
...☘️☘️☘️...
Mesin waktu masih setia berputar pada porosnya, membangunkan sang penjaga pagi dan siang, setelah tugasnya menerangi bumi selesai, bertukar posisi ia dengan rembulan malam, dan begitu lah seterusnya hingga tak terasa satu minggu berlalu dengan cepatnya.
Satu minggu berlalu, membuat hubungan Dhana dan Mala menjadi sedikit lebih baik setelah sore nan panjang itu. Dhana selalu menghampiri sang istri di apartment setelah mengantarkan kedua anaknya menuju sekolah. Selama satu minggu itu pula keadaan sedikit membaik, walaupun Mala masih di apartment. Dhana tidak lagi memaksa Mala untuk berubah dan menerima Wulan. Dhana memilih untuk menggunakan caranya sendiri agar hati Mala bisa luluh terhadap putrinya tanpa paksaan.
Keputusan mutlak sang putra membuat Pak Aidi dan Bu Aini mendukung, mempercayai kelak sang putra bisa menyelesaikan semua masalah rumah tangganya. Keduanya hanya disibukkan dengan mengurus Damar Wulan tatkala Dhana menikmati waktu dengan Mala.
Tidak etis memang, di saat masalah keluarga masih memanas Dhana malah bersikap baik pada istrinya yang terbilang jahat pada anak sendiri. Namun itulah tujuan Dhana. Berusaha melunakkan hati sang istri yang terlanjur keras karena kebencian dengan caranya sendiri. Toh sang putri tercinta pun sangat mendukungnya, begitu juga dengan Damar.
Selama satu minggu berjalan, dengan penuh antusias serta semangat, Damar dan Wulan selalu mengisi waktunya dengan giat belajar tanpa memikirkan sang mami yang berada di apartment, membuat keduanya sukses ketika menyelesaikan ujian dengan baik hingga kini tibalah saat di mana semua nilai yang mereka dapat selama satu semester akan dibagikan.
"Dhana... di mana anak-anakmu? Apa mereka belum bangun? Hari ini kamu akan pergi ke sekolah untuk mengambil raport mereka 'kan?" tanya Bu Aini seraya menyiapkan makanan.
Dhana menoleh, melihat ke arah tangga untuk mencari keberadaan kedua buah hatinya yang sejak tadi tengah bersiap untuk pergi sekolah namun belum turun juga dari lantai atas.
"Mereka sedang bersiap-siap, Bu. Lagi pula mengambil raport tidak harus ditentukan jam berapa harus datang, bukan? Jadi Ibu tidak perlu khawatir." jawab Dhana yang menikmati sarapannya.
"Ibumu ini sepertinya sudah lupa bagaimana menjadi seorang guru karena sudah pensiun." celetuk Pak Aidi yang melirik, menggoda sang istri.
Bu Aini berdecak gemas, menatap Pak Aidi yang terkikik geli melihat ekspresi wajahnya, memancing kekehan renyah yang keluar dari mulut Dhana.
"Pagi Opa! Pagi Oma! Pagi Papi!"
Sahutan Damar yang turun dengan semangat bersama adik kembarnya, menarik perhatian Pak Aidi, Bu Aini dan Dhana yang telah duduk, menikmati sarapan pagi bersama-sama.
"Cucu-cucu Opa semangat sekali. Pasti akan ada kabar bahagia nantinya saat kalian pulang membawa hasil raport kalian. Opa jadi makin tidak sabar untuk mendengar kedua cucu Opa ini mendapatkan juara kelas." celetuk Pak Aidi.
"Sepertinya Opa sedang meledek Damar ya? Opa tau sendiri 'kan kalau Damar tidak pernah bisa mendapatkan predikat juara di kelas? Ah, Opa menyebalkan!" sungut Damar yang duduk.
Pak Aidi terkekeh gemas, melirik istrinya yang menggelengkan kepala melihat tingkahnya itu, memancing gelak tawa Dhana dan Wulan. Lalu melanjutkan sarapan dengan begitu hikmat.
"Dhana... kamu pergi bersama Mala, bukan?" tanya Bu Aini seraya menyuapi makanannya.
"Tidak, Bu. Mala akan menyusul Dhana dan anak-anak ke sekolah. Karena kelas Damar Wulan berbeda, jadi Mala harus datang dan mengambil raport Damar. Sedangkan Dhana akan mengambil raport Wulan seperti biasa." jawab Dhana yang mengulas senyum simpul.
Bu Aini mengangguk, memang seperti inilah salah satu kegiatan setiap akhir semester di sekolah kedua cucu kembarnya yang satu ini, Dhana dan Mala harus membagi tugas untuk mengambil raport kedua anaknya karena Mala tidak mau mengambil raport Wulan.
"Setelah mengambil raport, kamu langsung bawa Mala pulang ya. Ibu akan menyiapkan makan siang untuk kalian nanti. Bagaimana?" ujar Bu Aini lagi yang berharap sekali sang menantu akan kembali ke rumahnya.
"Iya, Bu. Dhana akan membawa Mala pulang." jawab Dhana yang tersenyum, menenangkan sang ibu.
Bu Aini mengangguk senang, sang menantu akan kembali pulang dan semua akan kembali seperti biasa.
"Ayo anak-anak, kita berangkat sekarang! Ibu, Ayah... Dhana pamit ya. Assalamualaikum...." ujar Dhana yang menyalami keduanya.
"Wa'alaikumsalam... kalian hati-hati!" jawab Bu Aini seraya mengelus kepala kedua cucunya.
Dhana mengangguk, tersenyum pada ibunya, meraih putra putrinya yang menghampirinya setelah berpamitan dengan opa dan omanya.
"Bersiaplah! Siapa di antara kalian yang akan mendapatkan juara kelas semester ini!" seru Dhana seraya membukakan pintu mobil.
"Pastinya Adek lah, Pi!" jawab Damar.
Wulan menggeleng cepat, menolak perkataan sang mas kembar yang membuat jantungnya kian berdetak kencang jika membahas perihal juara kelas. Sementara Dhana yang melihat itu hanya tersenyum, menggeleng kepala karena tingkah kedua anaknya yang semakin remaja.
***
__ADS_1
"Ck! Mas Dhana lama sekali sih!!! Ini sudah mau jam berapa, coba?"
Mala berdecak kesal, berjalan ke sana ke mari di samping gerbang sekolah seraya melirik ke arah jam tangan yang melingkar di tangannya, memperhatikan jalan, berharap mobil sang suami akan segera datang membawa putranya. Tanpa sadar, ada seseorang yang sedang asyik memperhatikan dirinya dari dalam sekolah.
Ternyata dia sudah datang! Pasti dia ingin mengambil raport kedua anak kembarnya. Mala, Mala... setelah ini kamu harus bersiap karena aku akan membongkar asal-usulmu yang sebenarnya pada keluarga suamimu. Akan ada kejutan spesial untukmu malam nanti, Mala. Gumam sosok itu dalam hati.
Sosok itu beranjak pergi, masuk ke dalam ruang kerja seseorang dengan seringai di wajahnya yang tampak jelas. Berselang itu, terlihat dari kejauhan mobil Dhana memasuki pekarangan sekolah, disusul Mala yang berlari kecil mendekati mobil suaminya itu. Dhana turun dari mobil, bersamaan dengan kedua anaknya, melihat ke arah Mala yang cemberut.
"Kenapa lama sekali Mas?" sungut Mala.
"Macet, Sayang. Maaf ya." jawab Dhana.
Mala berdecak, mendekati putra kesayangan yang berdiri di sisi putrinya tanpa menoleh ke arah Wulan sedikit pun. Dhana merangkulnya, mengelus bahu sang putri dengan lembutnya, menetralisir rasa cemburu dan iri karena sikap sang mami masih saja mengabaikan dirinya.
Wulan mendongakkan kepala, menatap pilu sang papi yang semakin erat merangkulnya, tersenyum getir seakan memberikan isyarat kalau dirinya baik-baik saja walaupun hatinya menjerit perih, sakit dan ingin sekali berteriak. Sementara Damar yang didekati sang mami hanya bersikap datar, melihat ke arah Wulan yang mengulas senyuman manis andalan dengan gingsul di gigi putihnya.
"Sayang... kamu pergi bersama Damar ya, sedangkan aku akan pergi bersama Wulan." ujar Dhana yang mengalihkan perhatian.
Mala menoleh, melirik tajam ke arah Wulan sesaat sebelum menganggukan kepalanya dengan senyuman lebar ke arah sang suami. Setelah itu berlenggang pergi bersama Damar, merangkul posesif bahu putranya itu, namun Damar tidak mengindahkan tindakan maminya.
"Sayang... jangan sedih ya. Papi yang akan masuk ke kelas kamu dan mengambil buku raport mu. Kamu harus tetap kuat dan sabar." tutur Dhana seraya berjongkok di depan sang putri.
Wulan mengangguk, matanya yang mulai berkaca-kaca ia bawa berkedip agar bulir itu tidak jatuh dengan sendirinya, meraih tangan sang papi dan berjalan menuju kelasnya.
***
"Kamu mau pergi ke mana Syahil?"
Syahil terkesiap, langkah kaki yang dibuat lambat menuruni tangga secara perlahan, masih bisa terdengar oleh sang mama yang kini tengah sibuk berkutat dengan peralatan dapurnya. Syahil menoleh, tersenyum lebar ke arah sang mama yang menatapnya selidik.
Selama satu minggu, Syahil sukses menjadi anak yang baik, membuktikan kalau dirinya memang benar-benar sudah berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya, buktinya setelah pulang kuliah ia langsung pulang, tidak pergi saat malam hari seperti dulu. Kegiatan Syahil terasa lebih bermanfaat dari sebelumnya.
"Pergi sendiri? Syahal di mana?" tanya Vanny seraya menoleh ke balkon lantai atas.
"Mas Syahal lagi di kamar, main game! Syahil sudah pamit juga kok sama Mas Syahal, Ma." jawab Syahil yang terlihat gugup dan kikuk.
Vanny menyipit, mencari sesuatu yang tengah dipikirkan oleh putranya yang baru seminggu ini sadar dari kesalahannya. Kepercayaan yang runtuh seakan sulit untuk dibangun kembali, membuat Vanny selalu waspada jika sang putra kembali berubah nakal seperti dahulu.
"Kamu tidak bohong sama Mama 'kan Syahil?" tanya Vanny seraya menatap lekat sang putra.
"Syahil tidak bohong, Ma. Syahil ingin membeli sesuatu di minimarket depan. Hanya sebentar." jawab Syahil yang meyakinkan sang mama.
Vanny menghela nafas panjang, berusaha menepis rasa takut jika sang putra kembar belum sepenuhnya berubah, lalu mengangguk. Membuat Syahil tersenyum senang karena izin sang mama sudah ia kantongi.
Syahil beranjak, mengambil langkah seribu menuju pintu utama, menaiki motor Syahal yang sempat ia pinjam dengan menggunakan alasan serupa pada sang mama tercinta.
"Syahil minta maaf, Ma, Mas Syahal. Syahil terpaksa harus berbohong. Syahil harus bisa menyelesaikan masalah agar tidak akan ada masalah baru yang muncul di kemudian hari hanya karena masalah lama yang belum selesai."
Syahil menatap nanar ke arah rumah, suasana sepi begitu kentara karena sang papa sudah berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya, membuatnya bergegas menyalakan motornya, keluar dari gerbang, menyusuri ruas jalanan.
***
"Selamat ya, Wulan. Kamu mendapat predikat juara satu lagi semester ini! Selamat ya, Nak!!"
Pancaran binar kebahagiaan terlihat sangat jelas di wajah Dhana dan Wulan, mengambil sebuah buku yang merupakan raport hasil dari kerja kerasnya belajar selama satu tahun ini dari tangan sang wali kelas yang tak lain dan tak bukan adalah Kinan. Berusaha profesional dalam menjalankan pekerjaan sebagai sosok wali kelas sekaligus kepala sekolah, bertemu dengan Dhana membuatnya gugup tak stabil.
Berbeda dengan Dhana yang bersikap tenang dan tampak biasa saja, tidak ada kegugupan terpancar dari sorot matanya karena memang, masa lalu itu hanya sebuah klise yang harus dimusnahkan untuk menjalani masa depan. Dhana tersenyum bahagia, memeluk Wulan dengan erat, menghujani pucuk kepala sang putri dengan ribuan kecupan sayang.
__ADS_1
"Papi sangat bangga sama kamu, Sayang." ucap Dhana yang memeluk erat sang putri.
Wulan tersenyum getir, teringat sang mami membuatnya kembali menerawang.
Andaikan saja Mami seperti Papi. Mengecup kepala, kening dan wajahku seperti ini, maka aku lah orang yang paling bahagia di dunia ini melebihi siapa pun. Gumam Wulan dalam hati.
Dhana melerai pelukannya, menangkup wajah cantik sang putri yang sudah basah karena air mata penuh haru mengalir begitu saja.
"Pertahankan terus prestasi kamu ya, Wulan!!! Selamat liburan dan sampai jumpa dua pekan selanjutnya." ujar Kinan yang sedang berusaha merubah suasana haru di antara keduanya.
"Terima kasih, Bu Kinan. Terima kasih karena sudah membimbing anak saya sehingga dia selalu menjadi juara kelas di setiap semester." jawab Dhana yang mewakili isi hati putrinya.
"Sama-sama, Pak Dhana. Tidak hanya saya yang berperan membimbing Wulan, tapi para guru juga berperan di sini. Bukan hanya Wulan, tapi seluruh siswa dan siswi kami bimbing." ujar Kinan dengan tenang dan profesional.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu. Assalamualaikum." jawab Dhana seraya beranjak, meraih tangan sang putri dan pergi.
"Wa'alaikumsalam..."
Dhana berlenggang, keluar dari ruangan kelas di mana Wulan belajar seraya merangkul bahu sang putri kebanggaan, meninggalkan Kinan yang duduk termangu, menatapi punggung sosok yang pernah menyatakan cinta tulus padanya namun ia tolak, membuat rasa nyeri efek penyesalan yang datang di waktu tidak tepat, namun semua itu sudah terlambat.
Kinan hanya bisa tersenyum getir, mengingat masa lalu hanya membuat hatinya teriris perih dan tak akan bisa diobati, memilih untuk terus melanjutkan pekerjaannya, membagikan raport siswa-siswi lain yang sudah menunggu giliran.
Dhana berjalan, merangkul posesif bahu sang putri yang memegang piala berserta piagam penghargaan sebagai predikat sang juara satu, sedangkan buku raport dipegang oleh Dhana.
"Papi..."
Binar kebahagiaan semakin terpancar tatkala suara bariton sang putra yang baru keluar dari kelas bersama sang istri. Damar berlari cepat, menghambur ke dalam pelukan sang papi dan meraih bahu sang adik kembar kesayangan.
"Damar juara tiga, Pi! Damar juara tiga!" ujar Damar yang terdengar begitu menggelegar.
"Alhamdulillah... Papi benar-benar bahagia melihat kedua anak kembar Papi ini menjadi juara kelas! Papi bangga, Nak! Papi bangga!"
Suasana haru kembali terasa. Wulan memeluk sang mas kembar yang sudah berjuang dengan keras untuk selalu mendapat juara, kini usaha itu tidak sia-sia, mengundang air mata Wulan yang sangat tau bagaimana perjuangan Damar.
"Bagaimana kalau kita pergi makan siang di Cafe untuk merayakan ini Mas? Putra kita ini berhasil mendapat juara tiga." ujar Mala yang merangkul bahu sang putra dari belakang.
"Tapi aku sudah berjanji dengan Ibu untuk membawamu pulang dan kita bisa makan siang bersama di rumah. Tidak hanya Damar, putri kita yang cantik ini juga mendapat juara. Wulan mendapatkan juara satu di kelasnya." jawab Dhana yang mengelus wajah Wulan.
Raut wajah Mala yang semula berbinar terang mendadak pias, melirik tak suka ke arah sang putri yang tersenyum manis ke arahnya. Mala berpaling, tidak ingin melihat senyum manis yang tak berbeda jauh manis dengan senyum miliknya, tidak ingin menatap mata teduh itu. Membuat senyum manis Wulan surut, memilih untuk menunduk dari pada hatinya sakit lagi.
"Kalau memang Ibu yang meminta, aku setuju Mas." jawab Mala dingin, menoleh ke arah lain.
Dhana tersenyum, walaupun jawaban Mala tidak terlalu bersemangat setelah mendengar bahwa putrinya juga menjadi juara, membuat Dhana untuk tetap sabar dan ekstra sabar lagi.
"Tapi Damar dan Adek sepertinya pulang belakangan deh, Pi. Teman-teman angkatan ingin mengadakan acara kumpul-kumpul di Cafe. Jadi Papi dan Mami pulang duluan ya."
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
__ADS_1