
...🍁🍁🍁...
"Bagaimana Mas?"
Sepersekian menit berlalu, Ammar pun beranjak dari duduknya di tepi tempat tidur sang keponakan. Memutar tumit, melihat keluarganya yang mencemaskan Wulan.
"Wulan baik-baik saja, Dhana. Dia hanya kelelahan karena perutnya kosong." tutur Ammar, meredakan kekhawatiran Dhana.
"Perut Wulan kosong?" sahut Dhana.
"Iya, sepertinya putrimu tidak mengisi perutnya dan membuatnya lemas lalu pingsan." terang Ammar, melihat Wulan.
"Tidak ada yang serius 'kan Mas?" tanya Mala, khawatir dengan kondisi sang putri.
"Tidak ada, Mala. Wulan hanya kelelahan. Kamu tidak perlu khawatir ya." ujar Ammar.
Mala mengusap wajahnya lama, bersyukur dalam hati karena sang putri baik-baik saja. Membuatnya bergegas menuju tempat tidur sang putri, mengecup kening gadis kecilnya dengan sayang lalu memeluknya. Tak beda jauh dengan Bu Aini yang tak kalah cemas, ikut mendaratkan tubuhnya di sisi cucunya.
Dhana menghela lega, namun kekesalan hatinya tidak bisa dibohongi, melihat sang putri pingsan karena tidak makan siang. Menuntun matanya menoleh, menatap tajam sang putra yang sejak tadi hanya bungkam seraya melihat Wulan pingsan.
"Kenapa perut adik kamu bisa kosong Damar? Apa kalian tidak makan siang? Kamu lihat sekarang adik kamu!" tukas Dhana, marah pada sang putra.
"Dhana... kamu jangan menyalahkan Damar, Nak!!!" pungkas Pak Aidi yang menenangkan sang putra.
"Maaf Pi, Damar lalai menjaga Adek..." timpal Damar, tertunduk merasa bersalah.
"Bukan salah Damar, Dhana. Mas bisa menjelaskan semuanya, kenapa kedua anakmu tidak jadi makan siang. Padahal, tadi Mas sempat melihat Damar membawa kantong yang berisi makanan untuk Wulan." timpal Ammar, menepuk bahu sang adik.
"Maksud Mas?" ujar Dhana, heran.
Ammar menghela nafas panjang, mengumpulkan energi untuk memberitahu sang adik tentang yang dialami kedua anak kembarnya. Mewakili Damar yang masih di posisi tunduknya, berdiri di ujung tempat tidur sang adik bersama Aifa'al dan Syahal Syahil. Sementara Pak Aidi, Bu Aini, Mala dan Dhana asyik mendengar cerita Ammar.
Dhana menghela berat, mengusap kasar wajahnya yang semakin tersulut amarah. Penjelasan Ammar membuatnya tersadar kalau jam pulang sekolah kedua anaknya sangat terlambat dari jam yang seharusnya.
"Jadi kalian menolong adiknya Bram, dan bertemu dengan lelaki itu?" sahut Dhana.
"Hanya Adek yang bertemu dengan Pak Bram, Pi. Saat itu Damar sedang di kantin, membeli makan siang untuk kami berdua. Damar menitipkan Adek pada Tante Rumi karena saat itu Damar maupun Adek tidak tau kalau Tante Rumi adiknya Pak Bram." terang Damar, tetap menundukkan kepala.
Dhana menghela panjang, kejujuran sang putra justru membuatnya semakin gelisah.
"Kamu tau kesalahanmu ada di mana? Kalau terjadi sesuatu pada Wulan di saat kamu sedang ke kantin, bagaimana hah?" pungkas Dhana, emosi pada sang putra.
"Dhana... kamu tidak bisa menyalahkan Damar!!! Dia juga tidak tau kalau wanita itu adalah adiknya Bram! Kalau dia tau, tidak mungkin dia mau meninggalkan adiknya! Tenanglah! Toh semuanya baik-baik saja!" pungkas Ammar, menenangkan sang adik.
Damar hanya tertunduk sedih, mengutuki diri sendiri dalam hati karena telah gagal menjaga amanah sang papi untuk menjaga sang adik di mana pun dan kapan pun itu. Sementara Dhana yang emosi dipegangi Ammar, menahannya agar tidak bertindak bodoh pada putranya sendiri karena kesal.
"Iya, Uncle. Pakde benar. Syahal juga bersalah di sini karena Syahal terlambat menjemput Damar dan Adek di sekolah." timpal Syahal yang ikut merasa bersalah.
"Syahil juga salah, Uncle. Andaikan saja kami tidak terlambat menjemput mereka, mungkin kejadiannya akan tidak seperti ini. Maaf Uncle." ujar Syahil, merasa bersalah.
"Semua ini di luar dugaan, Uncle. Al harap, Uncle bisa mengerti dengan situasinya dan tidak menyalahkan Damar maupun Syahal dan juga Syahil." timpal Aifa'al, menengahi.
"Ayah setuju dengan Al, Dhana!!! Mereka tidak salah. Damar ataupun Wulan tidak ada yang tau kalau Bram akan muncul di rumah sakit untuk menemui adiknya." ujar Pak Aidi.
"Kontrol emosi kamu, Dhana! Kasihan istri kamu, dia baru pulih dari traumanya!!!" ujar Ammar, berusaha menenangkan sang adik.
Dhana menghela nafas berat, berusaha menepis amarah yang memuncak pada sang putra karena rasa cemas berlebihan.
"Damar minta maaf, Pi..." lirih Damar.
Helaan nafas berat terdengar lagi, keluar dari mulut Dhana yang mengucap Istighfar. Dibawanya kaki untuk melangkah, mendekati sang putra yang masih tertunduk.
"Kamu tidak salah, Damar. Papi yang salah karena sudah membentak kamu. Maafkan Papi ya." ujar Dhana, mengelus kepala sang putra yang enggan terangkat menatapnya.
"Lain kali Damar akan lebih berhati-hati dalam melindungi Adek, Pi. Damar janji!" jawab Damar, melirik sang papi sesekali.
"Papi pegang janji kamu!" tegas Dhana.
Damar mengangguk, mengulas senyum setelah memberanikan diri mengangkat kepalanya, menatap mata sang papi yang tidak marah lagi karena kecerobohan nya. Sementara tangan Dhana tampak betah menepuk bahu sang putra. Membuat Pak Aidi, Bu Aini, Ammar, Mala, Aifa'al, Syahal dan Syahil tersenyum lega karena amarah Dhana sudah mereda dan tidak emosi lagi.
"Lebih baik kita keluar! Biarkan Wulan istirahat dulu! Kita juga harus menunaikan kewajiban kita yang sudah terlewat sejak tadi!" seru Pak Aidi, memberikan perintah.
"Ya sudah, Ibu juga harus menyiapkan makan malam untuk kita semua. Malam ini adalah malam spesial karena Mala sudah sembuh dan kembali seperti dulu!!!" timpal Bu Aini, menoleh ke arah sang menantu.
"Mala akan membantu Ibu. Mala juga ingin membuatkan bubur untuk Wulan. Perutnya yang kosong tidak boleh diisi makanan berat dulu." jawab Mala, mengulas senyumannya.
"Kamu benar sekali, Sayang." ujar Bu Aini.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita keluar!" seru Pak Aidi.
Bu Aini mengangguk patuh, lalu beranjak dari tepi tempat tidur sang cucu, menyusul sang suami yang sudah keluar lebih dulu. Setelah itu Mala ikut beranjak, sebelumnya tak lupa ia mendaratkan kecupan sayang pada kening sang putri yang masih tertidur.
Membuat hati Ammar, Dhana, Aifa'al, Syahal-Syahil dan Damar yang melihatnya ikut merasa hangat. Tersenyum lega karena Mala benar-benar sudah pulih dari sakitnya.
"Ayo Sayang. Biarkan Wulan istirahat dulu. Setelah dia sadar, kamu bisa menghabiskan waktu bersamanya nanti. Kamu juga masih harus banyak istirahat, Sayang." ujar Dhana.
"Iya Mas..." jawab Mala, patuh.
"Kalian juga istirahat lalu bersih-bersih ya. Uncle mau keluar dulu." ujar Dhana pada keempat pemuda tampan yang berdiri itu.
"Siap Uncle..." sahut Aifa'al, Syahal-Syahil.
Dhana menggeleng kepala, gemas melihat respon ketiga generasi penerusnya nanti, beranjak keluar bersama Mala dan Ammar. Meninggalkan keempat pemuda tampan itu di dalam kamar Wulan.
"Kamu mau ke mana?" sahut Aifa'al.
Langkah Syahal terhenti saat baru saja hendak menjangkau pintu, tubuh yang terasa lengket membuatnya resah dan gelisah, menuntun kakinya untuk segera masuk ke dalam kamar di rumah sang oma.
"Mas tidak dengar titah Uncle tadi?"
"Jangan keluar dulu! Mas mau bicara!"
"Nanti saja lah, Mas! Adek 'kan belum bangun! Nanti maghrib kita tinggal loh!"
Aifa'al terdiam sesaat. Menuntun mata yang semula menatap tajam Syahal di dekat pintu kini tertoleh ke arah sang adik. Membuatnya harus menimbang permintaan Syahal yang memang benar. Waktu maghrib yang cukup singkat, membuat semuanya tidak bisa atau bahkan memang tidak boleh menundanya.
"Oke...! Mas kasih waktu 10 menit untuk bersih-bersih dan salat maghrib! Setelah semuanya selesai, kita berkumpul lagi di sini!" seru Aifa'al, tegas lalu beranjak pergi.
"Ck!!! Mas Al memang tidak akan berubah! Setelah memberi titah pasti langsung pergi! Menyebalkan sekali!" sungut Syahal, kesal lalu beranjak pergi menuju kamarnya juga.
Syahil dan Damar yang ditinggal berdua di kamar Wulan hanya menggeleng kepala, gemas melihat kedua masnya yang selalu saja bertengkar hanya karena masalah kecil.
"Mas ke kamar dulu ya." ujar Syahil.
"Iya Mas. Damar masih mau di sini."
"Ya sudah, jangan lupa salat juga ya."
Damar mengangguk patuh, mengulas senyum seraya menoleh ke arah sang mas kembar yang menepuk sayang bahunya sebelum meninggalkan kamar Wulan.
Damar pun beranjak, namun tidak keluar dari kamar sang adik. Pemuda itu memilih untuk tetap berada di sana, menjaga sang adik dalam salatnya yang berjalan hikmat.
"Ya Allah... terima kasih atas nikmat dan karunia-Mu hari ini. Hati mamiku sudah terbuka, dan Mami sudah menerima Adek. Terima kasih sekali, Ya Allah. Engkau telah mengabulkan permintaanku yang satu itu. Kupinta satu hal lagi pada-Mu, Ya Rabb. Lindungilah semua keluargaku dari orang jahat. Temukan lah Pak Gibran secepatnya agar dia bisa dihukum sesuai perbuatannya padaku, Mas Al dan juga Adek waktu itu. Aku mohon kabulkan do'aku ini, Ya Allah." tutur Damar dalam do'a yang ia langitkan.
"Aamiiiin...! Allah pasti akan mengabulkan semua do'a putra Mami yang baik, tampan dan tulus ini." jawab Mala seraya masuk.
Damar terkesiap, membuatnya menoleh cepat ke arah pintu, mendapati sang mami yang datang seraya membawa nampan.
"Mami..."
"Kamu tidak mandi Sayang?"
"Tidak baik mandi malam, Mi."
"Anak pintar! Ayo sini duduk dekat Mami!"
Damar pun beranjak dari atas sejadahnya, berpindah tempat duduk di tepi tempat tidur Wulan dan berhadapan dengan sang mami.
"Mami sudah salat?"
"Sudah, Sayang."
"Terima kasih, Mi."
"Untuk apa Sayang?"
"Karena Mami sudah mengakui Adek."
Mala tersenyum getir, mendengar ucapan tulus yang terlontar dari bibir sang putra. Tangannya pun terangkat, menjangkau wajah tampan sang putra yang menatap matanya lekat, lalu menoleh ke arah sang putri yang masih tertidur. Menuntun tangan untuk berpindah tempat, mengelus wajah cantik sang putri dengan sayang, membuat Damar juga merasakan kehangatan nya.
"Maafkan Mami ya, Nak."
"Damar sudah memaafkan Mami tanpa Mami memintanya. Mami jangan cemas."
"Mami bangga punya kamu! Punya Papi! Dan punya Wulan! Kalian semua sangat sabar saat menghadapi sikap buruk Mami."
__ADS_1
"Semuanya bukan salah Mami. Semua ini sudah takdir yang harus kita jalani dengan ikhlas."
"Kamu benar, Sayang. Terima kasih ya. Mami sangat menyayangimu dan Wulan."
"Damar tau itu, Mi."
Mala mengangguk, tangannya masih mengusap lembut wajah sang putra putri secara bergantian. Menyalurkan betapa besar kasih sayang yang terpatri dalam hati, yang seharusnya ia berikan pada keduanya secara adil dari sejak dulu.
"Aaaaai..."
Mala dan Damar terperanjat, mendengar suara lirih Wulan di saat matanya tampak berat dibuka, membuat mereka menoleh.
"Adek... bangun, Dek! Ini Mas...!"
"Iya Sayang... bangunlah! Ini Mami...!"
Perlahan mata yang terasa berat itu akhirnya terbuka jua, membuat Wulan mengedar pandangan, melihat sang mami dan mas kembarnya masih berada di sana.
"Aaaaai..." lirih Wulan, tersenyum.
"Iya Sayang, Mami di sini, Nak." ujar Mala.
"Aaaaa... aaaaa... aaaaai." lirih Wulan.
Mala mengeryit, tidak terlalu mengerti dengan maksud dari bahasa sang putri.
"Jangan pergi lagi, Mi. Itu maksud Adek." timpal Damar, mengerti dengan ekspresi sang mami yang tidak mengerti.
"Mami akan tetap di sini, Sayang. Mami tidak akan pergi." jawab Mala, mengelus lembut kepala sang putri lalu menciumnya.
"Aaaaa... aaaaa... aaai... aaaa... aaaaa." ujar Wulan lirih, matanya tampak berat.
"Apa maksud adikmu, Nak?" tanya Mala, melihat Damar yang mengerti bahasa itu.
Damar pun bergeming, mengerti dengan bahasa sang adik membuatnya terdiam ketika Wulan mengatakan kalimat terakhir. Sementara Mala yang melihat perubahan pada wajah sang putra pun mengeryitkan dahi, semakin bingung melihat sang putra.
"Damar... kenapa kamu diam Nak?"
"Ahh maaf Mi, Damar melamun."
"Kamu memikirkan apa Sayang?"
"Tidak ada apa-apa kok, Mi."
"Lalu apa maksud adik kamu tadi? Mami belum bisa memahami bahasanya, Nak."
"Adek bilang kalau perutnya sangat lapar, Mi. Dan Adek ingin Mami menyuapi Adek."
"Oh begitu ya... baiklah, Mami pasti akan menyuapi kamu, Sayang."
Dengan semangatnya Mala menjangkau sebuah mangkuk berisi bubur buatannya, menyuapi sang putri untuk pertama kalinya. Wulan pun menyambut suapan sang mami dengan antusias, seraya duduk bersandar pada headboard tempat tidur.
Senyum di wajah Wulan juga terus terukir, memancing senyum Damar yang melihat sang mami menyuapi sang adik. Namun sesekali Wulan melirik Damar yang juga melihatnya sesekali, hingga mata kedua anak kembar itu terkunci. Seakan tengah berdiskusi dalam hati entah tentang apa.
Kenapa Adek bicara seperti itu? Gumam Damar dalam hati, menatap lekat Wulan.
Adek mimpi buruk, Mas. Gumam Wulan dalam hati, menatap lekat manik Damar.
Itu hanya mimpi, Dek. Tidak perlu Adek pikirkan. Gumam Damar lagi dalam hati.
Tapi mimpi itu terasa nyata. Adek takut, akan terjadi sesuatu yang buruk nantinya pada Mami, Mas. Gumam Wulan, sendu.
Damar terdiam, perang bathin di antara dirinya dengan Wulan berhasil mengusik hatinya yang semula bahagia dan tenang.
"Putri Mami makannya lahap sekali sih. Buburnya sampai habis. Kamu istirahat dulu ya, Sayang. Jangan ke mana-mana. Mami mau keluar dulu membantu Oma di bawah." timpal Mala, mengelus sayang pipi Wulan.
Wulan mengulas senyum, mengangguk samar mengiyakan titah sang mami yang membuat hatinya hangat. Mala pun pergi, keluar dari kamar sang putri, membiarkan Damar menemani adiknya di dalam sana. Seperginya Mala, Damar menghela berat. Membawa tubuhnya bergeser mendekati sang adik yang menatapnya sendu.
"Adek jangan khawatir ya. Semuanya akan baik-baik saja asalkan kita selalu bersama."
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading All 😇😇😇