Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 139 ~ Kertas Kuning


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Lo baik-baik saja 'kan Bim?"


Sesampainya di depan Basecamp, Bima justru tak kunjung turun dari motor Kenzie. Membuat lelaki berdarah campuran Brazil dan Indonesia itu mengeryit, heran melihat sikap Bima yang sangat beda dari biasanya. Sementara teman-teman motornya yang lain sudah masuk ke dalam Basecamp dan siap untuk merayakan kebebasan dirinya.


"Kira-kira lo tau tidak, siapa yang sudah membebaskan gue dari penjara?" tanya Bima, melihat Kenzie yang berdiri di sisinya.


Kenzie menghela nafas panjang, seraya mendaratkan tubuhnya di atas motor yang sama dengan Bima. Teringat kembali saat dirinya bersama teman-teman Black Moon hendak mengunjungi Bima di kantor Polisi setelah sekian lama tidak bisa mengunjungi karena Dimas yang arogan, melarang dan mengancam mereka untuk tidak menemui Bima di kantor Polisi dengan alasan yang tidak jelas. Namun karena Dimas and the gengs Tiger ingin melakukan misi rahasia, tanpa melibatkan Black Moon, membuat Kenzie dan teman-temannya mempunyai kesempatan waktu untuk menemui Bima.


"Gue tidak tau, Bim! Sebenarnya gue juga penasaran, siapa yang sudah menolong lo. Gue juga terkejut tadi, di saat gue bersama teman-teman ingin masuk ke dalam kantor Polisi, tiba-tiba saja lo sudah keluar. Gue happy karena lo bebas sekarang, apalagi setelah kita menemui Dimas dan menjebak dia dengan cara halus tanpa bermain otot." jawab Kenzie, menepuk bahu sang kapten.


"Ya...! Gue puas banget rasanya bisa menjebak Dimas balik seperti tadi! Biar dia tau rasa, bagaimana rasanya dikhianati!!! Tapi jujur gue masih penasaran, Ken. Siapa orang yang sudah membebaskan gue?" timpal Bima, menoleh lagi ke arah Kenzie.


"Andai saja gue dan teman-teman datang lebih cepat, mungkin gue dan teman-teman bisa tau siapa yang sudah membebaskan lo dari kantor Polisi." ujar Kenzie.


Bima terdiam, berusaha menenangkan perasaan yang rasanya campur aduk saat ini, membuatnya bingung dan penasaran.


"Memang apa yang akan lo lakukan, kalau misalnya lo bertemu sama orang baik itu?" tanya Kenzie balik, menatap Bima tajam.


"Berterima kasih! Karena dia sudah mau susah payah memberikan jaminan untuk membebaskan gue!" jawab Bima, tegas.


"Hanya terima kasih? Gue merasa kalau lo punya rencana untuk membalas kebaikan orang baik itu, Bim." celetuk Kenzie, asal.


Bima terdiam, mengulum senyum yang tersimpan di dalam wajah sangarnya itu. Tangannya pun meraih sesuatu yang ada di dalam saku jaketnya, hingga terlihat sebuah kertas berwarna kuning cerah yang berisi tulisan pendek, berupa kata-kata motivasi.


"Hanya petunjuk ini yang gue punya, Ken. Pak Polisi yang memberikan kertas warna kuning cerah ini kepada gue, sebelum gue dinyatakan bebas! Di dalam kertas ini ada tulisan orang itu dan dia menulis kata-kata motivasi buat gue!" ujar Bima.


"Lalu apa rencana lo, Bim?" tanya Kenzie.


"Gue tidak tau, Ken." jawab Bima, lesu.


"Terus lo mau bagaimana?" tanya Kenzie.


"Gue bersumpah! Kalau orang baik yang sudah menolong gue itu adalah laki-laki, maka gue akan menganggapnya sebagai saudara kandung gue! Dan kalau orang itu seorang gadis, maka suatu saat nanti gue akan menikahi gadis itu! Gue bersumpah!" tutur Bima, lantang dan tanpa ada beban.


"Lo serius Bim?" tanya Kenzie.


"Gue serius dan gue yakin!" tegas Bima.


"Tapi bagaimana cara lo mencari orang yang sudah berjasa itu?" timpal Kenzie.


"Lo harus bantu gue, Ken!" seru Bima.


Kenzie pun terdiam, melihat Bima yang sepertinya memang ingin sekali bertemu dengan sosok penolong dirinya itu saat ini. Membuat Kenzie yang selama ini menjadi temannya, tidak tega. Melihat sorot mata Bima yang sangat mengharapkan bantuan, hingga Kenzie pun mengangguk setuju.


"Bima...!"


Lengkingan suara lembut itu tiba-tiba mengejutkan Bima dan Kenzie yang tengah duduk di atas motor, di depan Basecamp. Keduanya pun menoleh cepat, mendapati sosok wanita berpenampilan mahal, rapih dan sangat elegant. Membuat mata Bima membulat sempurna, melihat wanita itu.


"Mommy..."


Wanita yang dipanggil mommy oleh Bima itu terus melangkah lebar, mendekati Bima yang masih tercengang melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Mommy..."


"Bima... ayo ikut Mommy sekarang!"


"Ke mana Mom?"


"Mommy datang ke sini untuk menjemput kamu! ART di rumah yang memberitahu Mommy, bahwa kamu sudah dibebaskan! Kamu sempat pulang ke rumah lalu pergi lagi, tanpa memberitahu mommy kamu ini! Dan sekarang, kamu harus ikut Mommy! Daddy mu menyuruh Mommy menjemput kamu, dan membawa kamu ke Amerika!!!"


"What? Ke Amerika? Untuk apa Mom?"


"Kamu harus dihukum! Daddy mu sudah menyiapkan sekolah yang bagus untukmu, dan kamu tidak boleh membantah lagi!!! Sudah cukup dengan keributan yang telah kamu lakukan selama berada di sini, Bima! Mulai detik ini, kamu dilarang membantah perkataan Mommy!"


"Tapi Mom, Bima..."


"Kamu mau tinggal di sini tanpa Mommy dan Daddy, atau ikut Mommy sekarang? Mommy tidak punya waktu lagi! Pesawat kita akan take off satu jam lagi, Bima! Apa lagi yang kamu pikirkan? Dasar anak nakal!"


Bima terbungkam, melihat tatapan sang mommy yang mengintimidasi bathin nya. Sementara Kenzie hanya bisa diam dan menghela nafas panjang, melihat sang kapten yang baru saja bebas dari penjara, kini harus diboyong orang tuanya ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan yang sempat terputus karena kelakuan nakalnya.


Di satu sisi Bima masih ingin berada di sini, mencari orang baik yang sudah menolong dirinya keluar dari penjara. Namun di sisi lain, hidupnya sudah berantakan selama ini karena selalu melawan orang tuanya yang lebih memilih menetap di luar negeri. Bima mendadak gamang, matanya tertuju pada kertas kuning cerah yang ada di tangannya.


"Bima...!" seru sang mommy, geram.


"Mom... ini terlalu mendadak!" ujar Bima.


"Tidak ada yang mendadak, Bima! Daddy dan Mommy memang menolak membantu kamu keluar dari penjara! Untuk siapa itu? Untuk kamu! Biar kamu bisa merenung dan intropeksi diri kamu yang semakin nakal itu! Tapi Daddy dan Mommy sudah berencana, untuk membawa kamu ke Amerika, tinggal bersama kami dan kamu sekolah kembali! Mommy tidak mau ya, punya anak lanang satu-satunya tapi nakal dan tidak memiliki pendidikan yang tinggi! Sekarang terserah kamu! Mau ikut, atau tinggal di sini tanpa fasilitas apapun dari Daddy dan Mommy!" tandas sang mommy yang sangat tegas.


Bima menghela berat, menoleh sesaat ke arah Kenzie yang masih berdiri di sisinya. Meraih bahunya yang disertai anggukan, seakan Kenzie menyuruh Bima patuh pada perintah orang tuanya demi masa depan. Membuat Bima makin gamang dan berat.


"Mommy beri kamu waktu 10 menit!!! Jika dalam waktu itu kamu tidak menyusul ke mobil, maka Mommy anggap kamu telah menolak ajakan Mommy!" seru sang ibu.


"Lebih baik lo ikuti kata-kata mommy lo, Bim!" ujar Kenzie, meyakinkan Bima.


"Tapi gue belum sempat bertemu dengan orang baik itu, Ken! Bagaimana bisa gue pergi seperti ini!" ujar Bima, terdengar lirih.


"Setelah pendidikan lo selesai dan lo sudah sukses, lo bisa kembali lagi ke sini! Gue janji, gue akan membantu lo buat mencari orang itu! Karena gue merasa, kalau orang itu ada hubungannya dengan kita." tutur Kenzie.


"Maksud lo?" tanya Bima, heran.


"Sebelum lo ada di sini sekarang, apa lo pernah bertemu seseorang saat lo masih di dalam penjara? Dan lo minta tolong sama mereka untuk dibebaskan?" tanya Kenzie.


"Ada, Ken. Awalnya Dimas, lalu Bu Kinan, dan setelah itu Aifa'al. Gue sempat minta tolong Dimas untuk menemui Aifa'al dan Damar, agar mereka mau menemui gue. Tapi setelah mengetahui pengkhianatan Dimas, gue tidak mau berharap lagi sama anak itu. Lalu Bu Kinan, gue juga sempat minta tolong sama dia, tapi dia menolak! Lalu tidak berselang beberapa hari, Aifa'al datang menemui gue. Al menemui gue di kantor Polisi setelah dia mendapat berita, kalau Dimas dan geng Tiger bergabung!!! Saat itu, gue juga sempat minta tolong ke Aifa'al agar dia mau mencabut tuntutan." terang Bima, menceritakan semuanya.


"Gue yang memberitahu Aifa'al tentang Dimas, Bim! Jadi dia benar-benar datang menemui lo ke kantor Polisi?" ujar Kenzie.


"Iya, Ken. Saat itu gue sudah berusaha meyakinkan Aifa'al, bahkan gue berani membuat persyaratan hitam di atas putih asalkan dia percaya sama kata-kata gue. Tapi sepertinya, Aifa'al sama seperti Bu Kinan. Sampai saat ini gue belum ketemu sama Aifa'al. Dan tidak mungkin juga, Al mampu memberikan jaminan untuk gue." jawab Bima, berusaha menerka-nerka.


"Lo benar juga, Bim! Biaya untuk jaminan seseorang yang terbukti bersalah itu tidak mudah dan jumlahnya sangat besar. Tidak mungkin Aifa'al mampu melakukan hal itu." timpal Kenzie yang ikut berpikir keras.


"Lalu siapa yang sudah membantu gue?" tanya Bima, mengusap gusar kepalanya.


"Bim... lo harus tenang! Lebih baik lo pergi sekarang, sebelum mommy lo marah dan dia pergi meninggalkan lo sendirian di sini." ujar Kenzie, berusaha menenangkan Bima.


"Tapi Ken, gue..."

__ADS_1


"Bim... lo harus ingat dengan sumpah lo! Kalau lo seperti ini terus, lo tidak akan bisa bertemu dengan orang itu! Lo harus sabar! Lo harus sukses! Masalah orang itu biarlah waktu yang akan menjawabnya! Lebih baik lo pergi sekarang! Gue akan menunggu lo sampai lo kembali lagi!!!" pungkas Kenzie.


"Tapi Ken..."


"Masalah Black Moon, lo bisa percayakan sama gue!!! Gue akan menjaga solidaritas kita yang selalu lo jaga sejak Black Moon berdiri!" potong Kenzie, meyakinkan Bima.


Bima menghela berat, berusaha menepis rasa hati yang sangat beda dari biasanya. Berat rasanya meninggalkan ibu kota, dan geng motornya yang solid. Namun tuntutan orang tua membuatnya tak berdaya kali ini.


"Oke! Gue akan mengikuti saran lo, Ken!"


"Semoga lo sukses di sana, Bima!"


"Terima kasih karena lo masih solid sama geng motor kita, Ken. Gue titip Black Moon. Kalau lo bertemu Aifa'al, tolong sampaikan salam perpisahan gue buat dia." ujar Bima.


"Lo tidak mau meminta maaf pada Aifa'al?" tanya Kenzie, segan sebenarnya namun tetap ia beranikan demi menyadarkan Bima.


"Kalau lo bisa, tolong sampaikan itu pada Aifa'al." jawab Bima, mendadak kikuk saat membahas kata maaf darinya pada Aifa'al.


"Hanya Aifa'al? Syahil dan adiknya yang menjadi musuh lo di sekolah itu? Siapa namanya? Kalau gue tidak salah, nama adiknya Aifa'al dan Syahil itu, Damar dan kembarannya Wulan 'kan?" tanya Kenzie.


Bima bergeming, tak bisa menepis rasa benci yang terlanjur melekat pada dirinya terhadap Damar, membuatnya tak bisa merespon pertanyaan Kenzie tentang itu. Memilih diam dari pada harus mengungkit kebencian yang sulit untuk disembuhkan.


"Gue pamit ya, Ken. Salam untuk semua teman-teman." ujar Bima, mengalihkan pembicaraan Kenzie yang menanyakan Damar, musuh bebuyutan nya di sekolah.


"Hati-hati, Bim!" sahut Kenzie.


Bima pun mengangguk, tersenyum tipis sebelum kakinya mulai melangkah pergi, meninggalkan Kenzie dan Basecamp yang menyimpan banyak kenangan selama dirinya menjadi seorang kapten geng motor. Bima berjalan, menyusul sang mommy yang sudah lama menunggunya di dalam mobil.


"Akhirnya kamu datang juga, Sayang!"


"Bima akan ikut dengan Mommy!"


"Keputusan yang sangat tepat! Ayo!"


Bima tersenyum getir, melihat ekspresi wajah sang mommy yang berbinar saat mendengar keputusannya. Lalu Bima pun masuk ke dalam mobil, mengikuti instruksi sang mommy yang sudah tidak sabar ingin kembali lagi ke negeri Paman Sam, hingga mobil yang dikemudikan oleh supir pun berjalan, menyusuri ruas jalan di senja hari yang padat dengan kendaraan pribadi.


Selama perjalanan Bima hanya bungkam, tangannya masih setia memegang kertas kucing cerah misterius itu. Sesekali ia juga membacanya lagi dan lagi, mengundang seutas senyum penuh makna saat melihat tulisan pada kertas kuning itu. Membuat Bima semakin bertekad untuk menemukan orang baik itu di suatu saat nanti.


Gue tidak akan melepaskan lo. Siapa pun orangnya, gue pasti akan menemukan lo. Gue tidak mau ada utang budi di antara lo dan gue. Gue akan kembali lagi setelah urusan pribadi gue selesai nanti. Gumam Bima dalam hati yang bertekad.


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇


Scene terakhir untuk Bima ya guys 😘 berarti ngak lama lagi kisah Wulan akan tamat, yeeeyyy 👏👏👏👏 Alhamdulillah banget, semoga dina masih bisa menulis sampai cerita ini benar-benar tamat yaws

__ADS_1


Tinggal Gibran dan Zivana yang ngak tau seperti apa nasibnya sekarang 🤣🤣 dina berharap kalian sabar ya sampai kisah ini tamat. In syaa Allah ngak akan lama lagi, dalam bulan ini bakal dina usahakan habis kisahnya yaws 😘 terima kasih semua ♥️


__ADS_2