
...☘️☘️☘️...
"Sebaiknya kalian semua pulang dan istirahat! Biar Ayah dan Ibu yang akan menjaga Mala dan Wulan di rumah sakit!"
Waktu terus berputar, menukar siang menjadi malam, goresan tinta jingga pun semakin samar, bertukar dengan goresan tinta hitam yang menjelma jadi malam, bertaburan bintang, berteman rembulan.
Tubuh yang sebenarnya lelah, bahkan sangat lelah. Tetap dibawa untuk tegap, duduk di antara tempat tidur kedua wanita yang dicintainya, menunggu masa di mana keduanya akan tersadar dari tidurnya. Memancing iba yang melihat, tidak tega karena sudah dua malam Dhana tidak tidur dengan benar.
"Tidak, Yah. Biar Dhana saja yang menjaga Mala dan Wulan di sini. Ayah, Ibu, Mas Sadha, Kak Vanny, Imam dan anak-anak saja yang pulang. Kalian pasti juga lelah!" jawab Dhana, melihat semua keluarganya.
"Tapi kamu juga lelah, Dhana!!! Ibu takut kamu berakhir sakit juga kalau kamu tidak istirahat!" timpal Bu Aini, membujuk Dhana.
"Dhana bisa istirahat di sini, Ibu. Justru Dhana khawatir jika Ayah dan Ibu tetap berada di sini." jawab Dhana, mengelak.
"Ayah dan Ibu benar, Dhana!!! Kalau tidak, biar Mas yang menjaga Mala dan Wulan!!! Kamu pulang dan istirahat. Lalu besoknya kamu bisa kembali lagi ke sini." ujar Sadha.
"Dhana sudah terlalu banyak merepotkan Mas Sadha dan Kak Vanny. Sekarang ini, biarkan Dhana yang menjaga Wulan dan Mala karena mereka tanggung jawab Dhana, Mas." jawab Dhana, menolak lagi.
Sadha menghela nafas berat, menoleh ke arah Vanny dan Imam sesaat yang terlihat mengangguk, setuju dengan saran Dhana yang memang tidak bisa dibantah jika sudah seperti ini. Bagaimana pun cara membujuk pria dua anak itu, jika hatinya tetap kekeuh maka akan percuma saja membujuk nya.
"Ya sudah... kalau itu yang kamu inginkan. Tapi kalau ada sesuatu terjadi, maka cepat hubungi kami semua di rumah!!! Jangan bertindak bodoh sendirian!!! Ilmu silatmu tidak sehebat ilmu silat Ayah, Mas Ammar dan juga Imam!" seloroh Sadha, memberi santapan rohani pada sang adik kembar.
"Memang ilmu silat Mas Sadha hebat?" celetuk Dhana, menggoda balik masnya.
"Karena itu Mas tidak masuk ke dalam list!" sungut Sadha, memalingkan wajah jengah.
Tawa Dhana pecah, disusul gelak tawa semuanya yang gemas melihat ekspresi Sadha. Namun yang ditertawakan saat ini malah justru mengulas senyum, lega jika semua kecemasan yang masih menyelimuti hati, kini hilang walaupun hanya sesaat saja.
Beberapa saat yang lalu, setelah mendengar semua penjelasan Dhana tentang kondisi Wulan, terutama Mala. Membuat Sadha terpekur, mengingat sikap buruk yang Mala lakukan pada putrinya, kini telah terungkap. Membenarkan dugaan hati yang didukung oleh kedatangan sang adik waktu itu, membuatnya mengerti sekarang, kalau Mala sebenarnya tidak jahat. Akibat peristiwa traumatis yang dialaminya selama ini, membuatnya terbelenggu, terjebak di dalam masa lalu yang jauh dari kata baik.
"Jadi sekarang ini kita mau tertawa terus sampai Mala dan Wulan sadar, atau ingin pulang?" celetuk Sadha, menghentikan gelak tawa yang semakin terdengar receh.
"Hahahaha... sabar, Pa! Ternyata selera humor Papa turun dari Syahal. Hahaha..." jawab Syahal yang semakin tergelak geli.
"Ck!!! Yang jadi ayah di sini kamu atau Papa? Dasar anak tidak punya akhlak!" sungut Sadha, menatap jengah sang putra.
"Sifat putramu yang tidak ada akhlak itu turunan dari kamu, Mas!!!" timpal Vanny.
"Sudah, sudah!!! Sadha dan Vanny kalau sudah bertemu dengan Syahal pasti tawa kalian tidak akan pernah selesai!!!" sungut Bu Aini, melerai candaan yang menggelitik.
"Hanya Mas Syahal, Oma?" timpal Syahil.
"Kamu tidak perlu mencontoh mereka!!! Mereka sangat bar-bar!!!" jawab Bu Aini.
Gelak tawa seakan tiada habis, membuat perut terasa keram jika terus dibawa untuk tertawa lebih lama lagi.
"Ya sudah... ayo kita pulang! Kasihan Mala dan Wulan kalau harus mendengar suara kalian yang tertawa terus!!!" timpal Pak Aidi.
Semuanya pun mengangguk patuh, beranjak dari tempat duduk masing-masing. Mereka berjalan keluar dari kamar rawat, disusul juga oleh Dhana yang mengantar.
"Paman Imam ikut dengan mobil Ziel saja. Biar mobil yang Paman bawa tadi tetap di sini untuk Uncle." ujar Aiziel yang berjalan.
"Pamanmu biar ikut dengan Opa!!! Kamu dan Al langsung pulang ke rumah saja ya. Kasihan adikmu juga butuh istirahat." ujar Pak Aidi, menimpal cepat saran sang cucu.
"Bagaimana Paman?" tanya Aiziel.
Imam bergeming, mendengar perkataan sang ayah mertua membuatnya teringat pesan singkat yang sempat dikirim oleh Ammar di saat tengah berkumpul. Pesan singkat namun bermakna perintah, sukses membuat Imam dilema, cemas jika semua keluarganya akan mengetahui penyakitnya.
__ADS_1
"Hmmm..... sepertinya Imam ikut dengan Ziel saja, Yah. Sudah tiga hari Imam ada di Jakarta tapi Imam belum bertemu Kak Ibel. Tidak enak rasanya jika Imam tidak datang mengunjungi Kak Ibel. Boleh 'kan Yah?" jawab Imam, berusaha setenang mungkin.
"Tentu saja boleh, Nak. Ibel pasti senang melihat kamu datang ke rumahnya. Tapi ingat!!! Harus tetap hati-hati!" ujar Pak Aidi.
Imam mengangguk, mengulas senyum penuh kelegaan yang membuatnya sesak, takut jika sang ayah mertua akan curiga. Namun semuanya selesai dengan mudah.
"Opa... Damar tidak ikut pulang ya. Damar ingin menemani Mami dan Adek bersama Papi di sini." ujar Damar yang angkat suara setelah diam saja sejak tadi.
"Ya sudah... Opa tidak bisa melarangmu! Kalau begitu kami semua pamit pulang ya. Kalau ada apa-apa cepat beritahu kami!!!" jawab Pak Aidi, mengusap kepala Damar, menoleh ke arah Dhana.
"Iya, Yah..." jawab Dhana, tersenyum.
"Beritahu kami semua kalau Mala dan Wulan sudah sadar, Dhana!" seru Imam, mengulurkan tangan seraya memberikan kunci mobil.
"Pasti Mam..." jawab Dhana.
"Kami pulang dulu ya, Dhana." ujar Sadha.
"Hati-hati Mas!" seru Dhana.
Pak Aidi, Bu Aini, Sadha, Vanny, Imam dan anak-anak pun pergi, meninggalkan Dhana dan Damar yang menatap mereka di depan pintu kamar rawat Mala dan Wulan. Setelah keluarganya hilang dari pandangan, Dhana pun mengajak Damar kembali masuk untuk istirahat, menjaga sembari bersantai sesaat.
***
"Mas... mau tidak, menemani Al ke Apartment dulu untuk mengambil baju?"
Kaki yang ingin dibawa masuk ke dalam mobil terhenti, mendapatkan permintaan sang adik yang membuatnya agak kaget. Mengambil baju di Apartment? Apakah Aifa'al akan tinggal di rumah lagi setelah sekian lama tidak? Hal itu justru membuat Imam dan Aiziel saling melempar pandang, dan membiarkan mobil sang opa dan paklik berangkat pulang lebih dulu.
"Kamu mau tinggal di rumah?" tanya Aiziel.
"Justru Mas senang sekali kalau kamu pulang, Al. Apalagi Mommy dan Daddy. Mereka pasti sangat senang kalau putra bungsunya akan tinggal di rumah lagi." jawab Aiziel, menoleh ke arah sang paman.
"Ziel benar, Nak. Kalau begitu, ayo kita berangkat ke Apartment dulu. Setelah itu baru kita pulang. Sebelum malam semakin larut. Ayo!!!" timpal Imam yang tersenyum.
Aiziel mengangguk patuh, masuk ke dalam mobil dan disusul oleh sang adik yang ikut mengangguk. Duduk di belakang sendirian, sedangkan Aiziel duduk menemani Imam yang tengah mengemudi. Melaju kencang menyusuri jalan, menerobos angin malam yang kian berhembus, menemani mereka menempuh perjalanan menuju Apartment.
***
"Kenapa sampai sekarang Adek belum bangun juga ya Pi?"
Dhana menghela nafas berat, menggiring mata yang semula fokus pada sang istri, teralih ke arah sang putra yang duduk di samping tempat tidur Wulan. Bertupang dagu memandangi wajah sang adik yang tak kunjung sadar, menciptakan guratan cemas yang datang mendera tiba-tiba.
"Kalau Mami sudah jelas kondisinya, tapi Adek. Kenapa Adek tidak bangun juga Pi?" tutur Damar yang terus meracau cemas.
"Kamu harus sabar, Damar. Saat ini adik kamu sedang istirahat, sama seperti Mami." jawab Dhana, berusaha menenangkannya.
"Tapi dosis obat Adek dan Mami beda, Pi! Dokter sengaja memberi Mami obat tidur agar Mami bisa istirahat yang cukup dan tidak histeris lagi. Tapi kalau Adek... Adek baik-baik saja 'kan Pi?" cercah Damar.
Dhana menghela nafas berat lagi, beranjak dari duduknya lalu mendekati sang putra.
"Wulan baik-baik saja, Nak. Kamu harus tenang dan sabar. Menunggu seseorang yang sangat kita sayang di saat kondisinya seperti ini memang dibutuhkan kesabaran. Ada fase di mana mereka akan terbangun dan ada fase di mana mereka harus tidur. Kamu jangan khawatir!!! Wulan dan Mami pasti akan bangun." tutur Dhana, berusaha meyakinkan sang putra.
Damar menghela pasrah, memilih untuk meletakkan kepalanya yang terasa lelah di samping tangan sang adik, membawanya ke alam mimpi dalam waktu yang singkat. Membuat seutas senyum Dhana terlukis, disertai tangan yang terangkat, mengelus kepala sang putra putri secara bergantian, memberikan kecupan hangat selamat tidur pada kepala keduanya yang terlelap lelah.
"Selamat tidur raja dan ratu nya Papi."
***
__ADS_1
Ting Nong...
Suara bel sebuah unit kamar Apartment tiba-tiba terdengar, membuat suasana di malam yang semakin larut terasa sangat mencekam. Cahaya lampu yang temaram, membuatnya waspada, melihat ke sana ke mari, memastikan kalau situasi masih aman terkendali sesuai dengan rencana.
Ceklek!
Pintu salah satu unit kamar Apartment pun terbuka, membuatnya bergegas masuk ke dalam sebelum ada orang yang melihat.
"Duduklah dulu Tuan!"
"Apakah kamu yang melakukannya?"
"Bukan saya! Tapi orang suruhan saya!"
Sang tuan bergegas duduk, mengatur deru nafas yang memburu, menstabilkan detak jantung yang bertalu cepat, mengalahkan cepatnya putaran waktu yang terus berjalan. Membuka sigap baju seragam yang melekat di tubuh dengan plat nomor dua puluh lima, melemparnya sembarang arah karena tidak sudi lagi jika harus memakai pakaian itu.
"Bagus Bram!!! Berkat kegigihan dan kerja kerasmu, saya bisa keluar dari sell tahanan terkutuk itu. Terima kasih Bram! Saya tidak akan melupakan semua jasamu ini!!! Saya akan memberikan bonus atas prestasimu!"
Bram mengangguk pelan, menundukan kepala tanda hormat pada sang majikan. Siapa lagi kalau bukan Gibran Athaariq. Ternyata Gibran berhasil melarikan diri dan entah bagaimana caranya. Kini Gibran sudah berada di dalam kamar Apartment yang ada di lantai 10, di mana hanya orang kelas atas saja yang sanggup membayar dan menghuni kamar mewah nan elite itu.
"Sekarang apa yang harus saya lakukan Tuan?" tanya Bram yang masih berdiri.
"Kita tunggu sampai anak itu datang!!! Apakah Kinan dan Zivana sudah pergi ke Singapore?" jawab Gibran, menoleh cepat.
Bram terdiam, menghela nafas panjang sebelum menceritakan semuanya yang telah terjadi pada anak dan istri majikan besarnya itu. Alih-alih marah atau kesal, Gibran justru menyeringai, puas setelah mendengar bahwa ternyata Zivana tidak kecewa, bahkan mendukung dan telah membantu Bram, membuat Kinan pergi ke Singapore dengan rencananya yang tidak kalah licik.
"Mari kita tunggu anak itu! Setelah itu, kita harus ke rumah dan menjemput Zivana!!! Saya yakin Kinan pasti akan kembali lagi. Dan oh iya, apa kamu sudah melakukan rencana saya? Melakukan plan C apabila plan A dan B tidak berhasil dijalankan?"
"Sudah Tuan!!! Saya sudah melakukan semuanya dengan baik sesuai rencana. Saya sudah menyadap ponsel Nona Zivana, dan dugaan Tuan benar. Kalau anak itu sedang berusaha menghubungi Nona Zivana untuk meminta pertolongan. Saya juga sudah menyiapkan tempat untuk Tuan dan Nona Zivana bersembunyi sementara. Tempat itu tidak bisa dilacak oleh Polisi dan saya pastikan kalau tempat itu akan aman."
Gibran menyeringai puas, tidak menyangka kalau sang asisten bisa sangat diandalkan seperti ini, bekerja dengan keras demi uang. Melakukan rencana demi rencana tanpa harus diperintahkan, hanya membutuhkan satu rencana maka akan muncul rencana lain dengan sendirinya.
"Tapi Tuan tenang saja. Anak itu tidak akan pernah bisa menghubungi Nona Zivana lagi. Saya sudah membuat ponsel Nona Zivana seakan-akan sedang sibuk dan sulit untuk dihubungi. Sesuai permintaan Tuan Gibran."
Gibran menyeringai puas, beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah jendela. Menatap hamparan langit malam yang semakin memekat, hitam dan dipenuhi awan tebal seakan menandakan bahwa hujan besar akan segera turun sebentar lagi.
"Kita harus menyelesaikan masalah yang terlanjur besar ini terlebih dahulu. Setelah itu, baru kita menyusun rencana baru dan pastinya rencana yang lebih efektif, lebih cepat dan tidak membuang banyak waktu. Sekali tikam, semua musuh mati terkapar!"
Bram yang berdiri di belakang Gibran pun mengangguk patuh, tunduk pada semua perintah, tidak memperdulikan orang lain. Hanya peduli pada diri sendiri yang saat ini tengah berjuang untuk mendapatkan uang, membiayai hidup orang yang tersayang.
"Beristirahatlah terlebih dahulu!!! Biar saya yang menunggu kedatangan anak itu!"
Bram mengangguk patuh lagi, menunduk sesaat tanda hormat sebelum pamit undur diri untuk beristirahat sesuai dengan titah. Berjalan menuju kamar yang ada di dekat dapur, bergegas masuk dan merebahkan tubuh yang sangat lelah. Merogoh sesuatu yang ada di dalam saku celananya, hingga tampak selembar kertas berbentuk sebuah foto sosok gadis yang tengah tersenyum.
"Kakak minta maaf, Dek. Kakak terpaksa harus melakukan semua ini, demi kamu!!! Agar Kakak bisa membiayai pengobatan kamu dan kamu bisa sembuh seperti dulu lagi. Kakak salah! Kakak minta maaf, Dek!"
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
__ADS_1