Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 142 ~ Menyampaikan Pesan


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Mas... kamu yakin rencana yang kamu buat dengan Pak Bram dan Bu Kinan itu akan berhasil? Aku takut, Mas!"


Setelah pembicaraan panjang berlalu, disambung acara makan malam bersama dengan Bram, Kinan dan juga Rumi yang alhamdulillah sudah sadar dari pingsannya. Membuat semua orang merasa sangat lega, terkhusus Bram. Melihat kondisi sang adik yang baik-baik saja setelah diperiksa lebih jauh oleh Ammar. Tidak hanya itu, Ammar juga memberikan resep obat untuk Rumi, membuat Bram terharu dengan keluarga ini, kendati suasana makan malam terasa aneh, tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun dari mulut mereka setelah pembicaraan mengharukan dari bibir Ammar pada Bram.


Kini Bram dan Rumi sudah pulang, kembali ke rumah yang sempat mereka tempati itu. Begitu juga dengan Kinan, memilih pulang setelah pembicaraan panjang terselesaikan dengan baik, menyusun rencana yang apik untuk menangkap si benalu seperti Gibran.


"Mas... kenapa diam saja?"


Dhana tersentak, mendapati cubitan maut sang istri yang tengah duduk bersandar di tepi tempat tidur Wulan. Sementara Dhana sendiri juga tengah bersandar di sisi lain, di tepi tempat tidur sang putri. Posisi pasutri romantis itu kini tengah menjadi pelindung untuk putra putri mereka yang telah terlelap. Bisa dibayangkan bukan siapa yang ada di tengah-tengah mereka? Di sisi Mala ada Damar, dan di sisi Dhana ada Wulan. Begitu indahnya pemandangan keluarga kecil ini.


Dhana mengulas senyum manis, namun tangannya mengelus lembut surai hitam sang putri yang sangat lebat itu, berpindah kemudian pada kepala sang putra yang tak kalah terlelap di tengah-tengah mereka. Membuat senyum di bibir lelaki dua anak berusia 43 tahun itu semakin mengembang, menatap lembut wajah kedua malaikat kecilnya yang tertidur pulas dengan wajah polos itu. Lalu Dhana mendongak, menatap lembut sang istri yang juga menatapnya.


"Kamu tenang saja, Sayang. Aku yakin rencana kita kali ini tidak akan gagal lagi." jawab Dhana, meyakinkan Mala dengan suaranya yang sangat pelan.


"Tapi aku takut akan terjadi sesuatu pada putriku, Mas. Sebaiknya kita jangan nekat. Lelaki seperti Gibran itu sangat berbahaya untuk Wulan, Mas." ujar Mala, tak tenang.


"Kamu percaya sama aku 'kan Sayang? Di saat seperti ini aku sangat membutuhkan dukungan dan do'a kamu, agar rencana kita semua bisa berjalan dengan lancar. Aku janji sama kamu, Wulan akan baik-baik saja." jawab Dhana, mengelus pipi sang istri dengan lembut dan cinta.


"Tapi aku benar-benar cemas, Mas." ujar Mala, mendadak gamang dengan rencana suaminya.


Dhana mengulas senyum, tangannya mengelus lembut surai hitam sang istri yang terurai indah, berusaha menghapus kegelisahan hati sang istri.


"Coba kamu lihat kalung yang aku berikan pada putri kita ini? Dan cincin yang aku berikan pada Damar, Syahal, Syahil dan juga Aifa'al di saat Bram, Rumi dan Bu Kinan pulang setelah makan malam bersama di rumah kita tadi? Di dalam kalung dan cincin yang anak-anak pakai, ada sesuatu yang akan membantu rencana kita nanti." tutur Dhana, meraih kalung berlian yang Wulan pakai dan menoleh ke arah cincin di jari Damar.


"Maksud Mas Dhana apa? Sesuatu apa Mas?" tanya Mala, mengeryit heran, tidak mengerti.


"Nanti kamu akan tau sendiri, Sayang. Yang pasti, anak-anak kita sekarang sudah aman dan terjaga. Mereka akan baik-baik saja." jawab Dhana, terus meyakinkan sang istri yang tampak gelisah.


"Ihh...! Kamu ini kenapa sih Mas? Main rahasia sama aku! Memang ada apa di dalam kalung dan cincin anak-anak? Aku penasaran!" sungut Mala.


"Tidak perlu kamu pikirkan, Sayang. Lebih baik sekarang kita masuk ke kamar kita saja ya. Aku tidak ingin mengganggu tidur lelap anak-anak." ujar Dhana, beranjak lalu mendekati sang istri.


Mala menyungut geram, menatap jengah sang suami yang hanya mengulum senyum, meraih tangannya yang malas sekali untuk beranjak dari sisi sang putra tercinta. Namun bujuk rayu Dhana membuat Mala luluh jua akhirnya, setelah mencium kening kedua anak kembarnya dengan lembut, Mala pun ikut beranjak. Sementara Dhana, dengan posesifnya ia merangkul pinggang istrinya yang masih sexy dan ramping itu, kendati usia sang istri kini sudah menginjak kepala empat.


***


Drrrrttt!


Getaran suara ponsel di atas nakas mengagetkan Aifa'al yang tengah duduk santai seraya bersandar pada headboard tempat tidurnya di kamar rumah sang opa. Pemuda tampan itu memilih untuk tetap berada di sini kendati Ammar sudah berusaha kuat membujuknya pulang, dengan alasan Aifa'al ingin berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Dimas atau anak geng motornya yang berandal itu datang kembali. Alhasil sang daddy hanya pulang bersama pakliknya, sekaligus akan mengantar Rainar.


"Ck! Apa tidak ada waktu lain untuk mengganggu kesenangan orang yang sedang istirahat malam!!"


Aifa'al bergeser perlahan, membawa tubuhnya meraih ponsel yang terus bergetar tanpa henti sejak tadi. Membuatnya kesal ketika mata melihat nama seseorang yang ada di layar ponselnya itu.


"Ada apa Ken?"


Ternyata Kenzie lah yang menghubungi Aifa'al di kala malam beranjak larut, seakan tak peduli dengan cuaca malam ini yang dingin setelah beberapa jam hujan lebat mengguyur ibu kota.


"Gue mau bicara sama lo sebentar, Al."


"Gue tidak bisa!"


"Please...! Sebentar doang, Al! Gue sudah di depan pagar rumah opa lo!"


"Mau bicara apa sih? Gue tidak punya urusan apa-apa lagi sama lo, apalagi Black Moon! Jadi lebih baik lo pulang saja karena gue tidak akan keluar buat nemuin lo!"


"Tunggu, Al! Sekali ini saja, please! Setelah ini, gue janji tidak akan mengganggu lo lagi!"


Aifa'al mendengus samar, meluapkan kekesalan hatinya dengan sikap Kenzie yang keras kepala.


"Oke! Gue keluar!"


Sambungan telepon terputus karena Aifa'al memutusnya secara sepihak tanpa menunggu jawaban Kenzie yang tengah menunggunya di luar pagar rumah sang opa. Dengan hati yang kesal, Aifa'al beranjak lalu berjalan tertatih-tatih, sebab kakinya masih terluka karena sandiwara Bram.


"Al... kamu mau ke mana Sayang?"


Langkah Aifa'al yang tertatih itu harus terhenti ketika baru saja ia menjajakkan kaki pada anak tangga di lantai bawah, membuatnya terjingkat tatkala mendapati suara lembut sang oma yang ternyata belum masuk ke kamar untuk istirahat. Sementara Bu Aini mengeryitkan dahi, menatap sang cucu tengah yang tiba-tiba keluar dari kamar dengan cara mengendap-ngendap seperti maling.


"Al mau keluar sebentar, Oma. Mau cari angin." jawab Aifa'al, gugup menghadapi sang oma.


"Tapi ini sudah malam, Sayang. Kaki kamu juga masih sakit. Tidak usah ya! Besok saja mencari anginnya. Lagi pula cuaca di luar sangat dingin, Sayang. Lebih baik kamu tidur! Istirahat seperti adik-adik kamu yang sudah pada tidur!" seru Bu Aini, seraya mengelus lembut kepala sang cucu.


"Tapi Oma, Al ada..."


"Oma tidak ingin dibantah! Oma tidak mau kalau sampai Daddy dan Mommy kamu khawatir! Oke?" pungkas Bu Aini, tegas namun tetap lembut.


"Ya, Oma..." jawab Aifa'al, lesu.

__ADS_1


"Ayo, Oma antar ke kamar." ujar Bu Aini.


"Tidak perlu, Oma. Al bisa sendiri. Lebih baik sekarang Oma istirahat juga. Jangan bisanya menyuruh Al saja! Kasihan Opa menunggu Oma lama-lama di kamar! Nanti Opa kedinginan loh." sungut Aifa'al, kesal seraya mengulum senyum.


"Ck! Dasar anak nakal! Mentang-mentang sudah dewasa, bisa-bisanya dia berpikiran seperti itu!" sungut Bu Aini, mengusap gemas kepala Aifa'al.


Aifa'al mendengus geli, melihat ekspresi wajah sang oma yang mendadak merah seperti tomat, malu saat mendapatkan godaan dari sang cucu.


"Ya sudah, Oma mau ke kamar dulu! Dan kamu, jangan coba-coba untuk keluar dari rumah ya!" seru Bu Aini, menunjuk Aifa'al yang santai.


"Iya omaku sayang." sahut Aifa'al, kencang.


Bu Aini menggeleng kepala, gemas melihat sikap sang cucu yang masih tetap sama dari sejak dulu, lalu melangkah pergi menuju kamar. Sementara Aifa'al masih terpaku di tempatnya, membiarkan sang oma masuk ke dalam kamar lebih dulu agar ia bisa melanjutkan langkah keluar dan menemui Kenzie.


Ceklek!


Pintu utama pun dibuka seperlahan mungkin agar tidak ada satu pun orang yang mengetahuinya, kendati tetap mengeluarkan suara yang cukup keras. Namun Aifa'al tidak segegabah itu ketika mengendap-ngendap, hal seperti ini sudah biasa dilakukannya dulu ketika hatinya masih keras.


Aifa'al keluar, menyembulkan kepala lebih dulu, memastikan kalau Kenzie memang ada di depan pagar rumah sang opa. Sementara Kenzie yang sudah menunggu di depan pagar hanya terduduk diam di atas motor, menantikan kedatangan Aifa'al yang belum menunjukan batang hidungnya.


"Ck! Ternyata dia benar-benar ada di sana!"


Dengan rasa jengah Aifa'al pun berjalan perlahan, menutup pintu agar tidak ada orang yang curiga saat melihat pintu utama terbuka di larut malam.


"Cepat bicara! Gue tidak punya banyak waktu!"


Tanpa basa-basi sedikit pun Aifa'al langsung menunjukan sikap tak sukanya pada Kenzie yang tiba-tiba berkunjung malam ini setelah membuka pintu gerbang, dan membuat Kenzie terkesiap. Namun alih-alih menjawab, pandangan Kenzie justru tertuju pada kaki Aifa'al yang terbalut itu. Kenzie terdiam, menatap lekat kaki sang teman yang sepertinya sedang terluka parah.


"Kaki lo kenapa Al?"


"Tidak apa-apa! Ayo cepat bicara!"


"Tapi kaki lo kenapa? Kenapa seperti itu?"


"Bukan urusan lo! Jadi cepat lah bicara sesuai keinginan lo semula! Bukan mengintrogasi gue!"


"Tapi gue juga pengen tau, Al! Kaki lo kenapa?"


Aifa'al mendengus samar, menggeram dalam hati melihat sikap Kenzie yang penasaran dengan luka di kakinya itu.


"Semua ini karena Dimas!"


"Apa? Kapan? Kenapa gue tidak tau?"


Kenzie mengeryit, berusaha mengingat sesuatu yang tiba-tiba saja melintas spontan di pikirannya.


"Ohh...! jadi ini rencana rahasia Dimas bersama anak-anak geng Tiger! Pantas saja anak itu tidak melibatkan gue dan anak-anak Black Moon yang lainnya...!" sahut Kenzie, mengerti dengan sikap Dimas yang memang sudah aneh sejak paginya.


"Terus apa peduli lo? Kalau pun lo ada, lo tidak akan mungkin 'kan mencegah kegilaan anak itu?" timpal Aifa'al, menyindir Kenzie dengan seringai.


Kenzie terdiam, membenarkan sindiran Aifa'al, bahwa dirinya pun juga tidak berani melawan Dimas jika tidak ada Bima di antara mereka.


"Lo mau bicara atau diam saja?!"


"Oke... gue ke sini untuk memberitahu lo kalau Bima sudah bebas dari penjara."


"Terus apa hubungannya sama gue?"


"Gue ingin menyampaikan pesan Bima untuk lo, sebelum dia pergi dibawa nyokap nya ke Amerika."


"Ohh, jadi anak itu sudah pergi! Baguslah!"


"Iya, Al. Bima dibawa nyokap nya tadi siang. Dia menitipkan pesan permintaan maaf untuk lo, Al."


Aifa'al tergelak lirih, mendengar perkataan Kenzie yang menjadi perantara salam Bima yang saat ini sedang melakukan perjalanan panjang ke Amerika. Sementara Kenzie hanya terdiam, melihat respon Aifa'al yang dapat ia tebak akan ke mana nantinya.


"Hahaha... maaf? Bima minta maaf? Sorry, Ken! Gue tidak akan pernah mau menerima maaf dari bajingan itu sampai kapan pun! Bajingan itu yang sudah membuat gue hampir kehilangan adik-adik gue! Bima tidak pantas mendapatkan maaf dari siapa pun!" pungkas Aifa'al, menahan geramnya.


"Gue cuma mau menyampaikan pesan saja, Al. Walaupun Bima memang tidak mengatakannya tulus dari hati, tapi yang namanya pesan harus tetap disampaikan." jawab Kenzie, tetap tenang.


"Kalau begitu lo boleh pergi! Karena pesan lo itu sudah membuang waktu gue yang berharga!!!" pungkas Aifa'al yang memberikan tatapan tidak sukanya pada Kenzie.


"Gue tidak akan pergi, Al! Karena masih ada sesuatu hal yang harus gue katakan sama lo?" jawab Kenzie, masih bersikap santai dan cool.


"Apa lagi? Gue sudah muak berurusan sama anggota geng motor berandalan seperti lo!!!" pungkas Aifa'al yang semakin tidak menyukai kehadiran Kenzie di depan rumahnya kini.


Kenzie menghela kasar, menepis kekesalan yang sebenarnya sudah menyeruak dalam hati, kesal melihat sikap Aifa'al yang dingin dan tidak peduli.


"Lo 'kan? Yang sudah membebaskan Bima!"

__ADS_1


"Ck! Presepsi macam apa itu? Lo pikir gue akan membebaskan orang yang jelas-jelas bersalah dan ingin mencelakai adik-adik gue? Tidak akan, Ken!"


"Tapi gue yakin, kalau orang itu lo!"


"Terserah! Gue tidak peduli dan tidak mau tau!"


Kenzie menghela berat, membuatnya semakin yakin dan percaya bahwa memang bukan Aifa'al yang telah membebaskan Bima, jika dilihat dari sikap Aifa'al yang acuh dan memang tidak peduli.


"Satu hal lagi, Al! Bima sudah menyelesaikan Dimas!"


"Bagus dong! Jadi gue tidak perlu mengotori tangan gue untuk menghabisi di brengsek itu!"


"Dan sekarang Dimas hilang tanpa kabar."


"Biarkan saja! Gue sama sekali tidak peduli!"


"Ya sudah, kalau begitu gue pamit dulu."


"Ya! Lebih baik memang seperti itu dan jangan pernah temui gue lagi!"


"Tapi gue masih berharap kalau lo dan Syahil bakalan balik lagi menjadi anggota geng motor."


"Simpan saja harapan lo itu, Ken! Gue dan Syahil sama sekali tidak tertarik untuk bergabung lagi!"


"Gue harap lo akan menjilat air ludah lo sendiri nantinya, Al!"


"Tidak akan pernah! Pergi lo dari sini!"


Kenzie mengepal tangan, menahan amarah yang membuncah sejak tadi, mendapati sikap Aifa'al yang sesungguhnya di depan mata, membuatnya menyesal seketika karena harus menuruti Bima. Sementara Aifa'al tersenyum miring, puas sekali merespon setiap penuturan Kenzie dengan sikap dinginnya, mengusir Kenzie secara halus sehingga anak muda blasteran Indonesia Brazil itu pergi jua.


Greng!


Sepulang Kenzie, Aifa'al pun beranjak. Hendak kembali masuk sebelum ada penghuni rumah yang memergokinya berada di luar rumah seperti ini.


"Siapa yang sudah membebaskan Bima, Mas?"


Aifa'al terperanjat, mendengar suara seseorang yang hampir membuatnya terjatuh karena kaget.


"Syahil..."


Mata Aifa'al membulat sempurna, mendapati kehadiran sang adik yang berdiri di ambang pintu seraya bersandar dan menyilangkan tangannya. Menatapnya tajam, setajam elang yang hendak menerkam mangsanya. Sementara Syahil yang berdiri di ambang pintu, berjalan. Menghampiri sang mas tengah yang terkejut dan memegangi kakinya.


"Syahil sudah mendengar semuanya! Ternyata Bima sudah bebas, dan ada orang misterius yang ingin bermain-main dengan keluarga besar kita! Apa dugaan Kenzie benar, bahwa Mas lah yang telah membebaskan Bima dengan uang jaminan! Dan sekarang anak itu sudah pergi ke Amerika!" tutur Syahil, menatap mata Aifa'al yang bulat.


"Kamu mencurigai Mas?" tanya Aifa'al.


"Tidak ada asap kalau tidak ada api, Mas!" pungkas Syahil.


"Bukannya kamu sendiri yang menolak untuk membahas masalah Bima? Bukannya malam itu kamu, Syahal, Mas Ziel dan Damar yang menolak untuk membicarakan tentang Bima? Dan kalian sendiri sudah mendengar keputusan Mas, bukan? Kalau Mas akan mengikuti permintaan kalian! Lalu sekarang apa lagi? Kamu malah mencurigai Mas?" ujar Aifa'al balik, membuat Syahil diam sesaat.


"Lalu kenapa Kenzie menemui Mas? Bahkan dia juga yakin kalau Mas yang membebaskan Bima!" jawab Syahil, berusaha tenang walaupun emosi.


"Kamu sudah mendengar semuanya 'kan? Dan yang kamu dengar tadi itu sudah menjawabnya." ujar Aifa'al, berusaha meyakinkan sang adik.


"Tapi Syahil ingin mendengarkan kejujuran Mas langsung! Mas bisa membohongi Ken, tapi Syahil tidak bisa Mas bohongi!" pungkas Syahil, kesal.


"Dan kamu malah mempercayai Ken, daripada mempercayai masmu ini? Iya?" pungkas Aifa'al.


Syahil terbungkam seketika, niat hati ingin memancing sang mas ternyata tidak berhasil, membuat nyali nya ciut ketika mendapatkan tatapan seram dari Aifa'al yang menggeram. Sementara Aifa'al menghela berat, berusaha menghilangkan rasa kesalnya terhadap Syahil.


"Syahil... Mas tidak mungkin melakukan itu!!! Kamu pikir Mas punya uang jaminan dari mana untuk menolong bajingan itu. Lebih baik Mas sumbangkan uang itu ke panti asuhan daripada harus menjamin orang jahat dan brengsek itu!!! Mas tidak mungkin membantu orang yang telah menyakiti kamu, Damar dan Adek. Kenzie hanya menduga-duga. Dia mengatakan itu karena dia pasti tau, kalau Mas sempat mengunjungi Bima. Mas juga tidak tau siapa orang itu. Bisa saja dia berasal dari keluarga Bima 'kan? Atau suruhan orang tuanya Bima yang kaya raya itu. Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Anak itu sudah pergi jauh dari kota ini. Itu artinya tinggal satu musuh kita! Dimas juga tidak ada kabar, kata Ken. Saat ini, tinggal Gibran saja yang harus kita selesaikan!!!"


Syahil bergeming, menatap manik sang mas tengah dengan lekat, mencari kebohongan yang mungkin terselip di dalam sana. Namun ia tidak dapat melihat itu, membuat Syahil mengangguk. Sementara Aifa'al tersenyum tipis, melihat sang adik yang mengangguk patuh. Lalu mereka pun berjalan masuk, menutup pintu dan kembali ke dalam kamar mereka masing-masing.


Syahil yang merebahkan tubuh di tempat tidur, tepat di samping Syahal yang terlelap, berusaha memejamkan mata. Namun pikirannya terus melayang, mengingat pembicaraan Aifa'al dengan Kenzie beberapa menit yang lalu di depan pagar, membuat jiwanya tidak bisa tenang malam ini.


"Semoga saja feelingku ini salah. Mas Al tidak mungkin membebaskan Bima yang bersalah!!!"


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇

__ADS_1


Pengganti up untuk hari sabtu ya 😘 maaf dina jadi jarang up sekarang, apalagi udah mendekati episode2 terakhir 🤧 gpp deh ya lama-lama 😆 sampai ketemu hari selasa ya, karna minggu up sebagai pengganti sabtu, jadi lanjut hari selasa karena senin dina ngak bisa up 😘 jadwal Wulan up sepertinya akan berubah jadi sekali dua hari, maaf ya semuanya 😘🤗🙏


Terima kasih kakak2 semua yang masih setia di kisah Wulan 😘 maaf atas ketidaknyamanan up dina yang makin jarang sekarang 🙏 tapi Dina bakal tetap usahakan kok sampai Wulan tamat.


__ADS_2