Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 63 ~ Rekaman CCTV


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Ayah, Ziel, Syahal, Syahil..."


Pak Aidi, Aiziel, Syahal dan Syahil terperanjat, menoleh cepat ke arah sumber suara bariton, mendapati Sadha, Dhana dan Imam yang baru saja tiba di rumah, membawa mereka beranjak, menghampiri ketiga pria dewasa itu.


"Sadha, Dhana, Imam... bagaimana Nak? Di mana cucu kembar Ayah? Apa kalian sudah menemukan mereka?" tanya Pak Aidi yang mengedar, melihat sekeliling putra-putranya.


Sadha, Dhana dan Imam saling pandang, tau bahkan sangat tau bagaimana kekhawatiran yang masih menyelimuti hati sang ayah hingga kini, membuatnya tidak sabar ingin mendengar berita yang ketiga putranya bawa. Dhana pun menghela nafas panjang, memicingkan mata, mengambil sedikit tenaga untuk memberitahu sang ayah kalau cucunya belum ditemukan.


"Dhana belum menemukan Damar dan Wulan, Yah. Alat pelacak itu hanya mampu memberi petunjuk di mana ponsel Damar berada, tapi Damar dan Wulan tidak ada di sana. Mereka tidak ada di tempat itu, Ayah." jawab Dhana.


Usapan kasar menyapu wajah Pak Aidi yang terlihat tidak muda lagi, membuatnya lemah tatkala mendapat kabar bahwa kedua cucu kembarnya belum ditemukan sampai saat ini.


"Ya Allah... ujian apa lagi yang Engkau berikan pada keluargaku? Di mana cucuku sekarang? Jaga mereka di mana pun mereka berada, Ya Allah. Aku mohon!!!" ucap Pak Aidi yang tidak bisa menahan air matanya untuk mengalir.


"Ayah... Ayah tenang ya! Jangan panik! Sadha, Dhana dan Imam memang belum menemukan Damar dan Wulan. Tapi kami menemukan rekaman kamera CCTV pada taksi yang Damar dan Wulan gunakan saat mereka akan pulang." ujar Sadha yang memegangi tubuh sang ayah.


Pak Aidi yang kacau kembali mendongakkan kepalanya, menatap lekat sang putra tengah. Hal yang sama pun terjadi pada Aiziel, Syahal dan juga Syahil. Tatapan mereka yang tadinya sendu, kini ditarik untuk berbinar kembali.


"Benarkah seperti itu Paklik?" tanya Aiziel.


"Iya, Ziel. Ayo kita masuk! Kita lihat rekaman kamera CCTV itu! Paklik, Uncle Dhana dan Paman Imam akan menceritakan apa yang telah kami dapatkan, sebelum mendapatkan rekaman kamera CCTV ini! Ayo!" jawab Sadha.


Aiziel, Syahal dan Syahil saling pandang, disusul dengan anggukan kuat penuh semangat, tidak sabar untuk melihat rekaman apa yang dimaksud oleh sang paklik. Mereka semua pun akhirnya masuk, kembali duduk di sofa ruang tamu di mana Bu Aini, Vanny dan Mala masih tetap setia menunggu kabar, walaupun terlihat jelas dari mata ketiganya bahwa mereka sangat mengantuk.


"Bagaimana Dhana?" tanya Vanny, masih di posisinya memeluk Bu Aini dan Mala yang menangis sesegukan tidak henti-hentinya.


"Belum, Kak." jawab Dhana lesu.


Vanny menghela nafas kasar, menahan gejolak hati yang sebenarnya sama seperti Bu Aini dan Mala. Namun di saat seperti ini, hanya dirinya seorang, satu-satunya wanita di rumah ini yang terlihat tegar dan kuat demi sang ibu dan Mala.


Andai saja ada Kak Ibel di sini, aku pasti ada teman di saat-saat seperti ini. Semoga Damar Wulan tidak apa-apa, Ya Allah. Tolong jaga kedua anakku itu demi kami. Adek... Kakak yakin kamu tau 'kan kalau Damar dan Wulan hilang. Jaga mereka ya. Jaga mereka sampai kami semua di sini berhasil menemukan keberadaan mereka. Gumam Vanny dalam hati.


Vanny menghela nafas kasar lagi, berusaha untuk menepis rasa sesak yang menyempit, membuatnya gelisah dan takut. Perasaannya yang gelisah semakin dibuat cemas tatkala matanya melihat ke arah suaminya yang baru saja masuk.


Sadha dan Imam memapa sang ayah untuk berjalan, takut jika sang ayah akan jatuh atau pingsan karena kondisi hati dan pikiran saat ini yang sangat kacau, membuat kedua pria itu harus waspada dengan kesehatan sang ayah. Sementara itu, Dhana berlenggang cepat, pergi menuju kamarnya untuk mengambil laptop dan tidak lama kemudian, Dhana pun kembali lagi.


"Memang ada cerita apa yang ingin Paklik, Uncle Dhana dan Paman Imam ceritakan?" tanya Aiziel yang sangat terlihat tidak sabar.


"Di saat kedua adik kembar kalian menuju perjalanan pulang, mereka sempat berhenti untuk membeli sesuatu di Minimarket. Di saat itu, ada seorang anak muda yang datang lalu menghampiri supir taksi dan mengaku sebagai kakak kedua adikmu. Anak muda itu memakai jaket hitam serta helm yang tidak dibuka. Jadi supir itu tidak bisa mengenali siapa anak muda yang mengaku sebagai kakak adik-adikmu itu." tutur Sadha yang menjelaskan, sesekali melirik ke arah Imam yang menganggukan kepalanya.


Aiziel, Syahal dan Syahil saling pandang, berusaha untuk menebak siapa gerangan sosok anak muda yang mengaku-ngaku itu. Sementara mereka berpikir, Dhana datang membawa laptop dari kamarnya.


"Semoga saja rekaman ini bisa memberikan kita sebuah petunjuk keberadaan Damar dan Wulan. Bismillah..." ujar Imam yang menoleh, melihat ke semuanya satu per satu.


Semua yang ada di sana hanya mengangguk, antara pasrah dengan tekat yang kuat bahwa mereka harus menemukan Damar dan Wulan secepatnya, bahkan kalau bisa malam ini juga.


Dengan penuh keyakinan dan bismillah, Imam mulai sibuk berkutat dengan laptop sang ipar. Merantau jauh ke negeri orang membuat pria sholeh dan tampan itu semakin pandai dalam bidang apapun termasuk teknologi. Buktinya, alat pelacak yang ada di dalam ponsel Imam. Sementara Imam sibuk membuka video CCTV di laptop Dhana, yang lainnya hanya melihat, memperhatikan seraya berharap penuh pada rekaman kamera CCTV itu.


"Semuanya siap?" tanya Imam.


Anggukan kuat dari semua anggota keluarga menjadi jawaban pertanyaan seorang Imam. Dengan begitu, video rekaman pun dimainkan. Semua mata tertuju pada video itu, tidak hanya melihat namun menyaksikan dengan seksama.

__ADS_1


"Stop, Paman!" sahut Syahal.


"Ada apa Syahal?" tanya Imam.


"Ini di saat taksi berhenti di depan rumah tapi tidak ada siapa pun yang mengikuti mereka!!!" jawab Syahal seraya menunjuk ke layar laptop.


"Kita lanjutkan dulu ya, Nak. Biar kita bisa melihat dari mana anak muda yang dimaksud supir taksi itu." ujar Imam yang menenangkan.


Syahal mengangguk, patuh pada perkataan sang paman yang tampak jelas menahan rasa penasarannya dengan video rekaman CCTV itu. Lalu video pun berlanjut lagi. Di dalam rekaman kini menunjukan taksi yang ditumpangi Damar dan Wulan melaju, meninggalkan Syahal yang masih berdiri di depan rumah. Setelah itu, taksi belok ke kanan hingga keluar lah sebuah motor Nmax hitam dari arah lain dan mengikuti taksi itu.


"Astagfirullahalazim, ternyata motor itu keluar dari jalan lain!!!" sahut Vanny yang tercengang.


"Paman... coba stop lagi video itu!" ujar Syahil.


Imam mengangguk, sebelum video rekaman yang terpampang pada layar laptop dihentikan kembali, membuat Syahil menyipit, entah apa yang ia pikirkan tentang motor Nmax hitam di dalam rekaman itu, membuatnya merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya.


"Apakah video ini bisa dizoom Paman?" tanya Syahil yang tidak bisa melihat jelas motor itu.


"Bisa, Nak. Tunggu sebentar." jawab Imam.


Tanpa menunggu lama, video rekaman yang dalam mode off pun terzoom dengan sangat jelas, memperlihatkan sesuatu yang sejak tadi diperhatikan oleh Syahil, membuat matanya membulat dengan sempurna dengan mulut yang ikut terbuka membentuk huruf O besar.


"Ada apa Syahil?" tanya Aiziel.


"Tidak! Tidak mungkin! Tidak mungkin!"


Syahil meracau, membuat semuanya mata menatapnya heran, bingung dan penasaran.


"Motor itu, Pa! Motor itu! Motor itu motornya Mas Al, Pa!" jawab Syahil yang berkaca-kaca.


Jawaban Syahil sontak menuntut Aiziel dan Syahal saling pandang, sebelum keduanya menoleh kembali dan menatap dengan lekat plat nomor motor yang terzoom jelas di layar laptop sang uncle.


"Iya, Paklik. Ini motor Al. Ziel yakin dan Ziel sangat hafal betul nomor plat motornya itu." timpal Aiziel yang semakin membenarkan.


"Syahil... kamu jangan menuduh kakakmu seperti itu, Nak. Uncle tau kalau Al memang tidak pernah menyukai Wulan. Dan untuk apa dia menyembunyikan Damar dan Wulan saat ini. Sedangkan kebencian Al terhadap Wulan sudah lama terjadi. Uncle yakin, kamu pasti salah, Syahil!" timpal Dhana yang berusaha menguatkan hati, walaupun bukti nyata ada di depan mata.


"Tapi Syahil benar, Uncle. Ziel saksinya! Ziel juga hafal dengan plat nomor motor Al!" ujar Aiziel yang berusaha meyakinkan sang uncle.


"Kalau begitu Mas akan menghubungi Al!" timpal Sadha yang beranjak, tanpa menunggu jawaban siapa pun sebagai persetujuan.


Gerakan Sadha yang tegas tak terbantahkan membuat semua orang menurut patuh, pasrah dengan apapun yang dilakukan oleh pria dua anak kembar itu termasuk Dhana. Sementara yang lainnya hanya duduk diam di sofa, Sadha yang berdiri tampak sibuk dengan ponselnya.


"Assalamualaikum, Al..." ujar Sadha.


"Ada apa sih Paklik? Paklik tidak lihat jam dulu ya sebelum menelepon Al di tengah malam!!!" jawab Aifa'al yang dingin dan tidak sopan.


Sadha menghela nafas kasar, meredam emosi yang membuncah tatkala mendengar jawaban sang keponakan di sana, membuat darahnya mendidih seketika. Namun demi ketenangan ayah dan ibunya, dengan sekuat tenaga Sadha berusaha untuk tetap tenang saat menghadapi Aifa'al yang memang kurang akhlak.


"Apa seperti ini cara kamu menjawab salam Paklik, Al? Paklik menghubungi kamu karena ada sesuatu yang penting! Kalau tidak, Paklik tidak akan menghubungi kamu, Nak!" timpal Sadha dengan segenap kesabaran yang ada.


"Ck! Paklik terlalu bertele-tele! Memang ada kepentingan apa sih Paklik dengan Al?" jawab Aifa'al yang memang tidak ada sopan santun.


"Paklik ingin kamu datang ke rumah Oma! Sekarang juga!" tutur Sadha dengan nada penekanan yang tegas.

__ADS_1


"Ck!!! Paklik tidak bisa melihat jam ya? Ini sudah tengah malam Paklik! Besok saja lah!" jawab Aifa'al yang terdengar sangat santai.


Sadha menghela nafas kasar lagi, melihat ke arah keluarganya yang sejak tadi melihatnya berbicara dengan Aifa'al melalui ponsel.


"Kamu itu anak gadis atau perjaka? Apakah kamu takut keluar malam? Jika kamu tidak datang dalam waktu 30 menit, maka Paklik akan menghukum kamu! Dan Paklik sedang tidak bermain-main, Aifa'al!!!" tukas Sadha.


"Ck! Paklik memaksa sekali! Oke, Al akan datang!" jawab Aifa'al yang dingin, jengah.


"Paklik tunggu!" ujar Sadha dingin.


Sambungan telepon akhirnya putus, diiringi dengan dengusan kasar Sadha efek jengah karena kelakuan sang keponakan, anak bungsu dari kakaknya sendiri, membuat darahnya kian naik. Beruntung karena Sadha tidak ada riwayat penyakit darah tinggi seperti Ammar yang turun dari sang ibu. Kalau tidak, mungkin Sadha bisa stoke tatkala menghadapi sikap keponakannya.


"Bagaimana Mas?" tanya Imam.


"Sebentar lagi Al akan datang." jawab Sadha.


Imam mengangguk, menoleh ke arah Dhana yang sejak tadi hanya diam, berkutat dengan pikirannya sendiri. Tangan Imam pun terulur, meraih tangan sang kakak ipar, menguatkan dan menenangkannya kalau semuanya akan baik-baik saja hingga Damar dan Wulan pulang.


Dhana mengulas senyum, menepuk tangan sang adik ipar, membuat Imam cukup tenang.


***


"Ck! Sebenarnya ada apa sih? Kenapa Paklik menyuruhku datang ke rumah Oma sekarang?"


Rasa malas yang bergelayut seakan menjadi penghalang Aifa'al saat ini. Seraya menutupi dan mengunci pintu kamar Apartment, Aifa'al terus meracau kesal, tidak ingin sebenarnya menuruti perintah sang paklik. Namun Aifa'al pun merasa tidak ada pilihan lain jika Sadha sudah bersikap tegas seperti tadi. Bukan takut, tapi karena lebih menghargai opa dan omanya.


Aifa'al yang kesal mendengus kasar, berjalan menyusuri lorong Apartment yang sangat sepi dan gelap, hanya lampu malam yang memberi cahaya penerangan, membuatnya tidak takut. Aifa'al masuk ke dalam lift, menekan tombol angka 1 sebagai tujuannya saat ini. Dan tanpa menunggu lama, adik bungsu Aiziel itu tiba di lantai satu Apartment.


Aifa'al berjalan, keluar dari lift, berjalan menuju lobby Apartment hendak menuju pintu utama.


"Bima..."


Langkah Aifa'al terhenti tatkala matanya menangkap seseorang yang sangat tidak asing, berjalan keluar dari lift lainnya hendak ke pintu keluar bagian samping, membuat Aifa'al heran.


"Sejak kapan Bima punya Apartment di sini? Untuk apa dia datang ke sini tengah malam? Dari kamar siapa anak itu?"


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇


Yuhuu 😘 maaf ya semua kalau ceritanya malah bikin kalian bosan 🤧 tapi please, jangan kabur dulu ya wkwkwk author kalau nulis memang seperti ini, panjang, lama dan detail sampai semuanya diceritakan sama dengan novel pertama 😅


Oh iya, author juga mau minta maaf sama kalian semua yang masih setia bersama author dan Wulan 🙏 karena sampai tanggal 10 bulan depan, author cuma bisa up satu episode aja 😭😭😭😭 sedih tapi author harus mengambil keputusan itu karna author mau ikut tes cpns yang udah dekat banget 🤧😭 author harus belajar sambil nulis, belum lagi RL yang tetap harus jalan 'kan 😅 jadi mohon pengertian ya


Ngak bosan-bosan author ucapkan terima kasih banyak pada kalian semua 😘😘😘 semoga kita semua sehat selalu dan rezeki kalian juga lancar ya... Aamiiiin 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2