
...🍁🍁🍁...
Hembusan semilir angin siang menyejukkan diri, membuat Dhana merasakan sejuknya cuaca siang ini yang mendadak mendung. Kumpulan awan hitam bergerak perlahan, menutupi pancaran cahaya sang mentari, merubah langit yang cerah menjadi gelap seketika, memberi tanda bahwa sebentar lagi akan turun hujan yang sangat lebat.
Prang!
Dhana terperanjat tatkala suara pecahan kaca dari cangkir teh hangat miliknya itu tiba-tiba terjatuh, membuatnya refleks menunduk, memilih pecahan-pecahan cangkir yang bertaburan di atas lantai.
"Arrrgghh..."
Gesekan kecil dari serpihan cangkir yang telah hancur menyayat jari telunjuk Dhana, membuatnya tersentak, bersamaan dengan perasaan yang tiba-tiba terasa sangat aneh. Dhana meringis kesakitan, rasa perih yang terasa membuatnya hanyut dalam lamunan.
"Uncle... ada apa? Ziel sempat mendengar suara gelas yang pecah dari arah sini." ujar Aiziel yang datang tergesah dari dalam.
Seketika mata Aiziel membulat sempurna tatkala pandangannya tertuju pada tangan sang uncle yang masih berjongkok. Aiziel pun ikut berjongkok, menyamakan posisi tinggi tubuhnya dengan tubuh sang uncle. Sementara itu, sang uncle masih belum menyadari keberadaannya di depannya.
"Uncle... Uncle..."
Dhana tersentak, mengontrol perasaannya yang tidak terkendali, hatinya terusik secara tiba-tiba dan membuatnya termenung.
"Ziel... kamu sedang apa di sini?" tanya Dhana yang beranjak, menyembunyikan luka kecil di jari telunjuknya.
"Tidak perlu disembunyikan lagi, Uncle. Ziel sudah melihatnya. Seharusnya Ziel yang melontarkan pertanyaan itu pada Uncle! Uncle sedang apa berjongkok seperti tadi, bahkan tangan Uncle berdarah pun Uncle tidak menyadarinya." cercah Aiziel seraya memperhatikan sang uncle penuh selidik.
"Uncle hanya duduk santai saja, Ziel. Tapi tiba-tiba cangkir teh Uncle terjatuh karena Uncle tidak sengaja menyenggolnya. Lalu kamu sendiri sedang apa? Kamu sudah makan siang?" jawab Dhana yang bertanya balik pada keponakan sulungnya itu.
"Ziel tidak pernah makan siang, Uncle. Ziel ke sini karena terkejut sekaligus ingin minta izin pada Uncle untuk pulang sebentar." ujar Aiziel yang terkekeh mengingat dirinya tidak pernah makan siang untuk menjaga tubuh.
"Kamu sudah mau pulang?" tanya Dhana yang memastikan.
"Hanya sebentar, Uncle. Ziel hanya ingin mengambil laptop. Setelah itu Ziel akan kembali lagi ke sini untuk menemani Uncle." jawab Aiziel dengan wajah melasnya.
"Ya sudah, tapi kamu hati-hati dan ingat jangan sampai keceplosan!!! Uncle tidak mau membuat mereka cemas." ujar Dhana seraya menunjuk wajah keponakannya itu.
"Siap, Bos!!! Ziel pergi dulu ya, Uncle. Assalamualaikum." jawab Aiziel yang menyalami punggung tangan sang uncle.
"Wa'alaikumsalam..."
Dhana tersenyum simpul, menggeleng kepala melihat tingkah sang keponakan yang sudah hilang dari pandangan mata. Dhana termenung, merasakan gejolak hati yang sangat berbeda dan pastinya sangat tidak enak, membuatnya semakin gelisah.
Drrrrttt...
Getaran benda pipih yang bersemayam di dalam saku celana, membuyarkan lamunan. Dengan cepat, Dhana merogoh sakunya, meraih benda pipih cerdas yang tak gentar memanggil si pemilik untuk segera diangkat. Namun alih-alih menjawab panggilan, dahi Dhana malah mengeryit heran tatkala nomor asing tercantum di depan layar ponselnya.
"Assalamualaikum, hallo... maaf dengan siapa saya berbicara?" ujar Dhana yang sebenarnya ragu-ragu mengangkatnya.
"Apakah saya bisa bicara dengan Pak Dhana? Wali dari siswa SMP Jaya Mandiri yang bernama Damar Prasetya Nandala?" ujar sosok penelepon di seberang sana.
"Ya, saya sendiri. Ini dengan siapa ya?" jawab Dhana yang semakin penasaran.
"Saya dengan kepala sekolah SMP Jaya Mandiri, Pak. Saya ingin memberi kabar kalau putra anda mengalami kecelakaan. Apakah anda bisa datang ke rumah sakit sekarang juga Pak?" ujar sosok lembut itu.
Dhana terhenyak, kata-kata dari sosok penelepon di seberang sana membuat tubuhnya melemah tak terkendali. Dhana terduduk lemas, tak sanggup menahan berat tubuhnya yang ditambah dengan beban masalah baru kali ini. Air mata pun mengalir tanpa permisi, menggambarkan pikirannya yang sedang tidak baik.
"Pak Dhana... hallo, apakah anda masih berada di sana, Pak?" ujar sosok wanita yang menghubungi Dhana.
"Ya, saya akan segera ke sana!!!"
Dhana beranjak, mengambil langkah lebar menuju pintu utama, bergegas menuju ke arah mobil dan melesat dengan kecepatan super tinggi, menyusuri ruas jalan ibu kota. Bibirnya bergetar, menahan tangis yang ingin tumpah di saat itu juga, namun tiada siapa pun yang bisa ia jadikan teman untuk bersandar, membuat Dhana mengurungkan niatnya dan memilih fokus ke arah jalan.
__ADS_1
"Ya Allah... selamatkan putraku!"
***
"Wulan... kamu tenang ya. Damar pasti baik-baik saja di dalam. Aku akan terus menemani kamu sampai Damar siuman."
Isak tangis Wulan semakin terdengar pilu, memancing air mata Rainar yang sedang berusaha menenangkannya sejak mereka sampai di rumah sakit. Sementara Damar berada di dalam UGD, memperjuangkan hidup dan mati akibat kecelakaan tabrak lari.
Kinan menggiring matanya, menatap sendu Wulan yang masih menangis sesegukan, menantikan kabar dari dokter, berharap kalau sang mas kembar akan baik-baik saja. Setelah menghubungi orang tua dari siswanya itu, Kinan beranjak, menghampiri Wulan yang duduk di kursi tunggu bersama Rainar.
"Wulan... kamu yang sabar dulu ya, Nak. Kakak kembar kamu pasti baik-baik saja. Percaya sama Ibu! Damar anak yang baik. Allah pasti menyayanginya dan pasti akan menolongnya." tutur Kinan yang berusaha menenangkan Wulan.
Wulan mengangguk, berusaha mengontrol diri untuk tidak menangis lagi di depan sang guru, Rainar dan juga Zivana yang ikut hadir bersama sang bunda. Gadis itu berdecak kesal, melihat sang bunda yang berjongkok di depan Wulan seraya menenangkannya. Namun seketika, seringai tipis pun terbit di kedua sudut bibirnya, menatap sinis Wulan yang sesekali melirik ke arahnya.
"Kinan..."
Kinan terperanjat, menoleh cepat ke arah sumber suara yang menghampirinya yang tengah berjongkok di depan siswinya.
"Mas Gibran..."
Kinan beranjak, menyeka air matanya yang ikut menetes tanpa izin saat melihat Wulan. Lalu menghampiri sang suami yang datang setelah beberapa menit yang lalu ia sempat menghubunginya, memberitahu peristiwa tabrak lari yang dialami oleh Damar.
"Bagaimana dengan keadaan siswa kamu? Kamu sudah mengurus semuanya, bukan?" tanya Gibran seraya meraih tangan Kinan.
"Sudah, Mas. Bagaimana pun juga kejadian ini terjadi tepat di depan sekolah. Jadi kita harus tetap bertanggung jawab." jawab Kinan yang terlihat mencemaskan Damar.
"Memang apa yang terjadi? Kenapa bisa siswa kamu itu mengalami kecelakaan di depan gerbang sekolah?" tanya Gibran.
Kinan menghela nafas panjang, mengambil tenaga untuk bisa menceritakan semuanya pada sang suami seperti yang sudah Rainar ceritakan kepadanya selama di perjalanan. Gibran terdiam, mendengar cerita singkat namun jelas dari sang istri. Sesekali Gibran menoleh ke arah Zivana yang ikut menoleh ke arahnya, memasang raut wajah sedih seakan ikut merasakan kesedihan Wulan.
"Apakah kamu yakin kalau Zivana tidak terlibat dalam masalah ini?" tanya Gibran yang terlihat waspada dengan sikap sang putri.
"Tapi aku tidak yakin, Sayang. Aku merasa kalau putriku itu ikut terlibat walaupun tidak secara langsung." ujar Gibran yang berbisik.
"Sebenarnya aku juga, Mas. Tapi setelah melihat langsung rekaman kamera CCTV yang dikirim security, Zivana memang tidak ada hubungannya dengan tabrak lari ini. Sejak semua siswa pulang sampai kejadian ini terjadi, dia tetap bersama denganku di ruangan." jawab Kinan yang masih berbisik.
Gibran mendesah lirih tatkala matanya menangkap air mata yang keluar dari mata putrinya itu. Sebagai seorang ayah untuk Zivana, Gibran sangat mengenal putrinya yang terkenal bangor dan petakilan. Gibran juga sangat tau dengan sikap Zivana saat ini hanya sekedar pencitraan di hadapannya. Sementara Zivana tersenyum ke arah sang papa, lalu beranjak mendekati keduanya.
"Bunda... Zivana lapar sekali. Kita pergi mencari makan yuk!" ujar Zivana seraya bergelayut manja di tangan sang bunda.
Kinan terkejut, melirik Zivana yang sudah menempel erat di lengannya, lalu melirik Gibran yang tampak mengangguk, seakan menyuruh sang istri untuk menuruti Zivana.
"Aku pergi sebentar ya, Mas. Tolong jaga Wulan. Dia adik kembarnya Damar." ujar Kinan seraya meraih tangan sang suami.
"Ayo, Bunda! Zivana sudah lapar!!!" pekik Zivana yang menyela pembicaraan Kinan.
Gibran menghela nafas berat, mengangguk kemudian seraya mengelus bahu sang istri, setelah melihat tingkah Zivana yang sangat tidak sopan di saat seperti ini. Jika tidak ia tahan, bisa saja emosinya ikut membeludak saat ini juga melihat tingkah Zivana. Entah kenapa Gibran merasa sangat yakin kalau sang putri terlibat ikut merencanakan tabrak lari ini bersama Bima, siswa bangor akut itu. Namun Gibran tidak akan gegabah, memilih untuk tetap mengawasi sikap sang putri dari jarak jauh.
Ceklek!
Suara pegangan pintu membuyarkan lamunan Wulan, Rainar dan Gibran yang masih setia menunggu kabar dari dokter. Dari arah dalam UGD keluar lah seorang dokter berparas cantik yang mengambil langkah lebar mendekati ketiganya.
"Bagaimana kondisi pasien Dok?" tanya Gibran yang mewakili Wulan dan Rainar.
"Alhamdulillah kondisi pasien sangat baik, Pak. Hanya luka di dahinya yang cukup dalam dan membuat pasien jatuh pingsan. Tapi Bapak tidak perlu khawatir karena dia baik-baik saja dan saat ini dia sedang tidur karena masih terpengaruh oleh obat bius." jawab dokter cantik seraya menenangkan.
"Syukurlah kalau begitu terima kasih, Dok." ujar Gibran yang tersenyum lega.
"Sama-sama, Pak. Saya permisi dulu." jawab dokter cantik itu dengan senyum ramah.
__ADS_1
Gibran mengangguk tak kalah ramah, mempersilakan dokter itu pergi untuk melanjutkan aktivitasnya. Sementara Wulan dan Rainar yang duduk di kursi tunggu, tak henti-hentinya mengucap syukur atas kabar yang diberitahu dokter cantik nan ramah itu.
Gibran tersenyum getir, melihat kedua anak yang tengah duduk di kursi tunggu itu. Tapi seketika dahinya mengerut, memperhatikan dengan seksama wajah gadis kecil itu, yang sempat dititipkan sang istri padanya namun baru ia lihat secara jelas saat ini. Gibran pun melangkah, mendekati Wulan dan Rainar di kursi tunggu ruang UGD.
"Kalian ini keluarga pasien?" tanya Gibran yang masih terfokus pada wajah Wulan.
"Iya, Pak. Saya sahabat pasien dan Wulan adiknya pasien. Bapak ini siapa ya?" jawab Rainar yang mewakili Wulan dan bertanya.
"Saya Gibran, pemilik semua property Jaya Mandiri. Kalian pasti tidak mengenali saya, bukan? Karena saya memang tidak pernah bertemu langsung dengan para siswa-siswi di sekolah." tutur Gibran seraya tersenyum.
Wulan dan Rainar saling pandang, tidak menyangka akan bertemu dengan sang pemilik sekolah yang selama sekolah di sana, tidak pernah mereka ketahui bentuk wajahnya seperti apa. Dan kali ini, mereka bisa bertemu langsung walaupun di saat situasi yang tidak tepat.
"Jadi Bapak pemilik TK hingga SMA Jaya Mandiri itu? MasyaAllah... ternyata Bapak tampan sekali ya, seperti saya." ujar Rainar yang masih terperangah melihat Gibran.
Gelak tawa Gibran bergema seketika saat mendengar perkataan Rainar yang sangat menggelitik perutnya, memancing Wulan untuk ikut tertawa mendengar cerotehan sahabatnya itu. Untuk sesaat air matanya menguap begitu saja setelah mendengar kabar baik mengenai kondisi Damar dan berharap agar sang mas kembar segera sadar dari tidur panjangnya.
"Baru kali ini saya mendengar ada orang yang memuji saya seperti ini. Terima kasih ya atas pujianmu. Kamu juga tidak kalah tampan. Oh iya, siapa nama kalian Nak?" ujar Gibran yang berusaha menghentikan gelak tawanya dan ikut duduk.
"Saya Rainar, Pak. Dan ini Wulan." jawab Rainar yang merangkul bahu sahabatnya.
"Wulan... tapi kenapa sejak tadi dia diam saja?" tanya Gibran seraya melirik Wulan.
"Wulan... Wulan tuna rungu-wicara, Pak. Jadi dia tidak bisa bicara." jawab Rainar seraya melihat Wulan yang menunduk.
Gibran terhenyak, tidak menyangka kalau salah satu siswi di sekolah miliknya itu ada siswi yang mempunyai kebutuhan khusus seperti Wulan. Selama ini, ia tidak pernah tau bagaimana siswa-siswi di sekolahnya, baik itu dari Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Menengah Atas. Sebagai pemilik, Gibran hanya mempercayai orang-orang kepercayaannya untuk mengurus sekolah seperti yang dipegang alih oleh sang istri.
"Maaf ya, Wulan. Saya tidak tau." ujar Gibran yang menoleh ke arah gadis itu.
Wulan mengangguk, mengukir senyuman yang selalu ia berikan pada semua orang. Semua orang yang baru mengetahui kalau dirinya tidak bisa berbicara dengan normal. Sementara Gibran masih menyelidik wajah Wulan yang membuatnya tidak asing.
Siapa sebenarnya Wulan ini? Kenapa wajahnya sangat mirip dengan sosok seorang wanita yang sedang aku cari selama ini. Wulan... dia mengingatkan aku dengan gadis anak dari pembu..... Gumam Gibran dalam hati.
Langkah lebar seseorang membuyarkan lamunan Gibran, memutus pembicaraan yang ada di dalam hati saat memandang wajah Wulan. Sosok pria itu melewatinya, menghampiri dan memeluk Wulan yang tengah duduk bersamanya dan Rainar. Membuat Gibran beranjak, mengulas senyum ke sosok pria yang terlihat lebih muda dari usianya dan memeluk Wulan.
"Maaf, Pak. Apakah anda wali dari siswa yang bernama Damar?" tanya Gibran.
"Iya, Pak. Saya Dhana, ayahnya Damar Wulan. Bagaimana dengan kondisi anak saya, Pak? Apakah anak saya baik-baik saja?" jawab Dhana yang terlihat panik.
"Pak Dhana tidak perlu khawatir. Kondisi Damar baik-baik saja dan saat ini Damar masih istirahat karena pengaruh obat bius yang diberikan oleh Dokter." tutur Gibran.
Dhana menghela nafas panjang, melepas kekhawatiran yang menyesakkan dada selama di perjalanan menuju rumah sakit, mengucap syukur atas keselamatan sang putra. Dhana menoleh ke arah Wulan dan Rainar, mengulas senyum lega tak terkira setelah mendengar penjelasan singkat dari Gibran.
"Mas... bagaimana kondisi Dam..."
Pertanyaan Kinan yang baru kembali dari kantin setelah mengajak sang putri makan siang terpangkas cepat tatkala matanya menangkap sosok yang sangat ia kenali. Tak berbeda jauh dengan Dhana, guratan kecemasan yang ada di wajahnya seakan hilang, berubah menjadi pias saat melihat sosok yang memanggil lawan bicaranya dengan panggilan manis layaknya seperti pasangan suami istri.
Kinan... Gumam Dhana dalam hati.
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
__ADS_1