Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 61 ~ Petunjuk Alat Pelacak


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Di pelantaran tempat parkir?"


Semua yang berkumpul di ruang tamu rumah Pak Aidi terlonjak kaget, terkejut mendengar perkataan Imam yang menemukan titik terang keberadaan ponsel Damar, saling melempar pandangan tidak percaya namun seperti itulah petunjuk yang diberikan oleh alat pelacak itu.


"Lihat ini!!! Objek berwarna hijau ini adalah ponsel Damar. Pergerakannya kini semakin lambat, bahkan sudah berhenti di suatu tempat yang sepertinya tempat parkir. Sebaiknya kita lihat ke sana untuk memastikan keberadaan Damar Wulan." ujar Imam yang memperlihatkan pelacak itu.


"Biar Dhana dan Imam yang pergi ke sana." timpal Dhana yang beranjak dari duduknya.


"Aku ikut, Mas!" sahut Mala yang beranjak.


"Jangan, Sayang! Kamu di rumah saja ya! Do'akan agar anak-anak kita baik-baik saja!" jawab Dhana yang mencegah sang istri.


"Biarkan Dhana dan Imam yang mencari anak-anak, Mala." timpal Vanny yang meraih tangannya dari belakang.


"Mas akan ikut dengan kalian!" timpal Sadha.


"Kami juga ingin ikut, Pa!!!" timpal Syahal dan Syahil yang serentak seraya beranjak bersama.


"Ziel juga ikut!" timpal Aiziel.


Dhana dan Imam saling pandang, menghela nafas panjang, menenangkan semua anggota keluarga yang memang panik dan khawatir.


"Ziel, Syahal, Syahil... sebaiknya kalian tetap berada di sini, Nak! Situasinya masih belum memungkinkan jika kalian semua ikut. Biarkan Paman, Uncle Dhana dan papa kalian yang mengurus ini terlebih dahulu. Jika jalan menuju petunjuk lain sudah terlihat, Paman janji akan melibatkan kalian semua." tutur Imam yang menenangkan ketiga keponakan tampannya itu.


"Tapi Paman..."


"Jangan membantah pamanmu, Syahil! Temani Opa, Oma, Anty Mala, dan Mama di sini! Tenangkan mereka!" potong Sadha yang tegas.


Syahil tertunduk, menghela nafas samar, merasa bersalah karena ia dan Syahal tidak memaksa Damar dan Wulan untuk berada di rumahnya, membiarkan kedua adiknya pulang sendirian padahal situasinya sangat berbahaya.


"Papa pergi dulu ya." ujar Sadha yang menepuk bahu putra kembarnya itu.


"Hati-hati, Pa." jawab Syahal.


Sadha mengangguk, merangkul Dhana yang mengulas senyum penuh ketenangan untuk ketiga keponakannya itu. Dhana tidak tega, tapi ia juga tidak ingin ketiga keponakannya itu ikut terluka karena mencari Damar dan Wulan.


"Sudahlah, Syahil. Damar dan Adek pasti baik-baik saja di mana pun mereka berada. Kamu jangan lupa kalau Onty Dhina pasti akan melindungi Damar dan Adek dari surga." tutur Syahal yang menenangkan sang adik kembar.


Syahil menghela nafas kasar, beranjak dari posisi berdirinya saat ini, melangkah ke arah taman samping, mencari suasana segar untuk menghilangkan rasa takut yang menyelimuti. Sementara Aiziel dan Syahal yang melihat itu, hanya bisa saling pandang, membiarkan sang adik menenangkan dirinya untuk sesaat. Lalu keduanya pun kembali duduk bersama, Mala, Vanny, Bu Aini dan Pak Aidi di sofa ruang tamu.


"Opa... apa Daddy sudah tau dengan masalah ini?" tanya Aiziel yang duduk di sisi sang opa.


"Jangan kamu beritahu dulu, Nak. Opa takut kalau daddy-mu tau, dia bisa syok dan darah tingginya naik lagi. Itu akan sangat berbahaya untuk keselamatan daddy-mu. Untuk saat ini, biarlah masalah ini kita rahasiakan dulu dari daddy-mu sampai petunjuk keberadaan kedua adikmu itu ditemukan." tutur Pak Aidi.


Aiziel menghela nafas panjang, mengangguk patuh dengan perkataan sang opa. Kesehatan sang daddy memang harus dijaga, tidak boleh turun apalagi secara drastis, membuat Aiziel harus menutupi semua ini dari sang daddy.


***

__ADS_1


Gelapnya malam terlihat semakin pekat saat awan hitam nan tebal menyelimuti, sepertinya enggan memberi jalan untuk sang rembulan memancarkan cahaya terangnya ke bumi.


Byurrr!


Siraman air yang bercampur dengan es batu mengguyur dua tubuh yang terikat beradu punggung, duduk beralasan tikar di depannya, membuat kedua tubuh itu terlonjak, nafas keduanya kian terengah, mendapatkan guyuran air es yang dingin hingga menusuk tulang.


"Bangun!!! Waktu untuk tidur sudah habis!!!" tandas sosok pria berpakaian serba hitam.


Salah satu dari dua tubuh yang terikat itu mendongak, mengedar pandangan sekeliling ruangan gelap tak berpentilasi, tak ada cahaya yang menerangi, hanya ada cahaya sebuah lilin, pengap dan sangat gelap, membuatnya takut.


"Damar, Wulan!!! Akhirnya aku bisa membawa kalian ke tempat ini!" ujar sosok pria tegap itu.


Pandangan Damar mengedar liar, mencari pemilik suara bariton asing itu, menoleh ke belakangnya, melihat sang adik yang turut diikat dan menempel dengan punggungnya. Nafas Wulan masih terengah-engah, guyuran air es dingin itu masuk ke dalam hidungnya, membuat Wulan sulit untuk mengontrol nafas.


"Siapa kamu? Di mana ini? Tempat apa ini? Kenapa kamu membawa kami ke sini, hah?" tandas Damar yang berusaha mencari sosok itu karena kurangnya penerangan.


"Hahahaha... kamu tidak perlu tau siapa aku! Yang jelas, aku ingin kalian tetap terkurung di tempat ini selamanya! Aku ingin membuat ibu kalian menderita karena kehilangan dua anak kembarnya! Hahahaha..." ujar sosok pria itu.


Damar mendengus kasar, berusaha mencari wajah sosok yang berbicara itu, namun usaha Damar sia-sia karena ruangan yang sempit itu tidak menyisakan cahaya selain cahaya lilin, membuatnya sulit untuk melihat siapa orang yang menyekap dirinya dan juga sang adik.


"Selamat menikmati hari-hari kalian di sini!!!" sahut sosok pria tegap itu sebelum beranjak.


"Woi! Siapa lo? Kalau berani tunjukkan wujud asli lo di depan gue! Pengecut lo! Pecundang! Woi! Lepaskan gue!" tandas Damar yang kian memanas, amarahnya semakin menyeruak.


Damar meracau, meluapkan amarah yang bergejolak di dalam dada, namun tidak ada jawaban dari pria itu karena pria itu sudah pergi, meninggalkan dirinya dan sang adik dalam kegelapan malam dan ruang sempit.


"Adek... Adek tidak apa-apa 'kan? Adek bisa mendengar suara Mas?" tanya Damar yang memalingkan wajahnya, melihat sang adik.


"Kenapa kita ada di sini? Siapa yang sengaja melakukan ini? Adek... apa Adek melihat pria yang berbicara di depan kita tadi? Mas tidak bisa melihatnya karena intensitas cahaya di ruangan ini hanya bermodal cahaya lilin itu." cercah Damar yang masih mengedar, melihat sekitar ruang gelap nan sempit bin sesak itu.


Wulan menggeleng lemah, membuat Damar tidak tega melihatnya seperti ini, kedinginan dalam kondisi terikat tak berdaya. Tidak hanya tubuh mereka yang terikat, tapi kaki mereka pun ikut diikat kuat dengan rantai besar.


Hening. Suasana ruangan gelap gulita yang menjadi tempat penyekapan Damar Wulan tampak semakin mencekam. Sayup-sayup suara jangkrik dan burung hantu kian hadir, membuat Wulan semakin ketakutan. Bulir kristal akhirnya jatuh, tak kuat membendung rasa takut berselimut dingin yang menusuk. Wulan menangis, membuat Damar khawatir.


"Adek... Adek tenang ya, Sayang!!! Kita pasti bisa keluar dari tempat terkutuk ini. Adek jangan menangis ya! Mas tidak bisa melihat Adek menangis seperti ini. Mas minta maaf karena tidak bisa menjaga Adek hingga kita bisa terjebak di dalam neraka ini. Tapi Mas janji, kita akan keluar malam ini juga. Adek harus kuat! Kita harus bekerja sama, Dek!!!" tutur Damar yang menenangkan sang adik.


Tangis Wulan akhirnya mereda, menyisakan sedikit rasa lega di hati Damar yang sempat panik dan khawatir dengan kondisi sang adik.


***


"Kamu yakin di sini tempatnya Mam?"


Di depan sebuah gerbang pelantaran tempat parkir ribuan taksi berwarna biru, Dhana dan Imam berserta Sadha tengah mengedarkan pandangan ke arah dalam gerbang yang kini masih terbuka walaupun sedikit. Dhana ragu, apa benar tempat yang ditunjukkan oleh alat pelacak milik Imam benar-benar tempat ini?


"Mana mungkin Damar dan Wulan ada di tempat ini, Mam!" timpal Sadha yang ikut mengedar, mencari keberadaan keduanya.


"Kalau menurut alat pelacak ini, memang tempat inilah jawabannya, Mas." jawab Imam yang melihat ke dalam dan ke alat pelacak itu.


"Kalau begitu kita masuk saja! Kita ikuti ke mana arah petunjuk dari alat pelacak itu!!!" timpal Dhana yang tidak bisa sabar lagi.

__ADS_1


"Oke..." jawab Imam yang mengangguk.


Sadha, Dhana dan Imam beranjak, mengambil langkah lambat, masuk menerobos gerbang yang sedikit terbuka itu, mengikuti arah tujuan yang ditunjukkan oleh si pelacak dari ponsel Imam, memeriksa setiap inci tempat besar itu, memastikan tidak ada tempat yang tertinggal walaupun hanya 1 cm saja.


Setengah jam berlalu. Sadha, Dhana dan Imam masih mengedar seluruh tempat, namun tiada titik terang dari si pelacak yang terus berjalan.


Ting... Ting... Ting...


Imam terkesiap, suara dari alat pelacak itu semakin berbunyi, menandakan bahka objek yang mereka cari berada tidak jauh dari posisi, membuat Sadha dan Dhana yang berjalan di depan menoleh cepat, mendekati Imam yang tengah berusaha mencari sumber objek itu.


"Mas Sadha, Dhana... sepertinya keberadaan ponsel Damar ada di dalam mobil taksi ini!!! Alat pelacak akan berbunci, semakin lama akan semakin kuat jika objek yang kita cari semakin dekat. Sepertinya memang mobil inilah yang sempat ditumpangi Damar dan Wulan pulang." ujar Imam yang berbinar melihat keduanya.


Tanpa basa-basi, Sadha dan Dhana melihat mobil taksi yang ada di dekatnya, memeriksa dan memastikan kalau dugaan alat pelacak benar bahwa ponsel Damar ada di dalamnya.


"Woi!!! Siapa kalian?"


Lengkingan suara bariton tiba-tiba bergema kuat, mengejutkan ketiga pria tampan yang sedang mencari sesuatu di dalam taksi itu. Sementara sang pemilik suara tampak berlari kecil, menghampiri ketiganya yang terkesiap.


"Sedang apa kalian di sini? Kalian ini ingin mencuri salah satu mobil taksi di tempat ini ya?" seloroh si pemilik suara bariton yang usianya tampak jauh lebih tua dari ketiganya.


"Ckck!! Apa seperti ini cara Bapak bertanya baik-baik pada pengunjung? Apakah penampilan kami bertiga ini terlihat seperti seorang pencuri? Tidak sadar kah Bapak jika jarum jam masih bertengger di angka sepuluh? Mana mungkin ada pencuri yang beraksi saat masih sore seperti ini?!" cebik Sadha, jengah.


Pria paruh baya yang sepertinya seusia Pak Aidi itu hanya tertunduk, takut melihat raut wajah Sadha yang mendadak kesal hingga membuatnya menyeramkan. Sementara itu, Dhana dan Imam berusaha menenangkan Sadha yang tak tahan dengan tuduhan pria itu.


"Maaf Pak, kalau kedatangan kami membuat Bapak bertanya-tanya. Begini, tujuan kami datang ke sini adalah untuk mencari ponsel anak kami yang sampai saat ini belum pulang. Menurut alat pelacak yang saya gunakan, di sini lah keberadaan ponsel anak kami berada, dan di dalam taksi ini tempat paling tepatnya. Apakah Bapak tau siapa yang terakhir kali membawa taksi ini? Bisakah Bapak menolong kami?" tutur Imam yang berusaha membujuk pria paruh baya itu.


"Kebetulan saya yang membawa taksi ini dari pagi sampai malam, Mas. Kira-kira apa yang bisa saya bantu untuk ketiga Mas ini? Maaf ya, saya sempat menuduh kalian yang tidak-tidak." jawab si Bapak paruh baya yang tertunduk.


"Tidak masalah, Pak. Kalau begitu, apakah Bapak bisa membukakan pintu mobil taksi ini? Agar saya dan kakak-kakak saya ini bisa lebih mudah dalam memeriksa ke dalamnya, Pak." ujar Imam yang tersenyum, melihat Sadha dan Dhana yang tampak berbinar.


"Baiklah, Mas. Tunggu sebentar! Saya ambil kunci mobilnya dulu!" jawab si Bapak paruh baya itu.


Si Bapak paruh baya beranjak, berlari cepat masuk ke dalam tempat penyimpanan kunci mobil taksi, meninggalkan ketiga pria kakak beradik di luar dengan raut wajah penuh harap. Tidak berselang lama, si Bapak paruh baya nan tampak masih gesit itu kembali menghampiri, membuka kunci pintu mobil, lalu memberikan kesempatan pada Sadha, Dhana dan Imam untuk memeriksa mobil itu dengan leluasa.


Sadha mencari di bagian kemudi, Dhana mencari di sisi kursi kemudi, sedangkan Imam mencari di kursi belakang dengan bantuan alat pelacak yang semakin berbunyi nyaring. Untuk sesaat mereka tampak terlihat sibuk mencari, membuat si Bapak paruh baya kebingungan. Namun sepersekian menit kemudian, Imam yang mencari di bangku belakang, mendapati sebuah benda pipih cerdas yang diyakini kalau benda pipih cerdas itu adalah milik Damar.


"Dhana... apakah ini ponsel Damar?" tanya Imam yang keluar dari dalam mobil taksi itu.


Dhana terperangah, menatap nanar ponsel dengan cash berwarna silver, merebutnya dari tangan Imam, memeriksa setiap inci ponsel itu dengan tatapan tak percaya dan takut.


"Iya, Mam. Ini ponsel Damar!" jawab Dhana.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2