
...☘️☘️☘️...
"Woi calon ketua osis!!!"
Riuh pikuk yang bergema kini telah hilang perlahan, seiring berjalannya waktu semua penghuni sekolah mulai beranjak, pulang ke rumah masing-masing untuk melakukan persiapan ujian besok lusa. Namun belum untuk penghuni sekolah yang satu ini, yang tak lain dan tak bukan adalah Bimantara.
Setelah menjalankan hukuman dari Kinan, membawa kedua orang tuanya ke sekolah walaupun harus memohon terlebih dahulu, pria remaja yang sebenarnya sudah dewasa itu menghampiri Damar, Wulan, dan Rainar dengan tatapan benci, berselimut emosi.
"Mau apa lagi lo? Mau ganggu gue sama adik gue lagi? Mau ketahuan Bu Kinan lagi lo, Bim?" cercah Damar yang masih setia berdiri di depan mading, bersama Rainar dan Wulan.
Bima berdecak kesal, memalingkan wajah sejenak dari tatapan Damar yang tak kalah tajam menakutkan. Membuat Wulan yang ada di sampingnya, beringsut ke belakang, menyembunyikan diri di balik tubuh Damar.
Seringai tajam muncul di wajah Damar, melihat raut wajah penuh kecewa rivalnya itu karena namanya tidak terpampang di depan mading sekolah, memberikan arti bahwa sang rival kalah sebelum perang.
"Sorry ya, Bim. Ternyata gue yang berhasil lolos seleksi dan sebentar lagi gue lanjut ke kampanye mandiri untuk bisa menjadi ketua osis. Gue cuma mau bilang, kalau lo sudah kalah sebelum perang dan gue menang!!!"
Gertakan rahang Bima yang mengeras terlihat menakutkan di mata Wulan. Namun tidak di mata Damar yang malah semakin menunjukan seringai tipisnya, menghadapi Bima dengan sangat tenang tanpa beban.
"Jangan percaya diri dulu lo, Dam! Gue belum sepenuhnya kalah dari lo! Lo lihat saja nanti!" tandas Bima yang menunjuk Damar dengan tatapan membunuhnya.
"Gue tunggu kejutan lo selanjutnya, Bim! Dan gue do'akan semoga kejutan kali ini akan berakhir tidak enak lagi buat lo biar bangor lo yang akut itu bisa sembuh total!" jawab Damar dengan santainya.
Damar meraih tangan Wulan dan Rainar, membawa mereka pergi meninggalkan siswa bangor seperti Bima yang berusaha keras menahan amarah demi melancarkan rencananya bersama Zivana. Sepeninggal Damar, Wulan dan Rainar, Bima merogoh saku celananya, meraih benda pipih pintar untuk menghubungi seseorang.
"Lakukan rencana kita! Sebentar lagi gue kasih lo aba-aba untuk beraksi!!!"
***
"Sebaiknya kamu hati-hati deh sama tuh orang, Mar!!!"
Damar pun tergelak, tidak mengindahkan perkataan Rainar yang memberi peringatan untuknya agar tidak terlalu melawan Bima. Sementara Rainar dan Wulan yang melihat itu, menghela nafas panjang, menggeleng kepala, heran dengan tingkah Damar.
"Aku serius loh, Mar! Sepertinya anak itu nekat. Dia bisa mencelakai kamu seperti kemarin. Dia hampir mau memukul kamu dari belakang dengan batu bata. Untung saja Bu Kinan datang tepat waktu, kalau tidak... ah, tidak bisa kubayangkan, Mar!" ujar Rainar yang berjalan dan menoleh ke arah Damar.
"Sudahlah, Nar. Si Bima itu memang nekat. Aku lebih tau bagaimana sifatnya. Senekat apa pun Bima, dia tidak pernah mencelakai orang lain." jawab Damar seraya menoleh.
"Ck! Kamu ini susah sekali diberitahu, Mar! Jangan terlalu lengah! Anak bangor seperti Bima itu, kapan saja bisa berubah menjadi monster yang menakutkan dan mematikan! Sorot matanya saja tajam. Bagaimana pun juga kamu dan Wulan harus tetap was-was, Mar!" cercah Rainar seraya melirik jengah.
"Iya, iya... aku akan was-was." jawab Damar asal dan berusaha menenangkan.
Rainar menghela nafas barat, menoleh ke arah Wulan yang berdiri di sisinya. Wulan menatap punggung Damar yang berjalan masuk ke dalam kelasnya, mengambilkan tasnya karena permintaan Damar. Cemas jika dirinya membawa tas dalam keadaan demam seperti ini, sungguh sosok kakak yang sangat baik dan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Kenapa perasaanku tidak enak seperti ini setelah mendengar perkataan Rainar? Apa dia juga merasakan sesuatu yang berbeda dari Bima? Bima memang terlihat marah, tapi sikapnya lebih tenang, tidak seperti biasanya kalau dia sedang emosi pasti akan menyerang. Ya Allah... lindungi Mas Damar. Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa. Gumam Wulan dalam hati.
Wulan termenung, merasakan sesuatu di dalam hatinya yang mengusik ketenangan, mencemaskan sang mas kembar. Namun sebisa mungkin ia menepis perasaan buruk itu dan berpikir positif bahwa Damar akan baik-baik saja selama mereka bersama.
Setelah mengambil tas Wulan di kelasnya, mereka mengayun kaki menuju kelas yang sudah sepi, tiada siapa pun di dalam sana selain tas Damar dan Rainar. Keduanya pun masuk, mengambil tas lalu beranjak keluar. Namun seketika Damar terlonjak, bergegas menghampiri sang adik yang memegangi seraya memijat kepalanya, menghilangkan rasa sakit yang tiba-tiba datang mendera.
"Adek... Adek kenapa? Masih pusing ya?" sahut Damar seraya menangkup wajah Wulan yang tampak pucat, tak berdarah.
Wulan menggeleng, memberi isyarat kalau dirinya baik-baik saja. Namun gelengan itu membuat Damar dan Rainar cemas, takut jika demam Wulan semakin tinggi.
"Sebaiknya kamu bawa Wulan pulang, Mar. Nanti demamnya semakin tinggi. Kasihan!!!" ujar Rainar yang ikut memegangi Wulan.
"Tapi aku belum menghubungi papiku, Nar. Kalau harus menunggu Papi, terlalu lama." jawab Damar yang terlihat panik dan gusar.
"Kalau begitu naik taksi saja. Semoga saja masih ada taksi yang lewat di depan. Ayo!" ujar Rainar yang ikut terlihat panik.
Damar mengangguk, mengikuti saran sang sahabat yang memang sangat benar. Tidak hanya sangat benar tapi sangat tepat untuk Wulan yang masih demam tinggi. Mereka memapa Wulan, berjalan menuruni tangga menuju gerbang sekolah yang terbuka luas.
Tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata yang tengah memperhatikan dari jarak jauh.
"Bagaimana Bim? Dia sudah siap, bukan? Sepertinya mereka akan berdiri di depan gerbang untuk menunggu taksi." ujar Zivana yang memperhatikan Damar dan Wulan dari lantai atas.
"Tinggal menunggu aba-aba dariku. Lebih baik kamu kembali ke ruangan bundamu, sedangkan aku akan menyapa mereka di sana sebelum pulang. Rencana ini sudah kita susun dan tidak boleh ada yang tau!!! Jadi sebelum rencana dilaksanakan, lebih baik kita berpencar. Bersikap lah seperti biasa, seakan tidak pernah terjadi apa-apa." tutur Bima yang matanya menatap tajam ke arah objek incaran rencananya.
"Gue duluan ya, Bro! Nantikan kejutan gue berikutnya!" ujar Bima yang keluar gerbang dengan motornya dan melambaikan tangan.
Damar, Rainar dan Wulan mengeryit heran, tidak cukup mengerti dengan maksud Bima yang sudah hilang, menerobos ruas jalan dengan suara motornya yang sangat keras. Ketiganya saling pandang, berusaha untuk memahami maksud dari pria itu, membuat perasaan Wulan semakin tidak tenang yang sejak tadi mencemaskan sang mas kembar.
"Maksud si bangor tengil itu apa sih? Seperti memberi kode saja!!! Kita harus waspada, Mar!" sungut Rainar yang terlihat was-was.
Damar terdiam, mengedar pandangan ke kanan dan ke kiri, mencari sesuatu yang terasa mencurigakan tapi tidak ada apa pun di sekitar sekolah, selain suasana hening. Bahkan security gerbang sekolah pun juga tidak terlihat di pos karena sedang mengikuti rapat bersama para guru di dalam sekolah, membahas perihal keamanan selama ujian berlangsung.
Hati Wulan semakin terusik, tidak tenang dan takut jika sesuatu sedang mengancam dirinya atau bahkan Damar dan Rainar. Wulan yang tidak tenang pun meraih note, menuliskan sesuatu untuk keduanya.
'Perasaan Adek benar-benar tidak enak, Mas. Lebih baik kita tunggu Papi di dalam saja. Jangan berdiri di gerbang seperti ini. Adek takut, Mas. Kita kembali masuk saja ya, please...'
Dengan cepat Wulan menyodorkan note kecil itu pada Damar yang celingukan tak jelas melihat keadaan sekitar. Damar pun membacanya, sesekali melirik Rainar yang mengeryit heran melihatnya, sesekali pula melirik sang adik yang menatapnya penuh harap agar sang mas kembar menurutinya.
"Kalau kita masuk lagi, kita tidak akan mendapatkan taksi, Dek. Kita harus cepat pulang biar Adek bisa minum obat lagi dan istirahat. Kalau menunggu Papi terlalu lama. Nanti demam Adek akan semakin naik." ujar Damar yang berusaha membujuk Wulan.
Wulan menghela nafas kasar, berusaha menenangkan hati yang terlanjur cemas, menepis rasa takut yang menyelimutinya, semakin keras ia menepis rasa cemas itu, membuatnya semakin panik. Rasa takut yang semakin terasa di saat mendengar perkataan Bima, seakan memberi isyarat bahwa akan ada kejutan baru untuk sang mas kembar yang tidak dapat diprediksi.
__ADS_1
Damar dan Rainar saling pandang, merasa heran dengan tingkah Wulan yang gelisah. Namun dengan cepat, ia menenangkannya, tidak ingin membuat sang adik terlalu cemas dan berpengaruh buruk pada kesehatannya.
Mereka tetap berdiri di depan gerbang, menunggu taksi yang akan lewat namun sudah beberapa menit, tidak ada satu pun taksi yang berlalu lalang di depan sekolah. Membuat Damar semakin cemas dengan kondisi sang adik yang terlihat kepanasan.
Greeeng!
Greeeng!
Greeeng!
Sejurus kemudian, di saat ketiganya lengah, tiba-tiba terdengar suara motor yang sangat kencang, keluar dari jalan tikus, menerobos dengan kecepatan tinggi mendekati Wulan.
"Awas Dek..."
Wulan terperanjat, mendapati tangannya yang ditarik langsung oleh Damar hingga motor itu pun menyerempet tubuh Damar.
"Damar..."
"Aaaaa..."
Wulan dan Rainar terpekik kuat, melihat Damar yang jatuh tersungkur ke jalan aspal, membuat darah segar mengalir di dahinya. Keduanya beranjak, mengambil langkah seribu menghampiri Damar yang tergeletak tak berdaya. Wulan menangis sesegukan, seakan membenarkan firasat buruk yang sejak tadi ia rasakan. Namun Damar terus mengelak, tidak mendengarkan sarannya untuk tetap menunggu di dalam gerbang sekolah dan benar, firasat itu benar-benar sudah terjadi. Menimpa sang mas kembar.
"Ya Allah... dentuman keras apa tadi itu?"
Suara pekikan salah seorang guru dari arah ruangan guru bergema tatkala mendengar suara tabrakan tadi, mengusik telinga Rainar yang terlihat sangat panik di sisi Damar. Rainar menggiring matanya, menoleh ke sumber suara yang ternyata beberapa orang guru menghambur keluar termasuk Kinan, berlari ke arah gerbang, mendekati Damar yang pingsan tak sadarkan diri.
"Astagfirullahalazim... Damar..."
Kinan berjongkok, memeriksa kondisi sang siswa yang terlihat cukup parah, ditambah dengan darah segar di dahinya yang sejak tadi mengalir tanpa henti, membuat Wulan semakin hilang kendali. Rainar berusaha menenangkan Wulan, namun tenaganya kalah kuat dengan tenaga sahabatnya itu.
"Kita harus membawa Damar ke rumah sakit!!!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All 😇😇😇