
...🍁🍁🍁...
"Ziel..."
Dhana terpekik, mendapati keberadaan sang keponakan sulung di belakangnya, membuntuti sejak tadi tanpa memberitahu, membuat Aiziel spontan menutup mulut sang uncle dengan tangannya, tidak ingin jika gerak-geriknya bersama sang uncle dicurigai oleh Gibran dan antek-anteknya.
"Sstttt... jangan keras-keras, Uncle!"
"Kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Panjang ceritanya, Uncle!"
"Tapi ini bahaya, Ziel!"
"Kita hadapi bersama-sama, Uncle!"
"Tapi Ziel..."
"Ziel akan membantu Uncle!"
Dhana menghela nafas berat, mengeryit cemas jika situasi sudah seperti ini, Aiziel tetap kekeuh pada pendirian, ingin turut membantu untuk menyelamatkan sang anty.
"Sebaiknya kita berpencar, Uncle!!! Uncle dari sini, sedangkan Ziel akan muncul dari sisi lain. Kita harus bisa mengecoh mereka. Dengan begitu, Uncle bisa mendapatkan Anty Mala kembali. Bagaimana?" ujar Aiziel meyakinkan sang uncle dengan rencananya yang mendadak.
"Tapi Ziel, Uncle tidak yakin rencanamu akan berhasil! Lihat!!! Anak buah Gibran terlalu kuat untuk kamu! Uncle tidak mau kalau kamu sampai celaka, Nak!!!" jawab Dhana, berusaha menasihati Aiziel.
"Berhasil atau tidak kita lihat nanti, Uncle! Yang terpenting saat ini adalah Anty Mala!" ujar Aiziel yang berusaha meyakinkan lagi.
"Tapi Ziel..."
"Ayolah Uncle!!! Ziel akan berhati-hati! Kita harus membawa Anty Mala pulang kembali, bersama Damar dan Wulan. Saat ini Paklik, Paman Imam, Syahal dan Syahil pasti sudah berhasil menyelamatkan mereka. Uncle juga harus bisa menyelamatkan Anty dari orang seperti Gibran!!! Oke Uncle?" potong Aiziel yang meyakinkan dan menenangkan sang uncle.
Dhana terdiam, menoleh sesaat ke arah Gibran dan bodyguard nya yang masih memegangi Mala dengan tangan kekar, berdiri di pinggir rel kereta api. Sekilas ia melihat wajah sang istri yang terlihat kacau, hanya terdiam seperti orang kebingungan, dengan bibir yang sedikit menganga, bulir kristal pun ikut membasahi wajah putihnya, membuat Dhana diselimuti kegamangan.
"Uncle... kenapa malah diam?" ujar Aiziel, menatap sang uncle yang malah terdiam.
"Baiklah! Tapi Uncle minta satu hal! Kamu harus berhati-hati dan jangan gegabah!!! Jangan terpancing emosi! Uncle tau betul siapa kamu! Sifat arogan yang ada pada Mas Ammar turun padamu!!! Dan Uncle, mencemaskan itu!!! Kamu mengerti Ziel?" tutur Dhana, memberikan peringatan dini pada keponakan sulungnya itu.
"Ziel tidak terlalu arogan seperti Daddy, Uncle. Ziel akan mengingat pesan Uncle. Kalau begitu kita berpencar." jawab Aiziel, meyakinkan sang uncle dengan tepukan lembut di bahu, berlalu pergi mencari jalan lain untuk menyusup.
Dhana menghela nafas panjang, menatap lekat punggung Aiziel yang bergerak cepat, menelusup semak belukar menuju lokasi di mana Gibran masih meringkus Mala. Tanpa berpikir lagi, Dhana pun beranjak, berjalan cepat menghampiri Gibran, tidak peduli lagi dengan suara bisik yang diciptakan langkah kakinya. Mengusik ketenangan Gibran dan kedua bodyguard nya, membuat mereka menoleh serentak ke sumber suara bisik itu.
"Dhana... ternyata kamu lebih mencintai istrimu dibandingkan anak-anak kamu!!! Atau... atau mereka saat ini sudah mati, dan berubah menjadi abu? Sungguh, ayah yang malang. Seorang ayah yang harus melihat kematian kedua anaknya secara langsung. Saya turut berduka cita atas kematian anak kamu dan Mala, Dhana. Besok saya akan mengirimkan karangan bunga turut berduka cita ke rumah kamu. Sebagai tanda kalau saya menghormati dan menghargai kamu." tutur Gibran yang dibuat-buat, seolah tidak merasa bersalah dan sedih melihat Dhana.
Dhana mendengus kasar, menahan emosi dalam hati, menahan diri untuk tidak hanyut dengan perkataan busuk lawan bicaranya, mengurut dada dalam bathin, mengontrol amarah yang ingin meledak sekarang juga.
"Lepaskan istri saya, Gibran!" seru Dhana.
"Hoho... sekarang kamu sudah berani ya, memanggil saya seperti itu! Padahal saya ingin berbaik hati sama kamu kalau kamu menuruti perkataan saya." jawab Gibran.
"Apa yang anda inginkan? Harta? Cafe? Atau anda ingin Cafe almarhumah adik saya? Silahkan anda ambil!!! Saya sudah tidak peduli lagi dengan semua itu!!! Saya yakin, jika adik saya masih hidup, dia pasti akan melakukan hal yang sama! Sekarang, saya minta anda lepaskan istri saya!" seru Dhana yang bergema dan terdengar serak.
"Hahahahaha... kamu ini lucu sekali sih. Sayangnya, saya sudah tidak tertarik lagi dengan Cafe adikmu yang sudah mati itu! Bisa ketularan sial saya kalau saya sampai memiliki Cafe orang yang sudah lama mati! Hahahahaha......" jawab Gibran tergelak.
Amarah yang berusaha ditahan rupanya meletus, layaknya erupsi gunung berapi, mengeluarkan larva panas ke sekitarnya, membuat orang di sekitar gunung itu lari berhamburan karena ketakutan, seperti itulah gambaran amarah Dhana. Kalimat hinaan yang terlontar dari bibir orang asing seperti Gibran terhadap adiknya, tidak bisa diterima, membuatnya geram, tidak tahan untuk menahan amarah yang berapi-api.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Amarah yang meletup seakan tersiram guyuran air hujan deras, mata terbelalak sempurna tatkala mendapati Aiziel yang muncul dari sisi lain langsung memukul kedua bodyguard dan juga Gibran sendiri dengan sangat keras, membuat kedua bodyguard Gibran yang bertubuh kekar itu pingsan hanya dengan satu pukulan Aiziel. Sementara Gibran jatuh tersungkur, hingga kini Aiziel berhasil mendapatkan sang anty kembali dengan secepat kilat.
Gibran mendengus kasar, menggiring mata ke arah Aiziel yang meraih lalu membawa Mala menjauh dari jangkauan tangannya, mengutuki diri sendiri yang tidak waspada, baru menyadari kalau ternyata Dhana tidak datang sendirian. Membuat Gibran terdiam sesaat, menoleh ke arah Dhana yang masih mematung, terpukau dengan aksi anak itu.
__ADS_1
"Sial!!! Percuma saja aku membayar mahal kalian!!! Baru terkena pukulan anak ingusan saja kalian sudah pingsan!!! Dasar bodoh!!!" tandas Gibran yang berusaha untuk bangkit.
Dhana menyeringai puas, melihat Gibran yang kini kalah telak, meruntuhkan sikap sombong yang semula menjulang tinggi namun runtuh, bahkan rata dengan tanah. Dhana melangkah, mendekati Gibran yang masih terlihat pening, menahan sakit pada tengkuk lehernya yang terkena pukulan.
"Allah tidak tidur, Pak Gibran!!! Beliau akan mendatangkan pertolongan dari mana saja. Terima kasih karena sudah melepas istriku!" ujar Dhana yang tersenyum, berbisik di telinga Gibran yang masih setengah oleng.
Dhana beranjak, menepuk bahu Gibran sesaat sebelum dirinya melangkah, telah berhasil menjatuhkan mental seorang Gibran yang terlanjur jahat karena dendam. Membuatnya tersenyum lega, melihat sang istri yang sudah selamat di tangan Aiziel. Tidak sabar ingin merengkuh tubuh sang pemilik hati, mencurahkan kerinduan yang berselimut ketakutan akan kehilangan lagi.
Grep!
Hap!
"Kamu pikir, saya akan kalah begitu saja? Tidak semudah itu, Dhana!!!" bisik Gibran.
Langkah yang lambat dibawa untuk cepat, menjangkau dua orang yang menantikan di depan sana, melihatnya dengan senyuman kelegaan. Namun, kaki yang melangkah seakan terpaku di atas tanah, lega karena Mala berhasil dilepaskan membuatnya lupa kalau lawannya saat ini masih belum kalah.
"Uncle!!!"
Aiziel terpekik, pandangan yang semula tertuju pada sang anty, kini mendongak, terperangah saat melihat pemandangan yang sungguh tidak diinginkan olehnya.
"Lepaskan saya!!!" tandas Dhana.
Pening yang masih dirasa, tidak sedikit pun menyurutkan Gibran untuk menyerah begitu saja, meringkus Dhana dari arah belakang, seraya menodongkan sebuah pistol yang disembunyikan di belakang tubuhnya pada Dhana. Tangan besar yang sangat kuat, membuat Dhana kesulitan untuk terlepas.
"Lepaskan uncle saya!!!" seru Aiziel.
"Seharusnya kamu tidak perlu ikut campur bocah ingusan!!! Jika kamu ingin dia lepas, kembalikan wanita itu pada saya!!! Biarkan saya pergi bersama wanita itu dan jangan mengikuti saya!!!" tandas Gibran yang gila.
"Jangan dengarkan dia, Ziel! Cepat bawa anty mu pergi dari sini! Jangan cemaskan Uncle!!! Cepat pergi dari sini!" timpal Dhana yang terus berusaha memberontak keras.
"Jika kamu nekat pergi membawa wanita itu, maka jangan salahkan saya jika salah satu di antara peluru pistol ini menembus kepala uncle kesayanganmu! Jadi pikirkan baik-baik, anak muda! Nyawa siapa yang harus kamu selamatkan lebih dulu!" timpal Gibran dengan seringai licik, menyeramkan.
"Jangan dengarkan dia, Ziel! Cepat pergi dari tempat ini dan bawa anty mu pulang! Pria ini hanya menginginkan anty mu! Dia tidak akan mencelakai Uncle! Dengarkan baik-baik perkataan Uncle, Nak!!! Cepat pergi dan selamatkan diri kamu dan Anty!" timpal Dhana yang masih terus bersikukuh.
"Hahahaha... siapa bilang aku tidak akan menyakiti kamu, Dhana? Di dalam aturan permainan ini, aku yang berkuasa!!! Kalian harus mematuhi perintahku!!! Kalau tidak... kamu bisa lihat pistol ini, wahai anak muda?" jawab Gibran yang menyeringai makin gila.
Mata Aiziel membulat sempurna, melihat tangan Gibran yang bermain pada bagian Hammer pistol. Jika ditekan, menandakan bahwa pistol siap meluncurkan pelurunya menuju sasaran. Membuat Dhana terdiam, mendengar suara hammer pistol Gibran di samping pelipisnya, membuatnya khawatir.
"Saya hitung sampai 10!!! Jika dalam hitungan ke 10 kamu tetap berada di sisi wanita itu, maka pelatuk ini akan berbicara!"
***
Ciittttt...
Decitan suara rem sepeda motor seketika terdengar nyaring. Si pengemudi sepeda motor pun membuka helm, menampakan wajah kusut Aifa'al yang penuh tinta hitam akibat kebakaran tadi. Selepas membuka helm Aifa'al merogoh saku celana, mencari sesuatu yang sangat ia butuhkan saat ini.
"Aaaarrrggggghhhhh!!! Kenapa aku baru ingat kalau ponselku sempat di ambil Bima! Sekarang aku harus apa? Menyusul Uncle dan Mas Ziel yang mungkin saat ini tengah melawan si Gibran tua bangka licik itu!!!"
Aifa'al mengerang, kesal dengan situasi buruk yang menimpanya saat ini, butuh ponsel untuk mencari tau keberadaan sang uncle dan mas sulungnya, namun ponsel yang ia punya ternyata sudah diambil Bima. Membuatnya terdiam, memikirkan cara lain yang bisa saja terlintas di dalam benaknya.
Tiba-tiba Aifa'al terjingkat, langsung turun dari motor lalu membuka jok motornya itu, memastikan jika ingatannya yang terbesit sesaat membuahkan hasil maksimal.
"Untung masih tersimpan di sini."
Aifa'al tersenyum lebar, mendapati ponsel lamanya yang masih bertahta di dalam jok motornya.
"Walaupun ponsel lama, paling tidak masih bisa digunakan untuk melacak Uncle dan Mas Ziel yang ceroboh! Dasar! Percuma saja kedudukannya lebih tinggi dariku, tapi otak Mas Ziel terlalu cetek! Tidak berpikir panjang untuk menghadapi situasi sulit seperti ini!!!"
Aifa'al terus meracau, kesal dengan sikap Aiziel yang langsung bergerak tanpa ada rencana, menyusul sang uncle tanpa tau terlebih dahulu siapa musuh sebenarnya.
"Tunggu, tunggu! Anty Mala dibawa si tua bangka itu, lalu Uncle dan Mas Ziel pergi mengejarnya. Yang mereka butuhkan saat ini pasti bukan aku, tapi bantuan. Ya, lebih baik aku mencari bantuan sekarang juga!!!"
Tangan yang semula sibuk menari di atas layar ponsel, kini ditarik kembali, memakai helm dengan cepat lalu melaju kencang, membuat Aifa'al hilang dalam sekejap mata, menyusuri jalan dengan tetap berpedoman.
***
__ADS_1
"Itu mobil Mas Sadha yang dibawa oleh Dhana, Mas!!!"
Sadha tersentak, menginjak pedal rem tiba-tiba, membuat semuanya terkejut karena mobil yang berhenti mendadak.
"Kenapa mobil Papa berdiri di dekat rel kereta api seperti itu?" ujar Syahal yang mengeryit heran.
"Rel kereta api Mas?" timpal Damar.
"Iya, itu ada plang nya." jawab Syahal.
Damar dan Wulan saling pandang dengan mata terbuka lebar, menoleh ke arah tunjuk Syahal dan memang benar, terpampang jelas sebuah simbol adanya rel kereta api.
Papi... Mami... Tidak, tidak, tidak... Pak Gibran pasti tidak senekat itu pada Mami dan Papi. Aku harus menolong mereka. Gumam Wulan dalam hati yang gelisah.
Wulan bergeser, membuka pintu mobil tanpa persetujuan yang lainnya, membuat semuanya terkejut dengan tindakannya.
"Adek..."
Damar menghambur keluar dengan cepat untuk menghalangi sang adik. Disusul pula oleh Sadha, Imam, Syahal dan Syahil yang ikut menghambur keluar dari mobil mereka.
"Adek... tunggu!!!" pekik Damar, meraih tangan sang adik yang belum terlalu jauh.
"Aaaa... aaaaa... aaaaaaa... aaaa... aaa... aaaa, aaa!!!" jawab Wulan dengan isyarat, menangis tergugu, terlihat menahan sasak.
"Mas sangat mengerti, Dek! Tapi bukan seperti ini caranya. Kalau Adek bersikap nekat, bukan hanya Papi dan Mami yang dalam bahaya tapi Adek juga!" ujar Damar, menenangkan sang adik yang menangis.
"Aaaa... aaaa... aaaaa... aaaaaa, aaa!!!" jawab Wulan yang terisak seketika, rasa sesak menyelimuti jiwanya.
Damar yang tidak tahan melihat sang adik terisak pun merengkuh tubuhnya, memberi kekuatan yang masih tersisa, memancing bulir bening yang terbendung sejak lama. Membuat kaki Sadha, Imam, Syahal dan Syahil yang melangkah terhenti seketika.
"Papi dan Mami pasti selamat, Dek."
Wulan semakin terisak, membenamkan wajah ke dalam dada bidang sang mas kembar, berdoa dalam bathin agar sang papi dan mami selamat dari bahaya Gibran.
Ya Allah... tolong lindungi Papi dan Mami Wulan. Mereka harus selamat dari orang jahat seperti Pak Gibran. Jangan biarkan Pak Gibran menyakiti Papi, apalagi Mami. Gumam Wulan dalam hati yang menjerit.
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
Translate bahasa Wulan check ✅
Adek ingin menyelamatkan Papi dan Mami, Mas!
Tapi Mami dalam bahaya, Mas!
__ADS_1
Segitu sayangnya Wulan sama maminya, belum tentu Mala bakal seperti itu di saat Wulan diculik kemarin 😭🤧 Ya kan? 😫