
...๐๐๐...
Bismillahirrahmaanirrahiim
Yaa siin
Wal Qur-aanil hakiim(i)
Innaka laminal mursaliin(a)
Alaa shiraathim mustaqiim(i)
Tanziilal โaziizir rahiim(i)
Li tundzira qauman maa undzira aabaauhum fahum ghaafiluun(a)
Laqad haqqal qaulu 'alaa aktsarihim fahum laa yu`minuun(a)
Inna Jaโalnaa fii aโnaaqihim aghlaalan fahiya ilal adzqaani fahum muqmahuun(a)
Waja 'alnaa min baini aidiihim saddan wa min khalfihim saddan fa aghsyainaahum fahum laa yubshirrun(a)
Wa sawaa-un 'alaihim a-andzartahum amlam tundzirhum laa yu`minuun(a)
Innamaa tundziru manittaba'adz dzikra wa khasyiyar rahmaana bil-ghaib(i), fabasy-syirhu bi magfiratin wa ajrin kariim(in)
Innaa nahnu nuhyil mautaa wanaktubu maa qaddamuu wa aatsaarahum, wa kulla syai-in ahshainaahu fii imaamim mubiin(in)
Wadhrib lahum matsalan ash-haabal qaryati idz jaa-ahal mursaluun(a)
Idz arsalnaa ilaihimuts naini fakadz dzabuuhumaa fa'azzaznaa bi tsaalitsin faqaaluu innaa ilaikum mursaluun(a)
Qaaluu ma antum illaa basyarum mitslunaa wa maa anzalarrahmaanu min syai-in in antum illaa takdzibuun(a)
(Surah Yasin nya sampai ayat 15 saja ya, kalau dimasukkan semua banyak banget)
***
Malam bertabur bintang seakan menjadi saksi lantunan suara orang-orang yang telah hadir di rumah duka, membacakan surah Yasin, melangitkan do'a yang tulus untuk mendiang Imam dan Dhina di alam sana. Menuntun mereka menuju ke Surga, merajut asa yang pernah tertunda setelah keduanya resmi menjadi pasangan suami istri.
Setelah adzan isya berkumandang, semua warga komplek turut hadir dalam acara nan sakral dan hikmat ini. Dengan niat baik dan pastinya untuk mendo'akan Imam-Dhina, memberikan kekuatan pada yang ditinggal.
"Terima kasih saya ucapkan pada semua warga komplek yang sudah bersedia untuk datang ke rumah saya, mendo'akan anak dan menantu saya yang sudah tenang di sana. Semoga lantunan surah Yasin dari Bapak dan Ibu semuanya dapat menemani, menerangi bahkan melapangkan kubur anak dan menantu saya. Saya selaku wakil keluarga mengucapkan terima kasih sekali." tutur Pak Aidi, mewakili keluarga besarnya.
"Semoga almarhum dan almarhumah tenang di sisi-Nya ya, Pak. Kami turut berduka dan sangat kehilangan sekali." timpal salah satu warga komplek yang bernama Kak Apriyanti.
"Iya, Pak Aidi. Kami turut berduka cita ya. Jujur, kami masih tidak menyangka kalau Mas Imam akan menyusul Dhina secepat ini." timpal salah satu warga yang bernama Kak Nadia Permata.
"Rasanya seperti mimpi buruk. Masih tidak percaya kalau cinta mereka akan se-abadi ini." timpal salah satu warga yang bernama Kak Aldiano Ambomasse.
"Kamu benar sekali, Aldiano!!! Rasanya air mataku ini masih menetes saja jika teringat dengan almarhum dan almarhumah." tutur salah satu warga lain yang bernama Kak Ganezt Ganezho, menyeka air matanya.
"Rasanya aku juga belum rela kalau Mas Imam dan Mbak Dhina pergi." tutur salah satu warga yang bernama Kak Sry Mulyati.
"Semoga saja mereka tenang di sana ya, dan mereka bisa berkumpul bahagia lagi." timpal warga lain yang bernama Kak Vina.
"Aamiiiin... paling tulus dan paling kencang untuk almarhum dan almarhumah!!!" jawab salah satu warga yang bernama Kak Distya Anggra Melani.
"Aamiiiin... semoga mereka bahagia dan tidak sakit lagi di sana." timpal salah satu warga yang bernama Kak Darknight.
"Terima kasih semuanya." ujar Pak Aidi.
Semua warga komplek pun berangsur bubar, meninggalkan kediaman keluarga Pak Aidi yang masih diselimuti duka dalam setelah 20 tahun kepergian Dhina, setelah satu minggu kepergian Imam.
"Pak Aidi... saya turut berduka cita ya. Semoga almarhum dan almarhumah di alam sana tenang dan selalu bahagia." ujar salah satu tamu yang bernama Kak Arthi Yuniar.
"Terima kasih Nak Arthi..." ucap Pak Aidi.
"Saya juga turut berduka cinta ya, Pak. Semoga Bang Imam dan Dhina tenang di sana. Bahagia selamanya dengan cinta mereka yang abadi, sehidup sesurga." timpal salah satu tamu yang bernama Kak Ayu Widia.
"Terima kasih Nak Ayu." ucap Pak Aidi.
"Semoga keluarga yang ditinggalkan juga diberikan ketegaran dan kelapangan hati untuk menerima ujian berat ini ya, Pak Aidi." timpal tamu yang bernama Kak Nofi Kahza.
"Terima kasih Nak Nofi." ucap Pak Aidi.
"Yang tegar ya, Pak Aidi. Ditinggal orang yang kita sayang memang berat, tapi seperti itulah kehidupan. Ada yang datang dan ada yang pergi, sesuai takdir." tutur salah satu tamu yang bernama Kak Melisa Eksprisa.
"Terima kasih Nak Melisa..." ucap Pak Aidi.
"Walau raga almarhum dan almarhumah sudah tidak ada di depan mata, namun jiwa dan kenangan indah bersama mereka akan selalu terpatri di dalam hati keluarganya." tutur salah satu tamu yang bernama Kak Heni Nurr.
__ADS_1
"Terima kasih Nak Heni..." ucap Pak Aidi.
"Kami akan selalu mendo'akan almarhum dan almarhumah, Pak Aidi." timpal salah satu tamu yang bernama Kak Yeni Eka.
"Terima kasih Nak Yeni..." ucap Pak Aidi.
"Semoga semua do'a kita didengar oleh Allah SWT dan kedua mendiang tenang." timpal salah satu tamu yang bernama Kak Ria Diana Santi.
"Terima kasih Nak Ria..." ucap Pak Aidi.
"Almarhum dan almarhumah orang baik, pasti sekarang mereka sudah berkumpul dengan orang-orang yang baik di sana!!!" timpal salah satu tamu yang bernama Kak Ulfa Zahra.
"Aamiiiin Nak Ulfa..." ucap Pak Aidi.
"Saya cukup mengenal kedua mendiang, Pak Aidi. Mereka adalah orang yang baik dan pastinya mereka akan bahagia di sana." timpal salah satu tamu yang bernama Kak Rasti Yulia.
"Terima kasih Nak Rasti." ucap Pak Aidi.
"Kak Imam memang sudah ditakdirkan menjadi cinta sejatinya Kak Dhina, Pak. Jadi keluarga besar tidak perlu sedih lagi." timpal salah satu tamu yang bernama Kak Seul Ye.
"Terima kasih Nak Seul..." ucap Pak Aidi.
"Semoga do'a baik kalian di ijabah oleh Allah SWT. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih banyak atas waktu yang telah kalian luangkan untuk bisa datang ke sini." sahut Ammar, mewakili sang ayah sebagai anak sulung di rumah itu.
"Sama-sama Mas Ammar." ucap semua.
Setelah mengucapkan belasungkawa, semua tamu spesial pun berangsur bubar, mengikuti para warga komplek yang lebih dulu bubar karena hari sudah makin larut.
***
"Aaaaai..."
Dhana terjingkat, mendapati tangan kecil sang putri yang tiba-tiba datang dari arah belakang, lalu mengalungkan tangan kecil itu pada leher sang papi. Membuat Dhana menoleh cepat saat sedang duduk di atas sofa ruang keluarga bersama yang lainnya.
"Ada apa Sayang?" tanya Dhana.
"Aaaaai..." jawab Wulan, tidak sabar.
"Tapi Mami masih tidur, Nak." ujar Dhana.
Bibir mungil gadis kecil cantik itu kerut, mengerucut karena sang mami belum juga bangun dari tidurnya, membuatnya pasrah.
"Memang Wulan ingin apa Dhana?" tanya Ammar, heran melihat sikap keponakannya.
"Kamu yakin, kalau emosi Mala sudah benar-benar terkendali, Dhana?" timpal Sadha, tidak merasa yakin dengan sikap sang adik ipar yang berubah secepat itu.
"Ya... seperti yang Dhana ceritakan pada Mas tadi, bahwa Mala sendiri yang ingin bertemu dengan putrinya. Bahkan Mala ingin sekali memeluk Wulan, Mas." jawab Dhana, sangat terlihat betapa bahagianya.
"Tapi kenapa Ibu tidak yakin ya, Nak? Ibu takut kejadian tadi pagi terulang kembali!" timpal Bu Aini, teringat amukan Mala tadi hingga mengorbankan tangan sang cucu.
Dhana terdiam, keinginan dadakan Mala membuatnya terlalu bahagia lalu bercerita pada semuanya. Namun bukan semangat yang Dhana dapatkan, justru respon yang menurut telinganya cukup mengecewakan dari keluarga besarnya. Tidak percaya dan tidak yakin, bahwa Mala sudah membaik.
"Kalau kita tidak mencobanya, mana kita bisa tau, Mas!" jawab Ibel, menyemangati Dhana yang mulai surut semangatnya.
"Jangan menyurutkan semangat Dhana dong, Mas!" timpal Vanny, mencubit pipi sang suami yang membuatnya geram.
"Ihh!!! Kamu kenapa sih Sayang!? Tidak hanya aku yang bilang seperti itu, bahkan Ibu juga merasakan hal yang sama seperti aku dan Mas Ammar!" umpat Sadha, kesal.
"Kalau pendapat Ibu beda!" sungut Vanny.
"Ck!!! Apa bedanya coba?" tukas Sadha.
"Beda golongan!!! Anggap saja seperti itu!" sungut Vanny, menatap jengah sang suami.
"Ck!!! Sudah seperti pangkat PNS saja!!!" sungut Sadha, gemas dengan sang istri.
Pak Aidi, Bu Aini, Ammar dan Ibel yang melihat tingkah keduanya pun hanya bisa menggeleng kepala. Geli bercampur gemas dengan tingkah pasangan suami istri itu. Sementara Dhana masih terdiam, merasa gamang setelah mendengar respon yang berbeda dari keluarganya. Ada yang ragu, ada yang belum percaya, namun ada yang tetap setia mendukung dan menyemangati. Membuat Dhana tersenyum getir, tidak ingin memperlihatkan kerisauan hatinya saat ini.
"Lebih baik, anak Papi yang cantik ini sekarang berkumpul dengan para mas tampan di ruang tamu. Sambil menunggu Mami terbangun dari tidur. Nanti akan Papi panggil kalau Mami sudah terbangun ya!!!" tutur Dhana, mengelus wajah sang putri.
Wulan mengangguk patuh, lalu beranjak dari pangkuan sang papi, berjalan menuju ruang tamu di mana para mas tampannya tengah duduk bersama dan tengah mabar.
"Adek... dari mana saja, hmmm?" tanya Aiziel, merangkul bahu sang adik karena hanya dia yang tidak ikut main bersama.
"Adek dari ruang keluarga, Mas. Di sana juga tak kalah ramai dengan di sini." ujar Wulan yang lincah memberikan isyarat.
"Anty Mala sudah bangun? Adek sudah bertemu dengannya?" tanya Aiziel, tangan kekarnya mengelus lembut rambut Wulan.
"Belum, Mas. Kata Papi, Mami masih tidur karena pengaruh obat yang diminum nya." jawab Wulan, dengan bahasa andalannya.
"Sabar ya, Sayang. Percaya deh, bahwa tidak akan lama lagi Anty Mala pasti bakal sembuh dan sayang banget sama Adek." tutur Aiziel, menangkup wajah sang adik.
__ADS_1
Wulan mengangguk cepat, mengulas senyum yang penuh dengan binar-binar kebahagiaan di manik cantiknya nan teduh, hingga menampakan gigi gingsulnya yang sangat manis ketika ia tersenyum lebar.
Ting... Nong...
Senyum manis gigi gingsul Wulan teriring saat terdengar suara bel di pintu gerbang, membuat Wulan dan Aiziel saling pandang, saling bergidik seakan menjawab tatapan yang penuh pertanyaan di mata keduanya.
"Buka gerbang, Mas!!!" seru Syahal, asyik bermain game di ponsel bersama Aifa'al, Syahil dan Damar yang baru mendapatkan ponsel dari sang papi setelah sekian lama.
"Itu perintah atau suruhan?" sungut Aiziel.
"Anggap saja minta tolong!" ujar Syahal.
"Cih!!! Adik kurang ajar!!!" umpat Aiziel.
"Aaaa... aaaa... aaaa... aass!!!" ujar Wulan, menunjuk dirinya sendiri untuk pergi keluar.
"Ya sudah, tapi jangan lama-lama!!!" seru Aiziel, mencolek gemas hidung sang adik.
Wulan terkikik geli, mendapat perlakuan manis dari sang mas sulung yang tampan. Lalu beranjak dari duduknya menuju pintu gerbang yang masih sedikit terbuka setelah semua tamu pulang ke rumah mereka. Sementara Aiziel menggeleng, rasa sayang dan cintanya pada sang adik perempuan kendati hanya adik sepupu, sangat terlukis jelas di lubuk matanya yang berbinar tajam.
Mata yang semula tertuju pada Wulan kini teralih lagi pada ponsel, membaca kembali beberapa berkas pekerjaan yang sempat ia hentikan saat Wulan menghampiri. Jika ada yang bertanya di mana Aiziel bekerja, maka jawabannya adalah di perusahaan Sadha, Prasetya Corporation, itulah namanya.
Perusahaan sendiri yang dijalankan oleh Sadha dan Vanny sepenuhnya. Berdiri setelah Ammar dan Sadha menikah, lalu memutuskan untuk membangun sebuah perusahaan keluarga, seperti yang pernah Dhina inginkan di masa hidup. Mengingat profesi Ammar dan Ibel sebagai dokter, lalu Dhana dan Mala yang fokus pada Cafe saja. Sementara Pak Aidi dan Bu Aini tidak boleh lagi bekerja keras atas perintah ketiga anak laki-lakinya, membuat Sadha dan Vanny yang sudah cukup berpengalaman harus memegang amanah berat dari sang ayah. Sekilas tentang perusahaan Dhina family.
Kembali lagi pada Aiziel yang tengah asyik membaca berkas pekerjaan, sedangkan Aifa'al, Syahal-Syahil dan Damar juga tak kalah asyik bermain dengan ponsel. Lalu para orang tua mereka, masih bersantai ria di ruang keluarga dan sesekali terdengar suara kekehan receh jika Sadha dan Vanny bertingkah lucu, hingga menggelitik perut.
"Aaaaaahhh...!!!"
Aiziel terlonjak. Begitu pula dengan Aifa'al, Syahal-Syahil dan Damar. Mereka saling pandang sesaat, membuka mata selebar mungkin karena terkejut hingga akhirnya...
"Adek...!!!"
Keempat pria tampan berbeda generasi itu beranjak cepat, berlari menyusul sang adik yang terpekik kuat, mengejutkan semuanya, tak mengindahkan lagi ponsel mereka yang terlempar ke sembarang arah hingga jatuh.
"Adek...!!!"
Damar yang melihat sang adik lebih dulu berlari kencang, menangkap posisi Wulan yang sudah meringkuk di sudut gerbang, diisusul pula oleh Aiziel, Aifa'al, Syahal dan Syahil. Tidak berselang lama, Dhana dan yang lainnya pun ikut menghambur keluar setelah mendengar suara pekikan Wulan.
"Adek kenapa? Ada apa Dek?" cercah Damar, menelisik seluruh anggota tubuh sang adik dengan guratan kecemasan.
"Ada apa Sayang? Kenapa suaramu terdengar begitu keras hingga sampai ke dalam rumah?" timpal Dhana, mengusap wajah sang putri yang masih meringkuk.
Wulan tampak gusar, bibirnya bergetar hebat yang disertai tatapan kosong pada matanya, terlihat sekali kalau gadis kecil itu tengah ketakutan hingga Damar langsung memeluknya sangat erat, tidak membiarkan rasa takut terus menghantui adik tersayang.
"Wulan kenapa Ziel?" tanya Ammar.
"Ziel juga tidak tau, Daddy. Tadi tiba-tiba ada suara bel, lalu Ziel ingin melihat siapa yang datang. Tapi Adek yang justru ingin melihat keluar hingga dia terpekik seperti ini." terang Aiziel, seraya mengedar mata.
"Apa yang sedang Mas cari?" tanya Syahil.
"Sesuatu! Sesuatu yang telah membuat Adek terpekik dan ketakutan seperti itu!" jawab Aiziel, nada bicaranya seperti marah.
Aifa'al yang melihat sang mas sulung mengedar mata pun turut ikut, mencari sesuatu atau bahkan seseorang yang telah berani membuat sang adik kecil ketakutan. Begitu pula dengan si kembar Syahal-Syahil yang ikut mengedar mata mencari sesuatu. Hingga pada akhirnya, mata tajam Aifa'al menangkap sesuatu di luar pintu gerbang.
"Mas mau ke mana?" sahut Syahal.
"Tunggu sebentar!!!" jawab Aifa'al.
Aifa'al beranjak perlahan, meninggalkan Syahal dan Syahil yang menatapnya heran. Sementara Aiziel masih setia mencari, lalu semua orang tuanya masih sibuk dengan Wulan yang ketakutan di dekapan Damar.
Srek!
Mata Aifa'al membulat, melihat isi sebuah kotak yang menuliskan sebuah kata seram. Sebuah kata seram yang dilukis di atas selembar kain putih, bertinta merah pekat seperti putihnya kain kafan dan merahnya darah segar manusia atau bahkan hewan. Tidak hanya itu, baunya pun sangat amis. Menyengat hingga menimbulkan rasa mual.
Aifa'al mendengus marah, membuang sensasi amis dari hidungnya akibat bau darah pekat pada kain putih itu, mengedar mata lagi untuk mencari seseorang yang diduga nya masih berada di sekitar rumah, hingga mata tajamnya menangkap jelas sesosok hitam di balik sebuah pohon yang tidak jauh dari rumah opa dan omanya itu.
"Woi...! Jangan kabur lo!" sahut Aifa'al.
.
.
.
.
.
Happy Reading All ๐๐๐
Ini episode spesial untuk semua sahabat author dan sahabat readers yang masih setia menemani dina dan keluarga Wulan sebagai ungkapan terima kasih yang tak bisa diungkapkan secara nyata ๐๐๐
__ADS_1
Terima kasih semuanya ๐ค๐ dina minta maaf, jika ada nama dari sahabat author dan sahabat readers yang tidak tersebut namanya โ๏ธ mungkin dina khilaf karena mata udah siwer alias rabun ya wkwk....
Oke segitu dulu racauan dina ๐ terima kasih banyak sekali lagi untuk kalian ๐ค