
...🍁🍁🍁...
"Ke mana lagi kita harus mencari Wulan, Mas?"
Masih dengan kecepatan sedang, Sadha yang mengendarai mobilnya terus menyusuri jalan kota, membelah ruas jalan yang berselimut dinginnya malam. Seraya menoleh ke kanan dan ke kiri, bahkan ke belakang sesekali untuk menemukan sosok yang dicari. Namun sudah beberapa kali ia menyusuri jalanan yang sama, tidak satu pun dari jalan itu menunjukan keberadaan Wulan.
"Sabar, Dhana. Kita harus teliti. Siapa tau saja Wulan tidak jauh dari sini." ujar Sadha yang fokus ke depan dan ke samping.
"Kita sudah melewati jalan ini sepuluh kali, Mas. Tapi Wulan tidak ada juga. Bahkan kita juga sudah melewati jalan-jalan tikus yang ada, tapi hasilnya tetap sama." ujar Dhana yang semakin gelisah tidak tenang.
Sadha menghela nafas kasar, menepikan mobilnya sejenak untuk menenangkan sang adik yang masih dirundung kecemasan. Sementara Damar yang duduk di belakang tampak terlelap karena kelelahan mencari sang adik.
"Lalu mau kamu bagaimana Dhana?" tanya Sadha yang menoleh ke arah sang adik.
"Entahlah, Mas. Dhana bingung!" jawab Dhana yang memijat pelipisnya seraya bersandar di sandaran kursi mobil.
Melihat kegundahan sang adik membuat Sadha tidak tega, hatinya pun ikut gelisah memikirkan keadaan sang keponakan yang hilang entah ke mana. Sementara malam semakin larut, tak terasa hawa dingin pun semakin terasa menusuk badan. Namun pencarian tidak boleh dihentikan, terlebih lagi Wulan merupakan seorang gadis, akan berbahaya untuk gadis belia sepertinya berkeliaran di tengah malam seperti ini.
"Mas akan coba menghubungi Syahal. Semoga saja Ziel dan Syahal memberikan kabar yang baik untuk kita." ujar Sadha.
Dhana tetap bergeming, memijat pelipisnya yang terasa begitu berat untuk memikul banyaknya masalah keluarga kecilnya saat ini. Kalau bukan karena kebencian Mala, Wulan tidak akan kabur dari rumah seperti ini. Entah kenapa Dhana merasa gagal dan tidak becus menjadi seorang suami dan ayah untuk istri dan putrinya yang malang.
Di satu sisi Dhana termenung, namun di sisi lain Sadha tengah sibuk dengan ponselnya, mencari nomor sang putra yang masih ikut mencari keberadaan Wulan bersama Aiziel.
"Assalamualaikum... kamu di mana Syahal? Apakah kamu sudah menemukan Wulan?" tanya Sadha yang bertubi-tubi tanpa henti.
"Wa'alaikumsalam, Pa. Syahal dan Mas Ziel belum menemukan Wulan, Pa. Kami sudah mengelilingi semua jalan yang ada di dekat sini tapi Wulan tidak ada juga, Pa." jawab Syahal yang terdengar panik di balik ponsel.
Sadha menghela nafas panjang, mengacak rambutnya dengan kasar ketika mendengar perkataan sang putra di seberang sana. Sementara Dhana yang ikut mendengar itu, mengerti kalau Aiziel dan Syahal pun tidak berhasil menemukan keberadaan putrinya.
"Ya sudah, kalau begitu kalian pulang saja dulu. Biar Papa dan Uncle Dhana saja yang terus mencari Wulan. Papa cukup khawatir kalau kalian tetap kekeuh ikut mencari adik kalian. Terlalu berbahaya!" tutur Sadha yang sesekali menoleh ke arah Dhana.
"Tapi Pa..."
"Jangan membantah Papa, Syahal! Papa juga tidak ingin terjadi sesuatu pada kamu dan Ziel. Lebih baik kalian pulang, tunggu kabar dari Papa di rumah. Kamu paham!!!" potong Sadha yang menegaskan Syahal.
"Baiklah Pa..."
Suara Syahal mendadak lemah tatkala mendapatkan perintah dari sang papa yang tidak bisa ia bantah. Percakapan Sadha dan putranya pun berakhir. Lalu Sadha kembali melajukan mobilnya, membelah ruas jalan yang sejak tadi menjadi porosnya. Sesekali ia menoleh ke arah sang adik yang terdiam, menatap jendela mobil, menoleh ke arah Damar yang sudah terlelap di belakang.
"Kita akan menemukan Wulan, Dhana!!!"
***
"Ayo cepat!!! Kita harus pergi dari sini!"
Kini giliran Aifa'al yang menarik tangan kedua adiknya, berlari cepat menjauhi preman-preman mesum itu, membuat ketiganya terengah-engah karena kejaran preman itu. Mereka terus berlari, mendekati motor Aifa'al yang berdiri di tepi jalan.
"Ayo cepat naik!"
Aifa'al yang sudah siap di atas motor pun menyuruh Syahil dan Wulan untuk bergegas naik ke atas motor Yamaha Nmax hitamnya itu. Tanpa berpikir panjang, Wulan pun naik sedangkan Syahil masih repot dengan helm.
"Aaaaaa... aaaaaa..."
Wulan yang sudah naik ke atas motor pun berusaha menyuruh Syahil untuk cepat dan segera naik ke atas motor. Namun pria itu malah celingukan mencari sesuatu yang ia lupakan.
"Syahil... ayo cepat naik! Atau Mas tinggal kamu di sini ya dengan preman-preman itu!" sahut Aifa'al yang menoleh ke belakang.
"Tunggu, Mas. Ketoprak Syahil tadi di mana? Kenapa Syahil baru sadar kalau ketoprak itu sudah tidak ada di tangan Syahil?" jawab Syahil yang celingukan.
__ADS_1
Aifa'al dan Wulan menghela nafas kasar tatkala melihat tingkah Syahil yang tidak pada tempatnya. Sementara dua preman itu semakin berlari cepat dan semakin dekat.
Karena tidak ingin membuang waktu lagi, Wulan pun turun dari motor lalu berlari mendekati Syahil yang masih celingukan mencari dua bungkus ketoprak miliknya.
"Aa... aaa... aaa..." ujar Wulan yang entah apa artinya, membuat Syahil terperangah.
Wulan pun langsung menarik tangan Syahil, mengajaknya segera kabur dari tempat ini sebelum kedua preman itu menangkapnya.
Bruk!
Wulan terkejut saat pemilik tangan yang ia tarik malah terjatuh. Bergegas Wulan pun berbalik arah, menolong Syahil yang jatuh dan sepertinya terluka di bagian tangannya.
"Syahil, Wulan... ayo cepat!!!"
Suara pekikan Aifa'al yang menunggu cemas di atas motor pun bergema, menyadarkan Syahil dan Wulan yang terdiam di tempat. Sementara kedua preman itu masih terus berlari dengan kekuatan super ala superman.
"Ayo, Dek! Kita kabur saja!!!" ujar Syahil yang beranjak lalu menarik tangan Wulan.
Seutas senyum penuh rasa haru terbit di wajah Wulan tatkala mendengar Syahil memanggilnya dengan sebutan yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Sementara Syahil yang tampak tergopoh-gopoh saat berjalan, tanpa sadar menggenggam erat tangan sang adik dan membawanya lari.
Syahil dan Wulan berlari, menghampiri Aifa'al yang tampak emosi dengan tingkah ceroboh keduanya di saat situasi genting. Dengan cepat, Wulan naik ke atas motor dan hendak disusul oleh Syahil yang tampak kesulitan saat memasang helm.
"Nanti saja kamu pasang helm itu, Syahil! Cepat naik atau kita akan mati di tangan preman-preman mesum itu!" sahut Aifa'al.
Syahil yang tampak meringis kesakitan pun mengangguk patuh. Lalu ia hendak menaiki motor Aifa'al. Namun betapa terkejutnya ia saat melihat Wulan yang tiba-tiba turun lagi dari motor dan mengambil sesuatu.
"Wah... ketoprak!!!"
Syahil terpekik saat dua bungkus ketoprak yang sejak tadi ia cari, berhasil ditemukan oleh Wulan. Sementara Aifa'al yang melihat tingkah keduanya, semakin dibuat emosi.
"Kalian ingin ikut kabur atau tetap berada di tempat ini dengan kedua preman itu, hah?!" tandas Aifa'al yang geram, membuat Syahil dan Wulan terlonjak kaget.
"Woi... tunggu!!! Kalian tidak boleh kabur!" sahut preman itu yang terengah-engah.
"Sorry, Bang. Kita pergi dulu ya, bye, bye!" jawab Syahil seraya melambaikan tangan, terkekeh melihat tampang lelah preman itu.
Aifa'al pun melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kedua preman yang masih berlari terbirit-birit mengejar mereka. Sementara Syahil yang menoleh ke belakang, terpingkal lepas saat melihat kedua preman itu tersungkur ke jalan karena kelelahan setelah berlarian.
***
"Ziel, Syahal..."
Ketukan pintu dari luar mengagetkan Vanny yang tengah berbaring di sofa ruang tamu, menunggu kabar dari sang suami dan juga putranya yang sedang mencari keberadaan Wulan saat ini. Namun Vanny dibuat kaget lagi saat daun pintu rumahnya terbuka lebar, mendapati punggung sang putra dan Aiziel yang berdiri membelakangi pintu. Aiziel dan Syahal pun berbalik, melihat Vanny yang membukakan pintu.
"Ayo, masuk! Kalian pasti kedinginan 'kan?" Mama buatkan minuman hangat dulu ya."
Syahal mengangguk, lalu bergegas masuk yang diikuti juga oleh Aiziel. Sementara itu, Vanny bergegas menuju dapur, membuat sesuatu yang hangat untuk kedua putranya. Tidak berselang lama, Vanny kembali seraya membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat yang masih terlihat panas.
"Bagaimana Nak? Apa kalian berhasil?" tanya Vanny seraya meletakkan dua teh hangat di depan keduanya.
"Nihil, Ma!!!" jawab Syahal lirih.
"Ziel dan Syahal tidak menemukan petunjuk apa-apa tentang keberadaan Wulan, Bulik!" timpal Aiziel yang lemas tak bersemangat.
"Lalu paklik kamu bagaimana Ziel?" tanya Vanny lagi yang masih belum puas dengan jawaban keduanya.
"Paklik Sadha dan Uncle Dhana masih terus mencari Wulan. Paklik menyuruh kami untuk pulang dan menunggu kabar, Bulik." jawab Aiziel yang menoleh lemah ke arah Vanny.
Vanny menghela nafas panjang, berusaha menenangkan perasaan yang tidak tenang, memikirkan keadaan Wulan yang belum ditemukan sampai sekarang. Mesin waktu masih terus berputar, menunjukan jam satu tengah malam. Namun tidak ada kabar dari Sadha tentang Wulan.
__ADS_1
"Oma kalian sempat menghubungi Bulik setengah jam yang lalu. Oma bilang, dia bermimpi Wulan hilang, lalu oma kalian menghubungi Uncle Dhana. Tapi uncle kalian tidak menjawab telepon Oma, jadi Oma menghubungi Bulik, menyuruh Bulik untuk menghubungi uncle kalian." tutur Vanny yang menatap Aiziel dan Syahal.
Aiziel dan Syahal pun saling pandang, terkejut dengan perkataan Vanny barusan.
"Lalu Mama bilang apa?" tanya Syahal.
"Mama terpaksa harus berbohong pada oma kamu. Tapi Mama juga takut, kalau oma kamu malah nekat pulang malam ini juga dan mengetahui semuanya." jawab Vanny yang terlihat cemas dan gelisah.
"Oma tidak akan nekat, Bulik. Ini sudah tengah malam. Daddy dan Mommy tidak akan mengizinkan Oma dan Opa pulang begitu saja. Ziel yakin itu!" timpal Aiziel.
"Semoga saja, Nak. Bulik benar-benar gelisah memikirkan semua ini. Anty kalian yang tidak punya hati itu sudah tidak waras! Bahkan dia tidak menanyakan sama sekali bagaimana keadaan putrinya." ujar Vanny yang terbawa emosi lagi mengingat Mala.
Melihat sang mama yang terbawa emosi, Syahal pun berpindah tempat, berusaha menenangkan sang mama. Sementara Aiziel hanya bisa menghela nafas berat tatkala mengingat kelakuan anty-nya itu.
***
"Ayo, turun!!!"
Setelah berhasil menyelamatkan diri dari kejaran dua orang preman mesum, Aifa'al dan kedua adiknya pun sampai di parkiran apartment. Aifa'al beranjak turun, menatap Wulan dengan tatapan dinginnya, menolak keras untuk membantu sang adik yang tidak pernah ia anggap selama ini. Namun semua itu terbantahkan oleh naluri. Entah kenapa nalurinya muncul tiba-tiba, tidak menerima sang adik diperlakukan kasar oleh orang, membuatnya nekat menyelamatkan Wulan.
"Mas... malah bengong! Kesambet kuyang baru tau! Ayo, Dek! Kita naik ke apartment!"
Entah sadar atau tidak, lagi-lagi Syahil meraih dan menggenggam tangan Wulan lalu membawanya masuk ke apartment, meninggalkan Aifa'al yang sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri di tempat parkir. Hati Wulan menghangat tatkala tangannya digenggam erat oleh Syahil dalam keadaan sadar atau tidak, ia tidak memperdulikan itu. Bahkan hangat hatinya, sukses membalut rasa dingin di tubuhnya yang basah kuyup karena terguyur hujan.
Syahil terus menggenggam tangan Wulan hingga masuk ke dalam lift, disusul Aifa'al yang tersadar dari lamunan. Melihat sikap Syahil yang aneh, membuat Aifa'al jengah. Namun Syahil tidak menyadarinya sama sekali.
Ting!
Pintu lift terbuka, Aifa'al, Syahil dan Wulan bergegas menuju kamar apartment. Ketiganya tetap diam, keheningan pun tak dapat dihindari saat mereka masuk ke unit kamar apartment yang terbilang mewah itu.
"Syahil... ikut Mas sebentar!!!"
Syahil terperanjat tatkala tangannya ditarik Aifa'al tanpa permisi, tanpa aba-aba sama sekali, membuatnya melepaskan Wulan. Melihat gelagat Aifa'al yang dingin, Wulan pun mengerti. Aifa'al tetap lah Aifa'al, yang tidak menerima kehadirannya karena cacat. Sifat Aifa'al yang keras, bahkan sama keras dengan sang mami, membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa selain berdo'a agar semua ini akan berakhir dengan indah.
Sementara Wulan berdiri di ruang tamu, di sisi lain Aifa'al yang masih menarik tangan Syahil, membawanya ke dapur apartment.
"Mas... kenapa sih?" tanya Syahil yang heran dan bingung dengan sikap Aifa'al.
"Kamu yang kenapa? Kenapa kamu malah bersikap manis sama si bisu itu? Kamu sudah bisa menerima kehadiran anak itu? Yang hanya bisa membawa sial di dalam hidup kita? Kamu jangan lupa, Syahil!!! Karena dia, Mas selalu bertentangan dan bertengkar dengan Mas Ziel. Karena dia, kamu selalu berbeda pendapat dengan Syahal. Lalu ada apa dengan sikapmu sekarang ini? Memanggil anak bisu itu dengan manis, menggenggam tangannya, membawanya ke sini! Memang Mas sudah mengizinkan kamu untuk membawanya ke sini?" serkas Aifa'al yang bertubi-tubi tanpa henti, mengeluarkan semua keluh kesahnya.
Syahil terdiam, berusaha mengingat apa yang ia lakukan dan benar saja, pria itu ternyata tidak sadar dengan perlakuan manisnya terhadap Wulan sejak tadi. Rasa khawatir yang datang tiba-tiba, membuat Syahil melupakan kebenciannya sesaat.
"Sekarang, mau kamu apakan si bisu itu di sini? Mas tidak mau ya, kalau dia tetap ada di sini walaupun hanya satu malam! Silakan kamu pikirkan sendiri caranya!!! Mas tidak akan ikut campur lagi!" serkas Aifa'al yang marah seraya menatap tajam Syahil.
Aifa'al pun beranjak, mengambil langkah lebar masuk ke dalam kamarnya tanpa menoleh ke arah Wulan yang menatap ke arahnya dengan tatapan sendu. Walaupun jarak di antara dapur dan ruang tamu cukup jauh, namun sayup-sayup pembicaraan keduanya masih bisa tertangkap jelas di telinganya yang menggunakan alat implant.
Adek minta maaf, Mas. Karena Adek, Mas selalu bertengkar dengan Mas Ziel. Begitu pun dengan Mas Syahil. Kalau Adek tidak dilahirkan, mungkin kalian akan tetap akur. Maafkan Adek, Mas. Maaf. Gumam Wulan dalam hati.
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
__ADS_1