
...🍁🍁🍁...
"Mas... ayo ajak Ayah dan Ibu ke meja makan! Makan malam kita sudah siap!"
Sahutan Ibel yang terdengar begitu kerasnya memenuhi langit-langit ruang makan hingga ruang tamu rumahnya, membuat Ammar, Bu Aini dan Pak Aidi yang tengah duduk di sofa ruang tamu terkekeh geli lalu beranjak. Tidak ingin membuat sang menantu menunggu di meja makan terlalu lama, Bu Aini melangkah lebar dan menghampirinya dengan senyuman.
"Ibu... ayo silakan duduk! Ibel masak makanan spesial untuk Ayah dan Ibu malam ini. Semoga Ayah dan Ibu suka dengan masakan sederhana Ibel ini ya." tutur Ibel yang melihat sang mertua seraya berkutat dengan piring dan gelas.
"Ah Ibu pasti akan sangat senang, Nak. Sudah lama sekali rasanya Ibu tidak makan masakan kamu." jawab Bu Aini yang antusias.
"Nah kalau begitu Ayah dan Ibu duduk ya. Biar Ibel ambilkan makanannya." ujar Ibel seraya meraih piring sang ibu dan ayah mertua.
"Hmmm... kalau sudah ada Ayah dan Ibu, aku jadi dicuekin seperti ini!" sungut Ammar yang ikut duduk di meja makan seraya melirik Ibel.
Ibel berdecak geli seraya melirik sekilas sang suami yang cemburu berat dengan perhatian dirinya pada Pak Aidi dan Bu Aini. Sementara kedua paruh baya yang hampir berusia senja itu dibuat terkikik geli melihat tingkah Ammar.
"Masa Daddy cemburu sama Opa dan Oma!!! Sebagai pria sejati harus gentle dong, Daddy!"
Seruan Aiziel yang baru datang pun membuat Ammar berdecak sebal seraya menatap tajam putra sulungnya itu. Sementara Pak Aidi, Bu Aini dan Ibel yang mendengar itu terkekeh geli.
"Kamu jangan seperti itu dong, Mas. Ayah dan Ibu 'kan jarang menginap di sini. Jadi sesekali aku harus memanjakan Ayah dan Ibu." ujar Ibel seraya mengambil makanan untuk sang suami.
"Ah, kamu ini memang selalu bisa membuatku jatuh cinta berkali-kali Sayang! Melihat sikapmu yang seperti ini, membuatku semakin klepek-klepek sama kamu! I Love You istriku!!!" jawab Ammar yang bergelayut manja di tangan sang istri.
Melihat pemandangan yang menenangkan itu, sungguh membuat hati Aiziel sebagai seorang putra bahagia tak terkira. Namun kebahagiaan itu seakan kurang karena sang adik tidak ada di rumah dan memilih menginap di apartment.
"Ammar... kamu tidak malu dengan putramu?" timpal Pak Aidi yang terperangah melihat sikap sang putra sulung.
"Kenapa harus malu Yah? Karena cinta Ammar yang besar pada Ibel membuat Ziel dan Al ada di dunia ini. Iya 'kan Boy's?" jawab Ammar yang melirik sang putra sulung.
"Ck!!! Di depan Ziel saja, Daddy bisa semesum ini dengan Mommy. Apalagi di belakang Ziel!!!" sungut Aiziel seraya menggelengkan kepala.
Pletak!
"Sayang... kenapa kamu menjitak kepalaku?" sahut Ammar setelah mendapat jitakan Ibel.
"Sstttt... jangan banyak bicara lagi, Mas!!! Ayo, sekarang dimakan nasinya! Kamu harus cepat minum obat loh, biar darah tinggi kamu stabil!" seru Ibel yang kembali duduk di posisinya.
Ammar pun mendengus geli melihat tingkah sang istri yang membuatnya semakin sayang dan pastinya semakin cinta. Setelah drama persiapan makan malam berakhir, makan malam pun dimulai dengan sangat hikmat. Kira-kira seperti itulah potret kebahagiaan keluarga kecil Ammar jika diperhatikan dari luar, namun tetap saja di dalam hati mereka masih terasa kurang tanpa kehadiran Aifa'al.
Tidak berselang lama, makan malam pun selesai. Pak Aidi, Ammar dan Aiziel memilih untuk duduk di ruang tamu seraya menikmati kopi panas buatan Ibel dan menonton televisi. Sementara Bu Aini dan Ibel terlihat sedang asyik di meja makan, membersihkan sisa-sisa makanan yang ada di sana.
Pemandangan indah di dalam rumah Ammar, terlihat begitu kentara. Hangat dan harmonis. Antara mertua dan menantu terlihat sangat akrab, dekat tiada batasan layaknya seorang anak bersama ibu kandungnya sendiri. Begitu lah yang terjadi saat ini, kekompakan mertua dan menantu seakan menjadi moment indah yang tak akan pernah terlupakan. Sangat jarang bisa menemukan mertua dan menantu yang sangat akrab seperti itu. Kekompakan Bu Aini dan Ibel semakin terlihat saat keduanya sibuk di dapur dan di meja makan. Bu Aini yang tidak dibolehkan oleh Ibel untuk berjalan banyak pun memilih untuk mencuci piring. Sedangkan Ibel yang akan banyak bergerak, mengambil piring di meja makan lalu mengantarnya ke dapur.
Namun Bu Aini yang sedang mencuci piring pun tiba-tiba termenung. Entah apa yang ibu tiga anak itu pikirkan saat ini, bahkan air keran westafel yang mengalir deras pun tidak bisa membuyarkan lamunan wanita hampir berusia senja itu. Hingga Ibel yang tiba di dapur seraya meletakkan piring kotor ke dalam westafel.
"Ibu... Ibu kenapa melamun?"
Bu Aini tetap bergeming. Suara Ibel tidak bisa membuyarkan lamunan sang ibu mertua. Lalu...
"Ibu..."
Bu Aini tersentak saat tangan Ibel menyentuh tangannya yang masih memegang piring kotor. Sementara Ibel yang melihat raut wajah Bu Aini yang terkejut pun berusaha menenangkannya.
"Iya, Nak. Kamu perlu sesuatu?" tanya Bu Aini yang berusaha mengontrol perasaannya.
"Ibel tidak perlu apa-apa, Bu. Tapi Ibu, kenapa Ibu melamun? Nanti tangan Ibu kedinginan loh kalau terlalu lama bermain air seperti ini. Sini biar Ibel saja yang melanjutkan cuci piringnya. Ibu duduk saja di ruang tamu bersama Ayah." ujar Ibel yang mengambil alih piring di tangan sang ibu mertua.
"Tidak, Sayang. Biar Ibu yang menyelesaikan pekerjaan cuci piring ini dan kita bisa duduk bersama di ruang tamu." jawab Bu Aini yang meraih kembali piring dari tangan Ibel.
__ADS_1
Ibel pun menghela nafas panjang, menatap lekat sang ibu mertua yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri. Ia merasakan sesuatu yang sedang ditutupi oleh sang ibu sehingga membuatnya melamun saat sedang mencuci piring. Karena penasaran, Ibel pun bersandar ke westafel seraya melihat ke arah sang ibu mertua.
"Ibu masih kepikiran Al dan Syahil?" tanya Ibel yang membuat Bu Aini menoleh, menatapnya.
"Iya, Sayang. Ibu juga kepikiran sama adikmu, Dhana. Saat ini Dhana pasti juga memikirkan Syahil dan Al. Ibu juga kepikiran Damar, Wulan. Ibu takut Mala hanya memasak untuk Damar dan mengabaikan Wulan. Apalagi Ayah dan Ibu sedang menginap di sini. Ibu khawatir mereka bertengkar lagi." tutur Bu Aini seraya menatap lekat manik menantunya itu.
"Ibu tidak perlu khawatir. Ibel yakin mereka pasti baik-baik saja. Kalau pun Mala hanya memasak untuk Damar, masih ada Bi Iyah yang akan memasak untuk Wulan, Bu." ujar Ibel seraya menenangkan san ibu mertua.
Bu Aini menghela nafas kasar, berusaha menghilangkan kekhawatiran yang terlalu berlebihan yang menyelimuti hatinya hingga membuatnya lupa kalau masih ada Bi Iyah yang akan mengatur semua keperluan makan malam putra bungsunya bersama anak-anaknya di rumah.
"Kamu benar, Sayang. Ibu terlalu cemas karena selama ini Ibu jarang pergi dengan ayahmu dan meninggalkan mereka. Sejak Damar dan Wulan lahir, Ibu hanya sibuk di rumah, mengurus Wulan. Ibu selalu berdo'a agar Mala bisa berubah seperti dulu lagi." jawab Bu Aini yang mengulas senyum walau terlihat dipaksa.
"Ibu yang tenang ya. Ibel yakin Dhana bisa menjaga anak-anaknya. Perjuangan Dhana sudah pernah kita lihat bersama, betapa sayangnya dia pada kedua anak kembarnya itu. Ibel juga selalu berdo'a agar Mala bisa berubah lagi seperti dulu. Ibu yang sabar ya, kita lalui semua ujian ini bersama-sama. Seperti, waktu kita berjuang untuk kuat setelah kepergian Adek." tutur Ibel yang menenangkan sang ibu mertua.
Bu Aini pun menghela nafas panjang dan tersenyum. Perkataan sang menantu sulung sukses meleburkan rasa khawatir yang teramat berlebihan. Melihat sang ibu yang sudah lebih tenang, Ibel pun merasa lega. Paling tidak untuk saat ini sang ibu tidak memikirkan yang aneh-aneh lagi.
"Mommy, Oma..."
Saat Ibel dan Bu Aini tengah sibuk berkutat dengan piring kotor yang ada di westafel, tiba-tiba saja Aiziel datang dengan penampilannya yang sudah rapih dan siap untuk berpergian. Mendengar suara bariton itu, membuat keduanya menoleh serentak, sekaligus terpanah melihat penampilan Aiziel yang rapih.
"Kamu mau ke mana Sayang?" tanya Ibel yang menyusuri penampilan sang putra dari ujung rambut sampai ujung kepala.
"Ziel mau ke rumah Oma dan Ziel ingin menginap di sana. Boleh 'kan Mommy?" jawab Aiziel yang sungguh-sungguh.
"Loh, Oma dan Opa 'kan menginap di sini Nak. Kenapa kamu malah pergi ke sana?" timpal Bu Aini yang cukup terkejut dengan niat sang cucu.
"Sebenarnya Ziel ingin melihat Adek Wulan, Oma. Seharian ini, Ziel belum bertemu dengannya. Apalagi setelah Ziel melihat banyak panggilan tak terjawab dari Damar di ponsel Ziel. Mungkin Adek Wulan dan Damar sempat menghubungi Ziel, tapi tidak terangkat oleh Ziel karena sejak tadi malam ponsel Ziel tertinggal di dalam kamar, Oma." tutur Aiziel seraya melihat keduanya.
Bu Aini dan Ibel pun saling pandang. Namun seketika ingatan Ibel berputar saat teringat dengan sesuatu yang dikatakan oleh Damar tadi siang. Ternyata sang putra tidak mengangkat telepon Damar, karena ponselnya ketinggalan di dalam kamar. Karena itu, Damar menghubungi dirinya dan menanyakan Aiziel. Sekuat itukah ikatan bathin mereka? Walaupun mereka hanya saudara sepupuan? Dan memang benar, Wulan merasakan sesuatu yang sedang dirasakan oleh Aiziel saat Ammar masuk rumah sakit.
"Sebenarnya, Damar sempat menghubungi Mommy tadi siang. Mungkin karena kamu yang tidak mengangkat telepon darinya. Jadi Damar menghubungi Mommy untuk menanyakan kamu, Sayang." ujar Ibel.
"Iya, Damar menghubungi Mommy karena Wulan tiba-tiba saja kepikiran sama kamu. Tapi ponsel kamu tidak diangkat. Wulan cemas jadi Damar menghubungi Mommy. Sepertinya Wulan merasakan feeling yang kurang baik tentang kamu, Sayang." jawab Ibel seraya menoleh ke arah Bu Aini.
"Tapi Mommy tidak memberitahu Damar apa yang terjadi pada Daddy 'kan?" tanya Aiziel yang mendadak cemas.
"Tentu saja tidak, Nak. Mommy hanya mengatakan kalau kamu masih tidur karena bermain game semalaman bersama Al." jawab Ibel.
"Kalau Damar tau dan Wulan mendengar berita ini, dia pasti sedih. Lalu merasa bersalah karena kamu bertengkar dengan Al untuk membelanya, Nak." timpal Bu Aini.
Aiziel pun terdiam, perkataan sang oma sukses mengusik pikirannya yang sempat tidak terpikirkan sama sekali di otaknya. Rasa cemas pun menyelimuti hati Aiziel. Cemas dan takut jika Wulan mengetahui semua kebenarannya.
Gawat!!! Anty Mala 'kan sempat datang ke rumah sakit menjenguk Daddy tadi siang. Perasaanku benar-benar tidak enak saat ini. Gumam Aiziel dalam hati.
"Kalau begitu Ziel pamit ya, Mommy, Oma." ucap Aiziel seraya menyalami keduanya.
Tanpa menunggu jawaban dari kedua wanita yang ia sayangi itu, Aiziel pun bergegas pergi dan berlari kecil menuju pintu rumahnya.
"Ziel... Kamu jadi pergi ke rumah Opa?"
Pertanyaan sang opa membuat langkah kaki Aiziel terhenti kembali. Walaupun ia sudah sempat membicarakan niatnya itu, tapi ia lupa berpamitan karena mengkhawatirkan sesuatu yang akan terjadi di rumah sang opa saat ini. Lalu Aiziel pun menghampiri Pak Aidi dan Ammar.
"Iya, Opa. Ziel berangkat dulu ya." ujar Aiziel seraya mencium punggung tangan sang opa.
"Kamu hati-hati ya, Nak. Jangan ngebut!" seru Pak Aidi yang memperingatkan sang cucu.
"Iya, Opa. Ziel pergi dulu ya, Dad." ujar Aiziel seraya menyalami tangan Ammar.
"Hati-hati, Nak. Kabari Daddy kalau ada sesuatu yang terjadi di sana." ujar Ammar yang ikut memperingati sang putra.
__ADS_1
Aiziel yang patuh pun mengangguk. Setelah berpamitan, putra sulung Ammar dan Ibel pun bergegas menaiki mobilnya. Lalu melajukan mobilnya dengan sangat cepat.
"Semoga saja tidak terjadi apa pun pada Adek."
***
"Adek... Buka pintunya! Ini Mas Damar. Buka pintunya, Dek!"
Setengah jam sudah berlalu, Damar masih berusaha untuk mengetuk pintu kamar sang adik yang tertutup dan terkunci rapat dari dalam. Setelah mendengar perkataan sang mami yang begitu menyayat hati, membuat sang adik berlalu pergi dan masuk ke kamarnya. Sekilas ia melihat sang adik menangis saat berlari menaiki tangga dan itu membuat Damar khawatir.
Damar yang cemas akhirnya mengejar sang adik. Namun Damar yang mengejar kalah cepat dengan sang adik karena pintu sudah tertutup rapat dan enggan untuk terbuka kembali.
"Adek... Buka pintunya atau Mas akan mendobraknya! Buka, Dek! Buka pintu kamarnya!"
Seruan Damar yang terdengar begitu keras hingga ke lantai satu, berhasil membuyarkan lamunan Dhana yang masih terpaku di dekat pintu rumahnya. Menatap lekat sosok bayangan yang sempat menghampirinya tadi. Namun sayang, sosok bayangan yang tak lain adalah adik kembarnya kini telah hilang.
Mendengar teriakan Damar di lantai atas, membuat Dhana bergegas menuju lantai atas ke kamar sang putri tercinta. Dengan langkah tergesah, Dhana berlari menaiki tangga dan melihat Damar yang berusaha mengetuk pintu kamar sang putri dari luar. Melihat itu, Dhana pun menghampiri sang putra yang terlihat panik bukan main.
"Damar... Adik kamu di mana?" tanya Dhana yang terengah-engah.
"Adek di dalam, Pi. Tapi sejak tadi Adek tidak menjawab dan membuka kamarnya. Damar takut Adek melakukan hal buruk di dalam, Pi." jawab Damar yang terlihat sangat panik.
"Kita dobrak saja, Nak. Kamu minggir!!! Biar Papi yang mendobraknya!!!" seru Dhana yang masih terengah-engah.
Damar yang menurut pun mengangguk patuh seraya menjauhkan diri dari pintu, membiarkan sang papi melanjutkan aksi brutal untuk mendobrak pintu kamar sang adik yang masih terkunci rapat. Sementara Dhana yang berdiri dengan kuda-kuda, siap untuk menabrak pintu kamar sang putri. Merasa tidak sabar dan khawatir dengan kondisi sang putri di dalam sana, membuat Dhana yang sudah siap pun berlari dari jarak jauh dan...
Brak!
Satu kali hentaman tubuh Dhana, belum sukses membuka lebar pintu kamar sang putri yang masih tertutup rapat. Lalu...
Brak!
Brak!
Brak!
Damar yang melihat adegan brutal sang papi, terperanjat saat pintu kamar Wulan terbuka lebar seraya menghantam keras dinding kamar itu. Bergegas, Dhana dan Damar pun masuk ke dalam kamar Wulan yang terlihat kosong.
"Kamu yakin Wulan masuk ke kamar ini Damar?" tanya Dhana yang mencari sang putri di sekeliling kamar dan kamar mandi.
"Damar yakin, Pi. Damar melihat sendiri, Adek berlari masuk ke dalam kamar ini." jawab Damar yang ikut mencari Wulan.
"Tapi ke mana adik kamu, Damar? Dia tidak ada di dalam kamarnya!" ujar Dhana yang terlihat semakin panik dan frustasi.
Semua sudut kamar telah disapu habis oleh Damar, mencari keberadaan Wulan bahkan sampai ke dalam lemari pakaian, kolong tempat tidur, kolong sofa, di sudut kamar yang tersisa dengan posisi lemari. Namun keberadaan Wulan tidak dapat ditemukan. Begitu juga dengan Dhana yang tak kalah panik dan khawatir.
Tidak hanya kamar Wulan, bahkan seluruh ruangan pun sudah ia telusuri untuk mencari keberadaan sang putri. Namun tidak di satu tempat pun yang ia telusuri, menjadi tempat persembunyian sang putri.
"Ya Allah... Ke mana putriku pergi?"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All 😇😇😇