
...🍁🍁🍁...
Ceklek!
Sebuah pintu kamar di dalam rumah elite nan mewah terbuka lebar tatkala si pemilik membukanya perlahan, memperlihatkan suasana sebuah kamar mewah dan besar, berdominasi dengan warna hitam, seakan menambah ketegasan bahwa pemilik seisi kamar itu adalah seorang pria dewasa.
Bima berjalan lunglai, membawa tubuh tegap yang terlihat sangat lelah menuju tempat tidur berukuran king size. Lelah setelah semalaman tidak tidur, bertandang ke Apartment Gibran, menyusun rencana, sungguh membuatnya sangat mengantuk kali ini. Dihempasnya tubuh nan gagah itu, membuatnya matanya menerawang lepas, menatap langit-langit kamar yang temaram.
Prank!
Bima terkesiap, membawa tubuh yang sudah terlanjur nyaman dengan posisinya di atas tempat tidur untuk terduduk kembali, melihat ke bawah dan mendapati si benda pipih nan canggih miliknya menghambur keluar dari saku celananya tanpa ia sadari.
"Arrrgghh! Kenapa aku bisa sampai lupa kalau ponselku habis baterai? Ckckckck!"
Pria bangor itu bergeser, meraih charger ponsel yang terpampang di atas nakas, menghidupkan ponsel yang sudah mulai terisi, tersambung dengan energi listrik sebagai tanda kalau si benda pipih cerdas itu tengah mengisi tenaga yang terkuras.
Drrrrttt!
Mata yang sedikit terpejam kini terbuka lebar, menatap nanar nama si penelpon yang sangat ia kenali lalu mengangkatnya.
"Hallo..."
"Kamu ke mana saja sih? Kenapa baru diangkat sekarang? Kenapa tidak tunggu sampai aku lumutan dulu baru kamu mau mengangkat teleponku? Dasar brengsek!" pekik si penelpon di seberang sana.
"Haduh, Sayang! Suara kamu itu keras sekali sih!!! Sampai terdengar ke rumah tetangga tau!" sungut Bima yang jengah.
"Siapa suruh ponsel kamu tidak aktif, hah? Sejak kemarin aku menghubungi kamu, tapi apa? Kamu hilang bagaikan ditelan bumi!" cercah si penelpon yang terdengar nyaring.
Bima menghela nafas kasar, mengacak rambut dan wajahnya yang sangat lelah. Pekikan sang kekasih yang tak lain adalah Zivana, sungguh membuatnya mengantuk.
"Oke, aku minta maaf ya. Maaf, aku tidak sadar kalau baterai ponselku habis. Sejak kemarin aku sibuk, Sayang. Ada urusan di luar dengan temanku, jadi aku tidak terlalu fokus pada ponsel. Maaf ya, sayangku!!!" tutur Bima, membujuk sang kekasih yang merajuk, bahkan ingin membunuhnya saat ini juga.
"Memang kamu sibuk apa sih? Memang sebegitu pentingnya kah urusan kamu itu dibandingkan aku?" cercah Zivana, kesal.
"Tetap kamu yang paling penting, Sayang! Tapi urusan kali ini juga sama pentingnya, jadi aku harus menyelesaikan urusanku itu terlebih dahulu. Memang pacarku yang cantik sejagat raya ini ada apa sih?" tutur Bima lagi, merayu kekasihnya yang kesal.
"Aku bosan di rumah! Bunda melarangku keluar sampai aku mau minta maaf secara langsung pada kedua anak kembar tengil itu! Sedangkan papaku, dia sudah berada di luar negeri saat ini tanpa berpamitan dulu!!! Bagaimana aku tidak kesal? Ditambah lagi kamu yang menghilang sejak kemarin. Aku benar-benar bosan dan bete, tau tidak?!" cercah Zivana yang terdengar nyaring.
Bima tersenyum miring, mengetahui apa yang terjadi sebenarnya bahwa papa sang kekasih tidak pergi keluar negeri, melainkan sedang mengurus sesuatu yang cukup mengancam nyawa orang dan berbahaya.
"Jadi Bu Kinan menyuruh kamu untuk minta maaf pada Damar dan Wulan?" ujar Bima.
"Ya begitu lah!" jawab Zivana, jengah.
Bima tersenyum puas, membayangkan guratan wajah Damar yang sangat gusar, terjebak di dalam ruangan gelap dan sesak bersama Wulan semalaman, membuatnya sangat bahagia dan menang dari Damar kali ini.
__ADS_1
"Lalu kamu mau apa sekarang?"
"Jemput aku, Bim! Aku ingin keluar!"
"Lalu bagaimana dengan bundamu?"
"Bunda tidak akan tau!"
"Tapi aku baru saja sampai di rumah!"
"Kalau begitu kita putus!"
Bima menghela nafas berat, mengulas senyum gemas mendengar permintaan sang kekasih yang masih labil. Walaupun begitu, Bima sangat mencintai gadis itu.
"Berikan aku waktu untuk istirahat sebentar ya, Sayang. Tepat pada jam delapan malam nanti, aku akan langsung menjemput kamu. Oke?" ujar Bima, bernegosiasi dengan sang kekasih yang tengah sensitive.
"Janji?" tanya Zivana menelisik.
"Janji!" jawab Bima lantang.
"Oke! Aku tunggu kamu jam delapan!"
Sambungan telepon terputus. Zivana yang masih terbawa emosi, menutupnya terlebih dahulu, membuat Bima menggeleng kepala.
"Ternyata Pak Gibran benar-benar tidak memberitahu putrinya tentang rencana ini. Padahal kalau Zivana ikut serta, aku yakin rencana ini akan semakin menarik dengan ide-ide berlian putrinya itu!!! Sampai detik ini, aku benar-benar masih tidak percaya dengan sosok Pak Gibran yang sebenarnya. Tapi itu bukan urusanku! Urusanku hanya menjatuhkan musuh, yang ternyata musuh Pak Gibran juga! Sungguh menyenangkan!"
...~Flashback On~...
POV Bima
Benci, aku benar-benar sangat membenci kedua anak kembar menyebalkan dan sok famous di sekolah itu. Karena mereka, aku dikeluarkan dari sekolah. Damar dan Wulan, membuatku ditendang dari sekolah tepat di depan Pak Gibran, si pemilik Jaya Mandiri.
Setelah keluar dari ruangan Bu Kinan, dengan hati yang masih panas membakar, kulangkahkan kaki menyusuri lapangan, hendak menuju tempat parkir dan segera pergi dari sekolah itu. Dengan emosi dan amarah yang membuncah, kubawa motor keluar dari gerbang sekolah, menyusuri ruas jalan dengan kecepatan tinggi menuju ke Basecamp.
Hanya Basecamp tempat satu-satunya yang menjadi tempat ternyaman di saat seperti ini bagiku, meluapkan kekesalan yang menyeruak karena kebencian. Tidak butuh waktu lama, motorku mendarat di pelantaran Basecamp. Aku langsung turun, melangkah cepat, masuk ke dalam sana. Namun keberadaan anak-anak yang lain membuatku terhenti, membawa tubuh ini berbalik dan memilih duduk di teras. Wajah tampan ini tampak sangat frustasi dan gila, mengingat perkataan menyakitkan dari Bu Kinan, memutuskan untuk mengeluarkanku.
Frustasi karena dikeluarkan dari sekolah membuatku tidak menyadari kedatangan Dimas, berdiri berpangku tangan di depan pintu, memperhatikan kegusaran yang terpancar jelas di wajahku saat ini.
"Bima... motoran yuk! Mumpung masih siang! Bosan banget nih duduk di Basecamp terus!!!" sungut Dimas, menepuk bahuku dan duduk di sampingku.
Helaan nafas berat terhembus lepas dari mulutku, mengontrol emosi diri yang masih kuat membelenggu, membuat dadaku terasa sesak, sulit untuk bernafas. Diam, hanya diam tindakanku tanpa menoleh sedikit pun ke arah Dimas yang menatapku dengan heran. Mungkin saat ini, pria yang menjadi tangan kananku sejak geng motor ini dibentuk sedang berpikir, kenapa sikapku jadi aneh dan tidak seperti biasanya?
"Bima... lo kenapa sih? Melamun terus! Nanti kesambet kuntilanak loh!" celetuk Dimas, mungkin heran atau bisa saja dia sedang penasaran dengan sikapku.
Helaan nafas yang tak kalah berat kembali terdengar, entah sudah berapa kali itu terjadi, berusaha menerima keputusan Bu Kinan yang sudah mutlak. Dengan berat hati, kuceritakan semuanya pada Dimas. Kalau sekarang ini, aku sudah resmi menjadi mantan siswa. Bukan gelar mantan yang mendapatkan ijazah, melainkan mantan karena dikeluarkan secara tidak hormat oleh sekolah.
__ADS_1
"Sudahlah! Tidak ada gunanya juga lo tetap bertahan di sekolah itu, bukan? Walaupun lo dikeluarkan dari sekolah, lo tetap kapten gue! Cus lah, kita motoran! Biar otak lo bisa jernih lagi seperti sedia kala!" ujar Dimas.
Dimas benar, tidak ada gunanya juga mempertahankan diri untuk tetap bersekolah, sedangkan tidak ada sedikit pun niat untuk belajar. Belajar hanya membuat kepalaku pusing, tidak bisa terbebas dari yang namanya tugas.
"Ya sudah, ayo!!!"
Aku beranjak, menyusul Dimas yang berjalan di depanku, menaiki motor yang terparkir di halaman. Anak-anak yang lain pun mengikutiku dan Dimas, hingga kegiatan rutin kami sebagai geng motor pun dimulai.
Motorku dan Dimas berada di depan, sebagai kapten dan Dimas sebagai wakil kami harus saling beriringan. Memimpin dan menkoordinasikan anak-anak lainnya, mengitari ruas jalan nan sepi. Namun tidak berselang lama, tiba-tiba Dimas meminta untuk berhenti dan aku langsung menepikan motorku bersama anak-anak lain.
"Kenapa sih Dim? Tadi minta motoran, giliran sudah motoran lo minta berhenti! Kacau otak lo!" sungutku, jengah melihat tingkah Dimas yang aneh tiba-tiba.
"Heh! Lo lihat tuh siapa yang gue temukan? Itu bukannya Syahil, kenapa arah motornya mengarah ke Basecamp kita?" sungut Dimas, membalas kejengahan yang membuatku tidak memperhatikan arah matanya.
Perkataan Dimas membuatku bergeming, menggiring mata ke arah tunjuk mata Dimas, memperlihatkan sosok yang tidak asing, mengundang amarah yang belum sempat dituntaskan sejak sosok itu memutuskan untuk keluar dari anggota geng tanpa persetujuan dariku. Kebaradaan Syahil yang tertangkap kamera manual Dimas, sukses membuat darahku mendidih seketika.
"Kejar bocah tengik itu!"
Itulah enaknya menjadi seorang kapten. Dengan satu kali ketuk palu saja, perintah yang singkat akan dijalankan dengan secepat kilat oleh para bawahan yang taat dan patuh. Di bawah pimpinan Dimas, anak-anak geng motorku melaju kencang mengejar motor Syahil, si pengkhianat. Aku pun tak kalah gencar mengejarnya, membawa hati yang sudah dipenuhi oleh darah panas, tidak sabar lagi ingin melampiaskan darah panas itu pada sasarannya.
Aku, Dimas dan anak-anak yang jumlahnya ada sekitar 10 orang berhenti tepat di depan Syahil. Setelah sukses menyelinap, akhirnya kami sukses menghentikan sosok pengkhianat itu. Tak lupa pula untuk memperlihatkan selalu seringai kebanggaan di wajahku, membuatku tampak semakin gagah berani apalagi di depan musuhku.
Kulihat raut wajah terkejut Syahil saat helm yang menutupi kepalanya terlepas, membuatku semakin bersemangat untuk menghajarnya habis-habisan hari ini. Aku dan Dimas pun turun dari motor, sementara anggota lainnya kuperintahkan untuk tetap berada di atas motor.
"Apa kabar Syahil?"
Dengan penuh kepercayaan diri, kaki terus melangkah maju mendekati Syahil yang menatapku, sepertinya dia kesal namun dia tahan sekuat mungkin agar tidak memancing keributan yang sebenarnya akan tetap terjadi tanpa harus dia pancing, karena aku lah yang akan memulainya kini.
"Di mana Mas Al?"
Si pengkhianat itu akhirnya angkat bicara, menanyakan keberadaan Al, matanya pun tampak mengedar ke arah anak-anak, mencari sosok sang kakak yang masih setia berada di dalam anggota geng motorku.
Gelak tawaku pecah, disusul dengan gelak tawa anak-anak lainnya, menertawakan Syahil yang sepertinya sangat mengkhawatirkan keadaan sang kakak tercinta. Ku akui, kalau tali persaudaraan di antara Syahil dan Al sangat erat walaupun hubungan keduanya hanya sebatas sepupu. Tapi hal itu yang membuatku semakin bersemangat untuk mempermainkan Syahil.
Perdebatan di antara kami tak terelakkan, hingga pada akhirnya perkelahian pun juga tidak bisa dihindari. Tekatku sudah bulat, ingin menghabisi Syahil yang tidak konsisten pada diri sendiri, memilih keluar tanpa meminta izin, membuatku hilang kendali. Marah dan dendam, membuat tangan ini terus melayang memukuli wajah Syahil terus-terusan tanpa memberi ampun. Syahil berusaha membalas dan mengelak, tapi ilmu kanoragan yang ada pada anak itu tidak sehebat ilmu kanoraganku dan Dimas, membuatnya selalu kalah dan tersungkur.
"Hentikan Bima!!!"
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading All 😇😇😇