Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 64 ~ Dituduh


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Sejak kapan Bima punya Apartment di sini? Untuk apa dia datang ke sini tengah malam? Dari kamar siapa anak itu?"


Aifa'al menelisik, menatap heran punggung Bima yang terus berjalan keluar tanpa sadar jika dirinya tengah diperhatikan oleh Aifa'al. Adik bungsu Aiziel pun beranjak cepat, keluar dari Apartment, mengikuti Bima yang sangat mencurigakan menurut pikirannya. Tindakan Aifa'al sia-sia. Gerakan Bima yang memancing kecurigaan lebih cepat dari biasanya, melaju di keheningan malam dengan motornya dengan kecepatan tinggi, membuat Aifa'al gemas.


"Ck!!!Sial!!! Kenapa perasaanku jadi tidak enak seperti ini sih? Siapa yang anak itu kunjungi di tengah malam? Gerak-geriknya mencurigakan!"


Aifa'al berdecak, mengacak rambutnya kasar, membuatnya melupakan sesuatu yang seharusnya ia kerjakan saat ini.


"Astaga! Aku harus ke rumah Oma!"


Aifa'al terlonjak, berlari cepat ke tempat parkir, menaiki motornya yang sudah hidup dan siap untuk melaju dengan kecepatan angin. Perkara kedatangan Bima tengah malam ke Apartment, membuatnya lupa akan titah sang paklik yang saat ini tengah menunggu kedatangannya.


***


"Al tidak mungkin datang, Mas. Ini sudah jam tiga dini hari! Kita masuk dulu saja ya, Mas!!!"


Mesin waktu yang terus berputar, berhenti di angka tiga dini hari, suasana hening semakin kentara. Malam berselimut dingin, membuat rasa cemas berselimut takut makin menjalar. Tanda-tanda kepulangan Damar dan Wulan masih belum terlihat, seakan menghilang dan terbawa oleh jejak waktu yang kian berputar.


"Al pasti datang, Mam. Mas yakin!"


Di teras rumah, Sadha berpangku tangan, menahan rasa dingin angin malam yang semakin menusuk. Berjalan ke sana ke mari, melihat ke arah gerbang, menantikan sosok yang ia nantikan sejak tadi namun belum juga menampakan batang hidungnya. Membuat Imam yang ikut menemani Sadha berdiri di depan teras, cemas. Cemas akan kesehatan sang kakak ipar di usianya yang tidak muda lagi. Terkena angin malam sangat berbahaya!


"Tenang lah, Mas! Paling tidak Mas duduk dulu! Jangan berjalan terus seperti ini! Atau kita masuk ke dalam ya! Angin malam tidak baik untuk Mas Sadha!" ujar Imam yang berusaha membujuk, menenangkan sang kakak ipar.


"Mas tidak bisa tenang, Mam. Bagaimana Mas bisa tenang di saat keberadaan Damar dan Wulan sampai detik ini belum kita ketahui? Di mana mereka sekarang, kita tidak tau! Dengan siapa mereka, apakah mereka baik-baik saja! Cemas, Mam! Mas sangat cemas!" ujar Sadha, masih berjalan walaupun kakinya sangat lelah.


Imam menghela nafas berat, menoleh ke arah dalam di mana semua anggota keluarga masih duduk di sofa ruang tamu, menunggu keajaiban yang akan membawa Damar dan Wulan pulang. Hati pria sholeh itu kian teriris, tatkala matanya tertuju pada sang sahabat yang duduk terdiam dengan pandangan matanya nan menerawang. Sama halnya dengan kedua mertuanya. Duduk bersandar saling berpangku, memberi kekuatan satu sama lain, menguatkan hati bahwa kedua cucunya akan baik-baik saja. Sementara Vanny, duduk merangkul Mala yang sudah terlelap di bahunya, lelah karena menangis, membuatnya larut begitu saja dalam buaian mimpi.


Lain yang tua, lain pula dengan yang muda. Aiziel, Syahal dan Syahil terlihat sibuk dengan ponsel. Berusaha mencari keberadaan kedua adiknya dengan cara masing-masing, bertanya dan meminta bantuan pada teman-temannya untuk memberikan informasi jika melihat sang adik berkeliaran di sekitar mereka. Tidak peduli dengan waktu, yang penting kedua adiknya itu bisa sesegera mungkin ditemukan, membuat Imam menghela nafas berat sekali lagi.


Sayang... tolong bantu aku dan keluarga kita. Jika kamu mengetahui keberadaan Damar dan Wulan, maka berikan petunjuk dan jalan keluar itu. Ya Allah... Engkau Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha melindungi! Lindungi lah kedua keponakan kembarku di mana pun mereka berada. Jika Engkau berkenan, kirim sosok malaikat yang baik hati untuk menjaga dan melindungi mereka sampai kami berhasil menemukan mereka. Aku mohon, Ya Allah... Gumam Imam dalam hati.


Imam menghela nafas berat, meremas dada yang terasa sesak. Tidak bisa dipungkiri, jika dirinya pun sama dengan Sadha. Namun apa yang bisa dilakukan jika petunjuk keberadaan Damar dan Wulan belum sepenuhnya terlihat.


Brum!


Suara mesin motor yang datang, beriringan dengan sorot lampu dari motor itu membuat Sadha dan Imam mendongak. Ternyata yang ditunggu-tunggu sejak tadi sudah datang walaupun sangat terlambat dan melewati batas waktu yang telah ditentukan.


Aifa'al yang baru turun dari motor menoleh, menemukan keberadaan sang paklik dengan sang paman, membuatnya sedikit terkesiap tatkala senyum manis Imam terpancar indah untuknya. Namun berbeda dengan Sadha yang menatapnya dengan tatapan dingin dan tajam.


"Paman Imam..." sapa Aifa'al yang berjalan tanpa melirik ke arah sang paklik sedikit pun.


"Assalamualaikum, Al." jawab Imam ramah.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam..." ucap Aifa'al kikuk, sangat mengerti dengan arah sapaan sang paman.


Imam mengulas senyum. Cerita yang telah didengarnya dari kedua mertua tercinta kini membuatnya paham dengan sikap Aifa'al yang memang sangat berbeda. Dingin, cuek bahkan bisa bersikap kasar di saat tertentu. Imam menggiring matanya ke arah Sadha, yang sejak tadi hanya diam, menatap Aifa'al dengan tajam.


"Paman berdiri di sini tidak sendiri loh, Nak!" ujar Imam seraya meraih bahu Aifa'al, melirik Sadha yang memalingkan wajah ke arah lain.


Aifa'al menoleh kikuk, rasa canggung terlihat jelas di wajahnya yang datar. Tamparan sang paklik minggu lalu masih terngiang di telinga, menciptakan kecanggungan yang kentara.


"Assalamualaikum, Paklik." sapa Aifa'al.


"Wa'alaikumsalam... ayo masuk! Paklik sudah tidak sabar ingin mendengarkan semua penjelasan dari mulut kamu secara langsung, Al!!!" ujar Sadha masih dingin.


Sadha beranjak, masuk ke dalam rumah lebih dulu, meninggalkan Aifa'al bersama Imam. Aifa'al tertunduk, berdecak gemas dengan sikap sang paklik yang dingin.


"Ayo, Nak!" ujar Imam seraya merangkul bahu Aifa'al yang termangu.


"Iya, Paman." jawab Aifa'al kikuk.


Dengan seutas senyum, Imam merangkul bahu sang keponakan. Berjalan masuk ke dalam rumah yang semua orang menatap ke arahnya, bahkan Mala yang semula terlelap di bahu Vanny kini ikut terbangun.


Aifa'al menghela nafas berat, melihat setiap orang yang menatapnya tajam penuh selidik hingga membuatnya risih tak tenang.


"Di mana kamu sembunyikan Damar dan Adek?" tandas Aiziel, entah sejak kapan pria yang masuk usia dewasa itu beranjak.


Aifa'al terkesiap, mengeryit seraya menatap heran sang mas sulung yang mencekamnya dengan kuat, menatapnya tajam selayaknya seperti singa yang hendak menerkam.


"Maksud Mas apa sih? Al baru datang tapi Mas sudah menuduh Al yang tidak-tidak!!! Menyembunyikan Damar dan Wulan? Apa maksud Mas? Al tidak mengerti!" ujar Aifa'al yang berusaha melepaskan diri dari Aiziel.


"Jangan mengelak lagi kamu, Al! Mas tau kalau kamu tidak menyukai Adek selama ini dan kamu sangat membencinya. Tapi bukan seperti ini caranya! Kalau Daddy tau dengan masalah ini, Mas tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Daddy!!! Jawab Mas, Aifa'al!!! Di mana kamu sembunyikan Damar dan Adek?" tandas Aiziel, emosi.


Aifa'al semakin mengeryit heran, tidak mengerti sedikit pun ke mana pembicaraan Aiziel yang tiba-tiba mencekam bajunya dengan penuh emosi seperti ini, membuat Aifa'al menoleh, menelisik semua keluarga yang masih menatapnya selidik.


"Apa sih Mas!? Al benar-benar tidak mengerti dengan pembicaraan Mas Ziel!!! Siapa yang menyembunyikan Damar dan Wulan? Bahkan Al belum bertemu dengan mereka dalam waktu seminggu ini! Bagaimana mungkin Al menyembunyikan mereka? Memang ini ada apa sih? Kenapa Paklik memaksa Al datang ke sini? Ada apa sebenarnya? Kenapa Mas Ziel menuduh Al seperti ini?" tukas Aifa'al yang ikut geram, mendorong tubuh kekar sang mas sulung.


Kekesalan Aifa'al tidak bisa dibendung lagi, membuatnya geram, tidak terima dengan tuduhan sang mas sulung yang bertubi-tubi menghantam dirinya yang tidak tau menau dengan permasalahan kali ini.


"Sebaiknya kamu duduk dulu, Al!" ujar Pak Aidi yang menyuruh sang cucu untuk duduk.


Deru nafas Aifa'al kian menggebu, melihat satu per satu wajah keluarganya termasuk sang uncle yang hanya diam menerawang seraya duduk termangu, menatap sebuah bingkai foto kedua anaknya yang belum ia ketahui keberadaannya. Aifa'al pun duduk, menuruti perintah sang opa, disusul Imam yang memilih duduk di sisi sahabatnya itu.


"Kamu lihat video ini, Al!" ujar Sadha yang memberikan laptop Dhana kepada Aifa'al.


"Video apa ini Paklik?" tanya Aifa'al heran.


"Lihat saja!!! Setelah itu, baru kamu boleh mengajukan pertanyaan!!!" jawab Sadha.

__ADS_1


Aifa'al mendengus kasar, menekan tombol on yang memerintahkan pada laptop untuk memutar kembali video rekaman CCTV itu. Sejurus kemudian, Sadha menghentikan video rekaman itu dengan cepatnya, tepat pada bagian di mana motor Aifa'al terlihat sangat jelas di sana, membuat Aifa'al heran.


"Kenapa Paklik menghentikan video ini? Al belum selesai melihatnya sampai habis!!!" tukas Aifa'al yang masih berusaha sabar.


"Lihat motor yang ada di dalam video ini! Apakah kamu mengenal motor itu?" tanya Sadha masih dengan tatapan tajamnya.


Aifa'al mendengus kesal lagi, sikap sang paklik sungguh membuat darahnya semakin mendidih, ingin sekali marah di saat ini juga namun itu tidak lah mungkin karena malam yang semakin larut dan hening. Keluarga sang opa akan menanggung malu karena ulahnya, jika ia mengikuti emosi jiwa yang sejak tadi semakin bergejolak ingin keluar. Lalu Aifa'al menggiring matanya, menatap layar laptop dengan intens untuk memberi jawaban atas pertanyaan sang paklik.


"Kenapa motor Al ada di dalam video ini?" tanya Aifa'al yang tercengang hebat saat matanya menangkap sesuatu di video itu.


Aiziel berdecak kesal, mengulas senyum sinis ketika mendengar pertanyaan konyol dari mulut sang adik, membuatnya marah hingga menarik paksa kerah baju sang adik.


"Kamu masih bisa bertanya kenapa motor kamu ada di dalam video itu Al? Sungguh mengagumkan sekali permainanmu ini, Dik! Mas tidak menyangka kalau kamu bertindak sejauh ini pada Adek, bahkan Damar yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kebencian kamu! Sekarang kamu tidak bisa mengelak lagi, Al! Di mana Damar dan Adek! Kalau kamu masih diam, Mas sendiri yang akan membawa kamu ke kantor polisi saat ini juga!!!" tandas Aiziel yang tersulut emosi.


Sungguh, raut kebingungan di wajah Aifa'al tampak semakin jelas. Masih tidak mengerti dengan maksud Aiziel yang masih menuduh dirinya. Melihat itu, Pak Aidi beranjak, tidak ingin kedua cucu tampannya itu berkelahi.


"Ziel... tenang dulu, Nak! Kita bisa bicara secara baik-baik dengan adikmu! Jangan emosi seperti ini, Ziel! Kamu tidak kasihan pada Oma! Lepaskan adikmu, Ziel! Opa mohon jangan memakai kekerasan pada adikmu!" timpal Pak Aidi yang berdiri cepat, berusaha melerai sang cucu.


Perlahan tangan Aiziel yang mencekam kerah baju Aifa'al pun tertarik lemas, melepaskan sang adik yang masih diam, tidak mengerti dengan rentetan tuduhan yang dikatakan oleh sang mas. Pak Aidi membawa Aiziel duduk, berganti dengan Imam yang beranjak mendekati Aifa'al.


"Al... tujuan Paklik Sadha memanggilmu datang ke rumah Opa dan Oma adalah untuk menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan hilangnya Damar dan Wulan, Nak!" tutur Imam yang merangkul bahu Aifa'al.


"Apa? Damar dan Wulan hilang?" tanya Aifa'al yang terkejut saat mendengar itu.


"Iya, Nak. Damar dan Wulan hilang!!!" ujar Imam yang meyakinkan, menoleh ke Dhana.


"Lalu apa hubungannya dengan Al? Dan kenapa Al yang dituduh atas hilangnya mereka? Al benar-benar tidak mengetahui masalah ini, Paman." jawab Aifa'al.


Imam menghela nafas panjang, menoleh lagi ke arah sang ayah mertua dan Sadha. Sudut matanya juga menangkap raut wajah Aiziel yang semakin memerah, menahan amarah yang semakin membuncah hebat, membuat pria itu beranjak lagi dan...


Plak!


Satu tamparan keras mendarat dari Aiziel, meluncur di pipi sang adik, membuat sang adik terhuyung hampir jatuh. Untung Imam cepat menangkap tubuhnya, kalau tidak Aifa'al pasti akan terjatuh sangking kuatnya tamparan Aiziel. Membuat semua mata terbelalak lalu beranjak dari tempat duduk.


"Jika sampai terjadi sesuatu pada Damar dan Adek, maka Mas sendiri yang akan membuat kamu membayarnya, Aifa'al!!!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All 😇😇😇


Aiziel lagi esmosi banget yak 🤣 semoga saja Damar dan Wulan baik-baik saja 😫


__ADS_2