Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 118 ~ Kekecewaan Hati


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Terima kasih ya Mas!"


Setengah jam perjalanan dari rumah ke sekolah, berubah menjadi satu jam akibat ruas jalan ibu kota yang mendadak macet, membuat Syahal-Syahil kelimpungan saat mengantar Damar-Wulan dan harus pergi ke kampus juga karena ada kelas jam 8.


"Sama-sama, Dik. Untung saja, jadwal kuliah kami masuk jam 8, dan kamu baru masuk hari pertama di semester awal. Jadi terlambat sedikit tak apalah ya." ujar Syahal, melirik Syahil yang menganggukan kepala.


"Ya sudah kalau begitu, Damar sama Adek masuk dulu ya Mas! Kalian hati-hati!" ujar Damar, menyalami tangan mas kembarnya.


"Oke siap! Nanti kalau kalian sudah keluar duluan, tunggu di dalam saja ya, biar aman! Kalau Mas dan Syahil sudah sampai di sini, Mas akan menghubungi kamu, Damar!" ujar Syahal, mengingatkan adik kembarnya itu.


"Iya, Mas Syahal..." jawab Damar.


"Ya sudah! Ayo Mas, kita pergi! Nanti macet lagi bisa runyam masalah di kampus!" seru Syahil, menghidupkan kembali mesin motor.


"Kami pergi dulu ya! Kalian jangan nakal! Jangan ke mana-mana! Tunggu kami di sini!!! Assalamualaikum..." cercah Syahal yang mendadak bawel sebelum beranjak.


"Wa'alaikumsalam..." jawab Damar.


Kedua motor Nmax hitam dan putih itu melaju kencang, membawa Syahal dan Syahil menuju kampus setelah mengantar Damar-Wulan ke sekolah. Tidak ingin telat apalagi terkena macet, bisa runyam kalau kata Syahil. Tingkah keduanya membuat Wulan terkikik, gemas melihat kedua mas kembarnya yang super duper posesif akut.


"Ayo masuk Dek! Jangan tertawa terus! Nanti gingsulnya copot loh! Hahahaha..."


Wulan berdecak, menepuk lengan Damar yang menggodanya. Mereka pun berjalan masuk ke sekolah, tapi tidak langsung ke kelas karena pembagian kelas di semester baru ini belum diumumkan oleh para guru.


"Damar...!"


Damar dan Wulan menoleh ke sumber suara, mendapati Kinan yang berjalan ke arah mereka seraya mengulum senyuman.


"Pagi Bu Kinan..."


Damar menyapa ramah, berusaha tenang karena bagaimana pun juga Kinan adalah seorang guru di sekolah ini. Bukan hanya itu, bahkan Kinan adalah kepala sekolah. Jadi, sebagai siswa ia harus hormat dan sopan. Berusaha menepis jauh ego yang masih terpatri dalam diri, berpikiran bahwa Kinan tidak ada bedanya dengan Gibran.


"Pagi Damar-Wulan... Damar, bisa ikut Ibu ke kantor sebentar? Ada hal penting yang harus Ibu bicarakan dengan kamu." jawab Kinan, membalas sapaan lalu mengajak.


Damar dan Wulan melempar pandang sesaat, sorot mata keduanya menunjukan keraguan pada ajakan Kinan pada Damar.


"Kamu tidak perlu takut, Damar. Apakah tampang Ibu seperti seseorang yang ingin berniat jahat pada kamu dan Wulan?" ujar Kinan, memecah hening Damar-Wulan.


"Baiklah, Bu. Saya akan menemui Ibu di kantor." jawab Damar, mendadak kikuk.


"Ibu tunggu ya." ucap Kinan lalu pergi.


Damar mengangguk patuh, sedangkan Kinan beranjak pergi menuju kantornya.


"Adek mau menunggu di lapangan atau tetap bersama Mas dan menunggu Mas di depan kantor Bu Kinan?" tanya Damar.


"Aaaa... aaaa... aass!" jawab Wulan.


"Ya sudah, ayo!" ujar Damar, menarik tangan sang adik dan membawanya.


Damar-Wulan beranjak, berjalan menuju kantor kerja Kinan yang tidak terlalu jauh, hingga tak butuh waktu lama mereka pun sampai di depan kantor Kepala Sekolah.


"Soni, Faisal... kalian juga dipanggil Bu Kinan?" ujar Damar, melihat dua lawannya yang menjadi kandidat ketua osis tahun ini.


"Iya nih, Mar. Gue juga tidak tau, kenapa kepala sekolah tiba-tiba memanggil." jawab Soni yang merupakan teman sekelas Wulan.


"Lo juga dipanggil Mar?" tanya Faisal yang merupakan teman sekelas Wulan juga.


"Iya, Sal. Bu Kinan menghampiri gue di pintu gerbang katanya ada hal penting!" jawab Damar, sesekali menoleh ke Wulan.


"Terus Wulan kenapa ikut?" timpal Soni, nada bicaranya agak tinggi dan nyolot.


"Gue yang mengajak Wulan! Kenapa? Lo keberatan karena ada Wulan di sini?" ujar Damar, kesal mendengar nyolot nya Soni.


"Sudahlah, Son! Biar saja Wulan di sini! Tidak ada yang melarang juga!!! Jangan mencari ribut deh di hari pertama sekolah!" seru Faisal, menengahi Soni dan Damar.


Soni mendengus, pasalnya anak itu juga tidak suka pada Wulan dan pernah membuli Wulan di kelas bersama geng Zivana dan Bima. Sedangkan Faisal yang memiliki sifat dingin dan tidak terlalu peduli dengan hal itu kendati kedua anak itu sama-sama cukup pintar dan berprestasi dalam hal akademik.


"Aaaaaaa... aass!" ujar Wulan.


Damar menghela berat, mengangguk seakan mengiyakan keinginan sang adik yang menginginkan dirinya tetap tenang.


"Damar, Faisal, Soni... ayo masuk!"


Ketiga anak muda itu mengangguk patuh, mendapati seruan Kinan. Lalu mereka pun masuk, sedangkan Wulan menunggu di luar.

__ADS_1


***


"Aaaarrrggggghhhhh! Papa jahat!"


Siapa lagi yang menggeram marah dan kecewa seperti saat ini kalau bukan Zivana. Setelah mendengar percakapan di antara sang papa dengan Bram, membuat gadis belia itu gusar dan kacau. Bagaimana tidak jika selama satu minggu lebih ia mengikuti sang papa untuk bersembunyi, mendengar semua perintahnya. Jangan ini dan jangan itu, membuatnya sadar kalau titah Gibran lebih parah kejamnya dari titah sang bunda.


"Jadi selama ini Papa telah membohongi putrinya sendiri dan ingin memisahkan aku dari Bima? Jadi semua yang Bima ceritakan waktu itu benar semua? Dan dengan polos dan bodohnya, aku mau saja dipengaruhi oleh papaku sendiri! Kau bodoh, Zivana!!!"


Pintu kamar yang terkunci rapat, ditambah dengan kokohnya pintu kamar mandi yang ikut terkunci, membuat Zivana menggeram seorang diri di dalamnya. Menghempaskan semua barang-barang mahal yang tersedia di sana dengan membabi buta karena kesal pada sang papa. Berakhir menyesal karena selama ini ia terus mempercayai sang papa.


"Aku tidak bisa menerima ini! Papa sudah keterlaluan! Papa sudah membuatku benci pada Bima, pada kekasihku sendiri. Bahkan aku sudah memaki dan menuduhnya kalau dia yang telah memanfaatkan situasi Papa!"


Zivana meracau, mengacak rambutnya kasar hingga membuatnya berantakan.


"Bima... aku minta maaf. Seharusnya aku berada di sisimu untuk menghadapi Papa. Aku benar-benar tidak menyangka, kalau Papa tidak hanya ingin membalas dendam pada orang tua Damar, tapi Papa juga ingin memisahkan kita. Maafkan aku, Bima...."


Zivana menangis sesegukan, meraung sendiri di dalam kamar mandi kedap suara itu hingga membuatnya puas berteriak, melampiaskan amarah dan kekecewaan terhadap sang papa yang ia banggakan. Menyesali kekesalannya pada Bima yang kini sudah berada di dalam penjara, bukan menyesali perbuatan sang papa yang telah menculik dan menyekap Damar dan Wulan.


"Aku harus bisa keluar dari tempat ini! Aku harus menemui Bima dan bertemu Bunda! Aku sudah tidak kuat lagi tinggal di tempat aneh seperti ini! Aku harus kabur dari sini!"


***


"Apa? Pemilihan ketua osis dibatalkan?"


Bukan Damar yang terkejut, melainkan Faisal dan Soni. Tidak menyangka jika pengorbanan waktu dan tenaga selama ini akan berakhir sia-sia hanya karena kasus kriminal yang tengah menggerogoti sang pemilik sekolah. Ups sorry, bukan pemilik sekolah lagi, melainkan sudah jadi mantan.


"Sebagai kepala sekolah, Ibu benar-benar minta maaf pada kalian bertiga!!! Dengan berat hati, Ibu harus memberitahu hal ini pada kalian agar kalian tidak berharap lagi! Kalian pasti juga sudah mendengar kasus Pak Gibran yang sampai saat ini berstatus sebagai buronan, dan keberadaannya pun belum menunjukan titik terang!" tutur Kinan.


"Tidak harus seperti ini juga dong, Bu! Kami sudah mengeluarkan banyak waktu, tenaga dan pikiran untuk mengikuti ajang ini! Tapi kenapa kekecewaan yang kami terima?" serkas Soni, tidak terima dengan hal ini.


"Ibu sudah membahas masalah ini dengan semua jajaran sekolah! Wakil kepala, para guru dan pembina osis! Mereka semua pun awalnya juga tidak setuju, tapi apa daya Ibu. Semua biaya yang seharusnya digunakan untuk ajang ini, dengan reward yang tidak pernah terbayang sebelumnya oleh kalian, sudah dikuras habis oleh Pak Gibran!!! Pria itu sudah menggelapkan lebih dari separuh dana sekolah! Ibu berharap kalian mengerti! Tidak hanya kalian, Ibu sendiri pun kecewa! Ibu minta maaf, Soni, Faisal, Damar." tutur Kinan, berusaha tegar menghadapi semua.


Helaan nafas berat terdengar jelas dari mulut Soni dan Faisal secara bersamaan, namun tidak dengan Damar yang sudah pernah mendengar hal ini di rumahnya sendiri, saat Kinan datang menemui Dhana. Saudara kembar Wulan itu tersenyum getir, teringat akan firasatnya tiga hari yang lalu, kalau pemilihan ketua osis akan dibatalkan.


"Ibu mengerti perasaan kalian. Ibu minta maaf atas ketidaknyamanan ini pada kalian semua. Cepat atau lambat berita ini akan terbongkar. Oleh karena itu, Ibu berinisiatif untuk memberitahu kalian, sebelum kalian mendengarnya dari orang lain." tutur Kinan.


"Kalau sudah seperti itu keputusan Ibu bersama para guru lainnya, kami hanya bisa mengikuti. Bagaimana pun juga kami hanya siswa di sini. Tapi terlepas dari semua itu, saya ingin berterima kasih karena Bu Kinan telah memberikan kesempatan pada saya untuk mengikuti kampanye mandiri walau akhirnya akan seperti ini. Semoga saja Pak Gibran bisa cepat ditemukan dan menjalani hukuman di dalam penjara." jawab Faisal.


"Saya juga, Bu. Maaf karena saya sudah emosi dan bicara tidak sopan pada Ibu." timpal Soni, tertunduk merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Soni. Ibu mengerti dan Ibu hanya membutuhkan pengertian dari kalian. Terima kasih karena sudah mau menerima undangan Ibu untuk datang ke sini. Kalau begitu, kalian boleh keluar sekarang!" ujar Kinan, menyudahi pembicaraan.


"Kalau begitu saya juga pamit dulu, Bu. Permisi..." timpal Damar yang akhirnya membuka suara setelah diam sejak tadi.


Damar beranjak dari duduknya tanpa menunggu jawaban dari sang kepala sekolah yang menatapnya dengan lekat, mengerti dengan perasaan putra dari pria yang pernah ia kecewakan di masa lalu.


"Tunggu Damar..."


Damar yang hampir menyentuh gagang pintu pun terhenti, kembali berbalik badan dan melihat Kinan yang mengulas senyum.


"Ada apa Bu Kinan?"


"Duduklah dulu! Ibu belum selesai bicara dengan kamu yang sejak tadi hanya diam."


"Tapi kasihan Wulan sendirian di luar, Bu."


"Hanya sebentar, Damar! Ibu janji!"


Damar menghela berat, melangkah lesu menuju kursi panas yang ia duduki tadi.


"Bagaimana kondisi mami kamu?"


"Masih sering histeris, Bu."


"Ibu tau karena kemarin Ibu sempat menghubungi papi kamu!"


"Bu Kinan menghubungi papi saya?"


Kinan tergelak samar, mengerti sekali dengan tatapan Damar yang menelisik. Pikiran polos seorang anak, bisa saja saat ini Damar tengah berpikiran buruk tentangnya yang menghubungi pria selain suaminya.


"Kamu jangan salah paham dulu, Damar! Maksud Ibu menghubungi papi mu hanya untuk memberi kabar yang Ibu dapat dari anak buah Ibu tentang Gibran."


"Lalu? Bagaimana kerja sama Bu Kinan dengan papi saya?"


"Selama tiga hari kemarin, Ibu berusaha untuk mencari keberadaan Gibran, Zivana dan Bram. Bahkan Ibu sampai membayar seorang detektif atas saran dari papi mu."


"Lalu? Hasilnya bagaimana?"

__ADS_1


"Detektif itu mengatakan bahwa sekarang, posisi Gibran dan Zivana sedang berada di sebuah pulau terpencil. Jauh dari sentuhan tangan manusia dan keramaian. Ibu tidak tau betul bagaimana cara dia mendapatkan semua informasi itu dalam waktu tiga hari."


"Seorang detektif itu sangat cerdas, Bu!"


"Ya, kamu sangat benar!!! Tapi hanya itu yang bisa dia dapatkan karena jejak Gibran dan Zivana menghilang begitu saja."


"Lalu apa rencana Bu Kinan?"


"Itulah yang sedang Ibu pikirkan, Damar."


Damar terdiam, menghela nafas sesaat setelah mendengar penjelasan dari Kinan tentang Gibran yang masih bersembunyi.


"Lalu bagaimana dengan Bima? Apa Bu Kinan bersedia untuk membantu anak itu? Saya akan kecewa sekali kalau Bu Kinan sampai melakukan hal itu!"


"Walaupun Ibu mau, tapi itu tidak mudah! Bima sudah terbukti bersalah karena ada barang bukti yang kuat menyudutkan dia. Kecuali kamu, Wulan dan kakakmu yang sempat menjadi korban penculikan saat itu mencabut tuntutan kalian untuk Bima!"


"Dan itu tidak akan pernah terjadi, Bu!"


"Ibu tau, Damar! Karena Bima memang bersalah dan hampir membuat kamu dan Wulan celaka."


Damar menghela berat, membuang emosi yang tiba-tiba menyeruak memenuhi dada. Mengingat kekejaman Bima yang tak punya belas kasihan, mengurungnya bersama Wulan di ruangan yang gelap dan sempit, kendati atas perintah Gibran tapi dendam kesumat Bima padanya tetap terpatri kuat.


"Ibu juga sudah mendengar cerita papi kamu tentang teror malam itu, Damar!"


"Itu semua pasti ulah Gibran 'kan Bu?"


"Dugaan kamu sangat tepat, Damar!!! Karena anak buah Gibran yang masih berkeliaran tidak hanya Bram, tapi ada Dimas!"


"Dimas? Dimas temannya Bima?"


"Iya! Dimas mengkhianati Bima, Damar! Dimas memilih untuk menjadi tangan kanan Bram dalam menjalankan rencana Gibran agar dia bisa menjadi kapten geng motor."


"Dari mana Bu Kinan tau hal itu?"


"Ibu menyadap ponsel Dimas diam-diam saat anak itu keluar dari kantor Polisi. Ibu sengaja menabraknya hingga ponselnya terjatuh, dan di saat itu Ibu mengaktifkan alat penyadap yang ada pada ponselnya. Saat itu Ibu memang ingin bertemu Bima, namun siapa sangka ternyata kedatangan Ibu ke sana tidak hanya mendengarkan pengakuan Bima, tapi Ibu juga tau kalau ternyata ada tangan kanan Gibran lainnya yang masih berkeliaran bebas di ibu kota."


Damar tercengang, tidak percaya kalau sosok berhijab yang terkenal lembut di hadapannya saat ini bisa melakukan itu.


"Itu artinya? Dimas..."


"Bekerja sama dengan Gibran untuk menyingkirkan Bima dari geng motor dan menyingkirkan Bima dari kehidupan Zivana."


Damar tersenyum miring, tidak pernah menyangka bahwa Dimas lebih licik dari Bima. Dimas rela menikung Bima dari sisi mana saja yang ia bisa, demi tujuannya.


"Sejak kapan itu Bu?"


"Kalau itu Ibu tidak tau, Damar."


Damar menghela kasar, teringat dengan tindakan Aifa'al yang hampir menangkap peneror malam itu, ternyata peneror itu bukan orang jauh melainkan teman dari musuhnya sendiri yang telah berkhianat.


"Kalau begitu saya permisi keluar dulu, Bu. Kasihan Wulan menunggu saya di luar."


"Iya, Damar. Terima kasih atas waktumu."


Damar mengangguk, lalu beranjak keluar dari ruangan kerja Kinan sebagai kepsek.


"Aaaaaaaaa... aass?" ujar Wulan.


"Tidak ada apa-apa, Dek. Bu Kinan hanya ingin memberitahu sesuatu yang berkaitan dengan acara pemilihan ketua osis." jawab Damar, berusaha tersenyum pada Wulan.


"Aaaa... aaaa... aaaaaaa?" ujar Wulan.


Damar terbungkam, tidak tega jika harus memberitahu sang adik bahwa pemilihan ketua osis yang mereka impikan terpaksa dibatalkan karena masalah kasus Gibran.


"Mas minta maaf ya, Dek. Sepertinya kita harus mencari jalan lain untuk meluluhkan hati Mami tanpa harus menjadi ketua osis."


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇

__ADS_1


Yeah weekend telah tiba 😚😎🤟


Sampai jumpa lagi di hari senin ya, karena dina mau istirahatkan mata dulu di hari minggu dan mau refreshing wkwkw 🤣✌️ dan ditunggu like, komen dan vote hari di senin nanti 🤭 Bye bye 😘🤟


__ADS_2