
...🍁🍁🍁...
"Papa... Pa... Papa di mana?"
Di kediaman sebuah rumah besar nan elite, Zivana yang sejak siang mengurung diri di dalam kamar seperti beruang yang tengah hibernasi di saat musim dingin datang, kini tampak berjalan menuruni tangga, sesekali ia juga berteriak mencari keberadaan sang papa di dalam rumah itu. Namun orang yang dicari tidak kunjung menampakan batang hidungnya.
"Zivana... kenapa kamu berteriak seperti itu? Tidakkah kamu lihat hari sudah larut malam!"
Zivana mendengus kesal, melihat sang bunda yang memergoki dirinya tengah berteriak saat suasana malam terasa semakin pekat. Zivana berbalik, berjalan menghampiri sang bunda.
"Papa mana Bunda?" tanya Zivana.
"Papa pergi ke luar negeri tadi siang." jawab Kinan yang masih dingin tanpa melihat sang putri.
"Kenapa Papa tidak pamit pada Zivana? Main pergi saja! Menyebalkan!" sungut Zivana yang kesal seraya menghempas tubuhnya duduk di samping Kinan.
"Papa buru-buru jadi dia tidak sempat pamit." timpal Kinan yang masih enggan menoleh ke arah sang putri.
Zivana menghela nafas kasar, menyadari sikap dingin sang bunda, membuatnya terasa sesak.
"Bunda masih marah ya sama Zivana?" ujar Zivana yang menoleh ke arah Kinan.
"Bunda tidak marah! Bunda kecewa!" jawab Kinan yang dingin, melebihi kutub utara.
"Jangan marah lagi dong, Bun. Zivana tidak bisa Bunda diamkan seperti ini." ujar Zivana, merengek seraya meraih tangan sang bunda.
Kinan menghela nafas panjang, berusaha mengontrol perasaannya agar tidak mudah tergoda dengan bujuk rayuan manis Zivana, bersikap tegas layaknya sebagai seorang ibu yang tengah memberi hukuman pada anaknya.
"Bunda... jangan marah lagi!!! Bunda katakan, apa yang bisa membuat Bunda berhenti marah pada Zivana? Katakan Bunda!" ujar Zivana lagi.
"Ada satu hal! Tapi Bunda tidak yakin kalau kamu mau melakukan hal ini!" jawab Kinan.
"Apa itu Bunda? Katakan saja, apa yang bisa Zivana lakukan agar Bunda tidak marah lagi?" tanya Zivana yang semakin gencar, tidak ingin sang bunda terus mendiamkan dirinya.
"Kamu harus meminta maaf secara langsung pada Damar dan Wulan!!!" jawab Kinan, tegas.
Zivana terperangah, tidak mungkin baginya untuk melakukan permintaan yang menurut pikirannya sangat konyol dan tidak mungkin.
"Zivana tidak salah dengar Bun? Minta maaf pada mereka? Tidak, Bunda! Untuk yang satu itu, Zivana tidak bisa melakukannya!" jawab Zivana yang menggeleng kepalanya cepat.
"Kalau tidak bisa, ya sudah! Tidak masalah! Semua pilihan ada di tangan kamu, Zivana!!! Dan jangan salahkan Bunda, jika Bunda akan terus mendiamkan kamu seperti ini." cercah Kinan tanpa melihat Zivana lalu beranjak.
Kinan berlenggang pergi, masuk ke dalam kamarnya kembali karena waktu malam masih panjang, tidur dan istirahat dengan nyaman adalah pilihan yang paling tepat untuknya. Sementara Zivana yang ditinggal tidur oleh sang bunda hanya bisa mendengus kesal, membuat bibirnya mengerucut, cemberut.
***
"Iya, Mam. Ini ponsel Damar!"
Imam tersenyum lega, setidaknya satu per satu petunjuk mulai ia dapatkan untuk mencari anak sahabatnya sekaligus kedua keponakannya itu.
__ADS_1
"Maaf Pak, apakah saya boleh bertanya lagi?" tanya Imam yang lebih tenang saat berbicara.
"Boleh, Mas. Silakan saja ingin bertanya apa." jawab si Bapak paruh baya itu dengan ramah.
"Apa Bapak sempat membawa penumpang yang wajahnya seperti dua orang yang ada di dalam foto ini?" tanya Imam yang melihatkan foto Damar dan Wulan pada si Bapak itu.
Si Bapak paruh baya terdiam, tampak sedang berpikir dan mengingat wajah yang ada dalam foto. Membuat Sadha, Dhana dan Imam saling pandang, tegang menunggu jawaban si Bapak paruh baya yang ramah itu.
"Iya, Mas. Kedua anak ini sempat naik taksi saya sekitar jam tiga. Mereka naik di depan rumah besar yang ada di alamat..."
"Jati negara nomor 10?" potong Sadha.
"Betul! Saya mendapat telepon dari seorang anak muda dan anak muda itu juga sempat mengantar kedua anak dalam foto ini sampai ke depan gerbang rumah itu. Anak muda itu juga sempat berpesan pada saya untuk tetap hati-hati dan mengantar kedua adiknya pulang dengan selamat." ujar si Bapak paruh baya itu.
"Anak muda itu pasti Syahal." timpal Sadha.
"Lalu apa lagi yang Bapak ketahui?" timpal Imam yang ingin tau lebih lanjut cerita itu.
"Di pertengahan jalan, anak muda yang ada dalam foto itu meminta saya untuk berhenti sebentar di Minimarket Swalayan, Mas. Jadi saya mengantar mereka ke sana. Saat anak muda itu turun dan masuk ke Minimarket bersama anak perempuan yang bersamanya, tiba-tiba saja anak seorang anak muda yang menghampiri saya. Anak muda itu memakai jaket hitam dan helm. Anak muda itu menyuruh saya pergi karena dia yang akan mengantar kedua anak di dalam foto ini sampai ke rumah. Anak muda itu juga mengatakan kalau dia adalah kakak dari kedua anak di dalam foto ini." jawab si Bapak paruh baya yang menceritakan.
Sadha, Dhana dan Imam saling pandang, mendengar penjelasan panjang si Bapak itu sungguh membuat mereka tercengang takut.
"Kakak? Siapa yang Bapak ini maksud Mas?" tanya Dhana yang menoleh ke arah Sadha.
Sadha terdiam, berpikir keras siapa gerangan orang yang dimaksud oleh si Bapak ini. Untuk sesaat Sadha tampak serius berpikir, membuat Dhana dan Imam semakin tegang. Namun sesaat kemudian, mata Sadha terbuka lebar, tatkala nama seseorang terlintas begitu saja di dalam pikirannya saat ini.
"Apa yang Mas Sadha pikirkan?" tanya Imam.
"Apa yang tidak mungkin Mas? Jangan membuat Dhana takut seperti ini?" timpal Dhana.
"Aifa'al!!! Tidak mungkin dia melakukan ini 'kan?" jawab Sadha yang melihat keduanya.
Dhana dan Imam saling pandang, membuat pikiran Dhana ikut menerawang seperti mas tengahnya, namun sekuat dan sebisa mungkin Dhana menepis rasa curiga yang mendera. Bagaimana pun juga Aifa'al adalah anaknya, anak kakak sulungnya yang tidak mungkin melakukan tindakan kriminal seperti ini.
"Istigfar, Mas! Al tidak mungkin melakukan tindakan buruk pada adiknya. Walaupun Al membenci Wulan, tapi Imam yakin kalau Al tidak akan berani mencelakai adik-adiknya." timpal Imam seraya menenangkan Sadha.
"Mohon maaf Mas, jika saya menyela sedikit pembicaraan kalian. Jika kalian ingin melihat dan mencari tau, sepertinya rekaman CCTV yang ada di dashboard mobil taksi saya bisa membantu. Kebetulan arah kamera CCTV itu menghadap ke arah belakang untuk kami para supir menghindari kejadian tak terduga di saat dalam perjalanan." timpal si Bapak paruh baya.
"Benarkah seperti itu Pak?" tanya Dhana.
"Iya, Mas. Tunggu sebentar! Biar saya ambil dulu memori dari kamera CCTV itu." jawab si Bapak paruh baya yang tersenyum ramah.
Dengan cepat, si Bapak paruh baya nan ramah itu masuk ke dalam taksinya, membuka kamera CCTV untuk mengambil memori yang sempat merekam perjalanan taksi hari ini. Sementara Sadha, Dhana dan Imam menunggu, sesekali mereka melihat apa yang dilakukan si Bapak itu, tak berhenti mengucap syukur atas jalan serta petunjuk yang diberikan Sang Pencipta.
"Ini Mas memori kameranya. Semoga dengan memori ini, kalian bisa menemukan anak-anak muda yang tampan dan manis itu secepatnya." ujar si Bapak paruh baya seraya mengulurkan tangan, memberikan memori itu pada Dhana.
"Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak. Tolong bantu do'a agar kedua anak saya bisa ditemukan secepat mungkin dan semoga kebaikan Bapak dibalas oleh Allah SWT." tutur Dhana yang berbinar, terlihat tenang kali ini.
"Aamiiiin... semoga di mana pun anak-anak Mas berada, mereka selalu dilindungi Allah." jawab si Bapak paruh baya yang membantu.
__ADS_1
Sadha dan Dhana tersenyum lega, bersyukur dengan titik terang keberadaan Damar Wulan akan segera terlihat di depan mata, membuat Bapak paruh baya ikut merasakan apa yang tengah ketiganya rasakan saat ini.
"Ini ada sedikit rezeki untuk Bapak! Mohon Bapak terima ya." ujar Imam seraya memberi sebuah amplop coklat berisi uang.
"Tidak perlu, Mas. Saya ikhlas menolong. Jadi tidak perlu memberikan uang sebanyak ini." jawab si Bapak paruh baya yang menolaknya.
"Anggap saja ini rezeki anak-anak Bapak!!! Terima kasih sekali lagi. Kalau begitu kami permisi ya, Pak. Assalamualaikum." timpal Imam yang memberikan lagi amplop coklat berisi uang itu lalu pamit pergi.
Sadha, Dhana dan Imam bergegas pergi dari pelantaran tempat parkir taksi, meninggalkan sosok pria paruh baya yang menatap nanar amplop coklat di tangannya, membuatnya tidak percaya akan mendapat rezeki sebanyak ini.
"Ya Allah... semoga saja kedua anak Mas itu bisa segera mungkin ditemukan. Anak-anak Mas itu masih muda. Jangan biarkan Mas itu merasakan kehilangan anaknya seperti aku."
***
"Kenapa sampai sekarang Paklik, Uncle Dhana dan Paman Imam belum pulang juga ya Opa?"
Angin malam kian berhembus, membawa dingin menusuk tulang insan manusia yang masih berada di luar rumah, rasa kantuk kian mendera namun hati masih berselimut rasa khawatir, takut, dan gelisah. Memikirkan dua jiwa manusia yang belum menampakan titik terang keberadaannya, membuat semua yang menyayanginya tidak tenang sepanjang waktu.
Di teras depan rumah, terlihat Pak Aidi, Aiziel, Syahal dan Syahil duduk termangu, menunggu tiga pria dewasa yang pergi sejak tadi, sudah dua jam tapi batang hidung ketiganya belum juga terlihat. Sementara itu, di dalam rumah Vanny masih senantiasa menemani Bu Aini dan Mala yang masih menangis, kecemasan semakin tampak jelas di wajah ketiga wanita itu.
"Kamu sabar ya, Ziel. Sebentar lagi mereka pasti akan pulang. Harus butuh kesabaran untuk menghadapi masalah ini, Nak!" jawab Pak Aidi yang berusaha menenangkan Aiziel.
Aiziel menghela nafas kasar, berusaha untuk tenang dan tidak khawatir dengan situasi saat ini, namun apa lah daya hati yang lembut, hati yang menyayangi semua adik-adiknya tanpa perbedaan, membuatnya peran sebagai cucu sulung menjadi penting untuk melindungi dan menjaga semua adik-adiknya walaupun ikatan darah di antara mereka hanya sepupuan.
"Seharusnya Syahal tidak mendengarkan permintaan Damar dan membiarkan Damar pulang berdua dengan Adek." timpal Syahal.
Pak Aidi dan Aiziel menoleh cepat, menatap Syahal yang tertunduk sedih, merasa bersalah karena keputusannya membiarkan kedua adik kembarnya itu pulang. Sementara Syahil yang duduk di depan Syahal, seketika mendongak, menatap sendu mas kembarnya itu, rasa yang sama pun ikut menyelimuti hatinya.
"Ini bukan salah Mas Syahal! Ini semua karena Syahil. Andai saja Syahil tidak berbohong pada Mama dan Mas Syahal untuk menemui Mas Al, mungkin kejadian ini tidak akan menimpa kita. Damar dan Adek pasti sudah sampai di rumah."
Tangis Syahil yang tercekat pecah, membuat Aiziel yang berdiri di dekat tiang menghampiri adiknya itu, merangkul bahunya, menenangkan dan menguatkan agar Syahil tidak menyalahkan dirinya sendiri. Pak Aidi pun ikut mendekatinya, duduk bersama sang cucu.
"Kalian tau, Nak! Opa jadi teringat masa lalu karena melihat kalian saling menyalahkan diri sendiri seperti ini. Ada rasa bangga di dalam hati Opa saat melihat kalian merebut kesalahan yang sebenarnya bukan lah kesalahan kalian! Ammar, Sadha dan Dhana dulu juga seperti ini di saat kebenaran penyakit onty kalian terkuak. Mereka juga saling berebut salah, menyalahkan diri sendiri karena saling membohongi, saling menutupi sesuatu yang sangat penting karena permintaan onty kalian. Pesan Opa, kalian tidak perlu menyalahkan diri sendiri karena semua peristiwa dan masalah yang terjadi itu sudah tercatat di dalam Lauhul Mahfudz. Semuanya sudah ditakdirkan untuk terjadi, dan itu bukan kesalahan siapa pun yang ada di dunia ini, Nak."
Bagaikan hipnotis. Perkataan Pak Aidi sukses membuat tangis rasa bersalah Syahil berhenti, membuat kepala yang tadinya tertunduk sedih kini terangkat, menatap nanar wajah sang opa yang ikut basah dengan air mata. Hati ketiga pria tampan yang beranjak dewasa itu tercubit, menyadari bahwa sifat yang ada di dalam diri mereka itu adalah turunan dari sifat sang ayah.
Hening. Seketika suasana di teras rumah itu berubah menjadi hening, membuat racauan jangkrik yang bercanda terdengar dengan jelas, membawa keempat pria itu duduk termangu hingga tidak menyadari kedatangan mobil yang sejak tadi mereka tunggu-tunggu.
"Ayah, Ziel, Syahal, Syahil..."
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All 😇😇😇