Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 43 ~ Mabuk


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Syahil... apakah kamu sudah pulang ke rumah Nak?"


Syahil terhenyak, langkahnya menuju ke rumah ini membuatnya lupa untuk segera pulang, menemui kedua orang tuanya di rumah yang sudah sejak lama menantikan kepulangannya. Syahil yang terhenyak sesaat pun melerai pelukannya, berdiri lalu menoleh ke arah sang uncle.


"Belum, Uncle. Rencananya Syahil ingin pulang karena Mas Al tidak mengizinkan Syahil untuk menginap di apartment lagi. Mas Al menganggap Syahil pengkhianat karena memilih Adek dari pada dia. Syahil ingin pulang tapi baju dan buku-buku Syahil masih di apartment Mas Al, Uncle." jawab Syahil seraya melerai pelukannya, melihat ke arah sang uncle.


"Mas Al mengusir kamu dari apartment?" timpal Syahal yang terkejut, tidak percaya.


"Iya, Mas. Bahkan Mas Al tidak mau lagi bertemu dengan Syahil karena keputusan Syahil ini." jawab Syahil yang melihat sang mas kembar.


"Ck!!! Al memang keras batu! Tidak perlu kamu memikirkannya! Seperti ini saja, kita pergi ke apartment Al untuk mengambil barang-barang kamu. Mas akan menemani kamu ke sana. Ya?" timpal Aiziel yang kesal dan geram mendengar perkataan Syahil.


"Tapi Mas..."


"Mas juga akan ikut kamu dan Mas Ziel. Jadi kamu jangan khawatir kalau Mas Al akan bertindak bodoh saat kamu datang." potong Syahal seraya meraih bahu sang adik.


"Lebih baik kalian pergi sekarang, sebelum waktu maghrib benar-benar tiba. Setelah itu, pulang lah terlebih dahulu ke rumah ya. Kasihan papa dan mama kamu, Syahil. Tapi Uncle berpesan satu hal, jangan beritahu mereka tentang masalah ini." timpal Dhana yang memberikan izin pada mereka.


Syahil menghela nafas panjang, niatnya yang memang ingin memberitahu kedua orang tuanya harus tertunda untuk saat ini.


"Baik Uncle..." jawab Syahil.


Setelah permasalahan Syahil selesai dengan baik dan mendapatkan izin dari sang uncle untuk pergi ke apartment Aifa'al, ketiganya pun beranjak pergi. Dengan menggunakan mobil Aiziel, Syahal dan Syahil pergi menuju apartment Aifa'al untuk mengambil barang Syahil yang masih tertinggal di sana. Tanpa mereka sadari, sepasang mata yang sejak tadi berdiri di balik jendela, sudah melihat dan mendengar pembicaraan mereka.


Ternyata Damar dan Syahil didatangi onty mereka di dalam mimpi. Ck!!! Bahkan saat dia sudah tiada saja, dia masih ikut campur dalam urusan dunia. Sebesar itukah kasih sayang kalian sebagai anak kembar sejati, bahkan sampai detik ini suamiku itu masih saja memikirkan adiknya yang sudah mati. Gumam Mala dalam hati.


Ternyata sepasang mata itu adalah Mala, istri Dhana yang baru saja sampai di rumah setelah pertengkaran yang terjadi di rumah sakit. Mala beranjak setelah mobil Aiziel pergi, masuk ke dalam rumah.


Dhana, Damar dan Wulan menoleh cepat tatkala suara tapak kaki seseorang masuk ke dalam rumah, mendapati sosok wanita yang sangat mereka kenali. Mala berjalan masuk, terhuyung ke kiri dan ke kanan tak terkendali, wajahnya pias melihat ketiganya.


"Sayang... kalian naik ke atas dulu ya!" seru Dhana yang melambatkan nada bicaranya, seraya mengelus kepala kedua anaknya itu.


Damar dan Wulan mengangguk patuh, mengerti dengan tatapan sang papi yang mendadak sendu tatkala melihat kondisi sang mami pulang dalam keadaan, mabuk. Seperti itulah kebiasaan buruk istri seorang Dhana Trinandaidi beberapa tahun terakhir ini. Bertengkar dengan suaminya, membuat Mala stress dan frustasi hingga akhirnya ia memilih jalan kotor yang tak pernah Dhana bayangkan sebelumnya.


Kenapa kamu jadi seperti ini Mala? Bahkan di saat kita belum menikah dulu, sifat kamu tidak seburuk ini. Apakah saat itu aku telah salah menilaimu dari luar saja? Bahkan aku memutuskan untuk menikah dengan kamu walaupun aku baru mengenalmu. Ahh, jika aku berpikir seperti ini, itu artinya sama saja kalau aku menyesal telah menikahimu. Tapi kenapa sifat burukmu baru terlihat setelah kamu melahirkan dan sadar dari koma lima tahun, Mala. Apakah setelah koma itu jati dirimu yang sebenarnya keluar seperti ini? Kamu benar-benar semakin keterlaluan. Gumam Dhana dalam hati.


Mala terus berjalan, terhuyung mendekati Dhana yang menatapnya tajam, bergumam sendiri di dalam hati, mengutuki sikap sang istri yang datang dalam keadaan mabuk di depan kedua anaknya. Dengan senyuman lebar tanpa sadar, Mala bergelayut posesif di tangan sang suami. Mabuk berat yang ia alami saat ini membuatnya tidak peduli dan tidak mengindahkan tatapan tajam Dhana.


"Dari mana saja kamu? Kenapa pulang dalam keadaan mabuk seperti ini?" ujar Dhana seraya meraih kedua bahu Mala.


"Aku habis bersenang-senang di luar, Mas. Aku bosan di rumah dan bertengkar terus sama kamu hanya karena anak bisu sialan itu! Hahahaha..." jawab Mala yang mabuk.

__ADS_1


"Bisa, tidak? Berhenti memanggil Wulan dengan sebutan menjijikkan itu di depan mataku? Atau kamu mau aku tampar lagi?" tandas Dhana seraya mengguncang Mala.


"Sayangnya aku tidak mau, Mas. Karena anak itu memang anak cacat yang sialan! Aku malu punya anak seperti dia! Semua teman-teman arisanku selalu mengejek, bahkan menyindirku kalau aku punya anak yang cacat. Aku malu, Mas!" jawab Mala yang terpekik seraya melepaskan diri dari cengkraman kedua tangan suaminya.


"Aku lebih malu melihat sikap kamu yang seperti ini, Mala!!! Aku malu karena wajah kamu sangat mirip dengan almarhumah adikku, tapi sifatmu tidak sebanding dengan sifatnya! Adikku orang yang baik dan tulus, tapi kenapa wajahnya bisa sama dengan kamu yang tidak mempunyai hati nurani!!! Kamu tidak pantas memakai wajah cantik adikku, Mala! Hatimu busuk, jahat bahkan lebih kejam dari binatang!" tandas Dhana.


"Hahaha... bahkan setelah 20 tahun adik kesayanganmu itu mati, kamu masih saja menyebut namanya, Mas! Jangan pernah kamu membandingkan aku dengan adik kembarmu yang penyakitan itu!!! Karena aku, lebih dari segala-galanya dari adik kembarmu itu!" ujar Mala dengan seringai tipis, menatap Dhana tajam lalu beranjak.


Tangan Dhana mengepal kuat, wajahnya memerah padam tatkala mendengar sang istri berkata kasar terhadap mendiang adik kembarnya untuk pertama kalinya. Selama sikap Mala berubah drastis menjadi sangat jahat, bahkan pada anak kandungnya, tapi baru kali ini Mala berkata seperti itu tentang almarhumah Dhina tepat di depan Dhana.


Aku menyesal telah mengenalmu, Mala. Bahkan saat ini aku menyesal menikahi wanita berhati keras seperti kamu. Tidak hanya putriku yang kamu hina sekarang, tapi almarhumah adikku pun kamu hina juga. Padahal dia yang sudah mendukung aku untuk mengambil langkah, menikahimu. Benar-benar wanita jahat dan tidak punya hati nurani. Gumam Dhana dalam hati.


Dhana terduduk lemas, mengusap kasar wajahnya yang terlihat frustasi, perkataan sang istri sangat mengusik hatinya. Dhana tidak pernah menyangka kalau istrinya itu berani berkata kasar seperti itu di depannya. Tanpa Dhana sadari, sejak tadi dua pasang mata yang berada di lantai atas melihatnya.


Bulir kristal jatuh dari pelupuk mata gadis kecil yang berada di rangkulan tangan sang mas kembar. Lagi-lagi, perkataan kasar sang mami kembali menghujam jantungnya yang baru saja sembuh setelah kedatangan Syahil. Tidak hanya menghina dirinya, sang mami bahkan semakin berani menampakan taring tajam miliknya yang selama ini tiada siapa pun mengetahuinya. Sang mami kini telah berani secara terang-terangan, tepat di depan sang papi, menghina almarhumah sang onty yang tidak mempunyai kesalahan sedikit pun dalam hidup sang mami.


Wulan menoleh, melihat sang mas kembar yang sedang berusaha menenangkannya.


"Mas sudah bilang sama Adek, jangan dengarkan pertengkaran Papi dan Mami. Tidak ada gunanya, hanya akan menyakiti hati kita saja pada akhirnya. Adek dengar sendiri, bukan? Bahkan Onty Dhina yang tidak ada hubungannya dengan masalah Papi dan Mami saat ini, malah ikut disebut. Bahkan Mami sudah berani menyebut Onty Dhina penyakitan di hadapan Papi. Kalau Pakde Ammar dan Paklik Sadha ada di sini, Mas tidak bisa membayangkan betapa emosinya mereka sama Mami." ujar Damar seraya mengusap lembut bahu sang adik.


Wulan termangu, semua perkataan Damar memang benar semua. Semakin hari sang mami terlihat semakin tidak terkendali hati dan emosinya, membuatnya tidak tega melihat sang papi yang terlihat frustasi.


Onty... maafkan mami Wulan ya. Wulan yakin kalau Mami tidak bermaksud untuk berkata seperti itu. Mami sedang mabuk, dan karena itulah Mami jadi emosional. Tolong bilang ke Allah, Onty. Berikan Wulan kekuatan dan petunjuk untuk menghadapi sikap Mami yang keras. Tolong bantu Wulan untuk merubah Mami seperti dulu lagi, Onty. Gumam Wulan dalam hati.


"Bagaimana dengan rencana kita? Apakah kamu sudah melihat sendiri hasilnya?"


Di pelantaran sebuah Cafe, sepasang anak muda tengah duduk berdampingan, seraya menikmati minuman dingin yang tersaji di depan mata mereka, plus dengan makanan ringan yang tak mau kalah hadir menemani perbincangan serius kedua anak muda itu.


"Kamu benar, Sayang. Ternyata maminya Damar membenci putrinya sendiri, yang tidak lain dan tidak bukan adalah si bisu itu. Aku melihat sendiri betapa ganas dan keji maminya Damar menyiksa si bisu itu! Ide kamu benar-benar memuaskan hatiku, Zi." ujar sosok anak muda yang tak lain adalah Bimantara, musuh bebuyutan Damar.


Zivana terbahak-bahak, tawanya seakan pecah ketika membayangkan penderitaan Wulan yang sangat menyedihkan. Disiksa oleh sang mami kandung, bahkan tidak pernah dianggap keberadaannya di dunia, sungguh membuat Zivana tertawa bahagia.


"Hahaha... aku sudah sering melihat si bisu itu ditinggal maminya saat pulang sekolah, Sayang. Jadi, kita tidak perlu repot-repot mengotori tangan sendiri untuk membalas mereka. Cukup diberikan bensin, ditambah sepercik api yang kecil, maka api itu akan berkobar dengan sendirinya. Hahahaha...." ujar Zivana dengan seringai tajam.


Bima menyeringai, meraih gelas minuman dinginnya, menyeruputnya dengan nikmat tanpa ada rasa bersalah sedikit pun pada Damar atau Wulan. Sama dengan Zivana, kedua insan manusia itu tampak bahagia karena rencana yang mereka susun rapih dapat berjalan lancar, sesuai ekspektasi.


"Tidak sia-sia aku mengikuti kalian saat bundamu menghubungi ambulance dan menyaksikan sendiri penderitaan si bisu. Tapi apa rencana ini aman?" tanya Bima.


"Kamu tenang saja, Bima. Rekaman CCTV saja tidak mampu menangkap dengan jelas wajah orang suruhanmu itu. Apalagi polisi. Tanpa barang bukti, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa." jawab Zivana santai.


"Bagus! Dengan begitu, aku tidak perlu khawatir lagi. Ternyata pekerjaan yang kusuruh, dapat dijalankan dengan baik oleh salah satu anggota geng motorku." ujar Bima dengan seringai tajam.


Zivana menyeringai puas, menyeruput minuman dinginnya yang tak kalah nikmat, ikut membayangkan betapa menderitanya gadis bisu yang menjadi target dendamnya sampai saat ini. Memang, buah tak jatuh dari pohonnya, sifat pendendam sang ibu telah mengalir di dalam darahnya walaupun ibu kandungnya sudah tiada dan bertaubat, tapi darah pendendam masih melekat erat, hingga turun pada putri semata wayangnya.

__ADS_1


"Kapten..."


Suara bariton dari arah pintu utama Cafe membuyarkan lamunan Zivana dan Bima. Keduanya menoleh, melihat sosok yang sangat dikenal dan dinantikan kehadirannya oleh Bima di Cafe ini. Bima melambaikan tangannya, memberikan kode pada salah satu anggota geng motornya yang datang.


"Duduk, Dim!"


"Thanks, Kapten!"


Dimas, dia lah sosok yang datang itu. Pria yang menjadi kaki tangan Bima di dalam geng motor, sekaligus orang suruhannya untuk mencelakai Wulan dan orang yang membuat emosi Syahil meledak seketika, sehingga ia memutuskan untuk keluar dari geng motor yang dipimpin oleh Bima.


"Ada apa lo ke sini? Katanya ada berita bagus tentang musuh bebuyutan gue itu." ujar Bima yang penasaran, melirik Zivana yang tak kalah memasang raut penasaran.


"Gue mau kasih tau lo, kalau si Syahil memutuskan untuk keluar dari anggota geng motor kita." jawab Dimas seraya menyeringai tajam menatap sang kapten.


"Tunggu, tunggu! Kalau Syahil keluar, itu artinya Aifa'al juga dong! Lah, ini bukan berita bagus namanya, Dim! Ini bahaya!!! Anggota geng motor kita semakin lama, semakin berkurang saja!" tandas Bima.


"Lo tenang dulu, Bim. Gue belum selesai bicara dan gue belum sampai pada titik pembicaraan kita." jawab Dimas dengan seringai tajamnya lagi.


"Maksud lo apa sih?" tanya Bima.


"Hanya Syahil yang keluar, sedangkan abangnya, si Aifa'al tetap berada di dalam kendali kita, Bro." jawab Dimas.


"Kenapa hanya Syahil? Sejak dulu, kedua anak itu tidak pernah terpisahkan. Kenapa kini mereka berbeda pendapat?" ujar Bima.


Bima mengeryit, heran tidak mengerti dengan pembicaraan sang kaki tangan. Begitu pula dengan Zivana yang sejak tadi hanya diam, menyimak pembicaraan kedua pria itu. Sementara Dimas, seringai liciknya pun kembali terbit, mengukir di wajahnya.


"Ternyata musuh bebuyutan lo di sekolah sekaligus target tabrak lari tadi siang yang lo buat itu, adalah adiknya Aifa'al dan Syahil!!!"


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇


Ingat 'kan Zivana mirip sama siapa? Jadi, tahan-tahan emosi ya wkwk karena gadis kecil itu mewarisi darah sang mama 🤭🤣


Oke, terima kasih banyak karena kalian masih setia mengikuti kisah Wulan 🖤 semangat dan jaga kesehatan ya 😘😘

__ADS_1


__ADS_2