
...☘️☘️☘️...
"Damar..."
Damar tersentak, lamunannya buyar seketika saat tangan Syahal menyentuh bahunya, duduk termangu di teras depan seraya bertupang dagu dengan tatapan yang kosong, entah apa yang dipikirkan oleh bocah lelaki tampan kembaran Wulan itu hingga membuatnya tidak sadar dengan suara Syahal yang terus memanggilnya.
"Kamu kenapa sih? Sejak tadi melamun terus!!! Nanti kesurupan induk kuntilanak baru tau rasa! Sudah cukup Anty Mala saja yang histeris akhir-akhir ini, kamu jangan!" seloroh Syahal, menepuk kecil bahu Damar.
"Ck! Damar sedih, Mas." jawab Damar.
"Sedih kenapa? Tadi Adek yang sedih, sekarang kamu! Anak kembar memang seperti itu ya? Tapi Mas dengan Syahil tidak pernah tuh!" seloroh Syahal lagi, bergurau.
"Cih! Sepertinya ikatan di antara kita perlu dipertanyakan dan diperjelas, Mas!" timpal Syahil, mendengus geli mencibir Syahal.
Syahal dan Wulan terkekeh geli, melihat tampang Syahil yang mengerut seperti kertas lecek, terlihat garis-garis halus di pelipisnya hingga memancing gelak tawa Wulan yang duduk di samping Damar.
"Aaaaa... aaaass..." ujar Wulan, meraih dagu sang mas kembar yang bertumpu pada tangannya.
"Adek dengar pembicaraan Papi dan Bu Kinan 'kan? Sepertinya ajang pemilihan ketua osis sekolah akan dibatalkan deh!!! Karena dana sekolah sudah habis direbut oleh Pak Gibran!" tutur Damar, sendu.
Pembicaraan panjang yang cukup menegangkan di antara sang papi dengan Kinan ternyata didengar oleh Damar-Wulan dan Syahal-Syahil dari luar. Suara Kinan yang lembut dan dibuat pelan sedemikian rupa, ternyata masih bisa ditangkap jelas oleh kedua pasang anak kembar itu.
Setelah Syahal kembali dari dapur, lalu menyusul ketiga adiknya di luar, bersamaan dengan pembicaraan itu dimulai. Damar, Wulan dan Syahil yang ingin tau, menguping. Namun kedatangan Syahal dari arah dalam sempat membuat kerusuhan, membuat mereka berhenti sesaat lalu menguping lagi hingga pembicaraan Dhana dan Kinan di awal tidak terdengar oleh keempat anak itu.
"Fyuhh...! Untung saja." ucap author, lega.
Wulan menghela nafas berat, mengerti sekali ke mana arah pembicaraan sang kembaran jika benar dugaannya itu terjadi. Semua rencana yang sudah tersusun rapih dan matang, bisa hancur kapan saja hanya karena kejahatan Gibran. Membuat Wulan ikut terdiam, menyusul lamunan Damar yang berlanjut. Sementara Syahal-Syahil yang tidak tau apa-apa, hanya bisa mengeryit.
"Syahil... kita masuk saja yuk! Heran Mas sama adik kembar kita ini, senang sekali melamun di tengah siang bolong!" celetuk Syahal, menepuk bahu sang kembaran.
"Ck! Ya, dibantu hibur dong Mas! Bukan malah masuk!" sungut Syahil, berdecak.
"Ihh! Dasar!!! Saudara kembar yang tidak pengertian!!!" sungut Syahal yang jengah.
Syahil berdecak, memilih beranjak dari sisi sang mas kembar yang semakin tidak jelas, lalu berpindah duduk di samping Wulan.
"Damar... kalau pun kamu tidak jadi ketua osis, kamu tidak perlu sedih seperti ini Dik! Masih banyak cara yang bisa kamu pakai untuk mengembangkan potensi diri selain menjadi ketua osis. Jangan terlalu obsesi! Karena, segala sesuatu yang dipaksakan akan berakhir tidak baik untukmu nantinya." tutur Syahil, mengambil alih menenangkan sang adik.
"Tapi Mas..."
"Jangan terlalu dipikirkan!!! Sebentar lagi kalian akan masuk sekolah lagi 'kan? Jadi fokus persiapkan diri kalian dengan baik!" potong Syahil, meyakinkan hati Damar.
"Damar... tidak semuanya enak loh jadi ketua osis itu! Banyak juga yang sulitnya!" timpal Syahal seraya memainkan alisnya.
"Aaaa... aaaass..." ujar Wulan, heran.
"Dikejar sama cewek satu sekolah, Dek!!! Hahahahahahahahahah..." sahut Syahal, tertawa terbahak-bahak tanpa beban.
"Tidak lucu Mas!" sungut Syahil, jengah.
Gelak tawa Syahal yang membahana itu sukses memancing kedua sudut bibir Damar dan Wulan terangkat. Keduanya pun ikut tertawa geli mendengar suara tawa Syahal yang sangat menggelitik perut. Sementara Syahil berdecak gemas, tidak tau lagi harus melakukan apa jika selera humor sang mas kembar kumat lagi dan bahkan sudah akut.
"Nah, seperti itu 'kan enak dilihat! Jangan murung terus! Kesuksesan seseorang itu tidak harus menjadi ketua osis!" ujar Syahal.
"Kali ini Mas setuju dengan Mas Syahal!" timpal Syahil, mencubit gemas pipi Wulan.
Damar menghela nafas berat, berusaha menghilangkan kekecewaan yang mungkin akan ia dapatkan nanti di hari pertama masuk sekolah pada tahun ajaran baru.
"Terima kasih Mas." ucap Damar.
"Sama-sama." jawab Syahal-Syahil.
"Maafkan Mas ya, Dek." ucap Damar.
Wulan mengangguk, mengulas senyum seraya mengelus lembut lengan Damar, berusaha tegar dan menerima apapun itu keputusan sekolah nantinya tentang acara pemilihan ketua osis yang akan berkaitan dengan acara festival di akhir tahun ajaran angkatan mereka nanti. Memilih pasrah dan apapun keputusannya akan ia terima.
"Cucu-cucu Oma kenapa ada di luar?"
Syahal-Syahil dan Damar-Wulan menoleh, mendapati sang oma dan opa yang sejak tadi mereka cari keberadaannya di rumah.
"Opa sama Oma dari mana saja? Kami cari sejak tadi, tapi tidak ada" tanya Syahal.
"Opa habis menemani oma kamu ini belanja untuk keperluan yasinan tujuh hari pamanmu nanti malam, Nak." ujar Pak Aidi.
__ADS_1
"Kenapa Oma tidak mengajak kami?" tanya Syahal lagi, memasang wajah mode kesal.
"Kalian masih tidur dan Oma tidak tega membangunkan kalian, Sayang." ujar Bu Aini, mengelus sayang rambut Wulan.
"Hmmm... gagal jalan-jalan deh!" sungut Syahal, memang sedang aneh nih anak.
"Sekarang bukan waktunya liburan, Mas!" timpal Syahil, menyikut lengan sang mas.
"Sudah, sudah!!! Jangan ribut lagi. Oma sama Opa mau masuk dulu ya." seru Bu Aini, menghentikan canda kedua cucunya.
Syahal-Syahil terbungkam, sedangkan Damar-Wulan tergelak lirih melihat tingkah keduanya yang sejak tadi selalu saja bikin rusuh, bertengkar hanya karena berbeda pendapat, berakhir gurauan yang sangat tidak bermanfaat, membuat gelak tawa tak akan bisa berhenti bagi yang melihatnya.
Pak Aidi dan Bu Aini menggeleng kepala serentak, sangat memahami watak cucu kembar tampannya itu yang sangat receh. Lalu mengajak tumit untuk melangkah, ingin masuk ke dalam rumah yang tampak sepi. Namun langkah yang baru menjajaki bibir pintu seketika berhenti, mendapati seluet tangan Wulan yang terbalut oleh perban.
"Ya Allah...! Tanganmu kenapa Sayang?" pekik Bu Aini, meraih tangan sang cucu.
Syahal-Syahil dan Damar yang terjingkat pun ikut berhenti, melihat sang oma yang terlihat panik saat mendapati tangan Wulan. Sementara Pak Aidi yang berjalan di depan, berbalik. Mendekati sang istri yang terpekik.
"Tangan Wulan kenapa Syahal, Syahil, Damar?" tanya Pak Aidi, menghunuskan tatapan tajam pada ketiga cucu tampannya.
"Tadi pagi Mami sempat histeris lagi, Opa. Adek yang ingin menyuapi Mami makan, justru harus terkena pecahan piring karena Mami melempar piring itu ke lantai." terang Damar, menatap sang opa, meyakinkan.
"Ya Allah, Sayang...! Oma sudah bilang, jangan menemui mami kamu dulu, Nak! Emosi mami mu itu belum stabil! Sangat berbahaya untuk kamu, dan ini buktinya!" timpal Bu Aini, geram pada sang cucu.
"Tapi Adek sudah tidak apa-apa, Oma!!! Anty Mala juga sudah ditenangkan Uncle dengan obat bius, dan sekarang Anty lagi istirahat. Oma jangan khawatir!" ujar Syahil, menenangkan sang oma yang cemas.
"Ini baru tangan yang kena beling!!! Kalau anty mu itu histeris lagi, bisa-bisa dia akan membunuh Wulan! Bagaimana Oma tidak cemas?" tukas Bu Aini, panik tingkat dewa.
"Sstttt!!! Sudahlah, Sayang!!! Lagi pula tangan Wulan tidak apa-apa. Wulan saja mengangguk. Iya 'kan Sayang?" timpal Pak Aidi, menenangkan sang istri lalu menoleh ke arah sang cucu perempuan kesayangan.
Wulan mengangguk cepat, tangan kirinya yang sudah sembuh dari luka tembak kala itu pun terangkat, mengelus pipi sang oma yang entah sejak kapan basah oleh si bulir kristal. Membuat seutas senyum di kedua sudut bibir sang oma terlihat jelas di mata.
"Aaaaa... aaaaa... aaaaaaa... aaaaa... aaaaa... aaa... aaaa... aaa!" ujar Wulan, memainkan satu tangan sebagai isyarat.
Pak Aidi dan Bu Aini pun saling pandang, menangkap sinyal bahasa isyarat sang cucu yang memberatkan. Begitu pula dengan Syahal, Damar dan juga Syahil yang sudah mulai mengerti sedikit banyaknya bahasa isyarat Wulan, membuat mereka juga ikut melempar pandangan melihat isyaratnya.
"Ayah, Ibu... kalian sudah pulang?"
Lamunan semuanya buyar, menuntun mata untuk menoleh ke sumber suara yang baru saja keluar dari kamarnya di lantai bawah, lalu menghampiri semuanya di dekat pintu.
"Ayah dan yang lainnya kenapa berdiri di sini?" tutur Dhana, melihat ke semuanya.
"Wulan, Dhana! Putrimu mengajak Ibu pergi mengunjungi makam adik dan adik iparmu!" jawab Bu Aini, menoleh ke arah sang putra.
"Untuk apa Sayang? Kemarin kita juga sudah pergi ke makam paman dan onty 'kan?" tanya Dhana, mengelus kepala sang putri.
"Aaaaa... aaaaa... aaaaaa... aaaaai!" ujar Wulan, menatap sendu sang papi.
Dhana terhenyak, melihat mata sang putri yang sudah digenangi air, menandakan kalau hatinya saat ini tengah rapuh, membuatnya terus teringat pada mendiang sang paman yang masih sangat ia rindukan. Walaupun sudah dihibur berulang kali oleh ketiga mas kembar tampannya, tidak bisa menyembuhkan kesedihan hatinya hari ini.
Jika Dhana terhenyak maka sama halnya dengan Pak Aidi, Bu Aini, Syahal-Syahil dan Damar yang masih mengitari si gadis kecil.
"Aaaaai..."
Dhana tersentak, mendapati tangan kecil sang putri menarik tangannya, mendesak untuk meminta jawaban dari keingginannya.
"Ya sudah, Papi akan menemani Wulan pergi ke makam paman dan onty lagi ya." tutur Dhana, mengulas senyum penenang.
"Tapi Dhana, bukan kah Dokter Ali akan datang ke sini untuk menerapi istrimu lagi?" timpal Bu Aini, mengingat jadwal terapi sang menantu.
"Ahh iya! Dhana hampir lupa, Bu! Untung saja Ibu mengingatkan Dhana. Tapi Wulan bagaimana?" sahut Dhana, menepuk kecil dahinya sendiri karena lupa dengan hal itu.
"Kalau begitu biar Ayah dan Ibu saja yang menemani Wulan pergi ke makam, Dhana! Jujur, Ayah juga masih merindukan mereka!" timpal Pak Aidi, mengulas senyum getir.
"Damar ikut, Opa!" sahut Damar, antusias.
"Syahal juga!" sahut Syahal, tak mau kalah.
"Syahil juga, Opa!" sahut Syahil juga.
"Syahal-Syahil di rumah saja ya, Nak. Biar Opa sama Oma saja yang pergi bersama Damar dan Wulan. Kalian bantu Uncle di rumah untuk menjaga Anty, dan menjaga rumah dari orang yang ingin berniat jahat! Kalian tidak lupa 'kan kalau Gibran saat ini masih berkeliaran di mana-mana?" terang Pak Aidi, memperingati sang cucu kembar.
Syahal-Syahil menghela nafas serentak, disusul anggukan yang tak bersemangat, memasang tampang kecewa namun tidak bisa berbuat apa-apa jika sang opa sudah bertitah, wajib dipatuhi, pantang dibantah. Sementara Damar yang mendapatkan izin tersenyum lebar, menepuk bahu sang mas kembar yang kecewa.
__ADS_1
"Assalamualaikum..."
Sahutan suara salam serentak bergema, memenuhi langit-langit ruang tamu yang masih dijadikan tempat berdiri semuanya saat ini. Belum beranjak sama sekali dari posisi membuat mereka menoleh serentak pula, hingga menangkap dua sosok pria di ambang pintu. Mulai melangkah masuk ke dalam dengan lengkungan di bibir mereka.
"Wa'alaikumsalam... Ziel, Al..."
"Wah! Lagi pada berkumpul ternyata! Tapi kenapa berdiri saja di sini? Opa sama Oma dari mana? Kok kelihatan rapih sekali sih?" seloroh Aiziel, mengulas senyum manisnya.
"Oma baru saja pulang dari supermarket, Sayang. Untuk keperluan yasinan paman mu nanti malam." jawab Bu Aini, tersenyum.
"Sudah siap semua 'kan Oma? Apa ada yang perlu Al bantu lagi?" timpal Aifa'al.
Bu Aini mengangguk, mengelus wajah tampan sang cucu tengah yang sudah banyak berubah sejak penculikan hari itu. Ditambah lagi dengan kepergian sang paman yang membuatnya syok, masih tidak menyangka jika sang paman sudah pergi. Sifatnya yang dingin, cuek dan terkesan tidak peduli dengan keluarga telah hilang. Bertukar menjadi hangat, lembut, peduli pada semua keluarga, termasuk Wulan.
Aifa'al tersenyum manis, meraih tangan sang oma yang lembut. Tangan yang sejak ia kecil selalu membelainya dengan kasih sayang dan cinta, membuatnya semakin percaya bahwa sang oma tidak pernah membedakan kasih sayang untuk semua cucunya.
"Adek... tangannya kenapa?"
Senyum yang semula mengembang, seketika surut ketika mata tajamnya menangkap tangan Wulan yang diperban. Membuat Aifa'al yang sempat tertegun pun mendekati sang adik, meraih tangan kecil terbalut perban itu dengan cepatnya. Dan tak jauh berbeda dari sang adik, Aiziel pun ikut terkejut melihat tangan si gadis kecil kesayangannya itu diperban seperti habis terluka.
Alih-alih menjawab, Wulan malah tersenyum, melihat sikap sang mas tengah yang benar-benar sudah berubah, sangat baik dan sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Jawab, Dek!!! Kenapa malah senyum?" tukas Aifa'al, mencubit pipi putih Wulan.
"Tangan Adek terluka karena serpihan piring, Mas. Mami sempat mengamuk lagi tadi, dan melempar piring hingga tangan Adek jadi korban." jawab Damar, mewakili.
"Ck!!! Dasar ceroboh!" sungut Aifa'al.
Wulan tersenyum lagi, mengusap lembut tangan Aifa'al yang masih menggenggam tangannya, membuat hati semua yang ada di sana terenyuh, melihat kedekatan Aifa'al yang kembali utuh seperti dulu pada Wulan.
"Ayo Sayang, kita pergi sekarang!"
"Loh, Opa sama Adek mau ke mana?"
"Ke makam paman kamu, Ziel!!! Adikmu ingin ke sana lagi katanya."
"Al ikut, Opa!"
"Kalian di rumah saja ya!"
"Tapi di luar masih bahaya, Opa!"
"Justru itu Opa yang pergi, Al!"
"Al ingin ikut! Dan Al tidak ingin ditolak!"
"Ziel juga ikut, Opa!"
Pak Aidi menghela nafas kasar, melihat wajah tampan kedua cucunya itu yang kekeuh ingin ikut, membuatnya harus tegas.
"Kalian di rumah saja! Titik!"
"Al dan Mas Ziel akan bagi tugas!"
"Maksudmu apa Nak?"
Aifa'al pun menoleh, menatap sang mas sulung yang menatapnya juga. Tak lama setelah itu, Aiziel mengangguk, mengerti dengan pembagian tugas yang sang adik maksud. Sementara yang lainnya hanya bisa melihat, apa yang sedang kedua adik kakak itu diskusikan melalui sinyal mata.
"Al akan ikut! Mas Ziel akan tinggal!"
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
up untuk hari ini 😘 untuk hari minggu dina mau izin libur lagi ya ✌️ jangan ke mana2 dan jangan bosen nungguin dina hehe 🤭 karena setelah ini ujian hidup bakal lanjut, mau tau ujian hidup apa dan untuk siapa?
__ADS_1
Yang penasaran, sampai ketemu di hari senin 😘✌️ jangan lupa siapin vote nya untuk Wulan ya, hihihihi... 🤣🤭