
...🍁🍁🍁...
"Apa? Al tertangkap juga?"
Pekikan suara bariton Pak Aidi bergema, memenuhi langit-langit atap kamar yang tertutup, sengaja mereka tutup agar ketiga pria muda nan tampan di luar sana tidak mendengar pembicaraan mereka kali ini. Sadha dan Dhana telah menceritakannya, bahkan hubungan Gibran dan Mira yang pernah menjadi benalu derita dalam hidup keluarga mereka puluhan tahun yang lalu.
"Lalu kenapa Gibran menginginkan kamu menemuinya bersama Mala, Nak? Lebih baik kalian jangan menuruti perkataan dia! Orang itu pasti ada niat jahat sama kalian." tutur Bu Aini yang terlihat sangat khawatir.
"Kalau Dhana dan Mala tidak ke sana, dia akan melukai anak-anak, Bu. Saat ini tidak hanya Damar dan Wulan, tapi Al juga ada! Dhana bertanggung jawab besar di dalam masalah ini. Dhana harus menyelamatkan Damar, Wulan dan Al dengan tangan Dhana sendiri. Mas Ammar pasti khawatir jika dia tau putranya dalam bahaya seperti ini dan itu juga sangat bahaya untuk Mas Ammar. Ibu izinkan Dhana dan Mala pergi ya?" ujar Dhana yang berusaha membujuk sang ibu.
"Tapi Ibu takut terjadi sesuatu padamu dan Mala, Nak. Kamu belum mengenal Gibran itu seperti apa. Ibu takut kamu celaka, Nak." jawab Bu Aini yang tercekat, khawatir.
Dhana menghela nafas panjang, menoleh ke arah Pak Aidi, Sadha, Vanny, dan Imam yang menatapnya khawatir.
"Dhana... aku akan ikut bersamamu, tapi kita jalan terpisah. Kamu pergi lebih dulu dengan Mala, sedangkan aku menyusul. Aku akan mengawasi kamu dari belakang, dan minta Mala untuk menggunakan ini. Earphone kecil ini akan aman kalau Mala yang memakainya karena tertutup dengan rambutnya." ujar Imam seraya memberikan alat canggih itu pada Dhana.
"Kamu yakin Mam?" tanya Dhana.
"Selama ada Allah di hati kita, Beliau pasti akan selalu melindungi kita di mana pun itu. Bismillah, Dhana! Semoga kita berhasil kali ini dan membawa anak-anak pulang." ujar Imam yang meyakinkan sang kakak ipar.
Dhana mengangguk, memantapkan hati yang sedikit ragu dengan rencana Imam, takut jika Gibran menyadari earphone di telinga Mala nantinya, namun tidak ada cara lain lagi selain memberanikan diri untuk maju dan menghadapi Gibran yang jahat.
"Mas akan ikut bersama Imam!!!" timpal Sadha yang beranjak cepat dari duduknya.
"Tapi kamu harus bisa mengontrol emosi, Mas! Kalau tidak rencana Imam akan gagal dan nyawa anak-anak akan terancam!!!" timpal Vanny yang sangat mengenal Sadha.
"Iya, Sayang. Aku akan berusaha untuk mengontrol emosi. Semoga saja aku bisa, demi anak-anak." jawab Sadha, berusaha meyakinkan sang istri.
"Baiklah kalau begitu!!! Kita masih punya waktu sekitar 7 jam lagi. Gibran meminta Dhana dan Mala menemuinya tepat pada pukul 8 malam. Kita masih ada waktu untuk menyusun rencana." timpal Dhana seraya beranjak dari duduknya.
Pak Aidi, Bu Aini, Sadha, Vanny dan Imam mengangguk. Setuju dengan saran Dhana, menyusun rencana penyelamatan Damar, Wulan dan Aifa'al yang dikurung Gibran.
***
"Jadi yang mengurung Damar dan Adek sejak kemarin adalah Pak Gibran? Dan dia bekerja sama dengan Bima, Mas?"
Aifa'al mengangguk, melihat ekspresi tak percaya dari wajah kedua adiknya setelah memberitahu mereka tentang kebenaran siapa yang telah mengurung dan menculik mereka, membiarkan mereka kedinginan hingga kelaparan sampai hari ini.
"Iya! Mereka lah yang menculik kalian!!!" jawab Aifa'al yang kesal dan marah.
"Lalu kenapa Mas Al bisa sampai di sini?" tanya Damar yang menelisik, terlihat curiga.
Aifa'al mendengus kesal, mengerti sekali dengan tatapan sang adik yang mendadak penuh tanda tanya, menelisik seakan curiga.
__ADS_1
"Kamu mencurigai Mas? Ck! Ternyata kamu dan Mas Ziel sama saja ya! Tidak di sini, tidak di rumah selalu saja Mas yang menjadi korban tuduhan. Si Bima brengsek itu sudah memakai motor Mas untuk mengikuti taksi kalian dan karena itu Mas Ziel menjatuhkan tuduhan pada Mas! Mas bisa sampai ke sini karena Mas sedang mengintai Bima! Untuk mencari kalian agar Mas tidak dituduh lagi! Tapi ternyata, Mas juga tertangkap oleh anak buah Pak Gibran!!! Benar-benar sial!!!" tutur Aifa'al yang meracau kesal, menoleh sesekali ke arah Damar dan Wulan.
Damar dan Wulan tercengang, penuturan Aifa'al sukses membuat binar keharuan di wajah keduanya terpancar, apalagi Wulan. Namun keharuan itu seketika berubah, ada rasa bersalah yang menyelimuti hati kedua anak kembar itu. Secara tidak langsung, mereka lah yang menjadi penyebab Aifa'al tertangkap hingga berakhir di tempat yang sama dengan mereka seperti sekarang ini.
"Maaf, Mas! Damar tidak bermaksud untuk mencurigai Mas Al. Damar hanya heran saja, kenapa Mas juga bisa ada di sini." ujar Damar yang mengerti dengan sikap Aifa'al.
Aifa'al mendengus kesal, memalingkan wajahnya ke arah lain, mendapat tuduhan untuk kedua kalinya, membuatnya merasa jika usaha yang ia lakukan saat ini sia-sia.
"Aaaaaa... aaaaa... aaa!!!" timpal Wulan seraya mengulas senyum ke arah Aifa'al yang masih enggan menoleh.
"Ck! Mas tidak mengerti bahasa itu, Dek!" jawab Aifa'al tanpa menolehkan wajahnya.
Wulan tersenyum getir, panggilan Aifa'al yang entah sadar atau tidak kembali terucap dengan jelas, membuat hatinya hangat.
"Kata Adek, terima kasih Mas!!!" ujar Damar yang mengartikan bahasa isyarat sang adik.
Aifa'al terhenyak, seperti ada angin sejuk menyelimuti hatinya yang keras, membuat kepala yang tadinya melihat ke arah lain kini menoleh ke arah sang adik perempuan. Seutas senyum manis terukir, membuat hati Aifa'al semakin didera kesejukan tiada tara, memancing kedua sudut bibirnya untuk ikut terangkat, membalas senyuman manis yang ikhlas dan tulus untuknya. Seketika Aifa'al pun tersadar kalau sejak tadi ia memanggil Wulan dengan sebutan yang berbeda dari biasanya, hingga membuatnya canggung.
"Tidak masalah kok! Mas melakukan ini karena Mas juga ingin membersihkan nama Mas yang dicoreng oleh anak berandal itu! Jadi bukan apa-apa juga kok! Santai saja!" ujar Aifa'al yang mendadak canggung, efek tidak biasa berada di antara keduanya.
"Damar yakin bukan hanya itu alasan Mas ingin menyelamatkan kami. Damar sangat yakin kalau Mas Al juga sayang dan peduli sama kami. Terima kasih dan maaf, Mas!!!" jawab Damar yang tersenyum senang.
"Sudahlah!!! Kalian jangan memikirkan hal lain dulu. Yang harus kita pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya keluar dari sini." ujar Aifa'al yang memutar posisi duduknya.
Aifa'al menghela nafas kasar, mengingat kejadian yang beberapa jam yang lalu di saat dirinya tengah bersembunyi. Berharap rencana bisa berjalan sesuai ekspektasi, ternyata dibuat kacau begitu saja ketika dirinya lupa. Bersembunyi lalu mengirim pesan singkat pada Syahil dengan suara yang cukup keras hingga salah satu anak buah Gibran mendengarnya, membuatnya tertangkap. Sempat melakukan perlawanan, namun tubuh yang tidak sebesar bodyguard itu membuatnya lumpuh dalam sekejap.
"Damar akan membalas perbuatan Bima pada Mas dan Mas Syahil!!!" ujar Damar.
"Jangan!!! Kamu tidak usah ikut membalas anak itu. Dia sangat berbahaya. Mas yang akan membalasnya. Mas tidak ingin nasib kamu sama seperti Syahil!!!" jawab Aifa'al.
Damar dan Wulan benar-benar terharu, walaupun mereka sangat tau kalau Aifa'al belum berubah sepenuhnya. Masih dingin, cuek dan tidak selembut masnya yang lain.
Brak!
Aifa'al, Damar dan Wulan terjingkat kaget, menoleh cepat ke arah sumber suara yang diselimuti kegelapan, mengedar pandangan untuk mencari tau siapa yang datang.
Prok... Prok... Prok...
Suara tepuk tangan seseorang membuat mereka memicing, mencari seseorang itu.
"Sepertinya sedang ada acara reuni kakak adik nih di ruangan ini. Mengharukan sekali!" ujar sosok itu yang belum menampakan diri.
Aifa'al mendengus kesal, berdecak marah tatkala mendengar perkataan sosok yang pastinya tidak asing di telinganya.
__ADS_1
"Jangan bersembunyi lagi lo, Bim! Gue tau betul itu suara lo!!! Jangan jadi pecundang tua yang beraninya bersembunyi di balik kegelapan!!!" seloroh Aifa'al yang geram.
"Hahaha... ternyata lo sudah hafal sekali dengan suara gue ya, Al! Mengagumkan! Gue jadi terharu nih!" jawab Bima, berjalan masuk seraya membawa lilin di tangannya.
Damar mendengus marah, melemparnya dengan tatapan membunuh. Tidak heran jika memang Bima yang menjadi penyebab keberadaannya dengan sang adik berakhir di tempat terkutuk seperti ini. Karena hanya Bima yang berani dan bisa melakukannya.
"Kenapa Damar? Lo kangen sama gue? Kenapa lo menatap gue seperti itu? Ahh, pasti lo kangen banget ya sama musuh lo ini? Hahahaha..." ujar Bima yang mengerti dengan tatapan tajam Damar.
"Brengsek lo, Bima! Ternyata orang yang membawa gue dan Wulan ke sini adalah orang gila seperti lo! Tujuan lo apa, hah? Belum puas juga lo mendapat malu karena selalu berurusan sama gue? Masih belum kapok juga lo, hah?" tandas Damar geram.
"Santai dulu dong, Bro! Masalah ini bisa dibicarakan baik-baik. Sama seperti apa yang telah ayah lo katakan pada Bu Kinan! Akibatnya gue jadi dikeluarkan dari sekolah, tapi tidak masalah juga sih! Ya, gue senang melihat lo dan si bisu itu menderita! Damar, Damar... lo itu terlalu percaya diri. Jadi ya, seperti inilah akibatnya." jawab Bima santai.
Damar mendengus kasar, pancaran api amarah terlihat jelas di wajah gusarnya, menatap tajam Bima yang menyeringai di dekat pintu setelah meletakkan lilin di sudut ruangan gelap dan sesak itu.
"Lepaskan kami, Bima!" seru Aifa'al dingin.
"Tidak bisa, Al! Ada syarat dan ketentuan yang berlaku di dalam sini! Baik lo, Damar maupun si bisu tidak ada yang bisa keluar dari tempat ini sebelum ada perintah dari bos gue! Jadi nikmati saja waktu kalian di sini!" jawab Bima yang terkekeh bahagia.
"Apa mau lo sebenarnya?" tanya Aifa'al.
"Tidak banyak, Al! Gue datang ke tempat kumuh ini hanya untuk membawa si bisu itu!!!" jawab Bima dengan seringai liciknya.
Aifa'al mendongak, mendengus kasar seperti seekor banteng yang tengah marah, menatap tajam Bima seolah tidak terima. Damar pun tak kalah geram, mendengus marah seraya menatap tajam musuhnya itu, melindungi sang adik dari sentuhan tangan kotor pria seperti Bima walau seujung kuku. Sementara Wulan, rautnya mendadak pias, takut jika Bima benar-benar membawanya.
"Jangan sentuh adik gue!!!" seru Aifa'al, beringsut mundur, menjadikan tubuhnya sebagai tameng perlindungan untuk sang adik, meluruhkan air mata Wulan seketika.
"Hahahaha... adik? Sejak kapan lo mulai mengakui si bisu itu adik lo, hah?" seloroh Bima yang tertawa lepas, tidak percaya.
"Bukan urusan lo!!! Kalau gue bilang jangan sentuh adik gue, itu artinya tidak ada orang yang bisa menyentuhnya walaupun sedikit!" seru Aifa'al yang masih bersikap tenang.
Bima tertawa, melihat aksi heroik Aifa'al seperti seorang kakak, melindungi adik yang selama ini tidak dianggapnya, namun sikap Bima membuat nalurinya muncul seketika. Mengundang bulir kristal haru bercampur takut, bersembunyi di belakang Aifa'al dan Damar yang tak kalah melindunginya.
"Bawa si bisu itu!!!" seru Bima.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All 😇😇😇