar dan Wulan yang tak kalah penasaran pun mendekati Dhana, ikut terbelalak ketika judul berita yang kini sudah menjadi trending topik tertera di layar ponsel.


"Apa ada berita lainnya mengenai di mana keberadaan Gibran sekarang?" tanya Dhana, wajahnya tidak bisa menutupi kekhawatiran.


"Belum ada, Uncle. Tapi sebelum ke sini, Mas Syahal sempat memberitahu Mas Al, tapi respon Mas Al terlalu singkat dan terburu-buru. Jadi kami pun belum melakukan tindakan apapun." tutur Syahil yang tidak ingin menutupi apapun.


"Lalu di mana masmu itu sekarang Syahal?" tanya Ibel, menoleh ke arah Syahal yang masih terdiam.


"Syahal juga kurang tau, Bude. Mas Al bilang nanti dia akan menghubungi Syahal lagi. Mas Al seperti sedang buru-buru tadi." jawab Syahal, heran namun tetap tenang.


"Padahal sejak kemarin Bude sudah berusaha menghubungi Al, tapi dia tidak menjawabnya." ujar Ibel, mendadak sendu teringat sang putra.


"Mungkin ponsel Mas Al low battery, Bude. Sebab kini Mas Al memakai ponsel lamanya, sedangkan ponsel Mal Al yang biasa sudah dilenyapkan saat penculikan itu terjadi." tutur Syahil, memberitahu lebih jelas agar sang bude tidak terlalu panik.


"Coba kamu hubungi lagi masmu, Syahil!" timpal Ammar, merasakan sesuatu tiba-tiba.


Syahil mengangguk, mengambil kembali ponselnya dari tangan sang uncle dengan cepat. Lalu mencari nomor Aifa'al yang sampai saat ini tak kunjung memberikan kabar apapun padanya ataupun Syahal.


"Bagaimana?" tanya Ammar, cemas.


"Tidak diangkat, Pakde." jawab Syahil.


"Coba hubungi pamanmu!!! Pamanmu sedang bersama Ziel dan Al sekarang. Mereka ketiduran di Apartment tadi malam, karena mereka ingin menemani Al untuk mengambil bajunya di sana." tutur Ammar, meminta Syahil menelepon Imam.


"Jadi Paman Imam, Mas Ziel dan Mas Al tidak pulang ke rumah Pakde?" tanya Syahal, terkejut karena pasalnya sangat berbeda dengan rencana sebelumnya.


"Katanya memang seperti itu, tapi mau bagaimana lagi kalau ternyata mereka ketiduran di sana." jawab Ammar, berusaha menahan panik.


Syahal hanya menghela nafas, sedangkan Syahil tampak sibuk menghubungi Imam bahkan Aiziel. Namun tiada satupun di antara mereka yang berhasil dihubungi. Membuat Ammar, Ibel, Dhana, Damar dan Wulan didera rasa khawatir, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, mengingat situasi di luar pun yang sangat mencekam, tidak bisa dianggap enteng sebab bahaya masih saja mengancam jiwa.


"Aaaaa... aaaa..."


Sejurus mata memandang, Wulan yang semula bungkam tiba-tiba bersuara, menunjuk ke arah pintu utama rumah sakit, memperlihatkan dua sosok yang tengah dibicarakan sejak tadi. Berlari cepat seraya mendorong brankar yang ditempati oleh seseorang. Membuat semuanya terjngkat, lalu menoleh ke arah tunjuk Wulan yang gemetar.


"Imam..."


.


.


.


.


.


Happy Reading All😇😇😇

__ADS_1


__ADS_2