Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 39 ~ Geram


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Uncle... Uncle... Uncle di mana?"


Teriakan suara Aiziel yang baru saja kembali dari rumahnya pun bergema, mencari sang uncle yang sejak tadi tidak tau ada di mana. Sudah seluruh sisi rumah sang oma ia cari, namun tiada siapa pun yang ia temukan.


"Den Ziel..."


Suara lembut khas Bi Iyah membuyarkan lamunan Aiziel yang duduk termangu di anak tangga. Aiziel beranjak, mendekati asisten rumah tangga rumah omanya itu.


"Bi Iyah... Bibi melihat Uncle Dhana, tidak? Sejak tadi Ziel sudah mencarinya, tapi Uncle tidak ada di mana pun. Uncle Dhana pergi ke mana Bi?" tanya Aiziel yang beruntun.


"Bibi juga tidak tau, Den. Sejak tadi Bibi sibuk menguras kolam berenang di teras belakang dan belum bertemu Den Dhana, kecuali tadi pagi." jawab Bi Iyah.


"Kalau Anty Mala sudah pulang Bi?" tanya Aiziel lagi seraya menoleh ke arah tangga.


"Non Mala juga belum pulang, Den. Di rumah hanya ada Bibi, bahkan Den Damar dan Non Wulan juga belum pulang." jawab Bi Iyah.


Aiziel menghela nafas kasar, menundukan kepala seraya memutar otak untuk mencari keberadaan sang uncle yang baru ia tinggal sebentar saat mengambil barang di rumah.


"Ya sudah, Bi Iyah. Biar Ziel tunggu saja. Mungkin Uncle Dhana sedang menjemput adik-adik ke sekolah." ujar Aiziel.


"Kalau begitu Bibi balik ke dapur dulu ya, Den. Permisi." jawab Bi Iyah dan beranjak.


Aiziel mengangguk, membiarkan Bi Iyah pergi melanjutkan pekerjaannya di dapur. Sedangkan dirinya memilih untuk duduk di kursi teras rumah, menikmati udara sejuk setelah hujan siang menjelang sore turun.


***


"Mas Ronald..."


Setelah mengajak Wulan duduk di kantin seraya menikmati hangatnya teh setelah hujan deras mengguyur tubuhnya, Dhana mengajak sang putri kembali ke ruang UGD untuk melihat kondisi Damar. Namun saat mereka mendatangi ruang UGD, tidak ada satu pun orang yang berada di dalam sana termasuk Damar. Dhana yang sempat panik pun menghampiri resepsionis rumah sakit, bertanya di mana putranya saat ini, hingga akhirnya Dhana menemukan kamar rawat sang putra yang telah diurus Dokter Ronald.


Dhana dan Wulan pun menghampiri Dokter Ronald yang duduk terdiam di kursi tunggu. Seketika pandangannya tertarik ke sumber suara yang memekik, memanggil namanya.


"Dhana, Wulan..."


Dokter Ronald beranjak dari duduk, melihat Dhana dan Wulan yang berlari ke arahnya.


"Mas... kenapa Mas Ronald tidak memberitahu Dhana kalau Damar dipindahkan? Dhana jadi tidak enak sama Mas, karena sudah merepotkan Mas." ujar Dhana yang berdiri di depan Dokter Ronald.


"Jangan bicara seperti itu, Dhana. Mas kebetulan lewat di depan UGD dan melihat Rainar duduk sendirian di kursi tunggu. Jadi Mas sudah mengetahui semua dari Rainar." jawab Dokter Ronald yang tersenyum.


"Bahkan Dhana saja belum mengetahui bagaimana kronologi kecelakaan Damar, Mas. Dhana terlalu panik saat Mala yang tiba-tiba menarik Wulan secara paksa." tutur Dhana seraya melihat sang putri.

__ADS_1


"Lebih baik kamu masuk. Damar sudah sadar lalu sempat mencari kamu dan Wulan. Mas juga sudah memberitahu Damar kalau maminya sempat datang ke sini. Tapi sejak Mala pergi membawa Wulan, dia tidak kembali lagi untuk melihat putranya." ujar Dokter Ronald.


"Mungkin dia sudah pulang, Mas. Dhana sempat bertengkar dengannya karena.... karena Mala mencambuk Wulan di toilet rumah sakit menggunakan ikat pinggang." jawab Dhana yang terlihat sendu.


Dokter Ronald terperangah, tidak pernah menyangka kalau Mala bisa bertindak kasar seperti itu bahkan pada putrinya sendiri.


"Yang dilakukan Mala itu sudah di luar batas, Dhana! Ini sudah tindakan kriminal! Dia bisa terjerat hukuman kekerasan pada anak! Keterlaluan sekali Mala! Mas tidak menyangka, dia bisa sekeji itu pada anak kandungnya sendiri!" cercah Dokter Ronald yang ikut terbawa emosi pada Mala.


Dhana menghela nafas berat, mendengar perkataan sang mas angkat yang memang sangat benar. Jika tindakan Mala diadukan kepada pihak yang berwajib, maka istrinya itu akan masuk penjara karena bertindak keras dan kasar pada putrinya. Namun apa yang bisa Dhana lakukan jika Wulan sendiri lah yang melarangnya untuk melakukan itu.


"Dhana tau, Mas. Tapi Wulan tidak pernah mengizinkan Dhana untuk melaporkan hal ini pada pihak berwajib karena bagaimana pun juga, Mala ibu kandungnya Wulan." ujar Dhana seraya menoleh ke arah sang putri.


"Kalau seperti itu keputusan Wulan, Mas pun tidak bisa berbuat apa-apa, Dhana. Mas hanya bisa berdo'a agar istri kamu itu bisa segera sadar! Sebenarnya Mas malu, wajah Mala yang sangat-sangat mirip dengan mendiang Dhina, harus tercoreng karena tindakan buruknya itu. Mas sangat menyayangkan hal itu, Dhana! Almarhumah pasti sangat sedih melihat masalahmu saat ini." tutur Dokter Ronald yang ikut sedih.


Dhana tersenyum getir, teringat mendiang sang adik yang memiliki sifat baik dan jauh dari sifat sang istri saat ini. Memang benar, rambut boleh sama hitamnya, tapi karakter dan kepribadian setiap insan manusia tetap lah berbeda. Bahkan kembar sekali pun.


"Ya sudah, lebih baik kamu masuk dan tanyakan sendiri bagaimana kronologi kecelakaan itu bisa menimpa putramu. Biar kamu bisa mengambil tindakan selanjutnya untuk menyelesaikan masalah ini. Dan satu lagi, Mas minta tolong panggilkan Rainar ya. Mas akan membawanya pulang karena jam dinas Mas akan selesai." ujar Dokter Ronald yang berusaha mengalihkan emosi Dhana.


"Iya, Mas. Terima kasih karena Mas sudah bersedia Dhana repotkan dan Dhana minta satu hal juga dari Mas, jangan beritahu hal ini pada Mas Ammar dan Kak Ibel ya, kalau Mas bertemu dengan mereka di saat dinas." jawab Dhana yang sedang bernegosiasi.


"Iya, Mas akan tutup mulut. Untung saja Damar sudah membaik kalau tidak sudah sejak tadi Mas hubungi Ammar dan Sadha." sungut Dokter Ronald yang jengah dengan sikap tertutup Dhana.


Suara kekehan samar pun keluar dari mulut Dhana dan Wulan, merasa geli saat melihat ekspresi Dokter Ronald yang terlihat sangat menggemaskan. Hingga memancing kedua sudut bibir Dokter Ronald pun ikut terangkat saat melihat keceriaan di wajah keduanya.


Dhana dan Wulan pun beranjak, masuk ke dalam kamar rawat Damar yang ditemani Rainar di sampingnya. Saat pintu terbuka, Damar dan Rainar pun menoleh, menatap lekat Wulan yang terlihat kusut dan kotor.


"Maaf, Sayang. Tadi Papi habis dari kantin dan membelikan makan siang untuk kita." jawab Dhana seraya mengelus kepala sang putra.


"Lalu Adek kenapa bajunya basah kuyup seperti ini? Adek 'kan sedang demam!!! Kenapa Adek main hujan-hujanan?" ujar Damar yang menoleh ke arah sang adik.


Wulan menggeleng, berusaha meyakinkan sang mas kembar kalau dirinya tidak basah kuyup karena hujan. Namun Damar yang sangat peka menangkap sesuatu di ceruk leher sang adik yang sedikit terbuka, jelas memperlihatkan bekas kemerahan panjang di sana, membuat Damar mengeryit heran.


Dhana yang mengerti pun kalang kabut, berusaha mencari cara agar Damar tidak bertanya di saat Rainar masih ada di sana.


"Damar... karena Om Dhana dan Wulan sudah datang, aku pamit pulang dulu ya. Kamu harus cepat sembuh biar kita bisa belajar bersama untuk ujian besok lusa." timpal Rainar yang tiba-tiba, membuat Dhana bernafas lega.


"Ah iya, terima kasih Nar. Terima kasih karena kamu sudah menemaniku di sini. Terima kasih juga untuk Om Ronald ya." jawab Damar yang terkejut mendapatkan sentuhan di kakinya.


"Iya sama-sama, Mar. Kalau begitu aku pamit ya. Om Dhana... Rainar pamit ya." ucap Rainar lalu menoleh ke arah Dhana.


"Terima kasih ya, Nak." jawab Dhana yang tersenyum seraya mengelus kepala Rainar.


Rainar mengangguk seraya tersenyum, beranjak dari kamar rawat Damar untuk menemui sang papa yang mengajaknya pulang bersama. Sementara Damar, kini matanya menoleh tajam ke arah sang papi, mencari jawaban atas bekas merah pada ceruk leher sang adik yang terekspost.

__ADS_1


"Papi... ceritakan pada Damar, apa yang telah Mami lakukan pada Adek sehingga menimbulkan bekas luka seperti ini pada lehernya?" cercah Damar yang menatap tajam sang papi seraya menarik Wulan.


Dhana terhenyak, rentetan pertanyaan terlintas di pikirannya, heran dan bingung kenapa sang putra bisa menanyakan hal yang memang benar-benar terjadi pada Wulan, seakan telah mengetahui semua kejadian keji yang dilakukan sang mami.


"Damar... kamu..."


"Cerita saja, Pi! Damar sudah tau kalau Mami sempat datang ke sini dan Rainar sudah mengatakan semuanya. Kalau Mami terlihat marah besar saat mengetahui sebab Damar kecelakaan. Pasti Mami gelap mata 'kan Pi? Sampai ada bekas kemerahan ini! Sebenarnya apa yang sudah Mami lakukan pada Adek, Pi? Jawab Damar, Pi!" cercah Damar yang terbawa emosi.


Melihat sang mas kembar terbawa emosi, Wulan meraih tangannya, meyakinkan jika dirinya baik-baik saja. Namun Damar tidak mengindahkan tatapan sendu sang adik. Sementara Dhana tampak menghela nafas kasar, mendudukan dirinya di tepi tempat tidur sang putra, menatapnya lekat-lekat.


"Mami kamu mencambuk Wulan dengan ikat pinggang di toilet rumah sakit, Damar." ujar Dhana yang berusaha mengontrol diri.


Tangan Damar mengepal, rahangnya pun ikut mengeras, matanya memerah tajam. Tidak terima dengan perlakuan sang mami pada sang adik, karena Wulan tidak salah. Sementara Dhana dan Wulan, melempar pandangan takut saat melihat mata Damar yang seperti ingin menerkam mangsanya.


"Kamu tenang dulu ya, Nak. Mami kamu hanya terbawa emosi sampai tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Dia hanya takut kamu celaka. Semua wanita yang bergelar ibu tidak akan bisa tenang melihat anaknya kecelakaan." tutur Dhana yang menenangkan Damar.


"Dengan memukul Adek seperti ini Pi? Bahkan Mami belum mendengar cerita Damar, tapi... tapi Mami malah langsung menuduh Adek. Kalau Damar tidak cepat menarik tangan Adek, mungkin Adek yang akan terbaring di atas bed ini, Pi!" cercah Damar yang masih terbawa emosi.


Dhana terdiam, berusaha memahami perkataan yang terlontar begitu saja dari mulut sang putra. Sementara Wulan, gadis itu hanya bisa terdiam, tertunduk sedih jika harus mengingat perlakuan keji sang mami.


"Jadi yang dikatakan Rainar itu..."


"Iya, Pi. Target dari tabrak lari itu Adek, bukan Damar. Damar tau siapa yang telah merencanakan semua ini. Pasti Bima!!! Dia satu-satunya musuh bebuyutan Damar." potong Damar, mengalihkan pandangan dari tatapan nanar sang papi yang syok.


Dhana menghela nafas lagi. Cerita Rainar sesaat sebelum Mala datang tadi memang benar bahwa sang putra mempunyai satu musuh bebuyutan yang selalu melakukan pembulian pada Wulan dan hal itulah yang membuat Damar geram, hingga bendera permusuhan di antara Damar vs Bima pun dikibarkan secara terang-terangan.


"Damar... Papi tidak pernah mengajarkan kamu untuk punya musuh, Nak. Dendam pada sesama itu tidak baik, seperti inilah salah satu contohnya. Papi takut terjadi sesuatu yang buruk sama kamu. Lebih baik kamu tidak perlu mengikuti pemilihan ketua osis itu! Papi tidak bisa membayangkan jika kamu terus melanjutkannya. Musuhmu itu pasti tidak akan gentar untuk menghadang jalan kamu." tutur Dhana seraya mengelus kepala sang putra seraya melirik sang putri.


"Tidak, Pi! Sampai kapan pun Damar tidak akan pernah mundur dari pemilihan ketua osis itu! Karena Damar ingin membantu... Damar ingin membantu seseorang, Pi!!!" tukas Damar yang hampir keceplosan.


"Memang siapa sih orang yang ingin kamu bantu itu? Sampai kamu rela mengorbankan diri hingga nyawa kamu sendiri seperti ini!" cercah Dhana yang diselimuti penasaran.


Damar bungkam, tidak ingin memberitahu sang papi sebelum waktunya benar-benar tiba. Damar menggiring matanya, menatap sang adik yang ikut menatapnya. Gelengan samar sang adik pun terlihat nyata di mata Damar, membuatnya semakin yakin untuk terus menutupi rahasia bakat terpendam yang bersemayam di dalam diri sang adik.


"Suatu saat nanti Papi akan tau kok, siapa sosok yang akan Damar bantu itu, sampai Damar rela mengorbankan jiwa dan raga Damar sendiri untuk orang itu!!!"


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2