
...πππ...
"Al akan ikut! Mas Ziel akan tinggal!"
Pak Aidi dan Bu Aini saling pandang, sepersekian detik sebelum anggukan Bu Aini muncul. Mengiyakan usul sang cucu yang kekeuh ingin ikut sampai membagi tugas seperti ini, menunjukan rasa cemas yang teramat besar saat di perjalanan nanti.
"Kalau Mas Al ikut, Syahal juga ikut!"
"Tidak perlu Syahal!"
"Kenapa Mas?"
"Kalau kamu ikut, otomatis Syahil juga!"
"Ya sudah pasti! Kami 'kan kembar!"
"Kalian di rumah saja dengan Mas Ziel!"
"Ck!!! Tidak adil!"
"Ini sudah adil! Mas menjaga si kembar Uncle, dan Mas Ziel menjaga si kembar Paklik! Adil, bukan? Sangat adil malah!!!"
"Ck!!! Teori dari itu Mas?"
"Anggap saja teori dadakan!"
Suara kekehan renyah keluar begitu saja dari mulut Wulan yang melihat keduanya, berdebat ingin ikut dengannya ke makam, menggelitik perut namun menghangatkan. Sementara Pak Aidi, Bu Aini, Dhana, Aiziel, Syahil dan Damar hanya menggeleng geli.
"Sudah, sudah! Kalau kalian berdebat terus seperti ini, kapan kita berangkat? Oma juga harus menyiapkan acara nanti malam loh, Sayang!!!" seru Bu Aini, melihat Aifa'al dan Syahal yang memasang wajah cemberut.
"Ya sudah, Ayah dan Ibu hati-hati ya!!! Dhana titip Damar-Wulan." ujar Dhana.
"Pasti, Dhana! Kalau begitu Ayah dan Ibu pergi sebentar ya." jawab Pak Aidi.
Dhana mengangguk, membiarkan sang ayah membawa putra putrinya pergi ke makam bersama sang ibu dan Aifa'al.
"Jangan lama-lama ya!" sahut Syahal.
"Cerewet kamu!" sungut Aifa'al.
Syahal mencibir geram, menatap jengah sang mas tengah yang berjalan keluar dengan Pak Aidi, Bu Aini, Damar-Wulan.
"Sudahlah, Syahal! Masih ada Mas dan Syahil di rumah." ujar Aiziel, menghibur sang adik yang tengah bad mood.
"Mas Syahal sejak tadi memang seperti itu, Mas! Selera humor nya sedang naik turun!" timpal Syahil, menggoda sang kembaran.
"Diam kamu, Syahil!" sungut Syahal.
"Sudah, sudah! Kok kalian malah jadi ribut? Dari pada kesal sendiri, lebih baik kalian ke atas saja. Mumpung Damar sedang pergi!" timpal Dhana, merangkul bahu ketiganya.
"Ide Uncle mantap juga tuh!"ujar Syahal.
"Ck! Giliran ingat kamar Damar saja, baru hilang tuh bad mood!" sungut Syahil, geli.
Syahal mendengus samar, memutar tumit bergegas menuju kamar Damar, membuat Aiziel dan Syahil menggeleng lalu menyusul Syahal yang mungkin sudah duduk manis di dalamnya. Sementara Dhana yang melihat tingkah ketiga keponakannya itu hanya bisa tersenyum getir seraya menggeleng gemas.
Dhana pun beranjak, menutup pintu yang masih terbuka lebar, sekaligus memastikan kedua orang tuanya bersama anak-anak sudah pergi. Benar saja, mobil sang ayah baru melesat cepat meninggalkan gerbang, membuatnya tersenyum lalu menutup pintu.
"Ayo kita ikuti mobil itu!"
"Baik Bos!"
***
"Bagaimana Bram?"
Di teras depan sebuah villa terpencil, jauh dari kebisingan suara kendaraan di pusat kota, terlihat Gibran keluar dari dalam villa yang berukuran cukup besar dan mewah, menghampiri Bram yang tengah berkutat dengan ponselnya sejak beberapa jam ini.
Bram berbalik cepat, sedikit menundukkan kepala sebagai tanda hormat pada Gibran.
"Sudah beres Tuan!"
"Bagus! Teror akan segera dimulai!"
Bram mengangguk, membenarkan Gibran dengan rencana barunya untuk menyerang.
"Bagaimana dengan Nona, Tuan?"
"Zivana aman! Walaupun dia masih sering bertanya sampai kapan kita akan tinggal di sini. Saya akan terus meyakinkan Zivana!!!"
__ADS_1
"Saya cemas jika Nona akan mengetahui rencana anda yang sebenarnya, Tuan!!!"
"Itu tidak akan pernah terjadi! Dia adalah putri saya dan saya sangat mengenalnya!"
Bram bergeming. Seminggu sudah ia dan Gibran berada di Villa terpencil ini dengan Zivana, bersembunyi dari kepungan Polisi, menyusun rencana yang lebih jahat untuk membalas dendam. Dalam diamnya Bram, otaknya seakan berputar, teringat sang nona muda yang terus-terusan bertanya, namun sebisa mungkin ia mengelak. Tidak berani menjawab karena takut salah jawab yang dapat menimbulkan kecurigaannya.
"Bagaimana dengan berita itu?"
"Tidak ada yang tau, Tuan! Karena saya sudah menyuruh orang lain yang dijamin pekerjaannya sangat mulus dan bersih!!!"
"Lalu bagaimana dengan anak itu?"
"Semua beres Tuan! Teman kepercayaan anak itu sudah memberikan laporan pada saya! Dan rekaman suara Nona malam itu sudah sampai di telinganya, Tuan!"
"Lalu bagaimana reaksi anak itu?"
"Reaksinya seperti ini Tuan!"
Tangan yang masih memegang ponsel dibawa untuk bergerak, menekan tombol play pada pesan suara yang sempat masuk ke dalam salah satu aplikasi di ponselnya. Memperdengarkan suara serak seseorang yang berhasil ia tipu, memanfaatkan situasi untuk melancarkan rencana licik dan jahat. Memancing salah satu sudut bibir Gibran terangkat ke atas, menciptakan senyuman manis namun memiliki maksud yang jahat.
"Bagus! Zivana pasti menyukainya!"
***
"Bagaimana kondisi Mala, Dokter?"
Dokter Ali menghela nafas panjang, mengumpulkan tenaga untuk menjelaskan kondisi Mala setelah beberapa jam berada di kamar bersama suster asisten, menerapi Mala sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Sementara Dhana diminta untuk menunggu di luar agar terapi sang istri berjalan lancar.
"Kondisi Bu Mala sudah lebih baik dari hari pertama terapi waktu itu, Pak Dhana. Hanya saja, kita masih membutuhkan cukup waktu untuk melakukan terapi-terapi lainnya agar emosi istri anda bisa kembali normal seperti sedia kala." tutur Dokter Ali, menjelaskan.
"Emosi istri saya memang masih labil, Dok. Tadi dia sempat mengamuk saat melihat putrinya. Apakah itu reaksi dari terapi atau ada gejala lain yang menimpa psikis Mala?" ujar Dhana, teringat akan amukan sang istri.
"Pak Dhana tenang saja. Itu hanya salah satu reaksi dari terapi yang pertama dan emosi Bu Mala masih dalam tahap di bawah normal. Jadi kita harus sabar, Pak Dhana." jawab Dokter Ali, menenangkan hati Dhana.
"Apa itu artinya, istri saya akan lama sembuhnya Dok?" tanya Dhana, gamang.
"Semoga saja tidak, Pak Dhana. Tapi saran saya, lebih baik untuk saat ini Bu Mala tidak dipertemukan dulu dengan putrinya karena hal itu bisa mengguncang psikis beliau yang belum stabil." tutur Dokter Ali.
"Bagaimana saya bisa melakukan itu Dok? Wulan pasti menolak saran Dokter. Dia tidak akan bisa jika tidak melihat maminya dalam sehari. Kalau dia tau, pasti dia akan sedih dengan saran Dokter ini." ujar Dhana, tidak terbayang jika hal itu benar-benar terjadi.
"Seperti ini saja Pak Dhana, berikan Wulan selang waktu untuk bertemu dengan beliau. Sekali dua hari atau sekali tiga hari, bahkan sekali seminggu kalau bisa. Dalam hal ini saya bukan bermaksud untuk menjauhkan Wulan dari Bu Mala, tapi dengan cara ini kita bisa melihat bagaimana reaksi Bu Mala. Apa dia akan merindukan putrinya atau bahkan masih acuh dan tidak peduli. Nah, dari cara itu kita dapat melihat kondisi Bu Mala yang sebenarnya, apakah kondisinya baik atau bahkan semakin memburuk pada putrinya."
"Bukan, Pak Dhana!!! Tapi cara ini sering saya gunakan pada pasien yang kasusnya sama dengan Bu Mala, dan alhamdulillah banyak yang berhasil. Karena sebetulnya, tidak ada seorang ibu yang bisa jauh-jauh dari anaknya sendiri." tutur Dokter Ali.
Dhana terdiam, membenarkan perkataan Dokter Ali yang memang belum pernah ia lakukan sejak mengetahui penyakit Mala.
"Baiklah Dokter! Saya akan mencobanya nanti! Semoga saja Wulan mau mengerti." ujar Dhana, memutuskan saran Dokter Ali.
"Baik, Pak Dhana. Kalau begitu saya izin kembali ke rumah sakit dulu." jawab Dokter Ali, berpamitan setelah asistennya keluar.
"Terima kasih banyak Dokter." ucap Dhana.
Dokter Ali mengangguk, menepuk bahu Dhana pelan sebelum melangkah pergi. Dibalas senyuman oleh Dhana yang masih terdiam di tempat, membiarkan sang dokter pergi bersama asistennya. Setelah Dokter Ali pergi, Dhana pun memilih masuk ke dalam kamar, ingin melihat kondisi sang istri yang ternyata sedang duduk bersandar di tempat tidurnya.
"Mas Dhana..."
"Kamu baik-baik saja 'kan Sayang?"
"Perasaanku sudah lebih tenang, Mas."
"Syukurlah! Aku ikut senang, Sayang."
"Anak kita di mana Mas?"
"Damar? Dia sedang keluar dengan Ayah."
"Bukan Damar, Mas."
"Lalu? Syahal-Syahil? Mereka di kamar."
"Bukan mereka, Mas."
"Lalu anak kita yang mana? Ziel dan Al?"
"Bukan mereka tapi Wulan, Mas!"
Dhana terhenyak, menatap lekat netra bening sang istri yang disertai senyuman, menanyakan keberadaan sang putri untuk pertama kali, menyebut nama sang putri untuk yang pertama kali pula. Membuat Dhana tidak percaya, apakah ia sedang bermimpi saat ini? Tentu saja tidak, kan?
"Sayang... kamu menanyakan Wulan? Telingaku ini tidak salah dengar, bukan?" tanya Dhana, di antara senang dan ragu.
__ADS_1
"Memang kenapa Mas? Wulan itu putriku! Apakah aku tidak boleh bertanya di mana keberadaan putriku sekarang?" ujar Mala dengan tenang dan tanpa ada amarah.
Dhana benar-benar ternganga, masih tidak percaya dengan sikap sang istri saat ini. Ditatapnya lekat mata Mala, mencari tau apakah di sana ada sesuatu yang ganjal. Namun yang terlihat di sana hanya binar, berteman senyum manisnya yang berbeda.
"Sayang... ini benar-benar kamu 'kan? Aku tidak sedang bermimpi 'kan?" tanya Dhana, menangkup wajah sang istri yang heran.
"Kalau ini bukan aku, lalu siapa Mas? Aku benar-benar Mala, istri kamu!!!" ujar Mala.
"Tapi... tapi kamu tidak biasanya bersikap seperti ini, Sayang. Bahkan kamu tidak pernah menanyakan Wulan sebelumnya!!! Karena itu aku terkejut, sekaligus senang." tutur Dhana, menangkup wajah sang istri.
"Itulah, Mas. Aku pun juga merasa aneh sekali dengan diriku. Akhir-akhir ini, aku selalu kepikiran Wulan. Aku merasa ingin memeluknya tapi di setiap aku melihatnya, hati dan pikiranku terus saja bertengkar." jawab Mala, wajahnya berubah sendu.
"Kamu masih membenci putri kita? Apa kamu tidak ingat dengan semua sikapmu yang buruk pada Wulan, Sayang?" tanya Dhana, memastikan betul kondisi Mala.
"Aku ingat semuanya, Mas. Tapi di setiap aku mengingat hal itu, hatiku rasanya sakit. Aku sudah mengatakannya pada Dokter Ali, dan katanya pikiranku masih terbelenggu pada kejadian di masa kelam hidupku. Dan saat ini aku ingin sekali memeluknya, Mas!!! Aku ingin bertemu dengan putriku!!!" tutur Mala, menggenggam erat tangan Dhana.
Dhana tersenyum getir, masih tidak percaya dengan semua ini. Baru saja ia dan Dokter Ali membahas perihal kondisi Mala sebelum dokter paruh baya itu pergi, namun reaksi Mala sudah seperti ini, terlihat baik bahkan sangat baik setelah 2x melakukan terapi. Apakah Mala benar-benar sudah sembuh?
"Sayang... aku benar-benar masih tidak percaya dengan semua ini. Apakah kamu benar-benar ingin memeluk tubuh mungil putri kita yang cantik? Apakah aku tidak salah dengar?" cercah Dhana, tercekat.
"Aku sungguh-sungguh, Mas!!! Aku ingin memeluk putra dan putriku! Anak kembar kita, Damar dan Wulan!" jawab Mala yang sangat antusias.
Dhana tersenyum getir, berteman bulir bening yang lolos begitu saja di matanya, menatap manik sang istri yang berbinar. Terharu sekaligus takjub, tidak menyangka jika perubahan sikap Mala akan secepat ini.
"Wulan pasti senang mendengar ini!"
***
"Wulan sayang... ayo kita pulang, Nak!"
Wulan menggeleng, masih betah duduk termangu di tepi pusara sang paman dan sang onty. Matanya pun sembab karena menangis, menatap nanar tulisan nama mendiang sang paman dan sang onty. Sementara Pak Aidi, Bu Aini, Aifa'al dan Damar sudah berkali-kali membujuknya pulang, namun Wulan hanya menggeleng.
"Sayang... ini sudah mau gelap, kita juga harus menyiapkan acara yasinan paman kamu nanti malam. Kalau kamu seperti ini, Paman dan Onty pasti akan sedih Nak!!!" tutur Bu Aini, berusaha membujuk Wulan.
Wulan tetap menggeleng, air matanya masih mengalir deras, membelah pipi putihnya yang cubby. Membuat Pak Aidi, Aifa'al dan Damar tidak tega memaksanya.
"Adek... kita pulang sekarang ya. Kasihan Papi sama Mami di rumah, pasti mereka cemas menunggu kita semua." ujar Damar.
"Mami hanya mencemaskan Mas Damar, bukan Adek!!! Adek mau di sini saja! Adek ingin bersama Paman dan Onty di sini!!!" jawab Wulan, tangannya lincah memberi isyarat kalau ia menolak untuk pulang.
"Jangan seperti itu, Sayang. Kalau Paman dan Onty Dhina mendengar, mereka pasti sedih di sana. Wulan mau mereka sedih?" timpal Bu Aini, sabar menghadapi cucunya.
Lagi-lagi Wulan menggeleng, tangan yang semula mengusap papan nisan mendiang sang paman kini terangkat, memeluk erat sang oma yang berjongkok di sampingnya. Membuat Bu Aini terkesiap, namun dengan sayang tangannya pun mengelus punggung sang cucu yang bergetar, naik turun ketika tangisnya mulai pecah lagi.
Untuk apa Wulan pulang Paman? Untuk apa lagi Wulan pulang Onty? Jika sampai detik ini Mami belum bisa menerima Wulan yang cacat. Kenapa? Kenapa kalian hanya pergi berdua saja? Kenapa kalian tidak membawa Wulan ikut pergi bersama kalian? Paman dan Onty bilang kalau kalian sangat sayang pada Wulan, tapi kenapa kalian pergi? Wulan ingin dipeluk Mami. Wulan ingin Mami memeluk Wulan walau sebentar. Gumam Wulan dalam hati yang menjerit.
Tangis Wulan seakan tiada habisnya, air matanya semakin deras jika teringat sang mami. Membuat Pak Aidi, Bu Aini, Aifa'al dan Damar yang melihat ikut meneteskan bulir kristal, tidak tega mendengar racauan sang gadis kecil yang ditakdirkan menderita.
"Sudah ya Sayang!!! Kita harus pulang!!! Kalau kita lama-lama di sini dan menangis seperti ini, kasihan Paman dan Onty. Ya?" tutur Bu Aini, mengusap wajah sang cucu.
Wulan menstabilkan nafas yang tergugu akibat banyak menangis, menyeka mata yang sudah banjir lalu mengangguk samar, membuat semuanya lega karena akhirnya sang gadis kecil mau pulang setelah terisak.
Pak Aidi, Bu Aini, Aifa'al, Damar dan Wulan pun beranjak pergi. Meninggalkan pusara kedua orang kesayangan dengan tenang, masuk ke dalam mobil dan beranjak pulang.
Greng!
Ciittttt!
Laju mobil yang semula lancar dibuat terhenti seketika. Pak Aidi yang melihat sebuah motor menyelip dari sisi kanan pun terkejut hingga kakinya spontan menginjak pedal rem, membuat semuanya terkesiap.
"Turun!!! Atau mobil ini akan hancur!!!"
.
.
.
.
.
Happy Reading All πππ
Mau Mala cepat berubah atau lama?
Kalau dina maunya lama sih, tapi kasian sama Wulan ya udah menderita bangetπ₯²
Tetap pantau Wulan dengan berbagai macam masalahnya ya π€ terima kasih
__ADS_1