
...🍁🍁🍁...
"Ternyata Damar adalah cucu dari seorang pembunuh Mas!!!"
Damar duduk termangu, menundukan kepala yang terasa berat, teringat dengan sesuatu yang menjadi asal usul masalah, dendam masa lalu keluarga sang pemilik sekolah yang ternyata ada hubungannya dengan keluarga sang mami. Sosok yang seharusnya dikenal lembut sebagai sosok seorang nenek justru pernah membunuh seseorang yang tidak berdosa, menciptakan dendam yang tak berkesudahan, berakhir panjang dan melibatkan orang tersayang.
Aiziel, Aifa'al dan Syahal-Syahil terpekur, menatap sendu sang adik yang dirundung duka mendalam, mengetahui kebenaran yang belum pantas untuk didengar. Dapat memecah mental, bahkan trauma di masa yang akan datang.
"Semuanya sudah terjadi, Damar. Dan kejadian itu sudah lama sekali. Kita tidak bisa merubah masa lalu. Biarkan masa itu berlalu dan kamu tidak perlu menyesalinya." tutur Aiziel, menenangkan hati sang adik.
"Mas Ziel benar, Dik!!! Mungkin pada saat itu, nenek kamu khilaf. Kamu sudah dengar cerita papimu tadi, bukan? Masalah yang berawal karena cinta, kalau tidak berujung bahagia, pasti akan berakhir mala petaka. Saat cinta ditolak, pisau pun bertindak!!!" timpal Syahal, ikut menenangkan Damar.
Aifa'al mendengus samar, namun masih bisa terdengar oleh Syahal yang melihat, menangkap tatapan tajam mengintimidasi dari sang mas, membuatnya bergidik ngeri. Memancing kekehan Syahil yang melihat guratan ketakutan di wajah kembarannya saat sang mas tengah memberi tindakan. Sementara Aiziel hanya menggeleng, geli melihat ekspresi Syahal yang mengiba.
"Semua itu hanya masa lalu, Damar! Bukan hanya kamu yang terkejut, tapi kami semua juga. Tapi kita semua tidak bisa melakukan apa-apa. Semuanya sudah terjadi bahkan di saat kita semua belum lahir ke dunia ini. Jadi kamu tidak perlu memikirkan masalah itu lagi." tutur Aiziel, meyakinkan sang adik.
"Mau bagaimana pun, mau seperti apapun keluarga Anty Mala, kamu tetap adik kami! Jadi jangan pernah merasa sendirian, Dik!"
Kepala yang tertunduk lemas sejak tadi, seakan mendapatkan suntikan semangat, menatap sang mas tengah yang entah ia sadar atau tidak ketika mengatakan hal itu. Memancing seutas senyum Aiziel, Damar dan Syahal-Syahil. Sementara itu, Aifa'al masih betah menunduk, melilit rerumputan yang ia jadikan sebagai titik fokus di saat kecanggungan melanda, namun sepertinya Aifa'al belum menyadari tatapan hangat dari mas dan ketiga adiknya yang terharu.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Aifa'al, mendapati tatapan penuh makna dari adik-adik dan mas sulungnya.
"Mas Al sangat keren!!!" jawab Syahal, mengulurkan kedua jempol tangannya.
"Apanya yang keren?" tanya Aifa'al, heran.
"Kalimat kamu yang tadi, Al." jawab Aiziel.
"Kalimat yang mana Mas?" tanya Aifa'al.
Aiziel terkekeh, menggeleng kepala efek gemas melihat tingkah sang adik bungsu, membuatnya yakin bahwa sang adik telah berubah. Memancing kekehan renyah Syahal-Syahil yang ikut mendengar itu, namun sukses membuat Aifa'al bingung.
"Terima kasih Mas." ucap Damar, lirih.
"Untuk apa?" tanya Aifa'al, heran.
"Semuanya." jawab Damar, tersenyum.
Aifa'al bergidik, mengangkat kedua bahu sebagai jawaban terima kasih sang adik, beralih lagi pada rerumputan yang masih melilit tangannya, menundukkan kepala, menyembunyikan seutas senyum yang terukir namun enggan untuk diperlihatkan.
"Kita masuk lagi ya?" tanya Aiziel.
"Setuju Mas! Siapa tau saja Adek sudah sadar!!!" jawab Syahil yang angkat suara.
"Ayo!!!" seru Aifa'al, beranjak.
Damar menghela nafas berat, beranjak mengikuti keempat masnya yang berjalan beriringan di depan, berusaha melupakan masa lalu keluarga sang mami yang kelam, membiarkan waktu yang menghapusnya. Seketika nama sang adik terlintas begitu saja, membuatnya berpikir, apakah sang adik bisa menerima kenyataan kelam itu? Entahlah, yang pasti pertanyaan itu sukses mengusik ketenangan hati dan jiwa Damar.
***
"M-mas Ammar, M-mas Ronald..."
Sadha dan Vanny saling pandang, tidak percaya dengan sosok yang dari sejak kemarin selalu mereka hindari, menutupi masalah yang sedang terjadi dan sampai saat ini masih dalam proses penyelesaian. Sementara itu, Ammar dan Dokter Ronald pun saling melempar pandangan, melihat ekspresi Sadha dan Vanny yang terkejut.
"Sepertinya mereka tidak mendengar pembicaraan kita tadi, Am!!!" bisik Dokter Ronald, melirik sekilas Sadha dan Vanny.
__ADS_1
"Semoga saja Mas!" jawab Ammar.
Ammar dan Dokter Ronald melangkah, mendekati Sadha dan Vanny yang panik, saling menyenggol seakan meminta salah satu di antaranya untuk menjawab segala pertanyaan yang terlontar dari bibir Ammar.
"M-mas Ammar sedang apa di sini?" tanya Sadha, mendadak gugup bercampur takut.
"Seharusnya Mas yang melontarkan pertanyaan itu!!! Kalian sedang apa di sini?" jawab Ammar, melempar pertanyaan balik.
Sadha dan Vanny saling pandang lagi, mendadak pias karena takut jika salah menjawab yang dapat menimbulkan kecurigaan Ammar. Membuat keduanya bingung, mendadak diam seribu bahasa.
"Kenapa kalian diam?" tanya Ammar.
"K-kami ingin menjenguk rekan kerja yang tengah sakit, Mas. Iya 'kan Sayang?" jawab Sadha, menoleh cepat ke arah sang istri.
"I-iya, Kak. Mas Sadha benar." timpal Vanny, membenarkan jawaban Sadha.
"Benarkah seperti itu?" tanya Ammar.
Sadha dan Vanny mengangguk serentak, memasang raut wajah setenang mungkin walaupun keringat dingin sudah membanjiri wajah Sadha, membuat Vanny kian gelisah.
Sementara Ammar semakin mendekat, menatap lekat kedua adiknya yang terlihat pucat karena cemas. Semakin lekat, lekat dan lekat, mengundang kekehan Dokter Ronald yang melihatnya sejak tadi. Hingga akhirnya, gelak tawa Ammar dan Dokter Ronald yang tertahan, bergema. Membuat Sadha dan Vanny saling pandang bingung.
"Kalian tidak perlu menutupinya lagi! Mas sudah tau semuanya. Yang ingin kalian jenguk saat ini Mala dan Wulan, bukan?" ujar Ammar, menahan geli melihat wajah keduanya yang tertekuk kebingungan.
"M-mas sudah tau semua?" tanya Sadha.
"Sudah!!! Kamu dan Dhana egois!!! Tidak melibatkan Mas dalam masa sulit kalian!!! Kalian pikir Mas ini sudah tua? Tidak bisa melawan penjahat dengan ilmu silat yang Mas miliki seperti dulu lagi?" tukas Ammar, melampiaskan kekesalan pada sang adik.
"Kenapa Mas malah marah pada Sadha?" sungut Sadha, kesal mendapatkan prank dari Ammar yang membuatnya jantungan.
"Mas tidak marah. Mas hanya ingin menguji mental kamu saja. Ternyata dari dulu sampai sekarang, kamu tidak pandai berbohong dengan baik. Baru ditanya beberapa pertanyaan saja, kamu sudah keringatan." jawab Ammar, menertawakan sang adik.
Sadha terjingkat, mendapat cubitan maut dari sang istri saat mendengar sungut lirih yang keluar dari mulutnya untuk sang mas sulung. Disertai dengan tatapan tajam yang mengintimidasi, membuatnya tak berkutik. Sementara Ammar justru tergelak. Melihat guratan kecemasan di wajah Sadha yang masih kentara, memperlihatkan rasa kesal efek jantung yang hampir meloncat keluar.
"Jadi Kak Ammar sudah tau?" tanya Vanny.
"Sudah Dek..." jawab Ammar, tersenyum.
"Maaf Kak..." ucap Vanny, merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Kakak sangat mengerti dengan situasi kalian. Yang penting saat ini, kalian semua baik-baik saja dan selamat." jawab Ammar, meyakinkan sang adik ipar.
Vanny mengangguk, membenarkan perkataan sang kakak ipar. Melirik sang suami yang masih terbungkam, tidak lagi berkutik setelah mendapat cubitan panas pada pinggang dari tangan absurd nya.
"Ya sudah, kalau begitu Mas dan Mas Ronald pamit dulu. Kami harus kembali lagi ke rumah sakit pusat. Kalian masuk saja!!! Ayah, Ibu, Dhana, Imam dan anak-anak berada di dalam saat ini." timpal Ammar, menepuk bahu Sadha sebelum beranjak.
"Hati-hati ya Mas!!!" seru Sadha.
Ammar mengangguk, melangkah lebar menuju tempat parkir bersama Dokter Ronald yang berjalan di sampingnya, meninggalkan kedua pasutri absurd yang masih betah terdiam, namun mata tetap saling mencuri-curi pandang.
Pletak!
Sadha terjingkat lagi, lebih parah dari yang sebelumnya, mendapat amukan sang istri tercinta yang absurd untuk kedua kalinya.
"Sayang... kamu kenapa sih?" ujar Sadha, memegangi lengan yang menjadi sasaran amukan tangan bar-bar sang istri.
__ADS_1
"Kamu yang kenapa? Kenapa bicaranya seperti tadi? Kak Ammar itu adalah kakak iparku!!! Jangan berani-beraninya kamu mengatai kakak iparku seperti tadi!!! Kak Ammar memang tidak muda lagi, tapi dia masih terlihat gagah dan pastinya berani!" ujar Vanny, menunjuk tegas wajah Sadha.
"Tapi dia kakakku!!! Terserah aku dong!!!" sungut Sadha, geli melihat tingkah Vanny.
"Kalau aku jadi Kak Ammar, sudah aku hapus nama kamu dari kartu keluarga!!! Dasar adik durhaka! Tidak ada akhlak!!!" sungut Vanny yang jengah lalu beranjak pergi lebih dulu, membiarkan sang suami.
Sadha berdecak lirih, gemas bercampur jengah saat melihat sikap istri tersayang, mengubah rasa sakit di lengan menjadi seutas senyum lebar, melihat sang istri yang tengah berjalan lebih dulu menuju arah pintu utama rumah sakit, membuatnya melamun.
"Mas... kamu mau terus di sana, atau nanti malam kamu tidur di teras??? Ayo cepat!!!"
Pekikan suara Vanny pun membuyarkan lamunan, membuat Sadha menggeleng, gemas mendengar ancaman absurd sang istri yang memang bar-bar dari sejak kecil. Membawanya berlari, menyusul sang istri yang tengah berdiri di ambang pintu utama, menunggu gandengan tangan yang tidak pernah bisa dibiarkan terlewat begitu saja, menandakan bahwa tangan putih itu tidak mampu terayun sendirian, butuh seseorang yang menggandengnya hingga mereka pun masuk bersama ke dalam rumah sakit.
***
"Pak Bram... tolong bantu saya, Pak."
Sinar mentari kian beranjak. Semula ada di atas, kemudian bergerak turun sesuai poros, mengikuti alur yang seharusnya, mengikuti perintah sang Pencipta alam bahwa tugas menerangi bumi akan selesai untuk hari ini. Memancarkan semburat goresan tinta nan indah, membentuk lukisan cantik tiada tara. Mampu memanjakan setiap mata yang ada, menyaksikan betapa besarnya kuasa Tuhan.
Pemandangan seperti itu hanya dinikmati oleh orang-orang yang mengagumi indah dan cantiknya alam semesta, mensyukuri segala nikmat yang Tuhan anugerahkan. Namun tidak dengan sosok pria yang saat ini tengah sibuk berkutat dengan ponsel, berbicara via telepon dengan orang yang diduga adalah Bram, berjalan bolak-balik seperti setrika, menatap cemas hamparan langit jingga yang semakin terpancar indah.
"Saya akan membantu kamu, Bimantara!!! Datanglah ke Apartment Tuan Gibran ketika malam semakin larut!!! Pastikan, tidak ada orang yang mengekori kamu lagi seperti kemarin!!! Saya dan Tuan Gibran akan menunggu!" jawab Bram terdengar berat.
"P-pak Gibran? Bukankah Pak Gibran sedang berada di dalam sell tahanan?" tanya Bima, terkejut hebat saat nama itu disebut.
"Kamu tidak perlu banyak tanya! Cukup datang saja atau kamu tidak akan bisa selamat dari kejaran Polisi!!!" tukas Bram, mengancam Bima dari seberang telepon.
Bima tercekat, menahan sesak yang kian mendera tatkala mendengar nama Polisi, membuatnya semakin gelisah dan cemas jika Polisi akan segera menangkap dirinya.
"B-baik!!! Saya akan menuruti perintah! Terima kasih banyak, Pak Bram."
Bima menghela nafas berat, memutus sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari orang yang ada di seberang sana. Lalu membawa diri bergegas untuk masuk ke dalam toilet, membasuh wajah yang terlihat gusar. Cemas dan takut kini menjadi satu, tidak terpikirkan sama sekali jika situasi akan seburuk ini, terlibat dalam urusan Polisi yang pastinya akan panjang.
"Tidak!!! Aku tidak boleh tertangkap oleh Polisi!!! Kalau Pak Gibran bisa lepas dari kejaran Polisi, maka aku juga harus bisa! Aku tidak mau masuk penjara! Aku tidak mau!!! Dan itu tidak akan pernah terjadi!!!"
Wajah yang gusar dan basah terangkat, menatap nanar pantulan diri dari cermin, membuat sekelebat bayangan si kembar yang telah diusik ketenangan nya terlintas, menari-nari seakan meminta pertanggung jawaban atas perbuatan yang sangat jauh.
"Aaarrrggggghhhhh!!! Kenapa semuanya jadi kacau seperti ini? Seharusnya si tua bangka itu bisa menghabisi mereka tanpa harus terlibat dalam urusan dengan Polisi!"
Bima mengeram marah, menahan gejolak amarah yang membuncah, mengutuki diri sendiri yang ceroboh, mudah dipengaruhi hingga berakhir menjadi bawahan pemilik mantan sekolah karena tersulut dendam. Membuatnya tidak berpikir panjang dalam bertindak, gegabah dalam mengambil keputusan yang berakhir menjerumuskan.
"Kamu harus tenang, Bima! Calm down!!! Pak Gibran pasti akan melindungi kamu, karena kamu adalah anak buahnya!!! Jika kamu tertangkap, maka Pak Gibran pasti akan tertangkap juga. Si tua bangka itu, tidak akan memberikan ruang pada Polisi untuk menangkapnya dan anak buahnya. Yaa... kamu harus yakin itu, Bima!!! Kamu pasti akan baik-baik saja, selama Pak tua bangka itu masih bisa terbebas dari Polisi!"
Bima terus meracau, menepis ketakutan yang tiada henti datang menyelimuti hati, mengusik ketenangan yang baru ia dapat beberapa jam sebelum bertemu dengan Aifa'al tadi malam, sukses membuatnya tidak tenang, teringat tindakan kriminalitas yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Namun sejurus kemudian, seutas senyum Bima terbit tatkala nama seseorang yang sudah mengetahui segalanya terlintas di kepalanya, merasa sangat yakin bahwa sosok itu pasti akan membantu dirinya.
"Zivana... dia pasti bisa membantuku."
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading All 😇😇😇