
...☘️☘️☘️...
Prang!
Suara pecahan benda kaca terdengar kuat dari arah ruang keluarga, membuat Pak Aidi beranjak cepat, bergegas menghampiri sumber suara yang diduga berasal dari dapur.
"Sayang... kamu kenapa?" tanya Pak Aidi, menghampiri sang istri yang mematung di posisi berdirinya, menatap serpihan gelas.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku hanya tidak sengaja menyenggol gelas itu." jawab Bu Aini, mengulas senyum walaupun dipaksa.
"Ya sudah... biar Bi Iyah saja yang membersihkan serpihan gelas itu. Kita pergi ke rumah sakit sekarang ya. Siapa tau saja, Wulan dan Mala sudah sadar." ujar Pak Aidi, merangkul sang istri yang hanya terpekur.
Bu Aini bergeming, meremas tangannya yang saling bertautan, mengabaikan Pak Aidi yang tengah mengajaknya berbicara. Pandangan matanya pun kosong, seperti tengah memikirkan sesuatu yang dirasakan.
"Sayang... kenapa? Kok diam saja?" ujar Pak Aidi, menghentikan kaki lalu memutar bahu sang istri hingga menghadapnya.
"Entahlah, Mas. Hatiku mendadak sedih saat ini. Rasanya, seperti saat di mana aku kehilangan putriku satu-satunya, Mas." tutur Bu Aini, menatap lekat netra Pak Aidi.
"Sstttt!!! Kamu bicara apa sih Sayang? Jangan mengingat masa itu lagi. Saat ini putri kita sudah tenang, kasihan dia kalau kamu masih saja sedih!!! Lebih baik, kita berangkat sekarang dan menemui Dhana." ujar Pak Aidi, berusaha menenangkan sang istri.
Bu Aini mengangguk, menghela panjang sesaat sebelum kembali melangkah lagi, bergandengan tangan dengan sang suami. Namun langkah yang sudah dibawa jauh harus terhenti lagi saat ponsel Pak Aidi di dalam saku celananya harus bergetar, menuntut sang pemilik untuk mengangkat panggilan yang ternyata dari sang putra.
"Assalamualaikum Dhana... ada apa Nak? Ayah dan Ibu baru saja ingin pergi ke sana. Kamu ingin dibawakan apa? Makanan?" tutur Pak Aidi, menerima panggilan Dhana.
"Wa'alaikumsalam Ayah... sebaiknya Ayah dan Ibu menunggu di rumah saja ya. Ayah dan Ibu tidak perlu datang ke rumah sakit karena Dhana dan semuanya akan pulang." ujar Dhana, terdengar parau dan bergetar.
"Mala dan Wulan sudah sadar Nak?" tanya Pak Aidi, belum mengetahui maksud Dhana.
"Mereka sudah baik-baik saja, Yah. Dhana hanya ingin memberitahu bahwa......" ucap Dhana terhenti, tercekat di tenggokannya.
"Bahwa apa Dhana? Kenapa suara kamu terdengar parau dan berat seperti tengah menahan tangis?" tanya Pak Aidi, merasa ada yang salah dengan suara sang putra.
Sejenak Dhana terdiam, tidak ada suara yang terdengar dari telepon selain suara sayup-sayup isak tangis yang memilukan, membuat Pak Aidi semakin tidak senang, takut jika terjadi sesuatu hal yang buruk lagi.
"Imam, Yah!!! Imam sudah tidak ada lagi!"
Pak Aidi bergeming, berusaha memahami maksud Dhana yang membuatnya ambigu dengan kata 'tidak ada lagi'. Sementara Bu Aini yang masih setia memperhatikan, kini mengeryit heran, melihat binar di raut wajah sang suami hilang dalam sekejap, setelah bicara singkat dengan Dhana via telepon.
"Dhana akan menceritakan semuanya di rumah!!! Jenazah Imam sudah dimandikan. Kita harus menyolatkan dan memakamkan jenazah Imam hari ini. Dhana harap, Ayah dan Ibu bisa kuat!!! Dhana, Mas Ammar dan anak-anak akan pulang. Assalamualaikum, Yah..."
Panggilan berakhir, membuat Pak Aidi terduduk lemas di depan teras rumahnya. Bu Aini terkesiap, menopang sang suami lalu berusaha memapanya ke dalam lagi.
"Ada apa Mas? Kenapa wajahmu pucat seperti ini? Apa yang dikatakan Dhana? Mala dan Wulan baik-baik saja, bukan?" cercah Bu Aini, setelah duduk di sofa dan memberikan air minum pada sang suami.
Pak Aidi bergeming, tatapannya kosong namun air matanya jatuh begitu saja, membuat perasaan Bu Aini semakin tidak enak, menambah gejolak perasaan buruk yang sejak tadi ia rasakan saat di dapur.
"Mas... jawab aku! Apa yang terjadi?"
"Imam... Imam meninggal dunia, Sayang!"
"Innalillahi wainnailahi roji'un... tidak! Tidak mungkin!!! Kemarin Imam masih bersama dengan kita!!! Imam masih sehat!!! Kamu jangan bercanda dengan kematian, Mas!!!" tukas Bu Aini, tidak percaya pada Pak Aidi.
"Aku pun tidak menyangka, Sayang. Tapi itulah kabar berita yang Dhana katakan!!!" jawab Pak Aidi, berusaha menenangkan sang istri walaupun dirinya pun terpukul.
"Tidak!!! Tidak mungkin menantuku meninggal!!! Tidak mungkin, Mas!!!"
__ADS_1
Pecah sudah tangis Bu Aini, memenuhi langit-langit atap ruang tamu yang menjadi saksi, betapa terpukul nya hati yang sudah mulai terobati karena kehilangan, namun harus merasakan kehilangan lagi, semakin membenarkan firasat yang sejak tadi masih membalut hati. Sementara Pak Aidi hanya bisa menangis dalam diam, merengkuh tubuh sang istri yang bergetar hebat, terisak menahan kepiluhan, mengingat bahwa sang putra menantu telah meninggalkannya.
***
"Bagaimana Dhana?"
Dhana mengusap wajah, menyeka bulir telaga bening yang terus-terusan jatuh, menggiring mata ke arah sumber suara.
"Ayah hanya diam, Mas. Mungkin Ayah terpukul sekali. Lalu bagaimana dengan Mas Sadha?" jawab Dhana, berusaha kuat.
"Mas memintanya langsung pulang saja agar bisa membantu Ayah menyiapkan segala sesuatunya di rumah." ujar Ammar.
"Lalu Abi dan Umi?" tanya Dhana lagi.
Ammar menghela nafas berat. Setelah memberitahu berita duka pada Sadha, pemberitahuan harus berlanjut, membuat Ammar harus menghubungi orang tua Imam yang saat ini masih berada di Cairo. Isak tangis pun mengiringi pembicaraan pilu di antara Ammar dan Pak Zakaria, abi Imam.
Tidak menyangka jika umur sang putra pun berakhir dengan penyakit yang selama ini tidak mereka ketahui. Membuat umi Imam, Bu Maryam histeris, ingin pergi menyusul ke ibu kota. Namun takdir pun seakan enggan mengizinkan, cuaca buruk yang kini tengah terjadi di Cairo membuat keduanya terhenti. Ditambah dengan waktu perjalanan yang akan memakan waktu, mengingat jenazah Imam yang sudah dimandikan dan harus segera dimakamkan sebelum senja datang.
Bu Maryam sempat memberontak, tak rela jika sang putra dimakamkan sebelum mata melihatnya secara langsung. Namun berkat Pak Zakaria, Bu Maryam akhirnya berhasil ditenangkan. Mereka pun meminta Ammar untuk mengurus semuanya di ibu kota, dan yang bisa mereka lakukan hanya berdo'a agar arwah sang putra tercinta tenang.
"Mereka sangat terpukul, Dhana. Selama Imam di Cairo, dia tidak pernah meringis kesakitan hingga tiada satu pun di antara Abi dan Umi yang menyadari kalau Imam tengah sakit keras. Sifat Imam sendiri pun tertutup, sama seperti Adek 'kan? Enggan memberitahu keluh kesahnya pada orang lain apalagi keluarga." tutur Ammar, parau.
"Imam dan Dhina!!! Mereka pasti sudah bertemu di sana, Mas. Dhana jadi iri!!!" lirih Dhana, menyeka air matanya yang terjatuh.
"Kamu jangan bicara seperti itu, Dhana!!! Sebaiknya kamu jemput Mala di ruangan Dokter Ali. Kita pulang sekarang! Jenazah Imam harus segera dimakamkan sesuai dengan permintaan abi dan uminya yang tidak bisa datang. Mengingat cuaca yang tidak bagus untuk melakukan perjalanan udara, mereka terpaksa hanya bisa berdo'a dan melakukan shalat ghaib dari sana untuk Imam yang terakhir kalinya. Semoga semua ini bisa kita lalui bersama ya." tutur Ammar.
"Baiklah Mas..." jawab Dhana, parau.
Ammar beranjak, mendekati Ibel yang tengah duduk memeluk Wulan, ditemani oleh yang lainnya yang tak kalah terpukul.
Kabar kepergian sang paman yang baru beberapa waktu mengisi hari-hari, itu pun berawal dari kabar penculikan, berlanjut hingga malam di saat aksi penyelamatan yang menegangkan itu terjadi. Setelah kejadian itu, Wulan yang menjadi korban pun tidak sadarkan diri karena menjadi sasaran penembakan, membuatnya tidak dapat berbincang lebih banyak dengan sang paman. Di saat Wulan sadar, takdir seakan bermain, sang paman yang masih dirindukan justru harus pergi, menghadap Sang Illahi dan takkan pernah kembali lagi.
Dhana yang hendak melangkah pun menoleh, mendapati Mitha yang mengulas senyum padanya kendati air matanya luruh.
"Aku menemukan ponsel Imam di dalam genggaman tangannya saat pemeriksaan tadi. Mungkin anak-anak yang membawa Imam ke sini tidak sadar, kalau pamannya masih menggenggam ponsel." ujar Mitha.
"Terima kasih Mitha." ucap Dhana.
Sosok dokter cantik itu mengangguk, mengulas senyum sebisa mungkin untuk menutupi kesedihan yang teramat dalam, kehilangan orang yang dicintainya hingga kini, tak peduli bahwa diri sudah tak sendiri lagi. Siapa yang bisa menebak isi hati? Hati yang sudah lama menyimpan nama sosok lelaki, namun sosok yang dicintai itu justru memilih cinta lain. Sakit, tapi Mitha tak bisa berbuat apa-apa selain merelakan, bahkan kini pun ia harus melepas kepergian Imam.
"Aku turut berduka cita atas kepergian sahabat kamu, Dhana. Dia juga sahabat terbaik bagiku!!! Aku juga sudah banyak mendengar cerita tentang kamu dan adik kembarmu dari Imam, saat dia datang menemuiku sebelum kebenaran penyakit kerasnya terkuak. Walaupun sebenarnya aku sudah lama tau, kalau Imam sudah menikah dengan adikmu, dan takdir cinta mereka pun diuji karena kepergian adikmu."
Dhana tersenyum getir, tanpa terasa air matanya pun mengalir seiring mendengar cerita Mitha yang membuka duka lama.
"Cinta mereka sangat kuat, Dhana! Sampai maut memisahkan pun, tak sedikit dari cinta Imam berkurang untuk mendiang adikmu. Kamu harus sabar dan kuat. Aku yakin, kini Imam dan adik kamu sudah tidak sakit lagi. Mereka sudah bahagia di sana. Mereka pasti sudah bertemu di Surga!" tutur Mitha, tersenyum namun air matanya tetap jatuh.
"Kamu juga ya, Mit. Aku tau semua cerita tentang kamu dari Imam. Ikhlaskan cinta Imam yang hanya untuk adikku. Semoga kamu bahagia hidup bersama suamimu! Terima kasih karena kamu sudah menjadi dokter untuk Imam. Aku atas nama Imam, minta maaf jika semasa hidup dia pernah membuat hatimu terluka." jawab Dhana.
"Aku pasti akan bahagia!!! Aku akan ikut mengantar Imam ke tempat peristirahatan terakhirnya sebagai tanda kalau aku sudah memaafkan dia." tutur Mitha, mengulas senyum di wajahnya yang semakin basah.
"Terima kasih juga untuk hal itu. Aku dan keluarga akan mengikuti permintaannya yang terakhir. Imam akan dimakamkan di samping makam mendiang istrinya." ujar Dhana, mengangguk dan tersenyum getir.
"Itu lebih baik, Dhana. Karena itulah pesan terakhir Imam yang sempat dia katakan padaku saat dia mengetahui penyakitnya. Mungkin saat itu Imam sudah merasakan firasat, kalau dirinya akan pergi. Walaupun aku sudah berusaha meyakinkan Imam, kalau dia pasti bisa sembuh asalkan yakin. Namun Imam tetap menolak dan aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ya sudah, kalau begitu aku permisi dulu ya." tutur Mitha.
Dhana mengangguk, menatap punggung sosok teman yang memang pernah dekat juga dengannya dan Imam, seakan punya nasib yang sama. Cinta pertama yang tak bersambut, hanya menciptakan luka di hati.
__ADS_1
Dhana pun beranjak, berjalan menuju ruangan Dokter Ali yang masih tertutup. Di saat tangannya hendak membuka handle pintu, dari dalam pun handle itu bergerak.
"Pak Dhana... Bu Mala sudah berada di kamar rawatnya. Beliau sedang tertidur. Setelah terapi, emosinya jadi lebih stabil. Pesan Dokter Ali, untuk saat ini biarkan Bu Mala istirahat dulu, Pak. Agar psikis beliau bisa cepat membaik." ujar Suster Dokter Ali.
"Dokter Ali ada di dalam?" tanya Dhana.
"Dokter Ali sedang praktek di luar, Pak. Mungkin besok pagi baru akan kembali lagi." jawab Suster itu.
"Apakah istri saya sudah boleh pulang?" tanya Dhana, memastikan kondisi Mala benar-benar baik untuk dibawa pulang.
"Sudah, Pak Dhana. Tapi tolong, emosi beliau jangan sampai kacau dulu karena akan berdampak dengan psikis nya yang masih rentan." jawab Suster, menjelaskan.
Dhana terdiam. Bagaimana mungkin ia membawa Mala pulang di saat suasana duka tengah menyelimuti keluarga besar, sementara kondisinya saja masih sangat rentan, cukup membahayakan orang lain termasuk Wulan.
"Suster... bisa Suster membantu saya?"
"Apa itu Pak Dhana?"
"Tolong jaga istri saya sebentar. Saya dan keluarga harus pulang karena ada sesuatu yang tidak bisa saya katakan. Nanti malam saya akan kembali lagi ke sini, menjemput istri saya." tutur Dhana, sedikit mengiba.
"Baik, Pak Dhana. Dengan senang hati. Saya akan menjaga Bu Mala sampai Pak Dhana kembali lagi." jawab Suster itu.
"Oke!!! Kalau begitu ini nomor saya. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada istri saya, maka cepat hubungi saya." tukas Dhana.
"Baik Pak Dhana..." jawab Suster.
"Terima kasih Suster..." ucap Dhana.
"Sama-sama Pak..." jawab Suster.
Dhana mengangguk, lalu beranjak cepat menuju tempat di mana Ammar dan Ibel bersama anak-anak berada, menunggu jenazah Imam yang tengah dipersiapkan.
"Mami di mana Pi?" tanya Damar.
"Mami tidak bisa dibawa pulang, Damar. Psikis Mami masih rentan. Jika kita paksa membawa Mami pulang, maka emosinya tidak akan terkendali di situasi seperti ini." jawab Dhana, melihat Damar dan Ammar.
"Lalu siapa yang akan menjaga Mami? Kondisi saat ini pun juga berbahaya, Pi!!! Papi lupa kalau Pak Gibran melarikan diri dari penjara? Kalau dia memanfaatkan situasi ini bagaimana?" cercah Damar.
"Damar benar, Dhana. Kita tidak mungkin meninggalkan Mala di rumah sakit sendiri. Situasinya sedang rumit sekarang. Lebih baik seperti ini, minta Dokter Ali membius Mala. Biarkan dia tidur panjang, sampai proses pemakaman Imam selesai. Kamu jangan mengambil resiko di situasi seperti sekarang, Dhana! Gibran itu lebih licik dari Mira!!!" timpal Ammar, mendukung Damar.
"Atau biar Al saja yang akan menjaga Anty di sini, Uncle!" timpal Aifa'al, wajahnya pun sudah basah karena teringat sang paman.
"Tidak, Al!!! Daddy tidak mengizinkan!!!" tukas Ammar, memberi peringatan tegas.
Dhana menghela nafas panjang, berpikir untuk mencari langkah yang harus diambil, tanpa membahayakan sang istri maupun keluarganya sendiri dari tangan Gibran.
"Baiklah Mas! Dhana akan mengikuti saran Mas Ammar!!!"
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading All 😇😇😇