
...☘️☘️☘️...
"Syahil... kamu jangan mempermainkan perasaan Adek ya!!! Kalau kamu berniat untuk itu, maka jangan pernah berharap maaf itu akan kamu dapatkan!"
Wulan terperanjat, menoleh ke arah sang papi yang tak kalah terkejut melihat emosi Syahal yang tak kunjung reda pada adik kembarnya. Kepercayaan yang sudah hancur, tidak mudah untuk dikembalikan lagi, luka atas caci dan maki yang sudah terlalu dalam, tidak mudah untuk sembuh. Walaupun Syahil menghina Wulan namun rasa sakit yang dirasakan Syahal sebagai kakak, tak jauh berbeda dengan Wulan.
Sementara Aiziel yang sebenarnya sama dengan Syahal, memilih untuk menatap mata Syahil, mencari kebohongan yang mungkin sedang disembunyikan. Namun sesaat setelah Aiziel menatap lekat mata yang berembun itu, tidak ada kebohongan, melainkan rasa bersalah dan ketulusan.
"Syahal, Syahal... kamu tenang dulu, Nak. Tidak baik menuduh adikmu sendiri seperti ini. Lebih baik kita duduk dulu, kita bicara baik-baik dengan kepala dingin. Jangan emosi seperti ini. Uncle tidak mau melihat kalian berkelahi lagi! Sudah cukup! Ya?"
Dengan penuh kesabaran ekstra, Dhana menuntun Syahal untuk duduk di ruang tamu. Sementara Syahil dituntun Damar dan Wulan, membawanya duduk untuk bicara dengan tenang tanpa adanya emosi jiwa. Setelah semuanya duduk berkumpul dan terlihat lebih tenang, Dhana pun menghela nafas panjang, menoleh ke arah sang putri yang mengangguk, seakan memberi kuasa pada sang papi untuk menyelesaikan hal ini.
"Syahil... sebenarnya Uncle juga berpikiran yang sama dengan Syahal. Entah kenapa Uncle tidak yakin dengan perubahan sikap kamu yang mendadak ini. Sebenarnya apa yang membuat kamu tiba-tiba datang lalu ingin minta maaf pada Uncle, terutama adik kamu yang selama ini kamu caci maki itu?"
Syahil masih tertunduk, hatinya tercubit tatkala mendengar penuturan sang uncle yang memang benar. Sejak ia mengetahui kekurangan sang adik, membuatnya malu dan takut jika ia ikut diejek karena memiliki seorang adik sepupu yang cacat. Ditambah lagi dengan Aifa'al yang memiliki pendapat yang sama dengannya, membuat Syahil buta hati dan lupa akan kasih sayang yang pernah ia berikan pada Wulan sebelum kebenarannya terungkap bahwa sang adik tidak bisa bicara.
Hening!
Dhana menghela nafas, berusaha untuk tetap tenang walaupun ia merasa kalau perkataannya pada Syahil terlalu keras dan cenderung tidak mempercayainya. Namun hanya dengan cara inilah, ia bisa melihat dan mengetahui apa sebenarnya niat Syahil.
"Setelah kejadian tadi malam, ditambah dengan perkataan Mas Syahal sebelum Syahil kembali ke apartment, saat Syahil sampai di apartment, Syahil memutuskan untuk istirahat dan tidur. Saat Syahil tidur, Onty... Onty Dhina mendatangi Syahil di dalam mimpi, Uncle." tutur Syahil yang masih tertunduk sedih dan berurai air mata.
"Apa?" ujar Dhana yang terkejut.
"Onty Dhina menangis dan sedih melihat Syahil selalu bersikap buruk pada Adek Wulan. Onty kecewa dan marah pada Syahil, tapi Onty hanya menangis terisak sampai akhirnya Onty pergi lagi. Namun di saat Onty ingin pergi, Onty Dhina berpesan sesuatu dan nada bicaranya seperti marah. Syahil takut dan ikut menangis saat melihat tatapan mata teduh Onty saat mengatakan pesan sebelum pergi." tutur Syahil seraya menatap nanar semuanya, satu per satu.
"Memang apa yang dikatakan Onty, Mas?" tanya Damar yang penasaran, takut kalau mimpi Syahil sama dengan mimpinya.
Syahil menghela nafas berat, menatap Wulan yang sejak tadi juga melihatnya dengan tatapan heran, bertanya-tanya.
"Onty bilang, Onty akan membawa Adek pergi, jika masih ada kebencian untuknya!" jawab Syahil yang menoleh ke arah Damar.
"Kenapa mimpi kita sama Mas? Di mimpi Damar, Onty juga datang dan mengatakan hal yang sama seperti itu. Apakah mungkin ini hanya kebetulan? Apakah ini pertanda?" ujar Damar yang terperangah tidak percaya jika mimpinya dengan Syahil sama.
Dhana termangu, berusaha untuk menepis ketakutan yang datang membelenggu, hati kecilnya berkata kalau mimpi itu pertanda, namun pikirannya menolak seakan mimpi keduanya itu hanya kebetulan semata dan hanya lah sebuah bunga tidur. Namun hati Dhana lebih mendominasi, bahwa sebuah pertanda sudah menyelimuti putrinya.
Apa yang sebenarnya ingin Adek katakan? Kenapa Adek tidak menemui Mas? Katakan apa yang harus Mas lakukan untuk masalah ini, kalau Adek mempunyai solusinya. Mas mohon jangan menakuti Mas seperti ini, Dek. Sudah cukup Mas kehilangan Adek. Mas tidak sanggup jika harus kehilangan Wulan juga. Lebih baik Mas yang Adek bawa. Biar kita bisa bersama-sama lagi seperti dulu. Gumam Dhana dalam hati.
__ADS_1
Kenapa Onty Dhina bicara seperti itu di dalam mimpi Syahil dan Damar? Apakah ini pertanda buruk atau hanya gertakan Onty Dhina agar Anty Mala bisa merubah sikap buruknya pada Wulan? Tapi kenapa Onty mendatangi Syahil dan Damar, bukan Anty Mala langsung? Bahkan seharian ini aku belum melihat Anty Mala. Gumam Aiziel dalam hati.
Pertanda apa ini? Apakah mungkin nasib Wulan akan berakhir sama dengan onty-ku yang malang itu? Tidak, tidak, tidak... Onty Dhina pasti hanya ingin memperingatkan Syahil agar anak itu berubah. Dan akhirnya terbukti, Syahil datang untuk minta maaf. Gumam Syahal dalam hati.
Tanpa Dhana sadari, bulir kristal dari mata indahnya mengalir tanpa permisi, menarik perhatian Wulan yang duduk di depannya. Suasana menjadi hening, tidak satu pun di antara mereka yang berbicara setelah mendengar cerita menakutkan Syahil dan Damar. Sementara Wulan terlihat bingung dengan situasi ini, tidak bisa bicara namun harus bicara untuk menenangkan semua orang yang ia sayangi karena mimpi itu.
Wulan yang bingung, meraih note kecilnya, menuliskan sesuatu untuk sang papi beserta keempat masnya yang masih termenung dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
'Papi, Mas Syahil, Mas Damar... Onty Dhina tidak mungkin akan membawa Adek pergi. Bagaimana bisa Adek ikut dengan onty kita itu, kalau Adek sendiri yang akan menolak! Jangan terlalu memikirkan mimpi itu! Onty Dhina hanya merindukan kebersamaan dan keharmonisan keluarganya yang utuh, tanpa ada yang berselisih paham. Karena itu, Onty Dhina menemui Mas Syahil dan Mas Damar. Percayalah, kalau yang dikatakan Onty itu tidak benar karena Onty Dhina tidak akan pernah memisahkan Adek dengan semua orang yang Adek sayangi di dunia ini. Papi sendiri yang bilang, kalau Adek dilahirkan sebagai pengganti Onty Dhina yang pergi. Kalau Adek ikut pergi, lalu siapa yang akan menjadi ratu satu-satunya di hati kalian'
Panjang lebar Wulan menulis dengan kecepatan angin, setelah itu ia sodorkan pada sang papi yang masih termenung.
Dhana terkesiap, melihat dua buah note milik sang putri tepat di depan matanya. Sesaat Dhana menoleh ke arah sang putri yang mengulas senyum simpul nan cantik, lalu mengambil dua note itu dan membaca isinya dengan suara yang keras, membuat Aiziel, Syahal, Syahil, dan Damar yang termenung ikut mendengarkan isi note itu.
Seketika seutas senyum ketenangan yang diberikan Wulan menjalar, menarik kedua sudut bibir yang melihat senyum manis itu.
"Tapi Papi takut, Sayang. Kalau adik Papi benar-benar akan membawa putri Papi ini." ujar Dhana seraya menggenggam tangan Wulan dengan erat dan menciumnya.
Wulan tersenyum getir, merasakan kasih sayang yang teramat luar biasa dari sang papi, membuatnya berandai kembali jika kasih sayang sang papi juga dimiliki oleh sang mami tersayang yang masih enggan menerima kehadirannya di dunia ini.
'Papi jangan takut. Adek tidak akan pernah pergi ke mana pun karena Adek akan terus ada di samping Papi'
"Jadi karena itu kamu berubah Syahil?" tanya Dhana seraya melerai pelukannya, menoleh ke arah Syahil dan membahas kembali permasalahan yang tertunda.
"Bukan karena itu saja, Uncle. Dari mimpi, kejadian yang menimpa Adek tadi malam, dan perkataan Mas Syahal, membuat hati Syahil yang tertutup ego dan gengsi, kini terbuka lagi. Syahil jadi sadar kalau Adek memang tidak berhak untuk dibenci hanya karena keterbatasannya. Kalau Syahil yang berada di posisi Adek, mungkin Syahil tidak akan sekuat dia, Uncle." jawab Syahil yang penuh keyakinan dan ketulusan, terlihat di matanya yang masih berkaca-kaca.
Dhana menghela nafas panjang, beranjak dari duduknya lalu mendekati Syahil yang mengeryit heran melihat tatapan sang uncle, meraih bahunya dan membawa tubuh itu untuk berdiri kembali. Tatapan mata basah keduanya pun saling bertemu dan...
Grep!
Syahil tertegun tatkala sang uncle menarik tubuhnya masuk ke dalam pelukan hangat. Pecah sudah tangis penyesalan Syahil saat memeluk sang uncle, memancing air mata yang lain untuk jatuh berurai lagi. Membuat emosi Syahal yang memuncak, menguap begitu saja setelah mendengar alasan sang adik berubah. Ternyata ada hidayah yang Syahil dapatkan dari mimpinya bertemu dengan sang onty hingga membawanya ke jalan yang sangat tepat.
"Tidak perlu minta maaf, Nak. Uncle tidak pernah marah atau pun benci sama kamu. Kamu itu anak masnya Uncle. Itu artinya, kamu anak Uncle juga. Jadi kamu jangan merasa bersalah lagi ya, karena tidak ada yang salah di sini. Uncle mengerti kalau sebenarnya kamu dan Al sangat sayang pada Wulan. Tapi karena sesuatu hal dan lainnya yang membuat kalian menjauh. Sekarang, Uncle senang sekali melihat perubahan kamu ini, Syahil. Terima kasih karena sudah menerima putri Uncle." ujar Dhana yang masih memeluk erat Syahil.
"Syahil yang harusnya berterima kasih, Uncle. Maafkan semua kesalahan Syahil selama ini. Syahil janji akan menyayangi Adek, karena Adek adalah adik Syahil." jawab Syahil di sela-sela isak tangisnya.
Dhana mengangguk seraya mengeratkan pelukannya pada Syahil. Suasana hening seketika menjadi haru biru, membuat air mata penuh rasa syukur mengalir tanpa henti. Syahil melerai pelukannya, berjalan mendekati sang saudara kembar yang ikut menangis, lalu menghambur memeluknya.
__ADS_1
"Syahil minta maaf, Mas. Selama ini Syahil hanya menjadi adik kembar yang tidak tau diri dan keras kepala. Selalu membuat Mas, Papa dan Mama kecewa. Selalu membuat Mama menangis. Syahil minta maaf, Mas." tutur Syahil yang memeluk erat Syahal.
"Mas juga minta maaf ya, Dik. Selama ini Mas hanya mementingkan emosi tanpa memikirkan perasaan kamu. Mama dan Papa pasti senang melihat kamu seperti ini. Mas bangga sama kamu, Syahil. Mas juga sayang sama kamu." jawab Syahal seraya mengusap lembut punggung sang adik.
Syahil mengangguk, menyeka air matanya yang terus mengalir tanpa henti, lalu Syahil melerai pelukannya, mendekati Aiziel yang mengulas senyum simpul penuh rasa haru padanya. Melihat itu, Syahil pun langsung memeluk Aiziel dan tampak menangis lagi.
"Syahil minta maaf, Mas. Syahil banyak salah pada Mas Ziel. Syahil minta maaf karena Syahil belum membawa Mas Al pulang untuk minta maaf. Tapi Syahil janji akan berusaha untuk melunakkan hati Mas Al agar dia juga bisa berubah." tutur Syahil yang memeluk Aiziel dan merasa bersalah.
"Mas juga minta maaf ya. Mas juga sering emosi sama kamu. Untuk masalah Al, jangan terlalu kamu pikirkan. Biarkan waktu yang akan membawanya datang ke sini dan minta maaf pada Uncle dan Wulan. Terima kasih karena kamu sudah menolong Adek tadi malam dan berubah menjadi seperti ini. Mas juga sayang sama kamu, Syahil." tutur Aiziel seraya mengusap punggung Syahil.
Syahil mengangguk lagi, melerai pelukan, menghampiri Damar dan Wulan, menarik keduanya ke dalam dekapan tubuhnya.
"Mas minta maaf ya, Damar, Adek. Mas banyak salah sama kalian, apalagi Adek. Mas benar-benar minta maaf. Mas tidak menyangka kalau Bima ingin mencelakai Adek dan malah kamu yang celaka, Damar." tutur Syahil yang memeluk keduanya.
"Damar tidak apa-apa, Mas. Ini hanya kesalahpahaman kecil di antara Damar dan Bima. Mas Syahil jangan merasa bersalah." jawab Damar yang membalas pelukan itu.
"Mas berharap agar hubungan kita akan kembali seperti dulu. Mas sayang sama kalian berdua." ujar Syahil seraya mengecup kepala keduanya secara bergantian.
Suasana haru biru begitu kentara di ruang tamu rumah Pak Aidi, memancing kedua sudut bibir Dhana, Aiziel, dan Syahal untuk terangkat serentak hingga membentuk seutas senyum penuh rasa syukur.
"Syahil... apakah kamu sudah pulang ke rumah Nak?"
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
Akhirnya, Syahil sadar juga setelah sekian tahun membenci Wulan 🤧🤧 sepertinya Dhina memang harus ikut andil deh wkwk, apa perlu si Dhina author bangunin lagi🤭 kok malah terkesan horor ya wkwk jangan deh, nanti bukannya menyelesaikan masalah malah pada pingsan semua pas ngeliat Dhina bangkit wkwkwk 🤭🤭🤭
Wkwk ngak kok, author cuma bercanda sekedar intermezo setelah puas menitikan air mata karena nulis part in 🥲🤭 tokoh yang sudah meninggal, ngak akan pernah bisa bangun lagi sama seperti di dunia 🥺
__ADS_1
Oke, terima kasih banyak semua sahabat yang author sayangi dan selalu mengikuti perjalanan kisah Wulan 😘 Tetap semangat walaupun pandemi belum berakhir 👍👍👍 see you next part tomorrow 😘