
...πππ...
Flashback On : POV Bram
Saya Bram, dan kalian pasti sangat mengenal saya yang terkenal akan kejahatan, bekerja dengan Tuan Gibran sebagai asisten pribadinya, melakukan apapun yang Tuan Gibran perintahkan, baik pekerjaan biasa maupun pekerjaan yang luar biasa kendati di luar nalar dan bathin saya, seperti yang saya kerjakan beberapa waktu lalu. Membantu Tuan Gibran dalam menjalankan rencana balas dendamnya.
Kurang lebih 5 tahun lamanya saya menjadi asisten pribadi Tuan Gibran, menjadi tangan kanannya dalam hal apapun, baik pekerjaan di sekolah saat statusnya masih menjadi pemilik Property Jaya Mandiri, pekerjaan yang bersangkutan dengan perusahaan orang tuanya di Singapore, dan pekerjaan yang membuat saya harus melawan bathin saya sendiri ketika saya harus berbuat jahat.
Hari itu, saya sedang beristirahat karena Tuan Gibran yang menyuruh saya. Tidak ada rencana apapun hari itu, bahkan Tuan Gibran merahasiakan rencananya dari saya. Entah apa itu, saya tidak terlalu ingin ikut campur. Lebih baik saya mengistirahatkan tubuh yang telah banyak bekerja keras ini.
Hingga siang berlalu. Saya mendapatkan banyaknya panggilan tidak terjawab dari Rumi, adik saya. Membuat saya tak enak hati, lalu saya menghubunginya kembali tanpa meminta persetujuan Tuan Gibran.
Di sana lah awal mulanya. Setelah mendapat kabar yang tidak menyenangkan dari Rumi, saya bergegas pergi ke Jakarta. Namun sebagai bawahan saya harus tetap melapor dan meminta izin majikan terlebih dahulu, membuat saya harus menghampiri Tuan Gibran lagi yang sebenarnya saat itu sedang tidak ingin diganggu istirahatnya.
"Adik saya masuk rumah sakit, Tuan. Dan saat ini dia sedang berada di RS ibu kota. Saya harus melihat kondisi adik saya, Tuan." ujar saya, berusaha meminta pengertian Tuan Gibran yang biasanya bersikap murah hati pada saya selama ini.
"Kamu tau 'kan Bram? Situasi kita saat ini seperti apa? Saya ini masih buronan, dan kamu adalah asisten pribadi saya! Kalau kamu kembali ke kota, itu sama saja kamu ingin menjebak saya! Tidak, Bram!!! Untuk saat ini saya tidak bisa memberimu izin itu!"
Kalian tau bagaimana perasaan saya mendengar jawaban Tuan Gibran itu? Pastinya sakit sekali! Bagaimana tidak? Di saat adik saya tengah sekarat di rumah sakit, dan dia membutuhkan saya di sana, tapi tuntutan pekerjaan dan majikan yang membuat saya harus terkurung. Saya tidak bisa seperti ini! Rumi sangat membutuhkan saya di sampingnya dan saya takut terjadi sesuatu yang buruk pada adik saya di sana.
"Saya mohon, Tuan. Mohon pengertian Tuan. Adik saya sedang sakit keras, dan saat ini dia ada di kota. Kami tidak punya sanak saudara di ibu kota, Tuan. Hanya saya yang bisa membantunya saat ini."
Saya tertunduk sedih, tak melihat wajah Tuan Gibran yang entah sedang memakai ekspresi seperti apa sekarang. Tapi saya tau, Tuan Gibran hanya diam tak bersuara.
"Tuan... saya mohon dengan sangat! Saya harus menemui adik saya di kota."
"Baiklah! Saya beri kamu waktu 10 jam! Dalam waktu yang saya berikan itu, kamu harus sudah kembali lagi ke tempat ini!!!"
Hanya 10 jam? Bayangkan saja, untuk bertemu dengan adik sendiri saja harus diatur seperti itu. Namun saya bisa apa, perintah majikan merupakan titah mutlak yang tak bisa dibantah. Dengan keraguan hati, saya bergegas pergi setelah mendapat izin dan berpamitan. Saya sangat bersyukur, Tuan Gibran masih bermurah hati pada saya.
Tanpa berpikir panjang lagi saja bergegas pergi, melajukan mobil dengan kecepatan tinggi dan perasaan yang rasanya campur aduk. Cemas dan takut, semuanya menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Saya takut terjadi sesuatu yang buruk pada adik perempuan saya satu-satunya, harta saya yang sangat berharga satu-satunya, belahan jiwa saya, penenang keluh kesah saya, penyemangat saya dan segalanya untuk saya. Hanya Rumi yang saya punya saat ini, setelah kedua orang tua saya dan Rumi, pergi meninggalkan kami selamanya.
Perjalanan yang seharusnya panjang itu hanya dalam hitungan jam saja saya lalui, membuat saya cepat sampai di rumah sakit. Saya bergegas lari, menghampiri meja resepsionis rumah sakit, menanyakan di mana kamar rawat adik saya yang sedang dirawat inap di sini. Hingga Suster itu pun memberitahu saya di mana kamar Rumi.
Saya berlari lagi, tak menghiraukan mata orang-orang yang menatap saya dengan heran. Mungkin karena penampilan saya yang aneh, memakai pakaian serba hitam. Namun tak menyurutkan langkah kaki saya untuk terus berlari menuju kamar Rumi.
Ceklek!
Gegas saya masuk setelah pintu terbuka lebar, menghampiri Rumi yang sudah sadar rupanya. Membuat saya lega, karena Rumi masih dalam kondisi yang sangat baik dan tak kurang satu apapun.
Saat itu, saya belum menyadari kehadiran seseorang di dalam kamar rawat adik saya. Namun Rumi lah yang memperkenalkan, hingga saya tak dapat menutupi sesuatu yang sukses membuat jantung saya copot.
Wulan! Gadis itulah ada di dalam kamar Rumi, membuat saya terkejut melihatnya. Ditambah lagi dengan penjelasan Rumi, bahwa Wulan dan Damar lah yang telah menolongnya, membuatnya masih bisa bertahan hidup sampai saat ini, bertemu dengan saya, kakaknya yang dirindukan.
Sumpah demi apapun, saya tidak berniat ingin melakukan sesuatu pada gadis kecil itu. Saya hanya diam, walau keterkejutan dalam hati saya tidak bisa saya bohongi. Namun gadis itu langsung lari terbirit-birit, keluar dari kamar ini, pergi entah ke mana. Tapi saya yakin, kalau Wulan tidak sendiri berada di sini, membuat saya harus gegas mengambil keputusan, menyelamatkan diri.
__ADS_1
Akhirnya saya membawa Rumi pulang, tak memperdulikan saran dokter yang meminta agar Rumi tetap dirawat inap full hari ini. Membuat Rumi terheran-heran, saya bisa melihat matanya yang selalu melirik ke arah saya, saat saya sedang mengemudi tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Hingga akhirnya kami sampai di rumah saya yang tak pernah saya tempati sejak membelinya.
Di dalam rumah itu kami berdebat hebat, Rumi terus menanyakan kenapa Wulan sangat ketakutan ketika melihat saya, dan satu hal lainnya yang membuat Rumi kian bertanya-tanya adalah, kenapa saya juga sangat terkejut saat melihat kehadirannya. Membuat saya tak bisa menyembunyikan semuanya lagi pada Rumi. Kini Rumi telah mengetahui pekerjaan saya sebenarnya, bahwa kakaknya ini tidak hanya bekerja baik-baik, melainkan bekerja secara jahat.
Dalam perdebatan itu saya bisa melihat, bahwa Rumi tengah berusaha membuat saya sadar. Rumi menyuruh saya untuk berhenti, tidak perlu bekerja dengan Tuan Gibran yang jahat itu. Ya... saya akui, kalau Tuan Gibran memang jahat. Bahkan untuk melihat adik saya di kota saja, saya harus bersimpuh di depannya, sungguh kejam!!!
Saya tidak mengatakan apapun setelah perdebatan sore itu. Saya memilih untuk beristirahat kembali, menenangkan pikiran yang terlanjur gusar, hingga malam berlalu. Rumi masih enggan bicara dengan saya, tidak mau makan bahkan meminum obat, dan lagi-lagi Rumi membahas gadis kecil itu, membuat saya semakin merasa tidak nyaman ketika itu. Jujur! Di satu sisi saya merasa bahwa saya sudah terlalu jahat pada Wulan dan kakak kembarnya yang bernama Damar, menculik mereka bahkan menyekap mereka, dan sekarang mereka yang sudah menolong Rumi saat pingsan di pinggir jalan. Namun di sisi lain, Tuan Gibran adalah majikan saya. Saya butuh pekerjaan untuk membiayai pengobatan Rumi, saya masih membutuhkan uang Tuan Gibran dan hanya dengan menjadi asistennya lah saya bisa mendapatkan semua itu untuk Rumi.
Saya tidak tau harus mengatakan apa lagi pada Rumi, hingga saya memilih pergi ke luar, duduk di depan rumah sampai malam.
Sampailah pada hari ini. Ketika saya dan Rumi sedang dalam perjalanan hendak ke suatu tempat, saya melihat keramaian dari kejauhan di ruas jalan keluar, dari jalan satu arah menuju SMP Jaya Mandiri. Saya dan Rumi cukup terkejut, melihat Dimas beserta teman-teman geng motornya mengepung Damar, Wulan dan kakak-kakaknya.
"Kak... itu Damar dan Wulan!"
"Iya, Dek. Kakak bisa melihatnya."
Saya terdiam, melihat gerak-gerik Dimas dan teman-teman geng motornya di sana, ditambah lagi dengan tiga orang lelaki yang saya yakini bahwa mereka adalah suruhan rahasia Tuan Gibran. Membuat saya dilema seketika, teringat dengan kejadian kemarin, di mana Damar dan Wulan menolong Rumi.
Apakah ini rencana rahasia Tuan Gibran yang beliau sembunyikan dari saya? Hal itulah yang tiba-tiba berkeliaran di dalam kepala saya, teringat dengan rencana yang sempat saya tanyakan, namun Tuan Gibran seakan enggan untuk memberitahu saya.
Saya menoleh, melihat Rumi yang ternyata menatap saya penuh arti. Matanya sudah berkaca-kaca, seakan memohon kepada saya agar saya mau membantu mereka. Tapi apa yang bisa saya lakukan saat ini? Jika saya turun dan langsung membantu Damar Wulan, bukan Dimas, maka Dimas akan melaporkan semua ini pada majikan saya. Kalian tau bukan, bagaimana Dimas dan Tuan Gibran sekarang, bahkan posisi saya dan Bima saja bisa dikalahkan Dimas yang senang sekali menjilat. Ya... anak itu adalah seorang penjilat hebat, oleh karena itu Tuan Gibran mempercayainya melebihi saya, dan Dimas lebih licik dari Bimantara.
"Kak..."
Semalaman saya tidak bisa tidur, memikirkan perkataan Rumi yang menusuk, menyentuh relung hati saya, membuka hati yang selama ini tertutup karena ambisi gila. Membuat saya sadar, bahwa yang selama ini saya lakukan sangat tidak benar. Saya melakukan kejahatan untuk mendapatkan pundi-pundi uang demi kesembuhan Rumi. Namun tak terpikirkan oleh saya, bahwa uang yang saya dapat dari bekerja dengan Tuan Gibran adalah uang haram, dan uang itulah yang saya berikan pada adik saya di kampung untuk mengobati sakit kerasnya.
Setelah termenung cukup lama, tanpa mengalihkan perhatian saya dari kelompok berandalan di depan sana, saya bergegas meraih sesuatu di dalam dashboard mobil. Sementara Rumi yang melihatnya terkejut, bahkan sempat terpekik. Rumi pun meraih tangan saya ketika saya hendak turun dari mobil setelah mengambil benda itu.
"Kakak mau apa dengan pistol itu?"
"Kakak harus melakukannya, Dek!"
"Tidak, Kak!!! Jangan bilang kalau Kakak ingin membantu anak-anak berandalan itu!"
"Kamu tenang saja, Dek!!! Kali ini Kakak tidak akan mengecewakan kamu lagi!!!"
"Dengan menembak Damar dan Wulan, Kakak bilang Rumi tidak akan kecewa?"
"Kamu tenang, dan lihat saja! Apa yang akan Kakak lakukan dengan pistol ini!!!"
"Tapi Kak...!"
Tidak saya hiraukan sedikit pun sahutan Rumi yang terus memanggil nama saya di dalam mobil. Saya tetap keluar, mendekati sekumpulan anak-anak geng motor dengan ketiga lelaki bertubuh besar sebagai teman mereka menjalani misi, yang sangat saya yakini kalau misi itu atas titah Tuan Gibran.
Dor!
__ADS_1
Peluru besi pistol saya melesat tepat pada sasarannya, mengenai betis Aifa'al, kakak sepupunya Wulan yang terkenal keras dan sangat pemberani. Saya cukup mengenal anak itu, di saat dia ikut tertangkap ketika secara diam-diam dia ingin menyelamatkan Damar dan Wulan yang tengah disekap.
Dengan tampang yang tidak diragukan sama sekali, saya melangkah maju dan mendekati mereka semua yang terkejut ketika pistol saya ini bekerja. Saya melihat Dimas yang begitu senang, melihat saya yang datang di saat kondisi fisiknya sudah habis babak belur karena kekuatan Aifa'al.
Di saat itulah saya mulai melakukan apa yang ingin saya lakukan, walaupun harus melukai Aifa'al terlebih dahulu hanya demi mengecoh Dimas. Namun hanya dengan cara inilah saya bisa menolong, mengambil alih pekerjaan Dimas, mengatasnamakan titah Tuan Gibran yang sebenarnya tidak memerintahkan apapun pada saya hari ini. Bagaimana Tuan Gibran bisa memberikan perintah, sedangkan ponsel saya memang dengan sengaja saya matikan sampai saat ini, bermaksud ingin menenangkan pikiran.
Tanpa melakukan kesalahan sedikit pun, sama seperti di saat saya melakukan apapun yang diperintahkan Tuan Gibran, saya berhasil mengecoh Dimas dan semua teman geng motornya, merebut Wulan dari tangan kakak-kakaknya secara paksa dan keras, lalu mendorongnya hingga masuk ke dalam mobil. Di saat itu saya benar-benar tidak bisa memberikan isyarat apapun pada Aifa'al maupun yang lainnya. Saya terpaksa melakukan itu, semata-mata hanya untuk meyakinkan Dimas, kendati pada akhirnya nanti anak itu pasti akan tau rencana saya.
Sudah dapat dipastikan bukan, bagaimana ekspresi amarah Aifa'al ketika saya berhasil membawa Wulan? Pastinya sangat marah! Dan saya hanya bisa menghela nafas saat itu, membiarkan anak muda pemberani itu menggeram atau akan marah besar nanti, saya tidak peduli. Yang penting saya juga punya alasan, kenapa saya melakukan ini.
Di dalam mobil, saya melihat Wulan yang terkejut, mendapati keberadaan Rumi di kursi depan namun tengah bersembunyi ketika mobil yang saya bawa mulai berjalan. Setelah mobil yang saya bawa melewati Dimas dan rombongan nya itu, Rumi pun bergegas keluar dan berpindah duduk ke kursi belakang. Rumi langsung memeluk Wulan, dan gadis itu menangis sesegukan.
"Sstttt...! sudah ya, Sayang. Sekarang ini kamu sudah aman bersama Tante. Tante akan mengantar kamu pulang. Ya?" ujar Rumi yang dapat saya dengar dari depan.
Wulan melerai pelukannya dari Rumi, dan mengatakan sesuatu dengan bahasanya yang tidak saya mengerti sama sekali.
"Kamu tenang saja. Kakak-kakakmu itu pasti akan baik-baik saja. Yang penting sekarang ini, kamu sudah aman, Sayang." jawab Rumi, menyeka air mata di wajah Wulan dengan lembutnya, membuat hati saya menghangat tiba-tiba.
"Dimas hanya mengincar kamu, Wulan! Semua itu rencana Tuan Gibran! Tuan Gibran memang sedang merencanakan sesuatu untuk menculik kamu lagi!"
Entah ada angin apa yang membuat saya bersuara, memberitahu Wulan kalau yang dilakukan oleh Dimas adalah perintah Tuan Gibran. Tentu saja membuat Wulan takut, hingga peran Rumi yang lemah lembut pun dibutuhkan untuk menenangkan gadis itu.
Selama di perjalanan menuju rumah gadis kecil itu, saya hanya diam. Namun mata ini masih melihat keduanya dari kaca spion, hingga mobil saya sampai di depan rumah itu. Saya bergegas turun, disusul Rumi yang ikut turun tanpa melepas dekapannya dari Wulan. Kami pun berjalan masuk ke dalam, menemui pemilik rumah yang sudah pasti kalian sangat mengenal mereka. Dan tiba lah kami di ambang pintu, membuat semua mata penghuni rumah itu tertuju pada kami.
Wulan berlari, masuk dan menghampiri seorang wanita yang sangat saya kenal sebagai ibu kandungnya Wulan, sasaran balas dendam masa lalunya Tuan Gibran. Gadis itu menangis lagi, membuat saya harus urung menjelaskan semua pada keluarganya, hingga akhirnya Aifa'al dan adik-adiknya yang lain pun tiba di rumah, seperti yang terjadi sekarang ini. Anak itu marah pada saya, kakinya juga berdarah karena saya yang terpaksa, demi Wulan.
Flashback Off
.
.
.
.
.
Happy Reading All πππ
Hoho... sepertinya ada pertanda baik dari Bram, semoga saja ya π
Terima kasih kakak-kakakku semua π karena kalian masih betah mengikuti kisah Wulan yang tiada habisnya cobaan ini π Dina juga mau minta maaf karena mungkin dina bakal lama mampir ke karya kalianπ₯Ί sebab kerjaan di dunia nyata pun banyak. Paginya udah berangkat kerja dan pulang pun udah sore, jadi waktu dina agak tipis sekarang πβοΈ Maafkan ya Kak, tapi dina bakal tetap datang kok walau agak lama.
Segitu dulu ya keluh kesah dina π sekali lagi dina mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya π ILY All β₯οΈβ₯οΈβ₯οΈ
__ADS_1