Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Season 2 {Episode 2 ~ Trauma Damar}


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


**Drap**!


Drap!


Aifa'al melangkah lebar, menarik tangan Damar masuk ke dalam kamarnya setelah mendengar kekesalan sang adik, merutuki juga dirinya sendiri yang tidak tau waktu tatkala teringat dengan pertanyaannya pada Damar yang random. Tidak sepenuhnya salah Aifa'al maupun Damar, keduanya pun tak ingin mengingat peristiwa masa lalu buruk itu.


"Lepas Mas!!!" ujar Damar, menepis tangan Aifa'al.


Aifa'al menghela kasar, berusaha sabar menghadapi sikap dan tempramental Damar yang bisa kambuh kapan saja itu. Yaa, saudara kembar Wulan yang tampan itu sekarang memiliki sifat tempramen dan sangat mudah naik pitam jika menyangkut dengan keselamatan dan ketenangan jiwa raga sang adik tersayang. Sejak kejadian nahas dua tahun yang lalu, tepatnya beberapa bulan setelah Aifa'al berangkat ke Amerika untuk menjalankan program pertukaran mahasiswa yang diadakan oleh kampus, membuat Damar banyak berubah. Bahkan sifatnya yang berbeda itu bisa melebihi kerasnya sifat Aifa'al di saat Aifa'al menjadi pembangkang.


"Mas mengerti perasaan kamu! Tapi kalau kamu seperti ini terus, apa kamu tidak memikirkan perasaan Adek kalau dia tau traumatis kamu itu tidak kunjung hilang? Adek akan merasa bersalah pada dirinya sendiri karena masalah ini." cercah Aifa'al, kesal namun berusaha mengecilkan volume suara, teringat kamar Wulan ada di sebelah kamar Damar.


"Adek tidak pernah tau dengan hal ini, Mas!" ujar Damar, lirih.


Aifa'al menghela lagi, berusaha mengontrol perasaan yang sebenarnya sangat tidak diinginkan kehadirannya saat ini, menatap sang adik yang memilih berdiri di dekat jendela, memunggunginya. Damar terlihat sesak, punggungnya tampak naik turun tak beraturan, hingga menuntun kaki Aifa'al beranjak dari posisi. Berjalan pelan mendekati sang adik yang semula ceria karena kedatangannya, namun kini malah berakhir seperti ini tanpa diduga-duga.


"Kamu yakin Dik? Mas tau kamu sangat sayang sama Adek. Mas pun juga demikian. Mas sangat menyayangi Adek. Dia segalanya untuk Mas. Dia yang sudah membuat masmu ini, yang tadinya hanya seorang anak pembangkang, tidak mau mendengar perkataan orang tua, berandalan nakal yang liar, menjadi anak yang lebih baik. Karena Adek, mata hati Mas terbuka lebar hingga Mas bisa melihat ketulusan hati setiap orang. Mas juga tempramen, bahkan lebih protektif pada Adek daripada kamu. Mas juga sadar, di saat peristiwa itu terjadi Mas tidak ada di samping kamu, Syahal, Syahil, dan Mas Ziel saat Adek kritis. Mas juga tidak menyangka, kalau kamu akan jadi seperti ini. Ayolah Damar, Mas yakin kamu pasti bisa menghilangkan traumatis kamu itu biar perlahan asalkan kamu yakin dan mau mencoba terus!" tutur Aifa'al.


Diraihnya bahu sang adik yang naik turun itu oleh Aifa'al, kendati sang adik kembar masih memunggunginya efek emosi tempramen yang kambuh. Membuat Aifa'al yakin, kalau saat ini Damar tengah menangis, teringat masa itu.


"Damar sudah berusaha, Mas. Tapi Damar tidak bisa. Andaikan Mas ada di saat peritiwa menakutkan itu terjadi, mungkin Mas tidak akan bicara seperti ini pada Damar. Melihat Adek yang terkapar di atas jalan, berlumuran darah dimana-mana dengan mata kepala Mas sendiri. Apa Mas bisa membayangkan, bagaimana paniknya Damar di saat melihat Adek seperti itu?"


Aifa'al menghela kasar, mendengar cerita Damar yang memang sudah ia dengar dari Aizeil, Syahal dan Syahil sewaktu dirinya berada di Amerika. Sempat membuat dirinya gamang saat itu, ingin kembali ke tanah air dan melihat sendiri kondisi sang adik. Namun berkat semua anggota keluarga yang menguatkan, ditambah dengan kemajuan kondisi Wulan yang semakin membaik setelah sempat dinyatakan meninggal dunia selama beberapa menit, dan karena kuasa Sang Ilahi pula lah sang adik tersayang bisa kembali tersadar tanpa diduga setelah mengalami mati suri karena kecelakaan nahas saat itu, membuat Aifa'al berpikir panjang dan mengurung niatnya.


Namun siapa sangka, jika peristiwa nahas itu malah justru membuat Damar yang menyaksikan sang adik berlumuran darah di tengah jalan menjadi trauma bahkan tempramen. Sungguh membuat Aifa'al tidak menyangka akan semua ini akan dialami oleh adik kembar bungsunya itu. Sementara Damar menarik tangannya ke atas, jika diperhatikan dari belakang ia tengah mengusap wajahnya yang sudah basah mungkin.


"Di saat Damar membawa Adek ke rumah sakit, menunggu di depan ruang UGD. Cemas, takut, panik semua menjadi satu. Sampai semuanya datang, lalu Mami dan Oma yang jatuh pingsan ketika mendengar kabar buruk dari dokter, yang menyatakan bahwa nyawa Adek tidak bisa diselamatkan karena kehabisan banyak darah. Apakah Mas bisa membayangkan, bagaimana cara kaki Damar ini bisa kuat berdiri tegap saat telinga Damar juga ikut mendengar kabar menakutkan itu? Damar hampir mati disaat itu juga, Mas! Hampir mati! Tapi Allah masih baik sama Damar. Allah tidak ingin melihat kisah Papi terulang lagi di dalam hidup Damar, karena itu Allah mengembalikan Adek pada Damar, Papi, Mami dan keluarga besar kita ini."


Damar benar-benar menangis, suara isaknya membuat Aifa'al bergegas mendekati sang adik lalu memeluknya.


"Sejak saat itu Damar bersumpah, Mas. Damar tidak akan membiarkan Adek sendirian lagi. Dimana ada Wulan maka disitu akan ada Damar! Dan Damar, akan mencari orang itu. Orang yang hampir membuat keluarga besar kita berduka, Mas! Orang yang hampir membuat Damar kehilangan adik kembar Damar. Damar tidak akan pernah mengampuni orang itu, Mas!!! Tidak akan pernah selamanya!!!" tutur Damar.


"Jangan bicara seperti itu, Damar. Kamu tidak boleh dendam! Kamu jangan lupa dengan pesan Paman Imam disaat akhir hayatnya pada kita anak-anaknya. Mas tau, kamu emosi, kamu boleh marah, tapi jangan dendam!!! Kamu dan Adek yang mengingatkan Mas akan hal itu, jangan malah kamu yang melakukannya. Kamu tidak perlu mengotori tanganmu ini untuk orang biadab itu, Damar! Masih ada pihak yang berwajib, masih ada hukum Allah." tutur Aifa'al yang sudah banyak berubah dari biasanya, terlihat lebih dewasa, bijak dan sabar tidak seperti dulu.


Damar menghela kasar, mengusap kasar wajahnya yang sudah basah, melerai pelukan penenang sang mas.


"Sudahlah, Mas. Seharusnya kita tidak membahas ini. Sebaiknya Mas istirahat. Mas pasti sangat lelah 'kan? Beristirahatlah... Damar ingin ke kamar mandi dulu."


Damar berlenggang pergi, masuk ke kamar mandi dan meninggalkan Aifa'al yang masih terdiam.


Drap!


Sepersekian menit Aifa'al termenung di tempat, namun setelah itu ia kembali teringat dengan niat awal, melihat sang adik yang mungkin sudah terlelap di kamarnya. Tanpa menunggu Damar yang tak kunjung keluar dari kamar mandi, Aifa'al pun melangkah, keluar dari kamar Damar, bergerak cepat menuju ke sebelahnya, yaitu kamar Wulan.

__ADS_1


Ceklek!


Diraihnya perlahan gagang pintu itu, dibukanya secara perlahan. Aifa'al melangkah pasti, masuk ke dalam kamar sang adik yang sedikit terang efek cahaya lampu tidurnya. Pintu kamar dibiarkan terbuka, menuntun Aifa'al berjalan perlahan mendekati sang adik yang sudah terlelap nyenyak dengan selimut tebal dan memangku bantal gulingnya. Membuat Aifa'al tersenyum senang, melihat betapa tenangnya wajah cantik sang adik yang tengah tertidur.


"Mas pulang, Sayang. Mas kangen sekali sama Adek."


Dengan sayang, tangan kekar itu mengelus lembut surai hitam Wulan, tanpa membuat sang empunya terbangun.


"Mas janji sama Adek. Mas tidak akan pergi lagi, Sayang. Mas akan selalu ada di sisi Adek. Mas akan menjaga dan melindungi Adek dari orang-orang yang ingin menyakiti Adek. Mas akan menjadi tameng terdepan untuk Adek."


Aifa'al tersenyum getir, terasa damai tatkala mata menyaksikan sendiri betapa lelapnya tidur sang adik tersayang yang lama ia tinggal pergi. Akibatnya, selama itu pula Aifa'al dirundung rasa cemas yang tak terkira, apalagi setelah peristiwa kecelakaan yang menimpa Wulan saat itu.


"Mas minta maaf ya, Dek. Karena di saat Adek kecelakaan dan membutuhkan Mas, justru Mas tidak ada di sisi Adek. Mas juga tidak bisa mencegah tempramental di dalam diri Damar terus tumbuh. Andaikan waktu itu Mas membulatkan tekad untuk kembali, mungkin Damar tidak akan jadi seperti ini. Damar yang sekarang sangat berbeda dari yang dulu. Itu semua salah Mas, karena Mas lalai menjaga kalian. Maafkan Mas, Dek. Mas minta maaf."


Sayup-sayup suara isak Aifa'al yang merasa bersalah mulai terdengar pilu, air matanya tiba-tiba menetes tanpa henti, merasa sangat gagal menjadi seorang kakak untuk adiknya, membuat diri yang dulunya memiliki hati sekeras baja menjadi lembut seperti benang sutra nan putih dan suci.


"Semua ini bukan salah Mas..."


Wajah yang tertunduk pun terangkat cepat, mendapati suara bariton yang sangat dikenal, masuk menelusup ke kamar Wulan yang temaram. Menuntun Aifa'al memutar kepala, melihat siapakah gerangan yang datang itu.


"Syahal..."


Ternyata yang datang itu adalah Syahal, putra kembar pertama dari paklik dan bukliknya, siapa lagi kalau bukan pasangan romantis tapi bar-bar seperti Sadha dan Vanny.


Syahal yang datang mengulum senyum, melangkah lebar mendekati sang mas tengah yang beranjak dari sisi tempat tidur Wulan. Lalu mereka berpelukan, erat menumpahkan segala kerinduan yang bersemayam sejak lama dalam hati.


"Syahil juga ada, Mas. Tapi dia sudah tidur." jawab Syahal, tersenyum manis seraya menepuk bahu sang mas tengah.


"Kamu apa kabar? Kenapa kamu ada di sini?" ujar Aifa'al.


"Syahal baik, Mas. Kami semua sangat baik. Lebih baik kita cerita di luar saja, Mas. Takutnya Adek nanti terbangun saat mendengar suara Mas itu." jawab Syahal, mulai kambuh lagi sifat jail dan usilnya.


Aifa'al berdecak gemas, tidak heran sama sekali dengan tingkah adik kembarnya satu ini, tidak pernah berubah. Membuat keduanya bergegas keluar dari kamar Wulan.


"Kenapa kamu bisa tau Mas ada di kamar Adek?" tanya Aifa'al, sembari menutup rapat pintu kamar sang adik.


"Syahal mendengar suara Mas. Tadinya Syahal ingin ke bawah mengambil minum, tapi saat mau berjalan ke arah tangga Syahal melihat pintu kamar Adek terbuka, Syahal refleks berlari ke sini. Syahal kira ada maling yang masuk kamar Adek, ternyata Mas Al." tutur Syahal, menceritakan.


"Ck! Memang tampang masmu ini sudah seperti maling? Dasar adik tidak punya akhlak!" sungut Aifa'al, gemas dangan cerita Syahal.


Syahal terkekeh samar, melihat kearoganan sang mas tengah kembali terlihat, membuatnya lega. Setidaknya Aifa'al sekarang sudah lebih tenang dan melupakan rasa bersalahnya terhadap Wulan.


"Syahal mendengar semua racauan Mas di kamar Adek."


Pengakuan Syahal sontak membuat Aifa'al tercengang. Sementara Syahal, beranjak lalu mendekati Aifa'al.

__ADS_1


"Syahal juga melihat perdebatan Mas dengan Damar."


Aifa'al benar-benar dibuat terkejut lagi oleh Syahal, tak menyangka kalau perdebatan singkatnya dengan Damar sudah diketahui oleh Syahal yang ternyata juga menginap di rumah sang opa bersama Syahil malam ini.


"Syahal... Kamu..."


Syahal mengulum senyum, sangat mengerti dengan keterkejutan di wajah sang mas tengah sekarang ini, yang belum melebihi keterkejutan dirinya tatkala melihat sang mas tengah pulang tanpa memberikan kabar terlebih dulu. Membuat Syahal sempat gemas, namun sifat jailnya yang kumat tak tau waktu itu justru membuatnya ikut mendengar perdebatan singkat yang terjadi di antara Aifa'al dan Damar.


"Syahal dan Syahil, bahkan juga Mas Ziel. Kami sudah berusaha semampu kami untuk meyakinkan Damar, Mas. Tapi adik kita yang satu itu sepertinya sangat sulit untuk membuang semua kenangan menakutkan itu dari memori kepalanya, hingga membuat sifatnya berubah seperti itu." ujar Syahal, terlihat prihatin dengan perubahan Damar.


"Semua ini salah Mas...!" ucap Aifa'al, merasa bersalah.


"Bukan, Mas. Mas tidak salah, Damar juga tidak salah sebenarnya. Yang salah di sini adalah orang misterius itu. Orang itu yang sudah membuat Adek hampir mati dan membuat Damar jadi berubah drastis seperti sekarang. Tidak hanya Damar, bahkan Syahal dan Syahil juga sedang mencari orang itu, Mas." ujar Syahal, menenangkan Aifa'al.


Aifa'al menghela, berusaha menghilangkan rasa bersalah yang berkemelut dalam hati. Membuat Syahal tidak tega.


"Apakah kamu dan Syahil mempunyai petunjuk tentang orang misterius yang sudah berani mencelakai Adek?" pungkas Aifa'al setelah beberapa menit terbungkam.


"Belum, Mas. Tidak ada jejak sama sekali dari orang itu. Bahkan mobil yang digunakan oleh orang itu tidak bisa dilacak keberadaannya sampai sekarang. Apa menurut Mas semua kejadian ini tidak aneh?" jawab Syahal, terlihat kesal jika teringat dengan usahanya bersama Syahil yang nihil.


"Lalu? Apa rencana yang akan kamu dan Syahil lakukan untuk mencari bajingan itu Syahal?" tanya Aifa'al, tampak mulai geram dengan orang yang sangat ingin Wulan mati.


"Untuk sekarang Syahal dan Syahil belum tau akan melakukan apa lagi, Mas. Sudah berbagai cara kami gunakan, tapi hasilnya nihil tanpa hasil. Syahal jadi bingung." jawab Syahal, mendadak sendu jika mengingat usahanya itu.


"Lalu? Apakah sejak peritiwa itu, apakah masih ada orang yang ingin mencelakai Adek?" tanya Aifa'al lagi, penasaran.


"Justru itu, Mas. Kalau ada, mungkin akan lebih mudah bagi Syahal, Syahil dan Mas Ziel untuk mengira-ngira siapa orang itu. Tapi sayangnya, setelah peritiwa itu tidak ada peristiwa aneh lainnya yang menimpa Adek. Bukannya Syahal ingin ada orang yang berniat buruk sama Adek, Mas. Tapi coba Mas pikir, setidaknya dengan ada kejadian-kejadian aneh yang mengiringi setelah kecelakaan itu terjadi, kita dapat lebih tanggap bukan, untuk bisa membongkar siapa orang itu? Tapi semua itu tidak ada, Mas. Orang misterius bajingan itu hilang begitu saja, seperti angin yang berhembus dalam satu kedipan mata. Hilang tanpa jejak!!!" ujar Syahal, geram.


Aifa'al terdiam, mengusap kasar wajahnya yang gusar. Niat hati pulang ke tanah air untuk istirahat sejenak setelah dua tahun berada di negeri orang dan menyelesaikan study nya dengan sangat baik, tapi rencana dan takdir berbeda haluan membuat Aifa'al harus berpikir keras lagi untuk bisa menyelesaikan masalah sang adik yang sepertinya akan lebih rumit dan menantang dari masalah sebelumnya. Kendati niatnya memang ingin menyelesaikan semua masalah yang ada, namun setidaknya ada waktu untuknya beristirahat terlebih dahulu sebelum memulai semua misi.


Sementara Syahal menghela berat, melihat kecememasan yang tergurat jelas di wajah sang mas tengah, membuatnya sangat mengerti dengan tingkah sang mas. Yang ingin sekali melindungi dan menjaga semua anggota keluarga dari mara bahaya, seperti daddy nya dulu. Meneruskan tongkat dan kedudukan yang sempat dipegang teguh oleh sang daddy, melindungi semuanya bersama Aiziel. Karena setelah Aiziel, dirinya lah tombak besar kedua yang akan selalu diandalkan untuk melindungi semuanya dari apapun, termasuk melindungi sang little princess kesayangan di rumah ini.


"Jangan terlalu dipikirkan, Mas. Mas baru saja kembali dari Amerika dan Mas butuh waktu untuk menenangkan pikiran terlebih dahulu. Sebaiknya Mas istirahat sekarang. Besok pagi Adek pasti akan senang melihat kepulangan Mas Al. Untuk masalah bajingan misterius itu, Mas tenang saja. Syahal dan Syahil juga tidak akan tinggal diam. Kita pasti bisa menemukan bajingan itu, Mas." tutur Syahal, berusaha meyakinkan dan menenangkan kegelisahan hati Aifa'al.


Aifa'al yang terdiam menghela lagi, berusaha untuk tidak emosi di saat malam semakin bergerak pergi. Perdebatan singkatnya dengan Damar, hingga berakhir dengan cerita Syahal membuatnya lupa kalau hari sudah semakin malam. Menuntun Aifa'al beranjak dari duduknya di sisi Syahal.


"Kamu benar, Syahal. Mas juga tidak akan membiarkan bajingan itu hidup dan berleha-leha di muka bumi ini dengan tenang. Bajingan itu harus membayar setiap tetes darah Adek yang terbuang sia-sia, dan bajingan itu juga harus membayar semua ketakukan Damar. Itu janji Mas!" jawab Aifa'al, mengepal tangannya kuat efek amarah.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All😚😚😚


__ADS_2