
...πππ...
Bruk!
Perdebatan ringan diantara Syahal dan Damar seketika terhenti, mendapati suara benda yang terjatuh dari kejauhan begitu kerasnya, membuat Syahil yang terjingkat mendekati keduanya yang masih terbungkam. Syahal, Syahil dan Damar saling pandang sesaat, membiarkan semua penghuni kampus berhamburan keluar, penasaran dengan apa yang tengah terjadi di depan sana, tak jauh dari posisi berdirinya Syahal-Syahil dan Damar yang masih terdiam.
"Bang, Bang, Bang... sorry Bang, disana ada apa ya? Kenapa ramai sekali? Lo barusan dari sana 'kan? Ada apa di sana?"
Syahil yang diam akhirnya memberanikan diri, angkat bicara setelah sepersekian menit terbungkam efek terkejut bukan main. Memilih untuk bertanya pada seseorang yang diduga baru saja melihat kejadian yang menyebabkan suara benda terjatuh itu bergema hebat, dan dapat dipastikan sosok itu adalah salah satu penghuni kampus yang ikut berhamburan keluar gerbang tadi.
"Itu, ada mahasiswa sini sepertinya. Jatuh dari motor sama ceweknya. Kalau dilihat dari lukanya sih, lumayan parah tuh." terang sosok mahasiswa itu seraya menunjuk ke arah TKP.
"Mahasiswa sama ceweknya? Ciri-cirinya Bang?" tanya Syahil, mendadak tercekat saat mendengar penjelasan mahasiswa itu.
"Yang cowok tinggi putih agak berisi badannya. Kalau yang cewek pendek, kecil, putih, rambut panjang di bawah bahu."
Syahil terbungkam, menoleh ke arah Syahal dan Damar yang kendati hanya terdiam sejak tadi tapi penjelasan mahasiswa itu tak luput singgah di telinga keduanya, dan sudah dipastikan bagaimana ekspresi terkejut ketiganya yang saling pandang.
"Adek...!"
Damar beranjak cepat, mengambil langkah lebar mendekati kerumunan orang yang tengah mengitari sosok yang dijelaskan mahasiswa tadi. Membuatnya kalang kabut seketika, takut jika mahasiswa yang jatuh bersama ceweknya itu adalah adik dan masnya yang tak kunjung sampai di kampus sejak tadi. Tak mempedulikan Syahal-Syahil yang memanggil namanya di belakang, ikut berlari mengejarnya yang sudah hilang kendali.
"Adek...!"
Deru nafas yang berpacu membawa Damar menerobos masuk ke dalam kerumunan itu, diikuti Syahal dan Syahil yang tidak kalah panik dan cemas, tak peduli lagi dengan siapa saja yang berada di sana, mengerumuni korban kecelakaan tunggal yang diduga adalah Aifa'al dan Wulan. Namun sejurus kemudian ketiganya tersadar, berusaha mengatur nafas terlebih dahulu sebelum benar-benar beranjak dari sana, memastikan bahwa yang menjadi korban kecelakaan tunggal bermotor itu adalah...
"Bukan Mas Al dan Adek, Mas."
Syahal mengangguk pelan, menghela nafas lega seraya mengelus dada yang membuncah karena terkejut plus khawatir jika memang benar kalau Aifa'al dan Wulan lah korban itu. Hal yang sama terjadi pada Syahil, kembaran Syahal itu terlihat berkeringat dingin, lalu diusapnya sembari menghela tak kalah lega. Sementara Damar masih terdiam, berdiri diposisinya tak bergeser sama sekali, membuat Syahal mengerti setelah mendapati sikutan dari Syahil yang memberikan isyarat. Menuntun Syahal beranjak, menarik tangan Damar yang masih termanggu menatapi kedua korban kecelakaan tunggal itu.
"Kamu harus tenang, Damar." ujar Syahal, mengusap punggung sang adik yang naik turun setelah sepersekian menit beranjak.
"Bagaimana Damar bisa tenang sih Mas? Ciri-ciri korban itu sangat mirip dengan ciri-ciri Adek dan Mas Al. Lagi pula mereka ke mana sih? Sampai sekarang belum sampai juga di kampus." serkas Damar, berusaha untuk mengontrol emosi jiwanya.
"Mungkin mereka terkena macet, Dik. Kamu sabar ya." timpal Syahil, duduk di sebelah sang adik dan menenangkannya.
Damar berdecak, rasa takutnya semakin membuat pikirannya tidak bisa tenang, ditambah lagi dengan kehadiran sang adik yang belum nampak wujud aslinya di depan mata. Membuat Syahal dan Syahil saling pandang cemas, takut jika emosi Damar sudah seperti ini lalu bertemu dengan Aifa'al yang arogan, terbayang bukan apa yang akan terjadi nantinya?
"Syahal, Syahil, Damar..."
Ketiganya tersentak, serentak menoleh ke arah sumber suara bariton yang sangat familiar di telinga. Membuat Syahal dan Syahil benar-benar bisa bernafas lega, mendapati wajah dan raga sosok yang ditunggu dengan cemas sejak tadi akhirnya muncul juga. Sementara Damar, bukan bernafas lega atau bahkan tersenyum senang melihat keduanya datang, akan tetapi justru raut wajah penuh amarah yang ia berikan seraya menatap ke arah sosok yang tengah berjalan dengan sang adik. Siapa lagi sosok itu, kalau bukan Aifa'al berjalan dengan Wulan hendak mendekati ketiganya.
"Kalian bertiga kenapa masih di sini?" tanya Aifa'al, melihat adik-adiknya satu per satu.
"Kami sedang menunggu Mas dan Adek." jawab Syahil, kikuk dan cemas melihat tatapan sangar Damar pada Aifa'al.
Disambut anggukan oleh Wulan yang tersenyum pada keduanya. Namun seketika senyum manis gadis bisu bersurai panjang sebahu itu menguap, melihat ekspresi sang kembaran yang tampak menahan amarah, menatap tajam ke arah Aifa'al. Sedangkan Aifa'al belum menyadari itu, menuntun kaki Damar untuk beranjak dan mendakati sang mas tengah.
Srek!
Syahal-Syahil dan Wulan terjingkat, mendapati gerakan kilat tangan Damar yang kini telah berada di kerah jaket Levi'S sang mas tengah yang tak kalah terkejut dibuatnya. Menatap heran sang adik yang terlihat sangat marah padanya, namun Aifa'al yang sudah paham hanya menghela, berusaha untuk tidak terpancing emosi mendapati sikap sang adik yang sekarang.
"Aas...!" ujar Wulan, berusaha memisahkan kedua masnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Sayang. Mungkin Damar marah karena Mas terlalu lama membawa Adek tanpa memberinya sedikit kabar." jawab Aifa'al, bersikap tenang walaupun sebenarnya ia marah.
"Damar... kendalikan emosi kamu, Dik! Ini kampus! Kamu bisa terkena masalah, jika kamu tidak bisa menahan amarah yang tidak beralasan seperti ini pada Mas Al!" ujar Syahal, berusaha menenangkan sang adik yang hampir kesetanan karna emosi.
Damar bergeming, tatapan tajamnya terus ia tujukan kepada Aifa'al yang terlihat lebih tenang menangani tingkah sang adik.
"Kamu mau memukul Mas? Pukul saja, Damar! Jika dengan memukul wajah Mas emosimu itu bisa hilang, lakukan saja." timpal Aifa'al, pasrah namun tatapannya tidak kalah tajam.
"Aaaaan aas...!" seru Wulan, suaranya mendadak tertahan melihat kedua mas yang ia sayang harus berkelahi nantinya.
"Ayo Damar! Kamu tunggu apalagi? Cepat pukul Mas!" ujar Aifa'al, semakin mendekatkan wajahnya pada Damar yang marah.
Damar mendengus marah, tangannya yang siap melayang itu masih ditahan oleh Syahal dan Syahil, hampir kewalahan saat situasi dan kondisi Damar mulai kambuh seperti ini. Sungguh, Damar yang sekarang 360 derajat sangat berbeda dengan Damar yang kita semua kenal dulu.
"Pukul Damar! Ayo pukul Mas!"
Damar yang tersulut amarah pun tersentak, tangan yang semula sekuat baja mencekam kerah jaket sang mas dan bersiap hendak memukul wajah sang mas kini melemah tak berdaya seketika, mendapati suara bariton sang mas yang menggelegar mengejutkan dirinya. Tak terkecuali dengan Syahal, Syahil dan Wulan yang tak kalah terkejut, membuat bulir kristal di mata cantik Wulan yang terkumpul sejak tadi jatuh tanpa permisi saat mendengar suara ganas Aifa'al yang sesungguhnya. Membuat semuanya terdiam, termasuk Damar.
"Ayo Dek! Kita masuk!"
Wulan yang diam pun terjingkat, mendapati tangannya yang sudah digenggam oleh sang mas tengah, lalu membawanya pergi meninggalkan Damar bersama kedua mas kembarnya, membuat Wulan pasrah dan tidak berani untuk menolak. Sementara Syahal-Syahil yang paham hanya bisa menghela. Lalu mendekati sang adik yang terduduk diam, merutuki diri sendiri yang sudah berani melawan mas tengahnya seperti tadi.
"Damar... Mas mengerti kamu cemas, tapi caramu tadi sudah keterlaluan. Mas Al hanya ingin melepas rindunya bersama Adek. Rasa takutmu yang berlebihan itu bisa berakibat fatal untuk dirimu sendiri. Sudahlah! Nanti kita bicarakan lagi masalah ini dengan kepala dingin bersama Mas Al dan Adek."
Damar menghela kasar, beranjak pergi meninggalkan Syahal begitu saja yang sedang berusaha membuat pikirannya terbuka dan tenang. Membuat Syahal menghela juga, beranjak dari duduknya, disambut oleh tepukan semangat pada bahunya dari sang kembaran, yaitu Syahil.
"Sudahlah, Mas! Lebih baik kita masuk ke kelas sekarang. Biarkan saja Damar tenang dengan sendirinya. Biarkan dia sendiri dulu." ujar Syahil, berusaha menenangkan Syahal.
"Mas takut jika Damar sendirian, emosinya semakin tidak terkontrol dan dia malah melakukan hal-hal yang tidak kita duga. Kamu harus ingat, Syahil! Damar, adik kita yang saat ini bersama kita, bukan lah Damar yang penurut seperti dulu." jawab Syahal, berusaha menampik rasa cemas yang datang.
Syahal mendadak lemas, membawa tubuhnya yang lelah melihat sikap arogan Damar duduk kembali di trotoar jalan, membuat Syahil cemas dengan kondisi sang kembaran.
"Mas kenapa? Mas sakit?" tanya Syahil, terkejut melihat mas kembarnya kembali duduk seraya mengusap kasar wajahnya.
"Mas hanya lelah melihat Damar seperti tadi. Kapan pun anak itu bisa berubah menjadi monster, jika menyangkut Adek. Mas hanya takut, Syahil. Mas takut Adek akan tau, kalau perubahan sikap Damar yang seperti tadi itu karena trauma. Trauma akan kecelakaan yang menimpa Adek waktu itu. Mas tidak bisa membayangkan bagaimana terpukul dan rasa bersalahnya Adek pada Damar. Kasih sayang Damar yang terlalu besar terhadap Adek, justru membuatnya menjadi seperti saat ini. Adek pasti akan sangat sedih jika mengetahui semuanya." tutur Syahal, mengungkapkan kegelisahan hatinya yang terdalam.
"Syahil pun sama seperti Mas. Tapi kita bisa apa, Mas. Sama dengan halnya Anty Mala dulu, yang sangat benci sama Adek. Dan kini, penyakit traumatis itu malah tumbuh di dalam diri Damar. Selagi kita bisa, kita harus menjaga dan melindungi mereka terus, Mas. Kita juga harus cepat-cepat menemukan orang misterius yang sudah mencelakai Adek. Siapa tau saja, dengan tertangkapnya orang itu bisa membuat Damar sehat dan kembali seperti dulu. Karena tidak ada lagi orang yang ingin berbuat jahat pada Adek." tutur Syahil, berusaha menenangkan sang kembaran dan menyemangatinya.
Syahal menghela berat, berusaha menepis kekhawatiran diri yang teramat besar terhadap sang adik. Entah ke mana sang adik kini, membuat Syahal semakin cemas. Namun berkat Syahil yang menyemangati, kini Syahal tampak lebih tenang. Lalu mereka pun beranjak dari posisi, berjalan masuk ke area kampus, hendak masuk ke dalam kelas masing-masing.
***
"Adek..."
Sahutan suara bariton itu membuyarkan lamunan Wulan yang tengah duduk sendiri melamun di dalam kelasnya. Terdengar riuh pikuk mahasiswa dan mahasiswi baru di dalam kelas itu, namun tidak terlihat tanda-tanda adanya seorang dosen yang seharusnya sudah masuk ke dalam kelas dan memulai mata kuliah sebagai pembelajaran awal bagi mahasiswa baru, tapi sepertinya tidak dengan kelas baru Wulan pagi ini. Menuntun gadis bisu cantik itu bergegas keluar, menghampiri pemilik suara bariton itu yang tak lain dan tak bukan adalah Aifa'al.
"Adek kenapa melamun di dalam kelas? Dosennya belum masuk?" tanya Aifa'al, mengelus pucuk kepala sang adik sembari mengedar pandangan ke sekitar kelas sang adik.
"Belum, Mas. Sepertinya dosen pertama Adek tidak masuk hari ini." jawab Wulan dengan bahasa isyaratnya, terlihat murung.
"Hari ini Adek ada berapa mata kuliah?" tanya Aifa'al seraya menangkup sayang wajah sang adik efek gemas.
"Cuma satu dan dosennya malah tidak datang. Menyebalkan sekali 'kan Mas?" jawab Wulan, bibirnya pun ikut mengerucut efek kesal belum lagi pikirannya kacau karena masalah tadi.
__ADS_1
"Menyenangkan dong, Dek. Kalau begitu kita ke kantin kampus saja, sambil menunggu Syahal dan Syahil selesai kelas." jawab Aifa'al, mencubit pipi cubby sang adik dengan gemasnya.
"Lalu Mas? Memangnya Mas tidak ada kelas?" tanya Wulan, terkejut dengan ajakan sang mas yang spontan.
"Mau kelas apa lagi, Sayang. Mas datang ke kampus itu hanya ingin bimbingan skripsi, no ada kelas-kelas club, dan bimbingan Mas sudah selesai. Kita ke kantin saja ya. Ayo!" jawab Aifa'al, menarik tangan sang adik yang masih terkejut.
"Lalu Mas Damar? Adek belum melihat Mas Damar sejak tadi, Mas." jawab Wulan dengan bahasanya, terlihat cemas sekali.
Aifa'al menghela kasar, mengingat kejadian tadi sempat membuat moodnya buruk bahkan hampir membuatnya tak jadi menemui dosen pembimbing skripsi seperti tujuan awalnya. Namun melihat kecemasan di wajah sang adik, membuatnya tidak tega. Sama dengan hal dirinya saat ini, merasa khawatir dengan keberadaan Damar yang entah ada di mana sekarang.
"Adek sudah coba menghubungi Damar?" tanya Aifa'al.
"Sudah, Mas. Tapi Mas Damar tidak menjawabnya. Adek benar-benar cemas. Adek takut emosi Mas Damar naik dan tidak terkendali lagi seperti tadi." jawab Wulan yang gusar.
"Adek tenang dulu ya. Damar pasti baik-baik saja." ujar Aifa'al, berusaha menenangkan kegusaran Wulan pada kembarannya.
Wulan berdecak geram, meraih kembali ponselnya di dalam tas, berniat menghubungi Damar sekali lagi. Namun harapan besar itu pupus, ponsel yang semula dapat dihubungi tadi kini malah tidak dapat dihubungi, membuat Wulan semakin khawatir. Sementara Aifa'al melakukan hal yang sama, mencoba untuk menghilangkan ego karena sempat bersitegang dengan sang adik, berusaha untuk menghubungi sang adik yang posisinya saat ini tidak dapat dideteksi. Namun hasilnya pun masih sama, ponsel Damar benar-benar tidak bisa dihubungi lagi.
"Mas... Adek ingin bertanya sesuatu boleh?" ujar Wulan.
"Adek ingin bertanya apa Sayang?" jawab Aifa'al lembut.
Wulan menghela berat, menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. Menatap Aifa'al yang menatapnya penasaran.
"Sebenarnya Mas Damar kenapa sih Mas? Sejak Adek sadar, setelah kecelakaan dua tahun yang lalu itu, Mas Damar jadi banyak berubah sifatnya. Mas Damar mudah marah pada orang lain, apalagi orang itu orang baru yang berusaha mendekati Adek dan ingin berteman dengan Adek. Tidak peduli orang itu perempuan atau laik-laki. Mas Damar selalu melarang Adek pergi ke mana-mana sendirian. Mas Damar selalu ingin Adek selalu berada di sisinya. Iya, Adek tau kalau Mas Damar sayang sekali sama Adek. Tapi sikap Mas Damar yang sekarang justru membuat Adek khawati dan takut, Mas." tutur Wulan dengan bahasa isyaratnya yang tergesa-gesa, penasaran ingin segera mendapatkan jawaban dari sang mas tengah.
Runtuh sudah pertahanan kesabaran Wulan yang dipendamnya seorang diri, tak tau apa yang menjadi alasan dan penyebab perubahan sikap sang kembaran selama ini. Dan apa yang dibayangkan oleh Aifa'al sebelumnya akhirnya terjadi, membuat Aifa'al terbungkam. Tak tau harus menjawab apa dan menjelaskan seperti apa pada sang adik yang terlihat sangat penasaran. Bagaimana tidak, Wulan memang tidak tau menau dengan semua ini. Masalah sikap Damar yang berubah sengaja ditutupi oleh semua keluarga, atas permintaan Damar dan atas kesepakatan bersama demi menjaga perasaan Wulan.
"Mas kenapa diam? Adek juga sudah pernah bertanya pada Papi, Mami, Opa, Oma, Mas Ziel, Mas Syahal, Mas Syahil dan sekarang Adek ingin menanyakan hal yang sama pada Mas. Mungkin saja Mas tau, apa yang menyebabkan Mas Damar berubah separah ini. Bahkan Adek juga pernah menanyakan masalah ini pada Pakde, Bude, Paklik, dan Buklik. Tapi mereka tetap menjawab dengan jawaban yang sama setiap Adek bertanya. Adek semakin bingung, Mas. Apa yang sebenarnya terjadi pada Mas Damar?" tutur Wulan lagi, semakin mendesak Aifa'al.
"Apa Adek sudah pernah menanyakan hal ini pada Damar sendiri?" tanya Aifa'al balik, seraya menenangkan sang adik.
Wulan pun menggeleng, wajahnya berubah sendu ketika mendengar pertanyaan sang mas tengah. Membuat Aifa'al paham, kalau sang adik takut jika bersikeras menanyakan hal itu pada Damar sendiri, malah akan berimbas pada dirinya.
"Adek takut, Mas. Waktu itu Adek pernah menanyakannya pada Mas Damar, tapi Mas Damar malah pergi begitu saja, dan ekspresinya terlihat marah. Adek benar-benar takut dan cemas melihat sikap Mas Damar yang sekarang, Mas." tutur Wulan.
Wulan yang cemas dan meracau membuatnya perlahan tergugu, menuntun tangan Aifa'al bergerak cepat merengkuh tubuh sang adik masuk ke dalam dekapannya. Tidak percaya dengan semua racauan sang adik, membenarkan rasa takut yang ikut menyelimuti hatinya, bahwa Wulan juga ketakutan bahkan cemas dengan keadaan Damar yang berubah saat ini.
"Adek tenang dulu ya, Sayang." tutur Aifa'al, berusaha menenangkan sang adik yang tergugu teringat Damar.
"Adek khawatir Mas Damar berubah karena kecelakaan yang menimpa Adek waktu itu, Mas. Adek merasa kalau Mas Damar ketakutan. Adek merasa kalau Mas Damar trauma karena Adek, Mas." ujar Wulan yang terisak, menatap sendu mas tengahnya.
Aifa'al tercekat, membuatnya terdiam, ikatan bathin yang dimiliki oleh sang adik terhadap kembarannya memang lah sangat kuat, tanpa diberitahu bahkan dijelaskan pun ternyata Wulan mampu merasakan apa yang sebenarnya terjadi pada Damar saat ini. Membuat Aifa'al tak berkutik, lebih memilih diam daripada salah memberikan penjelasan pada sang adik yang sedang gusar hati dan pikirannya, membiarkannya tenang terlebih dahulu akan lebih baik.
"Hai Aifa'al...!
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading Allπ₯°π₯°π₯°