Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 8 ~ Tamu Spesial


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


Jarum jam terus berputar pada porosnya. Tanpa terasa waktu maghrib telah masuk dan ini saatnya bagi keluarga Dhana untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim.


Dhana, Damar, Wulan, Pak Aidi, Bu Aini dan juga Mala tampak sudah berkumpul seperti biasa di mushola minimalis yang ada di dalam rumah itu. Mereka semua tampak khusyuk dalam menjalankan ibadah salat berjama'ah, dan tidak butuh waktu terlalu lama ritual ibadah memuji Sang Pencipta pun selesai.


Setelah selesai salat, Dhana, Mala, Damar dan Wulan pun secara bergantian menyalami punggung tangan Pak Aidi dan Bu Aini yang lebih tua di dalam rumah itu. Lalu dilanjutkan dengan Mala yang menyalami punggung tangan Dhana sebagai tanda permintaan maaf jika terdapat kesalahan sebelum melakukan salat berjama'ah. Dhana tetap bergeming walaupun tangannya disentuh oleh sang istri. Sementara Mala yang melihat itu hanya bisa menghela nafas kasar.


Ritual salam salaman pun berlanjut, kini tiba saatnya giliran Damar dan Wulan menyalami tangan kedua orang tuanya. Dengan sayang, Dhana menyambut tangan kedua anaknya. Lalu dengan sayang pula, Mala menyambut tangan Damar dan mengabaikan Wulan lagi.


Melihat hal itu, Dhana, Pak Aidi dan Bu Aini saling pandang. Mereka merasa iba melihat Wulan yang tidak disambut baik oleh Mala. Sementara Damar yang menyadari hal itu, tampak menghela nafas kasar dan menatap iba sang adik.


"Adek... Ayo cium tangan Mami!!! Sini, Mas temani ya." ujar Damar yang menghampiri Wulan dan langsung menarik tangannya.


Wulan yang termenung pun terkesiap saat mendapati tangannya ditarik oleh Damar berjalan mendekati sang mami. Melihat hal itu, sukses mengubah raut wajah Mala yang tadinya berbinar dan tersenyum, menjadi kecut masam melebihi jeruk nipis.


"Mami... Kasih dong tangannya biar Adek bisa menyalami tangan Mami seperti yang Damar lakukan tadi. Ayo, Mi!!!" ujar Damar yang meraih paksa tangan sang mami.


Mala tetap bergeming, terpaksa melemahkan tangannya yang diraih oleh sang putra untuk diberikan kepada sang adik. Tanpa berpikir panjang, Wulan yang sejak dulu tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menyalami tangan sang mami pun bergegas meraihnya.


Dengan penuh damba dan haru, gadis cacat itu menyalami dan mencium tangan Mala dengan sangat intens. Tanpa terasa, bulir kristal jatuh begitu saja dari manik indahnya. Lama Wulan mencium punggung tangan sang mami yang masih bergeming tanpa melihatnya. Karena merasa jengah dan risih, Mala menepis tangan Wulan dan beranjak, meninggalkan semuanya yang masih berdiri memperhatikannya.


"Ck, ibu macam apa wanita itu! Bahkan saat anaknya sendiri ingin menunjukan rasa bakti kepadanya, dia malah bersikap seperti itu!" sungut Dhana yang berdiri di antara Pak Aidi dan Bu Aini.


"Sstttt... Kamu ini bicara apa sih Nak? Dia itu istri kamu. Tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu tentang istrimu. Tidak baik!!!" ujar Pak Aidi seraya mengusap punggung Dhana.


"Maaf Yah..." ucap Dhana yang menyadari perkataannya.


Pak Aidi hanya menggelengkan kepalanya seraya melihat ke arah Bu Aini yang terlihat menganggukan kepalanya dengan pelan, seakan membenarkan tindakan sang suami untuk menyadarkan putranya itu.


"Lebih baik kamu tenangkan Wulan. Ibu dan Ayah keluar dulu ya. Sebentar lagi kita akan makan malam bersama." ujar Bu Aini seraya mengusap lembut punggungnya.


Dhana hanya mengangguk lalu beranjak ke depan, berjalan menghampiri kedua anaknya yang termenung di sana. Sementara Pak Aidi dan Bu Aini beranjak lalu berlenggang pergi.


"Tidak apa-apa ya, Dek. Besok kita coba lagi untuk melunakkan hati Mami. Adek harus semangat dan jangan menyerah. Bagaimana pun juga Mami kita itu masih punya hati, tapi terkunci dan kuncinya hilang dimaling tikus." ujar Damar seraya mengelus kepala Wulan.


Tawa gadis cacat itu seketika pecah karena perkataan konyol sang mas kembar. Damar pun berhasil membuat hati sang adik ceria dan lebih tenang setelah mendapat perlakuan yang tidak mengenakan dari sang mami untuk ke sekian kalinya.


"Damar benar, Sayang. Kamu jangan pernah menyerah ya, untuk meluluhkan hati Mami. Bagaimana pun juga ikatan darah dan bathin di antara ibu dan anak tidak akan pernah bisa digantikan oleh apa pun, sekalipun rasa benci. Ibarat batu yang keras akan melunak juga, jika ditetesi dengan air terus menerus. Kamu harus sabar, Nak. Suatu saat nanti, hati mami kamu pasti akan terbuka lebar dan menerima kamu dengan penuh kasih sayang. Percaya sama Papi." tutur Dhana seraya mengelus kepala dan wajah sang putri dengan sayang.


Wulan pun mengangguk semangat lalu menghambur ke dalam pelukan sang papi. Dengan penuh kasih sayang, Dhana berusaha sekuat tenaga mencurahkan setiap titik kasih sayang dan cinta yang lebih untuk putrinya itu. Bukan berarti Dhana ingin membedakan kasih sayang di antara Damar dengan Wulan, tapi karena sang putri terlalu istimewa dan membutuhkan banyak kasih sayang dari orang sekitarnya.


Melihat pemandangan itu, membuat hati Damar terenyuh. Sebagai saudara kembar Wulan, ia sangat terpukul melihat perlakuan sang mami pada adiknya. Damar pun juga sangat mengerti dengan situasi rumit yang tengah dihadapi oleh sang papi saat ini.

__ADS_1


***


Setelah melakukan ibadah wajib bersama, kini anggota keluarga Dhana sudah duduk di tempat masing-masing untuk menyantap hidangan makan malam buatan Bi Iyah dan Bu Aini. Dengan telaten, Mala mengambil dan menyiapkan makanan untuk sang putra tanpa menghiraukan tatapan tajam Dhana yang memperhatikan gerak-geriknya sejak tadi. Mala hanya mengambil makanan untuk Damar, tanpa memperdulikan putrinya.


"Mi... Kenapa hanya piring Damar yang Mami isikan? Piring Papi dan Adek bagaimana?" ujar Damar yang sengaja menyinggung sang mami.


Mala pun menghela nafas panjang seraya melihat ke arah sang suami yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan intimidasi. Sementara Dhana yang melihat lirikan itu malah merotasi matanya efek jengah dan masih kesal dengan sikap Mala.


"Biar aku ambilkan nasi untukmu, Mas." ujar Mala seraya menjangkau piring sang suami.


"Tidak perlu!!! Aku bisa mengambilnya sendiri." tukas Dhana yang ingin berdiri dan menjangkau mangkuk nasi tanpa melihat sang istri.


Namun gerakan Dhana terhenti saat tangan Wulan meraihnya. Dhana yang terkesiap pun menoleh ke arah sang putri, lalu dengan cepat gadis itu memberikan isyarat pada sang papi untuk membiarkan sang mami mengambilkan makanan.


Melihat tangkapan sinyal isyarat yang diberikan oleh sang putri, membuat Dhana pasrah seraya menghela nafas panjang.


"Baiklah, tolong ambilkan makanan itu untukku." ujar Dhana seraya menoleh ke arah istrinya yang masih berdiri dan enggan untuk duduk sebelum mengambil makanan sang suami.


Wulan pun tersenyum lega melihat Dhana yang akhirnya membuang jauh rasa kesal dan jengah terhadap Mala. Sementara itu, Pak Aidi, Bu Aini dan Damar yang melihat hanya bisa tersenyum getir ke arah Wulan.


"Cucu Oma yang cantik... Sini piringnya, Nak!!! Biar Oma ambilkan makanan kesukaanmu ya. Kamu harus makan yang banyak, Sayang. Biar semakin pintar dan cerdas." tutur Bu Aini yang mengambil langkah seribu menuju ke tempat duduk Wulan.


Wulan hanya mengangguk dan tersenyum pada sang oma. Gadis itu sadar kalau sikap sang oma saat ini untuk mengalihkan perhatian sang papi terhadap sang mami yang tidak mau mengambilkan makanan untuknya. Begitu pula dengan Bu Aini, ia merasa tidak tega melihat kesedihan yang terlihat jelas di wajah Wulan saat melihat Mala mengambilkan makanan untuk Damar namun tidak dengan dirinya.


Karena anak itu Mas Dhana mendiamkan aku seperti ini. Dasar anak pembawa sial!!! Sejak anak itu lahir, dunia Mas Dhana hanya terpaku pada anak cacat itu. Aku menyesal sekali karena sudah mempertahankan anak yang ternyata hanya akan menjadi beban di dalam hidupku. Gumam Mala dalam hati.


Entah setan dan jin berjenis apa yang telah masuk dan menghipnotis pikiran Mala saat ini. Hatinya wanita itu seakan mati, berubah menjadi wanita yang sangat kejam terhadap anak kandungnya sendiri. Hati Mala tertutup rapat dan tidak mau mengakui Wulan sebagai putrinya, bahkan ia menyesal karena telah melahirkan Wulan. Benar-benar sangat disayangkan. Wajahnya yang cantik dan sangat mirip dengan almarhumah Dhina jadi tercoreng karena sifatnya yang berubah 180 derajat setelah koma beberapa tahun yang lalu. Sangat berbeda dengan sifat Dhina!!!


Ting... Nong...


Saat makan malam bersama terasa sangat hikmat, tiba-tiba saja terdengar suara bel rumah yang berbunyi dari luar.


"Ibu buka pintu dulu ya." ujar Bu Aini yang beranjak seraya melihat semuanya.


"Biar Mala saja, Bu." timpal Mala yang ikut beranjak lalu berlenggang pergi.


Bu Aini pun kembali duduk setelah sang menantu menawarkan diri untuk membuka pintu. Sementara Mala berjalan cepat ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang bertamu ke rumah ayah mertuanya itu.


Ceklek!


"Assalamualaikum..."


Mala yang tertunduk saat membuka pintu, langsung mendongakkan kepalanya tatkala suara bariton yang tidak asing di telinganya terdengar mengucapkan salam. Mata Mala berbinar saat melihat dua sosok orang yang sangat ia sayang seperti saudara sendiri.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam... Mas Ammar, Kak Ibel..."


Ternyata tamu yang datang itu adalah anak sulung dari pemilik rumah ini, yang tak lain adalah Ammar yang datang bersama Ibel.


"Mala... Kamu apa kabar? Sehat?" ujar Ibel yang menghambur memeluk saudari iparnya itu.


"Alhamdulillah sehat, Kak. Kakak dan Mas Ammar bagaimana?" jawab Mala seraya melepaskan pelukannya dan menoleh ke Ammar.


"Kami juga baik, Mala." jawab Ammar yang tersenyum ramah pada adik iparnya itu.


"Ayo silakan masuk, Mas, Kak. Ayah, Ibu dan Mas Dhana ada di dalam. Kami semua juga sedang makan malam. Ayo, bergabung lah dengan kami." ujar Mala yang sangat ramah.


Jika dilihat dengan seksama, wanita yang bernama Alma Larashatika itu merupakan wanita yang sangat baik dan lemah lembut. Tapi sayangnya, kebaikan dan kelembutan hatinya itu tidak ia berikan pada putrinya yang membutuhkan curahan kasih sayang. Sikap Mala terhadap keluarga Dhana masih sama seperti dulu, namun sayangnya lagi jika sikap baiknya itu tidak ia berikan pada Wulan yang merupakan putri kandungnya sendiri.


"Assalamualaikum Anty..."


Tiba-tiba suara bariton seseorang menyapa Mala yang hendak berbalik dan berjalan. Mala yang terkesiap saat mendengar suara itu pun menoleh cepat hingga terlihat lah sosok pria tinggi semampai nan tampan.


"Aiziel..."


Aiziel, siapa yang tidak mengenal bocah kecil yang berusia 7 tahun sebelum Mala dan Dhana bertemu. Kini bocah berusia 7 tahun itu sudah menjelma menjadi sosok pria dewasa yang baru menginjak usia 20 tahun, bertubuh tinggi dan tak kalah kekar dibandingkan dengan sang daddy di saat masih muda dulu. Dengan mata berbinar, Mala mendekati keponakan sulungnya itu dan langsung memeluknya.


"Ya Allah, Nak... Kamu terlihat semakin tampan saja. Anty sampai pangling. Kamu apa kabar Sayang? Kamu kapan pulang?" ujar Mala yang memeluk Aiziel dengan erat.


"Alhamdulillah Ziel selalu baik, Anty. Ziel baru sampai di Jakarta tadi siang, karena itu Ziel langsung mengajak Daddy dan Mommy ke rumah Opa. Oh iya, Adek sama Damar di mana Anty?" jawab Aiziel yang melerai pelukannya lalu mengedar pandangannya.


Mendengar nama Wulan yang disebut oleh Aiziel, membuat wajah Mala mendadak pias seraya tersenyum miring.


"Damar ada di dalam, Sayang. Kalau begitu ayo kita masuk dan makan malam bersama." jawab Mala yang hanya menyebutkan nama Damar.


Ammar, Ibel dan Aiziel pun saling pandang saat melihat sikap Mala yang tidak asing lagi. Pasalnya Ammar dan Ibel sudah tau kalau Mala tidak pernah menyukai Wulan, bahkan tidak menganggapnya sebagai putri di rumah ini. Sementara Aiziel, pria tampan itu juga sudah tau semuanya dari sang daddy, bahwa anty-nya itu tidak menerima Wulan.


Ternyata yang dikatakan Daddy dan Mommy benar. Anty Mala tidak mau mengakui Wulan sebagai putrinya, bahkan untuk menyebut namanya saja Anty Mala terlihat berat sekali. Selama itukah Anty membenci Wulan? Hanya karena Wulan tidak sempurna? Benar-benar sangat disayangkan. Gumam Aiziel dalam hati.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2