
...☘️☘️☘️...
Prang!
Suara pecahan gelas jatuh tiba-tiba bergema, tidak ada angin apalagi hujan, jiwa yang baru saja terbangun dari tidur karena merasakan haus tak terkira, dibawa untuk berjalan menuju dapur, meraih gelas lalu meneguk nikmatnya air dingin. Namun rasa yang tidak biasa datang, menyelinap masuk ke dalam relung hati, membuat hati yang semula tenang kini mendadak resah.
"Kamu kenapa Sayang?"
Ibel tersentak, mendapati tangan Ammar yang menyentuh bahunya, beranjak saat terdengar suara gelas pecah dari dapur, membuat Ammar panik hingga menyusul sang istri yang ternyata tengah termenung.
"Tiba-tiba perasaanku tidak enak, Mas." jawab Ibel, mengurut dada yang seketika berdebar kencang.
"Ayo kita duduk dulu ya!" ujar Ammar.
Ibel beranjak patuh, mengikuti sang suami yang menuntunnya menuju ke meja makan, membiarkan serpihan gelas berserakan di sana karena ada ART yang membersihkan.
"Sayang... coba cerita ada apa? Kenapa kamu melamun seperti tadi? Ini sudah larut malam loh!" tanya Ammar, menggenggam tangan sang istri, berusaha menenangkan.
"Aku juga tidak tau, Mas. Awalnya aku hanya ingin minum tapi tiba-tiba pikiranku tertuju pada Al. Aku kepikiran putraku, Mas." jawab Ibel yang membalas genggaman itu.
"Al pasti baik-baik saja, Sayang. Mungkin saat ini dia sudah terlelap di Apartment nya. Kamu itu terlalu memikirkan anak-anak sejak kembali dari rumah Ayah dan Ibu." tutur Ammar yang berusaha menenangkan.
"Entahlah, Mas. Sejak tadi siang aku sudah berusaha menghubungi Al, tapi ponselnya tidak aktif. Aku mencemaskannya, Mas!!!" jawab Ibel yang mendadak parau, terlihat tumpukan bulir kristal di mata indahnya.
Ammar beranjak, duduk lebih dekat dengan sang istri yang tengah dirundung keresahan, merengkuh tubuh sang istri yang bergetar, menahan kekhawatiran yang datang tanpa pemberitahuan, menyusup hingga membuat sang istri gelisah saat malam semakin larut.
"Coba kamu hubungi Ibu. Mungkin saja anak-anak sudah pulang dari jalan-jalan." ujar Ammar, mengelus punggung sang istri.
"Tapi ini sudah larut, Mas. Aku tidak mau mengganggu istirahat Ayah dan Ibu." ujar Ibel, melerai pelukan seraya menyeka air mata yang terlanjur menetes tanpa alasan.
"Coba dulu, Sayang! Ibu pasti mengerti." ujar Ammar yang tidak ingin istrinya resah.
Ibel mengangguk, beranjak sesaat menuju kamarnya, lalu kembali lagi ke meja makan setelah mengambil ponsel. Jari jemari yang lincah menari di atas layar ponsel, mencari nomor sang ibu mertua untuk dihubunginya.
"Assalamualaikum, Bu..." ujar Ibel.
"Wa'alaikumsalam, Sayang. Ada apa Nak? Kenapa kamu menghubungi Ibu di tengah malam? Kamu dan Ammar baik-baik saja?" cercah Bu Aini yang terdengar cukup panik.
"Ibel sama Mas Ammar baik-baik saja, Bu." jawab Ibel yang tersenyum, menahan hati yang ingin sekali ia tanyakan terus terang.
"Ibu kira kalian kenapa-kenapa, Sayang." ujar Bu Aini, terdengar helaan nafas lega.
Ibel tersenyum getir, mendapatkan sosok ibu mertua yang sangat menyayanginya seperti anak sendiri, cemas sendiri jika mendapatkan telepon dadakan seperti ini.
"Ibu... Ibel ingin bertanya sesuatu. Apakah anak-anak sudah pulang dari jalan-jalan?" ujar Ibel, terdengar gugup dan ragu namun kembali diyakinkan oleh sang suami.
"Sudah, Sayang. Mereka sudah pulang bahkan saat ini mereka sudah terlelap. Ziel, Al, Syahal, Syahil, Damar dan Wulan sudah berada di alam mimpi sekarang. Memang kenapa Sayang?" tutur Bu Aini.
"Al menginap di rumah Ibu?" tanya Ibel.
"Iya, Sayang. Awalnya Al menolak tapi karena Ibu memaksanya, jadi dia juga ikut menginap di sini." jawab Bu Aini, tidak ada keraguan sedikit pun saat menjawab Ibel.
"Lalu bagaimana keadaan mereka Bu?" tanya Ibel lagi, memastikan kecemasan yang semakin mendera tidak karuan.
"Mereka semua baik, Sayang. Kamu tidak perlu khawatir. Kalau di rumah ini, mereka akan aman bersama Ibu dan Ayah." jawab Bu Aini yang menenangkan sang menantu.
"Syukurlah. Maaf kalau Ibel mengganggu tidur Ayah dan Ibu ya. Kalau begitu, Ibel tutup dulu biar Ayah dan Ibu bisa kembali tidur. Good night, Ibu. Assalamualaikum." ujar Ibel, menutup telepon dengan helaan.
Ammar terkikik gemas, melihat ekspresi sang istri yang tampak lebih tenang dari sebelumnya, mendapatkan kabar bahwa anak-anak dalam keadaan aman, sehat, tidak ada kurang satu apapun dari mereka.
"Bagaimana? Sudah lega sekarang?"
"Sudah, Mas."
"Kalau begitu ayo kita kembali ke kamar!"
Ibel terperanjat, menangkap sinyal aneh yang muncul dari sorot mata sang suami, membopong tubuhnya ala bridal style ke arah kamar, menatapnya dengan tatapan penuh damba, menerbitkan seringai tipis yang membuat bulu kuduk Ibel meremang.
"Aku ingin melanjutkan yang tadi!"
__ADS_1
***
"Wa'alaikumsalam..."
Senyum yang semula merekah, berubah muram kembali setelah sambungan dari sang menantu berakhir. Terpaksa harus berbohong, menutupi masalah yang kini belum selesai dari sang putra dan menantu sulung, tidak ingin membuat Ammar resah hingga berujung ke rumah sakit lagi.
"Apa kata Kak Ibel, Bu?" tanya Vanny.
"Kakakmu pasti merasakan sesuatu yang berhubungan dengan anak-anak, Sayang." jawab Bu Aini yang mendadak sendu.
"Tapi Kak Ibel tidak curiga 'kan sama Ibu?" tanya Vanny, memastikan jika sang kakak tidak mencium aroma kebohongan di sana.
"Sepertinya tidak, tapi Ibu jadi tidak tega harus membohongi kakakmu terus, Nak." jawab Bu Aini, memijat pelipis yang penat.
"Hanya untuk sementara ini, Bu. Setelah semuanya clear, kita akan memberitahu Ammar dan Ibel bersama-sama. Karena bagaimana pun juga, kebohongan yang ditutupi akan terbongkar juga nantinya." timpal Pak Aidi yang menenangkan hati sang istri.
"Ayah benar, Bu. Untuk sekarang, biar lah seperti ini dulu sampai semuanya kembali dan masalah kita selesai. Demi kesehatan Kak Ammar juga, Bu." timpal Vanny yang semakin menguatkan hati sang ibu mertua.
Bu Aini menghela kasar, menggiring mata yang tertuju pada jam dinding, jarum yang terus berputar, menandakan perpindahan waktu yang terus bergulir. Malam semakin larut, namun tiada satu pun yang memberi kabar. Jiwa yang menanti, mata yang sejak tadi sudah mengantuk, tetap dibawa untuk berjaga, menunggu kabar baik dari Sadha, Dhana maupun Imam. Berkecamuk dengan hati yang terus menjerit, meminta kabar yang tak kunjung datang menghampiri.
***
Di bawah sinar rembulan. Imam, Dhana, Damar dan Wulan masih terus memantau, melihat pergerakan Gibran yang semakin mencurigakan. Melihat Aiziel yang terlihat menangis, meraung-raung terhadap sikap Gibran. Mengepal kuat tangannya, namun masih tetap ditahannya demi sang anty.
"Sepertinya Ziel salah menduga, Dhana." ujar Imam, memperhatikan gerakan Aiziel yang emosi tinggi pada Gibran.
"Kamu benar, Mam. Ziel mengira kalau kereta api tadi sempat melindas tubuhku." jawab Dhana, tiba-tiba merasa bersalah.
"Sabar, Pi. Jika situasinya sudah mulai aman, maka kita akan keluar dari sini." timpal Damar yang menenangkan sang papi.
Wulan mengangguk cepat, menyetujui perkataan sang mas kembar yang melihat ke arahnya dengan senyuman, meyakinkan sang papi yang dirundung rasa bersalah pada Aiziel, pura-pura mati seakan kereta api yang sempat melintas benar-benar telah membunuhnya secara tragis karena Gibran.
Pandangan Wulan kembali, memantau Aiziel dan Gibran yang tengah berdebat, menghempas rasa cemas yang semakin berkecamuk, melihat kondisi sang mami yang sangat memperihatinkan. Berselang tidak lama, datang lah Sadha dan kedua mas kembarnya lainnya yaitu Syahal dan Syahil. Menghampiri Aiziel yang menahan emosi, air mata hingga tenaga untuk bisa melawan Gibran secepatnya.
Mata yang masih memantau terbelalak, melihat perdebatan sengit yang terjadi di antara Sadha dan Gibran, membuat wajah Sadha memerah padam. Ingin menghajar Gibran dengan tangannya sendiri, namun kedatangan rombongan Polisi dari arah lain sukses mengejutkan jantung.
Imam, Dhana, Damar dan Wulan saling melempar pandangan, terkejut tak terkira dengan kedatangan beberapa orang polisi.
"Bukan! Bahkan aku tidak kepikiran untuk menghubungi Polisi di situasi seperti ini." jawab Imam, membantah dugaan Dhana.
"Damar?" tanya Dhana seraya menoleh.
"Mana mungkin Damar, Pi. Sampai saat ini saja Damar masih belum ingat, di mana terakhir kali Damar melihat ponsel." jawab Damar yang mengangkat kedua bahunya.
Dhana berdecak gemas, teringat dengan ponsel sang putra yang kini masih ada di tangannya, namun masih ia sembunyikan. Kembali fokus pada adegan di seberang sana, perdebatan di antara Polisi dan pria bernama Gibran yang sudah tidak waras.
Bugh!
Sret!
Bruk!
Imam, Dhana, Damar dan Wulan terkejut. Melihat Aifa'al yang datang dari arah lain, memukul Gibran secara tiba-tiba hingga tersungkur. Meraih cepat tubuh Mala dan memberikannya pada Sadha, Aiziel, Syahal dan Syahil yang masih tampak tak percaya.
"Kita harus keluar, Dhana! Al bisa nekat!!!" ujar Imam yang khawatir terhadap Aifa'al.
Dhana mengangguk setuju, disusul dengan anggukan Damar dan Wulan yang serentak. Dhana pun bergegas, berjalan menuju ke arah Sadha yang tengah menjaga sang istri, diikuti Imam, Damar dan Wulan di belakang.
Grep!
Hap!
Dhana terkesiap, mendengar suara keras yang diduga Gibran, memergokinya yang mengendap keluar dari rel. Membuatnya terhenti, menoleh ke belakangnya untuk memastikan kalau dugaannya tidak benar. Lalu menggiring mata ke arah seberang, membuat mata mereka terbelalak, melihat Gibran mencengkram Aifa'al dari belakang, seraya menodongkan pistolnya di pelipis.
"Ayo Dhana! Kita harus menolong Al!" seru Imam yang mengendap di samping Dhana.
Dhana mengangguk, melanjutkan langkah mendekati Sadha dan yang lainnya di sisi aman, disusul oleh Imam dan Damar dari samping. Namun tidak dengan Wulan yang tiba-tiba mendapatkan ide dadakan, lebih memilih jalan sendiri, pergi ke sisi lain dan mencari celah untuk menyelamatkan Aifa'al.
"Ayo cepat!!!" seru Dhana.
__ADS_1
Imam beringsut, mengikuti Dhana yang berjalan di sampingnya, diikuti juga oleh Damar dari sisi lain, seraya melihat situasi dan kondisi yang ada. Untuk sesaat Damar berjalan, namun kemudian ia terhenti saat menyadari sesuatu yang hilang dari sisinya.
"Adek di mana Pi?" tanya Damar.
Langkah Imam dan Dhana terhenti, melihat Damar yang tengah panik mengedar mata, mencari keberadaan sang adik yang hilang secara tiba-tiba.
"Bukan kah kamu selalu di sampingnya?" tanya Dhana yang ikut mencari sang putri.
"Tadi iya, Pi. Tapi sekarang tidak!" jawab Damar gusar, tidak bisa menemukan sang adik kembar yang pergi entah ke mana.
"Tenangkan diri kalian! Wulan pasti masih ada di sekitar kita." timpal Imam yang ikut mengedar, mencari sosok gadis kecilnya.
Mata ketiganya terus mengedar, berusaha mencari Wulan yang hilang tanpa ada jejak.
"Dhana... itu bukannya Wulan?" ujar Imam, menunjuk ke arah belakang Gibran di sana.
Dhana dan Damar menoleh serentak, melihat ke arah tunjuk Imam, dan benar saja kalau Wulan sudah berada di belakang Gibran dengan kayu balok di tangannya.
***
"Adek..."
Aiziel, Syahal dan Syahil terperangah, menangkap sosok gadis kecil di belakang Gibran dengan kayu balok di tangannya, siap melayang kapan pun sesuai keinginan. Sementara Sadha yang tengah berusaha membangunkan Mala pun ikut terbelalak, mendapati keponakan perempuannya ada di belakang Gibran dan siap memukulnya.
Bugh!
Krek!
Satu pukulan kuat mendarat di tengkuk Gibran, tidak membuatnya pingsan atau tersungkur seperti tadi. Membuat Wulan terperangah, melihat balok yang ia dapat di tengah rel ternyata lapuk, patah begitu saja saat menyentuh tengkuk Gibran yang keras.
"Siapa lagi yang bermain di belakangku?"
Gibran mendengus marah, melepaskan cengkraman tangannya dari Aifa'al lalu menoleh ke belakangnya hingga seringai licik terbit seketika dari kedua sudut bibirnya. Sementara Aifa'al yang berhasil lepas ikut melihat ke belakang, ingin tau siapa orang yang berani memukul Gibran selain dirinya.
"Adek..."
Aifa'al terperangah, melihat keberadaan sang adik yang datang entah dari mana, membuatnya kalut, melihat gerak-gerik Gibran yang mencurigakan. Sementara Wulan terkesiap, menatap nanar Gibran dengan gemetar, membuat kayu balok itu jatuh lemas menimpa kaki namun rasa takut lebih mendominasi dari pada sakit tertimpa.
"Ternyata kamu belum mati, gadis kecil! Baiklah, biarkan saya membuatmu pergi menyusul ayahmu ke neraka!" ujar Gibran.
Tangan yang semula mencengkram leher Aifa'al kini terangkat perlahan, memainkan hammer pistol hingga menimbulkan suara, mengarahkan pistol ke arah gadis kecil itu.
"Jatuhkan senjatamu!!! Atau kami akan menembakmu!!!" seru Bripka kepolisian, mencium bau-bau mencurigakan Gibran.
"Sebelum kalian menembak, peluru saya akan lebih dulu menembus jantung gadis kecil itu!!!" seru Gibran tanpa berbalik arah.
Aiziel, Syahal dan Syahil yang geram pun hendak beranjak, namun dihentikan Polisi. Begitu pula dengan Sadha yang beranjak bangkit dari duduk, ingin menyelamatkan Wulan yang tengah terancam. Sementara Dhana dan Damar yang tak kalah kekeuh ingin menyelamatkan Wulan pun langsung berlari, hendak menjangkau gadis kecil itu.
"Bersiaplah untuk mati, Sayang!"
"Jangan!!!" seru Aiziel, Syahal, dan Syahil.
Gibran menyeringai, melihat ketakutan di wajah Wulan yang bercucuran keringat, membuatnya semakin tertantang hingga...
Duaaaaaarrrrrrr...
Aifa'al yang masih di belakang Gibran pun mendengus marah, bergerak cepat meraih tangan pria itu lalu mendorongnya hingga tersungkur lebih parah dari sebelumnya.
"Wulan..."
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All 😇😇😇
Puanjaaaaaaannnggggg banget part rel kereta api ya, mungkin sampai buat para kakak readers bosan ya, maaf ya kak 🤭