Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 37 ~ Hukum Cambuk


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Kamu harus dihukum anak sialan!"


Dhana terkesiap, mendapati tangan sang istri yang dengan kasarnya menyelinap tubuhnya dari depan, menarik paksa tangan Wulan lalu menyeretnya entah ke mana.


"Mala... hentikan!!!"


Tanpa menoleh ke arah Rainar, pria dua anak itu beranjak pergi, menyusul sang istri yang sedang emosi dan membawa Wulan. Sementara itu, Rainar hanya bisa terpaku di duduknya, dahinya mengerut, mengerti saat melihat sikap kasar Mala pada Wulan. Tapi ia tidak mempunyai kemampuan untuk bisa melawan Mala demi membela sahabatnya.


"Rainar..."


Suara bariton tiba-tiba mengejutkan Rainar yang terpaku sendirian. Rainar menoleh ke sumber suara, mendapati sang papa yang datang menghampirinya.


"Papa..." ucap Rainar.


"Kamu sedang apa di sini Nak? Masih memakai pakaian sekolah lagi! Dengan siapa kamu datang ke sini?" ujar Dokter Ronald yang ikut duduk di samping Rainar.


"Damar, Pa. Damar kecelakaan!" jawab Rainar seraya menunjuk ke ruang UGD.


Dokter Ronald terbelalak, mendengar perkataan sang putra yang mengatakan kalau Damar mengalami kecelakaan.


"Apa? Damar anaknya Om Dhana?" tanya Dokter Ronald yang sangat terkejut.


"Iya, Pa. Damar anaknya Om Dhana. Tapi kondisinya sudah membaik kok, Pa. Wulan, Rainar dan Om Dhana tinggal menunggu Damar sadar saja." jawab Rainar.


"Wulan dan Dhana ada di sini? Di mana mereka?" tanya Dokter Ronald seraya mengedar pandangan mencari Dhana.


"Tadi Tante Mala datang ke sini dan terlihat marah sekali setelah mengetahui penyebab Damar kecelakaan. Lalu menyeret Wulan ke arah sana. Om Dhana juga ikut ke sana, Pa." jawab Rainar seraya menunjuk ke arah Mala menarik Wulan.


Dokter Ronald tertegun, menatap Rainar yang ia ketahui tidak tau apa-apa tentang kebencian Mala pada sahabat kecilnya itu. Sedangkan Dokter Ronald yang sudah mengetahuinya, memilih untuk menutupi semua itu pada sang putra. Namun jika sudah seperti ini Dokter Ronald bisa apa?


Rainar hanya terdiam menatapnya sendu, seakan membayangkan perbuatan apa yang akan dilakukan Mala pada sahabat kecilnya itu, membuat Dokter Ronald pun ikut terdiam dan hening seketika.


"Pa... kenapa Tante Mala marah pada Wulan? Padahal kecelakaan ini bukan kesalahan Wulan, bahkan Wulan yang sebenarnya menjadi target kecelakaan ini." tanya Rainar yang sebenarnya tau namun ingin mendengar langsung penjelasan dari sang papa.


"Maksud kamu apa Rainar?" tanya Dokter Ronald yang menoleh cepat ke arah Rainar.


Rainar menghela nafas, menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada sang papa, di saat mereka hendak pulang sekolah. Dokter Ronald termangu, memahami cerita Rainar.


"Rainar... seharusnya kamu tidak perlu menceritakan kejadian sebenarnya pada Tante Mala, apalagi kalau ada kaitannya dengan Wulan." ujar Dokter Ronald yang menatap lekat sang putra.


"Memang kenapa Pa? Bukannya Papa selalu mengajarkan Rainar untuk berkata jujur walaupun pahit sekali pun?" tanya Rainar yang semakin heran, penasaran.


"Iya, Nak. Papa memang mengajarkan itu padamu, tapi masalah ini sangat berbeda dan lebih rumit untuk kamu pahami." ujar Dokter Ronald yang berusaha menjelaskan.


"Memang masalah apa sih Pa? Kenapa Wulan yang disalahkan? Seharusnya Tante Mala memarahi pelakunya, bukan Wulan." jawab Rainar yang semakin tampak heran, memancing sang papa untuk menceritakan semuanya karena pada dasarnya ia sudah mengetahui semuanya dari Damar.


Dokter Ronald menghela nafas kasar, memahami apa yang dirasakan putranya. Sejak kecil, Rainar yang bersahabat dekat dengan Damar dan Wulan tidak pernah tau jika Wulan dibenci oleh ibunya sendiri. Lalu apa yang harus Dokter tampan itu lakukan? Haruskah ia menceritakan semuanya pada sang putra?

__ADS_1


"Rainar... selama ini, Tante Mala tidak pernah mau mengakui Wulan sebagai putrinya. Tante Mala membenci Wulan karena Wulan bisu, tidak bisa bicara!!!" jawab Dokter Ronald yang tercekat.


Rainar bergeming, cerita Damar saat itu kembali terngiang di telinganya. Ternyata benar kalau sang papa menutupi kisah pilu sahabatnya sendiri darinya, membiarkan Wulan terus mendapatkan perlakuan tidak baik dari ibu kandungnya sendiri.


"Papa menutupinya dari kamu sesuai permintaan Dhana karena dia tidak mau kamu salah paham. Saat itu kamu masih terlalu kecil, jadi Papa menyembunyikan semuanya." jawab Dokter Ronald.


Rainar terdiam, membayangkan betapa pedihnya penderitaan sang sahabat yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya dari kecil, hanya karena tidak sempurna. Sesekali Rainar menggeleng kepala, tidak sanggup membayangkan itu.


"Sebenarnya Rainar sudah mengetahui semuanya dari Damar, Pa. Kasihan Wulan. Padahal saat ini dia sedang demam tinggi." tutur Rainar lirih.


Dokter Ronald terperangah, hatinya ikut merasakan apa yang dirasakan Rainar saat melihat sikap Mala pada Wulan. Namun tiada apa pun yang dapat ia lakukan untuk menolongnya, selain berdo'a untuk Mala.


***


"Dasar anak cacat sialan!!! Karena ulahmu putraku jadi celaka! Kamu harus dihukum!"


Tangis sesegukan Wulan tak terbendung, mengikuti gerakan sang mami yang terus saja menyeretnya dengan paksa, seperti seorang babu yang akan diberi hukuman karena melakukan kesalahan yang besar. Membutakan mata dan hati seorang Mala, yang seharusnya bisa menjadi pelindung dini untuk putra putrinya. Dengan langkah lebar, Mala menarik paksa putrinya yang terseok-seok, menangis, memohon iba, menatap lekat sang mami dan berharap agar sang mami tidak tersulut emosi lagi.


"Masuk kamu!!!" tandas Mala yang mendorong putrinya dengan kasar masuk ke toilet lalu menguncinya.


Tangis Wulan tak kunjung berhenti, air mata terus mengalir membahasi pipi. Sesekali ia tampak bersimpuh, memeluk kaki sang mami yang selalu membuang muka, enggan menatapnya bahkan untuk sekedar melirik.


"Menjauh dari kakiku! Kamu tidak pantas lahir ke dunia! Dasar anak pembawa sial! Karena menolongmu, putraku jadi celaka! Kenapa bukan kamu yang tertabrak motor dan mati saja sekalian? Dasar anak cacat! Aku menyesal sudah mengandung kamu! Aku menyesal sudah melahirkan kamu!!!"


Mala menarik paksa kakinya, mendorong sang putri dengan kasar, membuat Wulan terjungkang ke belakang hampir terbentur tembok toilet. Mala merogoh isi tasnya, mengeluarkan sesuatu yang bisa ia pakai untuk menghukum sang putri yang tidak bersalah lalu memukulnya dengan benda pipih nan panjang seperti ikat pinggang.


Plak!


Plak!


Plak!


"Aaaaa... aaa... aaaaa..."


Wulan meracau, berusaha menghentikan sang mami yang semakin membabi buta, mencambuk tubuhnya dengan kasar dan tanpa rasa iba sedikit pun. Entah malaikat keji seperti apa yang bersemayam di tubuh seorang Mala yang dulunya sangat lembut. Tanpa menghiraukan racauan sang putri, Mala terus mencambuk tubuh Wulan yang semakin meringkuk, menahan kesakitan.


"Mala... buka pintunya!!! Mala... kamu apakan putriku di dalam sana? Mala..."


Sahutan suara Dhana terdengar sangat keras, menggelegar dari arah luar toilet. Membuat Mala tidak menghentikan aksi. Sementara Wulan yang masih meringkuk, mengangkat kepalanya, menatap daun pintu yang masih tertutup rapat. Namun tubuhnya yang sakit sudah tidak mampu untuk dibawa beranjak dari posisi.


Tanpa menghiraukan tatapan orang yang berlalu lalang, Dhana berusaha menerobos pintu toilet wanita yang terkunci dari dalam.


Brak!


Satu hentaman kuat kaki Dhana berhasil mendobrak daun pintu toilet, mendapati sang istri yang tengah menyiksa putrinya hingga tersudut di sudut toilet rumah sakit. Menangis, meringkuk, meringis kesakitan namun Mala tetap saja mencambuk sang putri tanpa ampun dan belas kasih.


"Dasar anak cacat!" pekik Mala.


"Hentikan Mala!" tandas Dhana.

__ADS_1


Cengkraman tangan Dhana yang kuat sukses menghentikan aksi brutal sang istri. Mala terperanjat ketika sang suami datang dan mencekam kuat tangannya dari arah belakang. Sementara Dhana yang emosi, memutar tubuh sang istri menghadapnya, menatapnya nanar, tumpukan bulir kristal pun terlihat jelas di kedua matanya. Begitu juga Mala, mata yang mengembun namun penuh kebencian di dalamnya, membuat Dhana melepaskan cengkraman kuatnya.


Mala terhuyung hingga terbentur westafel toilet karena dorongan Dhana. Sementara Dhana bergegas mendekati putrinya yang masih meringkuk ketakutan di sudut toilet.


"Kamu tidak apa-apa 'kan Sayang?" ujar Dhana seraya menangkup wajah sembap sang putri nan malang.


Wulan bergeming, mengangkat kepalanya perlahan, menatap lekat manik sang papi dengan seutas senyumannya yang manis. Tidak ada guratan kebencian dari matanya setelah mendapatkan perlakukan keji dari sang mami. Yang ada hanya tatapan iba, memancing kedua sudut bibirnya untuk melengkung ke bawah. Air matanya pun menetes tanpa permisi, membasahi pipi.


Dhana menggiring matanya ke arah Mala, melempar tatapan tajam, rasa marah yang bercampur dengan kekecewaan, membawa kakinya untuk melangkah, mendekati Mala.


Plak!


Satu tamparan Dhana melayang indah di pipi Mala, meninggalkan jejak kemerahan pada pipi putih sang istri. Membuat Mala terperangah tidak menyangka, kalau sang suami sudah berani bermain tangan.


"Aku terpaksa harus melanggar janjiku kepada adikku karena kamu, Mala!!! Aku benar-benar tidak menyangka, kamu bisa bersikap sekejam ini pada putrimu sendiri! Serigala saja menyayangi anaknya, bahkan rela mengorbankan jiwa dan raganya! Tapi kamu? Kamu malah menyiksa putrimu! Dia putrimu, Mala!!! Dia anakmu, darah daging kamu! Harus dengan cara apa lagi aku bisa menyadarkan kamu, hah?! Kenapa seorang wanita seperti kamu ini bisa melahirkan tapi tidak bisa menyayangi anaknya!!! Kejam!!!"


Runtuh sudah kesabaran Dhana, melihat sang putri dicambuk kasar oleh sang istri seperti seekor kuda yang tidak menuruti perintah tuannya, menyiksanya tanpa iba. Sementara Mala, mengusap pipinya yang terbakar karena tamparan sang suami. Ia tidak menyangka kalau Dhana menampar wajahnya seperti ini, untuk pertama kalinya.


"Selama ini kamu tidak pernah kasar, Mas. Tapi karena membela anak sialan itu, kamu berubah. Dia yang sudah menyebabkan putraku tertabrak motor dan masuk UGD! Karena dia, putraku celaka! Apa salah jika aku menghukumnya?" tandas Mala yang menunjuk ke arah Wulan.


"Cukup, Mala!!! Cukup sampai hari ini saja kamu memanggil Wulan dengan sebutan keji seperti itu! Dia itu putriku, bukan anak sialan! Justru kamu yang sialan! Wanita yang tidak punya hati nurani sedikit pun!" tandas Dhana yang menatap tajam Mala.


Bulir kristal semakin deras berjatuhan dari pelupuk mata gadis bisu yang malang itu, tidak sanggup melihat pertengkaran sang papi dengan sang mami, membuat Wulan beranjak, mengambil langkah seribu keluar dari toilet menuju halaman rumah sakit.


Dhana terkesiap, berusaha menghentikan namun langkahnya kalah cepat. Putrinya sudah hilang dari pandangan, membuat Dhana semakin marah dan kecewa pada sang istri. Sementara Mala masih terdiam, mengusao pipinya yang terasa panas dan perih, menatap nanar sang suami di dekat pintu yang menatapnya tak kalah tajam.


"Kamu lihat? Bertahun-tahun Mala, sudah bertahun-tahun lamanya kamu seperti ini pada putri kita. Anak yang selama ini kita jaga selama dia berada di dalam rahimmu. Anak yang selama ini kita nantikan. Namun sikapmu membuatku kecewa, Mala!!! Aku benar-benar kecewa dengan sikap kamu!" tandas Dhana yang tercekat lalu beranjak pergi, meninggalkan Mala di keheningan.


Mala mengepal kuat tangannya, emosinya naik kembali, mengingat semua perkataan sang suami yang menyayat hati.


"Aku bukan Mala yang dulu lagi, Mas! Mala yang lama sudah lama mati! Mala sekarang adalah Mala yang tidak akan membiarkan hal buruk akan terjadi di dalam hidupnya!!! Termasuk kehadiran anak bisu sialan itu!!!"


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇


Kok Mala jahat sih thor? Wkwk jawaban untuk pertanyaan itu nanti akan terjawab yaaaa, para sahabat semuanya 😁😁😁 akan ada satu kebenaran yang terungkap tentang siapa Mala sebenarnya karena di boneps novel pertama, siapa Mala kita belum tau. Yang kita tau, Mala hanya lah sosok gadis yatim piatu, datang ke kota besar untuk mencari pekerjaan. Namun tentang siapa Mala sebenarnya, sebentar lagi akan terungkap 😁😁😁


spoiler : Jangan melihat orang dari sisi luarnya saja, karena kita tidak pernah tau seperti apa orang tersebut 🤭


Note : 'sebagai pengingat saja' ✌️

__ADS_1


Novel ini dibuat bukan untuk menyinggung siapa pun, ini murni dari halusinasi author semata, tidak ada niat untuk menyinggung atau memojokan seseorang. Cukup ambil pelajaran baiknya yang mungkin ada pada cerita ini. Jadi jangan salah paham sama author yang masih belajar ini yaa 😁😁😁


__ADS_2