Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 135 ~ Terluka


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Anda datang di waktu yang tepat, Pak!"


Aifa'al mendengus marah, menatap tajam ke arah sosok yang telah berani menembak kakinya seperti ini, berusaha menampik rasa sakit yang semakin menjalar hingga seluruh tubuh, membuat Aifa'al lemas. Namun naluri yang menuntutnya harus tetap kuat sampai titik darah penghabisan sekali pun.


"Syahal, Syahil... cepat bawa Damar dan Adek pergi dari sini!" seru Aifa'al, suaranya terdengar berat karena menahan rasa sakit.


"Tidak, Mas. Damar dan Adek tidak akan mungkin meninggalkan Mas di sini dalam keadaan seperti ini! Tidak akan, Mas!" ujar Damar, membantah Aifa'al untuk kali ini.


Disambut cepat oleh anggukan Wulan, membenarkan perkataan Damar yang sangat ingin ia katakan pada sang mas. Air matanya terus mengalir, tak tega melihat Aifa'al yang telah berjuang mati-matian demi dirinya harus berakhir keji seperti ini.


"Syahal, Syahil... cepat bawa Damar dan Adek pergi! Cepat...!" pungkas Aifa'al.


"Tapi Mas, kami tidak..."


"Cepat lakukan! Ini perintah!" seru Aifa'al.


Syahal dan Syahil saling melempar pandang, gelengan samar terlihat jelas dari kepala Syahil yang tidak ingin melakukan itu. Namun Syahal menariknya cepat, menarik Damar dan Wulan yang masih terjongkok, lalu diikuti oleh Rainar yang terlihat gelisah.


"Mau ke mana kalian?" tukas sosok itu.


"Jangan ganggu mereka!" seru Aifa'al.


"Kamu itu sudah terluka, jadi diam saja!"


"Brengsek kau, Bram...!" seru Aifa'al.


Bram, ternyata dia sosok yang datang itu, langsung meluncurkan peluru, menembak dengan kejam kaki Aifa'al. Membuat Dimas kembali bersemangat, kekuatannya seakan kembali ter-charge dengan kehadiran Bram sebagai perlengkap rombongan nya kali ini.


"Dimas...! Tunggu apa lagi! Cepat ringkus mereka semua! Biar saya yang membawa gadis kecil itu ke tempatnya Tuan Gibran!" seru Bram, menampilkan seringai tipisnya.


"Jadi tugas saya dan teman-teman hanya meringkus mereka saja Pak?" tanya Dimas, mendadak ragu dengan penuturan Bram.


"Iya! Setelah itu kamu boleh pergi! Gadis kecil itu, biar menjadi urusan saya! Tuan Gibran yang menyuruh saya untuk datang ke sini dan membantu kamu!" tukas Bram, menatap tajam Wulan yang gusar.


"Pekerjaan yang menyenangkan!" sahut Dimas yang terlonjak senang dan bahagia.


"Jangan sentuh mereka!" tandas Aifa'al.


"Berisik lo, Al! Lo sudah kalah, jadi si gadis bisu itu akan menjadi milik gue!" ujar Dimas.


Aifa'al menggeram, matanya semakin merah, menatap nanar adik-adiknya yang berada di dalam ringkusan anak geng Tiger dipimpin oleh Dimas, membuat darahnya semakin mendidih hebat hendak meledak. Namun apalah daya tangan tak sampai, kakinya yang terluka membuatnya tidak mampu untuk melawan, bahkan berdiri.


"Lepas! Lepas!" seru Syahil.


"Syahil... sebenarnya gue masih punya dendam pribadi sama lo. Lo masih ingat bukan, ketika lo melempar ponsel gue sampai hancur!? Mungkin adik bisu lo itu bisa menjadi penggantinya! Hahahahah!"


"Dasar brengsek! Biadab lo, Dim!" seru Syahil, memberontak ingin dilepaskan.


"Hahahaha...! Gue puas banget melihat penderitaan di wajah-wajah pengkhianat seperti lo dan Aifa'al saat ini!" ujar Dimas.


"Lo yang pengkhianat!" pungkas Syahil.


"Oh ya? Hahahahahaha...!" ujar Dimas.


Syahil mendengus marah, ingin sekali memukul wajah dengan seringai licik itu sekarang juga. Namun tak bisa, tangannya terlalu kuat diringkus oleh salah satu anak buah dari lelaki bertubuh besar nan hitam.


"Adek...!" pekik Damar.


"Wulan...!" pekik Rainar.


"Lepaskan adik gue!" seru Syahal.


"Woi...! Lepaskan dia!" seru Syahil.


"Aass...!" pekik Wulan, lirih.


Bram menarik paksa tangan Wulan, tak menghiraukan tangis gadis kecil malang itu yang tergugu, ditarik seraya menatap lekat wajah semua masnya yang terkurung oleh ringkusan anak bawang Dimas.


"Bram...!" tandas Aifa'al, menggeram.


Bram tersenyum miring, mendorong kasar tubuh Wulan masuk ke dalam mobilnya itu hingga memancing darah Aifa'al yang kian mendidih sejak melihatnya datang. Setelah tawanan berhasil ditangkap, Bram pun bergegas. Pergi meninggalkan tempat itu.


"Dunia ini selalu berputar, Aifa'al! Lo lihat sendiri bukan, betapa beruntungnya gue hari ini. Lo memang kuat, tapi lo tetap saja kalah! Bye... selamat menikmati darah itu!"


Dimas tersenyum riang, selayaknya anak kecil yang berhasil menang dalam bermain, mengalahkan musuh dengan sangat baik, setelah menang ia pun pergi, diikuti anak bawangnya beserta ketiga lelaki besar itu. Membiarkan Aifa'al yang bersimbah darah, duduk bersimpuh seraya memegang kaki yang menjadi sasaran jahat seorang Bram.


"Mas...!"


Syahal-Syahil, Damar dan Rainar berlari. Menghampiri Aifa'al yang berusaha untuk bangkit, tak ingin duduk berlama-lama di sana sedangkan nyawa adiknya terancam.


"Kita harus mengejar Bram!" seru Aifa'al.


"Tapi Mas terluka!" timpal Syahil, parau.

__ADS_1


"Mati pun Mas rela demi Adek!" seru Aifa'al.


"Tapi Mas bisa kehabisan darah!" timpal Syahal, cemas melihat kondisi sang mas.


"Kalau kalian tidak mau ikut, tidak masalah! Mas bisa pergi sendiri dan mengejar Bram!" pungkas Aifa'al, suaranya mendadak berat.


Damar yang mendengar perkataan tulus Aifa'al pun tak kuasa menahan bulir mata yang sudah menumpuk sejak tadi. Sejak melihat sang adik kembar dibawa secara paksa oleh orang lain di depan matanya, sebagai mas kembar Damar tidak mampu melakukan apapun, membuatnya tergugu.


Aifa'al menghentikan langkah gontainya, memutar tumit saat terdengar isak tangis Damar yang syok karena peristiwa itu, lalu mendekati Damar yang semakin tergugu.


"Mas akan menemukan Adek! Jangan menangis lagi! Anak laki-laki itu harus kuat dalam menghadapi tantangan apapun itu!"


Tangis Damar pecah, membuat Aifa'al tak tega hingga membawanya masuk ke dalam pelukannya. Berusaha menenangkan hati Damar yang terguncang, bukan cengeng melainkan karena takut akan terjadi sesuatu yang buruk pada sang adik di luar sana jika tak ada dirinya. Membuatnya teringat sang mami yang baru saja menerima kehadiran Wulan dengan penuh suka cita. Lalu apa yang harus ia katakan pada kedua orang tuanya nanti?


"Ayo kita kejar Bram...! Sebelum mobilnya semakin jauh dan kita bisa kehilangan jejak!" seru Aifa'al, melepas Damar dari pelukan.


"Ayo Mas...!" jawab semua yang akhirnya patuh juga, kendati sempat membantah.


Aifa'al melangkah perlahan, dibantu oleh Syahil menuju motor Syahal. Sementara motornya di bawa oleh Rainar yang bisa dijamin hati dan pikirannya sedang tidak sekacau Damar. Membuat Damar harus duduk termangu di belakang tubuh Syahil.


Ya Allah... tolong lindungi Adek. Gumam Damar dalam hati yang mendadak sesak.


***


"Ahh, akhirnya tugas besar selesai juga!"


Dimas menghempas tubuh lelahnya di atas sofa Basecamp barunya, mengusap wajah yang sudah babak belur karena ulah Aifa'al, membuatnya jengkel, mengutuki diri sendiri yang tidak mampu menandingi kemampuan bela diri Aifa'al.


"Apa tugas kita selanjutnya Dim?" tanya salah satu geng motor Tiger, ikut duduk.


"Belum ada perintah dari Bos besar!" ujar Dimas yang bersandar tanpa melirik anak bawangnya itu.


"Lalu?" tanya salah satunya lagi, heran.


"Ya tunggu saja sampai ada kabar!" ujar Dimas, membuka mata lalu menatap anak bawangnya itu dengan tajam.


"Gue mau pulang, Dim! Capek gue!" ujar salah satunya lagi.


"Lemah lo! Ya sudah, sana pulang!" seru Dimas, menatap jengah anak bawangnya.


Ketiga anak geng Tiger itu saling pandang, bergidik bahu sesaat sebelum mereka pergi juga pada akhirnya. Sementara Dimas tak acuh, lebih memilih mengistirahatkan otak dan kepalanya yang sedang kusut saat ini.


"Bos muda...! kami bertiga bagaimana?" tanya lelaki bertubuh besar dan hitam itu.


"Tapi jatah kami mana Bos?" tanya lelaki besar itu lagi kendati wajahnya terlihat takut.


Dimas menghela berat, mata yang semula memicing terbuka lebar, menatap tajam ketiga preman berandalan itu satu per satu seraya menegakkan tubuh yang bersandar.


"Lo minta jatah?" ujar Dimas.


"Iya Bos..." jawab lelaki itu.


Bugh!


"Makan tuh jatah!" sungut Dimas.


Pukulan keras dari Dimas melayang tepat mengenai perut lelaki besar itu, membuat lelaki itu meringis, memegangi perut yang menjadi sasaran amukan sang bos muda.


"Kalian itu tidak berguna! Percuma saja kalian ikut denganku untuk merebut gadis kecil bisu saja kalian tidak bisa! Badan saja yang besar, tapi otak dan nyali, melebihi kecilnya amoeba!!! Menyebalkan sekali!!!"


Ketiga lelaki preman itu hanya tertunduk, cukup takut juga dengan karishma Dimas yang sangat menyeramkan di saat marah, membuat mereka tak berani menentang.


"Bukankah gaji kalian sudah dikasih oleh Pak Gibran? Kenapa minta lagi sama gue?"


"Anggap saja bonus, Bos."


"Bonus bakal cair kalau kerjaan kalian beres! Kerjaan tidak beres kok malah minta bonus!"


"Tapi Bos..."


"Mau bonus lagi!?"


Ketiga lelaki itu bergidik ngeri, mendapati ancaman bogeman Dimas yang sudah siap melayang lagi, memberi bonus yang sesuai dengan permintaannya. Sementara Dimas menggeram, matanya melotot kilat bahkan matanya bisa meloncat keluar kapan saja.


"Pergi sana! Gue mau istirahat!"


"Kami permisi dulu, Bos."


"Ya!!!"


Akhirnya ketika lelaki bertubuh besar nan malang itu diusir secara halus oleh sang bos muda. Sebenarnya mereka bisa melawan, bahkan menghabisi Dimas dengan mudah,. mengingat tubuh mereka yang tak kalah banding dengan Dimas yang kerempeng. Namun niat itu mereka urung, teringat titah sang bos besar yang membuat mereka tak bisa menghabisi Dimas begitu saja sesuka hati ketika hati memberontak tidak terima.


Sementara Dimas kembali bersandar diri, memicingkan matanya yang sangat lelah, hingga beberapa anak geng motor barunya itu mendekatinya yang tengah bersantai ria.


"Gue juga pulang ya, Dim!"

__ADS_1


"Gue juga, Dim!"


"Gue juga mau pulang, Dim!"


"Gue banyak tugas kuliah, Dim!"


Dimas menggeram, mata yang baru saja terpicing nyaman hendak terlelap, harus diganggu lagi oleh anggota geng motornya.


"Oke...! Kalian boleh pulang...! Tapi kalau sewaktu-waktu Pak Gibran memberi tugas lagi, kalian harus datang tepat waktu!" ujar Dimas, menunjuk satu-satu anggotanya itu.


"Oke Dim! Asal cuannya pun lancar!" seru salah satu di antara anggotanya.


"Masalah cuan aman! Asalkan kerja kalian beres!" jawab Dimas seraya bersandar lagi.


"Oke...! Ayo guys, kita pergi!!!" seru salah satu anggota geng Tiger yang mewakili.


Dimas menghela panjang, tersenyum tipis membiarkan semua anggotanya pergi, meninggalkan dirinya dalam kesendirian yang hakiki, membuatnya tenang sesaat.


Drrrrttt!


Sorry ya, Dim!!! Orang sepertimu itu tidak pantas untuk tenang. Dimas menggeram marah, mendapati lagi lagi dan lagi orang yang mengganggu ketenangan hidupnya. Dengan gerak cepat Dimas menegakkan tubuhnya yang tengah bersandar, meraih ponsel yang bergetar minta diangkat.


"Siapa lagi sih? Tidak bisa melihat orang senang sedikit saja!"


Seraya meracau tangannya tetap bekerja, meraih ponsel yang terus mendesak untuk segera dijawab, hingga akhirnya tertangkap nama sang bos yang menghubungi dirinya.


"Hallo Pak Gibran..."


"Di mana kamu? Kenapa lama sekali!"


"Pak Gibran harus sabar. Tawanan Bapak sedang berada di perjalanan ke sana."


"Jadi berhasil?"


"Sangat berhasil, Pak. Gadis bisu yang Bapak minta itu sedang dalam perjalanan."


"Berarti kamu sedang di jalan?"


"Bukan saya, Pak. Tapi Pak Bram!!! Pak Bram yang membawa si bisu itu ke sana sekarang, menuju ke tempat rahasia anda."


"Apa? Bram?"


"Iya, Pak. Bukankah Pak Gibran yang menyuruh Pak Bram datang ke sini untuk membantu rencana kita, menculik si bisu?"


Tidak ada jawaban dari Gibran yang diam ketika mendengar penjelasan Dimas. Sementara Dimas mengeryit heran, mendapati sikap sang bos besar yang tak seperti biasa, membuatnya tidak tenang.


"Pak Gibran... anda baik-baik saja?"


"Saya tidak pernah menyuruh Bram untuk membantu kamu, Dimas! Kamu yakin kalau itu Bram?" sergas Gibran, marah di sana.


"M-maksud Pak Gibran?" tanya Dimas.


"Sejak kemarin malam, bahkan saya tidak bisa menghubungi Bram. Lalu bagaimana caranya saya menyuruh dia untuk mencari kamu dan membantu rencana kita? Bahkan Bram saja tidak tau dengan rencana ini!!!" pungkas Gibran, semakin marah di sana.


"Jadi maksud Pak Gibran, Pak Bram..."


"Bram...! Sepertinya anak itu sedang bermain-main dengan saya sekarang ini!" potong Gibran yang menggeram di sana.


Dimas tertegun, mengerti dengan maksud Gibran tentang Bram. Apa mungkin Bram mengkhianati Gibran? Jika benar, kenapa Bram menembak Aifa'al? Apa Bram juga mempunyai rencana lain untuk membantu rencana Gibran tanpa sepengatahuannya? Entahlah, bahkan keberadaan Bram yang tengah membawa Wulan pergi saat ini saja belum ditemukan ke mana arah mobilnya.


"Cepat kamu cari Bram! Sebelum semua dugaan yang ada di dalam pikiran saya sekarang ini benar-benar terjadi! Cepat...!" tandas Gibran di balik telepon dan marah.


"B-baik, Pak...!" jawab Dimas, gugup.


Gibran yang semula mendesak langsung memutus sambungan telepon dari Dimas, membuat pemuda itu kelimpungan, takut dengan amarah Gibran yang mengancam. Menuntutnya untuk segera beranjak lagi, menepis rasa lelah barang sejenak untuk saat ini, memilih untuk menjalani perintah dari pada harus terkena amukan sang bos.


Dimas beranjak, meraih jaketnya yang terlempar sembarangan entah ke mana. Setelah menemukannya, pemuda yang tengah dirundung kepanikan itu bergegas, berlari menuju motornya yang terparkir.


"Mau ke mana lo, Dim?"


Badan yang sudah duduk di atas motor, siap meluncur untuk menjalani perintah seketika terdiam. Mendengar suara yang sangat familiar di telinga, membuat Dimas terpekur sesaat namun lama. Menuntut kepalanya untuk segera berputar, melihat pemilik suara yang sangat ia kenal. Hingga mata terbelalak sempurna, melihat sosok yang berdiri tegap dengan seringai tajam khasnya, bersama teman-teman lamanya yang berdiri di belakang sosok familiar itu.


"B-bima..."


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇

__ADS_1


__ADS_2