
...☘️☘️☘️...
"Pak Dhana... akhirnya anda datang juga!"
Kaki yang berat dibawa terus melangkah, mengaitkan jari jemari tangannya dengan tangan sang istri, berjalan ragu mendekati sang penculik kedua anak kembarnya itu. Sementara si penculik masih membelakangi, berdiri dengan gagah bersama bodyguard di sisinya tanpa menolehkan wajah, membuat Dhana dan Mala saling pandang, sama-sama heran dengan pola pikir yang berbeda.
"Di mana anak-anak saya?"
Dhana angkat suara, menahan diri yang geram, niat hati ingin segera menghantam penculik yang tidak asing itu tanpa ampun, yang hanya berani pada anak-anak.
"Tenang lah dulu, Pak Dhana. Ketiga anak anda masih aman di dalam ruangan itu. Jadi, kita berbincang saja terlebih dahulu."
Seringai tajam terukir samar, menghiasi wajah tampan yang tertutup kaca mata hitam. Memutar tubuhnya perlahan, ingin melihat kedua tamu spesial di belakangnya.
"Alma Larashatika... akhirnya wanita yang saya cari-cari selama ini, menampakan wajahnya." sahut si penculik yang senang.
Mala mengeryit, berusaha melihat sosok yang mengenalnya itu, memutar memory lama untuk memastikan perkataan pria itu.
"Siapa kamu? Kenapa kamu mengenalku dan menculik putraku?" tandas Mala kesal.
"Hahahah... apa kamu sudah melupakan teman kecilmu dulu? Apa setelah menjadi istri seorang pengusaha Cafe membuatmu lupa akan masa-masa kita dulu?" ujar si penculik, bergerak maju hingga wajahnya terlihat jelas, menyeringai licik pada Mala.
Sinar rembulan yang menerangi malam, memberikan secercah cahaya penolong, membantu indera penglihatan bekerja di gelap gulita. Mala terperangah, menatap lekat wajah asing namun tidak dengan nama yang terlintas begitu saja. Sementara si penculik hanya tersenyum tipis seraya membuka jendela hitam bertangkai yang menutupi matanya.
"Mas Atha?"
Dhana menoleh cepat, menatap sang istri yang masih terpaku pada sosok di depan sana, menyeringai licik selicik seekor purba.
"Apa kabar Mala? Ternyata kamu masih ingat nama saya walaupun kamu tidak mengenal wajah saya. Ya, memang wajar. Karena pada saat terakhir kita bertemu itu sekitar 30 tahun yang lalu, bukan?" ujar si penculik yang tak lain adalah Gibran.
Mala mengeryit, menelisik penampilan Gibran dari ujung rambut sampai ke kaki, tidak menghiraukan tatapan sang suami yang menyelidik penasaran.
Ternyata pemilik sekolah ini adalah Mas Atha. Astaga... kenapa aku tidak kepikiran dengan namanya. Gibran Athaariq, pantas saja aku merasakan sesuatu yang aneh di saat Mas Dhana memberitahu siapa orang nama menculik putraku. Tapi kenapa Mas Atha menculik Damar? Kenapa dia mencari keberadaanku dan menginginkan aku? Apa yang dia mau sebenarnya? Gumam Mala dalam hati yang dirundung kebingungan.
Mala terdiam, memikirkan sesuatu yang mungkin saja bisa ia ingat terkait Gibran.
"Atha?"
"Iya, Mas. Dia adalah Mas Atha. Dulu dia sempat menjadi tetanggaku di sini sebelum aku, ayah dan ibuku pindah ke Kalimantan."
Dhana terbelalak, mengetahui kebenaran yang baru terungkap, menahan hati agar tidak emosi namun tangan tetap mengepal kuat, ketidakjujuran sang istri dipertaruhkan.
"Kenapa kamu baru bilang sekarang?"
"Karena itu tidak penting, Mas."
"Tidak penting bagaimana?"
"Dia hanya anak tetanggaku!"
"Lalu kenapa dia melakukan ini?"
"Aku juga tidak tau, Mas!"
Dhana berdecak lirih, melepaskan tangan sang istri yang digenggam nya. Sementara Gibran tampak terkekeh, melihat keduanya bertengkar, membuatnya sangat puas.
__ADS_1
"Tenang lah, Pak Dhana!!! Prasangka anda terlalu jauh terhadap saya dan istri anda itu. Kami hanya tetangga saat tinggal di Jakarta puluhan tahun yang lalu." timpal Gibran.
Dhana mendengus kesal, menatap jengah sosok pria yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu.
"Saya tidak punya waktu banyak, Pak Gibran! Sekarang cepat lepaskan ketiga anak saya! Kalau tidak, saya akan..."
"Saya akan melapor ke Polisi?"
Dhana tercekat, menahan emosi yang kian menyeruak, berusaha untuk tetap dalam rencana yang telah disusun rapih, tenang adalah kunci ampuh dalam menghadapi orang seperti Gibran yang memiliki kuasa.
"Tidak perlu melibatkan Polisi, Dhana! Jika kamu ingin ketiga bocah ingusan itu bebas, maka kamu harus memberikan istrimu itu sebagai gantinya!!!" ujar Gibran, memaksa.
"Apa? Apa telingaku ini tidak salah Mas? Sebenarnya apa sih yang membuat kamu terobsesi sekali bertemu denganku? Kita tidak ada hubungan apa-apa! Kamu hanya anak tetanggaku dulu dan jangan membuat suamiku berpikiran yang tidak-tidak tentang diriku!" timpal Mala yang mulai marah.
"Hahahaha... kamu yakin, kalau hubungan kita hanya sekedar tetangga lama? Apakah kamu tidak mengingat sesuatu? Sesuatu di malam itu. Kita berada di dalam satu rumah yang sama, padahal usia kita masih sangat muda. Apakah segitu mudahnya melupakan kenangan yang pernah kita buat bersama?" jawab Gibran yang menyeringai licik.
Mala terbelalak heran, bingung dengan maksud perkataan sosok yang di depan sana sebagai Atha, membuat hati sang suami yang mendengar perdebatan itu kian memanas, terbakar api amarah yang besar.
"Apa hubungan kamu dengan Gibran?" tandas Dhana, menarik bahu sang istri.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya, Mas. Percayalah! Bahkan aku tidak menyangka kalau Gibran yang kamu maksud itu adalah Mas Atha, tetanggaku!!! Jangan percaya dengan cerita pria itu, Mas. Dia hanya sedang mengelabui pikiranmu." jawab Mala yang berusaha meyakinkan.
"Lalu kenapa dia bicara seperti itu?" tandas Dhana yang semakin gelisah.
Mala menggeleng cemas, dahinya masih mengerut ketakutan, melirik Gibran yang menyeringai ke arahnya seraya beranjak.
"Apakah kamu ingin sekali mengetahui hubungan saya dengan istrimu ini Dhana?" timpal Gibran yang sudah berdiri di dekat Dhana dan Mala.
"Jangan memancing amarah saya, Pak! Saya masih menghormati anda saat ini! Namun jika anda seperti ini terus, jangan salahkan saya kalau saya akan bertindak lebih dari yang anda pikirkan!" tukas Dhana.
Dhana yang geram menepis kasar tangan Gibran, membuat pria itu tergelak seketika, menggiring mata ke arah Mala yang terlihat ketakutan, menangkap sesuatu di mata pria yang ia kenal sebagai anak tetangganya.
"Wanita yang ada di samping kamu ini adalah anak dari seorang pembunuh!!!"
***
"Mas yakin?"
Sepersekian menit memikirkan jalan yang paling tepat, membuat Aifa'al mengambil jalan pintas yang berbahaya agar terlepas dari ruangan gelap ini.
"Mas yakin kalau kamu pun yakin bisa membawa Adek keluar di saat api bekerja." jawab Aifa'al dengan penuh keyakinan.
Damar menoleh sesaat, melihat sang adik yang masih pingsan, meyakinkan diri kalau dirinya dan Aifa'al bisa keluar dari sini.
"Damar yakin, Mas!" ucap Damar.
"Oke... Sebelum kita membakar tempat ini, Mas akan memastikan kondisi pintu besi itu terlebih dahulu. Siapa tau saja pintu itu bisa rusak dengan api lilin ini dan kita tidak perlu nekat. Jika pintu besi itu tidak bisa dirusak, maka tidak ada jalan lain selain membakar ruangan ini." tutur Aifa'al yang menjelaskan.
"Damar akan membantu Mas." ujar Damar.
"Oke..." jawab Aifa'al yang mengangguk.
Aifa'al dan Damar bekerja sama, merusak gagang pintu hanya dengan bantuan lilin yang mulai meredup, berharap besar agar rencana gila kali ini membuahkan hasilnya.
Srek!
__ADS_1
Srek!
Srek!
Aifa'al dan Damar terkesiap, saling tatap tatkala suara gesekan tiba-tiba terdengar nyata. Mereka menoleh bersama, melihat Wulan yang bergerak, menggeliat setelah lama tertidur dalam pingsannya.
"Adek..."
Damar beranjak, berlari mendekati Wulan yang tersadar, meraih kedua bahunya dan membantunya mengambil posisi duduk.
"Adek tidak apa-apa 'kan Sayang? Apa yang sakit? Di mana yang sakit?" cercah Damar seraya memeriksa tubuh sang adik.
Wulan menggeleng, memegangi kepala yang masih terasa berat karena pingsan terlalu lama, lalu mengedar pandangan.
"Kita masih di tempat ini Mas?" ujar Wulan dengan bahasa isyaratnya, berusaha untuk menahan berat yang mendera kepalanya.
"Iya, Dek. Mas minta maaf ya, karena kita masih terkurung di tempat ini. Tapi Adek jangan takut karena Mas dan Mas Al akan berusaha mencari jalan keluar dari tempat ini. Adek duduk di sini saja ya." tutur Damar, meyakinkan sang adik yang terlihat tenang.
Wulan mengangguk patuh, memancing kedua sudut bibir Damar terangkat serentak, membentuk bulan sabit yang sangat manis menenangkan. Mengelus kepala sang adik sesaat sebelum beranjak menghampiri sang mas sepupu yang berdiri terpaku di dekat pintu, memperhatikan kedua adiknya yang saling menyayangi dan menguatkan satu sama lain, membuatnya ikut tersenyum.
"Mas..."
"Ah iya... ayo kita lanjutkan!"
Aifa'al membuang muka, melanjutkan aksi pembobolan yang tertunda, menutupi rasa gugup yang mendera tiba-tiba, tersentak ketika Damar memergoki dirinya menatap Wulan dengan lekat, ikut hanyut dalam haru.
Mas Al sangat berbeda. Semoga saja setelah kejadian ini Mas Al benar-benar akan berubah dan mau menerima Adek. Gumam Damar dalam hati.
***
"Wanita yang ada di samping kamu ini adalah anak dari seorang pembunuh!!!"
Dhana dan Mala terbelalak sempurna, menatap tajam Gibran yang sembarang berkata buruk, menuduh Mala seperti itu.
"Apa maksud anda berkata seperti itu?" tandas Dhana yang menahan amarah.
Alih-alih menjawab pertanyaan Dhana, Gibran malah terbahak-bahak, membawa tubuh menjauhi keduanya yang terkejut.
"Kamu ingin mendengarkan cerita saya tentang silsilah keluarga istrimu itu Dhana?" tanya Gibran dengan seringai tidak sabar, memancing emosi Dhana yang tersimpan.
Dhana mendengus kasar, siap untuk menerkam Gibran kapan saja jika amarahnya memuncak, mengepal kuat tangannya, menoleh ke arah Mala yang tampak kebingungan dengan semua ini. Berusaha untuk percaya pada sang istri namun hati semakin keras pula menolaknya.
"Baiklah... persiapkan mental kamu saat mendengar semua cerita saya ini. Karena saya kurang yakin, kalau setelah ini kamu akan menerima istrimu itu dengan tangan terbuka seperti sebelumnya!" seru Gibran.
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
__ADS_1