
...☘️☘️☘️...
Tubuh yang lelah dibawa duduk, meraih tangan sang putri yang masih terbaring lemah tak berdaya, memakai arm sling di tangan kiri sebagai penyanggah bekas luka. Menggenggam tangan sang istri yang masih terlelap karena efek obat bius yang kuat.
Dhana bertupang dagu, menatap lekat wajah anak dan istrinya secara bergantian. Setelah kepulangan Sadha, Imam bersama anak-anak, Wulan dan Mala dipindahkan. Memilih kamar rawat VIP agar lebih leluasa, diisi oleh dua orang pasien sekaligus untuk memudahkan Dhana melakukan penjagaan.
"Papi sangat bersyukur karena putri Papi yang cantik ini baik-baik saja."
Seutas senyum terbit, membawa diri lebih dekat dengan sang putri, menggenggam lalu menghujani tangan mungil itu dengan kecupan sayang nan hangat penuh syukur.
"Aku juga bersyukur karena Gibran tidak menyakitimu lebih jauh, Sayang."
Beralih pada sang istri, melepas sejenak tangan sang putri yang masih terlelap di tempat tidurnya, merangkai mimpi indah yang sempat terusik sejak beberapa hari. Dhana menghela berat, menautkan jari jemari tangannya dengan jemari sang istri, mengecupnya intens, memberi kehangatan yang bisa membantu proses penyembuhan.
"Kenapa kamu tidak pernah cerita tentang masa sulit hidupmu padaku? Kenapa aku harus mendengar semuanya dari Gibran?"
Helaan nafas berat kembali terdengar walaupun samar, berusaha menampik kegundahan yang menjalar, hati yang tengah kecewa tak dapat dipungkiri, masa kelam yang seharusnya dibicarakan justru malah menjerumuskan, mengancam jiwa yang seharusnya tidak tau menau dengan semuanya. Namun apa lah daya manusia yang lemah. Membuat Dhana harus tetap berpikir positif, yakin bahwa Mala memiliki alasan sendiri kenapa harus menutupinya.
Ceklek!
Pegangan pintu berbunyi, memancing kepala Dhana untuk segera menoleh ke sumber suara. Tampak sosok suster yang tengah berjaga, berjalan masuk mendekati Dhana dengan senyuman ramah yang khas.
"Pak Dhana... maaf mengganggu waktu istirahat anda." ujar Suster dengan ramah.
"Tidak apa-apa, Suster. Memang ada hal apa hingga Suster datang ke sini? Bukan kah kondisi istri saya ini sudah membaik?" jawab Dhana yang membalasnya ramah.
"Benar, Pak. Tapi kedatangan saya ke sini untuk memberitahu anda, bahwa dokter meminta anda datang ke ruangannya." ujar Suster.
"Memang ada apa ya Sus?" tanya Dhana.
"Saya kurang tau, Pak. Untuk lebih jelas, sebaiknya Pak Dhana langsung menemui dokter karena beliau sudah menunggu." jawab Suster yang tetap tersenyum ramah.
"Baiklah... saya akan ke sana." ujar Dhana.
"Kalau begitu saya permisi, Pak. Mari..."
Suster cantik penjaga shift malam pergi, keluar dari kamar rawat Mala dan Wulan, meninggalkan Dhana yang kebingungan, heran sekaligus penasaran kenapa dokter memanggilnya. Apa ada hal yang serius? Entahlah, membuat Dhana yang tak bisa menahan penasaran pun beranjak, pergi menemui dokter sesuai perkataan suster.
***
Malam semakin pekat, berteman awan hitam yang tampak bergerak, berpindah dari tempat satu ke tempat lain, mengiring kepulangan Sadha, Imam, dan anak-anak. Mobil Sadha yang bergerak di depan sana melaju kencang, disusul Aifa'al yang melaju dengan kecepatan sedang di tengah, diikuti mobil Aiziel yang melaju di belakangnya.
__ADS_1
Ciittttt...
Aiziel tertegun, mendapati sang adik di depan sana mendadak menghentikan motor, melihat sebuah Cafe yang cukup besar masih menerima konsumen di jam tengah malam seperti ini, membuat yang lainnya pun ikut terkejut lalu bergegas turun, membiarkan mobil Sadha melaju lebih jauh.
"Ada apa Al? Kenapa kamu berhenti mendadak seperti ini?" tanya Aiziel yang turun, meraih bahu sang adik yang terdiam.
"Iya, Mas. Bikin kaget kita saja!" timpal Syahal yang menggerutu kesal karena kepalanya sempat terbentur dashboard.
Alih-alih menjawab, yang ditanya justru mendengus marah, menatap tajam ke arah Cafe yang entah ada siapa di sana. Tanpa menjawab, Aifa'al membuka helm nya, lalu turun dari motor dan berlari ke dalam Cafe.
"Al..." pekik Aiziel.
"Mas Al kenapa sih Mas?" tanya Syahal.
"Mas juga kurang tau." jawab Aiziel.
Aiziel dan Syahal terpekur, saling melempar tanya yang tidak mampu mereka jawab. Namun berbeda dengan Syahil, mengenal bagaimana sifat Aifa'al membuatnya cukup paham, menggiring mata ke arah tatapan tajam yang ditolehkan oleh Aifa'al. Seketika membuat darahnya ikut mendidih hebat.
"Syahil... kamu mau ke mana?" pekik Aiziel.
Syahil bergeming, terus melangkah cepat menyusul Aifa'al yang aneh, meninggalkan Aiziel dan Syahal yang mengeryit bingung.
"Mereka kenapa sih Mas?" tanya Syahal.
Syahal mengeryit, semakin tidak paham dengan tingkah ketiga saudaranya yang sangat aneh dalam waktu bersamaan, ikut mengedar mata, mencari sesuatu yang ia sendiri tidak tau. Namun mata yang semula bergerak ke sana ke mari, terhenti. Melihat sosok yang familiar di dalam Cafe, sosok yang diduga menjadi pemantik amarah di dalam jiwa Aifa'al dan Syahil sebelumnya.
"Sepertinya kita harus menyusul mereka, Mas!!!" seru Syahal, berlari lebih dulu dan meninggalkan Aiziel yang terpekur heran.
***
Prok... Prok... Prok...
Seruan tepuk tangan bergema, memancing mata semua orang penghuni Cafe termasuk sosok yang terlihat dari depan sebelumnya. Membuat dua di antara banyaknya generasi penikmat Cafe, terperangah. Tidak percaya, melihat sosok di depan mata telah terbebas.
"Bagus!!! Ternyata di sini lo rupanya! Jadi gue tidak perlu susah payah lagi mencari orang gila biadab seperti lo, Bimantara!!!"
Bima terperangah, tampak sulit menelan saliva nya, menatap lawan bicaranya itu, menoleh sesaat ke arah temannya, yang tidak lain adalah Dimas, dan sosok gadis di sampingnya, sangat familiar yaitu Zivana.
"Aifa'al... k-kenapa lo ada di..."
"Kenapa Bim? Lo kaget melihat gue yang seharusnya masih disekap, justru ada di depan lo sekarang? Santai saja, Bro!!! Gue tidak akan membalas semua perbuatan lo segegabah itu!!! Gue bukan seperti lo!!!" potong Aifa'al yang menyeringai tajam.
__ADS_1
Bima dan Dimas terbungkam, menelan saliva nya dengan susah payah, membuat canggung satu sama lain, tak menyangka kalau singa yang ditangkap kini telah lepas, siap menerkam mangsa kapan saja.
"Brengsek lo, Bim!!!"
Syahil yang baru datang menghambur, langsung menyerbu Bima tanpa aba-aba, mengejutkan Aifa'al yang langsung berbalik, mencegah tindakan sang adik yang sangat gegabah, mengejutkan Bima, Dimas dan Zivana yang masih diam memperhatikan. Disusul Aiziel dan Syahal yang mengejar, sempat terhenti ketika mata melihat sosok yang sudah membantu niat busuk Gibran.
"Jangan sekarang, Syahil!" bisik Aifa'al.
Syahil yang emosi, mendengus. Menatap tajam Bima dan Dimas yang terlihat panik, namun bisikan sang mas sepupu menjadi penawar, amarah yang memuncak redup, bersamaan dengan kedatangan Aiziel dan Syahal yang ikut menyusul. Ikut terpancing emosi namun memilih untuk menenangkan amarah hati, seraya menenangkan Syahil.
"Lo berdua, masih beruntung karena bisa selamat dari kegilaan amarah Syahil saat ini!!! Lo berdua juga beruntung karena tidak ada Damar di sini. Lo berdua, belum tau saja bagaimana bringas nya Syahil dan Damar kalau sudah emosi!!! Dan lo berdua, belum tau saja bagaimana bengis nya gue kalau sudah marah!!! Lo berdua ingat!!! Gue tidak akan melepaskan kalian begitu saja! Lo dan anak-anak yang lain sudah mengeroyoki Syahil! Dan lo juga, yang sudah menyekap Damar dan Wulan atas perintah seseorang!"
Aifa'al menyeringai, melirik gadis kecil di samping Bima yang terlihat kebingungan, mengikuti pembicaraan yang membuat otaknya berputar keras, mengeryit heran, melihat Bima dan Dimas yang ketakutan.
"Lo pikir gue tidak tau siapa bos lo? Gue sudah tau, dan dia ada di penjara saat ini! Lebih baik kalian berdua siap-siap! Polisi akan mencari kalian setelah ini!!! Oh iya, mulai detik ini, gue keluar dari anggota lo! Dan satu hal lagi, jangan pernah lo sama anak-anak mengincar atau mengganggu adik-adik gue lagi! Kalau itu sampai terjadi, gue pastikan lo semua bakal membusuk di dalam penjara! Lo ingat itu!" tandas Aifa'al, menunjuk Bima dan Dimas bergantian.
Bima dan Dimas masih bungkam, menepis keterkejutan yang menyelimuti, menampik ketakutan ketika mendengar nama Polisi, membuat Zivana semakin bingung, tidak mengerti ke mana arah pembicaraan kini.
Aifa'al terkikik samar, menahan rasa geli melihat betapa buruknya tampang Dimas dan Bima yang ketakutan saat ini, keringat bercucuran di wajah mereka yang frustasi. Membawanya untuk segera beranjak, tidak ingin berlama-lama melihat wajah penculik kedua adiknya, menarik tangan Aiziel dan kedua adik kembarnya yang terlihat emosi.
"Oh iya satu lagi, buat lo gadis kecil! Ini sudah larut, lebih baik lo pulang! Jangan biarkan ibu lo cemas! Tidur yang lelap biar besok pagi lo bisa bangun dengan segar, dan bisa menemui ayah lo di sell tahanan!"
Aifa'al menyeringai tipis, mendengus geli melihat ekspresi Zivana yang masih tidak mengerti, belum mengetahui perbuatan busuk sang papa di belakang, berlagak seperti seorang pemimpin di depan orang banyak namun psikopat kelas VIP saat di belakang. Bermuka dua, seakan semua baik-baik saja, bertindak sesuka hati dan tidak berpikir resiko yang akan didapatkan.
Aifa'al berbalik, beranjak pergi bersama Aiziel, Syahal dan Syahil. Meninggalkan Bima dan Dimas dalam ketakutan, namun keheranan untuk Zivana yang tidak paham.
"Lebih baik lo antar Zivana pulang, Bim!" seru Dimas, mencairkan keheningan.
"Ayo Sayang! Aku antar kamu pulang!" timpal Bima seraya meraih jaketnya di sandaran kursi, melirik Zivana sesaat.
Bima beranjak lebih dulu, disusul Zivana yang masih bungkam, berjalan bersama Bima yang sejak kepulangan Aifa'al dan Syahil terdiam, enggan membuka suara.
Apa yang sedang terjadi di antara Bima, Dimas dan pria tadi? Kenapa dia berkata seperti itu dan mengatakan kalau Papa ada di dalam sell tahanan? Bukan kah Papa ada pertemuan dengan klien di Singapore. Gumam Zivana dalam hati yang bingung.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading All 😇😇😇