
...☘️☘️☘️...
"Mas... kita kehilangan jejak Bram!"
Motor yang melaju sejak tadi dibawa menepi sejenak, mengedar mata untuk mencari keberadaan Bram yang berhasil membawa Wulan dengan sangat cepat, menghilang tanpa jejak. Membuat Syahil semakin gusar. Belum lagi Damar, Syahal, Rainar dan yang paling parah gelisahnya adalah Aifa'al.
Mata tajamnya terus menyisir seluruh ruas jalan yang terbentang luas, berharap sekali jika ia bisa menemukan setitik saja petunjuk yang bisa membawanya kepada sang adik. Aifa'al menghela berat, seberat kepala yang terasa sangat sempit dan buntu sekarang, teringat dengan sang adik yang entah seperti apa nasibnya sekarang. Dibawa pergi oleh Bram secara paksa, tidak ada kata 'baik-baik saja' jika semuanya sudah berkaitan dengan manusia jahat satu itu.
"Tapi luka di kaki Mas Al semakin parah!" seru Rainar, melihat darah di kaki Aifa'al yang semakin mengalir deras tanpa henti.
"Wajah Mas juga pucat!" timpal Syahal, melihat wajah sang mas dari kaca spion.
"Lebih baik kita ke rumah sakit saja, Mas! Mas Al bisa kehabisan banyak darah kalau seperti ini!" seru Rainar lagi, tidak tenang.
"Mas tidak apa-apa!" timpal Aifa'al, lirih menahan sakit yang menjalar di kakinya.
Bibir bisa berkata bohong, namun tidak dengan mata dan hati yang memancarkan semburat kejujuran secara nyata dan jelas. Ringisan Aifa'al yang terdengar lirih, masih mampu didengar oleh adik-adiknya yang terus memperhatikan. Aifa'al menggigit bibir bawahnya, berusaha terlihat kuat, menahan sakit yang semakin menyiksa kaki bahkan telah menjalar ke sekujur tubuhnya saat ini. Akibat peluru yang masih bersemayam di dalam kaki, membuatnya semakin tersiksa.
"Kita ke rumah sakit dulu ya, Mas." ujar Syahil, berusaha membujuk Aifa'al.
"Adek akan benar-benar hilang kalau kita pergi ke rumah sakit! Mas tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi!" pungkas Aifa'al.
"Tapi Mas juga terluka! Kalau kaki Mas seperti itu, Mas juga yang akan kesulitan untuk mencari keberadaan Adek!" tandas Syahil, geram dengan keras kepala Aifa'al.
"Mas baik-baik saja, Syahil!" seru Aifa'al.
"Mas tidak baik! Lebih baik kita pulang! Syahil akan memberitahu Uncle Dhana dan mencari solusi masalah ini di rumah!" tukas Syahil, tak mengindahkan tatapan Aifa'al.
"Syahil...!" seru Aifa'al, marah.
"Maaf, Mas! Untuk kali ini, Syahil tidak bisa menuruti perintah Mas! Karena keselamatan Mas juga sedang terancam sekarang ini!" pungkas Syahil, menatap tajam sang mas.
Aifa'al mendengus, marah pada Syahil yang berani menentang perintahnya. Sementara Syahil bergeming, memilih pergi lebih dulu setelah memberi isyarat pada Syahal yang memboncengi Aifa'al. Disusul Rainar yang terlanjur ketakutan melihat ekspresi Aifa'al, lalu diikuti oleh Syahal yang memilih diam. Membiarkan Syahil mengendalikan Aifa'al.
Motor mereka melaju lagi, bukan ke rumah sakit melainkan pulang ke rumah sang opa. Hening, mengiringi perjalanan panjang mereka. Waktu seakan berhenti berputar, titik-titik air kehidupan pun perlahan mulai turun, membasahi bumi yang mendadak terasa gersang setelah Wulan dibawa pergi.
Tidak berselang lama mereka pun tiba di komplek perumahan sang opa. Namun sejurus mata memandang, Syahil terpekur. Membuatnya berhenti mendadak lagi saat melihat sesuatu yang berdiri di depan pintu gerbang rumah sang opa. Sementara Syahal dan Rainar mengikuti, berhenti di samping motor Syahil yang menepi sesaat.
"Ada apa Syahil? Kalau kamu ingin berhenti, tanggung! Kita hampir sampai juga di rumah Opa. Ayo!!!" ujar Syahal, heran pada Syahil.
"Tunggu Mas!!! Coba Mas lihat mobil itu!!! Sepertinya Syahil pernah melihat mobil itu." timpal Syahil, menghentikan Syahal seraya menunjuk ke arah mobil di depan gerbang rumah sang opa.
Syahal dan Rainar serentak menoleh ke arah gerbang, melihat dengan seksama mobil yang dimaksud oleh Syahil di sana. Sementara Aifa'al dan Damar bergeming, bahkan tatapan keduanya terlihat kosong.
"Banyak orang yang punya mobil itu, Dik!" jawab Syahal, asal karena sudah lelah.
"Tidak, Mas! Syahil yakin, kalau Syahil pernah melihat mobil itu! Tapi Syahil lupa." ujar Syahil, kekeuh dan tidak mau kalah.
"Mungkin Opa Aidi sedang ada tamu, Mas." timpal Rainar yang sebenarnya juga heran.
Syahil bergeming, menoleh ke arah Rainar yang bersuara sesaat. Membuat helaan nafas panjangnya terdengar lagi untuk yang kesekian kalinya efek terlalu frustasi dengan masalah kali ini.
"Ayo...! Luka Mas Al harus diobati!" seru Syahal, melaju lebih dulu dengan motornya.
"Iya Mas...!" sahut Syahil, lesu.
Mereka beranjak, melaju dengan pelan menuju rumah sang opa yang gerbang nya terbuka lebar. Terdapat sebuah mobil di depannya yang sempat membuat Syahil tertegun, merasa pernah melihat mobil itu. Namun sayang, Syahil tak dapat mengingat di mana ia melihat mobil itu.
"Ayo Mas..."
Aifa'al bergeming di atas motor, kendati motor sudah berhenti sejak tadi di dalam pekarangan rumah sang opa. Sementara Syahil berdiri di sampingnya, mengulurkan tangan dan siap untuk memapa Aifa'al ke dalam rumah, bersama Syahal dan Rainar. Bagaimana Damar? Kembaran Wulan itu masih bungkam, menutup rapat mulutnya, enggan bersuara apalagi bicara banyak.
Melihat Aifa'al yang hanya diam membuat Syahil geram. Tanpa persetujuan dari sang empunya badan, Syahil langsung meraih tangan Aifa'al, membawanya lekas turun dari motor Syahal lalu memapanya masuk.
__ADS_1
Drap!
Drap!
Drap!
Langkah kaki yang lunglai dibawa untuk terus berjalan, melangkah masuk ke dalam rumah sang opa yang terasa aneh hari ini. Tidak hanya gerbang yang terbuka lebar, namun pintu utama juga ikut terbuka bahkan lebih lebar dari biasanya. Membuat Syahal, Syahil, dan Rainar saling pandang bingung.
"Sepertinya memang ada tamu, Mas." timpal Rainar, mengedar mata ke dalam rumah.
"Kita masuk saja! Ayo...!" ujar Syahal.
Rainar mengangguk, lalu melangkah lagi mengikuti Syahal dan Syahil yang memapa Aifa'al. Sementara Rainar merangkul bahu Damar yang masih betah berdiam diri.
Srek!
Langkah itu terhenti seketika, saat mata mendapati sosok yang tengah berdiri di antara keluarga besar. Dan yang semakin membuat mata Syahal-Syahil dan Rainar terbelalak sempurna adalah, ketika melihat sosok yang berada di dalam dekapan sang anty. Sosok itu menangis sesegukan tak mau berhenti, justru semakin keras dan pilu.
Tidak hanya itu, di sana juga ada Ammar dan Sadha yang duduk bersama Pak Aidi, Bu Aini dan Dhana. Membuat Syahal dan Rainar semakin tidak percaya. Begitu pun dengan Syahil, sempat melihat mobil yang tak asing di depan pagar rumah sang opa, ternyata dugaannya benar, kalau matanya yang masih sehat tak salah, pernah melihat mobil familiar itu beberapa jam yang lalu.
"Adek...!" ujar Syahal-Syahil, serentak.
Mendengar nama itu, sontak membuat Aifa'al dan Damar yang sejak tadi hanya menunduk saat berjalan masuk, langsung mendongak. Sepersekian detik menatap wajah Syahil yang tertuju ke arah depan, membuat keduanya ikut menoleh perlahan.
"Adek...!" ujar Aifa'al dan Damar.
Tak peduli dengan luka di kakinya yang penuh darah segar, Aifa'al pun melangkah lebar. Berusaha menahan sakit yang kian menyiksa, namun tak menyurutkan niatnya untuk menghampiri sang adik yang sudah berada di rumah. Bagaimana bisa? Bukan itu yang dipikirkan oleh Aifa'al saat ini, melainkan cara agar kakinya yang terluka masih bisa membawanya menghampiri sang adik. Diikuti Damar yang tak kalah cepat melangkah maju mendekati Wulan, disusul Rainar dan Syahal-Syahil yang tak percaya melihat keberadaan Wulan di sini.
"Adek..."
Tangis yang menggugu seketika terhenti, kepala yang semula bersandar pada sang mami kini terangkat, dibawanya menoleh, mendapati keempat masnya yang sudah sampai dengan selamat, kendati terluka.
"Aass..."
Wulan beranjak, menghambur ke dalam pelukan sang mas yang membalas pelukan itu tak kalah eratnya. Tangis Wulan pecah lagi, memancing air mata Aifa'al yang sudah menumpuk sejak tadi karena khawatir dengan keadaan sang adik. Membuatnya tak sadar dengan kehadiran seseorang yang ikut berdiri di ruang tamu, memperhatikan dirinya yang memeluk Wulan dengan erat.
"Adek..."
"Ya Allah... kaki kamu kenapa Sayang?" sahut Bu Aini, terpekik melihat kaki sang cucu yang bergelimang darah.
"Al... kaki kamu terluka, Nak!" ujar Ammar, menarik bahu sang putra.
Wulan melerai pelukannya dari Aifa'al, begitu juga dengan Damar yang ikut serta. Gadis kecil itu menunduk, melihat kaki sang mas yang terluka karena berusaha melawan musuh dan mempertahankan dirinya. Aifa'al tak mengindahkan seruan sang oma dan daddy nya yang panik. Matanya justru ia fokuskan pada satu objek, yaitu adiknya.
"Kenapa Adek bisa ada di sini?" tanya Aifa'al, menatap manik sembab Wulan.
"Al... kaki kamu harus diobati! Ayo! Daddy akan mengobati luka kamu!" tukas Ammar.
"Nanti dulu, Daddy. Al masih ingin bicara dengan Adek." jawab Aifa'al, menolak.
Ammar menghela berat, tau betul dengan sifat sang putra bungsu, jika sudah menolak sekali maka jangan berharap untuk berubah. Begitu pula dengan Pak Aidi, Bu Aini, Sadha, Dhana dan juga Mala yang menatap nanar luka di kaki Aifa'al. Membuat mereka takut, tak tega namun Aifa'al tetap menahannya.
"Adek... jawab Mas!" seru Aifa'al.
"Aass..." ujar Wulan, gugup.
"Iya? Apa?" tanya Aifa'al, penasaran.
"Mas..." ujar Syahil, meraih bahu Aifa'al.
Aifa'al menoleh, menatap Syahil yang bersikap aneh, memanggilnya namun matanya entah melihat ke arah mana, membuat Aifa'al jengkel.
"Apa?" pungkas Aifa'al.
__ADS_1
"Itu...!" jawab Syahil, tanpa menoleh.
Aifa'al mengeryit heran, lalu menoleh ke arah tunjuk bibir Syahil. Ternyata hanya dirinya lah yang belum menyadari kehadiran sosok itu di tengah-tengah keluarga besar, membuat Aifa'al terbelalak, matanya merah seketika saat melihat sosok yang berdiri itu. Sosok itu hanya menunduk, berdiri di sisi sosok gadis yang hanya diam, kepalanya sesekali terangkat melihat ke arah Aifa'al.
"Bram...!"
Sepertinya Aifa'al benar-benar sudah melupakan rasa sakit yang menyerang kakinya. Pria itu melangkah lebar, meraih kerah baju sosok yang ternyata itu, Bram!
"Kenapa lo ada di sini, hah? Apa maksud semuanya? Kenapa lo membawa Wulan pergi dan mengantarnya pulang? Rencana bejat apa lagi yang bakal lo dengan si tua bangka itu lakukan? Rencana apa, hah!?"
Bram hanya bungkam, menerima bentuk perlakuan Aifa'al yang tengah tersulut api amarah. Sementara sosok gadis yang ada di samping Bram itu, yang tak lain adalah Rumi, tersentak. Melihat sorot mata Aifa'al yang berkilat tajam karena amarah besar.
"Opa... kenapa lelaki ini ada di rumah? Kenapa lelaki ini diizinkan masuk ke sini?" sergas Aifa'al, masih mencengkram kerah baju Bram dengan sangat kuat.
"Al... kamu tenang dulu, Nak. Kita bisa bicarakan masalah ini dengan baik-baik. Nak Bram datang dengan cara yang baik. Dia yang mengantar adik kamu pulang, Al." tutur Pak Aidi, menenangkan sang cucu.
"Bohong!!! Lelaki ini penuh tipu daya, Opa! Kita tidak boleh mempercayai apapun yang dia lakukan! Dia sangat licik!" tandas Aifa'al.
"Al... kami semua pun juga belum tau apa maksud kedatangan Bram ke sini! Secara tiba-tiba Bram dan adiknya datang ke sini bersama Wulan. Kami semua juga belum mendengarkan apapun dari mulutnya, Al!" timpal Ammar, meyakinkan sang putra.
"Tidak, Daddy! Al tidak akan pernah bisa mempercayai orang yang sudah sangat jahat pada keluarga kita! Apalagi Wulan!" pungkas Aifa'al, semakin menggeram.
"Al... tenanglah dulu, Nak! Kita bicarakan masalah ini dengan kepala dingin. Kakimu juga terluka! Kakimu harus diobati dulu, Al!" ujar Dhana, berusaha meyakinkan Aifa'al.
Aifa'al bergeming, tatapan kilatnya tak teralihkan sedikit pun dari Bram yang diam, kendati matanya berani menantang Aifa'al.
"Mas... lebih baik kita duduk dulu. Luka tembak Mas harus diobati dulu, jika tidak kaki Mas bisa infeksi!!!" ujar Syahil, berbisik di belakang sang mas.
Aifa'al terdiam, tatapan kilatnya semakin tajam menantang Bram, tanpa rasa takut.
"Kali ini lo selamat, Bram! Tapi hal ini tidak akan bertahan lama!" seru Aifa'al, menatap tajam Bram yang tetap bungkam.
Aifa'al mendengus kasar, mendorong Bram dengan kuat, membuat lelaki itu terhuyung. Namun Bram tetap diam, enggan melawan. Sementara Aifa'al berjalan, dibantu Syahal dan Syahil mendekati sofa, membiarkan Bram dan Rumi tetap berdiri di tempatnya.
Tidak berselang lama Ammar kembali, setelah melihat sang putra melepaskan cengkraman nya terhadap Bram, ia gegas menuju kamar, mengambil peralatan medis miliknya yang ada di rumah sang ayah untuk berjaga-jaga jika situasi urgent terjadi.
Dengan cekatan Ammar mengobati luka tembak sang putra, sempat membuatnya terkejut saat memeriksa luka itu, terdapat peluru yang sukses menembus kaki Aifa'al. Tidak hanya Ammar yang terkejut, bahkan Pak Aidi, Bu Aini, Sadha, Dhana dan Mala pun tak kalah terbelalak melihat peluru itu.
"Siapa yang membuatmu seperti ini Al?" tanya Ammar, tengah mengobati putranya.
Aifa'al bergeming, namun mata tajamnya menoleh ke arah Bram yang masih diam.
"Saya minta maaf, Pak. Saya lah, orang yang dengan sengaja menembak Aifa'al."
Semula mata Aifa'al yang tertuju ke arah Bram. Namun kini, semua mata menoleh tajam ke arahnya yang tetap menunduk.
"Apa maksud kamu?" sergas Sadha.
"Sekali lagi saya minta maaf, Pak. Saya terpaksa menembak Aifa'al agar Dimas percaya, kalau kedatangan saya memang benar-benar ingin membantunya, menculik Wulan dan membawa Wulan ke lokasi Tuan Gibran sesuai yang mereka direncanakan."
"Dimas? Menculik? Gibran? Apa ini? Maksudnya apa?" pungkas Pak Aidi.
Bram menghela berat, menggiring mata sesaat ke arah Rumi yang mengangguk, seakan memberi dukungan kepada sang kakak yang telah membuktikan sesuatu.
"Saya..."
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading All 😇😇😇