Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 82 ~ Licik dan Jahat


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


Dhana terperangah hebat, tidak langsung percaya dengan semua cerita Gibran yang seperti dibuat-buat seakan terjadi nyata.


"Bagaimana Dhana? Semuanya sudah jelas? Apakah kamu mengenal istrimu ini seperti saya mengenalnya?" tanya Gibran, berbalik lalu mendekati lawan bicaranya.


"Saya tidak percaya dengan semua cerita anda, Pak Gibran!!! Jangan pernah anda menuduh keluarga istri saya!!! Saya yakin, kalau istri saya tidak ada sangkut pautnya dengan masa lalu orang tua Pak Gibran!!!" tandas Dhana yang berusaha meyakinkan diri, walaupun sekuat apapun hatinya tetap saja menolak.


"Hahahah... tidak ada sangkut pautnya? Kamu yakin? Kamu bisa lihat, bagaimana reaksi istrimu saat mendengar cerita saya! Dia hanya diam saja, bukan? Tidak marah apalagi menolak! Itu artinya, semua yang keluar dari mulut saya ini benar, dan tidak ada yang saya buat-buat!!!" tandas Gibran yang tak kalah geram, menahan diri untuk tidak bertindak lebih.


Dhana terbungkam, menoleh ke arah sang istri yang memang diam saja, tidak terlihat sedikit pun penolakkan darinya. Pandangan matanya kosong, menerawang, mengingat masa kelam yang seharusnya tidak terucap.


"Jadi orang yang datang berkunjung ke rumahku waktu itu, kamu?" timpal Mala, setelah diam seribu bahasa beberapa saat.


"Ya... apakah ayahmu tidak memberitahu kamu kalau itu aku? Semudah itukah kamu melupakan wajah orang yang selama dulu selalu mendukungmu sebagai sosok kakak? Bahkan di saat aku datang waktu itu, kamu tidak menyapaku seperti orang amnesia!!!" jawab Gibran, geram ternyata Mala tidak mengenalinya saat berkunjung waktu itu.


Mala terbungkam lagi, menatap kosong ke arah depan, mengabaikan tatapan Dhana yang sebenarnya menuntut penjelasannya.


"Aaarrrggggghhhhh..."


Mala terpekik histeris, seraya memegangi kepalanya yang mendadak berputar keras. Kenangan lama yang seharusnya terkubur, kenapa harus terungkap. Membuat Dhana terperanjat, meraih kedua bahu sang istri.


"Kamu kenapa Sayang?"


"Aaarrrggggghhhhh... tidak! tidak!!! Semua itu tidak benar!!! Ibuku bukan pembunuh!!! Tidak! Ibuku bukan pembunuh! Ibuku baik! Dia bukan pembunuh! Aaarrrggggghhhhh!"


Mala histeris, membuat Dhana kewalahan menghadapinya, berusaha menenangkan namun tenaga Mala seakan semakin besar. Sementara Gibran yang melihat adegan itu menyeringai puas, tidak sabar melanjutkan misi selanjutnya yang mungkin lebih parah.


"Kamu lihat sendiri 'kan Dhana? Respon istrimu seperti apa? Dia seperti orang gila! Ternyata, kebenciannya pada Wulan turun dari kebencian ibunya!!! Mala dan Wulan, sama-sama menjadi korban kebencian ibunya sendiri!!! Dan sekarang, saya akan kasih kamu 2 pilihan yang menguntungkan."


Dhana mendengus, menatap tajam Gibran yang semakin memperkeruh suasana hati.


"Sepertinya ketiga anakmu sedang merencanakan sesuatu di dalam sana!!! Saya sempat menyuruh anak buah saya meletakkan sebuah lilin agar mereka tidak ketakutan di dalam gelap! Saya tidak bisa menjamin apa yang akan mereka lakukan!"


Dhana tersentak, menggiring mata melihat ruangan sepetak yang gelap gulita di sana, memegangi Mala yang masih histeris hebat.


"Oh iya... saya juga tidak sengaja telah menendang jerigen bensin yang ada di sekitar ruangan itu, hingga bensin itu tumpah dan berserakan di mana-mana. Kamu pasti mengerti maksud saya 'kan Dhana?" tutur Gibran yang memancing emosi Dhana.


Rahang Dhana mengerat kuat, menciptakan suara gertakan yang keras, menunjukan diri yang tengah emosi tinggi, menatap Gibran dengan tatapan membunuh. Mengedarkan pandangan ke seluruh sisi, berharap Sadha atau pun Imam yang masih berada di dalam mobil keluar, membantunya membebaskan anak-anak dari cengkraman bahaya Gibran.


"Kamu pilih sekarang, Dhana! Kalau tidak, nyawa ketiga anak itu akan musnah dalam satu kedipan mata! Kamu pasti tau, bukan? Bagaimana kinerja bensin saat bertemu dengan api? Tidak hanya kebakaran, tapi juga ledakan dahsyat karena di dalam sana ada sebuah bom yang akan meledak cepat jika terkena percikan api!" tutur Gibran yang mengancam Dhana.


Dhana bergeming, menatap tajam Gibran yang mengancam, menghancurkan mental yang semula berdiri kokoh, membuatnya bingung harus melakukan apa untuk anak dan juga istrinya yang sedang teraniaya.


"Kenapa anda melakukan ini Pak Gibran? Apakah anda tidak memikirkan bagaimana perasaan Bu Kinan, jika dia mengetahui ini semua? Apakah anda tidak punya sedikit rasa kemanusiaan? Apalagi anda memiliki anak juga, sama seperti saya. Jika Zivana yang ada di posisi ketiga anak saya di sana, bagaimana perasaan Pak Gibran sekarang? Tolong, Pak!!! Lepaskan ketiga anak saya!!! Kalau anda mau, anda bisa membawa saya! Jangan istri saya, apalagi anak-anak saya! Mereka tidak tau apa-apa!!! Dan istri saya, dia tidak bersalah atas semua yang telah dilakukan ibunya terhadap orang tua anda! Saya mohon, Pak Gibran! Pikirkan perasaan Bu Kinan dan juga Zivana, putri anda!" tutur Dhana.


Dhana mengiba, menurunkan ego yang semula tinggi mencakar langit, menghempas amarah yang memuncak, berharap Gibran akan melunak, melepaskan ketiga anaknya, memaafkan kesalahan ibu mertuanya di masa lalu yang sudah tiada.


Alih-alih menjawab permohonan, Gibran malah terbahak-bahak. Lebih kencang dari gelak sebelumnya, membuat Dhana paham, Gibran tidak akan semudah itu melupakan dendam yang sudah mendarah daging.

__ADS_1


"Saya menyuruh kamu memilih, bukan mengajukan permohonan! Kamu harus ingat, Dhana! Di dalam ruangan gelap itu ada tiga nyawa yang terancam! Jika kamu kekeuh mempertahankan istrimu yang jelas sudah membohongimu, maka tiga nyawa di dalam sana akan musnah seketika!!! Ingat, tiga nyawa akan lebih berharga dari pada satu nyawa!!!" tandas Gibran menahan diri yang sebenarnya sudah geram sejak tadi.


Dhana terdiam, menatap ruangan sepetak nan gelap gulita, membayangkan kobaran api yang sangat besar, mengingat kejadian kebakaran yang pernah menimpa sang adik dulu. Kebakaran yang hampir melenyapkan nyawa sang adik, tidak ingin kejadian yang sama terulang pada Aifa'al, Damar, Wulan.


***


"Tunggu Mas!"


Aifa'al terlonjak, mendapati Damar yang menarik tangannya, hampir menyentuh gagang pintu dengan lilin. Niat hati ingin bekerja cepat, namun untuk sesaat Damar tiba-tiba dirundung kecemasan, ragu akan melakukan rencana gila yang mengancam nyawa.


"Kenapa lagi Damar?"


"Damar ragu, Mas!!!"


"Tadi kamu yakin, sekarang ragu! Mau keluar atau tidak?" serkas Aifa'al kesal.


Damar terbungkam, niat awal memang sudah bulat, namun semua menjadi kacau setelah Wulan sadar dari pingsan. Damar mendadak bimbang, takut dengan kondisi sang adik yang masih terlihat lemah untuk melarikan diri saat api membakar ruangan gelap ini.


"Damar mencium bau bensin, Mas!!! Apa Mas tidak mencium ada bau-bau bensin? Jangan-jangan Bima atau mungkin Pak Gibran sudah menyirami dinding ruangan ini dengan bensin dari luar? Atau mereka sengaja, meletakkan lilin di sini agar kita kepikiran untuk membakar ruangan ini?" tutur Damar yang ragu, takut dan gelisah.


"Ck! Kamu terlalu sering nonton sinetron! Makanya otak kamu dramatis!!! Kalau itu rencana mereka, kenapa tidak mereka saja yang membakar ruangan ini dari luar dan membiarkan kita mati terbakar sejak tadi?" sungut Aifa'al, geram bercampur geli saat melihat ekspresi Damar yang ragu-ragu.


"Ck! Damar tidak suka sinetron, Mas! Asal menuduh saja!" cebik Damar yang geram.


"Ya sudah! Jangan ragu-ragu lagi dong! Kalau kamu ragu, kapan kita bisa keluar! Kamu lihat tuh, kondisi Adek yang makin lemas! Wajahnya pucat dan butuh udara segar!!! Kamu mau Adek pingsan lagi?" sungut Aifa'al yang berusaha membujuk Damar dengan melibatkan kondisi Wulan.


Damar terdiam, menoleh ke arah Wulan yang juga melihatnya. Wulan mengulas senyum manis, berusaha untuk beranjak, ingin melihat kedua masnya yang tengah melakukan sesuatu.


Wulan menggeleng cepat, menunjuk ke arah Aifa'al yang termangu di dekat pintu, membuat Damar pasrah jika Wulan sudah bertitah. Sementara Aifa'al mendengus geli, membuatnya bosan menunggu keraguan Damar yang tidak kunjung berakhir. Tanpa menunggu Damar, Aifa'al mendekatkan api lilin yang hampir mati ke arah gagang pintu.


Duuaarrr...


Aifa'al, Damar dan Wulan terlempar, suara ledakan keras bersamaan dengan kobaran api yang mulai merembet, membuat ketiga anak itu terperangah tidak menyangka.


Aifa'al mengedar, mencari keberadaan adik-adiknya yang mungkin ikut terlempar ke arah lain sama sepertinya, beranjak saat pantulan bayangan Damar dan Wulan mulai terlihat. Sementara itu, api sudah merembet ke seluruh sisi, menciptakan asap nan tebal.


"Kalian tidak apa-apa 'kan?" tanya Aifa'al, menghampiri kedua adiknya yang terkapar.


"Uhuk... uhuk... uhuk... Damar dan Adek tidak apa-apa, tapi apinya membesar, Mas!" jawab Damar, panik melihat kobaran api.


"Sepertinya ada sesuatu di gagang pintu itu dan membuat pintunya meledak, tapi tidak terbuka juga!!! Kita harus keluar dari sini!!!" ujar Aifa'al, panik dan tidak mengira kalau kejadian ledakan itu akan terjadi secepat ini.


"Uhuk... uhuk... uhuk... uhuk..."


Wulan ikut terbatuk, menghirup asap hitam yang kian menebal, kobaran api yang kian membesar, membuat cemas kedua pria itu.


"Adek yang kuat ya. Mas akan berusaha mengeluarkan kita dari tempat ini!" tutur Aifa'al, menenangkan Wulan yang terbatuk.


Aifa'al beranjak, mendekati pintu besi yang sangat kuat, bahkan ledakan pun tidak bisa menghancurkan pintu itu, membuat Aifa'al geram, menghantam pintu itu agar roboh. Sementara Damar ingin membantu namun Aifa'al melarang, menyuruhnya untuk tetap bersama Wulan, melindungi Wulan dari api.

__ADS_1


***


"Damar, Wulan..."


Dhana terpekik hebat, menatap nanar kobaran api yang disertai ledakan kuat, membuat air matanya luruh dalam sekejap. Sementara Mala masih tergugu, sebentar terdiam dan sebentar histeris seperti orang kesurupan. Cerita Gibran tentang masa lalu membuatnya tidak terkendali, namun sukses membuat Gibran puas dengan semua ini.


"Api akan semakin membesar, Dhana! Jika kamu tidak bertindak, mereka akan menjadi abu!!!" ujar Gibran, mempengaruhi Dhana.


Dhana mengepal tangan, melepas tangan dari bahu Mala yang dipeluknya sejak tadi, membawa diri menghampiri Gibran. Tanpa aba-aba, kerah baju Gibran sudah berada di dalam genggaman Dhana, siap memukul bahkan membunuh Gibran saat itu juga.


"Jangan membuang waktu, Dhana! Kamu harus menyelamatkan ketiga anak itu! Jika tidak, jangan salahkan saya kalau mereka tidak akan selamat!" tutur Gibran membujuk.


"Anda sangat licik dan jahat!!! Jika terjadi sesuatu pada ketiga anak saya, maka saya akan mengejar anda sampai ke ujung dunia sekalipun! Anda ingat itu!" tandas Dhana.


Dhana beranjak, mendorong kasar Gibran yang terhuyung dengan seringai tajamnya, membiarkan Dhana mendekati kobaran api. Lalu melirik ke arah Bram dan bodyguard, memberi perintah hanya dengan kedipan mata. Keempat bodyguard Gibran berjalan, menyeret Mala yang terpaku di tempatnya, menuju ke mobil yang sudah di persiapkan.


"Damar, Al, Wulan... kalian dengar Papi?"


Dhana menyeru, berharap ketiga anaknya itu menjawab seruan darinya, mengabaikan sang istri yang sudah diseret paksa Gibran, pergi meninggalkannya yang fokus dengan kobaran api.


"Dhana..."


Dhana terlonjak, menoleh ke arah sumber suara yang datang menghampiri.


"Dhana... kamu harus mengejar Gibran!!! Mereka membawa Mala! Mas melihatnya keluar dari gerbang!" seru Sadha dengan nafas yang tergugu, melihat Mala dibawa pergi oleh Gibran entah ke mana.


Dhana tersentak, mengedar pandangan, mencari keberadaan sang istri diposisinya, sempat terlupakan karena mencemaskan Aifa'al, Damar dan Wulan yang terjebak di dalam kobaran api.


"Dhana... ikuti Gibran dengan mobil Mas Sadha! Karena earphone yang Mala pakai masih tersambung. Dengan begitu, kamu bisa melacaknya dengan mudah!!!" timpal Imam, berusaha meyakinkan Dhana.


"Kamu jangan khawatir, Dhana. Mas dan Imam akan menyelamatkan anak-anak!!!" timpal Sadha yang ikut meyakinkan Dhana.


Dhana mengangguk, mengambil langkah lebar menuju mobil Sadha yang terparkir. Melajukan mobil sang mas tengah dengan kecepatan super, mengejar ketertinggalan, untuk mendapatkan kembali istri tercinta.


"Apa yang harus kita lakukan Mam?" ujar Sadha yang mendadak bingung, kobaran api itu membuatnya teringat dengan Dhina.


"Mas Sadha tenang dulu. Kalau kita panik dan kalut, kita akan kehilangan anak-anak." jawab Imam yang sebenarnya takut namun sebisa mungkin ia tepis, fokus dan tenang.


Sadha dan Imam mengedar, mencari sesuatu yang bisa dijadikan alat untuk memadamkan api. Namun sayang, tidak ada apa-apa di sekitar sana. Walaupun itu ada sekalipun, tidak akan bisa melawan api yang sudah terlanjur membesar.


"Papa, Paman..."


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2