
...☘️☘️☘️...
"Kenapa Dim? Lo kaget melihat gue?"
Kaki Dimas mendadak lemas, menatap nanar sosok yang selama ini cukup dekat dengannya, bahkan sudah seperti saudara. Waktu pun seakan berhenti pada porosnya. Membuatnya terhuyung ke belakang, tidak kuasa menahan keterkejutan dalam dirinya.
"K-kenapa lo bisa ada di sini Bim?"
Bima, dialah sosok yang berhasil membuat Dimas lemas tak berdaya seperti sekarang. Memancing seringai tajam khas Bimantara terbit dalam sekejap, menatap tajam teman sekaligus orang kepercayaannya itu penuh makna yang tersirat dari sorot mata kilatnya.
"Kenapa? Harusnya gue yang bertanya seperti itu sama lo, Dim! Kenapa sahabat gue yang tersayang ada di markas musuh geng motor kita? Lo cuma sendiri di sini?"
Dimas semakin melemas, wajahnya pucat seperti belum makan selama beberapa hari, melihat sorot mata kapten geng motornya itu yang sangat ia pahami. Seraya berjalan maju, hendak mendekati dirinya yang saat ini sudah mengenakan helm dan ingin pergi.
"G-gue... g-gue... gue sedang melakukan pengintaian!!! Ya... gue sedang mengintai anak-anak Tiger, agar Black Moon bisa menghabisi mereka semua dengan mudah." jawab Dimas, gugup sekali melihat Bima.
"Lo yakin dengan perkataan lo itu?" ujar Bima, menautkan kedua alisnya seraya memberikan tatapan kilat kepada Dimas.
"Sangat yakin, Bim! Lagi pula, tidak ada gunanya juga gue bohong sama lo dan teman-teman kita. Toh nantinya kalian semua juga bakal tau rencana gue ini." jawab Dimas dengan enteng, tanpa beban.
"Memang apa tujuan lo mengintai anak geng Tiger? Padahal gue tidak pernah menyuruh lo untuk melakukan semua ini!" tukas Bima seraya menyilangkan tangan.
"Ya... gue cuma mau membantu lo saja, Bim. Gue yakin, lo bakalan senang banget kalau gue berhasil mengintai pergerakan musuh geng motor kita itu!" jawab Dimas, seringai liciknya pun turut hadir di bibirnya.
Bima berdecak lirih, memalingkan wajah sesaat seraya membuang nafas kasar dari mulutnya saat mendengar jawaban Dimas. Sementara Kenzie dan teman-teman geng motornya yang lain terlihat tergelak miring, mendengar jawaban Dimas tanpa beban itu.
Prok!
Prok!
Prok!
Dimas terjingkat, mendapati teman-teman geng motor Tiger yang ternyata masih ada di markas, melangkah maju seraya bertepuk tangan dengan sangat kerasnya. Ada lima orang anak geng Tiger yang ternyata masih berada di markas, yaitu anak-anak Tiger yang sempat berpamitan pulang sebelum Dimas mendapatkan panggilan dari Gibran.
"K-kalian?" ujar Dimas, tercekat.
"Kenapa Dim? Kok lo gugup gitu? Takut kalau semua rahasia licik lo terbongkar? Ternyata ini niat lo? Sok ingin bergabung dengan geng Tiger, tapi niat lo sebenarnya hanya untuk mengintai pergerakan kami?" pungkas salah satu anggota geng Tiger.
"Bukan! Bukan seperti itu maksud gue!" jawab Dimas, membuka helm nya lagi.
"Sudahlah, Dim!!! Semua kebusukan lo, sudah terbongkar! Lo itu pengkhianat!" tandas salah satu anggota Tiger lainnya.
"Tidak! Gue bukan orang yang seperti itu! Kalian harus mendengar penjelasan gue! Bukan seperti itu maksud gue, guys!" ujar Dimas, meyakinkan teman-temannya itu.
"Lo yakin? Kalau lo bukan orang yang seperti mereka katakan tadi? Seorang pengkhianat! Hahahaha...!" timpal Bima, tergelak melihat betapa buruknya Dimas.
"Diam lo, Bim!" seru Dimas, marah.
Bima tersenyum miring, menoleh ke arah Kenzie sesaat yang ikut tersenyum miring melihat situasi sulit yang menimpa Dimas, membuat mereka puas, dan sebentar lagi Dimas akan kalah se kalah-kalahnya.
"Kalian sudah tau 'kan? Bagaimana watak asli dari seorang Dimas Pandawa? Itulah kenapa gue sempat menghalangi jalan kalian di saat kalian hendak pulang tadi!!! Kalian yang semula tidak percaya, saat ini kalian bisa mendengar semuanya, bukan? Dimas adalah seorang pengkhianat! Gelar pengkhianat yang melekat dalam lelaki itu mungkin sudah professor. Jadi kalian harus berhati-hati dengan makhluk seperti dia!!!" ujar Bima, menyeringai puas melihat Dimas.
"Jadi lo yang..."
__ADS_1
Bima tergelak lepas, memangkas ucapan Dimas yang tercekat, keterkejutan di wajah Dimas sangat memuaskan Bima, membuat Dimas gugup seketika. Gelak Bima semakin bergema, teringat ketika dirinya bersama teman-teman Black Moon lainnya masuk ke pekarangan markas geng Tiger, berpapasan dengan kelima anak muda yang Bima yakini bahwa mereka itu anggota geng Tiger yang hendak pulang, namun dicegah oleh Bima.
Bima dan Kenzie berusaha meyakinkan kelima anak muda itu, kendati mereka tengah musuhan sebagai rival antar geng motor. Lalu Bima memberitahu mereka seperti apa Dimas yang sebenarnya, kendati sempat mendapat penolakan dari mereka yang tidak percaya, apalagi pada musuh. Namun Bima yang tidak akan menyerah begitu saja terus meyakinkan mereka dan dibantu oleh Kenzie sebagai saksi nyata, hingga akhirnya kelima anak muda geng Tiger itu setuju, mengikuti rencana halus Bima yang ingin menjebak balik temannya.
"Kenapa Dim? Lo terkejut lagi? Jantung lo masih aman 'kan? Apa perlu gue hubungi pihak rumah sakit? Biar mereka mengirim ambulance ke sini untuk lo? Hahahaha.... jangan naif, Dim!! Gue tidak sebodoh yang lo kira! Sudah cukup lo mengkhianati gue! Tapi sekarang, lo tidak akan bisa lepas lagi dari gue! Eh, bukan dari gue! Tapi dari anak geng Tiger yang mungkin dendam sama lo!" pungkas Bima, memotong ucapan Dimas.
Dimas tercengang, mendengar perkataan Bima yang tengah tergelak lepas bersama teman-teman Black Moon. Melihat dirinya yang terperangah tak menyangka, ternyata Bima telah mengetahui semua rencananya.
"Iya, Dim! Gue sudah tau semuanya, semua kebusukan lo! Tega lo! Lo mengkhianati gue hanya karena posisi sebagai kapten! Asal lo tau, padahal gue memang ingin menjadikan lo sebagai kapten, pengganti gue yang tidak lama lagi bakal lengser! Sudah lama banget gue jadi kapten dan memang sudah saatnya gue turun podium! Tapi apa yang lo lakukan sekarang? Lo malah bekerja sama dengan Pak Gibran hanya untuk menjatuhkan gue!"
Dimas terbungkam, lidahnya terasa kelu untuk menjawab apalagi untuk menyela perkataan Bima. Sementara Kenzie dan teman-teman Black Moon lainnya hanya memandang hina ke arah Dimas, yang tak lain adalah seorang pengkhianat bahkan penindas sesama teman tanpa belas kasih.
"Padahal selama ini gue percaya banget sama lo, tapi apa balasan lo untuk gue? Di saat gue butuh bantuan lo, lo malah seperti ini! Lo tusuk gue dari belakang, Dim! Sakit! Gue kecewa banget sama lo! Gue berpikir kalau persahabatan kita selama ini, tulus!!! Gue tau kalau gue nakal, berandalan dan susah buat diatur! Tapi gue masih bangga sama diri gue sendiri, karena gue bukan pengecut bahkan pengkhianat seperti lo!!!" tutur Bima, menatap nanar sang sahabat.
"Gue minta..." ucap Dimas, tercekat.
"Cukup, Dim!!! Gue tidak bisa menerima pengkhianatan lo yang sangat kejam ini! Bahkan lo juga menindas teman-teman di saat gue masih di penjara! Gue masih tidak percaya sebenarnya, ternyata orang yang selama ini gue percaya malah seperti ini!!!" pungkas Bima, menghentikan Dimas.
"Bim... gue benar-benar..."
"Sudah! Cukup! Gue tidak bisa memaafkan orang yang sudah berkhianat seperti lo ini!" potong Bima yang menghentikan Dimas.
"Tapi Bim..."
"Sekarang terserah kalian saja, guys! Gue tidak mau berurusan dengan anak itu lagi! Terserah kalian mau apakan dia, dan yang jelas dia bukan siapa-siapa gue lagi! Ayo Ken! Kita cabut dari sini!" sahut Bima pada anak-anak geng Tiger lalu melihat ke arah Kenzie dan teman-temannya.
"Oke Bim...!" jawab Kenzie.
Bima tersenyum miring ke arah Dimas sebelum kakinya melangkah lebih jauh, diikuti oleh Kenzie dan teman-temannya, meninggalkan Dimas yang menatapnya penuh harapan maaf, membiarkan Dimas bersama anak-anak geng Tiger yang tak lain adalah musuh bebuyutan Black Moon.
Dimas pun tersadar, posisinya berada di ambang kehancuran, kelima orang anggota geng Tiger yang menatapnya penuh dengan amarah telah mengepungnya secara utuh, membuat pergerakannya semakin sempit. Melawan pun tidak akan berhasil, apalagi kondisi fisiknya yang sudah babak belur di tangan Aifa'al sebelumnya, Dimas gelisah.
"Kali ini lo tidak bisa lari lagi, Dimas!"
Dimas beringsut mundur, posisinya sangat sulit sekelompok ini. Kelima anak geng Tiger itu terus mengepungnya, melangkah maju perlahan hingga tubuh Dimas menabrak drum kosong yang ada di dalam markas.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Tiga pukulan sedang yang berhasil Dimas layangkan pada mereka, membuat mereka terjatuh bersamaan. Dimas bergegas kabur, menjangkau motornya yang sudah bersiap untuk pergi sejak tadi. Sementara kelima anak geng Tiger beranjak cepat, mengejar Dimas yang sangat gesit, melajukan motor dengan kecepatan angin menyusuri jalan.
"Ayo kita kejar dia!"
"Ayo...!"
Kelima anak geng Tiger itu pun bergegas, menaiki motor mereka yang masih terparkir. Lalu mengejar Dimas yang melaju dengan sangat kencang, melupakan perintah sang bos besar yang menyuruhnya mengejar Bram, merebut Wulan kembali dari Bram. Niat hati ingin mengejar Bram, justru dirinya sendiri yang saat ini tengah dikejar-kejar.
"Woi...! Berhenti lo, Dim!"
Dimas yang melaju di depan terjingkat, mendengar sayup-sayup sahutan dari arah belakang yang membabi buta ingin sekali menyerangnya tanpa ampun, membuatnya semakin frustasi dan kelimpungan. Apalagi ilmu bela dirinya yang tidak terlalu handal. Melawan Aifa'al yang sendirian saja Dimas kalah, apalagi melawan kelima anak geng Tiger yang terkenal kuat dan bringas itu.
__ADS_1
"Woi... berhenti lo!"
Dimas yang frustasi karena sahutan demi sahutan itu, menoleh sesekali ke belakang. Melihat jarak di antara motornya dengan kelima anak geng Tiger yang berada tidak jauh dari motornya, membuat Dimas panik. Hingga tak memperhatikan ruas jalan yang sedang dilaluinya saat ini. Tampak lah dari arah yang berlawanan sebuah mobil truck besar bermuatan penuh melaju kencang, dan tanpa Dimas sadari bahwa motornya saat ini sudah melewati batas, keluar dari area yang seharusnya dilalui dengan benar.
Tin!
Tin!
Tin!
Dimas tersentak, kepala yang sejak tadi sibuk menoleh ke belakang kini menoleh cepat ke arah depan saat terdengar suara klakson mobil truck dari arah depan sana. Membuat Dimas yang terkejut, kehilangan keseimbangan saat menyadari kesalahan dalam mengemudi motornya tanpa arah.
"Aaarrrggggghhhh...!"
Tin!
Tin!
Srek!
Bruk!
Tang!
Motor Dimas banting stir ke arah kiri karena kehilangan keseimbangan, menabrak pohon besar dan menyebabkan tubuhnya terpental jauh dari motor yang posisinya saat ini saja cukup mengenaskan. Hancur di bagian depan motor, setang motornya pun juga sudah tak menentu arahnya sekarang ini. Membuat kelima anak geng Tiger terkejut, melihat betapa tragisnya nasib hidup Dimas.
"Lebih baik kita cabut, guys!"
"Gue setuju!"
"Dari pada kita harus berurusan dengan Polisi! Prosesnya akan menyulitkan kita!"
"Biarkan saja Dimas sekarat sendiri!"
"Biar dia tau rasa! Biar dia menerima akibat dari perbuatannya karena dia sudah berani bermain api dengan geng motor kita!"
"Gue setuju! Ayo kita pergi!"
"Ayo guys! Mumpung masih sepi!"
Kelima anak geng Tiger itu bergegas pergi, meninggalkan Dimas yang terkapar di tepi jalan, sekarat melawan malaikat maut yang sedang melakukan proses pencabutan jiwa dan memisahkannya dengan raga si pemilik tubuh. Sementara mobil truck yang sempat melintas kencang tadi terus melaju, pergi tanpa meninggalkan bekas apapun di sana. Lalu bagaimana kah nasib Dimas Pandawa? Nanti saja kita dengar beritanya dari media.
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
__ADS_1
Nasib Dimas kita kesampingkan dulu ya wkwkwk, biar aja dia menikmati karma 🤭