
...🍁🍁🍁...
"Hai Nona Zivana Asmeralda..."
Di suatu tempat, berlatar belakang sebuah balkon rumah yang temaram. Disaksikan ribuan bintang di langit hitam yang kian memekat, tampak seorang gadis bersurai coklat pendek sebahu tengah berdiri. Dialah Zivana. Siapa yang tidak mengenali gadis cantik namun berhati iblis di kisah Wulan sebelumnya itu? Setelah peristiwa kematian sang papa yang mengenaskan, ditembak mati oleh ibu tirinya sendiri efek sakit hati serta ingin menghentikan kejahatan bejat sang papa waktu itu yang ingin membunuh Wulan. Gadis bersurai coklat itu memilih banyak diam, mengikuti apapun kehendak dan kemauan sang bunda sambungnya yang merupakan satu-satunya harta dalam hidup, membuat Zivana tak banyak bicara, kendati hati kecil sangat menolak.
Zivana menoleh, setelah puas menatap hitamnya langit bertabur bintang yang berkilau. Melihat ke arah seseorang yang datang menghampirinya di jam tengah malam seperti sekarang ini, membuat senyumnya merekah senang, karena sosok yang datang itu sudah menepati janjinya.
"Apa kabar Dimas Pandawa?"
Dimas Pandawa. Sosok pria tampan namun berhati bajingan. Siapa yang tidak kenal dia? Sudah dipastikan, kehadirannya sekarang akan menjadi pertanyaan, ke mana saja pria bajingan rival kuat Aifa'al itu selama ini, tepatnya setelah Dimas mengalami kecelakaan saat kejahatan dan pengkhianatan pria itu terbongkar oleh Bima di depan anak-anak geng motor Tiger. Dan kalian pasti juga tidak lupa dengan Bima 'kan? Yang sampai kini entah berada di mana kediamannya setelah informasi terakhir mengatakan bahwa Bimantara memilih ikut dengan orang tuanya ke Amerika setelah berhasil menangani Dimas dan berhasil keluar dari jeruji besi.
Sementara Dimas tersenyum miring, melihat Zivana dari atas sampai bawah yang membuatnya semakin pangling, memberi arti bahwa Zivana yang sekarang sudah sangat jauh berbeda dengan Zivana yang dulu.
"Seperti yang lo lihat. Berkat lo, gue bisa berjalan dengan normal kembali tanpa harus memakai tongkat sekarang."
Zivana tergelak samar, melihat Dimas yang memang sudah terlepas dari belenggu tongkat penyiksa yang membuat jalannya tertatih selama berbulan-bulan lamanya, akibat kecelakaan maut yang hampir membuatnya mati dan masuk ke dalam neraka jahanam jika mengingat semua kebusukan dan kejahatannya selama hidup. Namun sepertinya Tuhan pun enggan bertemu dengan pria bajiangan itu cepat-cepat, hingga penyiksaan yang tiada tara pun diberikan sebagai pengingat dosa, berharap akan bertaubat setelah itu, tapi sepertinya tidak jika dilihat dengan kondisi dan situasinya yang sekarang.
"Itu belum seberapa, jika dibandingkan dengan semua bantuan lo untuk menuntaskan semua dendam lama gue pada gadis bisu sialan itu!"
Dimas tersenyum miring, melihat Zivana yang berpaling muka dengan senyum licik yang tidak bisa disembunyikan, memilih untuk menatap langit hitam sebagai pengalihan.
"Hahaha... Lo tenang saja, Zivana. Saat ini kita mempunyai musuh yang sama. Karena Aifa'al, kakak dari si bisu sialan itu, gue sempat lumpuh karena kecelakaan waktu itu. Dan karena Aifa'al tidak ada di sini, maka si bisu sialan itu yang harus membayar semua kesalahan kakaknya." ujar Dimas, menyeringai licik, teringat sesuatu yang sepertinya sudah dijalankan dengan baik dan rapih sesuai dengan rencana.
"Gua cuma mau satu, Dim. Gue mau hidup cewek bisu itu menderita selamanya! Gue mau dia merasakan apa yang selama ini gue rasakan setelah bokap gue meninggal di tangan bunda gue sendiri. Cewek bisu sialan itu, harus membayar mahal atas kematian bokap gue! Nyawa harus dibayar dengan nyawa!" jawab Zivana, menatap nanar ke arah langit yang semakin gelap pekat karena awan hitam.
Seringai tajam Dimas timbul. Sementara Zivana yang menatap langit kini menoleh ke arah Dimas dengan seringainya pula yang tak kalah licik.
"Hahahaha... Gue suka sekali sama permainan lo ini, Ziv. Sekarang apa lagi rencana lo? Setelah kecelakaan dua tahun yang lalu, ternyata cewek bisu kesayangan Aifa'al itu masih beruntung, dia masih punya banyak cadangan nyawa. Padahal waktu itu, gue berharap si bisu itu mati dan Aifa'al akan kehilangan adik kesayangannya itu." ujar Dimas, menyeringai dengan kejadian nahas yang menimpa Wulan.
"Gue juga berharap seperti itu, Dim. Gue kira, si bisu sok kecantikan itu mati, tapi ternyata tidak." jawab Zivana tak luput tatapan tajam penuh kebencian di matanya terlihat.
"Lo tenang saja, Ziv. Gue akan selalu ada di pihak lo. Kita akan menghancurkan si bisu dan keluarganya. Perlahan! Satu per satu!" ujar Dimas meyakinkan Zivana, menyeringai.
Zivana tersenyum miring, menepuk tangan Dimas yang bertengger di bahunya, menatap Dimas yang tak kalah menyeringai penuh arti, yang hanya dapat dimengerti oleh mereka berdua saat ini.
***
"Uncle..."
__ADS_1
Kepala yang semula menatap langit seraya duduk santai bersandar pada kursi dituntut menoleh, melihat ka arah sumber suara bariton yang sangat dikenali. Sementara yang memanggil itu adalah Aifa'al. Bergerak menuruni tangga setelah beberapa menit berkunjung ke kamar sang adik, walaupun badan berkata lelah, namun tidak dengan hati yang menuntun kaki untuk turun ke lantai bawah. Entah mengapa, namun Aifa'al merasakan sesuatu yang ia yakin bahwa kehadiran sang uncle di halaman samping rumah lah yang membawa dan menuntun kakinya untuk berjalan.
"Kamu belum tidur Nak?" tanya Dhana, beranjak.
"Seharusnya Al yang bertanya seperti itu pada Uncle. Kenapa Uncle masih duduk di sini? Tengah malam lagi! Udara malam tidak baik untuk kesehatan Uncle yang sudah tidak muda lagi." jawab Aifa'al, mengejek sang uncle.
"Ck! Kamu sudah pandai mengejek Uncle ya? Uncle belum bisa tidur, Nak." ujar Dhana, duduk kembali dan bersandar.
"Uncle kenapa? Saat Al datang, Uncle baik-baik saja tadi. Uncle sedang tidak bertengkar dengan Anty 'kan?" jawab Aifa'al, menatap sang uncle yang menatap langit hitam.
"Kamu ini ada-ada saja, Nak! Uncle tidak pernah bertengkar lagi dengan anty mu. Uncle di sini hanya ingin menghirup udara malam yang tenang sebelum tidur." ujar Dhana, tanpa menoleh ke arah sang keponakan yang masih menelisiknya.
"Uncle yakin? Tidak sedang memikirkan sesuatu?" ujar Aifa'al balik, tak yakin dengan jawaban sang uncle.
Dhana terbungkam, menghela berat seraya membetulkan posisi duduk nyamannya, seakan melepas beban pikiran yang sepertinya memang benar, sesuai dengan praduga sementara keponakan tampannya itu.
"Uncle sedang memikirkan Damar 'kan?"
Helaan nafas yang berat itu kian berlanjut, mendengar pertanyaan sang keponakan tengah yang memang sudah mengetahui banyak hal semenjak berada di Amerika. Membenarkan dugaan Aifa'al yang ikut menghela seraya menundukan kepala sesaat, mengulas senyum melihat gelagat sang uncle yang tengah memikirkan sesuatu.
"Al minta maaf, Uncle. Seharusnya, di saat kejadian itu terjadi, Al berada di samping Uncle, di samping Damar, di samping keluarga kita, dan di samping Adek. Andaikan waktu itu, Al yakini diri Al untuk kembali ke Indonesia, mungkin Al bisa mencegah traumatis Damar tumbuh. Al benar-benar minta maaf, Uncle. Al minta maaf." tutur Aifa'al, tertunduk sembari memainkan jari jemari tangannya.
"Tapi Uncle, jika Al pulang waktu itu, mungkin saat ini tidak ada Damar yang trauma dengan kecelakaan yang menimpa Adek. Tidak akan ada Damar yang arogan. Damar berubah karena Al tidak bisa menjaganya, Uncle. Al tidak bisa menepati janji Al untuk selalu menjaga Damar dan Adek. Al sudah gagal menjaga mereka. Sampai nyawa Adek hampir melayang karena Al jauh dari Adek, Uncle." tutur Aifa'al, lirih.
Dhana menghela, tangannya terangkat meraih punggung sang keponakan yang mulai tak terkendali karena emosi. Membuat senyum tipis dibibir ayah dari dua anak kembar tak seiras itu mengembang, mendengar penuturan tulus yang keluar dari mulut Aifa'al terhadap kedua anaknya, termasuk Wulan yang sempat dibenci bahkan dijauhi dulu. Kini tak ada lagi kebencian itu, yang ada melainkan hanya kasih sayang yang begitu besar pada sang adik, serta rasa ingin selalu berada di sisinya dan menjaganya, memastikan jiwa dan raga sang adik tidak ada yang boleh menyakitinya.
"Semua itu bukan tanggung jawab utama kamu, Nak. Itu semua tugas Uncle. Uncle senang, melihat betapa besar kasih sayang kamu pada Damar Wulan, dan adik-adikmu yang lain. Uncle berterima kasih sekali dengan hal itu, Al. Tapi kamu juga mempunyai mimpi. Kamu punya cita-cita, Nak. Yang harus kamu gapai untuk membanggakan kami semua di sini. Jadi kamu tidak perlu bicara seperti itu. Semua yang terjadi pada adikmu saat itu sudah menjadi kehendak-Nya. Dan masalah Damar, jangan terlalu kamu pikirkan ya." tutur Dhana, menenangkan kegelisahan hati sang keponakan.
"Lalu bagaimana dengan Adek, Uncle? Apa sampai detik ini Adek benar-benar tidak tau, kalau Damar trauma?" ujar Aifa'al, menatap sang uncle yang berusaha menenangkan.
"Iya, Nak. Sampai detik ini adikmu tidak tau, kalau Damar mengalami trauma karena kecelakaan yang dialaminya. Dan itulah yang Uncle takutkan. Uncle takut, Wulan akan merasa bersalah jika dia tau dengan apa yang dialami oleh masnya, dan Wulan pasti akan sangat terpukul." jawab Dhana, lesu.
"Al benar-benar tidak habis pikir, Uncle. Kenapa Damar yang harus mengalami trauma akibat kecelakaan itu. Sementara Adek, yang mengalami kecelakaan itu langsung, terlihat baik bahkan tidak terlihat sedikit pun trauma di wajahnya." ujar Aifa'al, berusaha menahan geram seraya memecah suasana.
Dhana terkekeh samar, melihat sang keponakan yang terlihat sangat jelas berusaha menampik kegusaran hatinya sejak menginjak rumah besar ini. Ditambah lagi dengan penampakan sikap sang adik kembar yang ia lihat secara langsung, membuat rasa lelah dan kantuknya hilang.
"Sebaiknya kamu istirahat, Nak. Uncle yakin tubuhmu ini sangat lelah 'kan? Jadi beristirahatlah. Adikmu pasti akan senang, saat melihat masnya pulang dan kembali ke rumah ini lagi." ujar Dhana, meraih bahu Aifa'al.
"Baiklah, Uncle. Tapi satu hal yang harus Uncle ingat. Al berjanji sama Uncle. Mulai detik ini, Al akan selalu berusaha untuk menjaga adik-adik Al. Syahal, Syahil, Damar, Adek!!! Al tidak akan membiarkan siapapun yang berani, menyentuh bahkan menyakiti adik-adik Al. Jika ada orang seperti itu, tangan Al sendiri yang akan menghabisi orang itu, Uncle." jawab Aifa'al, meraih tangah tangan sang uncle.
__ADS_1
"Uncle sangat mempercayai kamu, Nak. Karena di dalam dirimu, mewarisi sifat penyayang dan jiwa pelindung yang ada di dalam diri daddy mu. Daddy mu juga seperti kamu dulu. Dia selalu mendahulukan kepentingan adik-adiknya daripada kepentingan pribadinya. Mas Ammar, dia adalah superhero kedua Uncle, paklik dan almarhumah onty mu setelah opa mu, bahkan sampai saat ini pun masih sangat sama. Dan sekarang, Uncle melihat itu di dalam dirimu dan juga Ziel." tutur Dhana, meraih kedua bahu sang keponakan.
Aifa'al mengulum senyum, mendapati kata-kata motivasi sang uncle yang tengah mengenang masa lalunya yang terdengar sangat menyenangkan dan indah bersama almarhumah adik kembarnya, sang paklik dan daddynya. Menambah semangat baru bagi Aifa'al untuk kedepannya, menepati janji yang terucap di depan sang uncle terhadap adik-adiknya. Sementara Dhana ikut tersenyum, melihat setidaknya Aifa'al sudah tidak gusar lagi seperti tadi.
"Terima kasih Uncle..."
***
"Selamat malam Bunda..."
Di sebuah kamar, memiliki cahaya sedikit terang, terlihat seorang wanita yang tengah terbaring lemah di atas tempat tidur sedehana, berselimut putih namun terlihat kusam dan kucel seperti tak terurus. Wanita itu pun membuka perlahan matanya, menoleh ke arah sosok gadis yang duduk di sisi tempat tidurnya saat ini. Berusaha untuk bicara, namun kondisi tubuh yang sedang sakit keras karena terserang Stoke beberapa tahun yang lalu, membuatnya kesulitan.
"Bunda apa kabar? Zivana kangen sama Bunda."
Zivana, ternyata sosok gadis yang mendatangi wanita itu adalah putri sambungnya sendiri. Kinan. Wanita lemah itu adalah Kinan. Mantan istri dari seorang penjahat berdarah dingin yang sudah lama mati ditangannya sendiri lima tahun yang lalu. Setelah kejadian nahas itu, Kinan pun membawa Zivana pergi jauh ke kampung halamannya. Berniat untuk menenangkan hati dan pikiran, sembari menjauhi Zivana dari pengaruh-pengaruh buruk yang ada di ibu kota sejak saat itu. Namun nasib buruk pun turut menimpa, seakan karma yang datang menyelimuti. Karma atas apa yang sudah ia lakukan pada almarhum mantan suaminya yang jahat. Membuat Kinan, sosok guru yang terkenal cantik dan baik hati semasa itu terkena penyakit Stroke ringan oleh sebab yang belum bisa diketahui kebenarannya hingga saat ini.
"Zivana minta maaf, Bunda. Zivana terpaksa harus membiarkan Bunda seperti ini, karena Zivana tidak mau Bunda menghalangi semua rencana Zivana dan Dimas."
Tangan Zivana terulur, meraih tangan sang bunda yang terasa kaku karena penyakitnya.
"Selama ini Zivana sudah berusaha diam dan mengikuti semua keinginan Bunda. Tapi Zivana tidak bisa, Bunda. Zivana tidak bisa melupakan kepergian Papa yang Bunda bunuh karena membela si bisu itu. Zivana tidak terima!!!"
Kinan yang lemah tersentak, mendapati tangannya yang lemah dibanting paksa dengan kasarnya oleh sang putri karena tersulut emosi jiwa yang terpendam beberapa tahun lalu, akibat kejadian nahas yang menimpa sang papa. Membuat duduk Zivana yang semula tegap, berubah menjadi agak sedikit menunduk, wajahnya mendekati telinga sang bunda yang terlihat ketakutan dan kaget.
"Bunda pikir, Zivana akan menerima begitu saja kematian Papa yang mengenaskan waktu itu? Tidak Bunda!!! Tidak akan pernah terjadi!"
Zivana tersenyum miring, menatap tajam sang bunda yang sebenarnya sangat ia sayangi seperti ibu kandung sendiri. Namun kasih sayang terhadap sang bunda tidak begitu besar, sebesar dendam yang terpatri dalam hatinya kini.
"Zivana janji, Zivana tidak akan membiarkan hidup siswa bisu kesayangan Bunda itu hidup dengan tenang, Bunda!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All 🥰🥰🥰