
...☘️☘️☘️...
"Suatu saat nanti Papi akan tau kok, siapa sosok yang akan Damar bantu itu, sampai Damar rela mengorbankan jiwa dan raga Damar sendiri untuk orang itu!!!"
Wulan tersenyum getir, menatap lekat sang mas kembar yang begitu tulus menyayangi dirinya bahkan rela berkorban banyak hanya untuk mewujudkan mimpinya. Sementara Dhana yang melihat kedua anaknya saling pandang lama pun mengeryit heran dengan sikap Damar dan juga Wulan.
"Damar, Wulan... kenapa mata kalian jadi berkaca-kaca seperti itu? Memang Wulan tau, siapa yang akan dibantu oleh Damar?" tanya Dhana seraya meraih bahu keduanya.
Wulan menggeleng cepat, tidak ingin sang papi mengetahui rahasia yang selama ini ia dan Damar simpan bersama, terbongkar di saat seperti ini. Sementara itu, Damar yang terbawa perasaan, tidak sadar jika untaian kata yang terucap dari mulutnya, menarik perhatian sang papi dan membuatnya kepo.
"Tidak, Pi. Adek tidak tau!!!" jawab Damar yang seketika buntu harus menjawab apa.
"Papi tidak mau ya sampai kejadian ini terulang lagi. Kalian harus selalu saling menjaga, hanya itu pesan Papi!!!" tutur Dhana seraya menunjuk keduanya.
"Iya, Pi. Damar janji ini yang terakhir kali!!!" jawab Damar seraya mengangkat dua jari tangannya, membentuk V tanda berdamai.
Dhana menggelengkan kepala, tersenyum melihat kondisi putra putrinya yang terlihat lebih tenang, membuatnya ikut tenang dan bersyukur walaupun tindakan keji sang istri masih menari-nari di dalam pikiran. Namun dengan melihat kedua anaknya itu saling membela, menjaga dan menyayangi satu sama lain, sudah cukup mengobati hatinya yang terlanjur kecewa dengan sikap Mala.
***
"Assalamualaikum... Mas Ziel..."
Suara bariton yang tidak asing di telinga membuyarkan lamunan Aiziel yang masih terduduk di teras rumah sang oma. Aiziel mengangkat kepalanya, menoleh ke asal suara yang melangkah lebar menghampiri dirinya.
"Syahal... kamu ada apa datang ke sini?" tanya Aiziel yang masih enggan beranjak.
"Ck!!! Pertanyaan macam apa itu Mas? Memang Syahal tidak boleh datang ke rumah Opa? Ya jelas Syahal ingin bertemu Damar, Wulan dan Uncle Dhana. Syahal ingin menginap di sini mumpung besok libur." jawab Syahal yang ikut duduk di kursi.
"Hmmm, bagus lah kalau kamu memang ingin menginap. Jadi Mas ada temannya. Mas sedang menunggu Uncle Dhana dan si kembar yang sejak tadi belum pulang juga." ujar Aiziel seraya menyandarkan tubuhnya.
"Lah, memang mereka ke mana Mas?" tanya Syahal seraya menoleh ke arah parkiran mobil, mencari mobil sang uncle.
"Kalau Mas tau, sejak tadi Mas sudah menyusul mereka, Syahal!!!" sungut Aiziel yang gemas dengan pertanyaan Syahal.
"Kenapa tidak Mas coba telepon saja?" timpal Syahal seraya mengeluarkan ponsel.
"Kamu coba saja sendiri!" sungut Aiziel.
Syahal mendengus geli, menghidupkan ponsel untuk menghubungi sang uncle. Sesaat kemudian, hanya suara operator yang terdengar dari ponselnya, membuat Syahal mendengus kesal seraya melihat mas sepupu sulungnya itu. Sementara Aiziel, dibuat terkikik geli melihat tingkah sang adik.
"Bagaimana? Bisa?" tanya Aiziel.
"Kenapa Mas tidak bilang kalau ponsel Uncle Dhana tidak aktif?" sungut Syahal.
"Kamu 'kan tidak bertanya." jawab Aiziel.
Syahal berdecak kesal setelah mendapat kejahilan sang mas sulung. Sementara itu, gelak tawa Aiziel seketika bergema tatkala melihat ekspresi Syahal yang mengerucut.
__ADS_1
***
"Adik lo kenapa tuh Al? Dari tadi asyik melamun terus. Lagi putus cinta ya?"
Di pelantaran sebuah rumah kosong yang disulap sedemikian rupa menjadi sebuah basecamp, terletak di sudut kota, tampak sepi di saat sore menjelang malam seperti ini. Menjadi tempat tongkrongan anak-anak muda yang ingin mencari kesenangan dan hiburan semata bersama teman-temannya.
Bukan hanya sekedar tempat duduk dan nongkrong biasa, tempat itu merupakan basecamp geng motor yang terkenal dengan kejahilan, pengganggu hingga membuat kerusuhan di mana-mana. Tidak jarang mereka juga ikut taruhan, melawan anggota geng motor lainnya dan berkelahi. Salah dua anggota geng motor berandal ini adalah Aifa'al dan Syahil. Yang membuat Ammar, Sadha, Ibel dan Vanny naik darah tatkala mendapatkan berita jika salah satu anak mereka tertangkap ugal-ugalan saat bermotor hingga menciptakan kerusuhan.
Salah satu teman mereka tergelak lepas, melihat Syahil yang sejak datang dan ikut berkumpul, hanya asyik berkutat dengan pikirannya sendiri. Duduk termangu, seraya menyandarkan kepala pada sebuah tiang.
"Gue juga tidak tau. Sejak kemarin Syahil memang seperti itu. Sering diam, melamun. Entah apa yang sedang dipikirkan anak itu." jawab Aifa'al seraya mengedikan bahunya.
"Putus cinta kali Al." timpal teman yang lain, tergelak memperhatikan Syahil sejak tadi.
"Ck! Syahil itu tidak punya pacar! Mana mungkin dia putus cinta!" sungut Aifa'al.
Kedua teman Aifa'al pun memilih diam tatkala mendapatkan tatapan tajam darinya, membuat seringai tipis terbit di wajahnya. Sesekali Aifa'al melirik ke arah Syahil yang masih diam di tempat, tidak beranjak sama sekali walaupun hanya satu centimeter.
Sejak menolong anak bisu Uncle Dhana, sikap Syahil jadi berubah seperti ini. Dia sering melamun, tidak seperti biasa yang suka bicara terus tanpa henti. Kenapa sih anak itu? Apa dia tersentuh dengan sikap anak bisu itu? Ck! Hanya membalut luka kecil di tangan saja bisa tersentuh. Dasar menyebalkan. Gumam Aifa'al dalam hati.
Aifa'al mendengus kesal, teringat dengan cerita Syahil tentang Wulan yang sempat mengobati lukanya tadi malam bahkan sampai melupakan lukanya sendiri yang lebih parah, membuat hati Syahil didera kehangatan. Ditambah lagi dengan perkataan Syahal yang semakin membuat hatinya tidak menentu, namun memancing emosi Aifa'al ketika Syahil menceritakan itu.
"Woi... melamun terus lo, Hil! Kenapa sih? Kalau melamun lebih baik lo pulang saja!!!" sahut salah satu teman yang baru datang.
"Ah lo ganggu gue aja, Dim! Lo sendiri dari mana? Rencana mau motoran sore ini jadi atau tidak? Kalau tidak lebih baik gue dan Mas Al pulang saja lah! Lama-lama di sini cuma bikin pinggang gue sakit saja karena kelamaan duduk!!!" sungut Syahil seraya menoleh ke arah Aifa'al yang melihatnya.
"Sepertinya gagal deh. Kapten geng motor kita lagi ada urusan penting katanya. Ini gue saja baru menjalankan misi kapten." jawab teman Syahil yang bernama Dimas.
Dengan seringai tipisnya, Dimas merogoh saku jaket santainya, mengambil ponsel lalu membuka sebuah geleri foto dari ponsel itu.
"Gue disuruh sama kapten buat nabrak salah satu musuhnya yang ada di sekolah. Bukan musuhnya sih, tapi adik dari musuh bebuyutan si kapten. Karena dikasih cuan, ya gue terima lah tawaran itu. Nih fotonya!" ujar Dimas yang menggeser layar ponsel, mencari foto seseorang di dalamnya lalu memberikan ponselnya pada Syahil.
Rasa penasaran Syahil tidak bisa ia tahan lagi, dengan cepat ia meraih ponsel Dimas, melihat sebuah foto yang Dimas tunjukkan. Seketika, mata Syahil terbelalak sempurna tatkala melihat foto yang terpampang dari ponsel Dimas, membuat wajahnya merah padam, tangannya mengepal kuat dan siap untuk menerkam Dimas di saat ini juga.
Prak!
Syahil tersulut emosi, membanting kasar ponsel Dimas hingga hancur, membuat semua orang tertegun, beranjak dari duduk dan melihat ke arah Syahil yang berdiri.
"Lo apa-apaan sih Hil? Kenapa lo banting ponsel gue? Lo kalau lagi bad mood jangan seperti ini caranya dong!!! Ponsel gue jadi terkena imbasnya! Sialan lo, Hil!!!" tandas Dimas seraya memungut ponselnya yang sudah hancur.
"Maksud lo apa mau mencelakai adik gue, hah?!" tandas Syahil yang mencekam erat kerah baju Dimas.
Dimas menyeringai tajam, tidak menyangka kalau target tabrak lari yang ia rencanakan dengan sang kapten adalah adiknya Syahil. Sementara itu, Syahil yang tersulut emosi semakin mencekam erat kerah baju Dimas. Ternyata naluri sebagai seorang mas untuk Wulan yang ada di dalam dirinya tidak bisa ia bohongi. Tanpa sadar, Syahil yang keras perlahan mulai menyadari kalau dirinya juga menyayangi sang adik.
"Apa lo bilang? Jadi gadis bisu itu adik lo? Itu artinya, dia adik Al juga dong?!" tanya Dimas dengan seringai tajam, menatap Syahil.
"Kalau iya kenapa, hah?! Lo bilang sama si kapten, mulai detik ini juga gue keluar dari geng motor!!! Gue tidak suka, kalau ada orang yang ingin menyakiti keluarga gue termasuk lo dan si kapten oleng itu!" tandas Syahil seraya mendorong kasar Dimas.
__ADS_1
Dimas terhuyung ke belakang dan hampir menyentuh dinding. Namun Aifa'al datang bersama dua teman lainnya, menghampiri keduanya yang tengah bertengkar hebat.
"Ada apa sih kalian? Kenapa jadi ribut?" tanya Aifa'al seraya melihat ke arah Syahil.
"Lebih baik kita pulang, Mas. Syahil sudah tidak ingin lagi bergabung dengan mereka." jawab Syahil yang menatap tajam Dimas.
"Kamu bicara apa sih Syahil? Mas tidak mengerti dengan arah pembicaraan kamu." ujar Aifa'al yang melihat Syahil dan Dimas.
"Ternyata gadis bisu yang satu sekolah dengan si kapten adik kalian. Hahahah... gue tidak menyangka ternyata Aifa'al dan Syahil mempunyai adik yang cacat!" ujar Dimas yang menertawai Aifa'al dan Syahil.
Aifa'al mengeryit heran, melihat Syahil dan Dimas secara bergantian, mencari sesuatu yang belum ia ketahui penyebab keduanya bertengkar hebat seperti ini.
"Dimas disuruh Bima untuk menabrak Wulan, Mas. Syahil tidak bisa menerima itu! Bagaimana pun juga Wulan adik Syahil!!! Bukan binatang yang selalu mendapatkan perlakuan keji dari orang sekitarnya, Mas." ujar Syahil yang membuka suara.
Aifa'al terdiam, entah kenapa tiba-tiba saja hatinya dirundung rasa panas yang Syahil rasakan. Namun sesaat kemudian, Aifa'al menggiring matanya, menatap tajam sang adik dengan tatapan yang bisa diartikan.
"Kalau lo mau keluar silakan saja!!! Nanti bakal gue laporkan ke kapten Bima kalau salah satu anggotanya berkhianat! Cukup bersiap saja lo, buat menerima konsekuensi dari keputusan lo yang mendadak ini, Syahil Jiwathama!!!" ujar Dimas yang menyeringai.
Syahil mendengus kasar, memalingkan wajah efek jengah melihat tampang Dimas yang sangat menyebalkan menurutnya itu.
"Ayo, Mas!!! Kita pulang!!! Kita tidak perlu mengikuti jejak mereka yang semakin hari semakin kriminal." ujar Syahil yang meraih tangan Aifa'al.
Syahil menarik tangan Aifa'al yang masih terdiam. Namun belum selangkah Syahil bergerak, Aifa'al yang ditariknya langsung menepis kasar tangan Syahil, membuat Syahil terkejut lalu menoleh ke belakang.
"Kamu saja yang pulang! Mas masih mau bergabung dengan mereka! Kalau kamu pulang, jangan ke apartment!!! Mas tidak pernah suka dengan orang yang tiba-tiba berkhianat seperti kamu ini, Syahil!" ujar Aifa'al yang menatap tajam sang adik.
"Jadi Mas masih mau bergabung dengan orang yang ingin mencelakai keluarga kita?" tanya Syahil yang tidak heran sedikit pun.
"Sejak kapan kamu jadi membela si bisu itu, hah?! Sejak kapan!?" tandas Aifa'al seraya mencekam kerah baju Syahil yang terdiam.
"Sejak tadi malam, Mas. Ternyata selama kita membenci Wulan tanpa alasan hanya karena dia cacat, sudah membutakan hati kita, Mas. Dan melihat ketulusan hati Wulan saat mengobati tangan Syahil, Syahil jadi sadar kalau Wulan tidak berhak untuk kita benci karena dia anak yang baik dan tulus." jawab Syahil yang mendadak parau.
"Jadi kamu lebih memilih si bisu itu dari pada Mas yang selama ini ada di samping kamu, bahkan di saat kamu dan Syahal bertengkar Mas yang selalu ada untukmu. Tapi seperti ini cara kamu membalasnya?" ujar Aifa'al yang terdengar sangat kecewa.
"Syahil tidak memilih siapa-siapa, Mas. Wulan adik Syahil dan Mas Al masnya Syahil. Bagaimana mungkin Syahil bisa memilih kalian? Syahil hanya bisa berharap agar hati Mas juga bisa terbuka untuknya." jawab Syahil yang meyakinkan Aifa'al.
Tangan Aifa'al yang mencekam kuat kerah baju Syahil tertarik lemas, membawa Aifa'al melangkah masuk ke dalam basecamp. Namun sejurus kemudian, Aifa'al menoleh ke arah Syahil yang menatap penuh harap agar Aifa'al juga ikut bersamanya, karena ia cukup khawatir jika harus meninggalkan Aifa'al di dalam basecamp neraka itu.
"Pulanglah!!! Dan jangan pernah kamu menemui Mas lagi!!! Karena Mas tidak ingin bertemu dengan seorang pengkhianat!!!"
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading All 😇😇😇