Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 86 ~ Membentuk Grup


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


Sadha, Imam, Syahal dan Syahil saling pandang, tidak tega melihat keduanya berpelukan saling menangis, membuat kaki mereka melangkah, mendekati kedua anak kembar Dhana dan Mala yang terlihat gusar.


"Damar, Wulan..."


Damar dan Wulan melerai pelukan, menyeka air mata yang terlanjur mengalir deras, membasahi pipi yang terlihat kacau karena asap kebakaran, menoleh ke arah paklik, paman dan kedua mas kembarnya.


"Kita akan menyelamatkan kedua orang tuamu, Nak! Kalian jangan khawatir ya!!!" ujar Sadha, mengelus pucuk kepala dua bocah kembar milik adiknya itu.


"Papa Mas benar! Kalian jangan khawatir! Kita akan menyelamatkan Uncle dan Anty. Kalian jangan sedih lagi." timpal Syahal.


"Adek jangan sedih lagi ya, Sayang." ujar Syahil, merangkul bahu sang adik yang sangat ia cemaskan sejak kejadian kemarin.


Wulan mengangguk, membenamkan wajahnya ke dalam dekapan hangat Syahil, membuat hati Sadha, Imam dan Syahal ikut menghangat, melihat adegan yang jarang bahkan tidak pernah dilakukan Syahil pada Wulan sebelumnya.


Pandangan yang semula tertuju pada sang adik kini tertoleh, menangkap sebuah mobil yang tidak asing di dekat mobil sang papa. Syahal menyipit, menatap lekat ke arah itu.


"Papa... bukan kah itu mobil Pakde yang dipakai Mas Ziel?" ujar Syahal, menepuk bahu sang papa yang masih hanyut dalam suasana haru.


Tidak hanya Sadha. Imam, Syahil, Damar dan Wulan pun ikut menoleh ke arah yang sama, ke arah tunjuk Syahal yang melihat mobil Aiziel, terparkir tidak jauh dari mobil Sadha yang dibawa Dhana.


"Iya, Syahal. Itu mobil pakdemu. Pasti Ziel sudah sampai di sini." jawab Sadha seraya mengedar, mencari keberadaan sang adik atau pun keponakannya.


"Sepertinya Mas Ziel sedang bersama Papi, Paklik." timpal Damar yang bisa merasakan.


"Damar benar, Mas. Bisa saja saat ini Ziel dengan Dhana sedang menghadapi Gibran. Kita harus cepat mencari mereka, Mas!" timpal Imam seraya mengedar pandangan.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Sadha yang mendadak buntu karena kalut, terbayang sang adik yang melawan Gibran.


Imam terdiam, fokus pada rencana baru, menyelamatkan Dhana dan Mala yang kini dalam bahaya, bertukar situasi dengan kedua anaknya yang sempat dalam bahaya. Alat indera penglihatan dibawanya untuk mengedar, memastikan situasi dan kondisi aman terjaga untuk rencana yang terlintas.


"Kita berpencar, Mas!!! Kita tidak bisa datang bersamaan dari sisi yang sama seperti ini. Gibran dan anak buahnya akan lebih mudah meringkus kita semua karena tubuh mereka kuat. Kita berpencar! Imam bersama Damar dan Wulan ke arah sana!!! Mas Sadha bersama Syahal dan Syahil ke arah sana!!! Jika salah satu di antara grup kalah, maka grup lain bisa menyelamatkan! Bagaimana Mas? Anak-anak?" tutur Imam.


Sadha dan dua pasang anak kembar itu saling pandang, berdiskusi bathin untuk mengambil keputusan akhir penyelamatan.


"Damar setuju dengan rencana, Paman!"


"Syahal juga setuju!"


"Syahil juga setuju, Paman!"


Sementara Wulan mengangguk cepat, dengan dua jempol tangan yang turut terangkat disertai senyuman manis penuh semangat, membuat Imam terkekeh geli, melihat wajah cantik sang gadis kecil yang selama ini hanya bisa ia dengan dari cerita. Menyulam rindu yang tak terkira, kini sudah terurai sejak pertemuan di lokasi kebakaran. Memuji dalam hati, betapa cantiknya gadis kecil Dhana yang malang, teringat dengan semua cerita tentangnya, sangat mirip dengan kepribadian mendiang sang istri namun takdir kembali mempermainkannya.


Imam menoleh, melihat Sadha yang masih bungkam, tampak berpikir untuk setuju atau justru malah menolak dan mencari cara lain.


"Mas... bagaimana? Mas setuju?" tanya Imam, menyentuh tangan sang kakak ipar yang menyilang di depan dada.


"Kamu yakin akan berhasil Mam?" tanya Sadha yang mendadak gamang, cemas.


"In syaa Allah, Mas. Allah bersama kita." jawab Imam yang berusaha menenangkan.


"Baiklah! Jika kamu yakin, Mas juga yakin! Kalau begitu kita berpencar sekarang! Tapi ingat, kalian harus berhati-hati!!! Mas titip Damar dan Wulan. Tolong jaga mereka, Dik!" tutur Sadha yang penuh keyakinan.


"Pasti, Mas! Imam akan menjaga mereka!" jawab Imam, mengangkat tangan, hormat.

__ADS_1


Sadha tersenyum, menepuk bahu Imam dengan yakin bahwa rencana kali ini akan berhasil. Membantu Dhana menyelamatkan Mala, membawa kembali mereka pulang dengan selamat, dan menjalani kehidupan.


"Bismillahirrahmanirrahim..."


Sadha dan Imam berpencar, bersama dengan grup masing-masing bergerak cepat ke arah yang berlawanan, mancari keberadaan Dhana dan Aiziel yang saat ini tengah menghadapi kegilaan Gibran.


***


"Sepuluh..."


Aiziel terlonjak, mendengar seruan Gibran yang tiba-tiba sudah mencapai angka ke sepuluh, otak yang dibawa untuk berpikir sejenak mulai tersudut, belum ada tandas pergerakan atau keputusan yang pasti dari anak sulung Ammar itu, menatap nanar ke arah sang uncle yang masih berada dalam cengkraman tangan besar Gibran.


"Anak muda... seharusnya kamu sudah mengambil keputusan yang benar!!! Tapi sepertinya, kamu menginginkan peluru di dalam pistol ini menembus pelipis uncle kesayanganmu ini! Baiklah, kalau memang itu yang kamu inginkan!!! Dengan senang hati saya akan melakukannya dan setelah itu, giliran kamu yang akan saya lenyapkan!" tutur Gibran dengan seringai liciknya.


"Jangan anda sentuh keponakan saya!!!" tandas Dhana yang berusaha melawan.


"Kamu jangan melawan lagi, Dhana!!! Gerakan sedikit saja akan menyebabkan pelatuk pistol ini bergerak, dan pelipismu akan bolong karenanya! Jadi diam saja!!!" ujar Gibran yang berbisik di telinga Dhana.


Dhana mendengus kesal, berusaha untuk memberontak, melepaskan diri dari tangan besar Gibran yang mencengkram lehernya dari belakang, berusaha menghindar dari benda berisi peluru yang bisa menembus pelipisnya kapan saja. Melihat Aiziel yang tampak bingung, seperti menyesal dengan tindakannya yang sudah ceroboh.


"Aiziel... dengarkan Uncle, Nak!!! Kamu pergi dari sini dan bawa anty mu! Jangan pikirkan Uncle! Uncle mohon, pergi lah!!! Uncle tidak mau, jika kamu ikut terluka!!! Pikirkan daddy dan mommy mu, Ziel!!!" timpal Dhana, menatap Aiziel dengan iba.


"Diam!!! Atau kepalamu akan kutembak!!!" tandas Gibran, mengancam Dhana yang berusaha mempengaruhi keponakannya.


Aiziel terjingkat, membuat bulir tenaga beningnya luruh seketika, melihat sang uncle dan anty nya yang tidak berdaya, menghadapi situasi yang membangunkan. Sementara Mala masih tetap diam, terlihat seperti orang bingung, tidak bersuara tapi air matanya tetap mengalir, melihat Dhana yang dalam bahaya.


"Oke!!! Oke!!! Saya akan mengikuti semua permintaan anda, Pak. Tapi tolong, anda jauhkan pistol itu dari uncle saya. Tolong!" ujar Aiziel mengalah, jiwa sang uncle lebih berharga karena dia adalah adik dari sang daddy.


"Tidak! Jangan, Ziel! Jangan lakukan itu!" timpal Dhana yang panik dan gelisah lagi.


"Keputusan yang sangat bijak! Keputusan yang baru saja keluar dari bibir anak muda sepertimu menandakan bahwa, kamu tidak terlalu menganggap wanita itu. Benar 'kan?" timpal Gibran yang menyeringai tajam.


Alih-alih menjawab, Gibran justru tergelak. Menertawakan Aiziel yang mendadak jadi monster di depan sana, berdiri di samping sang anty dengan tatapan membunuh dan tangan yang mengepal kuat. Sebenarnya, Aiziel ingin sekali menumpahkan amarah yang tertahan, namun pesan sang uncle membuatnya urung, demi keselamatan diri.


"Jangan tertawa, Pak! Bisa saja tawa anda malam ini akan menjadi tawa yang terakhir sebelum anda masuk ke liang kubur!" seru Aiziel, masih tenang namun terlihat marah.


Gelak tawa yang bergema pun terhenti, menggiring mata ke arah Aiziel dengan tatapan tajam menelisik penuh seringai.


"Hahahaha... saya akan terus mengingat perkataanmu itu, anak muda! Dan jangan pernah mengancam saya!" jawab Gibran.


***


"Paman... itu Papi dan Mami!"


Imam terlonjak, menoleh ke arah tunjuk Damar yang berhasil menemukan sang papi, membuat Wulan terperangah tatkala mata yang basah menangkap keberadaan sang papi dalam cengkraman kuat Gibran. Lalu menoleh ke arah lain, menemukan keberadaan sang mami yang duduk termangu di samping sang mas sulung.


"Papi dalam bahaya, Paman!" ujar Damar.


"Kamu tenang dulu, Damar! Di situasi yang seperti ini kita diminta untuk tidak ceroboh!" jawab Imam yang berusaha menenangkan.


"Lalu bagaimana Paman?" tanya Damar.


Imam terdiam, menelisik keadaan sekitar, mencari keberadaan Sadha dan anaknya yang belum muncul dari sisi lain, membuat hatinya meringis cemas, melihat keadaan Dhana yang sedang terancam. Berusaha untuk berpikir, mencari kesempatan untuk masuk ke dalam rencana Gibran yang apik.


***

__ADS_1


"Ayo cepat!!! Kamu maju ke sini!!! Lalu setelah itu saya yang ke sana!!!"


Aiziel mendengus kesal, menahan geram, menoleh sesaat ke arah sang anty, masih terdiam, terduduk dengan tatapan kosong. Membuat hatinya perih, keputusan pelik harus diambilnya demi nyawa sang uncle, bukan berarti tidak sayang, namun nyawa adik kandung dari sang daddy lebih utama.


Maafkan Ziel, Anty. Ziel terpaksa harus mengambil keputusan seperti ini. Kalau tidak, nyawa adik Daddy akan terancam. Ziel tidak bisa membiarkan Uncle terluka. Maafkan Ziel, Anty. Maafkan Ziel. Gumam Aiziel dalam hati yang berselimut gamang.


Hati yang perih dibawa tenang, mengurut dalam bathin agar bisa menjalankan titah sesuai ketentuan yang berlaku sekarang ini. Aiziel menoleh, menatap tajam Gibran yang hanya bisa menyeringai sejak tadi.


"Kenapa tidak anda lepaskan lebih dulu uncle saya? Apakah perkataan anda itu benar-benar bisa saya pegang?" tukas Aiziel dengan alis yang menukik tajam.


"Hahahaha... kamu pikir saya ini bodoh! Melepaskan uncle kesayanganmu ini lalu membiarkan kalian pergi begitu saja, dan saya tidak mendapatkan apa-apa? Saya tidak sebodoh itu, anak muda!" ujar Gibran.


Aiziel berdecak kesal, membuang muka ke arah lain sangking jengah dan kesalnya melihat ekspresi Gibran yang menyebalkan.


"Ck! Ternyata si tua bangka itu pintar juga! Aku lupa kalau dia adalah pemilik sekolah!" ujar Aiziel yang meracau lirih efek jengah.


"Ayo cepat!!! Saya tidak punya banyak waktu untuk berurusan dengan anak muda yang bandel seperti kamu!" seru Gibran.


Aiziel mendengus, mulai melangkah maju, ingin segera meraih tubuh sang uncle lalu mendepak tubuh Gibran ke arah rel kereta. Mungkin saja keberuntungan akan berpihak padanya kali ini, dengan mudah membuat Gibran kalah lalu membawa pulang kedua orang tua ketiga setelah daddy dan paklik.


Tut tut tut...


Jreg jeg jreg jeg...


Suara klakson dan laju kereta api yang hendak melintas bergema, memberi peringatan pada semua orang untuk tidak mendekati rel apalagi melewatinya. Gibran menoleh, melihat sorot lampu kereta dari kejauhan, hendak melintas dan pasti akan melewati rel di mana dirinya berada saat ini.


"Stop!!! Sepertinya saya berubah pikiran!" seru Gibran, menghentikan langkah Aiziel yang hampir dekat dengan sang uncle.


Aiziel mengeryit, heran dengan tingkah Gibran yang aneh, ingin mengganti syarat yang sudah ditetapkan bersama, memilih jalan sendiri secara sepihak, tanpa berpikir dan berdiskusi seperti tadi, menganggap semuanya hanya lah permainan yang bisa diubah aturannya seenak jidatnya.


"Apa maksud anda Pak? Tolong jangan mempersulit keadaan yang sudah rumit!" tukas Aiziel, menahan kobaran amarah.


Gibran bergeming, memberikan seringai tajam pada Aiziel yang melihatnya penuh pertanyaan. Menyimpan pistol yang ada di tangannya ke belakang, berjongkok sesaat tanpa melepaskan tangan Dhana, meraih sesuatu yang tergeletak di lantai lalu melilit tangan dan kaki tawanan dengan kilatnya.


"Apa yang anda lakukan?" tukas Dhana.


"Diam!!! Malaikat maut mu sudah datang menjemput! Dan kamu bisa menyusul adik kesayanganmu yang sudah mati itu! Bye!" tandas Gibran, sibuk mengikat kaki hingga tangan Dhana.


Aiziel beranjak, hendak memukul Gibran yang ingin melakukan sesuatu pada sang uncle. Namun Gibran yang tidak muda lagi lebih lincah dari yang dipikirkan, mendepak Aiziel lebih dulu hingga membuatnya jatuh.


"Selamat tinggal, Dhana! Titip salam saya untuk adik kesayangan yang selalu kamu bangga-banggakan itu!!! Selamat tinggal!"


Gibran mendorong Dhana ke rel kereta, membuat Dhana tersungkur dengan kaki dan tangan yang terikat kuat. Sementara Aiziel terpaku, menatap nanar ke arah sang uncle yang tersungkur di tengah rel, sorot lampu kereta pun tiba menyilaukan mata, ingin menyelamatkan sang uncle namun kaki seakan terpaku ke bumi, membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa dan akhirnya...


"Uncleeeeee..." pekik Aiziel histeris.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All 😇😇😇


Jangan timpuk author ya kalau suasana tegang harus kembali digantung ✌️✌️✌️


__ADS_2