
...🍁🍁🍁...
"Papa, Paman..."
Sadha dan Imam terperanjat, menoleh serentak ke arah suara bariton yang tidak asing, berlari cepat menghampiri mereka.
"Ziel, Syahal, Syahil..."
Aiziel, Syahal dan Syahil menghampiri, setelah sepersekian detik mata ketiganya tertuju pada kobaran api di depan sana.
"Papa dan Paman kenapa sih pergi tidak pamit? Kenapa kalian tidak memberitahu kami?" sungut Syahal yang geram, marah karena tindakan sang papa.
"Kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya Sadha, menelisik ketiganya satu per satu.
"Paklik tidak perlu menutupi semuanya lagi dari kami. Opa, Oma dan Bulik sudah cerita semuanya pada kami. Daddy dan Mommy sempat datang ke rumah saat kalian pergi. Sikap Opa, Oma dan Bulik mendadak aneh hingga kami curiga ada sesuatu yang tidak kami ketahui. Akhirnya, Bulik menceritakan semuanya pada kami." ujar Aiziel mewakili.
Sadha dan Imam saling pandang, tidak menyangka kalau ketiga putra mereka itu sudah mengetahui segalanya, melupakan kobaran api yang semakin membesar.
"S-semuanya? M-maksud kalian?" tanya Sadha yang mendadak gugup.
"Semuanya, Pa. Termasuk masa lalu Papa, Uncle, Pakde, dan Onty!" jawab Syahil.
Sadha memicing sesaat, menghirup udara segar yang sebenarnya sudah terkontaminasi oleh kabut tebal kebakaran, menenangkan hati yang berkecamuk, rasa takut jika anak-anak mengetahui masa lalu akhirnya terjadi, aroma bangkai yang terus disimpan akan tercium juga oleh sekitarnya.
"Sudahlah, Mas! Anak-anak sudah dewasa dan mereka berhak tau masa lalu kita, agar mereka bisa mengambil pelajaran dari masa itu." tutur Imam yang menenangkan Sadha.
Sadha mengangguk, membiarkan nasi berubah menjadi bubur untuk selamanya.
"Uncle Dhana di mana Pa?" tanya Syahal.
"Astagfirullahalazim... di dalam sana Al, Damar dan Wulan masih terjebak!!! Kita harus menyelamatkan mereka!" seru Sadha.
"Lalu Uncle di mana Paklik?" timpal Aiziel.
"Dhana pergi mengejar Gibran, Ziel. Dia membawa Mala pergi dan saat ini uncle kalian sedang berusaha mengejar Gibran." jawab Imam yang berusaha untuk tenang.
Aiziel, Syahal dan Syahil terperangah, melempar pandang terkejut tak terkira. Pikiran yang kacau diusahakan untuk tetap tenang, mencari jalan keluar yang aman, membuat Aiziel terdiam untuk sekian detik.
"Begini saja!!! Paklik, Paman, Syahal dan Syahil tetap di sini! Kalian selamatkan Al, Damar dan Wulan. Ziel akan menyusul Uncle!!!" ujar Aiziel, mengambil keputusan yang tepat, membagi tugas agar semuanya selesai.
Sadha, Imam, Syahal dan Syahil saling pandang, mencari titik terang solusi yang baru saja dikatakan oleh Aiziel, apakah cara itu sudah tepat? Membiarkan Aiziel pergi menyusul Dhana yang saat ini entah ada di mana. Membuat Aiziel yang tidak sabar menunggu jawaban, beranjak. Mengambil langkah cepat kembali ke dalam mobilnya.
"Ziel..."
Langkah Aiziel terhenti, membuatnya menoleh ke arah sang paklik yang berjalan mendekatinya.
"Kamu harus hati-hati, Nak! Gibran sangat berbahaya!" seru Sadha, memegang bahu sang keponakan yang semakin dewasa.
"Ziel akan membawa Uncle dan Anty dengan selamat, Paklik! Ziel minta tolong. Tolong selamatkan Al, Damar dan Wulan." jawab Aiziel, berharap agar semuanya baik.
"Pasti! Pergilah!!! Sebelum uncle-mu makin jauh!" seru Sadha, berharap agar Aiziel bisa membantu Dhana menghadapi Gibran.
Aiziel beranjak, berlari ke arah mobil tapi bukan untuk pergi melainkan mengambil sesuatu yang sempat dibawanya sebagai persiapan di kala situasi genting terjadi. Menghampiri Sadha yang masih terpaku, memperhatikan gerak-geriknya yang aneh.
"Gunakan alat pemadam ini, Paklik! Ziel pamit menyusul Uncle Dhana dulu." ujar Aiziel, berlalu pergi meninggalkan Sadha.
Aiziel beranjak, dan benar-benar pergi menyusul Dhana dengan kecepatan tinggi. Sementara Sadha berdecak kagum, tidak menyangka kalau pola pikir Aiziel tidak jauh berbeda dengan Ammar, selalu menyiapkan sesuatu untuk situasi genting seperti saat ini.
Sadha berlari, menyandang tiga tabung pemadam kebakaran mini yang entah dari mana didapatkan oleh Aiziel. Memberikan ketiga tabung itu pada Imam dan Syahal, bergerak cepat untuk memadamkan api.
***
"Kita harus keluar dari sini, Damar!!!
Aifa'al berseru hebat, menghempas pintu dengan ribuan tenaga kuda yang masih ia miliki saat ini, berusaha membuka pintu yang entah terbuat dari besi macam apa, tidak hancur walaupun ledakan kuat tadi sempat menerjang. Sementara Damar, masih memeluk Wulan, melindungi diri dari kobaran api besar yang semakin menggila.
"Adek tunggu di sini dulu ya. Mas harus membantu Mas Al membuka pintu itu agar kita bisa keluar!!!" ujar Damar, menangkup wajah sang adik yang sangat kacau.
Wulan mengangguk patuh, menahan rasa perih di bagian mata akibat asap yang kian menebal, memenuhi ruangan yang sempit. Damar pun beranjak, mendekati pintu besi yang tak kunjung terbuka.
"Kita cari jalan lain saja, Mas!" seru Damar.
__ADS_1
"Jalan lain yang mana? Tidak ada jalan lain selain pintu ini!!! Kalau kita terus menunggu ruangan ini hancur karena api, bukan hanya ruangan ini yang akan hancur, tapi kita juga ikut hancur!" jawab Aifa'al terengah-engah, mengontrol detak jantung yang berpacu.
"Lalu bagaimana Mas? Rencana yang kita buat ternyata berakhir seperti ini! Pasti Pak Gibran dan Bima yang sudah meletakkan bom di gagang pintu dari luar! Dan aroma bensin itu, pasti mereka juga yang sengaja melakukannya!" seru Damar, panik, gelisah.
Aifa'al mengerang, menahan amarah yang kian membuncah, lebih besar dari kobaran api yang menggila. Ingin rasanya memukul Bima atau Gibran tanpa ampun saat ini juga, melepas semua amukan jiwa yang tengah menggelora, memenuhi relung hati yang kian melunak, tidak terima dengan semua kejahatan Bima dan Gibran pada adiknya.
"Aaaarrrggggghhhhh! Bimantara! Anak itu, akan menerima akibat dari perbuatannya!" pekik Aifa'al yang mendadak emosi jiwa, menghantam pintu besi dengan kepalan tangannya.
Damar memicing, menahan amarah yang sama, ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Aifa'al. Marah, kesal, bahkan benci yang kini telah mengusai diri, namun tetap ditahannya untuk sementara, memikirkan jalan keluar agar bisa selamat dari maut.
"Damar... Adek di mana?"
"Adek di sana, Mas."
"Bawa dia ke sini!"
Damar mengangguk, beranjak mendekati tempat di mana Wulan duduk menunggu.
"Adek... ayo kita ke sana!"
Wulan mengangguk pasrah, asap tebal membuatnya semakin sesak, namun terus ditahannya, tidak ingin Aifa'al dan Damar mencemaskannya lagi untuk saat seperti ini.
***
"Paman... ini pintu keluar ruangan itu!"
Syahil berseru, memanggil sang paman yang berusaha memadamkan kobaran api dengan alat seadanya. Melihat sebuah besi berbentuk persegi panjang yang menjulang tinggi, menyerupai sebuah pintu dari ruang rahasia nan sempit menyesakkan itu.
Imam beranjak, mengambil langkah cepat mendekati Syahil, tetap waspada dengan rembetan api yang kian merapat, menutupi celah jalan keluar untuk melakukan tindakan penyelamatan. Sementara itu, Sadha dan Syahal yang mendengar seruan Syahil pun ikut bergegas, beranjak dari tempat hendak mendekati Syahil.
"Ada apa Syahil?" tanya Imam.
"Ini pasti pintu ruangan ini, Paman!" ujar Syahil yang penuh keyakinan.
"Ada apa Nak?" timpal Sadha.
"Ini pintu ruangan itu, Pa." jawab Syahil.
"Lalu bagaimana caranya Paman? Adek, Damar dan Mas Al pasti masih di dalam!" jawab Syahal yang terlihat sangat tegang.
Imam terbungkam, memperhatikan celah yang mungkin masih dimiliki oleh pintu itu, berpikir sesaat seraya mengedar matanya, mencari sesuatu yang bisa saja dijadikan alat untuk membuka pintu besi itu dari luar. Pengedaran Imam terhenti, tepat di sudut lain yang memperlihatkan sebuah benda panjang nan tajam terbuat dari besi pula. Linggis besi!!! Itulah nama benda yang tertangkap oleh penglihatan Imam setelah sepersekian menit berpikir dan mengedar.
"Kalian tunggu di sini!" seru Imam.
Imam beranjak, berlari menjangkau benda panjang nan tajam itu di balik kobaran api. Tidak pantang menyerah begitu saja, demi menyelamatkan ketiga anaknya. Membuat senyuman lega tersirat seketika, merasakan adanya pertolongan dari sang Pencipta agar ketiga anaknya tidak mati sia-sia. Imam pun beranjak, hendak kembali mendekati Sadha, Syahal dan Syahil. Namun kakinya terhenti, merasakan sakit yang mendera tiba-tiba di bagian hati, membuat ringisan kesakitan keluar begitu saja dari mulutnya, berusaha menahan sakit di situasi genting seperti ini.
"Ya Allah... jangan sekarang! Aku mohon! Ketiga anakku dalam bahaya di sana, dan aku harus menyelamatkan mereka semua!"
***
"Paman Imam lama sekali, Pa!"
Kobaran api yang semakin besar membuat Syahil dirundung ketakutan, melihat ke arah sang paman berjalan namun tidak kunjung kembali setelah beberapa menit berlalu.
"Biar Papa melihatnya dulu! Kalian tetap lah bersama dan jangan ada yang berpencar!"
Syahal dan Syahil mengangguk patuh, membiarkan sang papa pergi ke arah yang sama dengan sang paman sebelumnya. Sementara Sadha berjalan cepat, mencari keberadaan adik iparnya yang tak kunjung keluar dari kobaran api.
"Imam..."
Sadha terperangah, melihat Imam yang tersimpuh lemah, memegangi perutnya yang masih sakit. Membuat Imam terlonjak, tidak ingin Sadha tau kalau saat ini dirinya tengah mengidap penyakit mematikan, sudah kronis bahkan mengancam nyawa.
"Kamu kenapa Dik? Kamu baik-baik saja?" tanya Sadha, membantu Imam untuk berdiri.
"Imam baik-baik saja, Mas. Tadi Imam kepeleset karena menginjak lantai yang terdapat airnya. Maaf, karena membuat Mas panik." jawab Imam, berusaha kuat, menepis sakit yang semakin tidak karuan.
Sadha terdiam, memperhatikan guratan aneh yang berbeda dari adik iparnya itu, ingin mencari tau namun situasi genting membuatnya urung, memilih untuk tetap pada tujuan awal, menanyakan lagi pada Imam nanti, setelah semuanya selesai.
"Kamu ingin mengambil apa sih?" tanya Sadha, kesal bercampur cemas jadi satu.
"Ini, Mas!" jawab Imam, memperlihatkan linggis besi pada sang kakak ipar seraya mengulas senyum, berharap Sadha tidak mencurigai gelagat anehnya.
__ADS_1
"Ya sudah!!! Ayo kita ke sana!!! Apinya semakin membesar dan kita harus cepat menyelamatkan anak-anak!" seru Sadha.
Imam mengangguk samar, membuatnya lega karena Sadha tidak banyak bertanya padanya yang terlihat sekali berbohong.
"Paman..." seru Syahal dan Syahil.
"Kalian mundur! Biar Paman yang akan membuka pintu besi itu dengan linggis ini." ujar Imam, bersiap dengan tenaga besar.
Syahal dan Syahil beringsut, mendekati sang papa yang tidak jauh dari posisinya, membiarkan Imam bekerja walaupun sisa tenaga yang dimiliki kian berkurang akibat menahan rasa sakitnya.
Tang!
Tang!
Tang!
Tiga hentaman linggis besi bertemu pintu besi, membuat tenaga Imam habis dalam sekejap. Sadha, Syahal dan Syahil yang melihat pun beranjak, menghampiri Imam yang terduduk lemas, bercucuran keringat.
"Kamu kenapa Mam?" tanya Sadha.
"Imam lelah, Mas. Tolong gantikan Imam sebentar ya." jawab Imam yang berusaha menahan sakit, tersenyum pada Sadha.
"Biar Syahal saja, Pa." timpal Syahal.
"Syahil bantu, Mas!" timpal Syahil.
Syahal mengangguk, membiarkan tenaga sang adik bersatu dengan tenaganya yang masih kokoh dan kuat. Anak kembar Sadha dan Vanny mulai bekerja, menghantam dan terus menghantam pintu besi dengan kuat. Membuat Sadha dan Imam terkejut-kejut melihat aksi keduanya yang begitu tangguh, hingga pada akhirnya...
Brak!
Pintu besi yang mulai menampakan celah didepak kasar oleh Syahal, menimbulkan suara yang teramat keras, hingga membuat semuanya terkejut termasuk Aifa'al, Damar dan Wulan yang terkurung di dalam sana.
"Mas Al, Damar, Wulan..."
Syahal dan Syahil bergerak masuk, menerobos kobaran api yang semakin membesar, disusul Sadha dan Imam yang semula terduduk kini berlari ikut menerobos, menghampiri Aifa'al, Damar dan Wulan.
"Al, Damar, Wulan... kalian tidak apa-apa 'kan Nak?" tanya Sadha yang memeriksa kondisi seluruh tubuh ketiga keponakannya.
"Paklik datang di waktu yang tepat! Lebih baik kita keluar sekarang, sebelum kedua bom di sudut sana juga meledak!!!" jawab Aifa'al, menunjuk ke arah bom yang masih aktif, tertempel di kedua sudut ruangan itu.
Sadha, Imam, Syahal dan Syahil terbelalak, menggiring mata ke arah tunjuk Aifa'al yang juga baru menyadari keberadaan bom itu. Membuatnya pasrah bersama Damar dan Wulan, memilih untuk diam karena seluruh usaha yang dilakukan akan sia-sia. Namun Tuhan masih baik, mendatangkan bantuan di waktu yang tepat, membuatnya lega.
"Ayo semua!!!" seru Sadha.
Sadha dan Imam membantu Aifa'al, Damar dan Wulan. Membawa mereka keluar dari kobaran api yang besar, hampir mendekati bom di sudut bagian atas ruangan sesak itu.
Duaaaaaarrrrrrr!
Suara ledakan begitu dahsyat, membuat mereka semua yang sudah menjauh dari tempat itu terjingkat, berjongkok serentak untuk menghindari efek ledakan keras itu. Mengatur deru nafas yang tak kalah cepat, berpacu dengan waktu di mana api akan menyentuh kedua bom yang masih tersisa.
"Pak Gibran benar-benar sudah stress! Ternyata dia sudah memasang bom di mana-mana. Di gagang pintu dan juga di sudut atas ruangan sesak terkutuk itu!!!" celetuk Aifa'al yang menahan geram sejak kemarin, ingin menghantam Gibran dengan tangannya sendiri jika pria itu ada di sini.
"Yang penting kalian semua selamat, Nak." timpal Imam yang merangkul bahu Aifa'al.
Aifa'al menghela nafas berat, menghirup udara segar setelah seharian ikut terkurung bersama kedua adik kembarnya di sana.
Grep!
Aifa'al terhenyak, mendapati sang paklik memeluknya. Mengusap dan mengecup kepalanya yang keras dan bandel dengan penuh kasih sayang, mencurahkan kata terima kasih karena sudah membuktikan kalau dirinya memang tidak bersalah.
"Paklik minta maaf, Nak. Terima kasih karena kamu sudah menemukan kedua adikmu dan melindungi mereka dengan sangat baik." tutur Sadha berselimut haru.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All 😇😇😇