Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Season 2 {Episode 4 ~ Hari yang Baru}


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Tok...


Tok...


Tok...


"Hoam..."


Mata yang masih berat terbuka itu pun akhirnya dipaksa jua untuk dibuka, membuat sang empunya mata menggeliat, meregang otot-otot tubuh yang sudah lama dibawa beristirahat sejak tadi malam. Wulan pun membawa tubuhnya duduk, mengucek matanya yang masih ingin terpejam lebih lama, namun suara ketukan pintu menuntunnya bangun, bersiap untuk memulai hari yang cerah dengan semangat yang bergairah.


"Sayang... kamu sudah bangun Nak?"


Wulan yang masih duduk menghela, mengulas senyum manis ketika telinga menangkap suara lembut sang mami yang membangunkan, memastikan kalau dirinya tidak akan terlambat masuk ke kampus di hari pertamanya hari ini. Membawa gadis bisu cantik itu beranjak, menjangkau daun pintu untuk memberitahu sang mami kalau dirinya sudah terbangun dari dunia mimpi.


Ceklek...


Semburat senyum manis di wajah sang mami bagaikan sarapan pagi yang sangat mengenyangkan hati bagi seorang Wulan. Hingga senyum gadis bisu cantik itu pun juga ikut terpancar, kendati muka bantal masih senantiasa melekat di wajah cantik berserinya itu.


"Akhirnya pintunya terbuka juga. Mami kira kamu ketiduran, Sayang." ujar Mala, meraih wajah sang putri dan mengelusnya sayang.


"Adek sudah bangun sejak tadi kok, Mi. Ini Adek baru mau masuk ke kamar mandi." jawab Wulan dengan bahasa isyaratnya, sembari meraih tangan sang mami.


"Ya sudah, kalau begitu cepat mandinya ya. Karena ada seseorang yang sudah menunggu kamu sejak tadi malam. Saat ini dia sudah berada di meja makan bersama yang lain. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kamu, Sayang." ujar Mala, mengelus sayang rambut sang putri.


"Siapa Mi?" tanya Wulan, heran dengan seseorang yang dimaksud sang mami.


"Lebih baik kamu lihat saja nanti sendiri. Mami mau ke bawah dulu. Kasihan Oma dan Bi Iyah menyiapkan sarapan sendiri. Mami tunggu di bawah ya, Sayang." ujar Mala, seraya mencubit gemas kedua pipi sang putri yang nampak penasaran.


Seketika bibir gadis bisu cantik itu mengerucut, membuat Mala yang melihat ekspresi sang putri sesaat pun terkekeh gemas, sebelum akhirnya kaki Mala menyentuh anak tangga dan turun ke lantai bawah. Sementara itu rasa penasaran pun menyelimuti pikiran Wulan yang masih berdiri di ambang pintu kamar, bertanya dalam hati siapakah gerangan seseorang yang dimaksud oleh sang mami. Membuatnya berpikir panjang hingga melamun beberapa saat. Namun sepersekian detik kemudian Wulan pun tersadar, menuntun kakinya beranjak masuk ke dalam kamar lalu bergegas langsung menuju ke kamar mandi.


***


"Loh, kok Anty turun sendirian! Adek di mana Anty?"


Mala yang baru turun dari tangga dan mendapatkan protes dari keponakannya pun tergelak samar, mendapati ekspresi tidak sabar keponakan tengahnya yang baru kembali dari negeri orang, untuk segera bertemu langsuang dengan sang adik, walaupun sudah sempat bertemu sebentar tadi malam namun sang adik sudah terbuai di dalam mimpi indahnya.


Sementara Aifa'al yang melihat kekehan sang anty pun mengeryit, disambut pula dengan kekehan yang lainnya, melihat betapa tak sabarnya Aifa'al sekarang ini.


"Yang sabar dong, Mas. Sebentar lagi princess kesayangan kita semua itu pasti akan turun dari singgasananya." celetuk Syahal, menggoda sang mas tengah.


"Ck! Kamu itu ya, Syahal. Tidak pernah berubah walaupun sudah Mas tinggalkan beberapa tahun. Masih saja sama! Suka sekali mengganggu kesenangan masnya. Menyebalkan sekali." seloroh Aifa'al, kesal.


"Hmmm, Mas Al seperti tidak tau saja dengan selera humor Mas Syahal yang naik turun seperti roler coster." timpal Syahil, membalas godaan Syahal pada Aifa'al.


"Ck! Jadi sekarang kamu lebih membela Mas Al dibandingkan kembaran sendiri?" seloroh Syahal, memasang wajah jengah.


"Yaa, tergantung situasi sih Mas. Kalau Mas Syahal tidak jelas seperti ini, lebih baik Syahil membela yang benar dong." jawab Syahil, kian meledek kembarannya.


Gelak tawa pun mengiringi sarapan pagi penuh semangat hari ini. Selera humor Syahal yang tidak pernah hilang apalagi berubah itu memang selalu hadir di tangah keheningan keluarga besar Pak Aidi, kendati selera humor itu sendiri yang akan membuat sang empunya tersudut dan ditertawakan, namun seperti itulah sosok seorang Syahal. Humoris, penyayang dan memiliki hati yang lembut, melebihi lembutnya hati karakter kartun hello kitty.


"Ini yang selalu Opa dan Oma rindukan kalau kalian semua berkumpul. Makan pagi bersama dan bercanda bersama. Rasanya rumah ini tidak terasa sunyi lagi karena kalian semua sudah semakin dewasa dan sudah mulai sibuk dengan kesibukan kalian masing-masing." timpal Pak Aidi, seraya menatap semua cucu-cucunya yang hadir.


"Opa tenang saja. Suasana seperti ini akan selalu kami jaga sampai kapan pun." jawab Syahal, mengacungkan kedua jempolnya.


"Iya, Opa. Selagi Syahal masih berada di antara keluarga kita ini, rumah besar Opa ini tidak akan pernah sunyi. Benar 'kan Dik?" timpal Aifa'al, gantian menggoda sang adik yang sibuk dengan sarapannya.


Syahal berdecak gemas, menatap jengah sang mas tengah yang kini menggodanya. Memancing semua orang yang duduk di meja makan tertawa kembali, sementara yang ditertawakan kian mendengus sebal sembari menikmati sarapan paginya.


"Aas Aa...!"


Gelak tawa yang bergema itu terhenti seketika, tatkala telinga semuanya mendengar seruan lembut seseorang yang baru saja selesai bersiap lalu menuruni anak tangga. Ingin ikut bergabung dengan yang lain sesuai dengan perintah sang mami beberapa saat yang lalu. Membuat semuanya menoleh, tak terkecuali Aifa'al yang sejak tadi sudah tidak sabar bertemu dengan sang princess yang dirindukannya.


"Adek...!"


Senyum Wulan mengembang, menoleh sesaat ke arah Damar yang ikut turun bersamanya dari lantai atas, masih berdiri di sampingnya. Senyum Damar pun ikut merekah, mengelus bahu sang adik seraya menganggukkan kepala walaupun pelan namun masih bisa terlihat oleh Wulan. Seakan menyuruhnya untuk segera beranjak, mendekati sang mas tengah yang sudah menunggu sejak tadi malam.


"Mas Al sudah menunggu Adek sejak tadi malam. Ayo sana! Jangan biarkan lelaki arogan itu menunggu Adek lebih lama lagi."

__ADS_1


Senyum Wulan semakin mengembang, tangannya menyikut pinggang sang mas kembar yang tengah menggodanya. Sementara di sisi meja makan, Aifa'al yang teramat merindukan sang adik pun sudah beranjak dari tempat duduknya, menatap sang adik dari jauh dengan matanya yang mulai berkaca-kaca entah sejak kapan.


Drap!


Grep!


Wulan yang mendapat dukungan sang kembaran pun melangkah lebar, berlari mendekati sang mas tengah yang sudah merentangkan tangannya lebar. Bersiap menangkap tubuh mungil sang adik yang ia rindukan sejak lama. Membuat semua yang berada di sana ikut berdiri, tak ingin melewatkan moment pertemuan di antara kakak adik yang sudah terpisah jarak dua tahun lamanya.


"Aas..."


"Adek..."


Pecah! Pecah sudah keheningan sesaat yang menyelimuti keluarga besar Pak Aidi. Kerinduan yang mendalam terhadap sang adik, begitu pun Wulan terhadap Aifa'al, mengundang air mata penuh haru bagi siapa saja yang menyaksikan adegan ini. Tangis Wulan pecah di dalam dekapan hangat Aifa'al, begitu pula dengan yang mendekap. Air mata Aifa'al luruh begitu saja tanpa permisi, tangan kekarnya tak henti-hentinya mengelus punggung serta pucuk kepala sang adik tercinta, sesekali kecupan sayang pun didaratkan Aifa'al di kening dan kepala sang adik. Membuat suasana haru kian menyelimuti semuanya.


"Mas kangen sekali sama Adek." ucap Aifa'al yang sesekali menangkup sayang wajah cantik sang adik.


"Adek juga kangen sekali sama Mas." jawab Wulan, memakai bahasa isyaratnya lalu memeluk kembali tubuh kekar Aifa'al.


Dekapan erat seakan tak ingin lepas dari sang adik pun semakin dapat dirasakan oleh Damar saat melihat keduanya yang tengah melepas rindu. Membuat Damar kembali teringat dengan perdebatannya dengan sang mas tadi malam. Menuntun kaki Damar untuk melangkah, mendekati keduanya yang tak ingin dipisahkan lagi.


Sementara Aifa'al dan Wulan pun akhirnya melerai pelukan setelah merasa rindu yang terpatri dalam hati masing-masing sudah terbayarkan walaupun belum sepenuhnya.


"Bagaimana? Rindunya sudah lunas 'kan Mas? Kalau Mas dan Adek terus-terusan berpelukan seperti tadi, bisa-bisa Damar dan Adek akan telat masuk kampus di hari pertama semester pertama mereka." celetuk Syahal yang kembali memecah suasana.


"Ck! Kamu itu bisa tidak, sekali saja tidak mengganggu kesenangan Mas." seloroh Aifa'al, menatap jengah sang adik.


"Tapi yang adikmu bilang itu benar loh, Sayang. Adik-adikmu bisa terlambat ke kampus kalau terus berpelukan. Rindunya disimpan dulu ya. Masih ada waktu nanti malam dan seterusnya. Kalian tidak akan terpisah lagi kok." timpal Bu Aini, mengelus kepala sang cucu perempuan kesayangan.


Wulan pun menggangguk, membenarkan perkataan sang oma seraya melirik jam yang melingkar ditangan kanannya dan dibalas senyuman tipis oleh Damar, memberikan anggukan samar yang hanya dapat dilihat sekilas oleh Wulan, membuat gadis bisu cantik itu paham akan maksud yang diberikan oleh sang mas kembar.


"Lagi pula kita 'kan satu kampus, Mas. Mas masih bisa bertemu dengan Adek nanti disela-sela jam kampus kosong." timpal Damar, membuka suara akhirnya.


Aifa'al menghela, menoleh ke arah Syahal dan Syahil yang tampak menganggukan kepala, seakan meminta Aifa'al untuk menuruti jika sudah Damar yang angkat bicara. Bukan takut namun lebih memilih untuk mengalah, daripada memancing perdebatan di akhir nantinya.


"Oke! Tapi Mas punya satu permintaan. Mas ingin berangkat kuliah bersama Adek, dengan motor Mas. Kamu dengan Syahal dan Syahil, bagaimana?" ujar Aifa'al, tanpa ragu sedikit pun menantang mata Damar.


Syahal dan Syahil saling pandang tercengang, begitu pula dengan Pak Aidi, Bu Aini, Dhana dan Mala yang terkejut dengan permintaan Aifa'al yang bisa saja dapat memancing emosional Damar pagi ini, membuat suasana kikuk seketika. Sementara Damar tampak tak kalah terkejut, mendengar permintaan sang mas yang secara tidak langsung sudah menghancurkan rencananya bersama sang adik tadi malam.


"Sudahlah, Sayang. Biarkan adikmu berangkat kuliah bersama dengan masmu. Toh, nantinya kamu juga akan satu kelas dengan adikmu 'kan? Jadi biarkan saja ya." timpal Mala, memotong jawaban putranya yang bisa berakhir dengan perdebatan jika tidak segera ditengahi.


"Mas akan menjaga Adek. Kamu jangan khawatir." ujar Aifa'al, menoleh ke arah Wulan yang mengulas senyum senang.


Damar menghela kasar, berusaha mengontrol hati yang sepertinya tengah menahan marah. Tak ingin jauh dari sang adik namun Aifa'al bersikeras membuat dirinya terpisah dari sang adik walaupun hanya sementara. Ternyata sedalam itukah trauma masa lalu Damar? Bahkan untuk berjauhan dengan sang adik barang sedetik pun mampu memancing emosi jiwanya yang sangat sulit untuk dikontrol. Membuat semua yang memperhatikan gelagat Damar, saling pandang. Memang tak merasa heran, namun situasi seperti ini bisa saja memancing emosi yang lainnya.


"Baiklah, kalau itu mau Mas. Damar titip Adek. Kalau begitu, Damar dan Mas Syahil berangkat duluan. Assalamualaikum."


Syahil yang disebut namanya oleh sang adik pun terkejut, membuat tangan usil Syahal bekerja, menyikut sang kembaran yang sangking terkejutnya malah terdiam. Sementara Damar sudah berlalu pergi, memilih untuk menunggu di luat setelah bersalaman dengan Pak Aidi, Bu Aini, Mala dan Dhana. Lanjut berpamitan dengan Syahal, Wulan dan Aifa'al kendati hanya dengan senyuman yang terlihat dipaksa. Membuat Wulan merasa tidak enak hati, membiarkan sang mas kembar pergi ke kampus sendiri tanpa dirinya, sedangkan mereka sudah janji untuk pergi bersama.


"Syahil berangkat duluan ya, Opa, Oma, Anty, Uncle, Mas. Nanti keburu baginda raja mengamuk kalau titahnya tidak diikuti. Assalamualaikum." ujar Syahil, menyalami semua yang ia sebut dengan terburu-buru.


"Sudah sana pergi! Nanti Damar keburu emosi kalau kamu lama-lama di sini!" seloroh Syahal, menepuk bahu sang adik.


Syahil berdecak, tak kalah geram melihat Syahal yang membuatnya semakin ngos-ngosan karena mengejar Damar sembari memakai sepatunya. Setelah selesai, kembaran Syahal itu pun tidak langsung beranjak keluar, melainkan berdiri di hadapan sang adik kecil yang tersenyum.


"Mas berangkat duluan ya, princes kecil kesayangan Mas." ujar Syahil, tersenyum seraya menangkup wajah sang adik kecil.


"Hati-hati ya, Mas. Adek titip Mas Damar." jawab Wulan, dengan bahasa isyaratnya.


"Pasti! Assalamualaikum Sayang." ucap Syahil, tidak lupa mendaratkan kecupan sayang di kening sang adik.


"Walaikumsalam Mas." jawab Wulan.


"Ihh dasar bucin! Sudah sana pergi!" celetuk Syahal, mendorong tubuh sang kembaran yang tak kunjung beranjak.


"Iya, Mas. Iyaa...!" ujar Syahil, jengah seraya berlari pergi menyusul Damar.


"Kalian hati-hati ya, Sayang. Anty titip adikmu ya." seru Mala, melambaikan tangan pada Syahil yang bergerak pergi.


"Siap, Anty!" jawab Syahil, seraya hormat.

__ADS_1


Pak Aidi, Bu Aini, Dhana dan Mala pun menggeleng. Melihat tingkah lucu Syahil yang tampak menghindar dari emosional Damar. Sementara Aifa'al, Syahal dan Wulan yang tertinggal hanya tersenyum kikuk, sangat mengerti dengan suasana dan kondisi saat ini karena sikap Damar yang berubah drastis.


"Opa harap kamu bisa mengerti dengan sikap Damar, Nak." ujar Pak Aidi, berbisik di telinga Aifa'al seraya merangkul bahunya.


"Al mengerti, Opa. Opa jangan khawatir." jawab Aifa'al, menenangkan sang opa.


"Kalau begitu, Syahal, Adek dan Mas Al juga berangkat ya, Opa, Oma, Uncle, Anty." timpal Syahal, meraih ransel lalu bersalaman dengan petua-petua rumah.


"Kamu hati-hati ya, Nak." jawab Dhana.


"Siap dilaksanakan, Uncle. Ayo Mas! Ayo Dek! Nanti kita telat. Assalamualaikum." ujar Syahal, merangkul bahu sang adik setelah bersalaman dengan semuanya.


"Walaikumsalam. Hati-hati Sayang." ujar Bu Aini, melihat ketiga cucunya beranjak.


Aifa'al, Syahal dan Wulan pun tersenyum, menoleh sesaat membalas ujaran sang oma yang memperingati. Lalu ketiganya berjalan, menghampiri kendaraan pribadi masing-masing yang sudah lama menanti, berdiri di depan teras, siap untuk memulai hari bersama sang majikan.


"Mas... bawa motornya jangan terlalu kencang ya. Kasihan Adek nanti bisa terbang karena ulah Mas." seloroh Syahal tanpa tampang bersalah seraya memakai helm di kepala.


"Ck! Suka-suka Mas dong!" jawab Aifa'al ketus, tangannya lihai memasangkan helm di kepala sang adik yang terkikik geli.


"Ihss! Awas saja kalau Adek sampai kenapa-kenapa! Mas bakal disunat lagi sama Opa. Syahal duluan ya Mas! Mas duluan ya adik kecil cantik! Bye...!" celetuk Syahal, menggoda sang mas sebelum akhirnya bocah itu bersorak lalu pergi.


"Aaai-aaai aas...!" pekik Wulan, melambaikan tangan pada Syahal yang pergi.


"Sudahlah, Sayang. Syahal itu sudah dewasa. Dia tidak membutuhkan kata-kata itu lagi kalau ingin bepergian ke mana pun. Kita berangkat sekarang?" timpal Aifa'al, menaiki motor sembari menggoda Wulan.


"Aao aas..." jawab Wulan, naik ke atas motor Aifa'al.


Aifa'al yang siap membawa sang adik menyusuri ruas jalan ibu kota pun mengulas senyum. Membuat Wulan yang sudah siap dan semangat, semakin dibuat semangat untuk memulai hari-harinya di jenjang pendidikan yang baru, bersama dengan keempat mas tampannya yang akan selalu ada untuk dirinya kapan pun.


"Bismillah..."


Pedal gas pun berputar, membawa Aifa'al dan Wulan keluar dari pekarangan rumah besar Pak Aidi dan Bu Aini. Suasana pagi yang cerah dan masih sejuk pun menemani perjalanan keduanya, membelah jalan ibu kota yang masih ramai lancar namun dapat dipastikan, dalam waktu singkat jalanan itu akan padat dengan berbagai macam kendaraan.


***


"Mas Syahal..."


Setelah beberapa menit menempuh perjalanan dari rumah sampai ke kampus, akhirnya motor Syahal mendarat tepat di samping motor sang kembaran yang secara kebetulan memang masih kosong, belum terlihat penghuni kampus lain yang mengisi tempat parkir itu. Mambuat Syahal sedikit lega, tak perlu lagi bersusah payah mencari tempat parkir yang lain.


Namun sejurus kemudian, di saat cucu kembar Pak Aidi dan Bu Aini itu tengah memarkirkan motor, tiba-tiba suara bariton sang adik menggelegar memanggil dirinya seraya melambaikan tangan.


"Damar, Syahil..."


Syahal pun menghela kasar, mengerti sekali dengan raut wajah sang adik yaitu Damar yang tengah berdiri di depan gerbang kampus bersama sang kembaran. Menuntun Syahal bergegas mendekati keduanya, sebelum hal buruk yang tidak diinginkan pastinya terjadi pada sang adik.


"Kalian belum masuk? Sedang apa di sini?" tanya Syahal pura-pura tidak tau, melirik ke arah Syahil yang hanya diam.


"Adek dimana Mas?" timpal Damar, gusar.


Syahal menghela lagi, melirik adik kembarnya yang hanya mengulum bibir, tak ingin ikut campur jika situasi Damar sudah seperti ini. Membuat Syahal yakin kalau Syahil juga sudah sempat berdebat dengan Damar sebelum kedatangannya.


"Adek berangkat dengan Mas Al. Mereka masih di belakang, sebentar lagi juga sampai kok. Kamu tenang saja, Damar." jawab Syahal, menepuk bahu sang adik berusaha membuatnya tenang.


"Bukannya Mas berangkat bersama mereka tadi? Lalu kenapa mereka lama sekali sampai di sini?" ujar Damar, mulai emosi karena trauma yang menghantui.


"Dik... ayolah! Adek itu berangkatnya bersama Mas Al, bukan dengan orang lain. Mas Al pasti bisa menjaga Adek dengan baik seperti kamu, Mas dan Syahil. Jangan terlalu khawatir dong." ujar Syahal, mulai geram dengan tingkah gusar sang adik.


Damar menghela kasar, berusaha meredam rasa cemas yang tak berujung seperti ini yang selalu datang menyelimuti hati tatkala mata tidak melihat sang adik secara langsung. Seperti ini sekali kah kasih sayang sosok kakak pada adiknya? Seperti ini sekali kah trauma Damar, hingga Wulan tidak boleh hilang dari pandangan matanya walau sedetik? Entahlah. Tapi memang seperti itulah yang selalu dirasakan oleh seorang Damar sejak kejadian nahas yang menimpa Wulan dua tahun yang lalu.


Bruk!


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading AllπŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2