Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 28 ~ Naluri


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Ayo, Mas! Dua porsi ketoprak siap masuk ke dalam perut!"


Aifa'al berdecak geli saat melihat tingkah sang adik yang konyol, memamerkan dua bungkus ketoprak dengan mengangkatnya ke atas membuat si pedagang pun terkikik geli melihatnya. Memang konyol seperti itulah sifat Syahil yang sesungguhnya.


Dengan senyum kebahagiaan, setelah mendapatkan makanan yang sesuai, Syahil menghampiri Aifa'al.


"Sudah? Sekarang mau ke mana lagi?" tanya Aifa'al seraya memutar tubuhnya, menghadap ke stang motornya.


"Kita balik ke apartment lah, Mas. Memang mau ke mana lagi? Mas Al mau tidur di sini dengan pedagang ketoprak itu?" ujar Syahil seraya memakai helm.


"Ya, Mas pikir kamu mau beli makanan lagi." ujar Aifa'al yang siap menunggangi motor.


"Tidak lah, Mas. Nanti badan Syahil tidak suspect lagi dong kalau banyak makan." jawab Syahil seraya naik ke atas motor.


"Ck! Sok ingin six pack pula! Menyebutkan namanya saja salah! Dasar menyebalkan!!!" sungut Aifa'al yang menyeringai jahil seraya melirik Syahil di belakang.


Syahil mendengus kesal saat mendapati seringai jahil dari Aifa'al yang terlihat jelas di kaca spion motor. Sementara Aifa'al hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya.


***


"Sejak kapan Wulan pergi dari rumah?"


Di kediaman Sadha, tampak Dhana, Damar, Aiziel, Vanny dan Syahal yang tengah duduk bersama di ruang tamu. Berusaha mencari solusi dari masalah kaburnya Wulan setelah pertengkaran Dhana dan Mala. Suasana di ruang tamu seketika menjadi hening setelah Dhana menceritakan semuanya pada Sadha dan Vanny.


"Sejak pertengkaran itu berlangsung, Mas. Wulan pasti sangat sedih, merasa bersalah atas semua yang menimpa Mas Ammar. Tapi Dhana mohon jangan beritahu masalah ini pada Mas Ammar atau Kak Ibel. Dhana tidak ingin membuat Mas Ammar sakit lagi, Mas." tutur Dhana yang memohon.


"Mas benar-benar tidak habis pikir dengan sikap istri kamu itu, Dhana. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu tepat di depan anaknya. Seharusnya dia yang meyakinkan putrinya, kalau semua ini musibah, bukan kesalahan Wulan. Tapi dia malah bersikap seperti itu. Mala benar-benar sudah berubah, Dhana!" serkas Sadha yang merasa kesal.


"Sudahlah, Paklik. Marah-marah pada Anty Mala saat ini tidak ada gunanya. Dia tidak akan berubah. Bahkan di saat Wulan hilang saja dia tidak panik sama sekali. Lebih baik kita mencari Wulan sekarang, Paklik." timpal Aiziel yang melihat ke arah Sadha.


"Mas Ziel benar, Pa. Lebih cepat, lebih baik. Ini sudah tengah malam loh. Kita tidak pernah tau apa yang dialami Wulan di luar sana. Apalagi tadi sempat turun hujan 'kan. Perasaan Syahal semakin tidak enak, Pa!!!" timpal Syahal yang terlihat khawatir.


Sadha pun menghela nafas panjang, menoleh ke arah sang istri yang tampak menganggukan kepalanya, mendukung perkataan sang putra untuk segera mencari keberadaan Wulan yang entah di mana. Sementara Aiziel, Damar dan Syahal masih terlihat panik, berusaha menepis rasa takut yang menyelimuti hati, menghilangkan rasa gelisah yang menyeruak di dalam dada.


"Ya sudah, ayo kita cari Wulan sekarang! Papa, Uncle Dhana dan Damar akan naik mobil. Kamu dan Ziel pergi dengan motor. Apa pun yang terjadi di perjalanan, kamu harus memberitahu Papa. Kamu mengerti, Syahal?" tutur Sadha seraya membagi tim.


"Syahal mengerti, Pa!" jawab Syahal yang penuh keyakinan dan semangat.


Sadha pun mengangguk. Keputusan yang dibuat sudah mutlak, membuat semuanya beranjak dan melakukan tugas yang telah dibagikan. Sadha, Dhana dan Damar pergi mencari Wulan dengan mobil. Sementara Aiziel dan Syahal menggunakan motornya, membuat Aiziel harus meninggalkan mobil sang daddy di kediaman sang paklik untuk sementara. Lalu Vanny diminta sang suami untuk tetap berada di rumah, melihat serta mengontrol situasi yang ada selama sang suami pergi.


Dengan gerak cepat, Sadha melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumah dan mulai menyusuri setiap titik perjalanan. Disusul pula oleh Aiziel dan Syahal yang menggunakan motor, keluar dari gerbang rumah menyusuri jalan yang bertolak belakang dengan arah mobil Sadha.


"Semoga Adek Wulan tidak apa-apa ya, Mas." sahut Syahal yang duduk di kursi belakang motornya.


"Mata kita harus tajam malam ini, Dik. Jangan sampai ada yang terlewatkan! Oke?" sahut Aiziel seraya mengendarai motor Syahal.


"Oke Mas..."


Keheningan malam menjadi saksi bisu perjuangan mereka yang menyayangi dan peduli pada Wulan. Berharap besar kalau sang gadis kecil bisa ditemukan dalam keadaan yang utuh dan baik-baik saja.


***

__ADS_1


"Aaaaaa.... aaaaaa.... aaaaaa..."


Wulan terus meraung, meracau, menangis, berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan dua orang preman yang ingin bertindak mesum pada dirinya. Wulan terus memberontak walaupun tenaganya hampir hilang tak tersisa. Seketika tangannya pun terlepas di saat salah satu preman lengah.


Wulan berlari kencang, menyusuri jalanan sepi tak berpenghuni. Entah ada di mana ia sekarang, bahkan daerah itu tidak pernah dilaluinya. Wulan terus berlari, sementara dua orang preman itu terus mengejarnya. Sekuat tenaga ia berusaha untuk berlari, membawa badan diri dan menjauh dari orang-orang yang ingin bertindak keji.


"Woi Neng cantik! Jangan kabur kau! Kau harus menemani kami malam ini!"


Sahutan salah satu preman itu membuat bulu kuduk Wulan berdiri seketika. Gadis kecil itu tidak bisa membayangkan jika dirinya tertangkap lagi oleh kedua preman itu. Kehormatan dan kesucian sebagai seorang wanita pun dipertaruhkan. Wulan terus berlari walaupun kakinya sudah terasa letih. Namun demi keselamatan diri, ia tidak akan menyerah begitu saja, bahkan sampai tetes darah penghabisan sekali pun.


Wulan terus berlari, menyusuri keheningan malam yang tak bertepi, berselimut dengan rasa takut sekaligus penyesalan, kenapa ia harus pergi dari rumah di malam hari seperti ini. Namun penyesalan bukan jalan keluar dari masalahnya saat ini. Keadaan semakin menuntunnya untuk tetap berlari ke depan.


Bruk!


Wulan terjatuh tatkala kakinya tersandung batu besar di bahu jalan, membuat darah segar mengalir di lututnya. Pergelangan kakinya pun terasa nyeri, bahkan terasa sangat sakit jika dipaksakan untuk berdiri. Sementara dua orang preman itu semakin mendekat seraya menertawakan dirinya.


"Makanya jangan lari-lari dong, Neng. Ini sudah malam. Lebih baik Neng ikut kami! Kita bisa bersenang-senang semalaman." ujar salah satu preman dengan tatapan penuh *****.


"Kita seret saja, Bro! Terlalu lama kalau seperti ini mah. Gue sudah tidak tahan nih." timpal salah satunya yang tak kalah mesum.


"Hahahaha... ide yang berlian, Brother." jawab preman itu yang menyeringai licik.


Wulan yang terjatuh tidak bisa berbuat apa-apa lagi, air matanya pun mengalir deras tanpa izin. Keterbatasan membuat dirinya tidak mampu untuk berteriak minta tolong. Ia hanya bisa menangis seraya beringsut mundur dengan cara mengesot. Sementara dua preman itu bergerak maju mendekatinya yang terus menghindar.


Ya Allah... tolong aku. Aku mohon. Maaf kalau aku membuat-Mu susah lagi. Tapi untuk kali ini aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kakiku sangat sakit dan aku tidak bisa berlari lagi. Tolong aku, Ya Allah... Gumam Wulan dalam hati.


***


Namun sejurus kemudian, tatkala Syahil sedang menikmati sejuknya angin malam, tiba-tiba matanya tertuju pada seseorang yang ada di bahu jalan. Syahil mengerjap, dan sedikit memicing, berusaha melihat ke arah objek itu. Sementara motor yang ia tunggangi semakin bergerak, menerobos perjalanan yang terasa sunyi.


"Stop, Mas! Mas... stop, stop, stop!" sahut Syahil yang terus memperhatikan objek di bahu jalan seraya menepuk bahu Aifa'al.


Aifa'al yang ditepuk bahunya pun berhenti, menepikan motornya sesuai dengan yang diminta oleh sang adik. Sementara Syahil tampak tercengang di saat matanya yang tajam menangkap sosok objek yang ada di bahu jalan itu.


"Kamu kenapa sih Syahil? Masa menyuruh Mas berhenti di tempat sepi seperti ini. Ada apa, hah!?" sungut Aifa'al yang jengah dan bertambah kesal dengan sikap Syahil.


"Mas... itu! Itu Wulan, Mas!" jawab Syahil seraya menunjuk ke arah Wulan yang ia lihat.


Alih-alih menjawab perkataan sang adik, Aifa'al malah berdecak kesal di saat nama sosok gadis yang merupakan adiknya itu disebut oleh Syahil. Sementara Syahil, ia masih fokus ke arah tunjuk jari dan matanya.


"Ck!!! Kamu kenapa jadi kepikiran anak itu sekarang? Kamu merasa bersalah karena telah menghinanya di depan Uncle Dhana?" sungut Aifa'al yang menghidupkan kembali mesin motornya.


"Mas... Syahil serius! Itu Wulan, Mas! Dia... dia sedang diganggu dua orang preman!!!" jawab Syahil yang masih fokus ke arah itu.


Aifa'al yang belum membuka helm pun menoleh ke arah tunjuk Syahil. Dan benar saja, kalau di sana ada Wulan yang sedang berusaha menjauh dari dua orang preman dengan cara mengesot. Sementara preman itu terus mendekatinya. Bahkan tidak berselang lama setelah itu, Wulan sudah berada di cengkraman kedua preman itu.


"Ayo kita ke sana, Mas!!! Wulan dalam bahaya. Kalau kedua preman itu berhasil menangkap Wulan, maka dia akan... ah sudahlah! Ayo, Mas! Tidak ada waktu lagi."


Syahil pun berlari, meninggalkan Aifa'al yang masih diam membisu. Bahkan dua bungkus ketoprak miliknya dibiarkan jatuh begitu saja oleh Syahil. Ternyata tanpa ia sadari, naluri sebagai seorang kakak lebih dominan dalam dirinya. Namun karena ego yang tinggi membuat naluri itu hilang tanpa bekas. Aifa'al tetap bergeming, berusaha menahan diri untuk tidak mengikuti Syahil.


"Arrrgghh... anak bisu sialan itu selalu saja menyusahkan orang lain!!!"


Aifa'al pun beranjak, berlari mengejar Syahil yang hampir dekat dengan Wulan dan para preman mesum itu. Sementara Wulan yang ditarik paksa oleh kedua preman itu belum menyadari keberadaan Aifa'al dan Syahil.

__ADS_1


"Woi!!! Lepaskan gadis kecil itu!!!"


Sahutan suara Aifa'al yang bergema lantang, sukses membuat kedua preman mesum itu menoleh. Begitu pula dengan Wulan. Melihat kedua masnya yang datang secara tiba-tiba membuat senyum Wulan terbit, mengukir di wajahnya seraya melihat keduanya. Sementara itu, Aifa'al dan Syahil tampak berdiri dengan gagah berani, siap untuk menerjang musuh di depan matanya.


"Siapa kalian? Gadis kecil yang cantik ini milik kami! Jadi kalian jangan ikut campur kalau ingin selamat!" ujar salah satu dari preman mesum itu seraya mencekam erat tangan Wulan.


"Lepaskan dia!!! Atau kalian berhadapan dengan kami!" sahut Syahil terbawa emosi saat melihat Wulan yang meringis kesakitan.


"Hahaha... kalian itu tidak punya hak! Neng cantik ini milik kami dan dia akan menemani kami malam ini!!!" ujar preman satunya lagi.


"Tidak perlu banyak bicara! Cepat lepaskan gadis itu kalau tidak kalian akan aku kirim ke neraka!" sahut Aifa'al yang tak kalah ganas.


Hati Wulan menghangat seketika tatkala mendengar penuturan Aifa'al dan Syahil yang berusaha menyelamatkan dirinya dari cengkraman dua preman mesum itu. Seutas senyum kembali terbit di wajahnya yang terlihat sembap dan kacau. Masih dengan memakai pakaian sekolah yang belum sempat ia ganti, Wulan terlihat kacau sekali.


"Cepat lepaskan gadis itu!" tandas Aifa'al yang perlahan bergerak maju, mendekati Wulan.


"Sekali saja kau melangkah maju, nyawa gadis ini taruhannya!!!" tandas preman itu seraya memutar tubuh Wulan, mencekam bahunya dari belakang.


Aifa'al dan Syahil pun saling pandang, berusaha mencari celah lain untuk bisa melepaskan sang adik dari cengkraman preman mesum seperti kedua preman itu. Sementara Wulan yang masih berada di dalam cengkraman tangan preman, juga berusaha mencari celah untuk bisa lepas dari tangan kekar preman yang bau itu.


Tap!


"Aaarrrggggghhhhh...."


Erangan kesakitan preman yang masih mencekam bahu Wulan dari belakang pun bergema seketika, tatkala kaki besarnya dihantam kuat oleh Wulan. Setelah preman itu jatuh karena menahan sakit, Wulan pun berlari, menarik Aifa'al dan Syahil yang masih terperangah melihat aksinya untuk pergi dari tempat itu. Sementara preman yang satunya tampak sibuk menolong dan memastikan temannya baik-baik saja.


"Stop! Kamu mau bawa kita ke mana sih Lan?" sahut Aifa'al yang menepis tangan sang adik.


Dengan nafas yang masih terengah-engah karena berlari, Wulan pun berusaha sekuat tenaga untuk menjelaskan maksudnya dengan bahasa isyarat. Namun sayang sekali, Aifa'al dan Syahil yang memang tidak terlalu dekat dengannya dari sejak kecil, membuat mereka tidak mengerti dengan maksud bahasa isyarat yang ia katakan.


Wulan pun menunduk, mencari sesuatu yang biasanya tergantung di lehernya. Namun benda itu tidak ada. Entah hilang atau bahkan sudah hancur saat air hujan mengguyur tubuhnya.


"Woi jangan kabur kalian!"


Sahutan kedua preman itu mengejutkan ketiganya yang tengah berdiri, tidak jauh dari posisi motor Aifa'al yang terparkir di tepi jalan. Tanpa berpikir panjang, Wulan pun menarik tangan Aifa'al dan Syahil lagi. Sementara kedua preman itu masih kekeuh mengejar ketiganya untuk mendapatkan Wulan.


"Mas... mungkin yang Wulan maksud kita kabur saja, dari pada harus melawan dua preman itu." ujar Syahil yang masih berlari seraya menoleh ke arah Aifa'al.


Alih-alih menjawab, Aifa'al menoleh ke belakang. Melihat kedua preman itu yang masih mengejar mereka dengan cepatnya, hampir mendekat karena lari mereka yang tidak terlalu cepat.


"Ayo cepat!!! Kita harus pergi dari sini!"


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇

__ADS_1


__ADS_2