Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 51 ~ Ayah dan Ibu Harus Tau!


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Baiklah, Ayah! Kalau itu yang Ayah inginkan! Tapi Mala tidak akan pergi sendirian! Karena Mala akan membawa Damar bersama Mala!!!"


Damar tertegun, menatap sang mami yang berjalan mendekatinya. Sementara Pak Aidi hanya diam di tempat, terkejut pastinya, tapi pria paruh baya itu tidak bisa menghalangi menantunya itu untuk membawa sang cucu.


"Ayo, Damar! Kita pergi dari rumah ini. Mami akan membawa kamu pergi jauh dari rumah dan kota ini! Sepertinya keberadaan kita di rumah ini sudah tidak diinginkan lagi, Damar." ujar Mala yang meraih tangan sang putra.


"Mami salah! Yang tidak diinginkan itu bukan kita, tapi Mami!" jawab Damar, menepis kesal tangan sang mami yang terpekur, terperangah.


Tanpa melihat sang mami, Damar merangkul bahu sang adik, membawanya naik ke lantai atas sebelum kalimat kasar kembali terlontar dari mulut sang mami untuk adik kembarnya karena ia lebih memilih tinggal dari pada ikut bersama dengan sang mami yang jahat. Tapi Wulan menghentikan masnya itu, menggiring mata ke arah sang mami yang masih terpaku.


"Sudahlah, Dek! Tindakan Opa sudah sangat benar. Lebih baik, Mami pergi dari rumah ini dari pada menyakiti hati dan fisik Adek terus. Mas tidak bisa menerima itu! Sudah cukup!!! Sudah cukup kebencian Mami yang tidak ada alasannya itu pada Adek. Ayo kita ke kamar saja! Biar Opa dan Oma yang menanganinya!" ujar Damar yang sengaja mengeraskan suara, menoleh tajam ke arah sang mami, air mata pun ikut menetes dari pelupuk matanya.


Wulan menggeleng, namun tidak diindahkan oleh sang mas kembar yang merangkul dan membawanya berjalan lagi. Aiziel, Syahal, Syahil dan Rainar pun ikut beranjak, mengikuti Damar yang membawa Wulan masuk ke kamar. Sementara Mala masih terpaku di tempat, bulir kristal dari matanya jatuh lagi saat mendengar perkataan sang putra yang tidak ingin pergi dan ikut bersama dengannya.


Untuk sesaat Mala terdiam, menahan hatinya yang terluka. Namun sesaat kemudian, wanita itu beranjak, mengambil langkah lebar menuju pintu utama rumah sang ayah mertua. Tanpa membawa apapun, Mala langsung pergi. Tapi jalannya tak selalu lancar, di depan pintu Mala berpapasan dengan Dhana yang baru sampai. Matanya yang basah menatap sang suami di ambang pintu. Dhana terhenyak, namun Mala membisu, bergegas menuju ke mobil dan akhirnya keluar dari gerbang rumah suaminya.


Tanpa Dhana dan Mala sadari, ada sepasang mata yang tengah memperhatikan keduanya dari jarak yang cukup jauh. Namun matanya yang tajam, tertutup kaca mata hitam masih mampu melihat seseorang yang ia pantau.


"Ternyata benar, wanita itu sudah menikah bahkan aku mengenal suaminya. Hahaha... sudah sekian tahun lamanya aku mencari keberadaanmu! Ternyata putri kecil Tuan Imran Khan berada di kota yang sama denganku!"


...~Flashback On~...


"Bagaimana? Ada kabar bagus apa yang ingin kamu katakan pada saya?"


Sosok pria yang baru saja pulang bersama dengan istri dan anaknya dari sebuah rumah sakit untuk menjenguk salah satu siswa sang istri yang mengalami kecelakaan tabrak lari. Pria itu terpaksa harus berbohong pada sang istri kalau ia ada keperluan penting dengan koleganya. Namun ternyata bukan kolega yang ia temui saat ini, melainkan asisten pribadinya.


"Saya menemukan informasi tentang wanita yang selama ini Tuan Gibran cari-cari. Wanita itu juga ada di kota ini dan dia sudah menikah. Bahkan kedua anaknya bersekolah di sekolah milik Tuan." ujar sang asisten yang merupakan asisten pribadi Gibran.


Ternyata sosok pria itu adalah Gibran, pemilik Property Jaya Mandiri. Gibran yang sejak tadi membelakangi sang asisten pun menggiring matanya, menatap tajam sang asisten yang masih berdiri di depan meja kerjanya.


"Di mana wanita itu?" tanya Gibran.


"Ini alamat lengkapnya, Tuan. Saya berhasil menemukan data ini secara tidak langsung. Saat saya sedang bertugas di ruangan saya, tiba-tiba Nyonya Kinan mendatangi saya dan meminta saya untuk mencari data siswa yang mengalami tabrak lari tadi siang, untuk melihat nomor telepon orang tuanya. Dan di saat saya membaca identitas lengkap dari siswa yang menjadi korban tabrak lari itu, saya melihat nama wanita yang Tuan Gibran cari. Setelah Nyonya Kinan pergi, saya kembali memastikan data siswa itu dan ternyata benar. Wanita yang Tuan cari adalah ibu dari korban tabrak lari itu." tutur sang asisten panjang lebar.


"Ternyata wanita itu adalah ibu dari anak yang sempat ditolong oleh istriku. Itu artinya, wanita yang sempat kulihat di rumah sakit tadi adalah dia. Hahaha... kamu tidak akan bisa lepas lagi dariku!" ujar Gibran yang membaca kertas pemberian asisten pribadinya.


"Jadi Tuan sudah bertemu dengan wanita itu?" tanya sang asisten yang tidak menyangka.

__ADS_1


"Belum! Saya hanya melihatnya sekilas saja. Awalnya saya ragu, tapi ternyata keraguan saya terbayarkan dengan penjelasan kamu barusan. Pantas saja, saat saya melihat wajah salah satu dari anaknya, anak itu mengingatkan saya pada wanita itu. Ternyata benar dan kali ini saya tidak boleh kehilangan wanita itu lagi!" jawab Gibran.


"Lalu apa rencana Tuan? Apakah Tuan akan langsung melakukan aksi yang selama ini sudah Tuan rencanakan?" tanya sang asisten.


"Belum sekarang, Bram! Saya ingin tau dulu, apakah wanita itu mengingat saya atau tidak!" jawab Gibran dengan seringai licik nan tajam.


Gibran meremas kuat kertas yang masih ada pada tangannya hingga hancur tak berbentuk. Entah ada apa di antara dirinya dengan wanita yang itu.


...~Flashback Off~...


Gibran, ternyata dia lah orang yang sejak tadi memperhatikan Dhana, mengikuti Dhana dari jarak jauh hingga ke rumahnya. Ada masalah apakah di antara Gibran dan Mala? Entahlah.


"Kini aku sudah tau, di mana si gadis kecil kesayangan Tuan Imran Khan yang terhormat pada masanya. Lihat saja, apa yang akan aku lakukan pada putrimu yang cantik itu, Tuan!!!"


Gibran menyeringai tipis, menghidupkan kembali mesin mobilnya lalu pergi mengikuti mobil Mala yang belum lama ini menghilang.


***


"Mau pergi ke mana lagi Mala?"


Dhana terpaku, menatap mobil yang sudah hilang dari pandangan mata, dibawa oleh sang istri keluar begitu kencang. Namun sudut matanya menangkap kedua paruh baya yang tak lain adalah ayah dan ibunya. Dhana pun mengeryit, melihat sang ayah yang memijat pelipisnya, terlihat gusar dan frustasi dengan sang ibu yang berada di sisinya. Penasaran, tentu saja pria itu penasaran bahkan sangat.


"Ayah, Ibu..."


Pak Aidi dan Bu Aini mendongak, menatap sang putra yang baru saja tiba di rumahnya. Mereka saling pandang sesaat, bertanya di dalam bathin, apakah Dhana melihat istrinya yang baru saja keluar dan pergi dari rumah? Sementara keduanya terdiam, Dhana duduk. Mengusap punggung sang ayah yang belum dirinya ketahui, apa yang menyebabkan sang ayah terlihat gusar seperti ini.


"Ada apa Yah? Bu... ada apa? Kenapa Ayah sama Ibu terlihat marah sekali? Dan kenapa Mala pergi dalam keadaan menangis seperti yang baru saja Dhana lihat?" tanya Dhana.


Bu Aini terdiam, tidak tau harus berkata apa pada putranya yang malang. Malang karena mendapatkan sosok istri yang sangat kejam seperti Mala. Namun di dalam hati, Bu Aini mengucap Istigfar, berusaha menepis rasa kecewa dan marah pada sang menantu yang selama ini sudah ia anggap seperti anaknya.


"Ayahmu mengusir Mala dari rumah, Nak!!!" jawab Bu Aini yang meneteskan bulir kristal.


"Apa? Kenapa Yah? Ada apa sebenarnya? Dhana yakin, Ayah tidak bermaksud untuk mengusir Mala tanpa alasan. Coba Ayah dan Ibu ceritakan pada Dhana! Apa yang terjadi?" tanya Dhana yang bertubi-tubi, penasaran.


Bu Aini menghela nafas panjang, tangannya masih senantiasa mengusap punggung Pak Aidi yang menangkup wajahnya penuh sesal. Menyesal karena sudah bertindak bodoh dan mengusir Mala tanpa pertimbangkan Dhana. Dengan perlahan dan jelas, Bu Aini pun mulai menceritakan semuanya pada Dhana tentang perlakuan Mala yang keras pada putrinya.


Dhana yang mendengar hanya terdiam, raut wajahnya menyimpan guratan amarah yang memuncak. Dhana menghela nafas sedikit kasar, mengusap wajah hingga kepala seraya bersandar di sofa ruang tamu tatkala sang ibu menceritakan dan memberitahunya.


"Lalu di mana Damar dan Wulan, Bu?" tanya Dhana yang mengedar pandangan, mencari kedua anak kembarnya itu.

__ADS_1


"Mereka ada di atas bersama Ziel, Syahal, Syahil dan Rainar. Sebaiknya, kamu pergi menyusul istrimu, Nak. Bawa dia pulang!!! Ayahmu tidak serius mengusir Mala. Ayah hanya terbawa emosi karena tidak terima dengan penghinaan Mala terhadap Wulan." jawab Bu Aini yang menenangkan Dhana.


"Biarkan saja, Bu! Mungkin akan lebih baik seperti ini untuk sekarang, agar Mala bisa intropeksi dirinya sendiri! Sejak Ayah dan Ibu pergi menginap di rumah Mas Ammar, sudah terlalu banyak kejadian yang terjadi pada cucu perempuan Ibu karena Mala. Jadi biarkan saja dia pergi! Dhana akan membawanya pulang, jika dia sudah bisa menerima putrinya sendiri." ujar Dhana yang masih teramat kecewa.


Bu Aini mengeryit, mendengar perkataan sang putra yang belum ia ketahui. Wajar saja, Dhana memang belum memberitahu keduanya karena mereka masih di rumah Ammar yang baru saja pulih dari darah tingginya. Niatnya untuk tetap merahasiakan semuanya dari ayah dan ibunya ternyata tidak bisa. Dhana pun akhirnya angkat suara, menceritakan semua kejadian yang telah terjadi selama keduanya ada di rumah Ammar.


Dhana menceritakan semuanya. Mulai dari pertengkaran sore itu yang hampir membuat tangannya khilaf menampar Mala dan sosok sang adik yang muncul, sampai pertengkaran tadi malam. Dhana menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi lagi. Dhana semakin muak, jika harus menyimpan semuanya sendiri. Bukan untuk mengadukan semua keluh kesah kehidupan rumah tangganya yang jauh dari kata baik, namun untuk mencari solusi terbaik.


"Kenapa kamu baru memberitahu Ibu, Nak? Bahkan Damar kecelakaan saja kamu masih menutupinya dan kamu baru menceritakan semuanya sekarang. Saat Wulan pergi dari rumah, bahkan kamu hanya memberitahu Sadha. Kalau Ibu dan ayahmu tidak pulang, mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi lagi pada putrimu!" ujar Bu Aini yang tercekat.


Bulir kristal dari pelupuk mata Bu Aini jatuh kembali, tidak bisa membayangkan betapa pedihnya rasa sakit yang Mala berikan pada putrinya. Bukan hanya luka bathin, tapi juga luka fisik dengan cara mencambuk tubuhnya. Belum lagi sebelum itu Wulan juga sempat pergi dari rumah hingga tersesat dan harus dikejar preman. Sungguh, Bu Aini tidak kuat untuk membayangkan hal buruk menimpa sang cucu tersayang.


"Dhana minta maaf, Bu. Dhana tidak ada niat untuk menutupinya dari Ibu dan Ayah. Dhana hanya tidak ingin membuat Mas Ammar sakit lagi karena memikirkan masalah Dhana. Maaf, Bu. Maaf, Yah." jawab Dhana yang tertunduk.


"Lalu bagaimana dengan Al? Apa dia masih tinggal di apartment dan bergabung dengan geng motor itu?" tanya Pak Aidi yang menoleh.


Rasa sesak yang mendera seakan diberikan sedikit celah saat mendengar cerita Dhana tentang perubahan sikap Syahil. Rasa syukur pun tak luput kedua paruh baya itu ucapkan, walaupun belum sepenuhnya karena Aifa'al yang belum berubah secepat Syahil.


"Masih, Yah." jawab Dhana yang lesu.


"Lalu apa tindakan kamu pada anak yang bernama Bima dan Zivana itu, Dhana? Ibu gelisah kalau mereka semakin tidak terkendali dan ingin mencelakai anak kamu." timpal Bu Aini yang ingin tau tindakan sang putra.


"Untuk saat ini Dhana tidak bisa bertindak apa-apa, Bu. Barang bukti pun juga tidak ada. Sebenarnya Dhana sangat malas berurusan dengan orang tua kedua anak itu. Kedua orang tua mereka orang besar, Dhana tidak cukup kuat untuk menghadapi mereka di jalan hukum. Mereka pasti akan menggunakan segala cara untuk menghilangkan kesalahan anak mereka." jawab Dhana yang mengusap kasar wajahnya.


"Ceritakan semuanya pada kedua masmu! Mereka pasti bisa membantu kamu dan Ayah juga akan membantumu, Nak!" ujar Pak Aidi.


Dhana menghela nafas panjang, bersandar lemas di sofa seraya mengusap kasar wajah dan kepalanya. Masalah Mala selalu datang silih berganti, tanpa henti. Baru kemarin ini sang istri mencambuk Wulan di toilet rumah sakit dan kini sang istri ingin menyiksa sang putri lagi saat dirinya tidak di rumah.


Adek... bantu Mas untuk menyelesaikan semuanya. Gumam Dhana dalam hati.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2