Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 89 ~ Rasa Bersalah


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Tiga hentaman kuat dari Aifa'al mendarat pada perut Gibran yang tersungkur. Emosi yang sejak tadi tertahan akhirnya terlepas, melihat sang adik yang bersimbah darah di bagian bahu kirinya karena ulah Gibran, tak bisa dimaafkan, membuat Aifa'al naik pitam.


"Tangkap dia!" seru Bripka Polisi.


"Bede*bah!!! Adik gue terluka karena lo! Dasar bajingan! Tua bangka brengsek!!!" tandas Aifa'al, membabi buta memukul Gibran yang tersungkur dan tak berdaya.


Aiziel, Syahal dan Syahil yang sempat dipegangi Polisi pun beranjak, mendekati Aifa'al yang naik pitam dan Wulan yang sudah tak sadarkan diri, tembakan yang melesat di bahu kiri terlihat parah hingga darah segar kian deras membasahi tanah.


"Hentikan, Al! Sudah!" seru Aiziel.


"Tidak, Mas!! Dia sudah melukai Adek!! Orang seperti dia harus mati! Harus mati!" tandas Aifa'al, meraung marah tak terkira.


"Tolong tangkap dia, Pak!" seru Aiziel.


"Ayo!!! Anda harus menjelaskan semuanya di kantor polisi!!!" tukas salah satu Bripda, mengikat tangan Gibran dengan borgol.


Gibran mendengus, mencela dalam hati dengan tatapan tajam pada Aifa'al yang semakin tak terkendali. Jika Polisi itu tidak cepat, mungkin pria itu akan berakhir di ruang ICU karena kritis. Polisi bergegas, membawa Gibran untuk segera ditindak.


"Wulan... bangun Nak! Wulan, bangun!" tutur Sadha, mengusap kepala Wulan di atas pahanya.


"Adek... bangun! Bangun, Dek!!!" timpal Syahal, menggenggam tangan sang adik.


Kekhawatiran berselimut ketakutan kian menjalar, memancing bulir kristal di sudut mata yang menatap nanar si gadis kecil. Mengusik Aiziel dan Aifa'al yang masih berdiri, menatap kepergian Gibran menuju tempat hukuman yang tidak abadi. Mereka pun beranjak, ikut mengelilingi sang adik yang bersimbah darah, tidak sadarkan diri.


"Adek..."


Aifa'al tercekat, membiarkan air mata yang tak pernah mengalir sebelumnya kini luruh, menyentuh kepala sang adik yang selama ini dibencinya, justru menyelamatkan nya dari maut kegilaan Gibran di detik terakhir. Mengundang rasa bersalah, menyelimuti hati yang dulu sekeras baja, menampik kebencian yang pernah bertahta, seakan sirna, hilang tatkala mata melihat secara langsung kondisi sang adik yang teraniaya.


"Wulan..."


Dhana terpekik, menyusup di sela-sela Sadha yang tak kuasa menahan air mata. Terkejut tak dapat dipungkiri, melihat sang adik yang ternyata masih selamat dari maut, meraih tubuh sang putri yang tak berdaya. Disusul Imam dan Damar yang menggila, menahan tangis bercampur amarah saat melihat Gibran menembak sang adik dari jarak yang sangat dekat di depan mata.


"Dhana... kamu masih hidup Dik?" tanya Sadha tidak percaya, menjangkau wajah sang adik yang sangat gusar dan frustasi.


Bibir Dhana bergetar, menahan isak yang ingin dilepaskan saat ini juga, tak sanggup melihat penderitaan sang putri yang selalu tersiksa, teraniaya hingga berujung celaka.


"Dhana tidak apa-apa, Mas!!! Di detik terakhir Wulan berhasil menyelamatkan Dhana dari kereta yang melintas kencang." jawab Imam yang mewakili, melihat Dhana yang tak sanggup untuk berkata-kata.


Sadha terpekur, menatap lekat Dhana dan Wulan bergantian, tidak tau harus berkata apa, melihat kegigihan gadis kecil adiknya, tak pantang menyerah demi orang tercinta agar tetap selamat dan selalu terjaga.


"Sebaiknya kita bawa Adek ke rumah sakit sekarang, Pa." timpal Syahil, menahan rasa yang ingin menjerit saat melihat sang adik.


Sadha mengangguk cepat, menyeka air yang membasahi wajahnya yang frustasi.


"Dhana... sebaiknya kamu membawa Mala, dia pingsan! Biar Mas yang akan membawa Wulan. Kita bawa mereka ke rumah sakit!!!" ujar Sadha, berusaha menenangkan sang adik yang tak tau lagi harus melakukan apa.


"Mala pingsan Mas?" tanya Dhana.


"Iya, Dhana. Sepertinya Mala syok. Ayo cepat!!! Putrimu harus segera ditangani!!!" jawab Sadha, beranjak membopong Wulan.


Dhana mengangguk, beranjak cepat mendekati sang istri yang pingsan di sana, ditemani Imam yang selalu ada di sisinya. Sementara itu Aiziel, Aifa'al, Syahal, Syahil dan Damar beranjak pergi mengikuti Sadha.

__ADS_1


"Sayang..." ujar Dhana yang tercekat lirih, mengelus wajah sang istri yang tak sadar.


"Ayo Dhana!!! Mala juga harus ditangani!" ujar Imam yang berusaha menenangkan.


Dhana mengangguk, membopong tubuh sang istri yang tak sadarkan diri, menyusul Sadha dan anak-anak yang sudah pergi lebih dulu, belum jauh, masih bisa dikejar.


Tiga mobil dan satu motor saling kejar mengejar. Posisi depan ada mobil Ammar yang dikendarai Aiziel, melesat kencang membawa Wulan yang semakin pucat dan lemah, ditemani oleh Sadha dan Damar yang memangku tubuh mungil Wulan di kursi belakang, membiarkan Aiziel fokus mengendarai dengan kecepatan tinggi.


Posisi kedua ada mobil Sadha yang dikendarai Syahal dan ditemani oleh Syahil di sisinya. Di posisi ketiga ada mobil Dhana yang dikendarai Imam, melesat tak kalah kencang menyusul dua mobil di depannya, membawa Mala yang tidak sadarkan diri karena pingsan. Sementara posisi terakhir, ada Aifa'al. Menyusul ketiga mobil di depan dengan sepeda motor, menembus angin malam yang pekat, berteman air mata.


Maafkan aku, Ya Allah... Selama ini aku terlalu dibutakan oleh kebencian yang tak beralasan pada adikku sendiri. Aku terlalu egois, tidak bisa melihat ketulusan hatinya. Cemburu karena Daddy, Mommy dan Mas Ziel lebih memperhatikannya. Tidak bisa melihat betapa menderita jiwanya. Adik yang selama ini aku benci bahkan aku jauhi seperti orang asing, justru dia yang menjadi penyelamat hidupku. Aku minta satu hal padamu, Ya Allah. Tolong selamatkan dia! Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, jika dia pergi sebelum aku meminta maaf padanya. Berikan aku kesempatan untuk menyayanginya sepenuh jiwa dan ragaku. Gumam Aifa'al dalam hati yang meringis.


Malam yang semakin pekat menjadi saksi, curahan hati kecil sosok Aifa'al yang telah menyadari, bahwa sang adik adalah pelita hati. Yang harus disayangi, dilindungi dan didekati, bukan dijauhi apalagi dibenci.


***


"Saya tidak bersalah, Pak!!!"


Di bawah terang sinarnya lampu, di depan sosok Polisi berwajah sangar, Gibran terus mengelak, mendesak agar segera dilepas. Terus menyangkal kalau dirinya tidak salah, membuat cerita baru seakan-akan dirinya korban yang teraniaya puluhan tahun lalu.


"Bapak tau siapa saya? Saya ini Gibran!!! Pemilik property Jaya Mandiri yang maju. Mana mungkin saya yang dikenal sebagai pendiri sekaligus pemilik sekolah, berani melakukan kriminalitas seperti ini. Itu tidak mungkin dan saya sudah difitnah, Pak!!!" ujar Gibran, membela diri yang bersalah.


"Semua bukti dan laporan sudah jelas bahwa anda bersalah, Pak Gibran!!! Saya tau, bahkan sangat mengenal anda yang terpandang. Tapi hukum, tetap hukum!!! Yang bersalah akan tetap ditindak lanjut sampai ke persidangan!" jawab Polisi itu.


Gibran berdecak, menahan geram yang berkemelut dalam jiwa, melindungi nama yang sebenarnya sudah tercoreng namun tidak ingin mengakuinya terang-terangan.


"Bawa dia ke dalam tahanan!!!" seru Polisi, memerintahkan bawahan yang ada di sana.


"Baik Pak!" jawab Polisi berpangkat Briptu, menarik tangan Gibran dan membawanya.


"Tapi saya tidak salah, Pak! Saya tidak bersalah! Saya difitnah! Saya dijebak!!!" tandas Gibran yang memberontak keras.


"Tidak!!! Saya tidak salah! Wanita itu yang sudah membunuh orang tua saya!!! Saya adalah korban! Bukan saya yang memulai, tapi wanita itu!" tandas Gibran yang stress.


Briptu Polisi sempat kewalahan, namun masih bisa diatasi berkat bantuan Polisi lainnya yang tengah bertugas menjaga lapas. Memasukkan Gibran ke dalam sell tahanan, menunggu keputusan selanjutnya.


"Sial!!! Aku akan kembali, Mala!!! Urusan masa lalu kita tidak akan berakhir dengan mudah, sebelum kamu merasakan betapa sakitnya kehilangan orang yang tersayang!"


***


"Bagaimana keadaan anak dan istri saya Dokter?"


Setengah jam berlalu, membuat semua yang duduk termangu beranjak, melihat kedua dokter yang masuk bersamaan di saat Mala dan Wulan menempati UGD. Gundah dan gulana, takut dan khawatir, tidak dapat dibohongi begitu saja. Terus berkecamuk dalam jiwa, berusaha ditepis namun datang dan datang terus. Tak mau hilang walaupun hanya sesaat.


"Kondisi anak dan istri anda sudah mulai membaik, Pak. Peluru yang menembus bahu kiri anak anda sudah berhasil kami keluarkan. Namun untuk beberapa hari ke depan, tangan anak anda harus memakai arm sling sebagai penyanggah agar luka pada bahunya lebih cepat kering. Sangat beruntung karena peluru itu tidak mengenai jantung anak anda. Kalau tidak, saya sebagai dokter tidak kuat membayangkan anak seusianya harus menjalani operasi. Sementara kondisi istri anda sudah stabil dan masih tertidur karena efek obat bius. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


Helaan nafas lega bersamaan keluar, mengucap syukur dalam hati atas berita baik yang sejak tadi mengusik ketenangan. Ketakutan seakan melayang, bersama angin malam yang berselimut angan.


"Terima kasih, Dokter. Terima kasih." ujar Dhana, meraih tangan salah satu dokter.


"Kalau begitu saya permisi. Anak dan istri anda akan dipindahkan ke kamar rawat di lantai ini. Kalau ada sesuatu, anda tinggal memanggil suster yang berjaga. Permisi." jawab Dokter itu, menepuk bahu Dhana.


"Terima kasih, Dokter." ucap Dhana lagi.


Wajah yang gusar kembali cerah, dibawa untuk tersenyum pada orang disekitarnya.


Grep!


Sadha dan Dhana berpelukan, menitikkan air mata yang sempat mengering, kembali mengalir karena syukur yang tak terbilang. Mengundang air mata yang lainnya. Imam, Aiziel, Aifa'al, Syahal, Syahil dan Damar menjadi saksi, betapa besar kekhawatiran sosok kakak pada sang adik, semuanya sudah terbukti, terlihat jelas di depan mata.

__ADS_1


"Mas sangat bersyukur karena kamu baik-baik saja, Dhana. Kamu hampir membuat Mas mati karena jantungan, mendengar kamu terlindas oleh kereta api." ujar Sadha parau, mengusap kepala Dhana.


"Maaf, Mas. Dhana harus melakukan ini untuk menyusun rencana lain agar Mala dan Ziel tidak menjadi korban Gibran berikutnya. Tapi Polisi datang begitu saja dan ditambah lagi dengan kemunculan Al, lalu disusul oleh Wulan yang nekat. Semuanya jadi hancur." jawab Dhana, melerai pelukannya.


"Yang penting kita semua selamat. Mala dan Wulan baik-baik saja. Itu sudah lebih dari cukup." ujar Sadha, meraih bahu sang adik.


Dhana mengangguk, mengulas senyum yang sejak kemarin hilang karena cemas. Menoleh sesaat ke arah anak-anak yang tampak kelelahan, melawan kantuk yang sudah mengerumuni mata. Keduanya pun beranjak, mendekati Imam dan anak-anak yang melihat dengan derai air mata haru.


"Ziel, Al, Syahal, Syahil, Damar... lebih baik kalian pulang, Nak!!! Kalian pasti kelelahan, apalagi Al dan Damar yang disekap selama berjam-jam di dalam ruangan kecil. Kalian pulang saja ya. Kalian jangan sampai sakit." ujar Dhana, membujuk kelima anaknya itu.


"Damar mau di sini menemani Adek dan Mami, Pi." jawab Damar yang bersikukuh.


"Biar Papi yang menjaga mereka. Kalau kamu sakit, siapa yang akan menemani Papi. Datang lah lagi besok pagi, Damar. Papi akan menunggu kamu di sini. Ya?" tutur Dhana, membujuk sang putra yang berat membiarkan adik dan maminya.


"Tapi Pi..."


"Papi tidak mau kamu sakit. Ingat, kamu harus sehat agar bisa menjadi ketua osis." potong Dhana yang membujuk Damar.


Damar menghela pasrah, mengalah demi sang papi, mengikuti permintaan hati yang tidak bisa membohongi bahwa lelah sudah mengusai diri.


"Izinkan Al menemani Adek, Uncle!"


Semua mata menoleh, melihat Aifa'al yang tertunduk, menyembunyikan mata sembab, meratapi diri yang terlambat menyadari hati. Mengundang keharuan yang berujung pilu, namun mampu memancing senyum haru.


Dhana melangkah maju, mendekati putra bungsu mas sulungnya yang tengah risau.


"Kamu juga harus istirahat, Al."


"Al tidak lelah, Uncle."


"Uncle tidak ingin kamu sakit, Nak."


"Al akan istirahat saat menjaga Adek."


"Istirahat di rumah akan lebih baik."


"Di rumah pun Al tidak bisa tidur, Uncle."


Dhana menghela nafas berat, tersenyum getir mendengar pengakuan Aifa'al yang tulus dari hati. Terlambat memang namun masih di dalam batas wajar.


"Uncle sangat berterima kasih padamu, Nak. Karena kamu sudah menjaga Damar dan Wulan saat kalian disekap. Kalau tidak ada kamu, mungkin sampai saat ini Damar dan Wulan masih belum ditemukan. Jadi Uncle mohon dengan sangat, pulang lah! Istirahatkan tubuhmu yang sudah lelah ini, jangan dipaksakan! Kalau kamu sakit, lalu daddy dan mommy mu tau, apa kamu tau konsekuensi nya bagaimana? Masih ada hari esok. Besok kamu bisa menjaga dan bertemu dengan Wulan. Dia pasti senang melihat kamu ada di sampingnya. Ya?"


Aifa'al menghela nafas panjang, berpicing mata sesaat, menghirup udara segar yang terbuang, menstabilkan hati yang gamang, tidak ingin meninggalkan sang adik seperti dulu. Namun hati yang kekeuh terkalahkan dengan tubuh yang berbicara, teramat lelah kembali mendera, membujuk sang pemilik tubuh untuk segera berbaring, men-charge kembali tenaga yang sudah terkuras habis.


"Baiklah, Uncle. Al akan pulang."


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇


Masa-masa tegang akhirnya usai 😂✌️ saatnya kita beralih ke masa-masa lain.

__ADS_1


__ADS_2