
...☘️☘️☘️...
"Kenapa belum ada kabar dari anak-anak tentang Wulan ya Mas? Aku cemas sekali!"
Di ruang tamu, Bu Aini yang gelisah dan tidak bisa tidur memilih untuk berjalan ke sana ke mari seperti setrika kepanasan. Membuat Pak Aidi, Ibel dan Vanny yang juga ada di sana ikut merasa tidak tenang melihat Bu Aini seperti itu. Pasalnya sudah jam tiga dini hari, namun belum ada kabar dari Ammar, Sadha maupun dari Dhana.
"Sabar, Bu. Sebentar lagi mereka semua pasti pulang dan membawa Wulan." ujar Vanny, berusaha menenangkan sang ibu.
"Kalau Ibu panik seperti ini, kami pun juga ikut tidak tenang. Ibu yang tenang dulu ya." timpal Ibel, ikut menenangkan sang mertua.
"Bagaimana Ibu bisa tenang Sayang? Ini sudah dini hari. Sudah lebih dari lima jam mereka semua pergi! Perasaan Ibu tidak enak!" jawab Bu Aini, memainkan jemari tangannya karena sangking tidak tenang.
"Istighfar, Sayang. Perbanyak lah berdo'a! Karena do'a dari seorang ibu itu sangat ampuh untuk anak-anaknya." ujar Pak Aidi, berusaha menenangkan sang istri tercinta.
Bu Aini menghela berat, berusaha untuk membuang jauh-jauh pikiran buruk yang terus menggelayuti. Namun hati seorang wanita bergelar ibu itu memang tidak bisa dibohongi, bahwa saat ini ia tengah cemas, memikirkan nasib sang cucu, anak dan menantunya yang tengah berjuang untuk menghentikan kejahatan. Hingga akhirnya Bu Aini pun menurut, memilih duduk lagi.
"Opa...! Oma...!"
Sahutan suara bariton yang serentak bergema itu seketika mengejutkan Pak Aidi, Bu Aini, Ibel dan Vanny. Padahal baru saja mereka berusaha untuk menenangkan hati yang gelisah. Namun setelah mendengar pekikan itu, jantung mereka meloncat lagi, berdetak dengan sangat cepatnya kali ini.
"Syahal, Syahil... kalian ini kenapa sih? Seperti orang kebakaran jenggot saja!" sungut Vanny, gemas melihat tingkah putra kembarnya yang bar-bar itu.
"Mas Al dan Damar, Ma!" jawab Syahal, terengah-engah seraya mengurut dada.
"Al dan Damar kenapa Syahal?" tanya Bu Aini, beranjak lalu mendekati sang cucu.
"Mas Al dan Damar tidak ada di kamar mereka, Oma!" sahut Syahal, terengah.
"Apa?" sahut Pak Aidi, Ibel dan Vanny.
"Kamar mereka kosong, Ma, Bude! Tadi Syahil dan Mas Syahal tidak bisa tidur, lalu kami berencana ingin mengajak Mas Al dan Damar main PS. Tapi di saat kami ke kamar mereka, kamar mereka kosong! Tidak ada orang!!!" terang Syahil yang menceritakan.
"Pergi ke mana mereka?" ujar Ibel, tak tenang saat mendengar putranya tidak ada.
"Syahil juga tidak tau, Bude." jawab Syahil.
"Apa mungkin mereka pergi menyusul Dhana dan yang lainnya Kak?" ujar Vanny, menoleh cepat ke arah sang kakak ipar.
Ibel menggeleng samar, seakan takut menjawab iya atau tidak sedangkan ia pun juga tidak tau ke mana Aifa'al dan Damar pergi tanpa pamit terlebih dahulu seperti ini. Sementara Pak Aidi yang semula tenang, mendadak gusar setelah mendapati kabar dari cucu kembarnya. Sama seperti Bu Aini yang sudah mulai tenang tadi, namun kini perasaannya bercampur aduk kembali.
"Assalamualaikum..."
Bak tanah lapang nan gersang, disirami hujan deras. Seperti itulah ekspresi hati Bu Aini saat menoleh cepat ketika seruan salam itu bergema melewati pintu utama. Senyum Bu Aini terlukis, mendapati ketiga putranya dan menantu bungsunya sudah sampai di rumah, membawa Wulan dengan selamat tanpa kurang satu apapun dari tubuhnya.
Sementara Pak Aidi, Ibel, Vanny, si kembar Syahal-Syahil tak kalah berbinar. Melihat semuanya kembali pulang dengan selamat. Kendati rasa syukur itu bercampur dengan emosi, ketika mata mereka melihat Aifa'al dan Damar yang berada di antara Ammar, Sadha, Dhana, Mala, Rumi, Aiziel dan juga Wulan. Membenarkan dugaan Vanny yang kuat sebelum mereka semua tiba di rumah.
"Wa'alaikumsalam..." jawab Pak Aidi, Bu Aini, Ibel, Vanny, dan Syahal-Syahil.
"Maaf kami semua telat sampai di rumah, Bu." ujar Dhana, mendekati sang ibu yang mengulas senyum penuh syukur dan lega.
"Ibu hampir mati akibat serangan jantung karena tidak ada kabar dari kalian semua! Apalagi setelah mendengar, kalau Damar dan Al tidak ada di kamar!" jawab Bu Aini, lembut namun terdengar kesal dan melirik kedua cucunya yang sangat nekat itu.
Aifa'al dan Damar saling pandang cemas, mengulum senyum yang sengaja mereka sembunyikan di dalam tunduknya. Seraya membenarkan semua dugaan, bahwa setelah aksi diam-diam mereka itu akan terjadi amukan massal dari orang rumah.
"Maaf Oma...!" ucap Aifa'al, tenang.
"Oma tidak ingin bicara dengan kalian berdua!!!" sungut Bu Aini yang gemas.
Aifa'al dan Damar menghela berat lagi, mengikuti kemauan sang oma yang tengah merajuk karena aksi nekat mereka, hingga memancing kekehan renyah yang keluar dari mulut Syahal, Syahil, Aiziel dan Wulan. Gemas melihat ekspresi Aifa'al dan Damar yang mendadak pias karena Bu Aini kesal. Belum lagi tatapan kilat dari sang mommy, membuat Aifa'al dan Damar bergidik ngeri.
"Cucu Oma yang cantik, kamu baik-baik saja 'kan Sayang?" tanya Bu Aini, seraya mengelus lembut surai Wulan yang basah.
"Alhamdulillah... semua masalah sudah selesai dan semuanya baik-baik saja kok, Bu." ujar Dhana, mewakili jawaban putrinya.
Bu Aini terdiam, menoleh sesaat ke arah sang suami yang juga melihat ke arahnya. Begitu juga dengan Ibel, Vanny, Syahal dan Syahil yang tak kalah heran mendengar perkataan Dhana kalau semuanya sudah selesai.
"Maksudnya sudah selesai semua, apa Dhana?" tanya Ibel, heran plus penasaran.
"Gibran sudah tertangkap, Sayang." timpal Ammar, melihat ke arah sang istri tapi raut wajahnya membuat Ibel semakin bingung.
"Tapi kenapa ekspresi Pakde seperti itu? Bagus dong kalau si tua bangka itu sudah tertangkap." timpal Syahal, tak kalah heran.
"Gibran sudah meninggal, Syahal!" timpal Sadha, melihat sang putra dengan datar.
"What?" pekik Syahal-Syahil serentak.
"Kamu serius Mas?" tanya Vanny, kaget.
__ADS_1
"Sangat serius, Sayang! Kinan yang sudah menembak kepala Gibran hingga dia jatuh dari atas puncak gedung." terang Sadha.
Mata yang kini membulat seakan dituntut untuk semakin membulat lebih sempurna, tak menyangka kalau Kinan sangat berani menembak Gibran tepat di kepalanya. Sungguh sangat di luar dugaan. Tak heran bahwa sebaik-baiknya orang, jika tersakiti akan berubah menjadi orang yang kejam.
"Innalillahi wainnailahi roji'un..." ucap Pak Aidi, Bu Aini, Ibel, Vanny, Syahal-Syahil.
"Polisi sudah mengurus semuanya dan Kinan juga sedang diproses oleh Polisi." timpal Ammar, melihat semua keluarganya.
"Lalu Rumi, kamu baik-baik saja Nak?" timpal Bu Aini, menoleh ke arah Rumi.
"Rumi baik-baik saja kok, Bu. Untung saja Pak Dhana, Pak Ammar dan Kak Bram datang di waktu yang sangat tepat tadi." ujar Rumi yang mengangguk, tersenyum.
"Syukurlah... semuanya baik-baik saja dan kembali pulang dengan selamat." ujar Bu Aini, tersenyum lega melihat semuanya.
"Oh iya, Bram di mana?" tanya Pak Aidi.
"Pak Bram sedang membantu Bu Kinan, Yah. Bu Kinan harus menjemput Zivana ke tempat persembunyian Pak Gibran." jawab Dhana.
"Semoga saja Bu Kinan tidak disalahkan dalam masalah ini, karena yang dia bunuh itu adalah seorang buronan. Ayah sangat berharap keadilan juga untuk dia. Dia juga korban atas kejahatan Gibran, bukan?" ujar Pak Aidi.
"Iya, Yah. Pak Gibran sudah menipu Bu Kinan selama bertahun-tahun, dan dana sekolah pun juga habis dikeruk oleh Pak Gibran untuk kepentingan pribadi." jawab Dhana, tau semua kejahatan Gibran.
"Ya semoga saja Bu Kinan tidak apa-apa. Dan masalah Cafe adikmu, alhamdulillah semuanya pun juga baik-baik saja. Tidak ada korban jiwa, hanya beberapa material Cafe yang mungkin harus kamu perbaiki." ujar Pak Aidi yang menghela nafas berat.
"Terima kasih, Ayah. Karena sudah mau membantu Dhana mengurus Cafe Adek." jawab Dhana, tersenyum lega pada sang ayah.
"Sama-sama, Nak. Ayah hanya bisa membantumu dengan cara itu dan do'a. Selebihnya Ayah serahkan pada kalian dan Sang Pencipta." ujar Pak Aidi, tersenyum.
"Ya sudah, lebih baik kalian istirahat dulu! Jangan lupa untuk membersihkan diri! Ya?" seru Bu Aini, mengelus lembut pipi Wulan.
Dhana mengangguk patuh, lalu diajaknya Mala dan Wulan untuk bergegas ke kamar untuk membersihkan diri dan beristirahat.
"Aifa'al, Damar...!" seru Bu Aini, tegas.
"Iya Oma?" jawab keduanya serentak.
"Masuklah ke kamar kalian! Mandi lalu beristirahat lah! Jangan kabur lagi dan membuat Oma cemas! Kalian mengerti?" serkas Bu Aini, bersikap lebih tegas kali ini.
"Damar minta maaf, Oma." ujar Damar.
Bu Aini menghela panjang. Kendati kesal namun ia tidak bisa berlama-lama marah pada cucu-cucunya yang tampan itu, membuat Bu Aini luluh dalam waktu singkat.
"Oma marah karena Oma cemas, Sayang. Kalian pergi tanpa mengatakan apapun, apalagi di saat kondisi kaki Al seperti itu. Oma tidak ingin cucu-cucu Oma celaka. Kalau kalian sayang pada Oma, sayang pada orang tua kalian dan keluarga kita, jangan melakukan hal seperti ini lagi! Oke?" tutur Bu Aini, mengelus wajah gusar kedua cucu tampannya itu dengan sayang.
"Oke Oma..." jawab Aifa'al.
"Iya Oma..." jawab Damar.
"Tidak hanya oke dan iya saja!!! Sekarang cepat kalian masuk, nanti masuk angin!!!" seru Bu Aini, kembali ke mode garangnya.
Aifa'al dan Damar mengangguk, beranjak dari tempatnya menuju lantai atas, diikuti Aiziel dan Syahal-Syahil yang penasaran ingin mendengarkan cerita dari keduanya.
"Rumi... kamu istirahat juga ya, Nak. Kamu bisa memakai kamar tamu untuk beberes dan istirahat sebentar, menjelang kakakmu datang." ujar Bu Aini, tersenyum pada Rumi.
"Terima kasih banyak, Bu. Maaf jika Rumi sudah banyak merepotkan Ibu." ujar Rumi, segan menerima kebaikan hati Bu Aini.
"Tidak apa-apa, Sayang. Anggap saja rumah ini seperti rumahmu sendiri. Ya?" tutur Bu Aini, mengelus wajah pucat Rumi.
"Terima kasih sekali lagi, Bu." ucap Rumi.
Bu Aini mengangguk, mengulas senyum yang sukses menyelimuti relung hati Rumi, membuatnya hangat seakan merasakan kasih sayang seorang ibu yang telah lama hilang dalam kehidupannya dengan Bram. Rumi beranjak, membawa tubuhnya masuk ke dalam kamar tamu yang ditunjuk Bu Aini. Hingga setetes bulir kristal jatuh membelah pipi ibu empat anak itu, entah kenapa saat melihat Rumi membuatnya teringat dengan mendiang sang putri yang sudah tiada.
"Melihat Rumi, Ibu jadi teringat dengan almarhumah adik kalian." tutur Bu Aini seraya menyeka air matanya yang jatuh.
Pak Aidi menghela berat, tanpa sadar air matanya pun ikut menetes tatkala istrinya menyebut nama mendiang sang putri yang telah tiada. Sementara Ammar, Sadha, Ibel dan Vanny pun sama. Ikut terhanyut dengan suasana hati sang ibu yang mendadak pilu.
"Adek pasti sudah bahagia di sana, Bu. Apalagi dia tidak sendiri, ada Imam juga di sisinya." timpal Ammar, suaranya tercekat.
"Bagaimana caranya Nak? Agar hati Ibu yang terluka karena kehilangan adikmu itu bisa sembuh seperti sedia kala. Ibu sangat merindukan adikmu." ujar Bu Aini, berusaha untuk tegar, menahan air mata namun tidak bisa, membuat semuanya ikut menangis.
Pak Aidi, Ammar, Sadha, Ibel dan Vanny hanya bungkam. Tidak tau harus memberi jawaban apa pada sang ibu yang hatinya masih terbalut duka, kendati kepergian sang putri sudah bertahun-tahun lamanya.
"Ammar janji, Bu. Ammar akan berusaha menyembuhkan penyakit Rumi. Ammar akan membayar kesalahan Ammar pada Adek dengan cara ini. Ammar janji tidak akan ada lagi hati yang terluka karena kehilangan orang tersayang dari dalam hidupnya. Itu janji Ammar, Bu!!!" pungkas Ammar, air matanya masih saja menetes.
"Semoga Bram tidak memiliki nasib yang sama seperti adikmu, Dhana. Kasihan dia kalau harus kehilangan adik satu-satunya yang dia miliki di dunia ini." jawab Bu Aini.
Ammar mengangguk, membenarkan perkataan sang ibu yang memberi restu. Bukan berarti Pak Aidi, Sadha, Ibel dan Vanny tidak karena mereka hanya diam. Diam mereka karena suasana hati yang tiba-tiba membawa mereka pada luka lama, teringat almarhumah Dhina yang dirindukan.
__ADS_1
"Ya sudah, lebih baik kalian juga istirahat! Ibu tidak ingin kalian sakit. Ayo!!!" seru Bu Aini, menyuruh kedua putranya istirahat.
Ammar, Sadha, Ibel dan Vanny beranjak. Masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat menjelang pagi datang. Disusul Pak Aidi dan Bu Aini yang ingin istirahat juga setelah semalaman berjaga, membuat tubuh keduanya yang sudah renta itu cepat merasakan lelah dan letih. Tanpa sadar, dari lantai atas ada sepasang mata yang sempat mendengar pembicaraan pilu tentang mendiang Dhina. Membuat mata itu mengeluarkan air mata, ikut merasakan apa yang dirasakan oleh ibunya sekarang ini.
"Mas juga sangat merindukan Adek. Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena Adek sudah mengirim Imam ke sini. Berkat alat pelacak yang ada di ponsel Imam, Mas dapat dengan mudah mencari putri Mas. Semoga kalian berdua bahagia di sana."
Dhana menyeka air matanya, berusaha menepis rasa rindu yang tidak ada ujungnya terhadap mendiang sang adik kesayangan. Lalu Dhana berbalik, berniat ingin ke kamar sang putri namun terhenti, saat mendapati Bram yang gegas masuk ke dalam rumah. Sementara Bram terlihat bingung, mencari seseorang yang diduga adalah Rumi.
"Pak Bram..."
Bram terjingkat, mendapati Dhana yang menuruni anak tangga, menghampirinya.
"Maaf kalau saya lancang dan langsung masuk ke rumah anda, Pak. Tadi saya sudah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tapi sepertinya semua orang sudah tidur ya. Sekali lagi saya minta maaf, Pak." tutur Bram, merasa tidak enak dan terlihat jelas di wajahnya yang terus menunduk itu.
"Tidak masalah, Pak Bram. Oh iya, masalah Bu Kinan bagaimana? Apakah beliau sudah menemukan putrinya?" tanya Dhana.
"Alhamdulillah, Pak. Nona Zivana sudah berhasil ditemukan dan sekarang Nyonya Kinan sedang diproses di kantor Polisi atas kasus penembakan Tuan Gibran sampai dia mati, Pak." ujar Bram, memberitahu Dhana.
"Lalu bagaimana dengan Zivana?" tanya Dhana, penasaran dengan reaksi Zivana setelah tau bahwa Kinan yang menembak papanya sampai mati.
"Nona Zivana sempat histeris, Pak Dhana. Tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Nyonya Kinan atas semua yang terjadi, karena Nona Zivana pun cukup mengetahui semua kebusukan papanya." jawab Bram.
"Semoga saja Bu Kinan tidak disalahkan dalam hal ini ya, Pak. Karena yang beliau bunuh pun seorang buronan. Kita do'akan saja agar Bu Kinan bisa melewati semua." ujar Dhana, merasa perihatin dengan Kinan.
"Saat ini jenazah Tuan Gibran juga sedang diproses di rumah sakit, Pak Dhana. Mungkin esok pagi jenazah beliau akan dimakamkan." ujar Bram, memberitahu Dhana tentang kabar jenazah Gibran.
Dhana hanya terdiam, tidak tau harus berkata apa untuk almarhum Gibran yang mati dengan cara mengenaskan seperti tadi. Membuat Bram mengerti bahwa ayah dari gadis kecil yang menjadi korban kejahatan tuannya itu tidak mampu berkata-kata lagi.
"Kalau begitu saya ingin meminta izin membawa Rumi pulang, Pak Dhana. Saya sangat berterima kasih atas kebaikan yang sudah Bapak berikan pada saya dan Rumi. Saya banyak utang budi pada anda, Pak." tutur Bram, masih dengan tunduknya.
"Tidak perlu merasa seperti itu, Pak Bram. Justru saya yang seharusnya berterima kasih karena Pak Bram sudah menolong putri saya dan keluarga saya. Saya yang sudah banyak utang budi pada anda, Pak." jawab Dhana, dengan senyum tulusnya.
"Tidak, Pak. Saya yang banyak utang budi pada keluarga Bapak. Dengan hati lapang, anda bersedia memaafkan kesalahan saya yang sama besarnya dengan Tuan Gibran. Tapi yang Bapak lakukan justru sebaliknya, bahkan kakak anda ingin membantu untuk menyembuhkan penyakit adik saya. Saya benar-benar merasa sangat berutang budi, Pak Dhana." tutur Bram yang tertunduk.
Dhana tersenyum getir, cukup tau dengan kerasnya hidup sosok lelaki yang ada di depannya saat ini. Tak peduli pekerjaan itu halal atau haram, tak peduli jika dirinya dibenci orang banyak atas kejahatannya. Yang paling penting dalam hidup Bram hanya kesembuhan Rumi, membuat Dhana teringat akan niatnya yang lain untuk Bram.
"Bekerjalah di Cafe mendiang adik saya, Pak Bram!"
Kepala yang sejak tadi tertunduk, kini terangkat cepat. Tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Dhana.
"P-pak Dhana mempercayai saya?"
"Sangat, Pak! Saya yakin, anda adalah orang yang sangat baik dan amanah!!!"
"Tapi Pak Dhana, saya..."
"Datanglah ke Cafe mendiang adik saya besok, dan temui Manager saya di sana. Katakan padanya bahwa Pak Bram saya percayakan menjadi Manager di Cafe itu."
Bram benar-benar ternganga, merasa mimpi dengan semua yang ia dapatkan secara mendadak dan bertubi-tubi ini.
"Pak Bram... anda baik-baik saja?"
"S-saya bingung harus berkata apa, Pak."
"Tidak perlu bingung, Pak Bram! Cukup anda ikuti saja apa yang saya katakan ini!"
"T-terima kasih banyak, Pak Dhana. Saya benar-benar bersyukur sekali atas nikmat Allah hari ini. Padahal saya sudah sangat jahat kepada anda dan anak-anak anda, tapi..."
"Sudahlah, Pak Bram. Yang lalu biarlah berlalu. Biar waktu yang menghapusnya. Sekarang berpikir lah untuk masa depan."
"Sekali lagi saya benar-benar berterima kasih, Pak Dhana. Semua jasa anda dan keluarga anda tidak akan pernah saya lupakan sampai saya mati sekali pun!!!"
Dhana hanya mengangguk, mengiyakan semua penuturan Bram yang sudah terlalu banyak berterima kasih padanya hari ini. Setelah semuanya selesai, Bram dan Rumi pun pamit pulang. Meninggalkan Dhana yang mengantarkan mereka sampai depan, hingga helaan nafas panjang pun kembali terdengar keluar dari mulut Dhana setelah mobil yang dibawa oleh Bram hilang dari pandangan.
"Terima kasih atas semuanya, Ya Allah."
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
__ADS_1