Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 129 ~ Anak Muda vc Orang Tua


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Apa sih yang ingin Mas Al bicarakan pada kami?”


Syahil pun akhirnya bersuara, mengeluarkan keluh kesah yang sejak tadi sudah berotasi penuh di dalam kepala karena menahan penasaran, disambut dengan anggukan oleh Wulan yang juga tak kalah penasaran, menatap Aifa'al yang tiba-tiba bungkam.


Setelah ritual makan malam spesial selesai Aifa'al yang tak ingin menunda waktu lagi bergegas menarik tangan Wulan menuju lantai atas, membuat yang lainnya mengekori, penasaran dengan topik pembicaraan Aifa'al yang tertunda terus sejak tadi. Sempat mendapat kendala di saat Aifa'al tiba-tiba menarik tangan Wulan setelah selesai makan, namun kendala kecil mampu Aifa'al selesaikan dengan baik hanya dengan satu respon.


"Mas... bicara dong!" seru Syahil, penasaran.


"Iya Al, jangan membuat kami penasaran seperti ini." timpal Aiziel.


"Ini tentang peneror Adek di malam yasinan waktu itu!" seru Aifa'al.


"Maksud Mas? Mas sudah menemukan orangnya?" tanya Syahal.


"Orang itu cukup dekat dengan Mas dan Syahil!" jawab Aifa'al.


Syahil membuka matanya lebar, menatap heran penuh tanda tanya sang mas tengah yang tiba-tiba menyangkut pautkan namanya dengan peneror malam itu. Bukan hanya Syahil saja, namun Aiziel dan Syahal pun ikut membulatkan mata penasaran.


Namun tidak untuk Damar dan Wulan yang sudah mendengar cerita sang mas kembar saat mereka masih berada di sekolah. Perkataan Aifa'al sukses membuat mereka terusik, teringat dengan pembicaraan panjang Damar dengan Kinan di ruang kerjanya tadi pagi.


"Dimas...! Benar 'kan Mas?" timpal Damar, salah satu alisnya terangkat.


"Kamu tau dari mana Damar?" tanya Aifa'al, terkejut kalau Damar sudah tau.


"Bu Kinan, Mas. Bu Kinan yang memberitahu Damar." jawab Damar.


"Bu Kinan? Bagaimana caranya gurumu itu bisa tau?" tanya Aifa'al, heran.


Damar menghela nafas panjang, sebelum rentetan kalimat panjang di kepalanya siap untuk ia ceritakan di depan para masnya tentang apa yang ia dengar langsung dari Kinan, disambung dengan cerita panjang Aifa'al yang ia dapatkan dari Kenzie, bahwa Dimas telah mengkhianati Bima dan ingin mengambil posisi Bima sebagai kapten geng motor.


Tidak sampai di sana, cerita Damar semakin berlanjut saat Aiziel menanyakan penyebab Wulan yang sempat jatuh pingsan. Membuat Aiziel terperangah, mengetahui semuanya tentang Bram dan adiknya yang sempat ditolong oleh kedua adik kembarnya itu. Namun berkat Wulan yang bertindak, meyakinkan Aiziel bahwa dirinya sudah baik-baik saja.


"Dimas! Lagi-lagi dia yang mengganggu kalian!" ujar Syahil, menggeram.


"Tapi cara Bu Kinan hebat loh." timpal Syahal, memuji kepala sekolah sang adik.


"Musuh kita semakin bertambah! Kalian harus lebih hati-hati! Apalagi tidak hanya Dimas, Bram juga sudah berani menampakan wajahnya di depan Adek!" seru Aiziel.


"Kalau Dimas, Al sendiri masih bisa menghadapinya, Mas. Yang sulit saat ini adalah Gibran, di mana lelaki bangkotan itu sekarang? Selama dia belum tertangkap, ketenangan keluarga besar kita akan terus terancam!" jawab Aifa'al, melihat Aiziel.


"Mas Al tau dari mana kalau Dimas menjelma jadi anak buahnya Gibran sekarang?" timpal Syahil yang tidak bisa menahan rasa penasaran di dalam hatinya saat ini.


"Kenzie mendatangai Mas tadi pagi, tidak berselang lama setelah kalian kembali masuk ke dalam kampus untuk melanjutkan mata kuliah. Ken menceritakan semuanya pada Mas. Tindakan Dimas semakin semena-mena pada anak-anak lainnya setelah geng Tiger bergabung dengan Black Moon. Dan Mas juga sempat datang ke..."


"Datang ke mana Mas?" tanya Syahil, mengeryit heran.


Aifa'al terbungkam saat menyadari kalau penuturannya terlalu panjang tanpa rem, membuatnya hampir mengatakan sesuatu yang sebenarnya ingin sekali ia katakan. Sementara Aiziel, Syahal, Syahil dan Damar saling pandang heran, menangkap sikap Aifa'al yang mendadak aneh. Namun tidak dengan Wulan yang sepertinya mendapati sesuatu di balik manik sang mas tengah.


"Mas... jawab!!! Mas datang ke mana?" tanya Syahil lagi.


"Mas... Mas menemui Bima di kantor Polisi!!!" jawab Aifa'al.


Wulan menghela panjang seraya memicing saat mendengar kejujuran Aifa'al yang tak hanya menguatkan dugaan sementara nya, namun juga membenarkan semua dugaannya kalau Aifa'al memang menemui Bima di kantor Polisi.


Lalu bagaimana dengan ekspresi Aiziel, Syahal, Syahil apalagi Damar? Tentu saja, keempat pemuda itu tempak geram.


"Untuk apa Mas datang ke sana?" sahut Damar, tidak suka pastinya.


"Mas hanya ingin memastikan kalau perkataan Ken benar, Damar!" jawab Aifa'al.


"Pasti tidak hanya itu! Bima juga minta tolong pada Mas, bukan?" pungkas Damar.


"Kamu benar! Dan hal itulah yang ingin Mas bicarakan dengan kalian!" ujar Aifa'al.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan tentang anak itu, Al! Tanpa kamu membicarakan masalah anak itu pun, Mas yakin kalau kamu pasti sudah tau apa jawaban kami semua!" timpal Aiziel.


"Al tau, Mas. Bahkan sangat tau dan Al pun sudah menolaknya. Tapi ada satu hal yang mungkin saja masih bisa kita pertimbangkan bersama untuk Bima, Mas." jawab Aifa'al.


"Tidak ada pertimbangan untuk anak seperti Bima, Mas! Dia sudah jelas-jelas bersalah, lalu mau pertimbangan apa lagi?" pungkas Syahil, geram mendengar penuturan Aifa'al.


"Kita bisa mengajukan persyaratan, atas imbalan kalau kita mau membebaskan dia! Dan Bima sendiri yang mengatakan hal itu! Awalnya Mas memang ragu, tapi Mas pikir tidak ada salahnya jika kita menggunakan kesempatan ini, Syahil!" ujar Aifa'al, tenang.


"Persetan dengan syarat, Mas! Bima tidak akan pernah bisa dipercaya!" seru Syahil.


"Tapi setidaknya kita pikirkan dulu!" seru Aifa'al, berusaha menahan geram.


"Tidak ada yang perlu dipikirkan, Mas!!! Bu Kinan saja menolak untuk membantu Bima tanpa harus memikirkan pertimbangan, lalu kenapa Mas jadi peduli pada anak itu?" pungkas Damar, tak kalah geram.


"Sudahlah, Mas! Membantu Bima untuk keluar dari penjara itu hanya sesuatu hal yang sangat mustahil dan tidak akan pernah terjadi! Kami tidak setuju!" timpal Syahal.


Aifa'al menghela panjang, dugaan yang membuatnya gamang sebelum menceritakan permintaan Bima yang memohon iba padanya saat di kantor Polisi kini telah terjadi, hingga perdebatan di antara dirinya dengan Aiziel, Syahal, Syahil dan Damar tak dapat terelakkan lagi.


Sementara Wulan yang menjadi pendengar setia sejak tadi pun hanya bisa menghela berat, perdebatan para masnya itu sungguh membuatnya pusing saat ini.


"Oke...! Mas akan mengikuti keinginan kalian! Membiarkan Bima menjalani hukuman atas perbuatan jahatnya!" seru Aifa'al, mengalah dari pada harus berdebat lebih panjang.


"Keputusan itu lebih baik dari pada kita harus berdebat, Mas!" seru Damar, lirih


"Oke, Mas minta maaf." ucap Aifa'al, tertunduk pasrah.

__ADS_1


Perdebatan karena membahas perihal Bima akhirnya bisa dikendalikan oleh Aifa'al dengan baik, memilih mengalah dari pada berdebat. Toh Aifa'al pun juga tidak ingin membantu Bima untuk keluar dari penjara, apalagi berusaha membujuk Damar yang sudah jelas-jelas akan menolak.


Membuat semuanya terdiam kini, duduk bersandar di sofa yang ada di lantai atas, berusaha membuang jauh-jauh amarah yang menggerogoti hati karena nama Bima disebut-sebut di antara mereka.


Sementara Wulan yang hanya diam sejak tadi menggeser duduknya, mendekati Aifa'al yang tengah mengusap kepalanya gusar. Dielusnya lengan kekar sang mas, membuat Aifa'al terkesiap saat merasakan sentuhan lembut di lengannya, bersamaan dengan seutas senyum manis yang terukir di bibir Wulan, membuat Aifa'al tenang kini.


"Damar... bagaimana dengan pemilihan ketua osis itu? Apa sudah ada beritanya?" tanya Aifa'al, mengalihan pembicaraan agar emosi adik dan masnya itu segera hilang.


"Tidak ada harapan lagi, Mas!" jawab Damar, lirih.


"Jangan putus asa! Pemilihan ketua osis masih bisa kamu temukan di SMA nanti!" ujar Aifa'al.


"Iya, Mas. Terima kasih atas semangatnya." jawab Damar.


"Mas minta maaf ya, karena sudah membuat kamu emosi." ucap Aifa'al.


"Tidak masalah, Mas. Asalkan Mas tidak membahas anak itu lagi di depan Damar!" jawab Damar, tegas.


"Iya, Mas tidak akan membahasnya lagi. Tentang masalah Dimas, Mas akan memikirkannya nanti karena anak itu harus segera dihentikan!" ujar Aifa'al.


"Syahil akan membantu Mas!" sahut Syahil.


"Besok kita pikirkan lagi." ujar Aifa'al, tersenyum.


"Kalau begitu Mas mau ke bawah dulu ya." timpal Aiziel, beranjak.


"Syahal ikut, Mas!" sahut Syahal, ikut beranjak.


"Kalau begitu Damar mau istirahat! Adek jangan tidur terlalu malam ya!" ujar Damar, melihat Aifa'al dan Syahil lalu menoleh ke arah sang adik yang mengangguk patuh.


"Syahil juga ke kamar dulu ya, Mas, Dek." timpal Syahil, ikut beranjak.


Aifa'al hanya mengangguk, membiarkan semuanya pergi setelah pembicaraan panjang yang dibarengi dengan perdebatan menegangkan, meninggalkan dirinya bersama Wulan.


"Semuanya sudah bubar, Dek. Adek tidak ingin masuk kamar atau ke bawah juga?"


Wulan menggeleng cepat, menggeser duduknya lebih dekat dengan sang mas tengah, memeluk lengan kekar sang mas dengan erat. Membuat Aifa'al mengeryit tak paham, mendapati sikap sang adik yang mendadak manja padanya setelah sepersekian jam berlalu dan Wulan hanya diam, menyaksikan pembicaraan tegang yang berlangsung tadi.


"Adek kenapa? Ada yang sedang Adek pikirkan? Mas perhatikan sejak tadi, Adek hanya diam saja. Ada apa adik kesayangan Mas yang cantik jelita bak primadona nusantara?"


Wulan berdecak gemas, mendengar betapa panjangnya panggilan Aifa'al untuk dirinya, membuatnya langsung melepaskan pelukan eratnya dari lengan kekar sang mas tengah.


Sebenarnya ada sesuatu yang masih mengganjal hatinya, yaitu mimpi buruknya tentang sang mami yang terjadi di saat dirinya tak sadarkan diri. Namun Wulan memilih diam, tidak ingin memikirkan bunga tidur buruk yang sukses mengusik ketenangan hatinya saat ini, lebih memilih memikirkan sesuatu yang juga sukses mengusik pikirannya sejak tadi.


"Adek ingin Mas membantu Adek!" ujar Wulan dengan bahasa isyaratnya.


"Membantu Adek? Membantu apa?" tanya Afa'al, heran.


"Adek serius ingin Mas melakukan itu?"


"Adek serius, Mas! Dan jangan sampai ada yang tau!"


"Kalau mereka tau bagaimana Dek?"


Wulan menggiring matanya ke sekitar, memastikan kalau tidak ada seorang pun yang melihat apalagi menangkap gerakan bahasa isyaratnya tadi pada sang mas. Membuat Aifa'al mengeryit cemas, jika permintaan sang adik diketahui semua keluarga besarnya.


"Hanya kita, Mas! Asalkan Mas bisa menyimpan rahasia ini!"


"Tapi Dek, Mas tidak bisa..."


"Adek mohon, Mas! Hanya Mas yang bisa membantu Adek!"


"Tapi Dek, ini..."


"Adek mohon Mas!"


Aifa'al menghela berat, mengusap kasar wajahnya sebanyak kali, tengah berusaha menimbang permintaan sang adik yang sangat mustahil untuk ia lakukan. Sementara Wulan tampak mengiba, memohon agar sang mas mau membantunya untuk kali ini. Membuat Aifa'al tidak tega, melihat sang adik menatapnya penuh harap yang besar, hingga helaan nafas berat pun keluar lagi, membuatnya harus mengambil keputusan.


"Baiklah, Mas akan membantu Adek!"


***


"Apa yang sedang kamu pikirkan Dhana?"


Semilir angin malam kian berhembur kencang, menemani Dhana duduk di halaman rumahnya bersama dengan Ammar dan Sadha, sedangkan yang lainnya duduk santai bersama di ruang tamu, namun tidak dengan Pak Aidi dan Bu Aini yang memilih untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya karena tidak mampu lagi untuk berjaga lebih malam.


"Iya, Dhana. Mas perhatikan sejak tadi kamu melamun terus." timpal Sadha, tak kalah heran melihat sikap sang adik yang lebih banyak diam sejak tadi.


"Kamu masih memikirkan Mala, atau masalah Gibran yang tak kunjung selesai ini?" timpal Ammar lagi, berusaha untuk mengajak bicara sang adik.


"Dhana kepikiran adiknya Bram yang Mas ceritakan tadi." jawab Dhana, membenarkan posisi duduknya yang malas sebelumnya lalu melihat kedua masnya.


"Adiknya Bram? Tunggu, tunggu...! Jadi Bram punya adik? Tapi kenapa tiba-tiba kamu membahas Bram dan adiknya yang wujud aslinya saja kita tidak tau menau!" timpal Sadha yang belum mengetahui masalah Damar Wulan bertemu dengan Bram.


"Tadi siang Wulan bertemu dengan Bram, Sadha!" ujar Ammar, memberitahu Sadha.


"Apa? Di mana Mas? Kok bisa?" tanya Sadha bertubi-tubi.


"Damar Wulan menolong seorang gadis yang pingsan di pinggir jalan. Lalu mereka menolongnya dan membawa gadis itu ke rumah sakit. Tapi siapa sangka, kalau gadis yang mereka tolong itu adalah adik perempuannya Bram. Dan adiknya Bram mengidap penyakit kanker darah stadium tiga!" terang Ammar, menceritakannya pada Sadha.


Sadha terdiam, merasakan sesuatu yang tiba-tiba menyelimuti hatinya, rasa ingin tau bercampur rasa ingin segera meringkus Bram menguap begitu saja. Membuat Ammar menghela panjang, melihat tidak hanya Dhana yang terdiam kini, namun juga Sadha.

__ADS_1


"Kalian berdua pasti teringat Adek 'kan?"


Sadha dan Dhana pun tersentak, mendengar nama mendiang sang adik disebut oleh Ammar, membuat lamunan panjang keduanya buyar seketika.


"Mas juga merasakan hal yang sama. Mendengar cerita Damar tentang adiknya Bram, membuat Mas teringat almarhumah Adek. Mereka sama-sama sakit kanker darah dan Bram juga sama seperti kita, berjuang keras demi kesembuhan adiknya. Yang membedakan hanya keberuntungan, adiknya Bram masih kuat melewati semuanya sampai sekarang." tutur Ammar, pikirannya menerawang teringat dengan usaha sang adik untuk sembuh.


"Tapi Bram orang jahat, Mas!" pungkas Sadha.


"Tapi kita tidak tau, apa alasan Bram melakukan kejahatan, Sadha!" ujar Ammar.


"Memang untuk melakukan kejahatan itu harus ada alasannya?" cibir Sadha, kesal.


"Tentu saja! Seperti Gibran contohnya! Mungkin adiknya lah yang menjadi alasan Bram seperti ini." jawab Ammar, mengira.


"Tidak masuk akal!" pungkas Sadha, memalingkan wajahnya kesal.


"Tapi yang dikatakan Mas Ammar ada benarnya juga, Mas." timpal Dhana.


"Ohh, jadi kalian membela orang jahat itu sekarang?" pungkas Sadha, geram.


"Kamu salah paham, Sadha!" seru Ammar, menegasi prasangka buruk sang adik.


Sadha berdecak marah, menanggapi perkataan Ammar yang mengarah ke jalur pembelaan untuk seorang Bram. Sementara Ammar hanya menggeleng kepala.


"Bagaimana kalau kamu tanyakan pada Kinan siapa Bram sebenarnya Dhana?"


"Untuk apa Mas?"


"Agar kita tau bagaimana latar belakang Bram sebenarnya. Dengan begitu, mas tengahmu itu tidak berprasangka buruk terus pada orang jahat, yang mungkin saja dibalik sifat jahatnya itu masih tersimpan sisi baiknya yang tidak pernah dia perlihatkan."


Mata Dhana membulat, menoleh ke arah Sadha yang semakin mendengus kesal, mendengar sindiran sang mas sulung yang membuatnya memalingkan wajahnya.


"Ayo Dhana, tunggu apa lagi!"


"Iya Mas..."


Dhana pun meraih ponselnya, mencari nomor Kinan yang tersimpan di dalam ponsel sebagai kepala sekolah anak-anaknya dan partner kerja sama dalam mengusut kasus keberadaan Gibran yang tak kunjung menampakan batang hidungnya ke permukaan.


"Assalamualaikum Bu Kinan..."


"Wa'alaikumsalam Pak Dhana... ada yang bisa saya bantu?"


"Saya ingin menanyakan sesuatu pada Bu Kinan. Apakah boleh?"


"Ya, tentu saja boleh Pak Dhana. Tentang apa itu?"


"Bram...! Saya ingin mengetahui latar belakang lelaki itu!"


"Kenapa Pak Dhana? Kenapa tiba-tiba anda ingin tau latar belakang Bram?"


Dhana menghela nafas panjang, hingga akhirnya pertemuan putrinya dengan lelaki bernama Bram di rumah sakit tadi siang harus diketahui juga oleh Kinan. Sementara Ammar dan Sadha yang dapat mendengar pembicaraan keduanya dengan sangat jelas melalui loudspeaker ponsel Dhana hanya saling pandang. Pasalnya mereka sudah tau, bagaimana hubungan Dhana dengan Kinan di masa lalu seperti apa, hingga membuat keduanya bertemu kembali dan harus bersikap professional, kaku dan formasl seperti ini.


"Bram itu berasal dari keluarga biasa, Pak Dhana. Dia yatim piatu dan mempunyai satu orang adik perempuan yang sedang berjuang melawan penyakit kanker darah. Bram sudah cukup lama bekerja dengan Gibran, dan yang membuat Bram betah bekerja dengan Gibran karena gajinya yang sangat besar, asalkan Bram bersedia melakukan apapun perintah Gibran." terang Kinan, bercerita sedikit tentang siapa Bram.


Dhana terdiam, melihat ke arah Ammar dan Sadha yang juga melihat ke arahnya setelah saling melempar pandangan tak percaya, bahwa tebakan Ammar benar tentang diri Bram.


"Baiklah, Bu Kinan. Terima kasih atas informasinya."


"Sama-sama, Pak Dhana. Saya akan memerintahkan anak buah saya untuk mencari keberadaan Bram secepatnya. Saya akan menghubungi anda jika sudah ada kabar."


"Baik, terima kasih Bu Kinan. Assalamualaikum..."


Pembicaraan berakhir, Dhana langsung menyimpan ponselnya ke dalam saku, melihat Ammar yang tengah menatap tajam ke arah Sadha.


"Kamu dengar sendiri Sadha? Sangat jelas dari penjelasan Kinan, bahwa Bram melakukan kejahatan demi mendapatkan uang dari Gibran untuk membiayai adiknya."


"Maaf Mas..."


"Masih ada harapan untuk kita bisa mendapatkan informasi di mana Gibran sekarang."


"Maksud Mas? Melalui Bram?"


"Tepat sekali, Dhana! Mas yakin kalau Bram masih memiliki sisi kemanusiaan di dalam dirinya, karena dia sangat menyayangi adiknya dan rela berkorban demi adiknya!”


"Lalu apa rencana Mas?"


Ammar menghela panjang, harap-harap jika sarannya kali ini berhasil membebaskan keluarga besarnya terutama keluarga Dhana dari belenggu terror dan ketakutan Gibran.


"Kita harus menemukan Bram dan adiknya!"


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇

__ADS_1


__ADS_2